Connect with us

OPINI

Di UGD, Semua Pangkat Dititipkan di Pintu Masuk

Dan kehidupan akan selalu lebih penting daripada siapa pun kita.

Published

on

Di UGD, Semua Pangkat Dititipkan di Pintu Masuk. dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni (Alm). FOTO: INSTAGRAM

Oleh: Very Awales
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka

Tidak ada seorang dokter yang datang ke Unit Gawat Darurat untuk berperang. Mereka datang untuk menyelamatkan hidup orang lain.

Karena itu, ketika seorang dokter justru kehilangan hidupnya setelah menjalankan tugas kemanusiaan, duka yang kita rasakan seharusnya tidak berhenti sebagai belasungkawa. Ia semestinya berubah menjadi ruang perenungan: adakah yang sedang tidak baik-baik saja dalam cara kita memperlakukan tenaga kesehatan?

Peristiwa wafatnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau Icha Pakaenoni (27), dokter muda yang bertugas di Unit Gawat Darurat RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, menyisakan duka yang mendalam. Biarlah proses hukum berjalan sebagaimana mestinya dan fakta-fakta diungkap oleh pihak yang berwenang. Namun, di luar proses itu, ada satu pelajaran yang pantas kita renungkan bersama.

Rumah sakit bukan sekadar bangunan tempat orang berobat. Ia adalah ruang di mana kemanusiaan diuji setiap hari.

Di ruang gawat darurat, tidak ada penyakit yang bertanya siapa bupati, siapa kepala dinas, siapa anggota DPR, siapa pengusaha, atau siapa petani. Denyut nadi tidak mengenal pangkat. Sesak napas tidak memilih jabatan. Luka juga tidak membedakan status sosial.

Mungkin karena itulah rumah sakit menjadi satu-satunya tempat di mana semua pangkat seharusnya dititipkan di pintu masuk.

Begitu seseorang memasuki ruang pelayanan medis, yang hadir bukan lagi pejabat, tokoh masyarakat, ataupun orang yang memiliki kekuasaan. Yang ada hanyalah pasien, keluarga pasien, tenaga kesehatan, dan harapan agar kehidupan dapat diselamatkan.

Dokter dan tenaga kesehatan bekerja dengan satu bahasa yang sama: ilmu pengetahuan.

Mereka mengambil keputusan berdasarkan kondisi pasien, standar operasional prosedur, dan kode etik profesi. Kadang keputusan itu tidak selalu sesuai dengan harapan keluarga. Kadang harus menunggu. Kadang harus mendahulukan pasien lain yang kondisinya lebih kritis. Semua itu bukan karena pilih kasih, melainkan karena ilmu kedokteran memang mengajarkan demikian.

Karena itu, tekanan, intimidasi, atau intervensi terhadap tenaga kesehatan tidak pernah membantu mempercepat pelayanan. Sebaliknya, ia justru berpotensi mengganggu konsentrasi orang-orang yang sedang berjuang menyelamatkan nyawa.

Kita sering lupa bahwa seorang dokter di ruang gawat darurat mungkin baru saja menyelesaikan operasi berjam-jam, belum sempat minum, belum sempat beristirahat, tetapi tetap harus berdiri ketika ambulans berikutnya datang membawa pasien baru. Yang mereka hadapi bukan hanya penyakit, tetapi juga kecemasan keluarga, keterbatasan fasilitas, bahkan tidak jarang kemarahan orang-orang yang berharap keajaiban terjadi secepat mungkin.

Di tengah tekanan sebesar itu, hal terakhir yang mereka butuhkan adalah intimidasi.

Sebagai pejabat publik, saya justru percaya bahwa jabatan seharusnya mengajarkan kerendahan hati. Amanah yang diberikan masyarakat bukanlah tiket untuk memperoleh perlakuan istimewa, melainkan tanggung jawab untuk memberi teladan.

Kalau ada satu tempat yang paling tepat untuk menunjukkan keteladanan itu, rumah sakit adalah salah satunya.

Di sana, menghormati antrean adalah bentuk penghormatan kepada pasien lain. Menghormati keputusan dokter adalah bentuk penghormatan kepada ilmu pengetahuan. Menghormati tenaga kesehatan adalah bentuk penghormatan kepada kehidupan itu sendiri.

Masyarakat tentu memiliki hak memperoleh pelayanan yang cepat, baik, dan manusiawi. Hak itu harus dijamin. Namun, di saat yang sama, dokter, perawat, bidan, dan seluruh tenaga kesehatan juga memiliki hak untuk bekerja dalam suasana yang aman, tenang, dan bebas dari tekanan.

Hubungan antara masyarakat dan tenaga kesehatan tidak dibangun di atas rasa takut. Ia dibangun di atas kepercayaan.

Sebab kepercayaan adalah obat yang tidak pernah tertulis dalam resep, tetapi selalu hadir dalam setiap pelayanan kesehatan yang baik.

Peristiwa yang menimpa dr. Icha hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua, bukan hanya bagi tenaga kesehatan, melainkan juga bagi setiap orang yang suatu hari akan menjadi pasien atau keluarga pasien. Cepat atau lambat, hampir semua dari kita akan memasuki rumah sakit. Dan ketika hari itu tiba, kita tentu berharap bertemu dokter yang bekerja dengan tenang, profesional, dan sepenuh hati.

Karena itu, marilah kita menjaga rumah sakit tetap menjadi tempat di mana harapan lebih besar daripada ego, pelayanan lebih penting daripada privilese, dan kemanusiaan selalu berdiri di atas segala jabatan.

Sebab pada akhirnya, di ruang gawat darurat, waktu selalu lebih berharga daripada pangkat.

Dan kehidupan akan selalu lebih penting daripada siapa pun kita.»

OPINI

Kartu Merah Bukan Biang Kekalahan Persebata, tetapi Ujian yang Gagal Dilewati

Kartu merah mengubah pertandingan Persebata Lembata kontra CBN Ngada. Namun, kekalahan 1-3 tidak cukup dijelaskan oleh satu keputusan. Yang lebih penting adalah bagaimana tim merespons ketika pertandingan mulai tidak berpihak.

Published

on

Kartu Merah Bukan Biang Kekalahan Persebata, tetapi Ujian yang Gagal Dilewati. ILUSTRASI: GARDAFLORES/DON NAVARO BARAN

Oleh: Karel Pandu

Ada kekalahan yang lahir karena lawan memang lebih kuat. Ada pula kekalahan yang menjadi berat bukan hanya karena satu kesalahan, melainkan karena sebuah tim tidak mampu merespons keadaan ketika pertandingan berubah.

Kekalahan Persebata Lembata 1-3 dari CBN Ngada di Gelora Samador Maumere, Minggu (9/8/2026), layak dibaca dari sudut yang kedua.

Kartu merah Nursyal Al Hikami pada menit ke-60 memang menjadi titik balik. Sebelum itu, Persebata masih tertinggal 0-1 dan pertandingan belum selesai. Satu gol masih cukup untuk mengubah keadaan.

Tetapi setelah kehilangan satu pemain, persoalannya bukan lagi sekadar jumlah pemain di lapangan. Persebata kehilangan sebagian kendali atas pertandingan. CBN melihat perubahan itu dan segera memanfaatkannya.

Sembilan menit setelah kartu merah, Albertus Roga mencetak gol kedua CBN. Pada menit ke-81, pemain yang sama kembali mencetak gol dan membawa CBN unggul 3-0.

Dalam rentang 21 menit, pertandingan berubah.

Di sinilah kartu merah perlu ditempatkan secara proporsional. Ia memang membuka jalan bagi perubahan permainan, tetapi tidak dengan sendirinya menentukan tiga gol atau membuat sebuah tim kehilangan kemampuan untuk bertahan.

Tim yang bermain dengan sepuluh orang masih dapat mengubah cara bermain. Ruang bisa dipersempit, tempo bisa dikendalikan, garis pertahanan bisa dibuat lebih rapat, dan serangan balik tetap dapat menjadi pilihan.

Semua itu membutuhkan ketenangan dan kemampuan membaca situasi.

Persebata tidak cukup berhasil melakukan itu.

Ini bukan berarti para pemainnya tidak memiliki mental bertanding. Kesimpulan semacam itu terlalu besar untuk ditarik hanya dari satu pertandingan. Tetapi pertandingan tersebut memperlihatkan satu persoalan yang patut dievaluasi: bagaimana sebuah tim usia muda merespons ketika rencana permainan tiba-tiba berubah?

Pertanyaan itu lebih penting daripada sekadar menyebut kartu merah sebagai penyebab kekalahan.

Sebab dalam sepak bola, situasi tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada kartu merah, cedera, gol cepat, keputusan wasit, tekanan penonton, atau kesalahan sendiri. Tim yang ingin berkembang harus belajar bermain bukan hanya ketika keadaan menguntungkan, tetapi juga ketika pertandingan mulai bergerak melawan mereka.

Di titik itu, CBN justru menunjukkan keunggulannya.

Setelah unggul 1-0 melalui Antonius Y Y Bengu pada menit ke-37, CBN tidak perlu terburu-buru. Mereka mempertahankan keunggulan dan kemudian memanfaatkan perubahan situasi setelah Persebata kehilangan satu pemain.

Dua gol Albertus Roga menunjukkan efektivitas CBN dalam memanfaatkan keunggulan jumlah pemain.

Itulah salah satu pelajaran paling sederhana dalam sepak bola: kesalahan lawan tidak selalu harus dibalas dengan permainan yang indah. Kadang-kadang, yang dibutuhkan adalah kemampuan mengenali kesempatan dan mengambilnya pada waktu yang tepat.

Persebata sebenarnya belum menyerah.

Gol Arlan S. Dasi pada menit ke-84 memperkecil ketertinggalan menjadi 3-1. Gol itu menunjukkan bahwa masih ada usaha untuk melawan meski waktu yang tersedia semakin sedikit.

Tetapi justru di sana muncul pertanyaan lain: mengapa keberanian itu baru terlihat ketika pertandingan hampir selesai?

Tentu tidak adil menyimpulkan bahwa Persebata tidak berjuang. Para pemain tetap berusaha sampai peluit akhir. Namun dalam pertandingan kompetitif, usaha saja tidak selalu cukup. Sebuah tim juga membutuhkan kemampuan menjaga struktur permainan, mengelola tekanan, dan membuat keputusan yang tepat ketika berada dalam situasi sulit.

Inilah yang seharusnya menjadi pekerjaan rumah Persebata setelah turnamen ini.

Bukan sekadar bertanya siapa yang menerima kartu merah.

Bukan pula sekadar menyebut bahwa CBN lebih beruntung.

Pertanyaan yang lebih berguna adalah: apa yang terjadi dengan organisasi permainan setelah kartu merah? Mengapa tekanan CBN dapat menghasilkan dua gol dalam waktu relatif singkat? Apakah pemain sudah dibekali cara menghadapi situasi ketika jumlah mereka berkurang? Dan bagaimana pelatih menyiapkan mental pemain muda untuk menghadapi perubahan pertandingan yang tidak bisa diprediksi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting bagi pembinaan daripada mencari satu orang untuk disalahkan.

Sepak bola usia muda memang seharusnya tidak hanya mengajarkan cara menang.

Ia juga mengajarkan bagaimana menghadapi kesalahan, bagaimana bertahan ketika keadaan sulit, bagaimana menerima keputusan, dan bagaimana tetap berpikir ketika tekanan meningkat.

Karena itu, kekalahan Persebata tidak perlu dibaca sebagai akhir. Justru dari pertandingan seperti inilah proses pembinaan mendapatkan bahan evaluasi yang nyata.

CBN berhak menikmati kemenangan dan tiket semifinal yang mereka dapatkan. Mereka bermain efektif ketika momentum berpihak kepada mereka.

Tetapi bagi Persebata, pertandingan ini seharusnya meninggalkan pekerjaan yang lebih panjang daripada sekadar catatan kekalahan 1-3.

Turnamen boleh berakhir bagi mereka. Evaluasi tidak boleh.

Sebab dalam sepak bola usia muda, ukuran keberhasilan bukan hanya berapa banyak pertandingan yang dimenangkan. Ada pertanyaan yang lebih penting: apakah pemain menjadi lebih matang setelah mengalami kekalahan?

Jika jawabannya iya, maka kekalahan tidak sepenuhnya sia-sia.

Kartu merah Nursyal memang mengubah pertandingan sore itu. Tetapi kartu merah tidak harus menjadi penjelasan terakhir atas kekalahan Persebata.

Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan sebuah tim setelah kehilangan satu pemain, setelah tertinggal, setelah tekanan datang, dan ketika pertandingan mulai tidak berjalan sesuai rencana.

Di situlah sepak bola menguji bukan hanya kaki, tetapi juga kepala.

Dan bagi Persebata, mungkin itulah pelajaran terbesar dari Gelora Samador: bukan bagaimana menghindari keadaan sulit, melainkan bagaimana tetap bermain ketika keadaan sudah tidak berpihak.»

Continue Reading

OPINI

Jokowi di Kupang: Ketika Pengaruh Politik Bertemu Algoritma

Kunjungan Jokowi ke Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa pengaruh politik di era digital tidak lagi ditentukan semata oleh rekam jejak pembangunan atau besarnya massa di lapangan. Algoritma media sosial kini ikut membentuk persepsi publik, memperbesar narasi, dan mengubah cara masyarakat memaknai seorang pemimpin.

Published

on

Jokowi di Kupang: Ketika Pengaruh Politik Bertemu Algoritma. FOTO: IDN Times/Putra Bali Mula

Florianus Mekeng

Kunjungan Presiden ketujuh RI, Joko Widodo, ke Nusa Tenggara Timur pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 kembali memperlihatkan satu kenyataan yang menarik. Di satu tempat ia disambut antusias, di tempat lain kehadirannya diprotes. Dua ekspresi itu berlangsung hampir bersamaan, seolah menggambarkan bahwa satu tokoh dapat hidup dalam dua realitas yang berbeda.

Sebagian orang melihat Jokowi sebagai pemimpin yang meninggalkan jejak pembangunan. Sebagian lainnya menilai masih banyak persoalan yang belum selesai dan memilih menyampaikan kritik. Dalam demokrasi, keduanya sama-sama sah. Perbedaan pendapat bukan ancaman, melainkan bagian dari ruang publik yang sehat.

Pertanyaan yang lebih menarik justru bukan apakah Jokowi masih memiliki pengaruh politik, melainkan bagaimana pengaruh itu kini dibentuk dan dipersepsikan.

Selama satu dekade memimpin Indonesia, berbagai proyek strategis hadir di NTT. Bendungan, jalan nasional, bandara, pelabuhan, hingga pengembangan Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas menjadi bagian dari kebijakan pemerintah pusat. Penyelenggaraan KTT ASEAN ke-42 di Labuan Bajo pada 2023 bahkan membawa nama NTT ke panggung internasional. Jutaan orang di berbagai negara melihat Labuan Bajo melalui layar televisi dan media digital.

Pembangunan seperti itu tentu menjadi modal politik yang tidak bisa diabaikan. Namun modal politik tidak otomatis berubah menjadi dukungan politik. Pada akhirnya masyarakatlah yang menilai apakah pembangunan tersebut benar-benar memberi manfaat bagi kehidupan mereka.

Di sisi lain, penolakan terhadap Jokowi juga menunjukkan bahwa pembangunan fisik tidak pernah menjadi satu-satunya ukuran dalam politik. Ada faktor ideologi, preferensi politik, identitas, pengalaman pribadi, hingga persepsi terhadap berbagai kebijakan nasional yang ikut memengaruhi sikap masyarakat.

Yang membedakan situasi sekarang dengan beberapa tahun lalu adalah cara publik menyaksikan semua itu.

Di era media sosial, pengaruh seorang tokoh tidak hanya ditentukan oleh jumlah orang yang hadir di lapangan, tetapi juga oleh seberapa jauh gambar, video, dan narasi tentang dirinya beredar di ruang digital. Sebuah kunjungan yang dihadiri ribuan orang dapat terlihat sepi apabila hanya satu sudut kamera yang beredar. Sebaliknya, kerumunan yang tidak terlalu besar dapat tampak luar biasa apabila direkam dari sudut tertentu dan kemudian diperkuat oleh algoritma.

Di sinilah algoritma menjadi aktor politik baru.

Algoritma media sosial tidak bekerja untuk mencari kebenaran. Ia bekerja untuk mempertahankan perhatian pengguna. Konten yang memancing emosi—baik kekaguman maupun kemarahan—lebih mudah memperoleh jangkauan yang luas. Akibatnya, sambutan hangat dan aksi penolakan sama-sama dapat menjadi viral, tergantung narasi mana yang lebih banyak dibagikan.

Karena itu, ukuran pengaruh politik pada era digital menjadi jauh lebih kompleks. Popularitas tidak selalu identik dengan dukungan. Ramainya percakapan juga tidak selalu mencerminkan pendapat mayoritas. Sering kali yang paling terlihat hanyalah mereka yang paling aktif memproduksi dan menyebarkan konten.

Di tengah situasi seperti ini, masyarakat perlu lebih bijak membaca setiap peristiwa politik. Keramaian di media sosial tidak boleh langsung dianggap sebagai cermin utuh suara publik. Sebaliknya, sambutan masyarakat di lapangan juga tidak otomatis menjadi ukuran mutlak tingkat penerimaan seorang tokoh.

Kunjungan Jokowi ke NTT sesungguhnya memperlihatkan bahwa politik Indonesia telah memasuki babak baru. Pertarungan pengaruh tidak lagi berlangsung hanya di ruang-ruang kampanye, tetapi juga di lini masa, kolom komentar, dan halaman For You setiap telepon genggam.

Pada akhirnya, pengaruh seorang pemimpin tetap ditentukan oleh dua hal. Yang pertama adalah rekam jejak yang dapat dirasakan masyarakat. Yang kedua adalah bagaimana rekam jejak itu dipersepsikan dan diperdebatkan di ruang digital.»

Continue Reading

OPINI

Flores Tidak Kekurangan Budaya, Kita Kekurangan Cara Menceritakannya

Sehingga dunia merasa itu juga bagian dari ceritanya.

Published

on

Flores Tidak Kekurangan Budaya, Kita Kekurangan Cara Menceritakannya. ILUSTRASI: GARDAFLORES/DON NAVARO BARAN

Oleh: Fransisco Soarez Pati

Di berbagai belahan dunia, orang menari samba tanpa harus memahami bahasa Portugis. Di Tokyo, Paris, hingga New York, irama Brasil terdengar akrab di telinga orang-orang yang bahkan belum pernah menginjakkan kaki di Rio de Janeiro. Mereka mungkin tidak mengenal sejarah Brasil secara utuh, tetapi mereka mengenal budayanya. Musik, tarian, film, dan cerita telah menjadikan Brasil hadir dalam imajinasi dunia.

Di situlah saya mulai bertanya. Mengapa Flores, yang memiliki kekayaan budaya tidak kalah luar biasa, belum mampu hadir dalam percakapan global dengan cara yang sama?

Jawabannya, menurut saya, bukan karena Flores miskin budaya.

Sebaliknya. Flores tidak kekurangan budaya. Kita kekurangan cara menceritakannya.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun di sanalah letak tantangan terbesar kita.

Selama puluhan tahun, masyarakat Flores bekerja keras menjaga warisan leluhur. Rumah-rumah adat tetap berdiri. Tenun terus ditenun. Bahasa daerah diwariskan. Tarian tradisional tetap dipentaskan. Ritual adat dijalankan dengan penuh penghormatan. Berbagai festival budaya diselenggarakan hampir setiap tahun.

Semua itu adalah pekerjaan yang sangat mulia. Namun, melestarikan budaya tidak otomatis berarti berhasil mengomunikasikan budaya.

Budaya yang hanya dipentaskan untuk diri sendiri akan tetap menjadi kebanggaan lokal. Ia baru menjadi kekuatan ketika mampu berbicara kepada orang-orang yang lahir di luar kebudayaan itu.

Maumere dan Krisis Budaya Menulis: Ketika Banyak Orang Pandai Berbicara, Sedikit yang Mau Menulis

Kita sebenarnya tidak kekurangan contoh. Wae Rebo telah beberapa kali menjadi perhatian dunia sebagai kampung adat yang mempertahankan arsitektur tradisionalnya. Lamalera dikenal luas oleh antropolog, pembuat film dokumenter, hingga media internasional karena tradisi berburu paus yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Kampung Bena menjadi salah satu ikon budaya Ngada yang paling banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Festival Golo Koe mulai memperlihatkan bagaimana iman, budaya, dan pariwisata dapat dipertemukan dalam satu ruang perayaan. Festival Natar Sikka terus menghidupkan kembali warisan budaya masyarakat pesisir yang kaya akan sejarah dan nilai-nilai persaudaraan.

Semua itu menunjukkan bahwa Flores tidak pernah kekurangan panggung. Yang masih kurang adalah benang merah yang menghubungkan semua kisah itu menjadi satu narasi besar tentang Flores.

Selama ini kita sering merasa puas ketika sebuah festival berhasil diselenggarakan dengan meriah. Ribuan orang datang. Tarian dipentaskan. Musik dimainkan. Stan pameran dipenuhi pengunjung. Setelah lampu panggung dipadamkan, acara selesai, lalu kita mulai menghitung hari menuju festival berikutnya. Padahal, dalam dunia yang semakin digital, festival bukanlah garis akhir.

Festival justru garis start. Pertanyaan yang lebih penting bukan lagi berapa banyak orang yang hadir pada hari itu, melainkan berapa banyak cerita yang tetap hidup setelah festival usai.

Dunia hari ini tidak mengenal sebuah tempat hanya melalui brosur wisata atau kalender kegiatan. Dunia mengenalnya melalui film, dokumenter, musik, buku, YouTube, Instagram, TikTok, podcast, dan berbagai ruang digital lainnya. Di sanalah identitas budaya dipertemukan dengan jutaan orang yang mungkin tidak pernah datang secara langsung, tetapi dapat jatuh cinta melalui sebuah cerita.

Sayangnya, kita masih terlalu sering berhenti pada dokumentasi, sementara dunia membutuhkan narasi.

Kita sibuk menghitung jumlah festival. Padahal dunia sedang mencari cerita. Kita bangga memiliki puluhan bahasa daerah. Padahal dunia ingin mengetahui cara pandang terhadap kehidupan yang tersembunyi di balik bahasa-bahasa itu.

Kita mempromosikan destinasi wisata. Padahal yang membuat seseorang kembali bukan hanya pemandangan yang indah, melainkan kisah yang terus ia bawa pulang.

Di sinilah komunikasi budaya menjadi sama pentingnya dengan pelestarian budaya.

Flores: Kedalaman yang Membentuk Peradaban—Dari Kelimutu hingga Pancasila

Kita memerlukan generasi baru yang bukan hanya menjadi pelestari tradisi, tetapi juga penulis, fotografer, pembuat film, musisi, ilustrator, penerjemah, kurator, kreator digital, dan diplomat budaya. Mereka bukan mengubah budaya agar menjadi modern, melainkan mengubah cara kita menceritakan budaya agar dapat dipahami dunia tanpa kehilangan jati dirinya.

Menceritakan budaya bukan berarti menyederhanakan makna. Sebaliknya, ia adalah upaya menerjemahkan nilai-nilai lokal ke dalam bahasa yang dapat dipahami oleh siapa pun.

Ketika dunia memahami mengapa masyarakat Lamalera mempertahankan tradisinya, ketika wisatawan mengetahui filosofi di balik rumah adat Wae Rebo, ketika orang luar mengerti bahwa Ja’i bukan sekadar tarian, melainkan simbol kebersamaan, atau ketika tenun Flores dipahami sebagai kisah yang ditulis dengan benang, saat itulah budaya kita mulai berbicara melampaui batas geografis.

Budaya tidak pernah menjadi kekuatan hanya karena usianya yang tua. Ia menjadi kekuatan karena terus diceritakan.

Itulah sebabnya investasi terbesar pada kebudayaan hari ini bukan hanya membangun panggung festival, melainkan juga membangun ekosistem pencerita. Sebab tanpa pencerita, budaya hanya akan menjadi arsip. Dengan pencerita, budaya dapat menjadi inspirasi, diplomasi, bahkan kekuatan ekonomi yang menghidupi masyarakatnya.

Pada akhirnya, dunia tidak akan mencintai Flores hanya karena kita mengatakan bahwa budaya kita indah.

Dunia akan mencintainya ketika mereka merasa ikut memiliki cerita itu. Dan pekerjaan generasi kita bukan lagi sekadar memastikan budaya Flores tetap bertahan.

Pekerjaan kita adalah memastikan budaya Flores terus diceritakan—dengan jujur, dengan bangga, dan dengan cara yang membuat dunia merasa bahwa kisah-kisah dari Flores juga berbicara tentang mereka.

Sebab Flores tidak kekurangan budaya. Yang belum kita miliki adalah cara menceritakan budaya Flores sehingga dunia merasa itu juga bagian dari ceritanya.»

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending