SOSBUD
Fista Sambuari Kago Dorong Konservasi Laut lewat Kampanye Ekosistem Bawah Laut Pulau Pemana
Ini sebagai upaya memperkuat kesadaran publik menjaga kebersihan pantai dan mengurangi pencemaran laut.
MAUMERE, GardaFlores — Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, mengampanyekan pelestarian ekosistem bawah laut melalui aksi penyelaman di perairan Pulau Pemana, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Rabu (3/6/2026).
Aksi tersebut menjadi bagian dari edukasi lingkungan dan promosi wisata bahari berkelanjutan di kawasan Teluk Maumere yang selama ini dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut dan potensi wisata bawah laut di Nusa Tenggara Timur.
Dalam keterangannya, Fista menegaskan upaya menjaga lingkungan tidak dapat dipisahkan antara kawasan daratan dan laut karena keduanya menjadi penopang utama kehidupan masyarakat pesisir di Kabupaten Sikka.
“Menjaga Nian Tana Sikka bukan hanya tentang kebersihan di darat, tetapi juga tentang melindungi ekosistem bawah laut yang menjadi kekayaan alam dan sumber kehidupan masyarakat,” katanya.
Pulau Pemana merupakan salah satu destinasi wisata bahari unggulan di Kabupaten Sikka. Kawasan tersebut dikenal memiliki titik snorkeling dan penyelaman dengan panorama terumbu karang, biota laut, serta ikon patung pemain gendang di dasar laut yang menjadi daya tarik wisatawan.
Di kawasan itu juga dikembangkan area transplantasi terumbu karang sebagai bagian dari rehabilitasi ekosistem laut. Program tersebut diarahkan untuk menjaga habitat ikan, memperkuat ekosistem pesisir, dan mendukung keberlanjutan sektor perikanan serta pariwisata bahari.
Menurut Fista, kekayaan laut Kabupaten Sikka memiliki nilai strategis dari sisi lingkungan, ekonomi, hingga pengembangan pariwisata daerah. Karena itu, pelestarian laut membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, terutama warga pesisir, nelayan, dan pelaku wisata.
Cafe Literasi di Pesisir Sikka Mulai Buka Akses Belajar Warga Desa
Ia mengingatkan masyarakat untuk menghindari praktik penangkapan ikan yang merusak, termasuk penggunaan bahan peledak dan racun yang berdampak langsung pada kerusakan terumbu karang dan habitat biota laut.
“Hindari aktivitas yang merusak laut dan biota yang dilindungi. Ketika kita menjaga laut hari ini, kita sedang menjaga sumber kehidupan generasi mendatang,” ujarnya.
Kampanye konservasi tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga kebersihan pantai, mengurangi pencemaran laut, dan mengembangkan wisata berbasis konservasi di wilayah Teluk Maumere.
Pemerintah daerah berharap potensi wisata bawah laut Pulau Pemana dapat terus berkembang sebagai destinasi wisata berkelanjutan yang memberi dampak ekonomi bagi masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Sejumlah komunitas masyarakat pesisir dan pelaku wisata bahari di Kabupaten Sikka dalam beberapa tahun terakhir juga mulai mengembangkan program konservasi berbasis masyarakat, termasuk transplantasi karang dan edukasi lingkungan laut bagi wisatawan.
Kegiatan kampanye lingkungan di Pulau Pemana tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Kabupaten Sikka sebagai salah satu kawasan wisata bahari unggulan di Nusa Tenggara Timur dengan pendekatan konservasi dan pemberdayaan masyarakat pesisir.»(rel)
SOSBUD
35 KK di Napugera Hampir Sebulan Kesulitan Air, Warga Soroti Kerusakan Fasilitas Desa
Kerusakan pipa dan bak penampungan air desa membuat 35 kepala keluarga di Dusun Puutua, Desa Napugera, Kecamatan Mego, Sikka, disebut hampir sebulan kesulitan mendapatkan air minum. Warga juga menyampaikan dugaan terkait kerusakan aset dan penggunaan anggaran desa yang meminta pemeriksaan pemerintah.
MAUMERE, GardaFlores — Sebanyak 35 kepala keluarga atau sekitar 95 jiwa di Dusun Puutua, Desa Napugera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, disebut mengalami kesulitan mendapatkan air minum selama hampir satu bulan setelah fasilitas air minum desa mengalami kerusakan.
Fasilitas yang dilaporkan rusak berupa pipa sepanjang sekitar 50 meter dan bak penampungan air minum di RT 04/RW 04 Dusun Puutua. Kerusakan tersebut menyebabkan aliran air yang selama ini digunakan warga tidak lagi mengalir ke permukiman.
Ikanasius Koti menyampaikan kondisi tersebut kepada wartawan di Maumere, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Koti, warga terpaksa mencari sumber air lain yang berjarak sekitar dua kilometer dari permukiman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Sudah sekitar satu bulan warga kesulitan mendapatkan air minum. Untuk mengambil air, warga harus menempuh jarak kurang lebih dua kilometer,” kata Koti.
Warga Rokirole Digigit Anjing Tetangga, Dapat Vaksin Anti Rabies
Koti mengatakan warga telah menyampaikan laporan mengenai kerusakan fasilitas tersebut secara berjenjang, mulai dari tingkat RT, kepala dusun, sekretaris desa, BPD hingga kepala desa. Namun, menurut dia, hingga kini belum ada penyelesaian yang memulihkan kembali layanan air bagi warga.
“Kami sudah melaporkan persoalan ini, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ujar Koti.
Dalam keterangannya, Koti juga menyebut adanya dugaan bahwa kerusakan fasilitas air desa tersebut dilakukan oleh salah seorang perangkat Desa Napugera, Alfonsus Panggo.
Dugaan itu, kata dia, menjadi bagian dari persoalan yang menurut warga perlu diperiksa oleh pemerintah. Namun, Koti tidak menyertakan hasil pemeriksaan atau bukti resmi yang telah menetapkan pihak tertentu sebagai pelaku perusakan.

Selain persoalan fasilitas air, Koti menyoroti sejumlah penggunaan anggaran Desa Napugera yang menurut keterangannya berkaitan dengan Panggo.
Ia menyebut pengadaan ternak kambing pada 2022 dianggarkan sekitar Rp75 juta. Menurut Koti, nilai yang diketahui warga terealisasi sekitar Rp40 juta.
Koti juga menyebut kegiatan hortikultura tahun 2022 dengan anggaran sekitar Rp45 juta, yang menurut keterangannya terealisasi sekitar Rp25 juta.
Sementara untuk kegiatan penanganan stunting pada 2025, Koti menyebut terdapat anggaran sekitar Rp35 juta dengan realisasi yang menurut dia diketahui sekitar Rp25 juta.
Air Ijukutu Mati Tiga Pekan, Warga Paga Pertanyakan Pengelolaan Proyek Miliaran
Perbedaan angka tersebut kemudian disebut Koti sebagai dugaan adanya dana yang belum dapat dipertanggungjawabkan. Namun, angka-angka tersebut masih berdasarkan keterangan yang disampaikannya dan belum disertai hasil audit atau pemeriksaan resmi yang dapat memastikan adanya penyimpangan.
Koti mengatakan warga telah menyampaikan berbagai persoalan tersebut kepada pemerintah desa dan BPD. Mereka berharap pemerintah Kecamatan Mego dan Pemerintah Kabupaten Sikka turun melakukan pemeriksaan, baik terhadap kondisi fasilitas air maupun penggunaan anggaran desa yang dipersoalkan.
Bagi warga, pemulihan fasilitas air menjadi kebutuhan yang paling mendesak karena kerusakan tersebut membuat puluhan keluarga harus mencari sumber air lain di luar permukiman.
Di sisi lain, dugaan mengenai kerusakan aset desa dan penggunaan anggaran juga dinilai perlu diklarifikasi melalui pemeriksaan yang sesuai dengan ketentuan sehingga dapat diketahui apakah terdapat pelanggaran atau tidak.
Hingga berita ini diterbitkan, GardaFlores belum memperoleh konfirmasi dari Alfonsus Panggo maupun Pemerintah Desa Napugera mengenai dugaan perusakan fasilitas air dan dugaan penyimpangan anggaran yang disampaikan Ikanasius Koti. Ruang klarifikasi tetap terbuka bagi pihak-pihak yang disebut dalam pemberitaan ini.»(rel)
SOSBUD
Warga Rokirole Digigit Anjing Tetangga, Dapat Vaksin Anti Rabies
Maria Ludvina Lanu, warga Desa Rokirole, Palue, mendapat Vaksin Anti Rabies setelah digigit anjing milik tetangganya pada Sabtu (5/9/2026).
MAUMERE, GardaFlores — Maria Ludvina Lanu (59), warga Dusun Koa, Desa Rokirole, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, mendapat Vaksin Anti Rabies (VAR) setelah digigit anjing milik tetangganya, Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 16.00 WITA.
Gigitan terjadi di rumah Maria di RT 009/RW 004. Saat itu, Maria sedang memberi makan anjing miliknya di dapur. Anjing milik tetangganya datang dan ikut mengambil makanan tersebut.
Ketika Maria berusaha memisahkan kedua anjing, anjing milik tetangganya menggigit betis kaki kirinya.
Setelah kejadian, Maria membersihkan luka menggunakan sabun sebelum dibawa ke Posko Kesehatan Tuanggeo untuk mendapatkan perawatan dan VAR.
Belum ada keterangan bahwa anjing yang menggigit Maria positif rabies. Petugas berkoordinasi dengan Puskesmas untuk melakukan observasi terhadap anjing tersebut dan menyiapkan langkah vaksinasi rabies.
Pekerjaan Pemulihan Pascagempa di Palue Berhenti Lima Hari Selama Ritual Adat Bhije
Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue, Brigpol I Gusti Ngurah Putra Kencana, S.H., mengimbau warga tetap waspada terhadap potensi penularan rabies dan tidak panik.
Kondisi Maria dilaporkan baik. Vaksinasi dosis kedua dijadwalkan pada 10 September 2026.
Petugas juga mengingatkan pemilik anjing agar mengikat atau mengandangkan hewan peliharaannya, menyediakan makanan dan minuman di tempat yang sesuai, serta memastikan anjing mendapatkan vaksinasi rabies melalui Dinas Peternakan.
Anjing yang menunjukkan perilaku agresif atau menggigit warga juga diminta tidak dibunuh atau diracuni secara sembarangan. Warga diminta melaporkan kejadian tersebut kepada aparat desa, RT/RW, Bhabinkamtibmas, atau petugas terkait agar hewan dapat ditangani dan diobservasi.»(rel)
SOSBUD
Air Ijukutu Mati Tiga Pekan, Warga Paga Pertanyakan Pengelolaan Proyek Miliaran
Air minum Ijukutu di Desa Paga tidak mengalir selama sekitar tiga pekan. Berhentinya petugas dan belum jelasnya kewenangan pengelolaan membuat layanan proyek bernilai miliaran rupiah itu terhenti.
MAUMERE, GardaFlores — Layanan air minum Ijukutu di Desa Paga, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, dilaporkan berhenti mengalir selama sekitar tiga pekan. Warga yang selama ini bergantung pada jaringan tersebut kembali kesulitan memperoleh air minum, sementara operasional proyek bernilai miliaran rupiah itu terhenti di tengah ketidakjelasan pengelolaan.
Tokoh masyarakat Paga, Longginus Nong, mengatakan terhentinya distribusi air berkaitan dengan pengelolaan jaringan dan keberadaan petugas yang sebelumnya menjalankan sistem tersebut.
Menurut dia, sejumlah petugas yang diangkat untuk mengoperasikan jaringan kini tidak lagi bekerja setelah disebut belum menerima upah selama sekitar tiga bulan.
“Air minum dari Ijukutu dibangun menggunakan anggaran yang nilainya mencapai miliaran rupiah. Tetapi sampai sekarang air tidak keluar. Ini karena pengelolaan di desa yang tidak menggunakan Perdes,” tegas Nong saat ditemui di Maumere, Kamis (3/9/2026).
Berhentinya petugas berdampak langsung terhadap operasional jaringan. Warga kemudian kehilangan akses terhadap air yang sebelumnya dialirkan melalui sistem Ijukutu.
9.185 Rumah Rusak, Korban Gempa Sikka Bertambah Menjadi 55 Orang
Nong juga menyoroti dasar pengangkatan petugas dan mekanisme pengelolaan jaringan yang selama ini berjalan. Menurut dia, kewenangan pengelolaan perlu memiliki dasar hukum yang jelas.
Di tengah layanan yang tidak berjalan, pelanggan disebut tetap dikenakan pungutan Rp25.000 per kepala keluarga setiap bulan. Nong mengatakan warga belum mengetahui regulasi desa yang menjadi dasar penetapan pungutan tersebut.
“Pelanggan dipungut Rp25.000 per KK setiap bulan, tanpa adanya regulasi yang dikeluarkan Pemerintah Desa Paga,” ujarnya.
Kondisi itu kemudian mengarah pada pertanyaan mengenai status jaringan Ijukutu, pihak yang memiliki kewenangan mengelolanya, serta mekanisme penggunaan dana yang berasal dari pembayaran pelanggan.
Pascagempa Ngada, PMI Turunkan Tim Medis dan Relawan untuk Pemulihan Trauma Warga
Nong menyebut proses serah terima aset dan kewenangan pengoperasian jaringan kepada Pemerintah Desa Paga juga belum memiliki kejelasan.
Pandangan berbeda disampaikan warga lainnya, Sius Kombe. Menurut dia, jaringan Ijukutu bukan proyek yang sejak awal dirancang sebagai sistem air minum desa, melainkan bagian dari pengembangan Ibu Kota Kecamatan atau IKK Paga.
Ia mengatakan proyek yang menggunakan Dana Alokasi Khusus tersebut direncanakan untuk mendukung sistem pelayanan air minum IKK Paga dan selanjutnya diserahkan kepada PDAM Kabupaten Sikka.
Karena itu, Sius menilai lokasi proyek di Desa Paga tidak serta-merta menentukan bahwa pengelolaan jaringan menjadi kewenangan pemerintah desa.
“Format usulan DAK selalu berbasis lokasi desa. Karena itu muncul nama proyek air minum Desa Paga. Tetapi semuanya untuk menghidupkan IKK Paga,” jelas Sius.
Mahasiswa Desil 1-5 di Sikka Disiapkan Beasiswa hingga Tamat Kuliah
Selain status pengelolaan, Pemerintah Kabupaten Sikka juga disebut sedang mengumpulkan data mengenai jaringan yang dipasang oleh pengelola sebelumnya. Data tersebut diperlukan sebelum dilakukan penataan dan proses serah terima.
Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui apakah pemasangan jaringan telah memenuhi ketentuan teknis. Kesesuaian pekerjaan dengan standar menjadi bagian penting karena kondisi jaringan akan menentukan keberlanjutan distribusi air kepada masyarakat.
Sementara proses penataan dan kejelasan kewenangan masih berjalan, warga Paga menghadapi kebutuhan yang lebih mendesak: air minum harus kembali mengalir.
Setelah sekitar tiga pekan layanan terhenti, jaringan yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah itu kini menunggu kepastian mengenai siapa yang mengelola, siapa yang bertanggung jawab atas operasionalnya, dan kapan pelayanan kepada masyarakat dapat kembali berjalan.»(rel)
-
NASIONAL11 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA12 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
