Connect with us

HUMANIORA

Komunitas Wadju Galang Rp20 Juta, Salurkan 175 Paket Logistik ke Tiga Titik Pengungsian Ngada

Komunitas Wadju menyalurkan 175 paket logistik hasil penggalangan dana Rp20 juta kepada warga terdampak gempa di tiga titik di Kabupaten Ngada.

Published

on

Di Kampung Damu, Desa Sambinasi, seorang warga menyampaikan apresiasinya setelah menerima bantuan, terutama karena adanya bahan pangan segar. “Akhirnya ada sayur. Selama ini kami hanya makan mi instan,” ujarnya. FOTO: GARDAFLORES/ROBY

NGADA, GardaFlores — Komunitas Wadju menyalurkan 175 paket logistik kepada warga terdampak gempa di tiga titik pengungsian di Kabupaten Ngada. Bantuan tersebut merupakan hasil penggalangan dana secara swadaya yang mencapai Rp20 juta.

Tiga lokasi yang menjadi sasaran penyaluran yakni Kampung Damu, Desa Sambinasi; Kampung Bekek, Desa Tadho; dan Denatana Timur, Kecamatan Wolomeze.

Paket bantuan berisi beras, sayuran, minyak goreng, air mineral, kopi dan minyak tanah.

Di Kampung Damu, Desa Sambinasi, seorang warga menyampaikan apresiasinya setelah menerima bantuan, terutama karena adanya bahan pangan segar.

“Akhirnya ada sayur. Selama ini kami hanya makan mi instan,” ujarnya.

Menurut Maher Rani, keputusan memasukkan sayuran dan buah dalam paket bantuan diambil berdasarkan informasi mengenai kebutuhan warga di lapangan.

Bupati Sikka Desak Percepatan Pemulihan, Menteri PU Tindaklanjuti Infrastruktur Rusak

“Kami sengaja tambahkan sayur dan buah karena informasi dari lapangan warga sangat membutuhkan tambahan protein. Biar tenaganya pulih untuk kembali bekerja,” jelas Maher.

Penggalangan dana dilakukan melalui donasi anggota komunitas dan masyarakat yang ingin membantu warga terdampak gempa. Dari gerakan tersebut terkumpul Rp20 juta yang kemudian digunakan untuk membeli kebutuhan logistik.

Bagi Komunitas Wadju, kegiatan tersebut merupakan bagian dari aktivitas sosial yang mulai dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir.

Satgas Sikka Tegaskan Bantuan Pelajar Terdampak Gempa Sudah Disalurkan

Komunitas Wadju telah memasuki generasi keempat. Di bawah kepemimpinan Maher Rani, kegiatan komunitas tidak hanya berfokus pada aktivitas internal, tetapi juga mencakup sejumlah kegiatan sosial, antara lain penghijauan kawasan wisata Wolobobo, bantuan bagi warga terdampak erupsi Lewotobi dan bantuan untuk anak-anak Panti Asuhan Alma.

Maher mengatakan keterlibatan komunitas dalam kegiatan sosial berangkat dari kesadaran bahwa membantu masyarakat tidak harus menunggu kemampuan finansial yang besar.

“Kami mulai dari hal kecil. Itu semua mengajari kami bahwa peduli itu tidak harus menunggu kaya,” katanya.

Ketika gempa mengguncang Flores, Komunitas Wadju kembali membuka penggalangan donasi dengan nama Peduli Korban Gempa Ngada. Dana yang terkumpul kemudian disalurkan dalam bentuk bantuan logistik ke tiga wilayah terdampak.

Gempa Flores: 91 Tewas, 156.782 Mengungsi, 58.360 Rumah Rusak

Aksi tersebut mendapat apresiasi dari RD. Wempi, Pastor Paroki Bekek. Ia menilai kepedulian komunitas menjadi dukungan bagi warga yang sedang menghadapi situasi bencana.

“Tidak semua komunitas seperti ini. Tidak semua komunitas juga peduli. Terima kasih dan doa kami untuk Komunitas Wadju agar bisa menjadi lebih besar dan sukses untuk semua anggotanya,” ujar RD. Wempi.

Maher berharap distribusi bantuan bagi warga terdampak gempa terus dipercepat dan menjangkau masyarakat secara merata, terutama mereka yang rumahnya roboh, retak atau mengalami kerusakan berat.

“Harapan kami, pemerintah bisa mempercepat proses bantuan yang merata untuk seluruh warga Ngada. Karena semua terdampak. Lebih khusus untuk mereka yang rumahnya rubuh, retak, dan rusak berat,” tegas Maher.

Sebanyak 175 paket bantuan yang disalurkan Komunitas Wadju menjadi bagian dari dukungan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan warga di tengah masa pengungsian.»(tim/rel)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HUMANIORA

Bhayangkari Papua Salurkan 225 Karung Beras dan Logistik untuk Warga Nitunglea

Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan sejumlah kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa di Nitunglea, Palue, pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Published

on

Bantuan beras dan kebutuhan pokok dari Pengurus Daerah Bhayangkari Papua untuk warga terdampak gempa di Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores—Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan berbagai kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa bumi di Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026).

Bantuan dari Ny. Nova Patrige Renwarin bersama jajaran pengurus Bhayangkari Papua tersebut terdiri atas 225 karung beras berukuran lima kilogram, 25 dos minyak goreng kemasan satu liter, 600 dos air minum Aqua Gelas Nusra, 15 dos Energen, sembilan dos susu Dancow, dan 15 dos gula pasir.

Penyaluran bantuan ini berlangsung dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-75 Tahun 2026.

Pria 49 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Paga

Logistik diberangkatkan dari Kantor Polsubsektor Palue pukul 07.00 WITA menuju Kantor Desa Nitunglea. Serah terima bantuan kepada pemerintah desa berlangsung sekitar pukul 10.00 WITA untuk selanjutnya didistribusikan kepada warga sasaran.

Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue, Brigpol I Gusti Ngurah Putra Kencana, S.H., mendampingi penyaluran bersama Penjabat Kepala Desa Nitunglea, Bay Langko, S.Sos., serta aparat dan staf desa.

Distribusi bantuan berakhir sekitar pukul 17.00 WITA.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Pria 49 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Paga

Seorang pria berinisial Y.D.B. (49) ditemukan meninggal di ruang keluarga rumahnya di Paga, Sikka. Keluarga sempat berupaya memberikan pertolongan sebelum membawanya ke Puskesmas Wolofeo.

Published

on

Desa Masebewa, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, tempat seorang pria ditemukan meninggal pada Sabtu (10/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores—Seorang pria berinisial Y.D.B. (49), warga Dusun Warami, Desa Masebewa, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, ditemukan meninggal dunia oleh istrinya di ruang keluarga rumah mereka pada Sabtu (10/10/2026) sekitar pukul 05.30 WITA.

Menurut laporan kepolisian, istri korban, G.G. (47), menemukan suaminya saat keluar dari kamar setelah terbangun. Ia kemudian menghubungi anak mereka, A.P.S.N. (19), yang sedang menginap di rumah seorang teman, sekitar 25 meter dari kediaman keluarga.

Petani 35 Tahun Meninggal Setelah Tenggelam di Pantai Lela

Anak korban segera pulang. Bersama anggota keluarga, ia berusaha memberikan pertolongan sebelum membawa korban ke Puskesmas Wolofeo. Namun, tenaga medis menyatakan korban telah meninggal dunia sebelum tiba di puskesmas.

Setelah menerima laporan masyarakat, anggota Polsek Paga mendatangi lokasi untuk mendata korban dan saksi serta mengumpulkan keterangan. Polisi juga berkoordinasi dengan tenaga medis dan keluarga.

Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi maupun proses hukum lebih lanjut, sebagaimana tercatat dalam laporan kepolisian.

Hingga berita ini disusun, penyebab pasti kematian korban belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Petani 35 Tahun Meninggal Setelah Tenggelam di Pantai Lela

P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di Pantai Lela, Sikka. Dua nelayan berusaha mengevakuasinya setelah korban terlihat meminta pertolongan di laut.

Published

on

Perairan Pantai Lela, Desa Lela, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, tempat seorang petani berinisial P.N.L. dilaporkan tenggelam pada Sabtu (10/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores—P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di perairan Pantai Lela, tepat di depan Kantor Camat Lela, Desa Lela, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026) pagi.

Korban dilaporkan berada di laut sekitar pukul 08.30 WITA dan meminta pertolongan. Dua nelayan, B.Y. dan M.S., berusaha mengevakuasinya ke bibir pantai.

B.Y. mengatakan, sekitar pukul 08.00 WITA ia melihat korban menari dan melompat-lompat di tepi pantai. Sekitar 30 menit kemudian, ia melihat korban berada di laut sambil meminta pertolongan.

B.Y. berenang mendekati korban dan berusaha membawanya ke pantai. Karena kelelahan, ia meminta bantuan M.S. Keduanya kemudian membawa korban ke bibir pantai.

Warga selanjutnya menghubungi ambulans Puskesmas Nanga untuk membawa korban ke Rumah Sakit Santo Elisabeth Lela. Namun, korban meninggal dunia setelah mendapat penanganan medis.

Bhabinkamtibmas Bantu Keluarga Korban Kebakaran Posko Pengungsian Palue

Anggota Polsek Lela mendatangi lokasi setelah menerima laporan. Polisi mendata korban dan saksi serta berkoordinasi dengan tim medis rumah sakit dan keluarga korban.

Menurut keterangan saksi M.R.V., korban telah tinggal seorang diri di pondok miliknya selama hampir lima tahun. M.R.V. selama ini membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari korban.

Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi. Korban direncanakan dimakamkan pada Senin (12/10/2026) pukul 09.00 WITA.

Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti korban tenggelam belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending