Connect with us

Uncategorized

Arus Sungai dan Beban Mesin Jadi Tantangan Pembangunan Jembatan Gantung di Watuomok

Arus sungai dan akses terbatas membuat pemindahan peralatan pembangunan Jembatan Gantung Perintis Garuda di Watuomok harus dilakukan secara manual. TNI dan warga bersama-sama memikul mesin las dan mesin molen menuju lokasi pekerjaan.

Published

on

Personel Kodim 1603/Sikka bersama warga memikul mesin las dan mesin molen menyeberangi sungai menuju lokasi pembangunan Jembatan Gantung Perintis Garuda di Desa Watuomok, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Jumat (25/9/2026).

MAUMERE, GardaFlores – Pembangunan Jembatan Gantung Perintis Garuda di Desa Watuomok, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, menghadapi kendala akses. Personel Kodim 1603/Sikka bersama warga harus memikul mesin las/genset las dan mesin molen menyeberangi sungai dengan arus cukup deras untuk membawa peralatan tersebut ke lokasi pekerjaan, Jumat (25/9/2026).

Pemindahan dilakukan secara manual karena akses menuju lokasi pembangunan harus melewati sungai. Beban mesin yang berat membuat setiap peralatan harus diangkat dan dipindahkan bersama-sama.

Dugaan KDRT di Palue, Istri Luka hingga 12 Jahitan Diselesaikan Kekeluargaan

Personel TNI dan warga bergerak secara bertahap sambil menopang peralatan agar dapat melewati arus dan tiba di seberang sungai. Kondisi medan membuat proses tersebut dilakukan dengan hati-hati.

Mesin las/genset las dan mesin molen kemudian dibawa ke lokasi pekerjaan untuk mendukung pembangunan Jembatan Gantung Perintis Garuda.

Bagi pekerjaan pembangunan di Watuomok, persoalan akses menjadi bagian dari tantangan di lapangan. Sebelum pekerjaan dapat dilanjutkan dengan dukungan mesin, peralatan tersebut terlebih dahulu harus melewati medan yang tidak memungkinkan pengangkutan secara biasa.

Personel Kodim 1603/Sikka dan warga akhirnya bekerja bersama mengatasi kendala tersebut. Mereka mengangkat, menopang dan membawa peralatan hingga mencapai lokasi pembangunan jembatan.

Jembatan Gantung Perintis Garuda dibangun sebagai akses penghubung bagi masyarakat di wilayah Desa Watuomok.»(rel)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Uncategorized

Listrik Akhirnya Masuk Napugera, Warga Minta Jalan, Sinyal, dan Sekolah Jadi Prioritas Berikutnya

“Kami berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian dan dukungan penuh.”

Published

on

Kepala Desa Napugera, Gervasius Sari: “Sekarang kami sudah merasakan terang, tidak seperti dulu." FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Warga Desa Napugera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, mulai menikmati jaringan listrik setelah wilayah tersebut sebelumnya belum terlayani secara penuh. Masyarakat menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Sikka atas masuknya listrik, sembari meminta pembangunan jalan, jaringan telekomunikasi, dan fasilitas pendidikan menjadi prioritas lanjutan.

Apresiasi itu disampaikan mantan Kepala Desa Napugera, Gervasius Sari, di Maumere, Senin (27/4/2026).

“Sekarang kami sudah merasakan terang, tidak seperti dulu. Berkat perjuangan Bupati Sikka, listrik sudah masuk ke desa kami,” kata Gervasius.

Menurut dia, pada tahap awal jaringan listrik baru menjangkau sekitar satu setengah dusun. Namun pada tahun ini, layanan listrik telah menjangkau seluruh wilayah Desa Napugera yang meliputi Dusun Pu’u Tua, Dusun Nua Pase, dan Dusun Leda Paga.

Masuknya jaringan listrik dinilai menjadi perubahan penting bagi warga, terutama untuk kebutuhan penerangan rumah tangga, aktivitas ekonomi, serta layanan pendidikan anak-anak di malam hari.

Meski demikian, warga menyebut masih ada sejumlah kebutuhan dasar yang belum terpenuhi, terutama akses komunikasi dan infrastruktur jalan.

Wakil Bupati Sikka Resmikan UPT Puskesmas Nebura Kojagete, Camat Alok Timur: Belum Ada Jaringan Listrik  

Gervasius mengatakan menara telekomunikasi di wilayah tersebut belum berfungsi optimal sehingga masyarakat masih mengalami kesulitan mengakses layanan telepon dan internet.

Selain itu, kondisi jalan penghubung Welafole–Ratebata sepanjang sekitar 15 kilometer disebut belum dibangun secara memadai.

“Jalan di wilayah Welafole, Ratebata, dan Poma saat ini masih berupa rabat beton dan sebagian sudah rusak, sehingga menyulitkan mobilitas warga,” ujarnya.

Kondisi tersebut, menurut warga, berdampak pada kelancaran transportasi hasil pertanian, akses layanan kesehatan, dan mobilitas masyarakat antarwilayah.

Di sektor pendidikan, masyarakat juga meminta dukungan pemerintah daerah terhadap pembangunan Sekolah Kaki 304 Airea di Desa Napugera. Saat ini, warga disebut sedang membangun tiga ruang kelas secara swadaya.

“Kami berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian dan dukungan penuh terhadap pembangunan sekolah ini,” kata Gervasius.

Hingga Senin (27/4/2026), warga Napugera telah menikmati layanan listrik di seluruh dusun. Masyarakat kini menunggu tindak lanjut pemerintah terkait peningkatan jalan, aktivasi jaringan telekomunikasi, dan dukungan pembangunan sekolah.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending