Connect with us

OPINI

Maumere dan Krisis Budaya Menulis: Ketika Banyak Orang Pandai Berbicara, Sedikit yang Mau Menulis

Published

on

Maumere dan Krisis Budaya Menulis: Ketika Banyak Orang Pandai Berbicara, Sedikit yang Mau Menulis. ILUSTRASI: GARDAFLORES/DON NAVARO BARAN

Oleh: Fransisco Soarez Pari

Maumere sesungguhnya tidak pernah kekurangan orang pintar. Di banyak sudut kota, orang bisa berbicara tentang politik dengan sangat tajam, membaca situasi sosial dengan cukup baik, bahkan mampu menjelaskan berbagai persoalan daerah secara panjang lebar. Warung kopi, teras rumah, lingkungan gereja, hingga media sosial sering menjadi ruang diskusi yang hidup. Hampir semua orang punya pendapat, punya analisis, dan punya cara membaca keadaan.

Namun di tengah budaya berbicara yang begitu kuat, ada satu hal yang masih terasa lemah: budaya menulis.

Tidak banyak orang yang sungguh-sungguh menuangkan gagasan mereka ke dalam tulisan. Akibatnya, muncul jarak antara kelompok yang gemar membaca, kelompok yang suka berbicara, dan kelompok kecil yang mau menulis. Padahal dalam perkembangan intelektual sebuah masyarakat, membaca, berbicara, dan menulis seharusnya tumbuh secara seimbang.

Fenomena ini sebenarnya menarik. Masyarakat Maumere bukan masyarakat yang miskin ide. Sebaliknya, ruang sosial di Flores sangat kaya dengan percakapan, cerita, analisis, humor politik, dan refleksi sosial. Banyak orang memiliki kemampuan membaca situasi dengan sangat baik. Mereka mampu memahami dinamika politik lokal, relasi kekuasaan, konflik sosial, hingga perubahan budaya masyarakat. Tetapi kemampuan itu sering berhenti di ruang percakapan dan tidak berubah menjadi dokumentasi pemikiran yang tertulis.

Akibatnya, banyak gagasan bagus akhirnya hilang bersama waktu. Diskusi yang sebenarnya bernilai hanya hidup sesaat di meja kopi atau percakapan informal. Padahal tulisan memiliki kekuatan berbeda: ia menyimpan ingatan, membangun tradisi berpikir, dan memungkinkan generasi berikutnya membaca kembali cara sebuah masyarakat memahami dirinya sendiri.

Dalam konteks ini, Maumere sebenarnya menghadapi semacam krisis budaya menulis. Krisis ini bukan berarti masyarakat tidak cerdas atau tidak mampu berpikir kritis, tetapi lebih karena tradisi menulis belum tumbuh sekuat tradisi berbicara. Orang lebih nyaman berbicara daripada menyusun ide secara tertulis. Padahal menulis bukan hanya soal kemampuan bahasa, tetapi juga soal keberanian merawat gagasan agar tidak hilang begitu saja.

Fenomena ini bisa dibandingkan dengan cara orang mempelajari bahasa asing, misalnya bahasa Inggris. Dalam pembelajaran bahasa, ada unsur penting seperti reading, writing, dan speaking. Seseorang tidak dapat dikatakan benar-benar menguasai bahasa jika hanya pandai berbicara tetapi lemah dalam menulis, atau rajin membaca tetapi tidak mampu mengungkapkan pikirannya sendiri secara tertulis.

Kebersihan Lingkungan: Halaman Rumahku, Halaman Rumahmu, Wajah Kota Maumere

Prinsip yang sama sebenarnya berlaku dalam kehidupan intelektual masyarakat. Membaca membentuk pengetahuan. Berbicara melatih keberanian dan kemampuan menyampaikan ide. Tetapi menulis memberi ketahanan pada gagasan. Tulisan membuat pemikiran seseorang bisa bertahan melampaui ruang dan waktu.

Karena itu, budaya menulis seharusnya tidak dipandang sebagai aktivitas eksklusif kaum akademik atau wartawan saja. Menulis adalah bagian dari pembangunan kesadaran masyarakat. Ketika lebih banyak orang mulai menulis—tentang politik lokal, sejarah kampung, budaya, pengalaman sosial, atau kritik pembangunan—maka sebuah daerah mulai membangun memori intelektualnya sendiri.

Di Flores, khususnya Maumere, potensi itu sebenarnya sangat besar. Masyarakat memiliki tradisi bertutur yang kuat, kemampuan membaca situasi sosial yang tajam, dan pengalaman sejarah yang kaya. Tinggal bagaimana energi percakapan itu perlahan diubah menjadi tradisi dokumentasi tertulis.

Media sosial sebenarnya membuka peluang baru. Hari ini orang tidak lagi harus menjadi penulis koran untuk membagikan gagasan. Siapa pun bisa menulis opini, catatan sejarah, refleksi sosial, atau kritik kebijakan secara mandiri. Yang dibutuhkan adalah keberanian memulai dan kesadaran bahwa tulisan sekecil apa pun tetap memiliki nilai bagi perkembangan ruang berpikir masyarakat.

Menulis juga penting untuk menciptakan keseimbangan dalam ruang publik. Ketika masyarakat terlalu bergantung pada budaya lisan, maka banyak diskusi menjadi cepat hilang, mudah dipelintir, atau sulit diverifikasi kembali. Sebaliknya, tulisan menciptakan ruang refleksi yang lebih tenang dan lebih bertanggung jawab. Orang dipaksa berpikir lebih runtut sebelum menyampaikan pendapatnya.

Karena itu, budaya membaca, berbicara, dan menulis tidak seharusnya dipisahkan. Ketiganya merupakan satu kesatuan dalam membangun masyarakat yang sehat secara intelektual. Membaca memberi isi, berbicara memberi dinamika, dan menulis memberi ketahanan.

Pada akhirnya, sebuah masyarakat tidak hanya dikenang dari apa yang pernah dibicarakannya, tetapi juga dari apa yang berhasil dituliskannya. Sebab percakapan dapat hilang bersama waktu, tetapi tulisan akan tetap tinggal sebagai jejak pemikiran sebuah zaman. Seperti ungkapan Latin yang sangat terkenal: Scripta manent, verba volant — yang tertulis akan tetap tertulia, yang terucap akan hilang terbawa angin.»

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Wabup Sikka Soroti Rendahnya Literasi dan Arsip Daerah, Dorong Gerakan Membaca hingga Transformasi Digital - Garda Flores %

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

OPINI

Ketika Pintu Belakang Menjadi Jalan Keluar Kekuasaan

Tidak ada jarak yang lebih berbahaya daripada jarak antara pemimpin dan rakyat yang dipimpinnya.

Published

on

Ketika Pintu Belakang Menjadi Jalan Keluar Kekuasaan: Ibu-ibu pedagang pasar Alok saat mengejar Bupati Sikka untuk berdiskusi. FOTO: NTT-POST

Oleh: Muhamad Yusuf Lewor Goban


Kamis siang, 11 Juni 2026
, Gedung DPRD Sikka memperlihatkan dua wajah pemerintahan yang kontras.

Di dalam ruang sidang, para pejabat berbicara tentang laporan keuangan daerah. Angka-angka dibacakan. Capaian disampaikan. Opini Wajar Tanpa Pengecualian yang berhasil dipertahankan selama sepuluh tahun menjadi salah satu kebanggaan yang mengemuka dalam pembahasan.

Di luar ruang sidang, puluhan pedagang Pasar Alok menunggu. Mereka bukan investor. Bukan kontraktor. Bukan elite politik.

Mereka adalah orang-orang yang setiap pagi membuka lapak demi memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka datang membawa keresahan setelah penertiban pasar yang menurut mereka berlangsung tanpa ruang dialog yang memadai. Mereka tidak datang untuk menjatuhkan pemerintah. Mereka hanya ingin didengar.

Karena itu mereka memilih mendatangi DPRD, rumah rakyat yang secara demokratis memang disediakan untuk menyampaikan aspirasi. Mereka menunggu. Dan terus menunggu.

Harapan mereka sederhana: bertemu bupati dan mendengar langsung penjelasan pemerintah mengenai penertiban yang baru saja mereka alami.

Namun yang terjadi kemudian justru meninggalkan kesan yang sulit dihapus dari ingatan banyak orang.

Saat para pedagang masih menunggu kesempatan berdialog, bupati meninggalkan gedung melalui jalur lain untuk menghadiri agenda pemerintahan berikutnya.

Secara administratif mungkin tidak ada yang salah. Seorang kepala daerah memang memiliki jadwal yang padat. Ada agenda yang harus dihadiri. Ada program yang harus dijalankan. Bahkan kemudian dijelaskan bahwa keberangkatan tersebut terkait peluncuran program BPJS Ketenagakerjaan bagi perangkat sosial di desa dan kelurahan. Penjelasan itu bisa dipahami.

Tetapi politik sering kali tidak hanya berbicara tentang apa yang benar secara administratif. Politik juga berbicara tentang simbol, persepsi, dan kehadiran.

Yang diingat masyarakat bukanlah susunan agenda seorang bupati pada hari itu.

Yang diingat masyarakat adalah kenyataan bahwa ketika mereka datang membawa keluhan, mereka pulang tanpa sempat berbicara dengan pemimpinnya. Di situlah persoalannya.

Dalam demokrasi, dialog sering kali lebih penting daripada jawaban itu sendiri.

Rakyat tidak selalu menuntut semua keinginannya dipenuhi. Mereka juga memahami bahwa pemerintah memiliki keterbatasan. Namun masyarakat ingin diyakinkan bahwa suara mereka didengar, bahwa keberatan mereka dicatat, dan bahwa mereka tidak sedang berbicara kepada tembok.

Karena itu, yang hilang pada hari itu sesungguhnya bukan sekadar sebuah pertemuan. Yang hilang adalah kesempatan membangun kepercayaan.

Padahal jika dicermati, para pedagang Pasar Alok justru menunjukkan sikap yang relatif tertib. Mereka tidak membakar fasilitas umum. Tidak merusak kantor pemerintahan. Tidak melakukan tindakan anarkis.

Mereka memilih datang ke DPRD. Mereka memilih menunggu. Mereka memilih meminta penjelasan melalui jalur yang tersedia dalam sistem demokrasi.

Pilihan itu seharusnya menjadi modal yang baik untuk membangun komunikasi.

Sebab sebuah pemerintahan yang kuat bukanlah pemerintahan yang tidak pernah dikritik. Pemerintahan yang kuat adalah pemerintahan yang berani menghadapi kritik secara terbuka.

Ketika warga merasa kehilangan ruang dialog, kekecewaan akan mencari jalannya sendiri. Ia bisa berubah menjadi kemarahan, prasangka, bahkan ketidakpercayaan yang jauh lebih sulit dipulihkan dibandingkan menyelesaikan masalah awalnya.

Kasus Pasar Alok pada akhirnya bukan semata-mata soal lapak, relokasi, atau penertiban. Ini berbicara tentang hubungan antara kekuasaan dan rakyat.

Tentang seberapa jauh pemerintah bersedia hadir ketika warganya meminta penjelasan.

Tentang apakah komunikasi publik hanya berlangsung dari podium ke masyarakat, atau juga dari masyarakat kepada pemimpinnya.

Sebab dalam kehidupan demokrasi, kekuasaan selalu memiliki banyak pintu untuk keluar dari sebuah ruangan.

Tetapi rakyat hanya memiliki satu pintu untuk masuk: dialog. Ketika pintu itu tertutup, yang tersisa hanyalah jarak.

Dan sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa tidak ada jarak yang lebih berbahaya daripada jarak antara pemimpin dan rakyat yang dipimpinnya.»

Continue Reading

OPINI

Mengapa Pendonor Darah Layak Masuk Daftar Menantu Idaman?

Published

on

Mengapa Pendonor Darah Layak Masuk Daftar Menantu Idaman? FOTO ILUSTRASI IST

Oleh: dr. Roy Boris, RSUD dr. T.C Hillers Maumere

Setiap orang tua tentu memiliki gambaran tentang menantu yang ideal.

Ada yang menginginkan menantu berpendidikan tinggi. Ada yang mengutamakan pekerjaan tetap. Ada pula yang berharap anaknya menikah dengan seseorang yang mapan secara ekonomi. Semua itu wajar.

Namun di tengah daftar panjang berbagai kriteria tersebut, ada satu hal sederhana yang jarang masuk dalam pertimbangan: apakah calon menantu pernah mendonorkan darahnya untuk orang lain?

Sekilas pertanyaan itu terdengar tidak biasa. Bahkan mungkin mengundang senyum.

Tetapi jika dipikirkan lebih jauh, seseorang yang bersedia mendonorkan darah secara sukarela sesungguhnya sedang menunjukkan sesuatu yang penting tentang dirinya. Ia peduli terhadap kesehatan dirinya sendiri, memiliki kesadaran sosial, dan bersedia berbagi sesuatu yang tidak bisa dibeli di toko mana pun: kesempatan hidup bagi orang lain.

Di situlah donor darah menjadi menarik. Ia bukan hanya tindakan medis, tetapi juga cerminan nilai kemanusiaan.

Ketika Darah Menjadi Barang yang Sulit Dicari

Sebagai dokter yang bertugas di rumah sakit daerah, saya melihat secara langsung bagaimana darah sering kali menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.

Di ruang perawatan, darah bukan sekadar cairan berwarna merah yang tersimpan di dalam kantong plastik. Darah sering kali menjadi pembeda antara hidup dan mati.

Seorang ibu yang mengalami perdarahan saat melahirkan membutuhkannya.

Korban kecelakaan lalu lintas membutuhkannya.

Anak-anak dengan talasemia membutuhkannya secara rutin sepanjang hidup mereka.

Pasien gagal ginjal kronis, pasien kanker, maupun pasien yang menjalani operasi besar juga sering kali membutuhkan transfusi darah sebagai bagian dari proses pengobatan.

Masalahnya, kebutuhan darah terus meningkat, sementara jumlah pendonor sukarela belum mampu mengimbanginya.

Menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ketersediaan darah ideal suatu negara berkisar 2 persen dari jumlah penduduk. Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 280 juta jiwa, kebutuhan darah nasional diperkirakan mencapai sekitar 5,6 juta kantong setiap tahun.

Namun data menunjukkan ketersediaan darah nasional masih berada di bawah kebutuhan tersebut.

Kondisi ini menjadi lebih menantang di wilayah kepulauan seperti Flores.

Faktor geografis, keterbatasan akses pelayanan kesehatan, serta rendahnya jumlah pendonor sukarela membuat ketersediaan darah sering kali menjadi persoalan yang harus dihadapi fasilitas kesehatan.

Di Kabupaten Sikka misalnya, dengan jumlah penduduk sekitar 340 ribu jiwa, kebutuhan darah minimal diperkirakan mencapai lebih dari 6.800 kantong per tahun. Hingga kini, kebutuhan tersebut belum sepenuhnya terpenuhi.

Donor Darah Bukan Hanya Menolong Orang Lain

Banyak orang mengira donor darah hanya bermanfaat bagi penerima darah. Padahal pendonor juga memperoleh manfaat.

Sebelum melakukan donor darah, seseorang akan menjalani pemeriksaan kesehatan dasar, mulai dari tekanan darah, kadar hemoglobin, hingga wawancara kesehatan.

Selain itu, darah yang didonorkan juga menjalani pemeriksaan untuk mendeteksi berbagai penyakit infeksi tertentu seperti HIV, sifilis, dan hepatitis B sebagai bagian dari sistem keamanan transfusi darah.

Artinya, donor darah secara tidak langsung menjadi kesempatan untuk memantau kondisi kesehatan diri sendiri.

Tentu donor darah bukan pengganti pemeriksaan kesehatan yang lengkap. Namun ia dapat menjadi salah satu langkah awal untuk meningkatkan kesadaran seseorang terhadap kondisi kesehatannya.

Dari Candaan Menjadi Pesan Serius

Karena alasan itulah saya sering mengatakan, setengah bercanda tetapi juga setengah serius, bahwa donor darah layak menjadi salah satu syarat tidak tertulis dalam memilih calon menantu.

Bukan karena donor darah menjamin seseorang menjadi pasangan yang sempurna.

Bukan pula karena orang yang belum pernah donor darah adalah pribadi yang buruk.

Namun seseorang yang rutin mendonorkan darah biasanya menunjukkan beberapa karakter yang patut dihargai: kepedulian terhadap sesama, kesadaran menjaga kesehatan, kedisiplinan, dan kemauan berkontribusi bagi masyarakat tanpa mengharapkan imbalan.

Nilai-nilai seperti itulah yang sesungguhnya dicari dalam kehidupan berkeluarga maupun kehidupan bermasyarakat.

Setetes Darah, Banyak Kehidupan

Setiap tanggal 14 Juni, dunia memperingati Hari Donor Darah Sedunia sebagai bentuk penghargaan kepada jutaan pendonor sukarela yang telah membantu menyelamatkan nyawa manusia.

Peringatan ini mengingatkan kita bahwa ketersediaan darah yang aman tidak bergantung pada teknologi semata. Pada akhirnya, semua bergantung pada kesediaan manusia untuk membantu manusia lainnya.

Di tengah tingginya kebutuhan darah dan masih terbatasnya jumlah pendonor sukarela, setiap kantong darah memiliki arti yang sangat besar.

Karena itu, sebelum sibuk mempersiapkan berbagai hal dalam hidup, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita ajukan kepada diri sendiri:

Kapan terakhir kali kita membantu menyelamatkan nyawa seseorang yang bahkan tidak kita kenal?

Bisa jadi jawabannya dimulai dari satu langkah sederhana: datang ke unit donor darah terdekat dan mengulurkan lengan untuk mendonorkan darah.

Dan bagi para orang tua yang sedang menyusun daftar menantu idaman, tidak ada salahnya menambahkan satu kriteria baru.

Tidak harus kaya. Tidak harus bergelar tinggi.

Tetapi kalau ia rutin donor darah, mungkin itu pertanda bahwa ia memiliki sesuatu yang lebih penting: kepedulian terhadap sesama manusia.»

Continue Reading

OPINI

This is Your Captain Speaking

Perjalanan Kapten Ernes Don Bosco Laban, Pilot Citilink Asal Maumere.

Published

on

This is Your Captain Speaking: Perjalanan Kapten Ernes Don Bosco Laban, Pilot Citilink Asal Maumere. ILUSTRASI: DOKPRI

Oleh: Fransisco Soarez Pati

“This is your captain speaking from the flight deck.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Hampir setiap orang yang pernah naik pesawat pasti pernah mendengarnya.

Suara seorang kapten menyapa penumpang, menyampaikan kondisi cuaca, ketinggian jelajah, atau perkiraan waktu tiba. Setelah itu, penerbangan berjalan seperti biasa. Penumpang kembali membaca buku, menonton film, atau memejamkan mata.

Namun pernahkah kita membayangkan perjalanan panjang yang tersembunyi di balik suara itu?

Di balik setiap pengumuman dari ruang kemudi, ada kisah tentang mimpi, perjuangan, kegagalan, kerja keras, dan keyakinan yang bertahan bertahun-tahun.

Demikian pula dengan Kapten Ernestus Don Bosco Laban.

Hari ini ia duduk di kokpit Airbus A320 milik Citilink Indonesia, menerbangkan ratusan penumpang melintasi berbagai kota dan negara. Namun jauh sebelum mengenakan seragam pilot, jauh sebelum menyentuh tuas kendali pesawat modern, Ernes hanyalah seorang anak kecil dari Maumere yang sering memandang langit dengan rasa ingin tahu yang tak pernah habis.

Masa kecilnya tumbuh di Maumere, ketika kehidupan bergerak dengan ritme yang jauh lebih sederhana.

Di Pasar Alok menjadi pusat aktivitas masyarakat. Nelayan datang membawa hasil laut. Petani menjual hasil kebun. Anak-anak bermain hingga matahari mulai tenggelam di ufuk barat.

Di antara kehidupan yang sederhana itu, Ernes menjalani masa kecil yang tak jauh berbeda dengan anak-anak lain.

Ia bermain sepak bola di Lapangan Kota Baru. Mandi dan berenang di sekitar kawasan Pelabuhan Sadang Bui. Menerbangkan layang-layang bersama teman-temannya di halaman SDK III Maumere.

Namun ada satu hal yang selalu membuatnya berhenti sejenak dan menengadah.

Pesawat.

Setiap kali mendengar suara mesin dari kejauhan, matanya akan mencari sumber suara itu di langit. Saat pesawat menurunkan ketinggian menuju Bandara Wai Oti atau perlahan menghilang di balik cakrawala, ia hanya bisa memandang dengan kagum.

Barangkali saat itu ia belum memahami teknologi penerbangan. Belum mengerti apa itu kokpit, navigasi, ataupun Airbus A320.

Tetapi seperti banyak mimpi besar lainnya, semuanya berawal dari sebuah pertanyaan sederhana.

Bagaimana rasanya berada di atas sana?

Mimpi sering kali terlihat indah dari kejauhan. Namun jalan menuju mimpi hampir selalu lebih berat daripada yang dibayangkan.

Menjadi pilot bukanlah cita-cita yang mudah diwujudkan, terlebih bagi seorang anak yang tumbuh jauh dari pusat-pusat pendidikan penerbangan Indonesia.

Dibutuhkan biaya besar. Disiplin yang ketat. Pendidikan yang panjang. Kemampuan teknis yang terus diuji. Dan yang tak kalah penting, kemampuan bertahan ketika keadaan tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Dalam perjalanan itu, Ernes belajar bahwa tidak ada jalan pintas menuju kokpit.

Ada proses yang harus dijalani. Ada pengorbanan yang harus diterima. Ada kegagalan yang harus dihadapi tanpa kehilangan arah.

Di situlah nilai-nilai yang ia peroleh dari keluarga menjadi fondasi yang tidak tergantikan: kerja keras, ketekunan, disiplin, dan doa.

Sedikit demi sedikit, langkah-langkah kecil yang dahulu tampak biasa mulai membawanya semakin dekat ke langit yang selama ini hanya ia pandangi dari bawah.

Hari ini, Ernes telah menjadi seorang kapten.

Ia menerbangkan Airbus A320 pada berbagai rute domestik maupun internasional. Dari balik pintu kokpit, ia memikul tanggung jawab yang tidak ringan: memastikan setiap penerbangan berlangsung aman hingga tujuan.

Namun ada hal menarik tentang pencapaian besar.

Semakin tinggi seseorang terbang, semakin jelas ia melihat dari mana dirinya berasal.

Di tengah kesibukan dunia penerbangan modern, Maumere tetap hidup dalam ingatannya. Bandara Wai Oti tetap menjadi bagian dari kisah yang membentuk dirinya. Langit yang dulu ia pandangi sebagai anak kecil kini menjadi ruang kerjanya setiap hari.

Dan mungkin itulah bagian paling penting dari kisah ini.

Bukan tentang menjadi pilot. Bukan tentang Airbus A320. Bukan pula tentang seragam kapten atau ribuan jam terbang.

Melainkan tentang keberanian menjaga mimpi tetap hidup ketika keadaan belum memberi banyak alasan untuk percaya.

Kisah perjalanan tersebut kini sedang dirangkum dalam sebuah buku biografi berjudul:

THIS IS YOUR CAPTAIN SPEAKING: Kisah Ernes Laban, Pilot Asal Maumere Menerbangkan Citilink Airbus A320.

Buku itu bukan sekadar catatan karier seorang penerbang. Ia adalah cerita tentang bagaimana mimpi bertumbuh di tempat yang sederhana, tentang bagaimana ketekunan mengalahkan keterbatasan, dan tentang bagaimana seseorang dapat membawa identitas kampung halamannya terbang jauh melintasi batas-batas geografis.

Sebab pada akhirnya, setiap orang memiliki langitnya sendiri. Tidak semua akan menjadi pilot. Tidak semua akan duduk di kokpit pesawat. Tetapi setiap orang memiliki tujuan yang menunggu untuk dicapai.

Dan seperti kisah Ernes, perjalanan menuju langit itu selalu dimulai dari satu langkah kecil yang berani diambil.

Dari Maumere. Menuju langit yang tak berbatas.»

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending