EKONOMI
Dari Kamar Kos ke Jaringan Flores, Nando Djawa Buktikan Bisnis Tak Harus Dimulai dari Modal Besar
Nando Djawa membangun Bajawa Jastip dari kamar kos di Surabaya dengan modal keberanian, kepercayaan pelanggan, dan kemampuan membaca kebutuhan masyarakat Flores.
BAJAWA, GardaFlores — Sebuah kamar kos di Surabaya pernah menjadi tempat Nando Djawa menata barang titipan sebelum dikirim ke kampung halaman. Tidak ada gudang besar, tidak ada kantor dengan fasilitas lengkap, dan tidak ada modal usaha dalam jumlah besar. Yang ada hanya satu hal: kebutuhan.
Dari kebutuhan itulah Nando, anak muda asal Ngada, melihat peluang. Ia mulai membantu warga di kampung mendapatkan barang dari Surabaya yang sulit diperoleh di daerah. Barang dibelikan, dikemas, lalu dikirim melalui jalur yang tersedia.
Usaha kecil itu kemudian berkembang menjadi Bajawa Jastip, layanan penitipan barang yang kini menghubungkan Surabaya dengan Bajawa dan sejumlah wilayah di Flores.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa sebuah usaha tidak selalu lahir dari modal besar. Dalam kasus Nando, modal awalnya justru berupa keberanian membaca persoalan, membangun kepercayaan, dan konsisten menjalankan layanan.
Sekitar 2019, ketika menjalani aktivitas sebagai perantau di Surabaya, Nando melihat kebutuhan masyarakat di kampung halaman yang belum mudah mendapatkan berbagai barang dari kota besar. Pandemi COVID-19 kemudian membuat kebutuhan tersebut semakin terasa. Nando memilih menjadikan persoalan itu sebagai peluang.
“Tahun 2014 saya sempat kuliah di universitas. Tapi saya melihat peluang ini nyata. Orang membutuhkan. Kalau saya serius, usaha ini bisa membantu banyak orang,” ujar Nando.
Dari aktivitas yang awalnya dilakukan dalam skala kecil, Bajawa Jastip perlahan tumbuh. Proses penerimaan dan pengemasan barang bahkan pernah dilakukan dari kamar kos.
Kamar kos menjadi ruang kerja pertama. Kepercayaan pelanggan kemudian menjadi modal yang membuat usaha tersebut terus bergerak.
Ketahanan Pangan Dimulai dari Desa, Program Let’s Grow Perkuat Kapasitas Petani Milenial di Sikka
Kini, Bajawa Jastip menawarkan tarif pengiriman yang disebut Nando sebesar Rp10.000 per kilogram. Pengiriman dari Surabaya dilakukan secara terjadwal, satu kali dalam sepekan, menyesuaikan jadwal kapal.
Untuk pengiriman dari Surabaya, barang dapat dikumpulkan di Bjw_Jastip, Semampir Selatan Gang 2A Nomor 8, Kecamatan Sukolilo, Kelurahan Medokan Semampir, Surabaya.
Bagi Nando, bisnis jasa titip tidak bisa hanya mengandalkan harga. Ada sesuatu yang jauh lebih mahal dan lebih sulit dibangun: kepercayaan.
Pelanggan bukan sekadar menitipkan barang. Mereka menitipkan kebutuhan keluarga, uang, dan kepercayaan kepada orang lain untuk memastikan barang tersebut sampai ke tujuan.
Karena itu, kejujuran dan tanggung jawab menjadi prinsip yang terus ia tekankan dalam menjalankan Bajawa Jastip.
Pertumbuhan usaha tersebut juga mulai memberikan dampak di luar kebutuhan pelanggan. Di Surabaya, Nando kini mempekerjakan sekitar 10 orang yang menangani penerimaan barang, pencatatan, pengemasan hingga persiapan pengiriman.
Bagi Nando, para pekerja tersebut bukan sekadar tenaga yang membantu menjalankan bisnis.
“Buat saya, karyawan itu keluarga. Kalau usaha kita bertumbuh, mereka juga harus merasakan,” katanya.
Dari satu orang yang memulai usaha, kini ada sekitar 10 orang yang ikut memperoleh penghasilan dari aktivitas bisnis tersebut.
Jaringan Bajawa Jastip pun semakin berkembang. Jalur layanan yang dibangun mencakup Surabaya–Bajawa–Mbay–Boawae–Maunori–So’a–Borong.
Di Bajawa, titik pengambilan barang berada di Lekosoro, Kelurahan Lebijaga, melalui jalur belakang Gereja St. Josep Bajawa.
Sebuah baliho bertuliskan Bajawa Jastip berdiri di lokasi tersebut.
Bagi Nando, kehadiran titik layanan itu bukan sekadar penanda lokasi usaha. Ia menjadi simbol dari perjalanan yang dimulai dari kamar kos hingga membangun jaringan distribusi yang menjangkau sejumlah wilayah di Flores.
Melalui layanan tersebut, jarak antara masyarakat di kampung dan pusat perdagangan di kota besar berusaha dipangkas.
Barang dari Surabaya dapat dikirim ke daerah. Pada saat yang sama, jaringan distribusi tersebut juga membuka peluang bagi produk lokal untuk bergerak keluar daerah.
Slogan yang digunakan pun sederhana: “Belanja di Bajawa, kami yang titipkan!”
Namun di balik pertumbuhan usaha itu, Nando mengatakan dirinya tidak ingin Bajawa Jastip hanya menjadi mesin untuk mencari keuntungan.
“Tujuan utama saya bukan cuma cari untung. Tapi bagaimana caranya supaya mama-mama di kampung tidak perlu jauh-jauh ke kota untuk mendapatkan barang bagus dengan harga wajar,” ungkapnya.
Pandangan tersebut membuat Bajawa Jastip memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar jasa pengiriman barang.
Bagi masyarakat di daerah yang akses terhadap pusat perdagangan masih terbatas, layanan semacam ini dapat menjadi penghubung antara kebutuhan sehari-hari dengan pasar yang lebih luas.
Bagi Nando, persoalan akses itulah yang sejak awal ingin ia jawab. Ketika orang lain melihat kesulitan memperoleh barang sebagai hambatan, ia melihatnya sebagai kebutuhan yang dapat dilayani.
Babak baru dalam perjalanan usaha tersebut kini juga dijalani bersama istrinya, Vera Namu. Keduanya menikah pada 23 Juli 2026 dan kini bersama-sama mengembangkan Bajawa Jastip.
Targetnya tidak berhenti pada jaringan yang sudah terbentuk. Nando ingin memperluas pelayanan agar semakin banyak masyarakat NTT dapat memperoleh akses terhadap barang dari luar daerah dengan cara yang lebih mudah.
“Bajawa Jastip adalah jasa penitipan barang yang terpercaya, aman, ramah, jujur dan bertanggung jawab. Bisa buktikan sendiri,” tegasnya.
Perjalanan Nando pada akhirnya menawarkan pelajaran yang lebih besar daripada sekadar bagaimana menjalankan bisnis jasa titip.
Ia menunjukkan bahwa peluang usaha sering kali berada sangat dekat dengan persoalan sehari-hari.
Tidak harus dimulai dengan kantor besar. Tidak harus menunggu modal besar. Bahkan tidak harus menunggu semua kondisi menjadi sempurna.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai, kemampuan menjaga kepercayaan, dan konsistensi untuk membuat usaha terus bertumbuh.
Dari kamar kos di Surabaya, Nando Djawa membangun Bajawa Jastip dan perlahan mengubahnya menjadi jaringan yang menghubungkan kota besar dengan kampung halaman.
Ia memulai dari kebutuhan orang lain, membangun usaha dari kepercayaan, lalu menciptakan pekerjaan bagi orang lain.
Bagi anak muda NTT, pesannya sederhana: jangan selalu menunggu pekerjaan datang.
Jika melihat persoalan yang bisa dijawab, ada kebutuhan yang bisa dilayani, dan ada peluang yang bisa dikembangkan, keberanian untuk memulai mungkin justru menjadi modal pertama yang paling penting.
Sebab sebuah usaha besar tidak selalu dimulai dari tempat yang besar.
Kadang, ia hanya dimulai dari sebuah kamar kos, sebuah kebutuhan, dan keputusan untuk mencoba.»(tim/rel)
EKONOMI
Kementerian UMKM Buka 3 Kanal Pengaduan bagi Pelaku Usaha, dari Izin hingga Bantuan
Pelaku UMKM yang menghadapi kendala perizinan, pembiayaan, program bantuan, atau layanan pemerintah dapat memanfaatkan tiga kanal pengaduan resmi yang disediakan Kementerian UMKM.
JAKARTA, GardaFlores — Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menghadapi kendala perizinan, pembiayaan, maupun program bantuan kini memiliki tiga kanal resmi untuk menyampaikan pengaduan dan mendapatkan layanan dari Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Tiga kanal yang disediakan adalah Call Center 106, WhatsApp Center 0811 380 280, dan SP4N-LAPOR!. Layanan tersebut dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk berkonsultasi maupun menyampaikan persoalan yang berkaitan dengan pelayanan dan kebutuhan usaha.
Kehadiran kanal pengaduan ini menjadi bagian dari upaya Kementerian UMKM membuka akses komunikasi yang lebih langsung dengan pelaku usaha, sekaligus memudahkan penyampaian persoalan yang ditemui di lapangan.
Melalui Call Center 106, pelaku UMKM dapat melakukan komunikasi langsung untuk memperoleh konsultasi maupun menyampaikan pengaduan.
Pekerjaan Pemulihan Pascagempa di Palue Berhenti Lima Hari Selama Ritual Adat Bhije
Sementara WhatsApp Center 0811 380 280 menyediakan layanan konsultasi melalui pesan, termasuk pengiriman dokumen yang berkaitan dengan persoalan yang disampaikan.
Untuk pengaduan yang ingin diproses melalui sistem pengelolaan pengaduan pelayanan publik secara nasional, pelaku UMKM dapat menggunakan SP4N-LAPOR!. Kanal ini dapat diakses melalui situs lapor.go.id maupun aplikasi SP4N-LAPOR!.
Dalam video sosialisasi #SapaUMKM, Kementerian UMKM menjelaskan bahwa pengguna SP4N-LAPOR! dapat memilih jenis laporan sesuai kebutuhan, yakni Pengaduan, Aspirasi, atau Permintaan Informasi.
Setelah laporan dikirim, pelapor akan memperoleh nomor resi. Nomor tersebut dapat digunakan untuk memantau perkembangan laporan, mulai dari proses verifikasi hingga tindak lanjut dan penyelesaian.
Identitas Pelapor Dapat Dilindungi
Bagi pelaku UMKM yang ingin menyampaikan persoalan yang bersifat sensitif, SP4N-LAPOR! juga menyediakan fitur Anonim dan Rahasia.
Fitur Anonim memungkinkan pelapor tidak menampilkan identitasnya, sedangkan fitur Rahasia dapat digunakan untuk membatasi akses terhadap informasi identitas pelapor. Fasilitas tersebut dapat menjadi pilihan ketika laporan berkaitan dengan persoalan yang berpotensi menimbulkan tekanan terhadap pelapor.
Air Ijukutu Mati Tiga Pekan, Warga Paga Pertanyakan Pengelolaan Proyek Miliaran
Kanal pengaduan dapat digunakan untuk berbagai persoalan yang dihadapi pelaku UMKM dalam mengakses layanan pemerintah. Kendala perizinan, pembiayaan, pelayanan, maupun program bantuan dapat disampaikan melalui kanal yang tersedia sesuai jenis kebutuhan.
Bagi pelaku usaha, penggunaan kanal resmi juga memungkinkan persoalan disampaikan melalui mekanisme yang dapat dipantau, terutama melalui SP4N-LAPOR! yang memberikan nomor resi setelah laporan diterima.
Kementerian UMKM mendorong pelaku usaha memanfaatkan kanal tersebut ketika membutuhkan informasi, konsultasi, atau hendak menyampaikan pengaduan terkait layanan dan program pemerintah.
Dengan tersedianya Call Center 106, WhatsApp Center 0811 380 280, dan SP4N-LAPOR!, pelaku UMKM tidak harus menyimpan sendiri persoalan yang mereka hadapi. Pengaduan dapat disampaikan melalui kanal resmi sesuai kebutuhan agar dapat diterima dan ditindaklanjuti melalui mekanisme yang tersedia.»(rel)
EKONOMI
Kapal Lampara Basaudara Tenggelam di Aimere, Nelayan dan ABK Kehilangan Alat Melaut
KM Lampara Basaudara tenggelam saat berlabuh di perairan depan PPN Aimere, Kabupaten Ngada. Warga dan nelayan kini berupaya mengapungkan kapal secara mandiri.
NGADA, GardaFlores — Kapal Motor Lampara Basaudara, milik nelayan No Bongkar alias No Weki, tenggelam saat berlabuh di perairan depan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Aimere, Desa Aimere Timur, Kabupaten Ngada, Minggu (30/8/2026).
Tenggelamnya kapal dengan tonase sekitar 20 ton itu menghentikan aktivitas melaut No Weki dan sejumlah anak buah kapal (ABK) yang selama ini menggantungkan pekerjaan pada kapal tersebut.
Hingga Minggu sore, KM Lampara Basaudara masih terendam di perairan Laut Sawu. Bagian kapal yang masih terlihat di permukaan hanya tiang dan panel surya.
Warga dan nelayan di sekitar lokasi kemudian melakukan upaya penyelamatan secara mandiri. Ananias Loma, Man Sina, Boni Wele bersama warga setempat berusaha mengapungkan kapal menggunakan drum bekas.
Drum-drum tersebut ditempatkan di sekitar bagian bawah kapal, kemudian diisi udara untuk menghasilkan daya apung dan mengangkat badan kapal secara bertahap.
Namun, proses pengapungan menghadapi kendala akibat kondisi perairan dan gelombang di Laut Sawu. Hingga berita ini diturunkan, upaya mengangkat kapal masih berlangsung.
KM Lampara Basaudara selama ini digunakan No Weki dan para ABK untuk menangkap ikan di perairan selatan Ngada. Hasil tangkapan kemudian dibawa dan dipasarkan melalui PPN Aimere.
Longsor Putus Akses Rokirole–Nitunglea, TNI-Polri Bersihkan Jalan Tanpa Alat Berat
Tenggelamnya kapal membuat kegiatan penangkapan ikan sementara berhenti. Bagi pemilik dan ABK, kapal tersebut merupakan sarana utama untuk menjalankan aktivitas ekonomi di laut.
Warga Aimere Timur berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan dukungan teknis serta peralatan yang dibutuhkan untuk membantu proses evakuasi kapal.
Penyebab tenggelamnya KM Lampara Basaudara belum diketahui. Sementara itu, warga dan nelayan masih berupaya mengapungkan kapal agar dapat kembali dievakuasi dari lokasi kejadian.»(tim/rel)
EKONOMI
Kopi Ngada Terancam Tua, Petani Mulai Peremajaan untuk Pulihkan Produktivitas
Dari 8.000 pohon yang ditanam, sebanyak 4.000 pohon merupakan varietas E88 dan 4.000 pohon lainnya varietas Kartika.
BAJAWA, GardaFlores — Sejumlah petani kopi di Kabupaten Ngada mulai melakukan peremajaan tanaman untuk meningkatkan kembali produktivitas kebun yang mengalami penurunan akibat banyak tanaman telah berusia tua.
Salah satunya dilakukan Kelompok Tani Cahaya Baru di Kelurahan Jawameze, Kecamatan Bajawa. Sejak November 2025, kelompok tani tersebut menanam 8.000 pohon kopi Arabika pada lahan seluas dua hektare.
Ketua Kelompok Tani Cahaya Baru, Feliks Kila, mengatakan sebagian tanaman kopi yang sudah melewati usia produktif menjadi salah satu penyebab rendahnya hasil panen petani.
“Petani kopi di Ngada harus mengubah mindset dan pola menanam kopi yang baik serta teratur. Banyak tanaman kopi kita sudah tua sehingga produksinya semakin sedikit setiap tahun,” kata Feliks.
Dari 8.000 pohon yang ditanam, sebanyak 4.000 pohon merupakan varietas E88 dan 4.000 pohon lainnya varietas Kartika. Masing-masing varietas ditanam pada lahan seluas satu hektare dengan jarak tanam sekitar 1 x 2,5 meter menggunakan sistem pagar.
Menurut Feliks, varietas tersebut dipilih karena dinilai memiliki potensi produksi lebih cepat. Dengan pemupukan dan perawatan yang baik, tanaman disebut dapat mulai berproduksi sekitar 18 bulan setelah ditanam.
Gempa M7,7 Hantam Ngada: Rumah Roboh, Fasilitas Publik Rusak, Warga Riung Masih Menunggu Bantuan
Peremajaan dilakukan secara bertahap untuk menggantikan tanaman yang sudah tidak produktif sekaligus mempertahankan produksi kebun.
Langkah serupa juga dilakukan petani muda di Ngada. Riko Nono saat ini mengembangkan kebun kopi pada lahan sekitar tiga hektare dengan target mencapai 12.000 pohon.
Penanaman ditargetkan berlangsung pada November dan Desember. Riko juga merencanakan penambahan sekitar 4.000 pohon kopi varietas Ateng untuk pengembangan kebun berikutnya.

Saat ini sekitar 2.000 pohon kopi miliknya telah memasuki tahap siap panen.
Dengan asumsi produksi rata-rata 0,5 kilogram kopi HS kering per pohon, sebanyak 2.000 pohon berpotensi menghasilkan sekitar satu ton kopi. Jika harga berada pada kisaran Rp60.000 per kilogram, nilai produksi kotor diperkirakan mencapai Rp60 juta.
Sementara jika target 12.000 pohon tercapai dengan asumsi produktivitas dan harga yang sama, potensi nilai produksi kotor mencapai sekitar Rp360 juta per panen.
132 UMKM Ikuti Sosialisasi KUR di Ngada, Bank NTT Diminta Pastikan Akses Kredit Transparan
Riko menegaskan angka tersebut masih berupa proyeksi. Hasil aktual dipengaruhi produktivitas tanaman, kualitas kopi, biaya produksi dan harga jual di pasar.
“Kalau kita serius mengelola kebun, pertanian bisa menjadi investasi masa depan. Anak muda juga bisa menjadi petani yang hebat dan profesional,” katanya.
Selain jumlah tanaman dan varietas, pengelolaan kebun juga menjadi perhatian. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kabupaten Ngada, Ocha, mengatakan produktivitas kopi juga dipengaruhi kondisi lingkungan kebun, termasuk pengelolaan tanaman naungan.
Ocha merekomendasikan lamtoro PG79 sebagai salah satu tanaman naungan. Menurutnya, tanaman tersebut dapat membantu mengatur kondisi kebun dan daunnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik untuk mendukung pemupukan.
Banggar DPRD Ngada Soroti KUA-PPAS 2027: PAD Naik Rp4 Miliar, Defisit Rp21 Miliar Dipersoalkan
Lamtoro PG79 juga dinilai mampu mempertahankan daun pada musim panas. Jarak tanam yang direkomendasikan sekitar 8–10 meter.
Petani juga diminta mempertimbangkan jenis dan ukuran tanaman naungan. Dadap dan albasia, misalnya, perlu diperhatikan karena ukuran dan kekuatannya dapat berisiko terhadap tanaman kopi apabila tumbang akibat angin atau saat ditebang.
Feliks mengatakan peremajaan tanaman perlu diikuti perubahan dalam pengelolaan kebun.
“Jangan melihat bertani sebagai pekerjaan yang tidak menjanjikan. Kalau dikelola dengan baik, kopi bisa menjadi investasi masa depan,” ujarnya.
Peremajaan tanaman, pemilihan varietas, pengelolaan kebun dan keterlibatan petani muda menjadi bagian dari pengembangan perkebunan kopi yang dilakukan sejumlah petani di Kabupaten Ngada.»(tim/rel)
-
NASIONAL11 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA12 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
