PENKES
7 Penendang, 1 Penyelamatan: Kristianus Fua Mana Antar Perse Ende ke Final Soeratin Cup 2026
Perse Ende memastikan tiket final Soeratin Cup 2026 setelah mengalahkan Citra Bakti Ngada 6-5 melalui adu penalti di Stadion Gelora Samador Maumere. Kristianus Fua Mana menjadi pembeda setelah menggagalkan eksekusi penendang ketujuh Citra Bakti, sebelum Gabriel Spagnaly Riwu memastikan kemenangan Perse Ende.
MAUMERE, GardaFlores — Perse Ende akhirnya mendapatkan tiket ke final Soeratin Cup 2026 melalui cara yang tidak mudah.
Bermain di Stadion Gelora Samador, Maumere, Selasa (11/8/2026), Perse Ende harus melewati 90 menit tanpa gol dan adu penalti hingga tujuh penendang sebelum memastikan kemenangan 6-5 atas Citra Bakti Ngada.
Ketika pertandingan harus ditentukan dari titik putih, bukan hanya kemampuan menendang yang diuji. Tekanan, keberanian dan ketenangan ikut menentukan siapa yang pulang dengan tiket final.
Perse Ende sempat berada dalam posisi sulit. Namun pada akhirnya, penjaga gawang Kristianus Gavril Fua Mana menjadi pembeda.
Ia menggagalkan eksekusi Alexander Fono pada penendang ketujuh Citra Bakti. Sesaat kemudian, Gabriel Spagnaly Riwu menuntaskan tugasnya. Perse Ende menang 6-5 dan memastikan satu tempat di partai puncak.
90 Menit Tanpa Gol
Pertandingan semifinal berjalan ketat sejak awal. Perse Ende berusaha membangun serangan, sementara Citra Bakti Ngada tampil disiplin untuk menjaga pertahanan. Kedua tim beberapa kali mencoba membuka ruang, tetapi tidak ada peluang yang benar-benar mampu mengubah skor.
Sampai 45 menit pertama berakhir, papan skor masih menunjukkan angka 0-0. Situasi tidak banyak berubah setelah turun minum.
Perse Ende dan Citra Bakti sama-sama memiliki kesempatan untuk mencetak gol, tetapi penyelesaian akhir belum mampu menghasilkan pembeda.
Waktu terus berjalan. Menit ke-60, 70, hingga 80 berlalu tanpa gol. Sampai peluit panjang berbunyi, skor tetap 0-0.
Tidak ada pilihan lain. Semifinal harus ditentukan melalui adu penalti.
Dari Titik Putih, Skor Terus Berimbang
Wenseslaus Kenge menjadi penendang pertama Perse Ende dan menjalankan tugasnya dengan baik.
Citra Bakti menjawab melalui kapten Albertus Roga.
Keduanya sama-sama berhasil.
Ketegangan mulai terasa pada penendang ketiga.
Atonius Yanuar Bengu mendapat kesempatan membawa Citra Bakti tetap berada di jalur keunggulan. Namun eksekusinya justru membentur tiang.
Perse Ende memiliki kesempatan mengambil keuntungan.
Namun Orian Tores Henuk gagal menyelesaikan tugasnya setelah tendangannya melebar.
Menariknya, kedua pemain yang gagal tersebut sama-sama mengenakan nomor punggung 12.
Setelah itu, adu penalti kembali berjalan seimbang.
Viktorius Justicius Due mencetak gol untuk Citra Bakti. Muhamad Zakwan membalas untuk Perse Ende.
Samuel Arsavin Due kembali membawa Citra Bakti unggul. Hugo Apriano Gisepe Parus membuat Perse Ende tetap bertahan.
Lima penendang dari masing-masing tim selesai menjalankan tugas.
Skor 4-4. Belum ada pemenang. Adu penalti harus berlanjut.
Kristianus Fua Mana Menjadi Pembeda
Pada penendang keenam, Krisantus Nonga Dopo kembali membawa Citra Bakti unggul.
Aluiso Marchen Ruas kemudian menyamakan kedudukan untuk Perse Ende.
Skor kembali 5-5.
Maka tibalah penendang ketujuh.
Alexander Fono maju untuk Citra Bakti.
Di bawah mistar Perse Ende berdiri Kristianus Gavril Fua Mana.
Fono melepaskan tendangan.
Kristianus membaca arah bola dengan tepat.
Ia bergerak dan berhasil menggagalkan eksekusi tersebut.
Penyelamatan itu langsung mengubah suasana stadion.
Perse Ende kini berada satu langkah dari final.
Tekanan berpindah kepada Gabriel Spagnaly Riwu.
Gabriel Riwu Menyelesaikan Pekerjaan
Gabriel Riwu, pemain belakang Perse Ende yang juga masih berstatus pelajar SMK Negeri 3 Ekoae, maju sebagai penendang berikutnya.
Di depannya berdiri Arkadius Tiwu, penjaga gawang Citra Bakti. Tidak ada ruang untuk kesalahan.
Gabriel mengambil ancang-ancang dan melepaskan tendangan.
Gol.
Perse Ende menang 6-5.
Para pemain Perse Ende langsung merayakan kemenangan. Dari sisi lapangan hingga tribun, pendukung Laskar Kelimutu ikut meluapkan kegembiraan setelah pertandingan yang berjalan ketat sejak awal itu akhirnya berakhir.
Di tribun VIP, Ketua DPRD Ende Fransiskus Taso bersama sejumlah anggota DPRD Ende juga terlihat ikut merayakan keberhasilan Perse Ende melangkah ke final.
Dua pemain kemudian menjadi bagian penting dari kemenangan tersebut.
Kristianus Fua Mana menggagalkan penalti penentu Citra Bakti.
Gabriel Riwu memastikan kesempatan itu berubah menjadi tiket final.
Gusto Kadju Pilih Persami
Pelatih Perse Ende, Gusto Kadju, mengapresiasi perjuangan para pemainnya. Namun ia mengingatkan bahwa pekerjaan mereka belum selesai.
Perse Ende masih harus menunggu calon lawan di final.
Semifinal lainnya mempertemukan Persami Maumere dengan BMP Flores Timur pada Rabu (12/8/2026).
Gusto mengatakan kedua tim sama-sama memiliki kualitas.
“Kami harus siap menghadapi siapa pun. Persami Maumere dan BMP Flores Timur sama-sama tim kuat,” ujar Gusto.
Namun ketika ditanya tim mana yang lebih ia pilih sebagai lawan di final, Gusto memiliki kecenderungan berbeda.
Ia memilih Persami Maumere.
“Kalau disuruh memilih, saya lebih cenderung memilih Persami Maumere di partai final,” katanya.
Pilihan tersebut bukan tanpa alasan.
Perse Ende dan Persami Maumere sebelumnya berada di Grup A. Dalam pertemuan fase grup, Perse Ende berhasil mengalahkan Persami dengan skor 1-0.
Tetapi Gusto sadar bahwa pertandingan final akan menghadirkan situasi berbeda.
Kemenangan di fase grup tidak menjadi jaminan hasil yang sama di partai puncak.
Perse Ende Tinggal Selangkah
Dengan kemenangan atas Citra Bakti Ngada, Perse Ende kini tinggal menunggu satu pertandingan lagi untuk menentukan apakah mereka bisa mengakhiri Soeratin Cup 2026 dengan trofi.
Mereka sudah melewati 90 menit tanpa gol.
Mereka sudah melewati adu penalti hingga penendang ketujuh.
Dan pada momen paling menentukan, Kristianus Fua Mana dan Gabriel Spagnaly Riwu menjalankan peran masing-masing.
Satu menggagalkan peluang lawan.
Satu memastikan bola masuk ke gawang.
Perse Ende menang 6-5.
Tiket final sudah berada di tangan.
Kini mereka tinggal menunggu siapa yang akan berdiri di seberang lapangan pada partai puncak Soeratin Cup 2026, Jumat (14/8/2026).»(rel)
PENKES
Bupati Sikka Buka Lomba Bertutur: Literasi Jangan Berhenti Jadi Seremonial, SDM Sikka Dipertaruhkan
Lomba Bertutur Sikka 2026 tidak cukup dimaknai sebagai kompetisi anak sekolah. Pesan Bupati Juventus Prima Yoris Kago menegaskan bahwa literasi harus tumbuh menjadi kebiasaan membaca, berpikir, bertanya, dan menyampaikan gagasan karena kualitas SDM Sikka dipertaruhkan.
MAUMERE, GardaFlores — Lomba Bertutur Tingkat SD/MI se-Kabupaten Sikka Tahun 2026 dibuka Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago di Aula Frans Seda, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Selasa (11/8/2026).
Namun, kegiatan tersebut tidak semestinya berhenti sebagai kompetisi kemampuan bertutur anak sekolah dasar. Di balik panggung lomba, ada persoalan yang jauh lebih penting: bagaimana memastikan literasi benar-benar menjadi kebiasaan yang membentuk cara anak membaca, memahami informasi, berpikir kritis, berkomunikasi, dan menghasilkan gagasan.
Di titik itulah pesan Bupati Juventus menjadi relevan. Ia menegaskan bahwa literasi dan sains harus ditempatkan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia, bukan sekadar agenda tahunan yang selesai ketika kegiatan ditutup.
“Literasi dan sains harus kita tanamkan dan perkuat sejak anak-anak berada di usia sekolah. Ini merupakan investasi penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Kabupaten Sikka,” tegas Juventus.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan literasi di Sikka sesungguhnya tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Anak-anak perlu dibentuk menjadi pembelajar yang mampu memahami informasi, mempertanyakan sesuatu secara kritis, mengomunikasikan gagasan, dan terus mengembangkan pengetahuan.
Disarpus Sikka Gandeng BILIK, Siapkan Pendampingan Siswa untuk Masuk Perguruan Tinggi
Karena itu, lomba bertutur memiliki nilai lebih ketika dipandang sebagai bagian dari proses tersebut. Anak tidak hanya belajar menghafal cerita, tetapi juga belajar berbicara di depan orang lain, mengolah informasi, menyusun gagasan, dan membangun kepercayaan diri.
Masalahnya, kegiatan semacam ini akan kehilangan makna apabila literasi hanya hidup ketika ada lomba.
Bupati memberikan apresiasi kepada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka yang telah menjalankan berbagai program untuk menumbuhkan budaya membaca di kalangan pelajar. Di antaranya Wisata Literasi, Gerakan 30 Menit Membaca sebelum pelajaran dimulai, Gerakan Antar dan Jemput Buku (GRAB), serta berbagai kegiatan literasi lainnya.

Program-program tersebut tentu penting. Tetapi pekerjaan yang lebih sulit justru dimulai setelah program diluncurkan: memastikan anak benar-benar membaca, bukan sekadar hadir dalam kegiatan literasi.
Juventus meminta berbagai program tersebut terus dikembangkan dan diperluas.
“Program-program seperti ini jangan berhenti. Terus dikembangkan dan diperluas, karena tujuan akhirnya adalah bagaimana anak-anak kita memiliki budaya membaca, memiliki pengetahuan yang luas dan pada akhirnya mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Sikka,” ujarnya.
Pesan tersebut mengandung pekerjaan rumah yang tidak sederhana.
Budaya membaca tidak lahir dari slogan. Ia membutuhkan buku yang mudah diakses, sekolah yang menyediakan ruang membaca, guru yang mendorong rasa ingin tahu, keluarga yang membangun kebiasaan membaca, serta lingkungan yang membuat anak merasa bahwa membaca merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.
23 Atlet Taekwondo Dojang Adhyaksa Sikka Berangkat ke Kejurnas di Jakarta
Lebih jauh lagi, literasi harus menghasilkan sesuatu. Anak yang membaca harus diberi kesempatan untuk bertanya. Anak yang bertanya harus diberi ruang untuk berdiskusi. Dan anak yang memiliki gagasan harus diberi keberanian untuk menyampaikannya.
Jika rangkaian itu tidak terjadi, kegiatan literasi berisiko berhenti pada angka partisipasi dan dokumentasi kegiatan.
Karena itu, penegasan Juventus bahwa literasi bukan hanya urusan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan menjadi penting.
“Literasi bukan hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kearsipan dan Perpustakaan. Ini adalah tanggung jawab kita bersama. Sekolah harus menjadi ruang yang menyenangkan bagi anak untuk membaca, belajar, bertutur dan mengembangkan kreativitas,” tegasnya.
Tanggung jawab tersebut berarti gerakan literasi harus bergerak melampaui satu institusi.
Sekolah, guru, orang tua, pemerintah, komunitas literasi dan masyarakat harus berada dalam ekosistem yang sama. Literasi harus masuk ke ruang kelas, perpustakaan, rumah, lingkungan masyarakat, dan pada akhirnya menjadi bagian dari kebiasaan anak.»(rel)
PENKES
Timbang Balita Tak Cukup, Sikka Dorong Deteksi Dini Masalah Pertumbuhan Anak
Ketua TP PKK Sikka Ny. Fista Sambuari Kago menegaskan penimbangan balita harus menjadi pintu masuk deteksi dini masalah pertumbuhan dan memastikan anak mendapat tindak lanjut yang diperlukan.
MAUMERE, GardaFlores — Menimbang balita bukan sekadar mencatat angka berat dan ukuran tubuh. Hasil pengukuran harus dibaca untuk mengetahui lebih awal persoalan pertumbuhan anak dan menjadi dasar bagi tindak lanjut yang diperlukan.
Pesan itu disampaikan Ketua TP PKK sekaligus Ketua TP Posyandu Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, saat memantau pelaksanaan Bulan Penimbangan Balita (BPB) di Posyandu Teratai A, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Senin (10/8/2026).
Menurut Fista, pemantauan pertumbuhan secara berkala penting agar perubahan kondisi anak dapat diketahui sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih serius. Karena itu, kegiatan penimbangan harus diikuti dengan pencatatan, pembacaan hasil pengukuran, serta pendampingan bagi anak yang membutuhkan perhatian lebih.
“Melalui Bulan Timbang ini kita dapat mengetahui bagaimana pertumbuhan anak-anak kita. Kalau ada yang mengalami masalah pertumbuhan, dapat diketahui lebih awal sehingga bisa segera mendapatkan penanganan dan pendampingan,” ujar Fista.
Dalam kunjungan tersebut, Fista didampingi Camat Alok Timur, Kepala Puskesmas Beru, Lurah Waioti, serta Ketua TP PKK Kelurahan Waioti.
Bulan Penimbangan Balita dilaksanakan dua kali dalam setahun, yakni pada Februari dan Agustus. Sasaran kegiatan adalah anak usia 0–59 bulan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Pengukuran meliputi berat badan, tinggi badan atau panjang badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan. Balita juga mendapatkan Vitamin A sesuai ketentuan pelayanan kesehatan.
Namun, angka hasil pengukuran tidak semestinya berhenti sebagai data administrasi. Data tersebut perlu digunakan untuk mengetahui kondisi setiap anak dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan, pendampingan, atau intervensi lebih lanjut.
Karena itu, Fista meminta orang tua rutin membawa anak ke Posyandu dan tidak menunggu sampai anak sakit untuk mendapatkan pelayanan.
“Orang tua harus aktif membawa anak ke Posyandu. Jangan menunggu anak sakit baru datang ke fasilitas kesehatan. Pemantauan pertumbuhan secara rutin merupakan langkah penting untuk mencegah dan mendeteksi berbagai masalah kesehatan sejak dini,” katanya.
Keterlibatan orang tua menjadi bagian penting karena hasil pengukuran di Posyandu perlu ditindaklanjuti di lingkungan keluarga. Jika ditemukan kondisi yang membutuhkan perhatian tenaga kesehatan, keluarga perlu mengikuti rekomendasi dan memastikan anak memperoleh pendampingan sesuai kebutuhannya.

Pada sisi pelayanan, Fista juga mendorong kader Posyandu memperkuat fungsi edukasi dan pendampingan. Kader tidak hanya bertugas melakukan penimbangan dan pencatatan, tetapi juga membantu menghubungkan keluarga dengan tenaga kesehatan ketika ditemukan kondisi yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Edukasi kepada orang tua dapat mencakup pemenuhan gizi, pola asuh, kebersihan lingkungan, imunisasi, serta pemantauan tumbuh kembang anak.
Dengan demikian, Posyandu tidak hanya menjadi tempat pengukuran, tetapi juga salah satu titik awal untuk menemukan persoalan pertumbuhan anak dan menghubungkan keluarga dengan layanan kesehatan yang dibutuhkan.
Data hasil penimbangan juga memiliki fungsi yang lebih luas. Jika dikelola dengan baik, data tersebut dapat membantu pemerintah dan tenaga kesehatan memetakan kondisi pertumbuhan anak di setiap wilayah serta menentukan kelompok yang membutuhkan perhatian.
Di titik inilah tindak lanjut menjadi bagian penting dari kegiatan penimbangan. Banyaknya balita yang datang dan tercatat belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa persoalan pertumbuhan telah ditangani.
Yang lebih penting adalah memastikan anak yang teridentifikasi mengalami masalah mendapatkan pemeriksaan dan pendampingan sesuai kondisi mereka.
Untuk itu, peran pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, pemerintah desa dan kelurahan, TP PKK, serta keluarga saling berkaitan. Hasil pengukuran di Posyandu membutuhkan tindak lanjut agar data yang dikumpulkan benar-benar memberi manfaat bagi kesehatan anak.
Fista mengatakan pemantauan pertumbuhan perlu menjadi perhatian bersama karena kondisi kesehatan anak berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.
“Anak sehat adalah investasi masa depan. Karena itu, mari kita bersama-sama memastikan setiap anak mendapatkan haknya untuk tumbuh dan berkembang dengan baik,” pungkasnya.
Dengan demikian, Bulan Penimbangan Balita bukan sekadar agenda untuk mengetahui berapa kilogram berat seorang anak. Lebih penting dari itu, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengetahui lebih awal apakah seorang anak tumbuh sesuai harapan, menemukan persoalan yang mungkin muncul, dan memastikan ada langkah setelahnya.»(rel)
PENKES
Persami Maumere Tundukkan Perss Soe 1-0, Gol Samuel Ngarbingan Antar ke Semifinal Soeratin Cup 2026
MAUMERE, GardaFlores — Persami Maumere memastikan tiket semifinal Soeratin Cup 2026 setelah menundukkan Perss Soe 1-0 dalam laga perempat final di Stadion Gelora Samador Maumere, Senin (10/8/2026).
Gol tunggal Persami dicetak Samuel Ngarbingan pada menit ke-51. Gol tersebut menjadi pembeda dalam pertandingan yang berlangsung ketat sejak babak pertama.
Persami tampil menekan sejak awal pertandingan. Bermain di hadapan pendukung sendiri, tuan rumah berusaha membuka ruang melalui permainan dari sisi lapangan dan perebutan bola di lini tengah.
Namun, Perss Soe mampu meredam tekanan tersebut. Organisasi pertahanan tim asal Soe membuat sejumlah serangan Persami tidak menghasilkan peluang yang berujung gol.
Hingga 45 menit pertama berakhir, kedua tim belum mampu mengubah kedudukan. Skor tetap 0-0.
Persami kemudian meningkatkan tekanan pada awal babak kedua. Hasilnya datang pada menit ke-51 ketika Samuel Ngarbingan berhasil mencetak gol untuk membawa tuan rumah unggul 1-0.
Gol tersebut mengubah jalannya pertandingan. Perss Soe yang berada dalam posisi tertinggal mulai meningkatkan intensitas serangan untuk mencari gol penyama kedudukan.
Persami tidak lagi bermain dengan orientasi utama menambah keunggulan. Tuan rumah lebih fokus menjaga organisasi permainan dan mempertahankan keunggulan yang sudah diperoleh.
Kartu Merah Bukan Biang Kekalahan Persebata, tetapi Ujian yang Gagal Dilewati
Perss Soe terus mencoba menekan pertahanan Persami hingga menit-menit akhir. Namun, upaya tersebut belum menghasilkan gol.
Persami juga tidak mampu menambah keunggulan. Hingga wasit meniup peluit panjang, skor tetap 1-0.
Hasil tersebut cukup untuk membawa Persami Maumere melaju ke semifinal Soeratin Cup 2026, sementara Perss Soe harus mengakhiri perjalanannya di babak perempat final.
Kemenangan ini menunjukkan bahwa pertandingan tidak selalu ditentukan oleh banyaknya gol. Dalam laga dengan margin tipis, satu peluang yang berhasil dikonversi dapat menjadi pembeda antara tim yang melanjutkan turnamen dan tim yang harus tersingkir.
Hasil Pertandingan
Persami Maumere 1-0 Perss Soe
Gol: Samuel Ngarbingan (51′)
Stadion: Gelora Samador Maumere
Hasil: Persami Maumere lolos ke semifinal Soeratin Cup 2026. (rel)
-
NASIONAL10 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA11 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
