Connect with us

HUMANIORA

Ibu Alfonsius Kenang Putranya yang Gugur Ditembak di Papua

Maria Sukarti Yam mengenang putranya, Alfonsius Albinus Mehan, yang tewas ditembak saat menjalankan tugas di Distrik Muliama, Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Published

on

Maria Sukarti Yam mengenang putranya, Alfonsius Albinus Mehan, yang tewas dalam penembakan di Distrik Muliama, Jayawijaya, Papua Pegunungan. FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Maria Sukarti Yam masih sulit menerima kepergian putranya, Alfonsius Albinus Mehan, yang tewas ditembak saat menjalankan tugas di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Rabu (9/9/2026).

Alfonsius merupakan dokter hewan yang bertugas di Kabupaten Jayawijaya. Menurut Maria, putranya telah bekerja di Papua sejak 2018 dan dikenal dekat dengan warga.

“Anak saya itu baik sekali. Dengan warga di situ sangat baik. Dia sudah hampir sembilan tahun bertugas di sana, sejak 2018,” ungkap Maria.

Maria mengaku sejak awal sempat khawatir ketika Alfonsius memutuskan bekerja di Papua. Namun, putranya tetap memilih berangkat dan meminta keluarga mendukungnya dengan doa.

Kronologi Penembakan Tiga ASN Jayawijaya di Muliama, Dihadang Saat Pulang dari Tugas

“Waktu itu dia nekat, dia bilang, ‘Mama tidak usah cari tahu, pokoknya Mama doa saja.’ Satu hari penuh kami jalan cari pakaian untuk ke sana,” kenangnya.

Menurut Maria, Alfonsius juga dikenal sulit menolak ketika ada warga yang membutuhkan bantuan. Ia sering bergerak cepat ketika mendapat permintaan bantuan dari masyarakat.

“Istrinya bilang, dia susah dilarang kalau ada yang minta bantuan. Dia pokoknya dari sana kalau orang minta bantuan itu cepat sekali, pagi jam 5 sudah di bandara,” kata Maria.

Sebelum meninggal, Alfonsius sempat menghubungi Maria untuk meminta sejumlah dokumen keluarga. Ia juga menyampaikan rencana pulang ke Sikka pada Desember mendatang.

“Dia telepon bilang, ‘Mama, saya mau pulang bulan 12 ini. Saya kerja kumpul uang dulu.’ Dia selalu perhatikan saya, sering kirim uang walau saya bilang tidak usah,” tutur Maria.

Bupati Sikka Kecam Penembakan Alfonsius di Jayawijaya: Negara Jangan Takut dan Kalah dari Kelompok Bersenjata

Kabar kematian Alfonsius diterima keluarga melalui telepon. Maria mengaku sempat tidak percaya ketika kabar tersebut disampaikan.

“Anak saya telepon tanya Bapak dan saudara-saudara yang lain di mana. Tiba-tiba kabar itu disampaikan. Saya teriak, saya tidak percaya!” kenangnya.

Jenazah Alfonsius rencananya diberangkatkan dari Papua menuju Makassar pada Jumat (11/9/2026), kemudian dilanjutkan ke Labuan Bajo pada Sabtu (12/9/2026) sebelum dibawa ke rumah duka di Kabupaten Sikka.

Rencana kepulangan Alfonsius ke Sikka pada Desember kini berubah menjadi kepulangan terakhir setelah hampir sembilan tahun bertugas di Papua.»(rel)

HUMANIORA

Bhayangkari Papua Salurkan 225 Karung Beras dan Logistik untuk Warga Nitunglea

Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan sejumlah kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa di Nitunglea, Palue, pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Published

on

Bantuan beras dan kebutuhan pokok dari Pengurus Daerah Bhayangkari Papua untuk warga terdampak gempa di Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores—Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan berbagai kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa bumi di Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026).

Bantuan dari Ny. Nova Patrige Renwarin bersama jajaran pengurus Bhayangkari Papua tersebut terdiri atas 225 karung beras berukuran lima kilogram, 25 dos minyak goreng kemasan satu liter, 600 dos air minum Aqua Gelas Nusra, 15 dos Energen, sembilan dos susu Dancow, dan 15 dos gula pasir.

Penyaluran bantuan ini berlangsung dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-75 Tahun 2026.

Pria 49 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Paga

Logistik diberangkatkan dari Kantor Polsubsektor Palue pukul 07.00 WITA menuju Kantor Desa Nitunglea. Serah terima bantuan kepada pemerintah desa berlangsung sekitar pukul 10.00 WITA untuk selanjutnya didistribusikan kepada warga sasaran.

Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue, Brigpol I Gusti Ngurah Putra Kencana, S.H., mendampingi penyaluran bersama Penjabat Kepala Desa Nitunglea, Bay Langko, S.Sos., serta aparat dan staf desa.

Distribusi bantuan berakhir sekitar pukul 17.00 WITA.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Pria 49 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Paga

Seorang pria berinisial Y.D.B. (49) ditemukan meninggal di ruang keluarga rumahnya di Paga, Sikka. Keluarga sempat berupaya memberikan pertolongan sebelum membawanya ke Puskesmas Wolofeo.

Published

on

Desa Masebewa, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, tempat seorang pria ditemukan meninggal pada Sabtu (10/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores—Seorang pria berinisial Y.D.B. (49), warga Dusun Warami, Desa Masebewa, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, ditemukan meninggal dunia oleh istrinya di ruang keluarga rumah mereka pada Sabtu (10/10/2026) sekitar pukul 05.30 WITA.

Menurut laporan kepolisian, istri korban, G.G. (47), menemukan suaminya saat keluar dari kamar setelah terbangun. Ia kemudian menghubungi anak mereka, A.P.S.N. (19), yang sedang menginap di rumah seorang teman, sekitar 25 meter dari kediaman keluarga.

Petani 35 Tahun Meninggal Setelah Tenggelam di Pantai Lela

Anak korban segera pulang. Bersama anggota keluarga, ia berusaha memberikan pertolongan sebelum membawa korban ke Puskesmas Wolofeo. Namun, tenaga medis menyatakan korban telah meninggal dunia sebelum tiba di puskesmas.

Setelah menerima laporan masyarakat, anggota Polsek Paga mendatangi lokasi untuk mendata korban dan saksi serta mengumpulkan keterangan. Polisi juga berkoordinasi dengan tenaga medis dan keluarga.

Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi maupun proses hukum lebih lanjut, sebagaimana tercatat dalam laporan kepolisian.

Hingga berita ini disusun, penyebab pasti kematian korban belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Petani 35 Tahun Meninggal Setelah Tenggelam di Pantai Lela

P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di Pantai Lela, Sikka. Dua nelayan berusaha mengevakuasinya setelah korban terlihat meminta pertolongan di laut.

Published

on

Perairan Pantai Lela, Desa Lela, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, tempat seorang petani berinisial P.N.L. dilaporkan tenggelam pada Sabtu (10/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores—P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di perairan Pantai Lela, tepat di depan Kantor Camat Lela, Desa Lela, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026) pagi.

Korban dilaporkan berada di laut sekitar pukul 08.30 WITA dan meminta pertolongan. Dua nelayan, B.Y. dan M.S., berusaha mengevakuasinya ke bibir pantai.

B.Y. mengatakan, sekitar pukul 08.00 WITA ia melihat korban menari dan melompat-lompat di tepi pantai. Sekitar 30 menit kemudian, ia melihat korban berada di laut sambil meminta pertolongan.

B.Y. berenang mendekati korban dan berusaha membawanya ke pantai. Karena kelelahan, ia meminta bantuan M.S. Keduanya kemudian membawa korban ke bibir pantai.

Warga selanjutnya menghubungi ambulans Puskesmas Nanga untuk membawa korban ke Rumah Sakit Santo Elisabeth Lela. Namun, korban meninggal dunia setelah mendapat penanganan medis.

Bhabinkamtibmas Bantu Keluarga Korban Kebakaran Posko Pengungsian Palue

Anggota Polsek Lela mendatangi lokasi setelah menerima laporan. Polisi mendata korban dan saksi serta berkoordinasi dengan tim medis rumah sakit dan keluarga korban.

Menurut keterangan saksi M.R.V., korban telah tinggal seorang diri di pondok miliknya selama hampir lima tahun. M.R.V. selama ini membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari korban.

Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi. Korban direncanakan dimakamkan pada Senin (12/10/2026) pukul 09.00 WITA.

Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti korban tenggelam belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending