HUMANIORA
Fista Kago Soroti Pemerataan Bantuan Gempa, 106 Paket Disalurkan ke Buruh Pelabuhan L. Say
Sebanyak 106 paket bantuan disalurkan kepada buruh darat Pelabuhan L. Say Maumere. Fista Kago menekankan pentingnya pemerataan distribusi bantuan gempa.
MAUMERE, GardaFlores — Sebanyak 106 paket bantuan disalurkan kepada buruh darat atau porter di Pelabuhan L. Say Maumere, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Kamis (27/8/2026).
Bantuan berisi sembako, kebutuhan mandi dan kebutuhan dasar lainnya itu disalurkan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, setelah mendapat informasi bahwa kelompok pekerja tersebut belum memperoleh bantuan pascagempa.
Fista mengatakan penyaluran bantuan dilakukan dengan menyisir kelompok masyarakat yang belum terjangkau distribusi bantuan.
“Yang terdampak tentu kita semuanya. Tetapi kami harus mencari komunitas atau masyarakat yang belum sama sekali mendapatkan bantuan,” kata Fista.
Sejak gempa bumi tektonik mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, Fista bersama Tim Penggerak PKK Kabupaten Sikka, TK Nasda Kabupaten Sikka dan Tim Penggerak PKK Provinsi NTT telah mengunjungi lebih dari 20 titik terdampak.
Truk KD/KMP Dikerahkan, Kodim 1603/Sikka Percepat Distribusi Logistik Gempa
Menurut Fista, persoalan penanganan bantuan saat ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan logistik, tetapi juga pemerataan distribusi agar bantuan menjangkau kelompok masyarakat yang belum memperoleh dukungan.
“Bantuan kita sudah cukup banyak. Tinggal bagaimana mendistribusikannya ke tempat-tempat sesuai sasaran sehingga semua merata,” ujarnya.
Informasi mengenai buruh porter yang belum menerima bantuan membuat Fista mengubah agenda kunjungannya pada hari itu.

“Seharusnya hari ini saya mengunjungi beberapa teman-teman nakes. Tetapi karena ada buruh yang sangat membutuhkan, saya memilih datang ke sini,” katanya.
Ketua Buruh Darat Pelabuhan L. Say Maumere, Mikael Rikardus Sengi, mengatakan para buruh tetap menjalankan aktivitas bongkar muat sejak gempa terjadi pada 15 Agustus 2026.
Selain melayani aktivitas pelabuhan dan membantu menjaga barang penumpang, para buruh juga ikut membantu proses bongkar muat bantuan kemanusiaan yang tiba dari luar daerah.
Tetap Bertugas Pascagempa, Nakes Perbatasan Sikka Terima Dukungan TP PKK
Menurut Mikael, bantuan kemanusiaan yang masuk melalui pelabuhan ditangani dengan pertimbangan solidaritas terhadap warga terdampak.
“Karena ini bantuan kemanusiaan, kami tidak mematok harga. Bahkan ada buruh yang tidak meminta imbalan,” katanya.
Ia mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Camat Alok sebelum penyaluran bantuan dan menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan kepada para buruh porter.
Fista menyatakan penyaluran bantuan akan terus dilakukan hingga berakhirnya masa tanggap darurat pada Jumat (28/8/2026).
Penyaluran 106 paket kepada buruh Pelabuhan L. Say menjadi bagian dari upaya menjangkau kelompok pekerja yang belum tersentuh distribusi bantuan, di tengah kebutuhan untuk memastikan bantuan pascagempa tersebar berdasarkan sasaran dan kebutuhan di lapangan.»(rel)
HUMANIORA
Gempa Susulan di Palue Lukai Dua Warga, Polisi Gelar Trauma Healing untuk 220 Penyintas
Dua warga Palue mengalami luka saat gempa susulan mengguncang wilayah tersebut. Polisi bersama tim psikologi memberikan pendampingan dan trauma healing kepada sekitar 220 warga.
MAUMERE, GardaFlores — Gempa susulan kembali mengguncang Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Rabu (26/8/2026) malam. Dua warga mengalami luka robek setelah terjatuh dan tertabrak bangunan saat guncangan terjadi.
Gempa susulan dilaporkan terjadi sekitar pukul 22.15 WITA. Kedua korban adalah Devi Siba (38), warga Desa Rokirole, dan Bonifasius Nande (60), warga Dusun Tomu, Desa Tuanggeo.
Devi mengalami luka robek pada dahi setelah tertabrak tembok rumah dan mendapat empat jahitan.
Sementara Bonifasius mengalami luka robek pada dahi dan pelipis mata setelah terjatuh di turap. Ia mendapat satu jahitan.
Kedua korban telah mendapat penanganan medis dan diperbolehkan kembali ke rumah untuk beristirahat.
Dalam laporan kepolisian disebutkan Bonifasius berada dalam kondisi dipengaruhi minuman keras jenis moke saat kejadian.
Di tengah situasi pascagempa, tim kepolisian juga memberikan Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis kepada warga terdampak di Kecamatan Palue.
Kegiatan trauma healing tersebut dilaksanakan di Paroki Kudus Lei, Dusun Lei, Desa Tuanggeo, sekitar pukul 10.00 WITA dan menyasar sekitar 220 warga, termasuk anak-anak dan orang dewasa.

Pendampingan dilakukan melalui konseling individu, konseling kelompok dan play therapy untuk membantu warga menghadapi stres, kecemasan dan ketakutan setelah gempa.
Menurut hasil pendampingan yang dilaporkan tim, warga yang mengikuti kegiatan mulai menunjukkan kondisi psikologis yang lebih tenang.
Belasan Warga Wogalirit Mengaku Belum Terima Bantuan Gempa, Hendrik: Apakah Kami Bukan Warga Sikka?
Kegiatan tersebut melibatkan personel Bagian Psikologi Polda NTT dan Polda Bali, Polres Sikka, Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue Brigpol I Gusti Ngurah Putra Kencana serta personel kepolisian lainnya.
Pendampingan juga mendapat dukungan Pater Rekan Marquez, CJD, dan anggota KBPP Polri.
Dua warga yang terluka akibat gempa susulan menambah catatan dampak bencana yang masih dirasakan masyarakat Palue. Selain penanganan terhadap dampak fisik, warga terdampak juga masih membutuhkan pendampingan untuk mengatasi tekanan psikologis pascagempa.»(rel)
HUMANIORA
Sopir Ekspedisi Meninggal di Atas Kapal, Keluarga Pertanyakan Diagnosis dan Surat Pernyataan Dharma Rucita
Afro Nua’ria, sopir ekspedisi asal Bajawa, meninggal dunia di atas KM Dharma Rucita. Keluarga mempertanyakan dasar informasi penyebab kematian serta surat pernyataan yang ditandatangani sebelum jenazah diserahkan.
MAUMERE, GardaFlores — Seorang sopir ekspedisi asal Bajawa, Kabupaten Ngada, Afro Nua’ria, meninggal dunia dalam perjalanan laut dari Surabaya menuju Maumere menggunakan kapal Dharma Rucita. Keluarga kini mempertanyakan dasar informasi penyebab kematian korban serta surat pernyataan yang mereka tandatangani sebelum jenazah diturunkan dari kapal.
Afro diketahui dalam perjalanan membawa barang ekspedisi yang akan dikirim ke Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Namun, ia meninggal dunia sebelum kapal tiba di Pelabuhan Lorens Say Maumere.
Jenazah Afro diturunkan dari kapal di Pelabuhan Lorens Say Maumere, Kamis (27/8/2026) sekitar pukul 09.00 WITA. Selanjutnya, jenazah dibawa ke kamar mayat RSUD dr. T.C. Hillers Maumere untuk dimandikan.
Belasan Warga Wogalirit Mengaku Belum Terima Bantuan Gempa, Hendrik: Apakah Kami Bukan Warga Sikka?
Kakak korban, Aris Nua’ria, bersama keluarga dan Diaspora Ngada di Maumere kemudian menjemput jenazah. Setelah dimandikan, jenazah disemayamkan sementara di rumah Aris di Lorong Angkasa, Kecamatan Alok Timur, sebelum diberangkatkan ke Bajawa menggunakan ambulans sekitar pukul 13.00 WITA.
Afro meninggalkan seorang istri, Wiwin, serta dua anak, Bianka yang masih duduk di bangku SMA dan Wilis yang masih bersekolah di SD.
Keluarga mempertanyakan penyebab kematian Afro setelah menerima informasi dari petugas kesehatan di KM Dharma Rucita bahwa korban meninggal akibat serangan jantung.
Menurut keluarga, informasi tersebut perlu dijelaskan lebih lanjut karena mereka mempertanyakan dasar medis yang digunakan untuk menyimpulkan penyebab kematian Afro.
Fista Kago Soroti Pemerataan Bantuan Gempa, 106 Paket Disalurkan ke Buruh Pelabuhan L. Say
Pertanyaan keluarga juga muncul terkait surat pernyataan yang diminta untuk ditandatangani sebelum jenazah diturunkan dari kapal. Menurut keluarga, isi surat tersebut pada pokoknya menyatakan bahwa keluarga tidak akan mengajukan tuntutan kepada pihak kapal setelah jenazah diserahkan.
Dalam kondisi berduka, keluarga akhirnya menandatangani surat tersebut sebelum jenazah Afro diturunkan.
Bagi keluarga, dua hal itu kini menjadi pertanyaan utama: dasar medis informasi bahwa Afro meninggal akibat serangan jantung dan alasan keluarga diminta menandatangani surat pernyataan sebelum jenazah diserahkan.
Keluarga berharap mendapatkan penjelasan mengenai peristiwa yang dialami Afro selama berada di atas kapal hingga meninggal dunia dalam perjalanan menuju Maumere.»(rel)
HUMANIORA
Belasan Warga Wogalirit Mengaku Belum Terima Bantuan Gempa, Hendrik: Apakah Kami Bukan Warga Sikka?
Warga Dusun Ewa dan Dusun Kongas, Desa Wogalirit, mengaku belum menerima bantuan gempa. Hendrik Gunawan mendesak pemerintah melakukan pendataan ulang.
MAUMERE, GardaFlores — Belasan warga Desa Wogalirit, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, mengaku belum menerima bantuan kebutuhan dasar hingga Kamis (27/8/2026), 12 hari setelah gempa bumi tektonik mengguncang Flores.
Keluhan tersebut disampaikan Hendrik Gunawan. Ia menyebut warga di Dusun Ewa dan Dusun Kongas belum menerima bantuan sembako maupun kebutuhan dasar lainnya.
Menurut Hendrik, ia telah berulang kali mendatangi Posko Utama Penanganan Bencana Kabupaten Sikka sejak awal bencana untuk menyampaikan kebutuhan warga di wilayahnya.
Namun, hingga kini, kata dia, bantuan yang diminta belum diterima warga.
Fista Kago Soroti Pemerataan Bantuan Gempa, 106 Paket Disalurkan ke Buruh Pelabuhan L. Say
“Bantuan yang masuk ke Kabupaten Sikka begitu banyak, tetapi masih ada warga yang terkesan dipinggirkan. Kami sudah datang meminta bantuan, tetapi belum juga dilayani,” ujar Hendrik di Maumere, Kamis (27/8/2026).
Hendrik mempertanyakan mekanisme pendataan dan distribusi bantuan yang dinilainya belum menjangkau seluruh warga terdampak.
Ia meminta pemerintah melakukan pendataan langsung di desa, termasuk terhadap warga yang memilih bertahan atau mengungsi di wilayah tempat tinggal mereka.
Menurut Hendrik, di Dusun Kongas telah terdapat posko pengungsian. Namun, warga yang berada di lokasi tersebut disebut belum menerima bantuan pemerintah.
140 Warga Terdampak Gempa Manfaatkan Layanan Kesehatan Gratis di Wailiti
Ia membandingkan kondisi itu dengan sejumlah titik pengungsian lain yang terus menerima distribusi bantuan.
“Kami yang ada di desa ini seperti tidak digubris. Warga yang mengungsi di sini belum mendapatkan bantuan apa pun. Apakah kami bukan warga Sikka? Apakah kami bukan warga yang terdampak gempa?” tegasnya.
Hendrik mendesak pemerintah segera mendatangi Desa Wogalirit dan Wolonterang untuk melakukan verifikasi dan pendataan kembali terhadap warga terdampak.
Menurut dia, bantuan perlu disalurkan berdasarkan kondisi dan kebutuhan warga terdampak, termasuk mereka yang tidak berada di titik pengungsian besar.
Hingga berita ini disusun, keluhan warga tersebut belum disertai keterangan dari pihak Posko Utama Penanganan Bencana Kabupaten Sikka terkait status pendataan dan distribusi bantuan bagi warga di Desa Wogalirit.»(rel)
-
NASIONAL11 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA12 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka

Pingback: Belasan Warga Wogalirit Mengaku Belum Terima Bantuan Gempa, Hendrik: Apakah Kami Bukan Warga Sikka? - Garda Flores %