OPINI
Dari Rakalaba ke Panggung Dunia: Ketika Anak Muda Flores Tidak Mau Hanya Menjadi Penonton Pariwisata
Pariwisata Flores tidak cukup hanya mendatangkan wisatawan. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan masyarakat lokal, terutama anak muda, ikut menjadi pelaku dan pemilik nilai ekonomi dari industri yang tumbuh di tanah mereka sendiri.
Oleh: Tim GardaFlores
Flores tidak pernah kekurangan keindahan. Yang masih menjadi pekerjaan besar adalah bagaimana keindahan itu diubah menjadi kekuatan ekonomi yang dikelola, dinikmati, dan dikembangkan oleh masyarakat yang hidup di atas tanahnya sendiri.
Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika pariwisata Nusa Tenggara Timur terus berkembang. Labuan Bajo dan Komodo telah menjadi nama yang dikenal dunia. Kelimutu terus menarik perhatian wisatawan. Kampung-kampung adat, lanskap pegunungan, laut, budaya, dan kehidupan masyarakat Flores menyimpan potensi yang seolah tidak pernah habis untuk diceritakan.
Tetapi ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar berapa banyak wisatawan datang ke Flores: berapa besar nilai ekonomi dari kedatangan mereka yang benar-benar tinggal dan berputar di Flores?
Sebab sebuah daerah bisa menjadi destinasi wisata yang terkenal tanpa masyarakat lokal otomatis menjadi pemain utama dalam industrinya.
Wisatawan datang. Hotel tumbuh. Restoran berkembang. Agen perjalanan menawarkan paket. Transportasi bergerak. Uang berputar.
Tetapi siapa yang menguasai rantai nilai tersebut?
Pertanyaan itulah yang membuat kisah Crispim Alexander Ratu, atau Kris Ratu, dari Rakalaba, Kecamatan Golewa Barat, Kabupaten Ngada, menjadi menarik untuk dibicarakan lebih jauh.
Kris bukan lahir dari pusat industri pariwisata. Ia tidak memulai usaha dari Labuan Bajo, bukan pula dari kota besar dengan ekosistem bisnis yang sudah mapan. Ia datang dari sebuah kampung di Ngada.
Dari tempat itulah ia membangun PT Nusa Flores Travel dan mencoba membawa potensi pariwisata Flores masuk ke ruang yang lebih luas.

Yang menarik bukan semata-mata bahwa Kris memiliki usaha perjalanan wisata. Yang lebih penting adalah pilihan yang berada di balik usaha tersebut: memilih menjadi pelaku di tanah sendiri ketika banyak anak muda daerah justru melihat keluar sebagai satu-satunya jalan menuju masa depan.
Pilihan itu patut diapresiasi, tetapi tidak perlu dipuja secara berlebihan. Sebab membangun bisnis pariwisata dari daerah bukan pekerjaan sederhana.
Ada persoalan akses, infrastruktur, sumber daya manusia, jaringan pasar, promosi, standar pelayanan, modal, teknologi, hingga kemampuan membangun kepercayaan wisatawan dari berbagai negara. Apalagi industri pariwisata adalah industri kepercayaan.
Wisatawan tidak hanya membeli tiket atau paket perjalanan. Mereka menyerahkan waktu, uang, kenyamanan, bahkan keselamatan kepada operator yang mereka pilih.
Karena itu, seorang pelaku usaha lokal tidak cukup hanya mengenal destinasi. Ia harus mampu membangun pelayanan yang profesional, memahami kebutuhan pasar, menjaga keselamatan wisatawan, mengelola bisnis secara sehat, dan pada saat yang sama tidak kehilangan identitas lokal yang menjadi kekuatan utama Flores.
Di sinilah tantangan Kris dan pelaku usaha lokal lainnya sesungguhnya berada.
Flores tidak membutuhkan lebih banyak orang yang sekadar mengatakan bahwa daerah ini indah. Flores membutuhkan lebih banyak orang yang mampu mengubah keindahan itu menjadi produk, pengalaman, lapangan pekerjaan, dan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Sebab selama ini kita terlalu sering melihat pariwisata dari sisi jumlah kunjungan. Berapa wisatawan datang? Berapa hotel tersedia? Berapa event digelar? Berapa destinasi dipromosikan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang penting. Tetapi ada pertanyaan yang tidak kalah penting dan sering luput: berapa banyak anak muda Flores yang menjadi pemilik usaha di dalam rantai industri tersebut?
Berapa banyak masyarakat lokal yang menjadi pengelola perjalanan?
Berapa banyak produk lokal masuk ke rantai pasok hotel dan restoran?
Berapa banyak uang wisatawan yang benar-benar berputar di desa-desa?
Dan berapa banyak anak muda yang melihat pariwisata bukan sekadar sebagai pekerjaan sementara, melainkan sebagai industri yang bisa mereka bangun dan kuasai?
Jika pertanyaan-pertanyaan itu belum mendapat jawaban yang memuaskan, maka kita belum selesai berbicara tentang pembangunan pariwisata. Kita baru selesai berbicara tentang promosi destinasi.
Kris Ratu menunjukkan bahwa ada kemungkinan lain.
Potensi daerah tidak harus selalu menunggu investor dari luar untuk menjadi kekuatan ekonomi. Anak muda lokal pun dapat mengambil posisi, membangun usaha, mencari pasar, dan membawa cerita daerahnya sendiri kepada dunia.
Flores: Kedalaman yang Membentuk Peradaban—Dari Kelimutu hingga Pancasila
Tentu saja, satu perusahaan tidak akan mengubah wajah pariwisata Flores.
Kris juga tidak perlu ditempatkan sebagai jawaban atas seluruh persoalan pariwisata di daerah ini. Justru di situlah kita harus melihat kisahnya secara lebih jernih.
Kris adalah contoh kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar: lahirnya keberanian anak muda daerah untuk berhenti menjadi penonton.
Rakalaba mungkin bukan nama yang setiap hari disebut dalam peta pariwisata nasional. Tetapi dari tempat kecil itu, seseorang bisa memiliki mimpi yang melampaui batas geografis kampungnya.
Ini penting. Sebab selama bertahun-tahun, pembangunan sering kali membuat anak muda daerah percaya bahwa masa depan berada di luar.
Pergilah ke Surabaya. Pergilah ke Jakarta. Pergilah ke Bali. Carilah pekerjaan. Kumpulkan pengalaman. Dan suatu hari, mungkin kembali.
Kris memilih jalan yang berbeda. Ia melihat tanah kelahirannya bukan hanya sebagai tempat untuk pulang, tetapi sebagai tempat yang bisa menjadi sumber kehidupan.
Tentu jalan tersebut jauh lebih berat. Membangun usaha dari daerah berarti membangun hampir semuanya dari awal. Jaringan harus dicari. Pasar harus diyakinkan. Kualitas harus dibuktikan. Kepercayaan harus dibangun perlahan.
Tetapi justru karena itulah keberadaan pelaku lokal menjadi penting. Sebab pariwisata yang sehat seharusnya tidak hanya membuat wisatawan mengenal Flores. Pariwisata juga harus membuat masyarakat Flores memiliki alasan ekonomi untuk mempertahankan alam, budaya, dan ruang hidup mereka.
Di sinilah hubungan antara pariwisata dan kesejahteraan menjadi penting. Ketika masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang nyata dari pariwisata, mereka memiliki kepentingan yang lebih kuat untuk menjaga destinasi.
Budaya tidak hanya dipertahankan sebagai pertunjukan untuk wisatawan, tetapi sebagai identitas yang memiliki nilai.
Lingkungan tidak hanya dilihat sebagai latar belakang foto, tetapi sebagai modal ekonomi yang harus dijaga.
Desa tidak hanya menjadi lokasi kunjungan, tetapi menjadi bagian dari rantai nilai. Dan anak muda tidak hanya menjadi pemandu atau pekerja, tetapi juga memiliki kesempatan menjadi pemilik usaha.
Itulah arah yang semestinya diperjuangkan. Flores tidak kekurangan destinasi. Flores juga tidak kekurangan cerita. Yang masih harus diperkuat adalah kemampuan mengelola cerita tersebut menjadi kekuatan ekonomi lokal.
Flores Tidak Kekurangan Budaya, Kita Kekurangan Cara Menceritakannya
Karena memiliki destinasi tidak sama dengan memiliki industri. Memiliki keindahan tidak otomatis berarti memiliki kesejahteraan.
Dan menjadi terkenal sebagai tujuan wisata tidak otomatis membuat masyarakat lokal menjadi pemenang dalam industri pariwisata.
Di sinilah pemerintah, pelaku usaha, komunitas, lembaga pendidikan, dan masyarakat harus melihat persoalan secara lebih serius.
Anak muda yang memilih membangun usaha di daerah membutuhkan ekosistem. Mereka membutuhkan akses pembiayaan, pelatihan, digitalisasi, jaringan pemasaran, peningkatan kemampuan bahasa asing, sertifikasi, pendampingan bisnis, serta akses yang lebih luas ke pasar internasional.
Kalau kita ingin lebih banyak Kris Ratu lahir dari kampung-kampung di Flores, maka yang dibutuhkan bukan sekadar slogan tentang kewirausahaan anak muda.
Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang membuat keberanian itu memiliki peluang untuk bertahan. Sebab keberanian memulai adalah satu hal. Kemampuan mempertahankan dan membesarkan usaha adalah hal yang lain.
PT Nusa Flores Travel pada akhirnya akan diuji bukan hanya oleh seberapa banyak wisatawan yang berhasil dibawa ke Flores, tetapi oleh seberapa profesional perusahaan itu berkembang, seberapa luas jaringan yang dibangun, seberapa kuat kepercayaan pelanggan dipertahankan, dan seberapa besar manfaat ekonominya dapat dirasakan oleh masyarakat lokal.
Itulah ujian sebenarnya. Dan ujian itu berlaku bagi semua pelaku usaha pariwisata lokal. Kita tidak membutuhkan pariwisata yang hanya ramai di media sosial. Kita membutuhkan pariwisata yang menciptakan pekerjaan.
Kita membutuhkan wisatawan yang tinggal lebih lama, membelanjakan uangnya lebih banyak di komunitas lokal, dan membawa pulang pengalaman yang membuat mereka ingin kembali.
Kita membutuhkan produk lokal yang masuk ke rantai pasok industri. Kita membutuhkan anak muda yang bukan hanya bekerja di sektor pariwisata, tetapi berani memiliki dan memimpin usaha pariwisata.
Dan kita membutuhkan model pembangunan pariwisata yang membuat masyarakat lokal menjadi bagian utama, bukan sekadar pelengkap.

Karena pada akhirnya, persoalan pariwisata Flores bukan hanya bagaimana membawa dunia datang ke sini. Persoalan yang jauh lebih besar adalah bagaimana ketika dunia datang, masyarakat Flores tidak hanya berdiri di pinggir jalan menyaksikan.
Mereka harus menjadi tuan rumah. Mereka harus menjadi pelaku. Mereka harus menjadi pemilik nilai ekonomi yang lahir dari tanahnya sendiri.
Dari Rakalaba, Kris Ratu mungkin baru menulis satu paragraf kecil dalam cerita panjang pariwisata Flores.
Tetapi paragraf itu penting. Ia menunjukkan bahwa mimpi besar tidak selalu harus dimulai dari kota besar. Ia bisa dimulai dari kampung. Ia bisa dimulai dari keterbatasan. Dan ia bisa dimulai dari seorang anak muda yang memilih untuk tidak pergi, melainkan mencoba membangun sesuatu di tanah kelahirannya.
Flores memang membutuhkan dunia untuk datang. Tetapi Flores juga harus memastikan bahwa ketika dunia datang, semakin banyak anak-anak Flores yang berdiri di depan—bukan sebagai penonton, melainkan sebagai orang yang ikut menentukan bagaimana cerita tentang tanah mereka ditulis.
Sebab pariwisata terbaik bukanlah pariwisata yang hanya membuat sebuah daerah terkenal.
Pariwisata terbaik adalah pariwisata yang membuat masyarakat di daerah itu ikut tumbuh.
Dan mungkin, dari Rakalaba, kita sedang melihat awal dari pertanyaan yang lebih besar:
Bisakah anak muda Flores berhenti hanya menjadi objek dari industri pariwisata dan mulai menjadi kekuatan utama yang menggerakkannya?
Jawabannya tidak akan ditentukan oleh satu orang. Tetapi keberanian orang-orang seperti Kris Ratu menunjukkan bahwa pintunya sudah terbuka.»
OPINI
Kartu Merah Bukan Biang Kekalahan Persebata, tetapi Ujian yang Gagal Dilewati
Kartu merah mengubah pertandingan Persebata Lembata kontra CBN Ngada. Namun, kekalahan 1-3 tidak cukup dijelaskan oleh satu keputusan. Yang lebih penting adalah bagaimana tim merespons ketika pertandingan mulai tidak berpihak.

Oleh: Karel Pandu
Ada kekalahan yang lahir karena lawan memang lebih kuat. Ada pula kekalahan yang menjadi berat bukan hanya karena satu kesalahan, melainkan karena sebuah tim tidak mampu merespons keadaan ketika pertandingan berubah.
Kekalahan Persebata Lembata 1-3 dari CBN Ngada di Gelora Samador Maumere, Minggu (9/8/2026), layak dibaca dari sudut yang kedua.
Kartu merah Nursyal Al Hikami pada menit ke-60 memang menjadi titik balik. Sebelum itu, Persebata masih tertinggal 0-1 dan pertandingan belum selesai. Satu gol masih cukup untuk mengubah keadaan.
Tetapi setelah kehilangan satu pemain, persoalannya bukan lagi sekadar jumlah pemain di lapangan. Persebata kehilangan sebagian kendali atas pertandingan. CBN melihat perubahan itu dan segera memanfaatkannya.
Sembilan menit setelah kartu merah, Albertus Roga mencetak gol kedua CBN. Pada menit ke-81, pemain yang sama kembali mencetak gol dan membawa CBN unggul 3-0.
Dalam rentang 21 menit, pertandingan berubah.
Di sinilah kartu merah perlu ditempatkan secara proporsional. Ia memang membuka jalan bagi perubahan permainan, tetapi tidak dengan sendirinya menentukan tiga gol atau membuat sebuah tim kehilangan kemampuan untuk bertahan.
Tim yang bermain dengan sepuluh orang masih dapat mengubah cara bermain. Ruang bisa dipersempit, tempo bisa dikendalikan, garis pertahanan bisa dibuat lebih rapat, dan serangan balik tetap dapat menjadi pilihan.
Semua itu membutuhkan ketenangan dan kemampuan membaca situasi.
Persebata tidak cukup berhasil melakukan itu.
Ini bukan berarti para pemainnya tidak memiliki mental bertanding. Kesimpulan semacam itu terlalu besar untuk ditarik hanya dari satu pertandingan. Tetapi pertandingan tersebut memperlihatkan satu persoalan yang patut dievaluasi: bagaimana sebuah tim usia muda merespons ketika rencana permainan tiba-tiba berubah?
Pertanyaan itu lebih penting daripada sekadar menyebut kartu merah sebagai penyebab kekalahan.
Sebab dalam sepak bola, situasi tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada kartu merah, cedera, gol cepat, keputusan wasit, tekanan penonton, atau kesalahan sendiri. Tim yang ingin berkembang harus belajar bermain bukan hanya ketika keadaan menguntungkan, tetapi juga ketika pertandingan mulai bergerak melawan mereka.
Di titik itu, CBN justru menunjukkan keunggulannya.
Setelah unggul 1-0 melalui Antonius Y Y Bengu pada menit ke-37, CBN tidak perlu terburu-buru. Mereka mempertahankan keunggulan dan kemudian memanfaatkan perubahan situasi setelah Persebata kehilangan satu pemain.
Dua gol Albertus Roga menunjukkan efektivitas CBN dalam memanfaatkan keunggulan jumlah pemain.
Itulah salah satu pelajaran paling sederhana dalam sepak bola: kesalahan lawan tidak selalu harus dibalas dengan permainan yang indah. Kadang-kadang, yang dibutuhkan adalah kemampuan mengenali kesempatan dan mengambilnya pada waktu yang tepat.
Persebata sebenarnya belum menyerah.
Gol Arlan S. Dasi pada menit ke-84 memperkecil ketertinggalan menjadi 3-1. Gol itu menunjukkan bahwa masih ada usaha untuk melawan meski waktu yang tersedia semakin sedikit.
Tetapi justru di sana muncul pertanyaan lain: mengapa keberanian itu baru terlihat ketika pertandingan hampir selesai?
Tentu tidak adil menyimpulkan bahwa Persebata tidak berjuang. Para pemain tetap berusaha sampai peluit akhir. Namun dalam pertandingan kompetitif, usaha saja tidak selalu cukup. Sebuah tim juga membutuhkan kemampuan menjaga struktur permainan, mengelola tekanan, dan membuat keputusan yang tepat ketika berada dalam situasi sulit.
Inilah yang seharusnya menjadi pekerjaan rumah Persebata setelah turnamen ini.
Bukan sekadar bertanya siapa yang menerima kartu merah.
Bukan pula sekadar menyebut bahwa CBN lebih beruntung.
Pertanyaan yang lebih berguna adalah: apa yang terjadi dengan organisasi permainan setelah kartu merah? Mengapa tekanan CBN dapat menghasilkan dua gol dalam waktu relatif singkat? Apakah pemain sudah dibekali cara menghadapi situasi ketika jumlah mereka berkurang? Dan bagaimana pelatih menyiapkan mental pemain muda untuk menghadapi perubahan pertandingan yang tidak bisa diprediksi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting bagi pembinaan daripada mencari satu orang untuk disalahkan.
Sepak bola usia muda memang seharusnya tidak hanya mengajarkan cara menang.
Ia juga mengajarkan bagaimana menghadapi kesalahan, bagaimana bertahan ketika keadaan sulit, bagaimana menerima keputusan, dan bagaimana tetap berpikir ketika tekanan meningkat.
Karena itu, kekalahan Persebata tidak perlu dibaca sebagai akhir. Justru dari pertandingan seperti inilah proses pembinaan mendapatkan bahan evaluasi yang nyata.
CBN berhak menikmati kemenangan dan tiket semifinal yang mereka dapatkan. Mereka bermain efektif ketika momentum berpihak kepada mereka.
Tetapi bagi Persebata, pertandingan ini seharusnya meninggalkan pekerjaan yang lebih panjang daripada sekadar catatan kekalahan 1-3.
Turnamen boleh berakhir bagi mereka. Evaluasi tidak boleh.
Sebab dalam sepak bola usia muda, ukuran keberhasilan bukan hanya berapa banyak pertandingan yang dimenangkan. Ada pertanyaan yang lebih penting: apakah pemain menjadi lebih matang setelah mengalami kekalahan?
Jika jawabannya iya, maka kekalahan tidak sepenuhnya sia-sia.
Kartu merah Nursyal memang mengubah pertandingan sore itu. Tetapi kartu merah tidak harus menjadi penjelasan terakhir atas kekalahan Persebata.
Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan sebuah tim setelah kehilangan satu pemain, setelah tertinggal, setelah tekanan datang, dan ketika pertandingan mulai tidak berjalan sesuai rencana.
Di situlah sepak bola menguji bukan hanya kaki, tetapi juga kepala.
Dan bagi Persebata, mungkin itulah pelajaran terbesar dari Gelora Samador: bukan bagaimana menghindari keadaan sulit, melainkan bagaimana tetap bermain ketika keadaan sudah tidak berpihak.»
OPINI
Jokowi di Kupang: Ketika Pengaruh Politik Bertemu Algoritma
Kunjungan Jokowi ke Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa pengaruh politik di era digital tidak lagi ditentukan semata oleh rekam jejak pembangunan atau besarnya massa di lapangan. Algoritma media sosial kini ikut membentuk persepsi publik, memperbesar narasi, dan mengubah cara masyarakat memaknai seorang pemimpin.

Florianus Mekeng
Kunjungan Presiden ketujuh RI, Joko Widodo, ke Nusa Tenggara Timur pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 kembali memperlihatkan satu kenyataan yang menarik. Di satu tempat ia disambut antusias, di tempat lain kehadirannya diprotes. Dua ekspresi itu berlangsung hampir bersamaan, seolah menggambarkan bahwa satu tokoh dapat hidup dalam dua realitas yang berbeda.
Sebagian orang melihat Jokowi sebagai pemimpin yang meninggalkan jejak pembangunan. Sebagian lainnya menilai masih banyak persoalan yang belum selesai dan memilih menyampaikan kritik. Dalam demokrasi, keduanya sama-sama sah. Perbedaan pendapat bukan ancaman, melainkan bagian dari ruang publik yang sehat.
Pertanyaan yang lebih menarik justru bukan apakah Jokowi masih memiliki pengaruh politik, melainkan bagaimana pengaruh itu kini dibentuk dan dipersepsikan.
Selama satu dekade memimpin Indonesia, berbagai proyek strategis hadir di NTT. Bendungan, jalan nasional, bandara, pelabuhan, hingga pengembangan Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas menjadi bagian dari kebijakan pemerintah pusat. Penyelenggaraan KTT ASEAN ke-42 di Labuan Bajo pada 2023 bahkan membawa nama NTT ke panggung internasional. Jutaan orang di berbagai negara melihat Labuan Bajo melalui layar televisi dan media digital.
Pembangunan seperti itu tentu menjadi modal politik yang tidak bisa diabaikan. Namun modal politik tidak otomatis berubah menjadi dukungan politik. Pada akhirnya masyarakatlah yang menilai apakah pembangunan tersebut benar-benar memberi manfaat bagi kehidupan mereka.
Di sisi lain, penolakan terhadap Jokowi juga menunjukkan bahwa pembangunan fisik tidak pernah menjadi satu-satunya ukuran dalam politik. Ada faktor ideologi, preferensi politik, identitas, pengalaman pribadi, hingga persepsi terhadap berbagai kebijakan nasional yang ikut memengaruhi sikap masyarakat.
Yang membedakan situasi sekarang dengan beberapa tahun lalu adalah cara publik menyaksikan semua itu.
Di era media sosial, pengaruh seorang tokoh tidak hanya ditentukan oleh jumlah orang yang hadir di lapangan, tetapi juga oleh seberapa jauh gambar, video, dan narasi tentang dirinya beredar di ruang digital. Sebuah kunjungan yang dihadiri ribuan orang dapat terlihat sepi apabila hanya satu sudut kamera yang beredar. Sebaliknya, kerumunan yang tidak terlalu besar dapat tampak luar biasa apabila direkam dari sudut tertentu dan kemudian diperkuat oleh algoritma.
Di sinilah algoritma menjadi aktor politik baru.
Algoritma media sosial tidak bekerja untuk mencari kebenaran. Ia bekerja untuk mempertahankan perhatian pengguna. Konten yang memancing emosi—baik kekaguman maupun kemarahan—lebih mudah memperoleh jangkauan yang luas. Akibatnya, sambutan hangat dan aksi penolakan sama-sama dapat menjadi viral, tergantung narasi mana yang lebih banyak dibagikan.
Karena itu, ukuran pengaruh politik pada era digital menjadi jauh lebih kompleks. Popularitas tidak selalu identik dengan dukungan. Ramainya percakapan juga tidak selalu mencerminkan pendapat mayoritas. Sering kali yang paling terlihat hanyalah mereka yang paling aktif memproduksi dan menyebarkan konten.
Di tengah situasi seperti ini, masyarakat perlu lebih bijak membaca setiap peristiwa politik. Keramaian di media sosial tidak boleh langsung dianggap sebagai cermin utuh suara publik. Sebaliknya, sambutan masyarakat di lapangan juga tidak otomatis menjadi ukuran mutlak tingkat penerimaan seorang tokoh.
Kunjungan Jokowi ke NTT sesungguhnya memperlihatkan bahwa politik Indonesia telah memasuki babak baru. Pertarungan pengaruh tidak lagi berlangsung hanya di ruang-ruang kampanye, tetapi juga di lini masa, kolom komentar, dan halaman For You setiap telepon genggam.
Pada akhirnya, pengaruh seorang pemimpin tetap ditentukan oleh dua hal. Yang pertama adalah rekam jejak yang dapat dirasakan masyarakat. Yang kedua adalah bagaimana rekam jejak itu dipersepsikan dan diperdebatkan di ruang digital.»
OPINI
Flores Tidak Kekurangan Budaya, Kita Kekurangan Cara Menceritakannya
Sehingga dunia merasa itu juga bagian dari ceritanya.

Oleh: Fransisco Soarez Pati
Di berbagai belahan dunia, orang menari samba tanpa harus memahami bahasa Portugis. Di Tokyo, Paris, hingga New York, irama Brasil terdengar akrab di telinga orang-orang yang bahkan belum pernah menginjakkan kaki di Rio de Janeiro. Mereka mungkin tidak mengenal sejarah Brasil secara utuh, tetapi mereka mengenal budayanya. Musik, tarian, film, dan cerita telah menjadikan Brasil hadir dalam imajinasi dunia.
Di situlah saya mulai bertanya. Mengapa Flores, yang memiliki kekayaan budaya tidak kalah luar biasa, belum mampu hadir dalam percakapan global dengan cara yang sama?
Jawabannya, menurut saya, bukan karena Flores miskin budaya.
Sebaliknya. Flores tidak kekurangan budaya. Kita kekurangan cara menceritakannya.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun di sanalah letak tantangan terbesar kita.
Selama puluhan tahun, masyarakat Flores bekerja keras menjaga warisan leluhur. Rumah-rumah adat tetap berdiri. Tenun terus ditenun. Bahasa daerah diwariskan. Tarian tradisional tetap dipentaskan. Ritual adat dijalankan dengan penuh penghormatan. Berbagai festival budaya diselenggarakan hampir setiap tahun.
Semua itu adalah pekerjaan yang sangat mulia. Namun, melestarikan budaya tidak otomatis berarti berhasil mengomunikasikan budaya.
Budaya yang hanya dipentaskan untuk diri sendiri akan tetap menjadi kebanggaan lokal. Ia baru menjadi kekuatan ketika mampu berbicara kepada orang-orang yang lahir di luar kebudayaan itu.
Maumere dan Krisis Budaya Menulis: Ketika Banyak Orang Pandai Berbicara, Sedikit yang Mau Menulis
Kita sebenarnya tidak kekurangan contoh. Wae Rebo telah beberapa kali menjadi perhatian dunia sebagai kampung adat yang mempertahankan arsitektur tradisionalnya. Lamalera dikenal luas oleh antropolog, pembuat film dokumenter, hingga media internasional karena tradisi berburu paus yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Kampung Bena menjadi salah satu ikon budaya Ngada yang paling banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Festival Golo Koe mulai memperlihatkan bagaimana iman, budaya, dan pariwisata dapat dipertemukan dalam satu ruang perayaan. Festival Natar Sikka terus menghidupkan kembali warisan budaya masyarakat pesisir yang kaya akan sejarah dan nilai-nilai persaudaraan.
Semua itu menunjukkan bahwa Flores tidak pernah kekurangan panggung. Yang masih kurang adalah benang merah yang menghubungkan semua kisah itu menjadi satu narasi besar tentang Flores.
Selama ini kita sering merasa puas ketika sebuah festival berhasil diselenggarakan dengan meriah. Ribuan orang datang. Tarian dipentaskan. Musik dimainkan. Stan pameran dipenuhi pengunjung. Setelah lampu panggung dipadamkan, acara selesai, lalu kita mulai menghitung hari menuju festival berikutnya. Padahal, dalam dunia yang semakin digital, festival bukanlah garis akhir.
Festival justru garis start. Pertanyaan yang lebih penting bukan lagi berapa banyak orang yang hadir pada hari itu, melainkan berapa banyak cerita yang tetap hidup setelah festival usai.
Dunia hari ini tidak mengenal sebuah tempat hanya melalui brosur wisata atau kalender kegiatan. Dunia mengenalnya melalui film, dokumenter, musik, buku, YouTube, Instagram, TikTok, podcast, dan berbagai ruang digital lainnya. Di sanalah identitas budaya dipertemukan dengan jutaan orang yang mungkin tidak pernah datang secara langsung, tetapi dapat jatuh cinta melalui sebuah cerita.
Sayangnya, kita masih terlalu sering berhenti pada dokumentasi, sementara dunia membutuhkan narasi.
Kita sibuk menghitung jumlah festival. Padahal dunia sedang mencari cerita. Kita bangga memiliki puluhan bahasa daerah. Padahal dunia ingin mengetahui cara pandang terhadap kehidupan yang tersembunyi di balik bahasa-bahasa itu.
Kita mempromosikan destinasi wisata. Padahal yang membuat seseorang kembali bukan hanya pemandangan yang indah, melainkan kisah yang terus ia bawa pulang.
Di sinilah komunikasi budaya menjadi sama pentingnya dengan pelestarian budaya.
Flores: Kedalaman yang Membentuk Peradaban—Dari Kelimutu hingga Pancasila
Kita memerlukan generasi baru yang bukan hanya menjadi pelestari tradisi, tetapi juga penulis, fotografer, pembuat film, musisi, ilustrator, penerjemah, kurator, kreator digital, dan diplomat budaya. Mereka bukan mengubah budaya agar menjadi modern, melainkan mengubah cara kita menceritakan budaya agar dapat dipahami dunia tanpa kehilangan jati dirinya.
Menceritakan budaya bukan berarti menyederhanakan makna. Sebaliknya, ia adalah upaya menerjemahkan nilai-nilai lokal ke dalam bahasa yang dapat dipahami oleh siapa pun.
Ketika dunia memahami mengapa masyarakat Lamalera mempertahankan tradisinya, ketika wisatawan mengetahui filosofi di balik rumah adat Wae Rebo, ketika orang luar mengerti bahwa Ja’i bukan sekadar tarian, melainkan simbol kebersamaan, atau ketika tenun Flores dipahami sebagai kisah yang ditulis dengan benang, saat itulah budaya kita mulai berbicara melampaui batas geografis.
Budaya tidak pernah menjadi kekuatan hanya karena usianya yang tua. Ia menjadi kekuatan karena terus diceritakan.
Itulah sebabnya investasi terbesar pada kebudayaan hari ini bukan hanya membangun panggung festival, melainkan juga membangun ekosistem pencerita. Sebab tanpa pencerita, budaya hanya akan menjadi arsip. Dengan pencerita, budaya dapat menjadi inspirasi, diplomasi, bahkan kekuatan ekonomi yang menghidupi masyarakatnya.
Pada akhirnya, dunia tidak akan mencintai Flores hanya karena kita mengatakan bahwa budaya kita indah.
Dunia akan mencintainya ketika mereka merasa ikut memiliki cerita itu. Dan pekerjaan generasi kita bukan lagi sekadar memastikan budaya Flores tetap bertahan.
Pekerjaan kita adalah memastikan budaya Flores terus diceritakan—dengan jujur, dengan bangga, dan dengan cara yang membuat dunia merasa bahwa kisah-kisah dari Flores juga berbicara tentang mereka.
Sebab Flores tidak kekurangan budaya. Yang belum kita miliki adalah cara menceritakan budaya Flores sehingga dunia merasa itu juga bagian dari ceritanya.»
-
NASIONAL10 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA11 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
