HUKRIM
Klaim Novi Ayunda di DPRD Sikka Dipatahkan: Tuduhan Eltras “Fitnah, Rekayasa, dan Harus Dibuktikan”
“Kami beri waktu 1×24 jam untuk membuktikan. Kalau tidak, kami akan tempuh jalur pidana.”
Maumere, GardaFlores – Tim kuasa hukum Andi Wonasoba secara tegas membantah dan mengecam keras pernyataan seorang Lady Companion (LC) bernama Novi Ayunda yang disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Kabupaten Sikka pada Senin (9/2/2026). Mereka menilai keterangan tersebut sarat kebohongan, menyesatkan publik, dan berpotensi merusak nama baik klien mereka.
“Kami tegaskan, banyak pernyataan yang disampaikan di DPRD itu sangat jauh dari fakta dan cenderung membangun opini sesat,” kata Alfons Ase, SH, salah satu kuasa hukum Andi Wonasoba, dalam konferensi pers di Maumere, Selasa (10/2/2026).
Tuduhan Pekerja di Bawah Umur Disebut Fitnah
Alfons menyebut klaim adanya LC berusia 15 tahun yang bekerja di Eltras Pub dan Karaoke sebagai fitnah serius. Menurutnya, seluruh pekerja di Eltras merupakan orang dewasa secara hukum.
“Kami punya dokumen resmi: kartu keluarga dan surat keterangan Disdukcapil daerah asal. Kalau masih ada yang bilang ada anak di bawah umur, itu bohong dan harus dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Pengakuan LC di DPRD Sikka: Dugaan Kekerasan Oknum Polisi dan Eksploitasi di Eltras Pub
Rekrutmen Disebut Bukan Jebakan
Tim kuasa hukum juga membantah tudingan rekrutmen yang dikondisikan atau menjebak. Mereka menyatakan para LC datang bekerja karena saling mengenal dan sebelumnya sudah berpengalaman bekerja di tempat hiburan lain di Maumere.
“Tidak ada jebakan, tidak ada pemaksaan. Mereka datang, melamar, dan menandatangani kontrak kerja dalam keadaan bebas. Semua dokumen sudah ada di penyidik Polres Sikka,” ujar Alfons.
Isu Gaji, Denda Seksual, dan Potongan Dinilai Rekayasa
Kuasa hukum menilai tuduhan adanya janji gaji Rp8 juta per bulan, potongan sepihak, hingga denda karena menolak melayani kebutuhan seksual tamu sebagai rekayasa yang tidak berdasar.
“Dalam kontrak kerja tidak ada satu kalimat pun soal kewajiban melayani kebutuhan seksual tamu. Denda Rp2,5 juta itu tidak pernah ada dan tidak pernah diberlakukan,” katanya.
Ia menegaskan, uang patungan untuk ulang tahun atau jalan-jalan merupakan inisiatif sesama pekerja, bukan kebijakan pemilik usaha.
Tuduhan Kekerasan Dinilai Janggal
Terkait tudingan kekerasan fisik pada 23 Januari 2026, kuasa hukum menyebut pernyataan tersebut janggal dan tidak masuk akal.
“Klien kami tidak berada di Maumere sejak 8 hingga 24 Januari 2026. Jadi bagaimana mungkin dia menjambak atau mencekik?” ujar Alfons.
Sebaliknya, ia menyebut Novi Ayunda justru pernah melakukan kekerasan terhadap rekan kerjanya sendiri bernama Kiren, dengan bukti surat keterangan medis yang masih mereka simpan.
Dugaan TPPO, Kekerasan Seksual, dan Pekerja Anak Terjadi Bertahun-tahun di Pub Eltras Sikka
Penjemputan LC oleh Truk F Disorot
Kuasa hukum juga menyoroti penjemputan LC oleh Tim Relawan untuk Flores (Truk F) yang didampingi aparat kepolisian pada 21 dan 23 Januari 2026. Mereka mempertanyakan prosedur hukum yang dinilai tidak transparan.
“Surat perintah tugas tidak mencantumkan nama-nama yang dijemput. Nama justru disodorkan oleh pihak luar. Ini patut dipertanyakan dan berpotensi melanggar KUHAP,” tegas Alfons.
Somasi Terbuka soal Tuduhan Aborsi dan Kuburan Janin
Dalam pernyataan kerasnya, tim kuasa hukum melayangkan somasi terbuka kepada Novi Ayunda terkait tuduhan adanya banyak janin yang dikuburkan di depan mess LC serta klaim penukaran bayi dengan tanah.
“Kami beri waktu 1×24 jam untuk membuktikan. Kalau tidak, kami akan tempuh jalur pidana,” kata Alfons.
Ia menegaskan, di lokasi tersebut hanya terdapat kubur ari-ari yang disimpan dalam stoples, bukan janin, dan salah satu anak yang disebut masih hidup serta telah diadopsi secara sah.
Tudingan Oknum Polisi Diminta Dibuka Terang
Kuasa hukum juga mendesak agar tudingan adanya oknum polisi yang memiliki saham di Eltras atau melakukan pemukulan terhadap LC disebutkan secara jelas.
“Jangan lempar isu liar yang mencederai institusi kepolisian. Kalau ada oknum, sebutkan namanya dan laporkan. Jangan seret klien kami untuk perbuatan orang lain,” tegasnya.
Tim kuasa hukum meminta aparat penegak hukum bekerja secara objektif dan tidak berada di bawah tekanan opini publik yang dibangun melalui pernyataan tanpa bukti.»(rel)
HUKRIM
Soroti Kejanggalan Kasus Tewasnya Siswi STN di Sikka, Kuasa Hukum Desak Polisi Dalami Peran Keluarga Pelaku
Informasi yang diperoleh, beberapa anggota keluarga pelaku berada di rumah saat peristiwa tragis tersebut terjadi.
MAUMERE, GardaFlores – Tim kuasa hukum keluarga korban menyoroti sejumlah kejanggalan dalam penanganan kasus pembunuhan disertai dugaan pemerkosaan terhadap STN (14), siswi asal Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka. Salah satu sorotan utama adalah keberadaan sejumlah anggota keluarga pelaku di rumah saat proses pencarian korban berlangsung.
Kuasa hukum keluarga korban, Viktor Nekur, SH, mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi yang diperoleh, beberapa anggota keluarga pelaku berada di rumah saat peristiwa tragis tersebut terjadi.
“Yang diduga mengetahui peristiwa ini di antaranya bapak pelaku, kakek, nenek, mama tiri, serta dua anak yang masih duduk di bangku SD kelas 4 dan kelas 5,” ujar Viktor, Senin (9/3/2026) di Maumere.
Viktor menjelaskan, dirinya bersama tim dari Orinbao Law Office yang merupakan mitra UPTD PPA Pemerintah Kabupaten Sikka, bertindak sebagai kuasa hukum keluarga korban bersama Forkoma PMKRI Maumere. Mereka telah melakukan advokasi serta pengawalan proses hukum sejak almarhumah STN ditemukan meninggal dunia.
Menurut Viktor, keberadaan sejumlah orang di rumah pelaku saat proses pencarian korban untuk kedua kalinya menjadi fakta penting yang perlu didalami penyidik.
Ia menilai hal tersebut dapat membuka kemungkinan adanya pihak lain yang mengetahui atau bahkan memiliki keterlibatan dalam rangkaian peristiwa tersebut.
Selain itu, tim kuasa hukum juga menyoroti pentingnya rekonstruksi kasus pembunuhan dilakukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) guna memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kronologi peristiwa.
“Kami memang tidak fanatik harus dilakukan di TKP, tetapi harapan kami rekonstruksi bisa dilakukan di sana agar pemahaman riil tentang medan dapat didalami. Dari situ kita bisa melihat bagaimana proses kejadian dan kemungkinan keterlibatan pihak lain,” tegasnya.
Meski demikian, Viktor menegaskan pihaknya tetap menghormati keputusan penyidik apabila rekonstruksi tidak dapat dilaksanakan di TKP dengan pertimbangan keamanan.
Di sisi lain, tim kuasa hukum mengaku telah menerima informasi secara formal dari penyidik terkait proses pemeriksaan forensik terhadap korban. Namun hingga saat ini, mereka belum menerima hasil resmi visum luar maupun visum dalam.
“Kami akan menyampaikan surat resmi kepada penyidik untuk memperoleh hasil visum tersebut. Ini memang kewenangan penyidik dan ahli forensik, tetapi kami meminta agar hasilnya dibuka secara transparan,” kata Viktor.
Tim kuasa hukum juga mengapresiasi langkah penyidik yang dinilai terus menunjukkan perkembangan dalam proses penyelidikan dan penyidikan kasus tersebut.
Mereka juga menyambut positif aksi kepedulian mahasiswa yang ikut menyoroti kasus ini sebagai bentuk kontrol publik terhadap proses penegakan hukum.
“Gerakan mahasiswa itu kami apresiasi sebagai bentuk kepedulian terhadap peristiwa yang sangat meresahkan masyarakat,” ujarnya.
Terkait kemungkinan penambahan saksi, Viktor menyebut pihak keluarga korban telah melakukan diskusi internal dan siap memberikan informasi tambahan kepada penyidik apabila ada anggota keluarga yang mengetahui fakta penting terkait peristiwa tersebut.
“Jika ada keluarga korban yang mengetahui sesuatu, tentu akan kami sampaikan kepada penyidik,” katanya.
Selain itu, kuasa hukum juga akan menelusuri sejumlah barang bukti penting dalam kasus ini, termasuk pakaian korban dan telepon genggam (HP) yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut.
“Kami akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk menelusuri alur barang bukti. Jika terkait HP, tentu bisa ditelusuri melalui operator karena polisi memiliki kewenangan untuk itu,” tutup Viktor.»(rel)
HUKRIM
Misteri Kematian Siswi STN di Sikka Kian Mengguncang: Kepala Disebut Botak dan Jari Terpotong, Keluarga Desak Penjelasan
“Ada dua anggota keluarga yang melihat langsung kondisi jasad sebelum otopsi. Ini fakta penting yang harus dijelaskan secara terbuka.”
MAUMERE, GardaFlores – Kasus dugaan pemerkosaan dan pembunuhan terhadap STN (14), siswi SMP asal Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, terus memantik perhatian publik. Lebih dari dua pekan setelah jasad korban ditemukan, sejumlah fakta yang diungkap keluarga justru menambah tanda tanya dalam kematian tragis remaja tersebut.
Salah satu hal yang paling mengejutkan adalah kondisi kepala korban yang disebut hampir tanpa rambut saat jasadnya pertama kali dilihat keluarga. Selain itu, beberapa jari tangan kanan korban juga diketahui dalam kondisi terpotong.
Kesaksian tersebut disampaikan langsung oleh Aurelia Mariyani alias Yani, mama kecil korban, yang mengaku melihat sendiri kondisi jasad STN sebelum proses otopsi dilakukan di ruang pemulasaran jenazah RSUD dr. TC Hillers Maumere pada Senin, 23 Februari 2026.
“Saya masuk lihat sebelum otopsi. Saya kaget sekali. Kepala anak kami sudah botak dan mengecil. Licin sekali, hanya tersisa satu helai rambut. Padahal rambut Noni panjang sampai lewat bahu,” ungkap Yani kepada wartawan saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, Senin (9/3/2026).
Kesaksian tersebut memunculkan pertanyaan serius di kalangan keluarga: ke mana rambut korban menghilang.
Menurut Yani, hingga kini keluarga tidak pernah mendapatkan penjelasan mengenai kondisi tersebut. Bahkan sampai jenazah dimasukkan ke dalam peti dan dimakamkan, rambut korban tidak pernah ditemukan.
“Sampai dimakamkan pun rambutnya tidak ada. Kami masih bertanya-tanya sampai sekarang, sebenarnya apa yang terjadi pada anak ini,” ujarnya dengan nada penuh kesedihan.
Setelah melihat kondisi jasad korban, Yani mengaku tidak sanggup mengikuti proses otopsi karena kondisi psikologisnya sangat terguncang.
“Saya tidak ikut otopsi. Saya hanya kasih dua lembar sarung dan baju untuk dipakaikan kepada korban. Setelah itu saya diminta keluar. Saya benar-benar stres melihat kondisinya,” katanya.
Keluarga menilai kondisi tubuh korban yang mereka saksikan menunjukkan adanya banyak hal yang belum terungkap secara terang. Selain kepala yang hampir tanpa rambut, beberapa bagian tubuh korban juga disebut dalam kondisi sangat mengenaskan.
Hingga hari ke-18 sejak jasad korban ditemukan di Kali Desa Rubit pada Senin, 23 Februari 2026, penyidik Kepolisian Resor Sikka telah menetapkan tiga tersangka dalam kasus tersebut. Mereka adalah FGR (16) yang diduga sebagai pelaku utama, serta dua anggota keluarganya, SG (44) yang merupakan ayah FGR dan VS (67) yang merupakan kakek FGR.
Kuasa Hukum Desak Polisi Usut Dugaan Pembunuhan Berencana dalam Kasus Tewasnya Siswi STN di Maumere
Korban STN merupakan siswi kelas VIII SMP MBC Ohe yang sebelumnya dilaporkan hilang oleh keluarga sejak Jumat, 20 Februari 2026. Tiga hari kemudian, jasadnya ditemukan di aliran kali Desa Rubit dalam kondisi mengenaskan.
Salah satu keluarga korban, Febrianto Beto, menegaskan bahwa kesaksian keluarga mengenai kondisi jasad korban seharusnya menjadi petunjuk penting bagi penyidik dalam mengungkap secara utuh apa yang sebenarnya terjadi.
“Ada dua anggota keluarga yang melihat langsung kondisi jasad sebelum otopsi. Ini fakta penting yang harus dijelaskan secara terbuka,” kata Febri.
Namun hingga kini, berbagai kejanggalan yang ditemukan keluarga masih menyisakan tanda tanya besar. Karena itu, keluarga korban mendesak aparat kepolisian membuka secara transparan seluruh hasil penyidikan, termasuk hasil otopsi, agar tidak memunculkan spekulasi di tengah masyarakat.
Bagi keluarga, kematian STN bukan sekadar perkara kriminal biasa. Peristiwa ini dipandang sebagai tragedi kemanusiaan yang menuntut kebenaran diungkap secara utuh.
Selama berbagai kejanggalan tersebut belum dijelaskan secara terang, misteri kematian siswi berusia 14 tahun ini diyakini akan terus membayangi dan mengguncang rasa keadilan masyarakat di Kabupaten Sikka.»(rel)
HUKRIM
Drama Baru Kasus Tewasnya Siswi STN di Sikka: Ayah Saksi Tikam Diri, Dugaan Intimidasi Muncul di Tengah Penyelidikan
Setelah peristiwa percobaan bunuh diri Bapak Y, penyidik kembali memanggil dan memeriksa ulang remaja tersebut.
MAUMERE, GardaFlores – Penyelidikan kasus kematian tragis siswi SMP berinisial STN alias Noni (14), asal Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, kembali memunculkan dinamika baru. Di tengah proses pengungkapan fakta yang belum sepenuhnya terang, sebuah peristiwa dramatis terjadi pada keluarga seorang remaja yang sempat disebut mengetahui kondisi korban sebelum ditemukan meninggal dunia.
Ayah dari remaja tersebut, yang diidentifikasi sebagai Bapak Y, dilaporkan melakukan percobaan bunuh diri dengan menikam dirinya sendiri sebanyak lima kali pada Rabu (4/3/2026). Tiga luka tusuk mengenai bagian dada, sementara dua lainnya di bagian paha.
Dalam kondisi kritis, ia segera dilarikan keluarganya ke Rumah Sakit St. Gabriel Kewapante untuk mendapatkan penanganan medis.
Peristiwa tersebut menambah tekanan psikologis dalam pusaran kasus kematian tragis siswi berusia 14 tahun itu yang hingga kini masih menyisakan banyak pertanyaan di tengah masyarakat.
Dugaan Tekanan dan Intimidasi
Informasi yang dihimpun GardaFlores menyebutkan aksi nekat tersebut diduga dipicu oleh tekanan mental berat yang dialami keluarga setelah nama anak mereka disebut-sebut dalam pusaran kasus pembunuhan STN.
Keluarga tersebut bahkan mengaku sempat mengalami intimidasi dari pihak luar.
Kuasa Hukum Desak Polisi Usut Dugaan Pembunuhan Berencana dalam Kasus Tewasnya Siswi STN di Maumere
Disebutkan pula bahwa rumah mereka pernah didatangi orang tak dikenal yang membawa parang, sebuah situasi yang diduga semakin memperparah ketakutan dan tekanan psikologis keluarga.
Jika dugaan tersebut benar, intimidasi terhadap saksi atau pihak yang mengetahui informasi dalam sebuah kasus kriminal merupakan persoalan serius yang seharusnya mendapat perhatian aparat penegak hukum.
Diduga Mengetahui Kondisi Korban
Remaja yang merupakan anak Bapak Y sebelumnya disebut-sebut diduga mengetahui kondisi korban STN setelah menghadiri sebuah acara adat di Watudenak, Desa Kajowair.
Usai kegiatan tersebut, ia disebut ikut menuju rumah salah satu terduga pelaku di wilayah Woloklereng, Desa Rubit.
Di lokasi itulah remaja tersebut diduga melihat atau mengetahui kondisi korban yang saat itu disebut sudah tidak bernyawa.
Informasi inilah yang membuat namanya menjadi sorotan dalam proses penyelidikan yang hingga kini masih menyisakan banyak teka-teki di tengah masyarakat.

Kasat Reskrim Polres Sikka IPTU Reinhard Dionisius Siga (kanan) didamping Kanit Pidum Aiptu I Nengah Redi (kiri). FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU
Sempat Datangi Polres Sikka
Sebelum insiden percobaan bunuh diri terjadi, Bapak Y bersama anaknya sempat mendatangi Polres Sikka.
Kedatangan mereka bukan hanya untuk menyampaikan informasi yang diketahui sang anak, tetapi juga untuk meminta perlindungan karena merasa terancam.
Namun dalam pemeriksaan awal oleh penyidik, remaja tersebut justru membantah mengetahui peristiwa pembunuhan itu.
Kasus Kematian Siswi SMP di Sikka Makin Terkuak: Anak, Ayah, dan Kakek Jadi Tersangka
Kasat Reskrim Polres Sikka, Iptu Reinhard Dionisius Siga, membenarkan bahwa Bapak Y pernah datang bersama anaknya ke Polres Sikka.
“Namun dalam keterangannya, anak tersebut menyampaikan bahwa dirinya tidak mengetahui kejadian pembunuhan tersebut dan baru mengetahui informasi itu setelah ramai di media sosial,” kata Reinhard, Senin (9/3/2026) di ruang kerjanya.
Polisi Periksa Ulang Saksi
Setelah peristiwa percobaan bunuh diri Bapak Y, penyidik kembali memanggil dan memeriksa ulang remaja tersebut.
Namun dalam pemeriksaan yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), remaja itu tetap pada keterangannya bahwa dirinya tidak mengetahui apa pun terkait peristiwa pembunuhan STN.
Situasi ini justru menimbulkan pertanyaan baru di tengah masyarakat: apakah ada fakta yang belum terungkap, ataukah saksi-saksi berada dalam tekanan sehingga enggan berbicara secara terbuka.
Publik Menunggu Kejelasan
Kasat Reskrim Polres Sikka menegaskan pihaknya akan terus menjalankan penyelidikan secara profesional, transparan, dan independen.
Dalam waktu dekat, penyidik juga akan menghadirkan saksi ahli dari dokter forensik untuk menjelaskan secara ilmiah hasil autopsi terhadap korban.
Keterangan ahli tersebut diharapkan mampu mengurai penyebab pasti kematian STN yang hingga kini masih menjadi tanda tanya besar bagi publik.
Di tengah berbagai dinamika yang muncul—mulai dari dugaan intimidasi, saksi yang membantah mengetahui kejadian, hingga peristiwa percobaan bunuh diri—kasus kematian STN kini tidak lagi sekadar perkara kriminal biasa.
Kasus ini telah menjadi ujian serius bagi aparat penegak hukum untuk membuka kebenaran secara utuh sekaligus menjawab kegelisahan masyarakat Kabupaten Sikka yang menuntut keadilan bagi korban.»(rel)
-
HUMANIORA9 months agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA7 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA6 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM7 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI8 months agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
-
HUMANIORA11 months agoPemkab Sikka Ancam Cabut Izin Pangkalan Minyak Tanah yang Langgar Aturan
