Connect with us

SOSBUD

Papha dan AWAS Dorong Penerapan Pedoman Pemberitaan Kesehatan Jiwa di Sikka

Papha dan AWAS menyatakan akan melanjutkan penguatan kapasitas media.

Published

on

Papha mempertemukan media, organisasi pendamping, dan pemangku kepentingan untuk menyamakan pemahaman mengenai praktik peliputan yang aman, akurat, dan sesuai dengan pedoman yang direkomendasikan Dewan Pers. FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Yayasan Payung Perjuangan Humanis (Papha) Indonesia bersama Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) memperkuat penerapan pedoman pemberitaan kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri di Kabupaten Sikka melalui pelatihan yang melibatkan jurnalis, pemerintah daerah, dan organisasi masyarakat sipil, Selasa (9/6/2026).

Langkah tersebut dilakukan di tengah tingginya kasus bunuh diri di Kabupaten Sikka. Papha mencatat terdapat 13 kasus bunuh diri sepanjang 2025, menjadikan isu kesehatan jiwa sebagai salah satu persoalan sosial yang memerlukan perhatian lintas sektor.

Kegiatan itu diikuti perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sikka, Kelompok Kasih Insanis, Yayasan Abdi Kasih, serta jurnalis dari berbagai media yang bertugas di wilayah Kabupaten Sikka.

Officer Project Yayasan Papha Indonesia, Titon Nau, mengatakan media memiliki peran penting dalam membangun pemahaman publik mengenai kesehatan jiwa sekaligus mendukung upaya pencegahan bunuh diri. Karena itu, kualitas penyajian informasi dinilai menjadi faktor yang tidak terpisahkan dari strategi pencegahan.

“Kami berusaha menyikapi meningkatnya kasus bunuh diri di Kabupaten Sikka yang cenderung tinggi. Tahun lalu saja ada 13 kasus,” kata Titon.

Pria di Wairkoja Sikka Ditemukan Meninggal, Polisi Selidiki Dugaan Gantung Diri

Menurut dia, pemberitaan yang tidak memperhatikan prinsip-prinsip etika berpotensi menimbulkan dampak lanjutan di masyarakat. Sebaliknya, pemberitaan yang berorientasi pada edukasi dapat membantu meningkatkan kesadaran publik, mengurangi stigma terhadap penyintas gangguan kesehatan jiwa, serta memperluas akses informasi mengenai layanan bantuan yang tersedia.

Melalui kegiatan tersebut, Papha mempertemukan media, organisasi pendamping, dan pemangku kepentingan untuk menyamakan pemahaman mengenai praktik peliputan yang aman, akurat, dan sesuai dengan pedoman yang direkomendasikan Dewan Pers.

“Peran media sangat penting untuk mendukung berbagai upaya preventif, termasuk memberikan edukasi terkait persoalan kesehatan jiwa,” ujarnya.

FF Ditemukan Tewas Gantung Diri di Kebun Miliknya

Ketua AWAS, Mario W.P. Sina, mengatakan kolaborasi dengan Papha telah memasuki pelaksanaan kedua dan difokuskan pada penguatan kapasitas jurnalis dalam meliput isu kesehatan jiwa secara profesional.

Menurut Mario, tantangan terbesar saat ini tidak hanya berada pada ruang redaksi media arus utama, tetapi juga pada derasnya arus informasi di media sosial yang sering kali mempublikasikan kasus bunuh diri secara terbuka tanpa mempertimbangkan dampak psikologis maupun aspek etika.

“Kalau teman-teman media di Sikka, banyak yang sudah menaati pedoman pemberitaan Dewan Pers terkait kasus bunuh diri berkat kegiatan-kegiatan yang dilakukan bersama Yayasan Papha,” katanya.

Pria 40 Tahun Tewas Gantung Diri di Pohon Jambu Mente

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya peningkatan kesadaran di kalangan media lokal terhadap pentingnya peliputan yang tidak mengeksploitasi korban, tidak mengungkap detail metode bunuh diri, serta menghindari narasi yang berpotensi memicu peniruan.

Selain menyasar jurnalis, kegiatan tersebut juga menjadi ruang koordinasi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas pendamping untuk memperkuat literasi kesehatan jiwa di Kabupaten Sikka.

Papha dan AWAS menyatakan akan melanjutkan penguatan kapasitas media serta memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak guna mendorong praktik pemberitaan yang mendukung upaya pencegahan bunuh diri dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan jiwa.

Hingga Juni 2026, kedua organisasi masih menyusun langkah lanjutan untuk memperluas jangkauan edukasi kepada media, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya di Kabupaten Sikka.»(rel)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SOSBUD

Sendratari Toja Bobu Bertahan Lebih dari Empat Abad, Warisan Budaya Sikka yang Terus Hidup

Tokoh Prinseja dan Mascador itu menjadi salah satu simbol hubungan sejarah Sikka dan Portugal.

Published

on

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, Mauritius Minggo, yang membacakan sambutan Bupati Sikka, mengatakan Festival Natar Sikka menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus menjaga warisan budaya yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat. FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Tidak banyak kesenian tradisional di Indonesia yang masih dipentaskan secara turun-temurun setelah melewati lebih dari empat abad. Di Kampung Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Sendratari Toja Bobu menjadi salah satunya.

Drama tari yang diyakini telah hidup sejak masa awal perjumpaan masyarakat Sikka dengan bangsa Portugis itu kembali dipentaskan dalam Festival Natar Sikka 2026 di halaman Kantor Desa Sikka, Rabu (22/7/2026). Bagi masyarakat setempat, Toja Bobu bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan warisan budaya yang terus merawat ingatan kolektif tentang sejarah panjang akulturasi yang membentuk identitas Kampung Sikka.

Di tengah semakin berkurangnya kesenian tradisional yang mampu bertahan menghadapi perubahan zaman, Toja Bobu tetap dipelihara dan diwariskan dari generasi ke generasi. Pertunjukan yang menghadirkan tokoh Prinseja dan Mascador itu menjadi salah satu simbol hubungan sejarah Sikka dan Portugal yang jejaknya masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat hingga sekarang.

Tema Festival Natar Sikka tahun ini, “Celebration of Sikka and Portuguese Folk Culture”, mencerminkan warisan budaya tersebut. Kampung Sikka dikenal sebagai salah satu kawasan di Indonesia Timur yang masih memperlihatkan kuatnya jejak perjumpaan budaya Nusantara dan Portugis, baik melalui seni pertunjukan, musik, arsitektur, tradisi lisan, hingga situs-situs bersejarah.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, Mauritius Minggo, yang membacakan sambutan Bupati Sikka, mengatakan Festival Natar Sikka menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus menjaga warisan budaya yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat.

Hari Anak Nasional: Yang Sesungguhnya Sedang Diuji Adalah Orang Dewasa

“Festival ini bukan hanya pertunjukan seni budaya. Ini adalah ruang untuk merawat jati diri, memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada dunia, sekaligus membangun persahabatan antarbangsa,” kata Mauritius.

Menurutnya, jejak hubungan sejarah tersebut masih dapat dikenali melalui berbagai peninggalan budaya di Kampung Sikka, seperti Gereja Tua St. Ignasius Loyola, Regalia Kerajaan Sikka, Lepo Gete, Logu Senhor, Patung Meninu, hingga Sendratari Toja Bobu yang terus dipentaskan secara turun-temurun.

Selain Toja Bobu, festival juga menampilkan Tari Tuku Tena yang menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir sebagai nelayan dan pelaut, Tari Jata Kapa, peragaan busana budaya, serta berbagai pertunjukan seni dari pelajar SMP Negeri Watu Pajung Sikka, SMPK Bunga Fatima Lela, dan SDK Sikka.

Festival Natar Sikka pertama kali digelar pada 2022 atas inisiatif Karang Taruna Nibong Sikka bersama Pemerintah Desa Sikka. Dalam perkembangannya, festival ini menjadi agenda budaya tahunan yang mempertemukan masyarakat lokal dengan tamu dari berbagai daerah maupun mancanegara.

Sikka Susun Daftar Data Daerah 2026, Jadi Acuan Perencanaan dan Pelayanan Publik

Pada penyelenggaraan tahun ini, kelompok tari rakyat asal Portugal, Viras do Tio Xico, semula dijadwalkan tampil pada pembukaan festival. Namun, rombongan yang beranggotakan 23 orang itu belum dapat tiba sesuai jadwal setelah penerbangan dari Kupang menuju Larantuka dibatalkan akibat erupsi Gunung Lewotobi.

Panitia menjadwalkan rombongan tersebut tiba di Kampung Sikka pada Jumat (24/7/2026) melalui Ende untuk menggelar pertunjukan di halaman Gereja St. Ignasius Loyola Sikka.

Festival Natar Sikka 2026 turut dihadiri perwakilan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Sikka Valerianus Samador, Camat Lela Konstantinus Saru, Pastor Paroki Sikka RD Feliks Dari, Pater Willem Juley, SVD, Pater Ansel Doredae, SVD, Penjabat Kepala Desa Sikka Anis Mitang, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta ratusan warga.

Di banyak tempat, sejarah hanya tersimpan dalam arsip, museum, atau buku pelajaran. Di Kampung Sikka, sejarah masih hidup di tengah masyarakat melalui musik, ritual, bangunan tua, dan tarian yang terus dipentaskan. Selama Sendratari Toja Bobu tetap diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, kisah perjumpaan Sikka dan Portugal tidak hanya dikenang, tetapi terus dihidupi sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.»(rel)

Continue Reading

SOSBUD

Pemkab Sikka Gandeng SOS Children’s Villages Bangun Model Pengentasan Kemiskinan Ekstrem, Dua Desa Jadi Percontohan

SOS Children’s Villages Flores mengembangkan pendekatan konvergensi dengan mengintegrasikan berbagai program dan sumber daya.

Published

on

"Dalam tekanan ekonomi, anak-anak adalah kelompok yang paling rentan kehilangan hak-hak dasarnya. Karena itu, strategi kita harus bergeser dari sekadar memberikan bantuan sesaat menuju penguatan kapasitas keluarga agar mampu mandiri secara berkelanjutan." FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Pemerintah Kabupaten Sikka bersama SOS Children’s Villages Flores membangun model kolaborasi pengentasan kemiskinan ekstrem berbasis konvergensi di Desa Habi, Kecamatan Kangae, dan Desa Gong Bekor, Kecamatan Alok Timur. Kedua desa tersebut diproyeksikan menjadi percontohan penanganan kemiskinan yang melibatkan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, akademisi, media massa, dan masyarakat secara terpadu.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Workshop Kolaboratif Menggapai Model Aksi Konvergensi Pengentasan Kemiskinan dan Kemiskinan Ekstrem yang dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan di Aula Bapperida Kabupaten Sikka, Rabu (15/7/2026).

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, mengatakan kemiskinan tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan rendahnya pendapatan, tetapi juga berkaitan dengan keterbatasan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, perlindungan sosial, dan lingkungan pengasuhan yang layak bagi anak.

“Dalam tekanan ekonomi, anak-anak adalah kelompok yang paling rentan kehilangan hak-hak dasarnya. Karena itu, strategi kita harus bergeser dari sekadar memberikan bantuan sesaat menuju penguatan kapasitas keluarga agar mampu mandiri secara berkelanjutan,” katanya.

Menurut Bupati, keberhasilan pengentasan kemiskinan harus dibangun melalui empat pilar utama, yakni penguatan pengasuhan keluarga, pemenuhan layanan dasar, penguatan ekonomi keluarga, serta partisipasi anak dalam proses pembangunan.

Pada aspek penguatan ekonomi keluarga, pemerintah mendorong pelatihan keterampilan, pendampingan usaha, pembentukan kelompok ekonomi produktif, peningkatan akses permodalan, pengembangan produk lokal, hingga perluasan akses pasar. Sementara pada layanan dasar, pemerintah menekankan pentingnya akses pendidikan, kesehatan, gizi, air bersih, sanitasi, perlindungan sosial, identitas kependudukan, dan perlindungan anak.

Bupati Sikka Ajak Siswa Baru SMP Negeri Nubarat Bangun Karakter, Disiplin, dan Budaya Sekolah yang Aman

Juventus menegaskan upaya menurunkan angka kemiskinan ekstrem tidak mungkin diselesaikan oleh satu organisasi perangkat daerah atau satu lembaga saja. Karena itu, ia meminta seluruh pemangku kepentingan meninggalkan ego sektoral dan membangun kolaborasi.

“Pemerintah, akademisi, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, media massa, hingga masyarakat harus berjalan bersama. Kolaborasi adalah kunci agar program ini benar-benar berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap model yang dikembangkan di Desa Habi dan Desa Gong Bekor dapat menjadi rujukan bagi pelaksanaan program serupa di desa-desa lain di Kabupaten Sikka.

Dalam kesempatan itu dijelaskan, SOS Children’s Villages Flores mengembangkan pendekatan konvergensi dengan mengintegrasikan berbagai program dan sumber daya lintas sektor agar intervensi terhadap keluarga miskin berlangsung lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan.

Melalui pendekatan tersebut, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, akademisi, dan media diharapkan dapat menyatukan langkah dalam mendampingi keluarga sasaran agar mampu keluar dari kemiskinan secara mandiri.

Rapat koordinasi yang berlangsung selama 15–16 Juli 2026 itu juga diarahkan untuk mengidentifikasi penyebab kemiskinan ekstrem di Kabupaten Sikka, menyusun strategi dan program prioritas, serta merumuskan rekomendasi kebijakan yang dapat mempercepat penurunan angka kemiskinan ekstrem.

Kegiatan tersebut dihadiri pimpinan perangkat daerah, organisasi masyarakat sipil, pelaku dunia usaha, akademisi, perwakilan Aliansi Wartawan Sikka, Camat Alok Timur, Camat Kangae, Penjabat Kepala Desa Habi, serta Penjabat Kepala Desa Gong Bekor.»(rel)

Continue Reading

SOSBUD

Pria di Talibura Ditemukan Tewas di Kebun, Polisi Selidiki Dugaan Serangan Babi Hutan

Saat itu, korban mendengar suara gonggongan anjing peliharaannya dari arah kebun.

Published

on

Dugaan sementara mengarah pada serangan babi hutan setelah tenaga medis menemukan luka gigitan binatang pada tubuh korban. FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Seorang petani berinisial M.B. (50), warga Desa Likong Gete, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, ditemukan meninggal dunia di kebun mente Dusun Wailamung, Desa Wailamung, Rabu (15/7/2026) sekitar pukul 11.00 WITA.

Korban ditemukan setelah diduga mengalami serangan binatang liar saat berada di kebun. Dugaan sementara mengarah pada serangan babi hutan setelah tenaga medis menemukan luka gigitan binatang pada tubuh korban.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, sebelum ditemukan meninggal, korban sekitar pukul 07.00 WITA masih berada di rumah bersama adiknya sambil minum kopi.

Saat itu, korban mendengar suara gonggongan anjing peliharaannya dari arah kebun. Korban kemudian mengambil perlengkapan berburu berupa parang, tombak, dan senapan angin, lalu menuju lokasi yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah.

Beberapa jam kemudian korban belum kembali. Adiknya kemudian mencari korban ke arah kebun.

Dalam perjalanan menuju pondok kebun, saksi bertemu dengan anjing peliharaan korban dan mengikuti arah pergerakannya. Tidak lama berselang, saksi menemukan korban dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

Saksi kemudian kembali ke rumah dan menyampaikan kejadian tersebut kepada keluarga.

Mendapat laporan tersebut, personel Polsek Waigete bersama Tim Identifikasi (INAFIS) Polres Sikka mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan keterangan dari saksi.

Terduga Pelaku Pemerkosaan di Sikka Belum Ditangkap Hampir Dua Tahun, Keluarga Korban Desak Polisi Bertindak

Polisi juga berkoordinasi dengan tenaga medis Puskesmas Watubaing untuk melakukan pemeriksaan luar terhadap jenazah.

Dari hasil pemeriksaan luar, dokter Puskesmas Watubaing menemukan sejumlah luka gigitan binatang pada tubuh korban yang diduga berasal dari babi hutan.

Namun, penyebab pasti kematian korban belum dapat dipastikan karena pemeriksaan hanya dilakukan secara luar. Pihak keluarga menolak proses autopsi dan telah membuat surat pernyataan resmi terkait penolakan tersebut.

Saat polisi dan Tim INAFIS tiba di lokasi, jenazah korban telah lebih dahulu dievakuasi oleh keluarga ke rumah duka.

Keluarga korban menyatakan menerima kejadian tersebut sebagai musibah. Jenazah korban kemudian disemayamkan di rumah duka Dusun Wailamung untuk dimakamkan sesuai prosesi adat dan keagamaan keluarga.

Hingga saat ini, kepolisian masih melakukan pendokumentasian hasil pemeriksaan dan penyelidikan untuk memastikan rangkaian peristiwa yang menyebabkan korban meninggal dunia.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending