Connect with us

HUMANIORA

Belasan Warga Wogalirit Mengaku Belum Terima Bantuan Gempa, Hendrik: Apakah Kami Bukan Warga Sikka?

Warga Dusun Ewa dan Dusun Kongas, Desa Wogalirit, mengaku belum menerima bantuan gempa. Hendrik Gunawan mendesak pemerintah melakukan pendataan ulang.

Published

on

Hendrik Gunawan, warga Desa Wogalirit, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, mengeluhkan belum diterimanya bantuan kebutuhan dasar hingga 12 hari setelah gempa Flores. FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Belasan warga Desa Wogalirit, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, mengaku belum menerima bantuan kebutuhan dasar hingga Kamis (27/8/2026), 12 hari setelah gempa bumi tektonik mengguncang Flores.

Keluhan tersebut disampaikan Hendrik Gunawan. Ia menyebut warga di Dusun Ewa dan Dusun Kongas belum menerima bantuan sembako maupun kebutuhan dasar lainnya.

Menurut Hendrik, ia telah berulang kali mendatangi Posko Utama Penanganan Bencana Kabupaten Sikka sejak awal bencana untuk menyampaikan kebutuhan warga di wilayahnya.

Namun, hingga kini, kata dia, bantuan yang diminta belum diterima warga.

Fista Kago Soroti Pemerataan Bantuan Gempa, 106 Paket Disalurkan ke Buruh Pelabuhan L. Say

“Bantuan yang masuk ke Kabupaten Sikka begitu banyak, tetapi masih ada warga yang terkesan dipinggirkan. Kami sudah datang meminta bantuan, tetapi belum juga dilayani,” ujar Hendrik di Maumere, Kamis (27/8/2026).

Hendrik mempertanyakan mekanisme pendataan dan distribusi bantuan yang dinilainya belum menjangkau seluruh warga terdampak.

Ia meminta pemerintah melakukan pendataan langsung di desa, termasuk terhadap warga yang memilih bertahan atau mengungsi di wilayah tempat tinggal mereka.

Menurut Hendrik, di Dusun Kongas telah terdapat posko pengungsian. Namun, warga yang berada di lokasi tersebut disebut belum menerima bantuan pemerintah.

140 Warga Terdampak Gempa Manfaatkan Layanan Kesehatan Gratis di Wailiti

Ia membandingkan kondisi itu dengan sejumlah titik pengungsian lain yang terus menerima distribusi bantuan.

“Kami yang ada di desa ini seperti tidak digubris. Warga yang mengungsi di sini belum mendapatkan bantuan apa pun. Apakah kami bukan warga Sikka? Apakah kami bukan warga yang terdampak gempa?” tegasnya.

Hendrik mendesak pemerintah segera mendatangi Desa Wogalirit dan Wolonterang untuk melakukan verifikasi dan pendataan kembali terhadap warga terdampak.

Menurut dia, bantuan perlu disalurkan berdasarkan kondisi dan kebutuhan warga terdampak, termasuk mereka yang tidak berada di titik pengungsian besar.

Hingga berita ini disusun, keluhan warga tersebut belum disertai keterangan dari pihak Posko Utama Penanganan Bencana Kabupaten Sikka terkait status pendataan dan distribusi bantuan bagi warga di Desa Wogalirit.»(rel)

HUMANIORA

Bhayangkari Papua Salurkan 225 Karung Beras dan Logistik untuk Warga Nitunglea

Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan sejumlah kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa di Nitunglea, Palue, pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Published

on

Bantuan beras dan kebutuhan pokok dari Pengurus Daerah Bhayangkari Papua untuk warga terdampak gempa di Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores—Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan berbagai kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa bumi di Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026).

Bantuan dari Ny. Nova Patrige Renwarin bersama jajaran pengurus Bhayangkari Papua tersebut terdiri atas 225 karung beras berukuran lima kilogram, 25 dos minyak goreng kemasan satu liter, 600 dos air minum Aqua Gelas Nusra, 15 dos Energen, sembilan dos susu Dancow, dan 15 dos gula pasir.

Penyaluran bantuan ini berlangsung dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-75 Tahun 2026.

Pria 49 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Paga

Logistik diberangkatkan dari Kantor Polsubsektor Palue pukul 07.00 WITA menuju Kantor Desa Nitunglea. Serah terima bantuan kepada pemerintah desa berlangsung sekitar pukul 10.00 WITA untuk selanjutnya didistribusikan kepada warga sasaran.

Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue, Brigpol I Gusti Ngurah Putra Kencana, S.H., mendampingi penyaluran bersama Penjabat Kepala Desa Nitunglea, Bay Langko, S.Sos., serta aparat dan staf desa.

Distribusi bantuan berakhir sekitar pukul 17.00 WITA.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Pria 49 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Paga

Seorang pria berinisial Y.D.B. (49) ditemukan meninggal di ruang keluarga rumahnya di Paga, Sikka. Keluarga sempat berupaya memberikan pertolongan sebelum membawanya ke Puskesmas Wolofeo.

Published

on

Desa Masebewa, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, tempat seorang pria ditemukan meninggal pada Sabtu (10/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores—Seorang pria berinisial Y.D.B. (49), warga Dusun Warami, Desa Masebewa, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, ditemukan meninggal dunia oleh istrinya di ruang keluarga rumah mereka pada Sabtu (10/10/2026) sekitar pukul 05.30 WITA.

Menurut laporan kepolisian, istri korban, G.G. (47), menemukan suaminya saat keluar dari kamar setelah terbangun. Ia kemudian menghubungi anak mereka, A.P.S.N. (19), yang sedang menginap di rumah seorang teman, sekitar 25 meter dari kediaman keluarga.

Petani 35 Tahun Meninggal Setelah Tenggelam di Pantai Lela

Anak korban segera pulang. Bersama anggota keluarga, ia berusaha memberikan pertolongan sebelum membawa korban ke Puskesmas Wolofeo. Namun, tenaga medis menyatakan korban telah meninggal dunia sebelum tiba di puskesmas.

Setelah menerima laporan masyarakat, anggota Polsek Paga mendatangi lokasi untuk mendata korban dan saksi serta mengumpulkan keterangan. Polisi juga berkoordinasi dengan tenaga medis dan keluarga.

Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi maupun proses hukum lebih lanjut, sebagaimana tercatat dalam laporan kepolisian.

Hingga berita ini disusun, penyebab pasti kematian korban belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Petani 35 Tahun Meninggal Setelah Tenggelam di Pantai Lela

P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di Pantai Lela, Sikka. Dua nelayan berusaha mengevakuasinya setelah korban terlihat meminta pertolongan di laut.

Published

on

Perairan Pantai Lela, Desa Lela, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, tempat seorang petani berinisial P.N.L. dilaporkan tenggelam pada Sabtu (10/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores—P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di perairan Pantai Lela, tepat di depan Kantor Camat Lela, Desa Lela, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026) pagi.

Korban dilaporkan berada di laut sekitar pukul 08.30 WITA dan meminta pertolongan. Dua nelayan, B.Y. dan M.S., berusaha mengevakuasinya ke bibir pantai.

B.Y. mengatakan, sekitar pukul 08.00 WITA ia melihat korban menari dan melompat-lompat di tepi pantai. Sekitar 30 menit kemudian, ia melihat korban berada di laut sambil meminta pertolongan.

B.Y. berenang mendekati korban dan berusaha membawanya ke pantai. Karena kelelahan, ia meminta bantuan M.S. Keduanya kemudian membawa korban ke bibir pantai.

Warga selanjutnya menghubungi ambulans Puskesmas Nanga untuk membawa korban ke Rumah Sakit Santo Elisabeth Lela. Namun, korban meninggal dunia setelah mendapat penanganan medis.

Bhabinkamtibmas Bantu Keluarga Korban Kebakaran Posko Pengungsian Palue

Anggota Polsek Lela mendatangi lokasi setelah menerima laporan. Polisi mendata korban dan saksi serta berkoordinasi dengan tim medis rumah sakit dan keluarga korban.

Menurut keterangan saksi M.R.V., korban telah tinggal seorang diri di pondok miliknya selama hampir lima tahun. M.R.V. selama ini membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari korban.

Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi. Korban direncanakan dimakamkan pada Senin (12/10/2026) pukul 09.00 WITA.

Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti korban tenggelam belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)

Continue Reading

Trending