Connect with us

SOSBUD

Uskup Maumere: Gempa Boleh Retakkan Bangunan, Jangan Persaudaraan

Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu meminta umat tetap tenang dan waspada setelah gempa mengguncang Flores. Perayaan Ekaristi di bangunan yang belum dinyatakan aman diminta dipindahkan ke tempat alternatif, sementara bantuan dan pendataan kerusakan dikoordinasikan melalui Caritas Keuskupan Maumere.

Published

on

Di tengah suasana Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Uskup Edwaldus mengajak setiap keluarga dan Komunitas Basis Gerejani tetap bersatu dalam doa serta memohon perlindungan bagi seluruh masyarakat.

MAUMERE, GardaFlores — Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu meminta umat Keuskupan Maumere tetap tenang dan waspada menghadapi situasi pascagempa yang mengguncang Pulau Flores, Sabtu (15/8/2026). Keselamatan jiwa, menurutnya, harus menjadi prioritas, termasuk dengan menghindari gereja, kapela, pastoran, biara, maupun bangunan lain yang mengalami kerusakan dan belum dinyatakan aman.

Seruan itu disampaikan menyusul laporan keretakan dan kerusakan pada sejumlah bangunan milik Gereja di wilayah Keuskupan Maumere. Uskup meminta para imam, biarawan dan biarawati, serta seluruh umat mengikuti arahan pemerintah, petugas kebencanaan, dan pihak berwenang, terutama dalam menentukan apakah sebuah bangunan masih layak digunakan.

Karena kondisi sejumlah gereja dan kapela belum sepenuhnya dapat dipastikan aman, pelaksanaan perayaan Ekaristi mulai Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dan beberapa hari berikutnya diminta dipindahkan ke tempat alternatif. Halaman gereja atau kapela, aula, maupun lokasi lain yang layak dapat digunakan dengan tetap memperhatikan keselamatan dan kenyamanan umat. Pelayanan sakramen dan sakramentalia juga diharapkan tetap berjalan sejauh memungkinkan, tetapi harus menyesuaikan dengan kondisi darurat.

Gempa NTT Makin Mematikan: 38 Orang Tewas, Satu Korban Masih Tertimbun

Bagi Uskup Edwaldus, perubahan tempat ibadah dan kerusakan bangunan bukan alasan untuk menghentikan pelayanan maupun memutus kebersamaan umat. Ia justru mengingatkan agar gempa yang meretakkan rumah, gereja, pastoran, biara dan bangunan lainnya tidak sampai meretakkan persaudaraan.

“Gempa mungkin telah meretakkan tembok rumah, gereja, pastoran, biara, dan bangunan lainnya. Namun, jangan sampai bencana ini meretakkan persaudaraan kita,” demikian inti seruannya.

Umat diajak saling menguatkan dan memberikan perhatian kepada kelompok yang paling membutuhkan pertolongan. Anak-anak, lanjut usia, orang sakit, serta mereka yang mengalami ketakutan dan trauma diminta menjadi perhatian bersama, sementara seluruh umat diajak menjaga ketenangan dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi karena dapat memperbesar kepanikan di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.

Untuk penanganan dampak gempa, Keuskupan Maumere mendorong seluruh unsur Gereja bergerak secara terkoordinasi melalui Caritas Keuskupan Maumere dengan melibatkan pemerintah, lembaga kemanusiaan, paroki, komunitas dan pihak terkait lainnya. Bantuan diharapkan diberikan secara tepat sasaran dengan mendahulukan warga yang paling membutuhkan.

Gempa Flores Telan 33 Nyawa, 1.264 Warga Mengungsi, Pemerintah Dituntut Bergerak Cepat

Para pastor bersama Dewan Pastoral Paroki, biarawan dan biarawati serta penanggung jawab komunitas juga diminta melakukan pendataan awal mengenai kerusakan dan kebutuhan umat. Pendataan tersebut mencakup kondisi gereja, kapela, pastoran, biara, rumah umat serta kebutuhan mendesak seperti tempat tinggal sementara, makanan, air, obat-obatan dan kebutuhan dasar lainnya untuk kemudian disampaikan melalui jalur koordinasi yang telah ditentukan.

Di tengah suasana Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Uskup Edwaldus mengajak setiap keluarga dan Komunitas Basis Gerejani tetap bersatu dalam doa serta memohon perlindungan bagi seluruh masyarakat.

Pesan tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai bangunan yang rusak akibat gempa, tetapi juga tentang bagaimana umat menghadapi keadaan darurat tanpa kehilangan solidaritas. Gereja dapat memindahkan perayaan ke tempat yang lebih aman, tetapi pelayanan kepada manusia tidak boleh berhenti.

Sebab ketika bangunan retak dan ketakutan menyebar, yang dibutuhkan bukan hanya upaya memperbaiki kerusakan fisik, melainkan juga persaudaraan yang tetap utuh dan kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan nyata.»(rel)

SOSBUD

Warga Alok Barat Adu Dayung dan Renang Tradisional di Nangahure

Warga Kecamatan Alok Barat menggelar lomba dayung sampan dan renang tradisional di Nangahure Lembah, Kelurahan Wuring. Kegiatan menjadi bagian dari aktivitas masyarakat selama masa pemulihan setelah gempa Flores.

Published

on

Warga Kecamatan Alok Barat mengikuti lomba dayung sampan dan renang tradisional di Nangahure Lembah, Kelurahan Wuring, Kabupaten Sikka, Sabtu (26/9/2026).

MAUMERE, GardaFlores – Warga Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, menggelar lomba dayung sampan dan renang tradisional di Nangahure Lembah, Kelurahan Wuring, Sabtu (26/9/2026).

Warga dari sejumlah wilayah di Kecamatan Alok Barat datang menyaksikan perlombaan dan memberi dukungan kepada para peserta. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari aktivitas pemulihan psikososial masyarakat setelah gempa Flores pada 15 Agustus 2026.

Kegiatan dihadiri Lurah Wailiti, Lurah Hewuli, Lurah Wuring, Basarnas Kabupaten Sikka, Komandan Lanal Maumere, Manajer perusahaan Fajar Flores Flamboyan Fishindo, serta tokoh masyarakat, tokoh agama dan warga.

Pasca Gempa, Alok Barat Libatkan 11 Sekolah dalam Cerdas Cermat dan Badminton

Camat Alok Barat Marselinus Mau dalam sambutan pembukaan mengajak warga memanfaatkan kegiatan tersebut untuk kembali beraktivitas bersama sekaligus menjaga kawasan pesisir.

Ia meminta masyarakat tidak membuang sampah ke laut dan bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan pesisir.

Pesan serupa disampaikan Ketua Panitia Martinus Mustari Ipir. Ia mengatakan kelestarian laut merupakan tanggung jawab bersama masyarakat Alok Barat.

BPJN NTT Ukur Ruas Karica-Lidi di Palue, Temukan Jalan Rusak Berat dan Akses Sempit

Martinus juga menyampaikan apresiasi kepada Fajar Flores Flamboyan Fishindo, perusahaan  yang menjadi sponsor utama lomba dayung sampan dan renang tradisional tingkat Kecamatan Alok Barat.

Rangkaian kegiatan tidak berhenti pada perlombaan 26 September. Martinus mengatakan kegiatan serupa akan kembali digelar pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

Lomba dayung sampan dan renang tradisional tersebut menjadi salah satu kegiatan warga Alok Barat selama masa pemulihan setelah gempa, sekaligus menghidupkan kembali aktivitas olahraga tradisional di kawasan pesisir.»(rel)

Continue Reading

SOSBUD

Dugaan KDRT di Palue, Istri Luka hingga 12 Jahitan Diselesaikan Kekeluargaan

Seorang perempuan berinisial M.A.N. diduga mengalami KDRT di Desa Ladolaka, Palue, Sikka. Korban dilaporkan pingsan dan mengalami luka pada telinga hingga mendapat 12 jahitan. Kasus kemudian dimediasi dan diselesaikan secara kekeluargaan.

Published

on

Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue I Gusti Ngurah Putra Kencana, S.H., memediasi penyelesaian kasus dugaan KDRT di Desa Ladolaka, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Jumat (25/9/2026).

MAUMERE, GardaFlores – Seorang perempuan berinisial M.A.N. (46) diduga mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan suaminya, M.M.W. (52), di Desa Ladolaka, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Kamis (24/9/2026).

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 19.00 WITA di rumah pasangan tersebut di Teo, RT/RW 010/005, Desa Ladolaka.

Menurut keterangan yang disampaikan kepada Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue, kejadian bermula ketika dua anak pasangan tersebut terlibat keributan di dalam rumah. M.A.N. kemudian berusaha melerai keduanya.

Situasi memanas setelah M.M.W. datang dan membela anak laki-lakinya. Adu mulut antara M.M.W. dan M.A.N. kemudian terjadi.

Buah Pikir Bung Karno dan Tugas Membaca Gagasan Kebangsaan

Dalam kondisi tersebut, M.M.W. diduga mengambil sebuah kursi dan memukul M.A.N. sebanyak dua kali pada bagian kepala. Terlapor juga disebut dalam keadaan emosi dan diduga sebelumnya mengonsumsi minuman keras jenis moke.

Akibat kejadian itu, M.A.N. dilaporkan jatuh dan pingsan. Ia juga mengalami luka robek pada daun telinga sebelah kiri hingga mendapat 12 jahitan.

Kepada Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue, I Gusti Ngurah Putra Kencana, S.H., M.A.N. menyampaikan bahwa dugaan kekerasan tersebut bukan pertama kali terjadi. Menurut keterangannya, pemukulan disebut telah beberapa kali terjadi ketika muncul keributan dalam rumah tangga.

Setelah kejadian, M.A.N. melaporkan persoalan tersebut kepada Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue.

HIMBARA Salurkan Lebih dari 30 Ton Bantuan untuk Korban Gempa Ngada

Pada Jumat (25/9/2026), M.A.N. dan M.M.W. kemudian dipertemukan dalam kegiatan Problem Solving di rumah korban. Pertemuan tersebut turut disaksikan sejumlah saksi.

Dalam mediasi itu, kedua pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam surat pernyataan.

Dalam proses tersebut, M.M.W. diberikan pemahaman agar tidak kembali melakukan kekerasan terhadap M.A.N. maupun anggota keluarga lainnya. Bhabinkamtibmas juga memberikan pembinaan kepada kedua pihak terkait keamanan, ketertiban dan kehidupan rumah tangga.

Penyelesaian secara kekeluargaan tersebut dilakukan setelah M.A.N. mengalami luka pada kepala dan telinga akibat dugaan pemukulan. Korban juga menyampaikan kepada Bhabinkamtibmas adanya dugaan tindakan kekerasan yang pernah terjadi sebelumnya.»(rel)

Continue Reading

SOSBUD

15,2 Ton Beras Disalurkan ke 507 KK di Palue

Sebanyak 507 keluarga di Kecamatan Palue, Sikka, menerima 15.210 kilogram beras bantuan pangan pemerintah untuk periode Juli-September 2026.

Published

on

Penyaluran bantuan pangan berupa 15.210 kilogram beras kepada 507 keluarga penerima manfaat di Desa Ladolaka dan Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Sikka, Selasa (22/9/2026).

MAUMERE, GardaFlores — Sebanyak 15.210 kilogram atau sekitar 15,2 ton beras bantuan pangan pemerintah disalurkan kepada 507 keluarga penerima manfaat (KPM) di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (22/9/2026).

Bantuan yang disalurkan melalui Perum Bulog Cabang Maumere tersebut merupakan alokasi untuk periode Juli hingga September 2026. Penyaluran dilakukan di dua desa, yakni Desa Ladolaka dan Desa Nitunglea.

Di Desa Ladolaka, sebanyak 268 keluarga menerima bantuan dengan total 8.040 kilogram beras. Sementara di Desa Nitunglea, bantuan disalurkan kepada 239 keluarga dengan total 7.170 kilogram.

Masing-masing keluarga menerima 30 kilogram beras.

81 Tahun Tanpa Listrik, 302 Rumah di Semparong Ditargetkan Teraliri Listrik Desember 2026

Proses penyaluran mendapat pengamanan dan monitoring dari aparat Polsubsektor Palue-Polsek Nelle untuk memastikan bantuan diterima sesuai daftar penerima dan berlangsung tertib.

Sebelum bantuan diserahkan, petugas melakukan verifikasi data. Penerima wajib menunjukkan identitas berupa KTP atau KK serta bukti terdaftar sebagai penerima. Nama penerima kemudian dicocokkan dengan daftar yang telah ditetapkan dan dicatat dalam buku kendali penyaluran.

Penyaluran melibatkan Perum Bulog Cabang Maumere, Pemerintah Kecamatan Palue, pemerintah desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa, perangkat desa serta ketua RT/RW.

Pengawasan dilakukan untuk mencegah penumpukan, keributan maupun potensi penyimpangan selama distribusi berlangsung.

80 Warga Sikka Masih Tempuh 1 Kilometer untuk Dapatkan Air Bersih

Hasil monitoring menunjukkan seluruh bantuan telah disalurkan kepada penerima sesuai daftar yang ditetapkan. Tidak ditemukan penyimpangan, ketidaktepatan sasaran maupun kerusakan beras selama proses penyaluran.

Masyarakat penerima menyambut bantuan tersebut dan menyampaikan terima kasih kepada pemerintah karena bantuan dinilai membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Petugas juga mendorong agar data penerima terus diperbarui dan diverifikasi secara berkala. Sosialisasi mengenai jadwal, lokasi serta persyaratan pengambilan bantuan diharapkan dilakukan lebih awal untuk mendukung penyaluran berikutnya.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending