Connect with us

HUMANIORA

THS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste

Published

on

Larantuka, GardaFlores – Organisasi Pencak Silat Pendidikan Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria (THS-THM) berhasil mencetak sebanyak 146 anggota senior menjadi pelatih bersertifikat nasional dalam kegiatan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) se Nusa Tenggara dan Timor Leste tahun 2025.

UKT berlangsung selama 3 hari (29-31/7/2025) di Larantuka diikuti oleh peserta dari 6 Keuskupan yakni Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Maumere dan Keuskupan Larantuka serta dari Timor Leste yakni Keuskupan Agung Dili, Keuskupan Baucau dan Keuskupan Maliana. 

Uskup Larantuka Mgr. Fransiskus Kopong Kung membuka kegiatan tersebut, Selasa (29/7/2025). Hadir pula Wakil Bupati Flores Timur, Dandim 1624 Flores Timur dan Kapolres Flores Timur.

Baca juga:

IPK KB: Garda Terdepan Perencanaan Keluarga, Saatnya Diperkuat dan Diapresiasi

Di hadapan para peserta dan anggota THS-THM juga tamu undangan, Uskup Frans mengatakan bahwa dia butuh THS-THM. “Saya butuh kamu, ya saya butuh kamu jadi saya datang. Untuk selanjutnya, harapan saya kepada anak-anakku THS-THM, untuk bertumbuh dan menjadi semakin besar, taatlah kepada sabda, taatlah kepada hirarki dan taatlah kepada organisasi,” kata Uskup Frans.

Setelah dibuka secara resmi oleh Uskup Frans di Gedung OMK di Sarotari Larantuka, ratusan peserta berseragam biru melakukan long march sejauh 3 KM ke Katedral Renha Rosari sebagai lokasi pelaksanaan UKT.

UKT tahap ini merupakan program kerja Koordinatorat Nasional Indonesia yang memberi mandat kepada Distrik Keuskupan Larantuka sebagai penyelenggara.

“Ujian Kenaikan Tingkat Tahun 2025 ini kami mandatkan ke THS-THM Distrik Keuskupan Larantuka sebagai penyelenggaranya. Pelaksanaannya selama 3 hari yang melibatkan ratusan peserta THS-THM dari berbagai Keuskupan di Nusa Tenggara dan 3 Keuskupan dari Komisariat Timor Leste,” kata Ketua Koordinatorat Nasional THS-THM Indonesia, Armindo Soares.

Baca juga:
Nelayan di Sikka Dapat Bantuan Kapal dan Alat Tangkap

“Karena ini adalah acara besar sehingga sebagai penyelenggara yang telah dipercayakan, kami libatkan saudara-saudari dari Distrik Keuskupan Agung Ende dan Keuskupan Maumere, bersama kami mengambil bagian menjadi panitia,” kata Yoseph Pehan Betan, Ketua Distrik Keuskupan Larantuka.

Lebih lanjut Yoseph mengatakan, ”Untuk kegiatan bergengsi ini kami memilih tema : Berakar pada iman, mengalir melalui tradisi dan bermuara pada Tunggal Hati. Harapannya, tema ini menjadi spirit bagi seluruh peserta UKT dan tentu saja bagi saudara-saudari anggota THS-THM di seluruh dunia.”

Materi Ujian Kenaikan Tingkat tahap ini terdiri dari teori dan praktek Mental Spiritual, Organisasi dan Rekreasi serta Beladiri Pencak Silat yang merupakan fondasi dasar dan pilar THS-THM.

Tim penguji pada UKT 2025 Larantuka, datang dari Jakarta sejumlah 2 orang bersabuk Strip Kuning Dua, mereka adalah Robertus Bambang Indrianto dan Yohanes Bayu Samodra.

Baca juga:
Bupati Sikka Keluarkan Surat Edaran Semarakkan HUT RI ke-80

“Materi ujian kenaikan tingkat memang seperti ini, sebagaimana dalam silabus yang digariskan organisasi. Meskipun tim penguji hanya 2 orang, tetapi semua peserta cukup menguasai, baik teori pun praktek. Jadi mereka hebat,” kata Bengbeng, sapaan untuk Robertus Bambang Indrianto.

Bayu Samodra mengamini dengan mengatakan bahwa setiap peserta ujian untuk pratama maupun tamtama memiliki penekanan bobot yang berbeda sesuai tingkatannya. “Misalnya pada materi beladiri pencak silat untuk pratama penekanannya pada penguasaan gerak, kecepatan dan ketepatan. Sementara untuk tamtama penekanan pada penghayatan dan power, tentu saja penguasaan gerakan, kecepatan dan sasaran menjadi dasarnya,” ujar Bayu Samodra.

Hasil dari UKT ini melahirkan senior dengan kompetensi yang berhak mengenakan sabuk strip Biru Dua dan Kuning Satu yang akan menjadi pelatih di distriknya masing-masing.

Baca juga:
Expo Desa UNIPA, Ajang Pamer Potensi dan Kolaborasi Desa

“Kami dari Maumere, setelah dari sini, ketua distrik akan kirim kami ke paroki-paroki yang belum ada THS-THM-nya untuk kami buka dan kembangkan,” kata Atika seorang THM Kuning 1 dari Paroki Spiritu Santo Misir, Distrik Maumere.

Ucapan Atika ini terkonfirmasi melalui Ketua Distrik Keuskupan Maumere, Ignasius P.F. Ladapase alias Indra. “Karena tahun ini (10/11) THS-THM berulang tahun ke 40, sehingga di Distrik Maumere kami sudah programkan untuk para senior K1 akan dikirim ke paroki-paroki yang belum aktif THS-THM untuk mereka buka dan kembangkan. Selain misi ini, mereka juga akan ditempatkan dalam struktur organisasi menjadi pengurus distrik sesuai kemampuan dan kompetensi yang mereka miliki agar pekerjaan pelayanan ini jadi lebih efektif di Keuskupan kami,” kata Indra.

Peserta dari Timor Leste bersyukur dapat ikut ambil bagian dalam UKT 2025 di Larantuka.

 “Kami bangga dengan THS-THM Indonesia. Di Timor Leste kami sedang berkembang, dan kami percaya akan semakin besar. Terutama pada UKT 2025 ini, kami bersyukur dan merasa sangat puas. Materi ujian yang sangat berkualitas,” kata Armando De Sa Belo.

Armando mengatakan, pihaknya pernah menjadi bagian dari cerita sejarah Gereja Katolik Timor Leste ketika kunjungan mendiang Paus Fransikus menjadi spirit dan motivasi untuk mengembangkan THS-THM di Timor Leste.

“Ya benar. THS-THM menjadi salah satu dari tiga garda pengaman Sri Paus selain Garda Swiss, dan Polisi Nasional Timor Leste. Kami yang datang ini ada 3 orang yang jadi pengaman ring satu. Saya, Kakak Joaquim Vicente dan Kakak Armando De Sa Belo,” kata Eugenio Lopes.

Kegiatan UKT 2025 ditutup dengan perayaan misa di Katedral Renha Rosari Larantuka oleh Deken Larantuka Solor, RD. Hendrik Leni.»(bert)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HUMANIORA

Angin Puting Beliung Hantam Watukrus, Atap Rumah Roboh, BPBD Turun Tangan

BPBD Sikka turun langsung ke lokasi dan memberikan bantuan darurat 1 lembar terpal ukuran 6×4 meter dan 5 lembar selimut.

Published

on

Yosef Beator di depan rumahnya yang porak poranda dihantam puting beliung yang melanda Dusun Watuwoga, Desa Watukrus, Kecamatan Bola, pada Senin (8/12/2025). (IST)

Maumere, GardaFlores — Cuaca ekstrem kembali menghantam wilayah Kabupaten Sikka. Hujan berintensitas tinggi yang disertai angin puting beliung merusak satu rumah warga di Natawatu, Dusun Watuwoga, Desa Watukrus, Kecamatan Bola, pada Senin (8/12/2025) malam sekitar pukul 19.30 Wita.

Kanit Intelkam Polsek Bola, Bripka Yohanes Heri Kriswanto, menyebutkan bahwa angin kencang mengakibatkan atap rumah milik Yosef Beator (56), seorang petani setempat, roboh dan tidak lagi layak huni.

Korban Selamat Setelah Mengungsi

Sebelum bagian atap rumah ambruk, Yosef bersama keluarganya telah lebih dahulu menyelamatkan diri dengan mengungsi ke bangunan bekas garasi mobil yang berada tepat di depan rumah mereka. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Warga Pasar Wuring Kecewa Relokasi ke Pasar Alok: “Bangunan PNPM Ditutup, Kami ke Mana?”

Rumah semi permanen yang dibangun pada 1997 itu berdinding papan dan beratapkan genteng, sehingga tidak mampu menahan terpaan angin puting beliung yang datang tiba-tiba.

Respons Pemerintah: Lapor Berjenjang, BPBD Turun ke Lokasi

Kasi Kesos Desa Watukrus, Maria Emilia Abuk, telah melaporkan insiden tersebut kepada Pj. Kepala Desa dan Camat Bola. Koordinasi kemudian diteruskan ke Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sikka.

Pada Selasa (9/12/2025) sekitar pukul 15.00 Wita, tim BPBD Sikka turun langsung ke lokasi dan memberikan bantuan darurat 1 lembar terpal ukuran 6×4 meter dan 5 lembar selimut.

Bantuan tersebut digunakan untuk penanganan sementara sambil menunggu perbaikan rumah secara mandiri oleh korban.

Hingga saat ini, Yosef Beator dan keluarganya masih bertahan di bangunan bekas garasi mobil. Mereka menunggu kondisi cuaca membaik serta mengupayakan perbaikan rumah secara swadaya.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

“Semua Bisa Berdaya”: Pesan Pendek di Hari Disabilitas Internasional

Published

on

Anak-anak istimewa SLB Bhakti Luhur merayakan Hari Disabilitas Internasional, Rabu (3/12/2025). (GARDAFLORES/KAREL PANDU)

Maumere, GardaFlores — Matahari pagi Maumere baru saja naik ketika halaman SLB/C Bhakti Luhur mulai ramai oleh langkah-langkah kecil anak-anak berkebutuhan khusus. Di antara tawa, sapaan orang tua, dan semangat para guru, mereka bersiap merayakan satu hari yang sangat berarti: Hari Disabilitas Internasional. Bagi mereka, hari ini bukan sekadar seremonial—ini adalah perayaan keberanian, kerja keras, dan harapan.

Di tengah keramaian itu, Kepala Sekolah SLB/C Bhakti Luhur Maumere, Suster Gardiana Karya Spad., M.Pd., berdiri dengan senyum yang sulit disembunyikan. Dalam peringatan yang digelar Rabu (3/12/2025) itu, ia membagikan pesan mendalam tentang makna tema tahun ini: “Semua Bisa Berdaya.”

Memperjuangkan Hak, Menghargai Keunikan

Suster Gardiana mengingatkan bahwa Hari Disabilitas Internasional yang diprakarsai Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak 14 Oktober 1992 lahir dari niat tulus. Tujuannya, memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas yang setara, sekaligus membuka ruang bagi mereka untuk menunjukkan kemampuan unik yang selama ini kerap luput dari perhatian.

Klarifikasi Perlindungan Perempuan dan Anak di Nangahale, Pemkab Sikka dan Komnas Perempuan Gelar Dialog Humanis

“Tema ini sederhana tetapi penuh makna. Anak-anak kita yang istimewa memiliki kemampuan luar biasa. Mereka bukan kurang—mereka berbeda, dan keunikan itu adalah kekuatan,” ujar Suster Gardiana.

Perayaan Kedua, Semangat yang Tak Pernah Padam

Tahun ini adalah kali kedua SLB Bhakti Luhur merayakan Hari Disabilitas dengan jalan sehat. Bagi para siswa, kegiatan itu bukan hanya olahraga, tetapi simbol bahwa mereka juga bisa bergerak, berpartisipasi, dan menunjukkan bahwa batas-batas fisik atau mental bukan penghalang untuk bersinar.

Di panggung kecil di halaman sekolah, pentas seni berlangsung penuh warna. Anak-anak menari, menyanyi, dan memainkan gerakan sederhana yang disambut tepuk tangan meriah. Untuk sebagian dari mereka, tampil di depan umum adalah perjuangan panjang—tetapi hari itu, keberanian mengalahkan ketakutan.

“Ketika mereka tampil seperti anak-anak lain pada umumnya, di situlah kita melihat bahwa potensi mereka masih bisa terus dikembangkan,” kata Suster Gardiana dengan suara yang penuh haru.

Kepala Sekolah SLB/C Bhakti Luhur Maumere, Suster Gardiana Karya Spad., M.Pd. (GARDAFLORES/KAREL PANDU)

Kolaborasi yang Menguatkan

Tak hanya guru dan siswa, orang tua juga mengambil bagian besar dalam perayaan ini. Ada yang datang dari desa, rela menempuh perjalanan panjang setiap hari demi pendidikan anak mereka. Ada pula yang sejak pagi menyiapkan stan kecil untuk pameran karya anak, mulai dari lukisan sederhana hingga kerajinan tangan hasil kolaborasi dengan orang tua.

“Kami sangat berterima kasih kepada orang tua yang tak pernah lelah memperjuangkan kesetaraan bagi anak-anak mereka. Ini bukan perjalanan yang mudah,” ujar Suster Gardiana.

Cletus Beru dan Napas Budaya Krowe yang Bangkit dari Sunyi

Dukungan juga mengalir dari berbagai pihak, termasuk Universitas Nusa Nipa (Unipa), Puskesmas Kopeta, serta paguyuban orang tua anak. Bagi Suster, mereka adalah “pilar-pilar kuat” yang menopang kemajuan SLB Bhakti Luhur Maumere maupun SLB Floresta.

Menuju Masyarakat yang Inklusif

Hari itu, di tengah sorak kecil dan kebanggaan besar, terselip sebuah pesan penting: bahwa pendidikan luar biasa membutuhkan kolaborasi, sinergi, dan keberanian untuk terus berinovasi.

Ucapan terima kasih khusus ia tujukan kepada pengawas sekolah yang terus mendorong kreativitas dan inovasi dalam meningkatkan mutu pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.

Ketika acara ditutup, anak-anak tetap berlarian kecil di halaman, memegang karya mereka, atau sekadar bergandengan tangan dengan teman dan orang tua. Hari itu mungkin hanya sehari, tetapi semangat yang dibangun adalah untuk setahun penuh, bahkan seumur hidup.

Karena bagi mereka, dan bagi siapa pun yang menyaksikan, pesannya jelas: setiap anak bisa berdaya, setiap anak bisa berkembang, setiap anak layak diberi ruang untuk bersinar.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Raih Piala Citra, Yosef Levi Diapresasi Pemkab Sikka

Dukungan nyata bagi ekosistem perfilman daerah masih jadi PR.

Published

on

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, dan Wakil Bupati Ir. Simon Subandi Supriadi, mengapresiasi langsung Yosef Levi di Ruang Kerja Bupati, Rabu (03/12/2025). (IST)

Maumere,GardaFlores — Peraih Piala Citra, sutradara Yosef Levi mendapat apresiasi langsung dari Pemerintah Kabupaten Sikka. Film berjudul Sie yang disutradarainya menjadi pemenang untuk kategori Film Dokumenter Pendek Terbaik dalam Festifal Film Indonesia (FFI) baru-baru ini. Kemenangan ini menjadi salah satu capaian budaya terbesar Sikka dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah prestasi yang ironisnya lahir di tengah minimnya fasilitas dan ruang kreasi film di daerah.

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, dan Wakil Bupati Ir. Simon Subandi Supriadi, menerima langsung Yosef Levi di Ruang Kerja Bupati, Rabu (03/12/2025). Pertemuan berlangsung hangat, dihadiri Kadis Kominfo Very Awales, Kadis Pariwisata Even Edo Meko, Staf Ahli Bupati Akulinus, serta sejumlah jurnalis daerah.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah menyerahkan dukungan dana sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi Yosef Levi yang mampu membawa nama Sikka ke panggung nasional.

Relokasi Pasar Wuring: Pedagang Mulai Melapor, Tapi Masih Bingung

Prestasi Besar dari Daerah Minim Fasilitas

Bupati Sikka mengakui prestasi Levi sebagai pencapaian luar biasa. “Saudara Yosef Levi tidak hanya mengukir prestasi pribadi, tetapi juga membawa nama baik Kabupaten Sikka dan memperkenalkan daerah kita di dunia perfilman nasional,” ujarnya.

Di balik euforia apresiasi itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah keberhasilan Levi lahir dari ekosistem kreatif yang kuat di daerah, atau justru keberhasilan individu yang berjuang nyaris sendirian?

Pemenang Piala Citra Film Dokumenter Pendek Terbaik “SIE”. Yosef Levi (Sutradara) dan Elsyn Puka (Produser), menerima penghargaan. (Tangkapan layar Youtube)

Generasi Muda Butuh Lebih dari Sekadar Ucapan Selamat

Wakil Bupati Simon Subandi menyampaikan harapan agar keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi anak muda Sikka.

“Kami berharap prestasi ini memotivasi generasi muda untuk berkarya dan berkompetisi di tingkat nasional,” ujarnya.

Namun, tanpa kebijakan konkret, harapan itu berisiko berhenti sebagai slogan. Banyak talenta muda Sikka masih menghadapi hambatan klasik: akses peralatan film, pelatihan profesional, hingga ruang berkarya.

Pemerintah Sikka Terima Dokter UGM, Publik Menunggu Bukti Nyata Perbaikan Layanan Kesehatan

Pemerintah Janji Dukung Ekosistem Seni

Pemkab Sikka menyatakan komitmen untuk memperkuat kreativitas anak muda dan mendorong tumbuhnya ekosistem seni, budaya, dan perfilman. Pernyataan ini menjadi momentum penting untuk mengukur keseriusan pemerintah dalam menata sektor kebudayaan yang selama ini kerap berada di posisi pinggir.

Kemenangan Yosef Levi mestinya menjadi alarm bahwa potensi kreatif Sikka ada, besar, dan menunggu untuk diberi panggung yang layak.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending