Connect with us

SOSBUD

Keluarga MTR Tuntut Pengembalian Mahar, Sengketa Pertunangan di Sikka Masuk Tahap Klarifikasi

“Kalau memang menuntut mahar dikembalikan, maka selesaikan juga seluruh persoalan keuangan…..”

Published

on

"Kami datang untuk mengambil kembali barang-barang yang telah kami serahkan. Karena VL tidak lagi menerima MTR sebagai calon suami, maka mahar harus dikembalikan," kata Evensius, ayah MTR. FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Sengketa pertunangan antara VL dan MTR di Desa Nitakloang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, memasuki babak baru setelah keluarga MTR menuntut pengembalian mahar yang diberikan saat prosesi pertunangan. Di sisi lain, keluarga VL meminta penyelesaian terlebih dahulu atas klaim kerugian ratusan juta rupiah yang menurut mereka terjadi selama masa pertunangan.

Persoalan tersebut mencuat pada Senin (15/6/2026) ketika keluarga besar MTR mendatangi Kantor Desa Nitakloang untuk meminta kejelasan penyelesaian hubungan kedua pasangan yang batal melangsungkan pernikahan. Setelah tidak bertemu keluarga VL di kantor desa, rombongan kemudian mendatangi kediaman keluarga VL untuk menyampaikan tuntutan yang sama.

Ayah MTR, Evensius Asterius, mengatakan keluarga meminta pengembalian mahar karena rencana pernikahan yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026 tidak lagi dilanjutkan.

“Kami datang untuk mengambil kembali barang-barang yang telah kami serahkan. Karena VL tidak lagi menerima MTR sebagai calon suami, maka mahar harus dikembalikan,” kata Evensius.

Menurut keluarga MTR, pengembalian mahar menjadi konsekuensi dari batalnya rencana pernikahan yang telah disepakati kedua keluarga.

Namun keluarga VL menyatakan persoalan tersebut tidak dapat dipisahkan dari berbagai klaim yang selama ini disampaikan pihak perempuan terkait penggunaan uang dan bantuan keuangan selama masa pertunangan.

Ayah VL, Laurensius Mitan Todang, menegaskan keluarganya tidak menolak penyelesaian berdasarkan mekanisme adat yang berlaku di Sikka. Meski demikian, ia meminta seluruh persoalan yang menjadi keberatan pihaknya turut dibahas secara menyeluruh.

“Kalau memang menuntut mahar dikembalikan, maka selesaikan juga seluruh persoalan keuangan yang menurut pengakuan anak kami telah digunakan selama masa pertunangan,” ujarnya.

Perempuan di Sikka Klaim Rugi Rp324 Juta, Nama Disebut Digunakan untuk Menjamin Utang Tunangan

Sebelumnya, VL mengaku mengalami kerugian hingga Rp324,45 juta selama menjalin hubungan dan masa pertunangan dengan MTR. Dana tersebut, menurut pengakuannya, digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pembayaran utang, biaya pendidikan, kebutuhan sehari-hari, hingga pengeluaran lain yang dikaitkan dengan MTR.

VL juga mengaku mengetahui bahwa cincin pertunangan yang diterimanya pernah digadaikan. Ia menuding cincin tersebut bahkan sempat diganti dengan cincin imitasi tanpa sepengetahuannya.

Menanggapi tuduhan tersebut, MTR mengakui cincin pertunangan pernah digadaikan. Namun ia membantah melakukan tindakan itu secara sepihak dan menyatakan langkah tersebut dilakukan atas kesepakatan bersama.

MTR juga membantah tuduhan bahwa seluruh dana yang disebut mencapai ratusan juta rupiah digunakan atau dikuasainya secara pribadi. Menurut dia, sejumlah transaksi dilakukan menggunakan nama VL dan tidak seluruhnya berkaitan dengan dirinya.

Perbedaan keterangan kedua pihak membuat sengketa berkembang tidak hanya pada persoalan pengembalian mahar, tetapi juga menyangkut klaim penggunaan dana selama masa pertunangan.

Situasi di Desa Nitakloang sempat mendapat perhatian aparat kepolisian untuk mengantisipasi terjadinya gangguan keamanan selama proses penyampaian tuntutan berlangsung.

Sebelumnya, upaya mediasi telah dilakukan melalui Pemerintah Desa Nitakloang dan lembaga adat. Namun pertemuan tersebut belum menghasilkan kesepakatan sehingga masing-masing pihak mempertahankan posisinya.

Hingga Senin malam, belum tercapai penyelesaian antara kedua keluarga. Opsi penyelesaian melalui mekanisme adat maupun jalur hukum masih terbuka, sementara kepolisian telah meminta keterangan dari para pihak terkait klaim yang disampaikan dalam sengketa tersebut.»(rel)

SOSBUD

Pohon Reo Tumbang Timpa Kendaraan di Waigete, Pelajar 17 Tahun Terluka

Setelah seluruh material pohon disingkirkan, lalu lintas di ruas jalan tersebut kembali normal.

Published

on

Selain menimbulkan korban luka, insiden itu merusak sebuah minibus milik SPPG YASPEM. FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores – Sebatang pohon Reo berukuran besar tumbang dan menimpa kendaraan yang melintas di Jalan Raya Waiara–Kloangrotat–Aibura, tepatnya di Dusun Habiheret, Desa Wairbleler, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Kamis (30/7/2026) sekitar pukul 09.00 WITA. Seorang pelajar berusia 17 tahun mengalami luka-luka, sementara sebuah minibus dan sepeda motor rusak akibat tertimpa batang pohon.

Kasi Humas Polres Sikka, IPDA Leonardus Tunga, mengatakan pohon tersebut diduga roboh karena batangnya telah lapuk dan berongga. Saat tumbang, pohon menutup seluruh badan jalan sehingga arus lalu lintas di jalur penghubung Waiara–Kloangrotat–Aibura sempat terhenti.

Personel Polsek Waigete yang menerima laporan masyarakat segera menuju lokasi untuk mengamankan area, mengatur lalu lintas, serta melakukan evakuasi bersama warga. Batang pohon dipotong menggunakan mesin gergaji rantai (chainsaw) sebelum dipindahkan dari badan jalan.

Mantan Aktivis Truk F Ditahan Polisi, Diduga Gelapkan Sepeda Motor yang Kemudian Digadaikan

Korban berinisial YJT (17), warga Dusun Bei, Desa Blatatatin, Kecamatan Kangae, mengalami luka robek di kepala dan kelopak mata kanan, luka lecet pada tulang kering kaki kiri, serta memar pada hidung. Korban dievakuasi ke Rumah Sakit St. Gabriel Kewapante dan dilaporkan dalam kondisi sadar.

Selain menimbulkan korban luka, insiden itu merusak sebuah minibus milik SPPG YASPEM. Bagian depan kendaraan mengalami kerusakan dengan kaca depan pecah akibat tertimpa batang pohon. Sebuah sepeda motor Honda Revo Fit juga mengalami kerusakan berat.

Selama proses penanganan, polisi memberlakukan pengaturan arus kendaraan di sekitar lokasi sekaligus mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pungutan liar terhadap pengguna jalan yang melintas.

Evakuasi selesai sekitar pukul 11.30 WITA. Setelah seluruh material pohon disingkirkan, lalu lintas di ruas jalan tersebut kembali normal.»(rel)

Continue Reading

SOSBUD

Sendratari Toja Bobu Bertahan Lebih dari Empat Abad, Warisan Budaya Sikka yang Terus Hidup

Tokoh Prinseja dan Mascador itu menjadi salah satu simbol hubungan sejarah Sikka dan Portugal.

Published

on

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, Mauritius Minggo, yang membacakan sambutan Bupati Sikka, mengatakan Festival Natar Sikka menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus menjaga warisan budaya yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat. FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Tidak banyak kesenian tradisional di Indonesia yang masih dipentaskan secara turun-temurun setelah melewati lebih dari empat abad. Di Kampung Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Sendratari Toja Bobu menjadi salah satunya.

Drama tari yang diyakini telah hidup sejak masa awal perjumpaan masyarakat Sikka dengan bangsa Portugis itu kembali dipentaskan dalam Festival Natar Sikka 2026 di halaman Kantor Desa Sikka, Rabu (22/7/2026). Bagi masyarakat setempat, Toja Bobu bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan warisan budaya yang terus merawat ingatan kolektif tentang sejarah panjang akulturasi yang membentuk identitas Kampung Sikka.

Di tengah semakin berkurangnya kesenian tradisional yang mampu bertahan menghadapi perubahan zaman, Toja Bobu tetap dipelihara dan diwariskan dari generasi ke generasi. Pertunjukan yang menghadirkan tokoh Prinseja dan Mascador itu menjadi salah satu simbol hubungan sejarah Sikka dan Portugal yang jejaknya masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat hingga sekarang.

Tema Festival Natar Sikka tahun ini, “Celebration of Sikka and Portuguese Folk Culture”, mencerminkan warisan budaya tersebut. Kampung Sikka dikenal sebagai salah satu kawasan di Indonesia Timur yang masih memperlihatkan kuatnya jejak perjumpaan budaya Nusantara dan Portugis, baik melalui seni pertunjukan, musik, arsitektur, tradisi lisan, hingga situs-situs bersejarah.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, Mauritius Minggo, yang membacakan sambutan Bupati Sikka, mengatakan Festival Natar Sikka menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus menjaga warisan budaya yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat.

Hari Anak Nasional: Yang Sesungguhnya Sedang Diuji Adalah Orang Dewasa

“Festival ini bukan hanya pertunjukan seni budaya. Ini adalah ruang untuk merawat jati diri, memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada dunia, sekaligus membangun persahabatan antarbangsa,” kata Mauritius.

Menurutnya, jejak hubungan sejarah tersebut masih dapat dikenali melalui berbagai peninggalan budaya di Kampung Sikka, seperti Gereja Tua St. Ignasius Loyola, Regalia Kerajaan Sikka, Lepo Gete, Logu Senhor, Patung Meninu, hingga Sendratari Toja Bobu yang terus dipentaskan secara turun-temurun.

Selain Toja Bobu, festival juga menampilkan Tari Tuku Tena yang menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir sebagai nelayan dan pelaut, Tari Jata Kapa, peragaan busana budaya, serta berbagai pertunjukan seni dari pelajar SMP Negeri Watu Pajung Sikka, SMPK Bunga Fatima Lela, dan SDK Sikka.

Festival Natar Sikka pertama kali digelar pada 2022 atas inisiatif Karang Taruna Nibong Sikka bersama Pemerintah Desa Sikka. Dalam perkembangannya, festival ini menjadi agenda budaya tahunan yang mempertemukan masyarakat lokal dengan tamu dari berbagai daerah maupun mancanegara.

Sikka Susun Daftar Data Daerah 2026, Jadi Acuan Perencanaan dan Pelayanan Publik

Pada penyelenggaraan tahun ini, kelompok tari rakyat asal Portugal, Viras do Tio Xico, semula dijadwalkan tampil pada pembukaan festival. Namun, rombongan yang beranggotakan 23 orang itu belum dapat tiba sesuai jadwal setelah penerbangan dari Kupang menuju Larantuka dibatalkan akibat erupsi Gunung Lewotobi.

Panitia menjadwalkan rombongan tersebut tiba di Kampung Sikka pada Jumat (24/7/2026) melalui Ende untuk menggelar pertunjukan di halaman Gereja St. Ignasius Loyola Sikka.

Festival Natar Sikka 2026 turut dihadiri perwakilan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Sikka Valerianus Samador, Camat Lela Konstantinus Saru, Pastor Paroki Sikka RD Feliks Dari, Pater Willem Juley, SVD, Pater Ansel Doredae, SVD, Penjabat Kepala Desa Sikka Anis Mitang, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta ratusan warga.

Di banyak tempat, sejarah hanya tersimpan dalam arsip, museum, atau buku pelajaran. Di Kampung Sikka, sejarah masih hidup di tengah masyarakat melalui musik, ritual, bangunan tua, dan tarian yang terus dipentaskan. Selama Sendratari Toja Bobu tetap diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, kisah perjumpaan Sikka dan Portugal tidak hanya dikenang, tetapi terus dihidupi sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.»(rel)

Continue Reading

SOSBUD

Pemkab Sikka Gandeng SOS Children’s Villages Bangun Model Pengentasan Kemiskinan Ekstrem, Dua Desa Jadi Percontohan

SOS Children’s Villages Flores mengembangkan pendekatan konvergensi dengan mengintegrasikan berbagai program dan sumber daya.

Published

on

"Dalam tekanan ekonomi, anak-anak adalah kelompok yang paling rentan kehilangan hak-hak dasarnya. Karena itu, strategi kita harus bergeser dari sekadar memberikan bantuan sesaat menuju penguatan kapasitas keluarga agar mampu mandiri secara berkelanjutan." FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Pemerintah Kabupaten Sikka bersama SOS Children’s Villages Flores membangun model kolaborasi pengentasan kemiskinan ekstrem berbasis konvergensi di Desa Habi, Kecamatan Kangae, dan Desa Gong Bekor, Kecamatan Alok Timur. Kedua desa tersebut diproyeksikan menjadi percontohan penanganan kemiskinan yang melibatkan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, akademisi, media massa, dan masyarakat secara terpadu.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Workshop Kolaboratif Menggapai Model Aksi Konvergensi Pengentasan Kemiskinan dan Kemiskinan Ekstrem yang dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan di Aula Bapperida Kabupaten Sikka, Rabu (15/7/2026).

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, mengatakan kemiskinan tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan rendahnya pendapatan, tetapi juga berkaitan dengan keterbatasan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, perlindungan sosial, dan lingkungan pengasuhan yang layak bagi anak.

“Dalam tekanan ekonomi, anak-anak adalah kelompok yang paling rentan kehilangan hak-hak dasarnya. Karena itu, strategi kita harus bergeser dari sekadar memberikan bantuan sesaat menuju penguatan kapasitas keluarga agar mampu mandiri secara berkelanjutan,” katanya.

Menurut Bupati, keberhasilan pengentasan kemiskinan harus dibangun melalui empat pilar utama, yakni penguatan pengasuhan keluarga, pemenuhan layanan dasar, penguatan ekonomi keluarga, serta partisipasi anak dalam proses pembangunan.

Pada aspek penguatan ekonomi keluarga, pemerintah mendorong pelatihan keterampilan, pendampingan usaha, pembentukan kelompok ekonomi produktif, peningkatan akses permodalan, pengembangan produk lokal, hingga perluasan akses pasar. Sementara pada layanan dasar, pemerintah menekankan pentingnya akses pendidikan, kesehatan, gizi, air bersih, sanitasi, perlindungan sosial, identitas kependudukan, dan perlindungan anak.

Bupati Sikka Ajak Siswa Baru SMP Negeri Nubarat Bangun Karakter, Disiplin, dan Budaya Sekolah yang Aman

Juventus menegaskan upaya menurunkan angka kemiskinan ekstrem tidak mungkin diselesaikan oleh satu organisasi perangkat daerah atau satu lembaga saja. Karena itu, ia meminta seluruh pemangku kepentingan meninggalkan ego sektoral dan membangun kolaborasi.

“Pemerintah, akademisi, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, media massa, hingga masyarakat harus berjalan bersama. Kolaborasi adalah kunci agar program ini benar-benar berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap model yang dikembangkan di Desa Habi dan Desa Gong Bekor dapat menjadi rujukan bagi pelaksanaan program serupa di desa-desa lain di Kabupaten Sikka.

Dalam kesempatan itu dijelaskan, SOS Children’s Villages Flores mengembangkan pendekatan konvergensi dengan mengintegrasikan berbagai program dan sumber daya lintas sektor agar intervensi terhadap keluarga miskin berlangsung lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan.

Melalui pendekatan tersebut, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, akademisi, dan media diharapkan dapat menyatukan langkah dalam mendampingi keluarga sasaran agar mampu keluar dari kemiskinan secara mandiri.

Rapat koordinasi yang berlangsung selama 15–16 Juli 2026 itu juga diarahkan untuk mengidentifikasi penyebab kemiskinan ekstrem di Kabupaten Sikka, menyusun strategi dan program prioritas, serta merumuskan rekomendasi kebijakan yang dapat mempercepat penurunan angka kemiskinan ekstrem.

Kegiatan tersebut dihadiri pimpinan perangkat daerah, organisasi masyarakat sipil, pelaku dunia usaha, akademisi, perwakilan Aliansi Wartawan Sikka, Camat Alok Timur, Camat Kangae, Penjabat Kepala Desa Habi, serta Penjabat Kepala Desa Gong Bekor.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending