PENKES
Empat SMP di Kecamatan Nita Ikuti Lomba Empat Konsensus Kebangsaan
Empat sekolah menengah pertama di Kecamatan Nita mengikuti Lomba Cerdas Cermat Empat Konsensus Kebangsaan sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang berlangsung pada 6–7 Agustus 2026.
MAUMERE, GardaFlores — Sebanyak empat sekolah menengah pertama (SMP) di Kecamatan Nita mengikuti Lomba Cerdas Cermat Empat Konsensus Kebangsaan yang digelar di Aula SMP Negeri Nita pada 6–7 Agustus 2026. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu menguji pemahaman peserta mengenai Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.
Sekretaris Camat Nita, Laurensius Nale, yang membuka kegiatan mewakili Camat Nita, mengatakan pemahaman terhadap empat konsensus kebangsaan penting dimiliki pelajar sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk di tengah perkembangan teknologi informasi dan media digital.

“Sebagai generasi penerus bangsa, kalian harus memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” kata Laurensius.
Ia juga mengajak para pelajar menggunakan media sosial secara bijak, menghormati guru dan orang tua, serta menjauhi penyalahgunaan narkoba, minuman keras, dan bentuk kenakalan remaja lainnya.
Aris Nuaria: Insiden BTA di Soeratin U-17 Jadi Ujian Pembinaan Sepak Bola Usia Muda
Ketua Panitia HUT RI Kecamatan Nita, Theresia Erlinda, mengatakan lomba tersebut merupakan salah satu kegiatan dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di tingkat kecamatan.
Menurut dia, selain menguji pengetahuan peserta mengenai empat konsensus kebangsaan, kegiatan itu juga menjadi sarana mempertemukan pelajar dari berbagai sekolah di Kecamatan Nita.

Empat sekolah yang mengikuti lomba adalah SMP Negeri 1 Nita, SMP Negeri Bloro, SMPK Santi Sima Trinitas, dan SMPK Kimang Buleng.
Pembukaan kegiatan dihadiri Camat Nita Fransiskus Herpianus Nong Lalang, Kepala SMP Negeri Nita, guru pendamping, dewan juri, dan para peserta.
Lomba berlangsung selama dua hari, 6–7 Agustus 2026.»(rel)
PENKES
18 Tim OPD Ikuti Turnamen Futsal HUT RI ke-81 di Sikka
Sebanyak 18 tim putra dari organisasi perangkat daerah Kabupaten Sikka mengikuti Turnamen Futsal HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kompetisi yang dibuka Bupati Sikka itu juga diikuti sejumlah tim putri dari OPD dan instansi pemerintah.
MAUMERE, GardaFlores — Sebanyak 18 tim putra dari organisasi perangkat daerah (OPD) Kabupaten Sikka mengikuti Turnamen Futsal Antar-Perangkat Daerah dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Turnamen yang dibuka Bupati Sikka, Juventus Yoris Prima Kago, di Maumere, Kamis (6/8/2026), juga diikuti sejumlah tim putri dari OPD dan instansi pemerintah.
Ketua panitia, Margaretha Movaldes Da Maga Bapa, mengatakan turnamen kembali digelar setelah pelaksanaan sebelumnya mendapat respons yang tinggi dari perangkat daerah.
“Pada awalnya kami membatasi peserta hanya delapan perangkat daerah pada setiap putaran. Namun karena minat cukup tinggi, kami kembali membuka putaran berikutnya. Perangkat daerah yang belum memiliki pemain lengkap juga diberi kesempatan membentuk tim gabungan maksimal dua OPD,” kata Margaretha.
Menurut dia, lapangan yang digunakan merupakan bekas lapangan tenis yang direhabilitasi menjadi lapangan futsal. Selain menjadi sarana olahraga, fasilitas tersebut dimanfaatkan sebagai ruang interaksi antaraparatur pemerintah daerah.
Empat SMP di Kecamatan Nita Ikuti Lomba Empat Konsensus Kebangsaan
Untuk memimpin pertandingan, panitia melibatkan 13 wasit berlisensi nasional dari Asosiasi Futsal Kabupaten Sikka.
“Kami memastikan seluruh pertandingan dipimpin wasit yang memiliki kompetensi sehingga kompetisi berjalan sesuai regulasi,” ujarnya.
Pada putaran pertama, kategori putra dimenangkan Satpol PP Damkar, diikuti RSUD TC Hillers Maumere, tim gabungan Dinas Perhubungan–Kelurahan Madawat, dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Di kategori putri, BKD menjadi juara, disusul Dinas PUPR, Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas Sosial.

Sementara pada putaran kedua, Inspektorat Kabupaten Sikka meraih juara kategori putra, diikuti Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan tim gabungan Bapperida–KB. Di kategori putri, RSUD TC Hillers menjadi juara, disusul Satpol PP Damkar, Bapperida, dan Kecamatan Alok Timur.
Bupati Sikka, Juventus Yoris Prima Kago, mengatakan turnamen tersebut diharapkan menjadi ajang mempererat hubungan antaraparatur pemerintah daerah.
“Yang paling penting adalah menjaga sportivitas, memperkuat kebersamaan antarperangkat daerah, dan memastikan seluruh pertandingan berlangsung aman hingga selesai,” kata Juventus.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan sebagai bagian dari pembinaan olahraga di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sikka.
Turnamen futsal antar-OPD menjadi salah satu rangkaian kegiatan Pemerintah Kabupaten Sikka dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.»(rel)
PENKES
Aris Nuaria: Insiden BTA di Soeratin U-17 Jadi Ujian Pembinaan Sepak Bola Usia Muda
“Justru dalam kondisi seperti inilah kualitas pembinaan diuji.”
MAUMERE, GardaFlores – Insiden mogok bermain yang dilakukan Bintang Timur Atambua (BTA) pada laga melawan Persami Maumere di ajang Soeratin Cup U-17 terus memantik tanggapan dari kalangan pemerhati sepak bola di Nusa Tenggara Timur. Salah satunya datang dari pemerhati sepak bola Maumere, Aris Nuaria, yang menilai peristiwa tersebut perlu dijadikan bahan evaluasi dalam pembinaan pemain usia muda.
Menurut Aris, insiden yang terjadi menjelang berakhirnya pertandingan tidak hanya berkaitan dengan keputusan wasit yang dipersoalkan, tetapi juga menyangkut aspek pendidikan karakter dalam kompetisi usia dini.
“BTA selama ini dikenal sebagai salah satu akademi yang konsisten melahirkan pemain muda di NTT. Justru karena reputasi itu, peristiwa ini menjadi ujian bagi proses pembinaan yang selama ini dibangun,” katanya kepada GardaFlores, Selasa (4/8/2026).
Ia menilai pihak yang paling terdampak dari penghentian pertandingan adalah para pemain. Menurutnya, kompetisi kelompok umur tidak semata menjadi ruang untuk mengejar kemenangan, tetapi juga tempat pemain belajar menghadapi tekanan pertandingan, menerima keputusan yang tidak menguntungkan, dan menyelesaikan laga hingga peluit akhir.
“Pembinaan usia muda tidak hanya berbicara tentang kemampuan teknik dan taktik. Sportivitas, disiplin, serta kemampuan mengendalikan emosi juga menjadi bagian penting dari proses pembentukan pemain,” ujarnya.
Aris juga menyoroti peran pelatih dan ofisial dalam mendampingi pemain selama pertandingan. Ia berpendapat setiap keberatan terhadap keputusan perangkat pertandingan seharusnya disampaikan melalui mekanisme yang diatur dalam regulasi kompetisi.
“Pelatih dan ofisial memiliki tanggung jawab menjaga ketenangan pemain. Protes adalah hak setiap tim, tetapi penyampaiannya perlu dilakukan melalui prosedur yang tersedia,” katanya.
Nirwana 04 Menangi Duel Sarat Tensi, Penalti Felsiana Bungkam Persami di Gelora Samador
Menurut Aris, BTA tetap memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan sepak bola Nusa Tenggara Timur melalui pembinaan pemain usia muda yang selama ini dijalankan. Karena itu, ia berharap insiden tersebut tidak mengaburkan rekam jejak pembinaan yang telah dibangun, tetapi menjadi momentum untuk melakukan evaluasi.
Ia juga mengingatkan bahwa kompetisi Soeratin Cup U-17 masih berlangsung sehingga seluruh peserta diharapkan tetap menghormati regulasi yang berlaku demi menjaga kualitas kompetisi.
“Akademi yang besar bukan hanya diukur dari jumlah gelar atau pemain yang dihasilkan, tetapi juga dari sikap ketika menghadapi situasi yang sulit. Justru dalam kondisi seperti inilah kualitas pembinaan diuji,” ujarnya.
Insiden pada laga BTA melawan Persami Maumere kini masih menjadi perhatian publik sepak bola NTT. Hingga berita ini ditulis, penyelenggara kompetisi belum mengumumkan keputusan resmi terkait konsekuensi pertandingan tersebut sesuai regulasi yang berlaku.»(rel)
PENKES
Sekolah di Maumere Bangun Ekosistem Literasi, 300 Siswa Ikuti Reading Camp Berbasis Pembiasaan Membaca
Reading Camp di SDK Yos Sudarso memperlihatkan penguatan literasi tidak selalu bergantung pada pembangunan fasilitas baru.
MAUMERE, GardaFlores — Di tengah berbagai tantangan literasi anak Indonesia, SDK Yos Sudarso Maumere memilih membangun budaya membaca melalui pembiasaan yang berlangsung setiap hari di sekolah. Komitmen itu diperkuat melalui Reading Camp yang melibatkan sekitar 300 peserta didik sebagai bagian dari pengembangan ekosistem literasi sejak usia dasar.
Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah, Senin (3/8/2026), tidak dirancang sebagai lomba membaca ataupun kegiatan seremonial, melainkan menjadi bagian dari strategi sekolah membiasakan peserta didik berinteraksi dengan buku sesuai tahap perkembangan mereka.
Program tersebut mendapat dukungan Tim Literasi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Camat Alok Timur Kasianus Kei, perwakilan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sikka Yosef Supratman, S.Pd., Pemerintah Kelurahan Beru, Komite Sekolah, guru, orang tua, serta berbagai unsur masyarakat.
Reading Camp dikembangkan melalui konsep Wisata Literasi, dengan materi yang disusun secara bertahap mulai dari pengenalan huruf, penguasaan kosakata, merangkai kalimat, membaca lancar, hingga membaca pemahaman bagi peserta didik yang telah memiliki kemampuan literasi lebih tinggi.
20 Tim SD Bersaing di Merdeka Cup I Nita, Ajang Pembinaan Talenta Sepak Bola Usia Dini
Kepala SDK Yos Sudarso Maumere, Sr. Hubertina Nino, mengatakan peningkatan kemampuan membaca hanya dapat dicapai apabila literasi menjadi kebiasaan yang tumbuh dalam kehidupan sekolah, bukan sekadar program yang dilaksanakan pada momen tertentu.
“Di SDK Yos Sudarso, kami telah menerapkan Gong Literasi Gerakan 30 Menit Membaca sebelum pembelajaran dimulai dan setelah jam sekolah berakhir. Program ini dipadukan dengan implementasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia sehingga membaca menjadi bagian dari karakter, bukan sekadar kewajiban. Kami ingin melahirkan generasi yang gemar membaca, mampu berpikir kritis, kreatif, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan literasi menjadi fondasi bagi peserta didik untuk memahami informasi, menyelesaikan persoalan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis sejak usia sekolah dasar.
Camat Alok Timur, Kasianus Kei, menilai pembiasaan membaca perlu menjadi gerakan bersama seluruh satuan pendidikan karena literasi, numerasi, dan sains merupakan fondasi pembangunan sumber daya manusia.
“Anak-anak yang rajin membaca akan memiliki wawasan yang luas, kemampuan berpikir logis, serta mampu mengambil keputusan dengan bijaksana. Literasi bukan hanya kemampuan membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami kehidupan. Saya mengajak seluruh sekolah menjadikan gerakan literasi sebagai budaya bersama agar lahir generasi Kabupaten Sikka yang cerdas, berkarakter, inovatif, dan berdaya saing,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales. Ia menilai Reading Camp menjadi contoh praktik baik dalam membangun budaya membaca karena memadukan pembelajaran, pembiasaan, dan keterlibatan berbagai pihak.
Bunda Literasi Sikka Ajak Orang Tua Bangun Budaya Membaca, Kurangi Ketergantungan Anak pada Gawai
“Kegiatan literasi memiliki peran penting dalam membentuk generasi pembelajar sepanjang hayat. Anak-anak yang terbiasa membaca akan lebih mudah memahami pelajaran, berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik, serta berani bermimpi dan mewujudkan cita-citanya. Kami berharap kegiatan seperti ini menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Sikka,” ujarnya.
Ia mendorong sekolah-sekolah memperkuat fungsi perpustakaan sebagai pusat belajar sekaligus memperluas kolaborasi dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan dalam mengembangkan berbagai program literasi.
Reading Camp di SDK Yos Sudarso memperlihatkan bahwa penguatan literasi tidak selalu bergantung pada pembangunan fasilitas baru, tetapi dapat dimulai melalui pembiasaan membaca yang dilakukan secara konsisten, didukung metode pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan peserta didik, serta melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Model tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana gerakan literasi dapat dikembangkan dari tingkat sekolah untuk membentuk budaya belajar yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia sejak jenjang pendidikan dasar.»(rel)
-
NASIONAL10 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA11 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
