OPINI
Bensin, Pajak, dan Cara Negara Mengajak Kita Patuh
Kepatuhan yang tumbuh dari kepercayaan cenderung bertahan lebih lama, bahkan ketika tidak ada yang sedang mengawasi.

Oleh: Lambert Wahang
Negara kadang menemukan cara-cara yang tidak pernah dibayangkan warganya.
Di sebuah SPBU, seseorang datang seperti biasa: motor berhenti, tutup tangki dibuka, tangan bergerak otomatis, dan bensin mengalir tanpa banyak pikir. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada alasan untuk memikirkan negara di tengah bau bensin dan suara mesin yang tidak pernah benar-benar diam.
Sampai satu pertanyaan kecil mulai terdengar tidak lagi seperti lelucon.
“Pajak kendaraannya sudah lunas kah?”
Beberapa tahun lalu, kalimat itu mungkin hanya akan membuat orang tersenyum sambil menggeleng. SPBU adalah tempat BBM, bukan tempat administrasi pajak. Nosel adalah alat teknis, bukan alat verifikasi negara.
Tetapi hari ini, batas-batas itu mulai bergerak.
Melalui kebijakan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, akses terhadap BBM bersubsidi dikaitkan dengan kepatuhan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang menunggak pajak, dalam skema tertentu, tidak lagi memperoleh akses yang sama terhadap BBM bersubsidi.
Di atas kertas, niatnya sulit disangkal.
Tidak ada orang waras yang membela ketidakpatuhan pajak. Jalan tidak dibangun dari angan-angan. Jembatan tidak berdiri dari harapan. Pajaklah yang ikut menopang semuanya.
Sampai di titik ini, logika publik cenderung mudah menerima.
Tetapi kebijakan publik hampir tidak pernah diuji di atas kertas.
Ia diuji di cara.
Kendaraan Tunggak Pajak dan Pelat Luar NTT Tak Lagi Bisa Beli BBM Subsidi Mulai 7 Juli
Negara tidak pernah kekurangan instrumen untuk membuat warganya patuh. Denda, razia, pemblokiran layanan, hingga pembatasan akses tertentu adalah bagian dari perangkat yang sah dalam administrasi pemerintahan. Hampir semua negara menggunakannya dalam berbagai bentuk.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar boleh atau tidak boleh.
Melainkan bagaimana cara itu membentuk hubungan jangka panjang antara warga dan negara.
Di SPBU, nosel yang biasanya netral tiba-tiba terasa membawa makna baru. Ia bukan lagi sekadar alat pengisi bahan bakar, tetapi semacam pintu kecil yang menghubungkan perilaku warga dengan sistem administrasi negara.
Kalau dibayangkan sedikit lebih ringan, Indonesia memang punya cara unik dalam merespons aturan.
Saat razia kendaraan, helm tiba-tiba muncul entah dari mana.
Saat operasi zebra, sabuk pengaman mendadak menjadi hal paling penting di dunia.
Dan jika suatu hari akses BBM benar-benar bergantung pada pajak, bukan tidak mungkin aplikasi Samsat akan bersaing ketat dengan WhatsApp dalam hal frekuensi dibuka.
Tentu ini terdengar berlebihan.
Tetapi di baliknya ada satu kenyataan sederhana: masyarakat sangat responsif terhadap aturan yang dampaknya langsung terasa.
Pertanyaannya, apakah respons itu lahir dari kesadaran, atau sekadar dari tekanan?
Dalam banyak kajian administrasi publik, ada dua jenis kepatuhan yang selalu dibedakan.
Kepatuhan karena takut, dan kepatuhan karena percaya.
Keduanya bisa menghasilkan angka yang sama dalam jangka pendek. Kepatuhan bisa naik. Pendapatan bisa bertambah. Sistem terlihat bekerja.
Tetapi hanya satu yang bertahan tanpa pengawasan terus-menerus: kepercayaan.
Sanksi tetap diperlukan. Negara tidak bisa berjalan tanpa aturan yang ditegakkan. Namun sanksi idealnya berada di ujung, bukan di awal.
Sebab jika kepatuhan hanya dibangun dari rasa takut, maka negara akan selalu perlu menjaga rasa takut itu tetap ada.
Dan itu bukan pekerjaan yang ringan.
Ada kemungkinan menarik dari kebijakan seperti ini.
Mungkin nanti antrean di SPBU dan antrean di Samsat akan sama-sama panjang.
Di SPBU, orang berharap tangki penuh.
Di Samsat, negara berharap kepatuhan ikut penuh.
Keduanya sah. Keduanya masuk akal.
Tetapi di antara dua antrean itu, ada pertanyaan yang lebih sunyi: apakah kepatuhan seperti ini adalah tujuan akhir, atau hanya tahap sementara?
Tujuan kebijakan ini sendiri pada dasarnya bisa dipahami.
Meningkatkan kepatuhan pajak daerah adalah kebutuhan nyata. Pemerintah daerah berhadapan dengan keterbatasan fiskal yang tidak kecil. Dalam konteks itu, mencari cara untuk meningkatkan kepatuhan adalah hal yang wajar, bahkan perlu diapresiasi.
Yang menjadi ruang diskusi bukan tujuannya, tetapi jalannya.
Karena dalam kebijakan publik, cara sering kali menentukan seberapa jauh tujuan itu benar-benar sampai.
Ada pendekatan lain yang mungkin bisa dipertimbangkan.
Bukan untuk menggantikan, tetapi untuk menyeimbangkan.
Kepatuhan sering kali lebih kuat ketika diberi insentif daripada hanya ditekan dengan sanksi. Misalnya kemudahan layanan bagi wajib pajak yang taat, jalur cepat di Samsat, atau bentuk penghargaan sederhana yang membuat kepatuhan terasa bermakna.
Hal yang sering dilupakan adalah bahwa sebagian besar orang tidak menolak membayar pajak. Mereka hanya menunda ketika sistem terasa rumit, lambat, atau melelahkan.
Dalam banyak kasus, kecepatan pelayanan adalah bentuk kebijakan itu sendiri.
Jika membayar pajak hanya butuh beberapa menit, maka alasan untuk menunda akan mengecil dengan sendirinya.
Sebaliknya, jika prosesnya memakan waktu setengah hari kerja, maka kita sebenarnya sudah tahu siapa yang sedang “dihukum” oleh sistem tersebut.
Negara modern tidak hanya diukur dari seberapa besar pajak yang berhasil dikumpulkan.
Tetapi juga dari seberapa besar kepercayaan publik yang berhasil dipertahankan.
Karena kepercayaan tidak muncul dari satu kebijakan saja. Ia tumbuh dari akumulasi pengalaman warga dalam berhadapan dengan negara: mudah atau sulit, adil atau terasa berat sebelah, menghargai atau sekadar menuntut.
Mungkin kebijakan ini akan berhasil.
Mungkin penerimaan pajak akan meningkat.
Tidak ada yang keliru jika itu terjadi.
Tetapi sejarah kebijakan publik selalu menunjukkan satu hal yang sederhana: kepatuhan yang dibangun terutama dari tekanan biasanya rapuh ketika tekanan itu berubah atau hilang.
Sebaliknya, kepatuhan yang tumbuh dari kepercayaan cenderung bertahan lebih lama, bahkan ketika tidak ada yang sedang mengawasi.
Karena pada akhirnya, negara memang bisa membuat warganya patuh.
Tetapi negara yang paling kuat bukanlah yang paling banyak menuntut kepatuhan.
Melainkan yang paling berhasil membuat warganya percaya bahwa kepatuhan itu memang masuk akal untuk dijalani.»
OPINI
Perse Ende ke Final, Sepak Bola NTT Jangan Berhenti pada Euforia
Kristianus dan Gabriel sudah menjawab di lapangan. Kini saatnya sistem pembinaan menjawab: ke mana talenta-talenta muda itu akan dibawa setelah sorotan turnamen berakhir?

Oleh: Karel Pandu
Perse Ende lolos ke final Piala Suratin 2026 setelah melewati pertandingan dramatis melawan Citra Bakti Ngada. Kemenangan 6-5 melalui adu penalti di Stadion Gelora Samador da Cunha, Maumere, membuat para pemain berpelukan, pendukung bersorak, dan nama Kristianus Gavril Fua Mana serta Gabriel Spagnaly Riwu menjadi buah bibir setelah keduanya memainkan peran penting dalam drama di titik putih. Tentu saja, kemenangan tersebut layak dirayakan. Namun, justru setelah sebuah prestasi besar, kita perlu sedikit menahan diri dari euforia dan mulai melihat persoalan yang lebih besar di balik pertandingan itu.
Sebab ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada siapa yang akan mengangkat trofi pada 14 Agustus nanti: setelah Piala Suratin selesai, ke mana anak-anak muda ini akan dibawa? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya dapat menentukan apakah sepak bola NTT benar-benar sedang membangun masa depan atau hanya menikmati satu episode kebahagiaan sebelum kembali menunggu turnamen berikutnya.
Jangan Terlalu Cepat Menyebut Ini Kebangkitan
Kita sering melakukan kesalahan yang sama. Satu tim menang, kita menyebutnya kebangkitan; seorang pemain tampil menonjol, kita buru-buru menyebutnya calon bintang; sebuah turnamen menghasilkan prestasi, kita mengatakan pembinaan mulai berjalan. Padahal kebangkitan sepak bola tidak pernah ditentukan oleh satu pertandingan, bahkan tidak semata-mata oleh satu gelar. Kebangkitan seharusnya terlihat dari sesuatu yang jauh lebih penting: apa yang terjadi setelah pertandingan selesai?
Apakah pemain muda tetap mendapatkan kesempatan berlatih dan bertanding? Apakah kualitas pelatih terus ditingkatkan? Apakah klub mempunyai rencana pengembangan pemain? Apakah ada jalur yang memungkinkan pemain usia muda naik ke level berikutnya? Dan apakah ada sistem yang mampu menemukan pemain-pemain lain yang belum mendapatkan kesempatan seperti Kristianus dan Gabriel?
Kalau semua pertanyaan itu belum memiliki jawaban yang jelas, terlalu dini menyebut satu final sebagai tanda kebangkitan sepak bola NTT. Kita bisa saja sedang merayakan hasil, sementara proses pembinaannya masih berjalan di tempat.
Kristianus dan Gabriel Adalah Ujian bagi Kita
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Perse Ende menuju final. Di tengah pertandingan yang berlangsung ketat, dua anak muda muncul pada momen yang menentukan. Kristianus Gavril Fua Mana, pelajar SMAK Syuradikara, menjadi penjaga gawang yang menggagalkan eksekusi penalti pada fase sudden death, sementara Gabriel Spagnaly Riwu, pelajar SMK Negeri 3 Ekoae, kemudian maju sebagai eksekutor dan menuntaskan peluang yang membawa Perse Ende ke final.
Mereka bermain sepak bola, menjalankan tugas, tampil pada saat yang dibutuhkan, kemudian nama mereka masuk berita. Tetapi justru di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Jangan sampai Kristianus dan Gabriel hanya menjadi headline selama beberapa hari, ramai dibicarakan ketika Piala Suratin berlangsung, lalu perlahan hilang ketika lampu stadion padam dan turnamen berakhir. Sebab persoalannya bukan hanya apakah Kristianus dan Gabriel kelak menjadi pemain besar, melainkan apakah kita memiliki sistem yang mampu mengawal pemain seperti mereka sejak usia muda hingga menemukan level permainan yang lebih tinggi.
Di belakang mereka mungkin ada puluhan, bahkan ratusan anak lain yang memiliki kemampuan serupa. Mereka mungkin berada di sekolah, di kampung, di lapangan desa atau di klub-klub kecil yang jauh dari sorotan. Mereka mungkin belum ditemukan bukan karena tidak memiliki kemampuan, tetapi karena belum memperoleh kesempatan. Maka pertanyaan kita seharusnya bukan hanya, “Siapa pemain terbaik hari ini?”, melainkan juga, siapa yang akan mencari pemain terbaik berikutnya?
Talenta Ada, yang Kita Butuhkan adalah Jalan
Selama ini, pembicaraan mengenai sepak bola NTT sering berakhir pada satu kalimat: daerah ini memiliki banyak talenta. Mungkin benar. Tetapi talenta saja tidak cukup. Seorang anak bisa memiliki bakat luar biasa, namun tanpa latihan yang benar, kompetisi yang cukup, pelatih yang baik dan lingkungan yang mendukung, bakat tersebut dapat berhenti sebagai kemampuan yang tidak pernah berkembang.
Di sinilah pembinaan menjadi penting. Pemain muda tidak hanya membutuhkan kesempatan bermain dalam satu turnamen, tetapi membutuhkan kesinambungan. Mereka membutuhkan pertandingan yang membuat kemampuan terus teruji, pelatih yang mampu memperbaiki kekurangan, klub yang melihat pemain muda bukan sekadar amunisi untuk memenangkan turnamen hari ini, melainkan investasi untuk beberapa tahun ke depan, serta jalur yang jelas apabila kemampuan mereka sudah melampaui level kompetisi yang sedang diikuti.
Piala Suratin semestinya menjadi bagian dari perjalanan tersebut, bukan seluruh perjalanan. Kalau seorang pemain muda baru mendapatkan panggung ketika Piala Suratin digelar, kemudian kembali kehilangan panggung setelah turnamen selesai, kita perlu bertanya apakah kompetisi itu benar-benar menjadi bagian dari sistem pembinaan atau hanya menjadi agenda tahunan.
Pemerintah Tidak Harus Bermain, tetapi Bisa Menciptakan Ekosistem
Di titik ini, pemerintah daerah juga tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari pembicaraan. Bukan berarti semua persoalan sepak bola harus dibebankan kepada pemerintah. Klub mempunyai tanggung jawab, organisasi sepak bola mempunyai peran, pelatih mempunyai tanggung jawab, sementara sekolah dan keluarga juga memiliki ruang masing-masing. Namun pemerintah mempunyai kemampuan untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan olahraga tumbuh, mulai dari lapangan yang layak, fasilitas latihan, kompetisi antarsekolah, dukungan terhadap pembinaan usia dini, peningkatan kapasitas pelatih hingga kebijakan yang tidak hanya melihat olahraga ketika sebuah tim berhasil membawa pulang medali.
Pemerintah tidak harus menjadi pengelola klub, tetapi pemerintah dapat memastikan anak-anak memiliki tempat untuk berlatih, bertanding dan berkembang. Itu dua hal yang berbeda.
Organisasi Sepak Bola Perlu Menjawab dengan Program
Hal yang sama berlaku bagi organisasi sepak bola dan klub. Publik tentu berhak bertanya tentang arah pembinaan, bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan, tetapi untuk mengetahui apakah prestasi yang muncul hari ini mempunyai kelanjutan. Apakah ada pemetaan pemain muda? Apakah kompetisi usia dini dan remaja berjalan secara berkelanjutan? Apakah ada peningkatan kualitas pelatih? Apakah pemain yang tampil di Piala Suratin mempunyai jalur menuju kompetisi yang lebih tinggi?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar siapa yang menjadi juara dalam satu turnamen. Sebab jika kita benar-benar ingin membangun sepak bola, investasi harus datang sebelum prestasi, bukan sesudahnya. Kita tidak bisa baru ramai berbicara tentang pembinaan setelah seorang pemain muncul sebagai pahlawan. Pembinaan justru harus berlangsung ketika tidak ada kamera, tidak ada sorotan, tidak ada penonton dan tidak ada trofi yang diperebutkan. Di sanalah kualitas sebuah sistem sebenarnya diuji.
Jangan Tanamkan kepada Anak Muda bahwa Juara Daerah adalah Puncak
Sepak bola NTT juga membutuhkan perubahan cara pandang. Menang melawan daerah lain memang membanggakan dan menjadi juara turnamen tentu patut dirayakan, tetapi jangan sampai anak-anak muda kita menganggap bahwa menjadi juara di level daerah merupakan puncak perjalanan mereka. Justru seharusnya itu menjadi awal.
Kalau seorang pemain memiliki kualitas, mengapa kita tidak mendorongnya bermimpi bermain di level nasional? Mengapa tidak membangun keberanian untuk mengejar kompetisi profesional? Mengapa tidak membuka kemungkinan bermain di luar daerah, bahkan di luar negeri, jika kemampuan dan kesempatan memungkinkan? Mimpi seorang anak muda tidak boleh lebih kecil hanya karena ia lahir di daerah.
Perse Ende bisa menjadi contoh bahwa pemain dari Ende mampu tampil di panggung yang lebih besar. Namun mimpi yang besar membutuhkan sistem yang juga cukup kuat untuk menopangnya.
Final 14 Agustus Bukan Akhir Cerita
Untuk saat ini, tentu saja Perse Ende harus menyelesaikan pekerjaannya. Final tetaplah final. Siapa pun lawannya nanti—Persami Maumere atau BMP Flores Timur—Perse Ende harus bertanding dengan keyakinan bahwa mereka memang layak berada di sana. Mereka tidak perlu merasa sebagai tim yang sekadar beruntung lolos, sebab mereka sudah melewati pertandingan, tekanan dan situasi sulit untuk mencapai titik tersebut.
Jika akhirnya trofi berhasil dibawa pulang, seluruh masyarakat Ende tentu berhak merayakannya. Namun setelah pesta selesai, jangan biarkan trofi itu hanya menjadi benda yang dipajang di lemari. Jadikan prestasi tersebut sebagai alasan untuk memperbanyak kompetisi usia muda, memperbaiki fasilitas, meningkatkan kualitas pelatih, memperkuat klub dan, yang paling penting, membangun keyakinan di kalangan anak-anak muda NTT bahwa sepak bola bukan hanya permainan yang bisa membuat mereka terkenal, tetapi juga jalan yang dapat membawa mereka menuju masa depan.
Jangan Hanya Bertanya Siapa yang Menang
Kita sebagai masyarakat juga perlu bercermin. Apakah kita benar-benar mendukung sepak bola, atau kita hanya mendukung ketika tim menang? Mendukung ketika stadion penuh dan kamera menyala adalah hal yang mudah. Yang jauh lebih sulit adalah membangun sistem ketika tidak ada yang sedang memperhatikan.
Karena itu, keberhasilan Perse Ende mencapai final seharusnya tidak hanya melahirkan pertanyaan tentang siapa yang akan menjadi juara. Ia seharusnya membuka percakapan yang lebih besar: apa yang akan kita lakukan terhadap anak-anak muda yang sudah menunjukkan bahwa mereka mampu?
Kristianus dan Gabriel sudah menjawab pertanyaan itu di lapangan. Mereka menunjukkan keberanian, ketenangan dan kemampuan pada saat yang menentukan. Sekarang giliran sistem di belakang mereka yang menjawab.
Sepak Bola NTT Tidak Kekurangan Anak Berbakat
Mungkin inilah hal yang paling perlu kita renungkan. Persoalan sepak bola NTT belum tentu semata-mata karena kita kekurangan bakat. Bisa jadi kita terlalu sering gagal mengurus bakat yang sudah kita punya.
Itu jauh lebih menyakitkan.
Sebab setiap kali seorang anak berbakat berhenti bermain karena tidak ada kompetisi, tidak ada fasilitas, tidak ada pendampingan atau tidak melihat jalan untuk melanjutkan kariernya, yang hilang bukan hanya seorang pemain. Yang hilang adalah sebuah kemungkinan.
Perse Ende kini berada di depan pintu final. Mereka boleh mengejar trofi, bahkan wajib memperjuangkannya. Tetapi di balik final itu ada pekerjaan yang jauh lebih panjang: bagaimana membuat Kristianus, Gabriel dan pemain-pemain muda lainnya tidak menjadi cerita yang hanya kita ingat dari satu turnamen, serta bagaimana memastikan bahwa setelah Piala Suratin selesai, perjalanan mereka justru dimulai.
Sebab satu kemenangan memang bisa membuat kita bangga dan satu trofi bisa membuat satu daerah berpesta. Namun hanya sistem pembinaan yang sehat yang bisa membuat prestasi itu bertahan dan melahirkan generasi berikutnya.
Dan mungkin, itulah kemenangan yang sesungguhnya sedang kita tunggu dari sepak bola NTT.»
OPINI
Dari Rakalaba ke Panggung Dunia: Ketika Anak Muda Flores Tidak Mau Hanya Menjadi Penonton Pariwisata
Pariwisata Flores tidak cukup hanya mendatangkan wisatawan. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan masyarakat lokal, terutama anak muda, ikut menjadi pelaku dan pemilik nilai ekonomi dari industri yang tumbuh di tanah mereka sendiri.
Oleh: Tim GardaFlores
Flores tidak pernah kekurangan keindahan. Yang masih menjadi pekerjaan besar adalah bagaimana keindahan itu diubah menjadi kekuatan ekonomi yang dikelola, dinikmati, dan dikembangkan oleh masyarakat yang hidup di atas tanahnya sendiri.
Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika pariwisata Nusa Tenggara Timur terus berkembang. Labuan Bajo dan Komodo telah menjadi nama yang dikenal dunia. Kelimutu terus menarik perhatian wisatawan. Kampung-kampung adat, lanskap pegunungan, laut, budaya, dan kehidupan masyarakat Flores menyimpan potensi yang seolah tidak pernah habis untuk diceritakan.
Tetapi ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar berapa banyak wisatawan datang ke Flores: berapa besar nilai ekonomi dari kedatangan mereka yang benar-benar tinggal dan berputar di Flores?
Sebab sebuah daerah bisa menjadi destinasi wisata yang terkenal tanpa masyarakat lokal otomatis menjadi pemain utama dalam industrinya.
Wisatawan datang. Hotel tumbuh. Restoran berkembang. Agen perjalanan menawarkan paket. Transportasi bergerak. Uang berputar.
Tetapi siapa yang menguasai rantai nilai tersebut?
Pertanyaan itulah yang membuat kisah Crispim Alexander Ratu, atau Kris Ratu, dari Rakalaba, Kecamatan Golewa Barat, Kabupaten Ngada, menjadi menarik untuk dibicarakan lebih jauh.
Kris bukan lahir dari pusat industri pariwisata. Ia tidak memulai usaha dari Labuan Bajo, bukan pula dari kota besar dengan ekosistem bisnis yang sudah mapan. Ia datang dari sebuah kampung di Ngada.
Dari tempat itulah ia membangun PT Nusa Flores Travel dan mencoba membawa potensi pariwisata Flores masuk ke ruang yang lebih luas.

Yang menarik bukan semata-mata bahwa Kris memiliki usaha perjalanan wisata. Yang lebih penting adalah pilihan yang berada di balik usaha tersebut: memilih menjadi pelaku di tanah sendiri ketika banyak anak muda daerah justru melihat keluar sebagai satu-satunya jalan menuju masa depan.
Pilihan itu patut diapresiasi, tetapi tidak perlu dipuja secara berlebihan. Sebab membangun bisnis pariwisata dari daerah bukan pekerjaan sederhana.
Ada persoalan akses, infrastruktur, sumber daya manusia, jaringan pasar, promosi, standar pelayanan, modal, teknologi, hingga kemampuan membangun kepercayaan wisatawan dari berbagai negara. Apalagi industri pariwisata adalah industri kepercayaan.
Wisatawan tidak hanya membeli tiket atau paket perjalanan. Mereka menyerahkan waktu, uang, kenyamanan, bahkan keselamatan kepada operator yang mereka pilih.
Karena itu, seorang pelaku usaha lokal tidak cukup hanya mengenal destinasi. Ia harus mampu membangun pelayanan yang profesional, memahami kebutuhan pasar, menjaga keselamatan wisatawan, mengelola bisnis secara sehat, dan pada saat yang sama tidak kehilangan identitas lokal yang menjadi kekuatan utama Flores.
Di sinilah tantangan Kris dan pelaku usaha lokal lainnya sesungguhnya berada.
Flores tidak membutuhkan lebih banyak orang yang sekadar mengatakan bahwa daerah ini indah. Flores membutuhkan lebih banyak orang yang mampu mengubah keindahan itu menjadi produk, pengalaman, lapangan pekerjaan, dan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Sebab selama ini kita terlalu sering melihat pariwisata dari sisi jumlah kunjungan. Berapa wisatawan datang? Berapa hotel tersedia? Berapa event digelar? Berapa destinasi dipromosikan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang penting. Tetapi ada pertanyaan yang tidak kalah penting dan sering luput: berapa banyak anak muda Flores yang menjadi pemilik usaha di dalam rantai industri tersebut?
Berapa banyak masyarakat lokal yang menjadi pengelola perjalanan?
Berapa banyak produk lokal masuk ke rantai pasok hotel dan restoran?
Berapa banyak uang wisatawan yang benar-benar berputar di desa-desa?
Dan berapa banyak anak muda yang melihat pariwisata bukan sekadar sebagai pekerjaan sementara, melainkan sebagai industri yang bisa mereka bangun dan kuasai?
Jika pertanyaan-pertanyaan itu belum mendapat jawaban yang memuaskan, maka kita belum selesai berbicara tentang pembangunan pariwisata. Kita baru selesai berbicara tentang promosi destinasi.
Kris Ratu menunjukkan bahwa ada kemungkinan lain.
Potensi daerah tidak harus selalu menunggu investor dari luar untuk menjadi kekuatan ekonomi. Anak muda lokal pun dapat mengambil posisi, membangun usaha, mencari pasar, dan membawa cerita daerahnya sendiri kepada dunia.
Flores: Kedalaman yang Membentuk Peradaban—Dari Kelimutu hingga Pancasila
Tentu saja, satu perusahaan tidak akan mengubah wajah pariwisata Flores.
Kris juga tidak perlu ditempatkan sebagai jawaban atas seluruh persoalan pariwisata di daerah ini. Justru di situlah kita harus melihat kisahnya secara lebih jernih.
Kris adalah contoh kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar: lahirnya keberanian anak muda daerah untuk berhenti menjadi penonton.
Rakalaba mungkin bukan nama yang setiap hari disebut dalam peta pariwisata nasional. Tetapi dari tempat kecil itu, seseorang bisa memiliki mimpi yang melampaui batas geografis kampungnya.
Ini penting. Sebab selama bertahun-tahun, pembangunan sering kali membuat anak muda daerah percaya bahwa masa depan berada di luar.
Pergilah ke Surabaya. Pergilah ke Jakarta. Pergilah ke Bali. Carilah pekerjaan. Kumpulkan pengalaman. Dan suatu hari, mungkin kembali.
Kris memilih jalan yang berbeda. Ia melihat tanah kelahirannya bukan hanya sebagai tempat untuk pulang, tetapi sebagai tempat yang bisa menjadi sumber kehidupan.
Tentu jalan tersebut jauh lebih berat. Membangun usaha dari daerah berarti membangun hampir semuanya dari awal. Jaringan harus dicari. Pasar harus diyakinkan. Kualitas harus dibuktikan. Kepercayaan harus dibangun perlahan.
Tetapi justru karena itulah keberadaan pelaku lokal menjadi penting. Sebab pariwisata yang sehat seharusnya tidak hanya membuat wisatawan mengenal Flores. Pariwisata juga harus membuat masyarakat Flores memiliki alasan ekonomi untuk mempertahankan alam, budaya, dan ruang hidup mereka.
Di sinilah hubungan antara pariwisata dan kesejahteraan menjadi penting. Ketika masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang nyata dari pariwisata, mereka memiliki kepentingan yang lebih kuat untuk menjaga destinasi.
Budaya tidak hanya dipertahankan sebagai pertunjukan untuk wisatawan, tetapi sebagai identitas yang memiliki nilai.
Lingkungan tidak hanya dilihat sebagai latar belakang foto, tetapi sebagai modal ekonomi yang harus dijaga.
Desa tidak hanya menjadi lokasi kunjungan, tetapi menjadi bagian dari rantai nilai. Dan anak muda tidak hanya menjadi pemandu atau pekerja, tetapi juga memiliki kesempatan menjadi pemilik usaha.
Itulah arah yang semestinya diperjuangkan. Flores tidak kekurangan destinasi. Flores juga tidak kekurangan cerita. Yang masih harus diperkuat adalah kemampuan mengelola cerita tersebut menjadi kekuatan ekonomi lokal.
Flores Tidak Kekurangan Budaya, Kita Kekurangan Cara Menceritakannya
Karena memiliki destinasi tidak sama dengan memiliki industri. Memiliki keindahan tidak otomatis berarti memiliki kesejahteraan.
Dan menjadi terkenal sebagai tujuan wisata tidak otomatis membuat masyarakat lokal menjadi pemenang dalam industri pariwisata.
Di sinilah pemerintah, pelaku usaha, komunitas, lembaga pendidikan, dan masyarakat harus melihat persoalan secara lebih serius.
Anak muda yang memilih membangun usaha di daerah membutuhkan ekosistem. Mereka membutuhkan akses pembiayaan, pelatihan, digitalisasi, jaringan pemasaran, peningkatan kemampuan bahasa asing, sertifikasi, pendampingan bisnis, serta akses yang lebih luas ke pasar internasional.
Kalau kita ingin lebih banyak Kris Ratu lahir dari kampung-kampung di Flores, maka yang dibutuhkan bukan sekadar slogan tentang kewirausahaan anak muda.
Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang membuat keberanian itu memiliki peluang untuk bertahan. Sebab keberanian memulai adalah satu hal. Kemampuan mempertahankan dan membesarkan usaha adalah hal yang lain.
PT Nusa Flores Travel pada akhirnya akan diuji bukan hanya oleh seberapa banyak wisatawan yang berhasil dibawa ke Flores, tetapi oleh seberapa profesional perusahaan itu berkembang, seberapa luas jaringan yang dibangun, seberapa kuat kepercayaan pelanggan dipertahankan, dan seberapa besar manfaat ekonominya dapat dirasakan oleh masyarakat lokal.
Itulah ujian sebenarnya. Dan ujian itu berlaku bagi semua pelaku usaha pariwisata lokal. Kita tidak membutuhkan pariwisata yang hanya ramai di media sosial. Kita membutuhkan pariwisata yang menciptakan pekerjaan.
Kita membutuhkan wisatawan yang tinggal lebih lama, membelanjakan uangnya lebih banyak di komunitas lokal, dan membawa pulang pengalaman yang membuat mereka ingin kembali.
Kita membutuhkan produk lokal yang masuk ke rantai pasok industri. Kita membutuhkan anak muda yang bukan hanya bekerja di sektor pariwisata, tetapi berani memiliki dan memimpin usaha pariwisata.
Dan kita membutuhkan model pembangunan pariwisata yang membuat masyarakat lokal menjadi bagian utama, bukan sekadar pelengkap.

Karena pada akhirnya, persoalan pariwisata Flores bukan hanya bagaimana membawa dunia datang ke sini. Persoalan yang jauh lebih besar adalah bagaimana ketika dunia datang, masyarakat Flores tidak hanya berdiri di pinggir jalan menyaksikan.
Mereka harus menjadi tuan rumah. Mereka harus menjadi pelaku. Mereka harus menjadi pemilik nilai ekonomi yang lahir dari tanahnya sendiri.
Dari Rakalaba, Kris Ratu mungkin baru menulis satu paragraf kecil dalam cerita panjang pariwisata Flores.
Tetapi paragraf itu penting. Ia menunjukkan bahwa mimpi besar tidak selalu harus dimulai dari kota besar. Ia bisa dimulai dari kampung. Ia bisa dimulai dari keterbatasan. Dan ia bisa dimulai dari seorang anak muda yang memilih untuk tidak pergi, melainkan mencoba membangun sesuatu di tanah kelahirannya.
Flores memang membutuhkan dunia untuk datang. Tetapi Flores juga harus memastikan bahwa ketika dunia datang, semakin banyak anak-anak Flores yang berdiri di depan—bukan sebagai penonton, melainkan sebagai orang yang ikut menentukan bagaimana cerita tentang tanah mereka ditulis.
Sebab pariwisata terbaik bukanlah pariwisata yang hanya membuat sebuah daerah terkenal.
Pariwisata terbaik adalah pariwisata yang membuat masyarakat di daerah itu ikut tumbuh.
Dan mungkin, dari Rakalaba, kita sedang melihat awal dari pertanyaan yang lebih besar:
Bisakah anak muda Flores berhenti hanya menjadi objek dari industri pariwisata dan mulai menjadi kekuatan utama yang menggerakkannya?
Jawabannya tidak akan ditentukan oleh satu orang. Tetapi keberanian orang-orang seperti Kris Ratu menunjukkan bahwa pintunya sudah terbuka.»
OPINI
Kartu Merah Bukan Biang Kekalahan Persebata, tetapi Ujian yang Gagal Dilewati
Kartu merah mengubah pertandingan Persebata Lembata kontra CBN Ngada. Namun, kekalahan 1-3 tidak cukup dijelaskan oleh satu keputusan. Yang lebih penting adalah bagaimana tim merespons ketika pertandingan mulai tidak berpihak.

Oleh: Karel Pandu
Ada kekalahan yang lahir karena lawan memang lebih kuat. Ada pula kekalahan yang menjadi berat bukan hanya karena satu kesalahan, melainkan karena sebuah tim tidak mampu merespons keadaan ketika pertandingan berubah.
Kekalahan Persebata Lembata 1-3 dari CBN Ngada di Gelora Samador Maumere, Minggu (9/8/2026), layak dibaca dari sudut yang kedua.
Kartu merah Nursyal Al Hikami pada menit ke-60 memang menjadi titik balik. Sebelum itu, Persebata masih tertinggal 0-1 dan pertandingan belum selesai. Satu gol masih cukup untuk mengubah keadaan.
Tetapi setelah kehilangan satu pemain, persoalannya bukan lagi sekadar jumlah pemain di lapangan. Persebata kehilangan sebagian kendali atas pertandingan. CBN melihat perubahan itu dan segera memanfaatkannya.
Sembilan menit setelah kartu merah, Albertus Roga mencetak gol kedua CBN. Pada menit ke-81, pemain yang sama kembali mencetak gol dan membawa CBN unggul 3-0.
Dalam rentang 21 menit, pertandingan berubah.
Di sinilah kartu merah perlu ditempatkan secara proporsional. Ia memang membuka jalan bagi perubahan permainan, tetapi tidak dengan sendirinya menentukan tiga gol atau membuat sebuah tim kehilangan kemampuan untuk bertahan.
Tim yang bermain dengan sepuluh orang masih dapat mengubah cara bermain. Ruang bisa dipersempit, tempo bisa dikendalikan, garis pertahanan bisa dibuat lebih rapat, dan serangan balik tetap dapat menjadi pilihan.
Semua itu membutuhkan ketenangan dan kemampuan membaca situasi.
Persebata tidak cukup berhasil melakukan itu.
Ini bukan berarti para pemainnya tidak memiliki mental bertanding. Kesimpulan semacam itu terlalu besar untuk ditarik hanya dari satu pertandingan. Tetapi pertandingan tersebut memperlihatkan satu persoalan yang patut dievaluasi: bagaimana sebuah tim usia muda merespons ketika rencana permainan tiba-tiba berubah?
Pertanyaan itu lebih penting daripada sekadar menyebut kartu merah sebagai penyebab kekalahan.
Sebab dalam sepak bola, situasi tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada kartu merah, cedera, gol cepat, keputusan wasit, tekanan penonton, atau kesalahan sendiri. Tim yang ingin berkembang harus belajar bermain bukan hanya ketika keadaan menguntungkan, tetapi juga ketika pertandingan mulai bergerak melawan mereka.
Di titik itu, CBN justru menunjukkan keunggulannya.
Setelah unggul 1-0 melalui Antonius Y Y Bengu pada menit ke-37, CBN tidak perlu terburu-buru. Mereka mempertahankan keunggulan dan kemudian memanfaatkan perubahan situasi setelah Persebata kehilangan satu pemain.
Dua gol Albertus Roga menunjukkan efektivitas CBN dalam memanfaatkan keunggulan jumlah pemain.
Itulah salah satu pelajaran paling sederhana dalam sepak bola: kesalahan lawan tidak selalu harus dibalas dengan permainan yang indah. Kadang-kadang, yang dibutuhkan adalah kemampuan mengenali kesempatan dan mengambilnya pada waktu yang tepat.
Persebata sebenarnya belum menyerah.
Gol Arlan S. Dasi pada menit ke-84 memperkecil ketertinggalan menjadi 3-1. Gol itu menunjukkan bahwa masih ada usaha untuk melawan meski waktu yang tersedia semakin sedikit.
Tetapi justru di sana muncul pertanyaan lain: mengapa keberanian itu baru terlihat ketika pertandingan hampir selesai?
Tentu tidak adil menyimpulkan bahwa Persebata tidak berjuang. Para pemain tetap berusaha sampai peluit akhir. Namun dalam pertandingan kompetitif, usaha saja tidak selalu cukup. Sebuah tim juga membutuhkan kemampuan menjaga struktur permainan, mengelola tekanan, dan membuat keputusan yang tepat ketika berada dalam situasi sulit.
Inilah yang seharusnya menjadi pekerjaan rumah Persebata setelah turnamen ini.
Bukan sekadar bertanya siapa yang menerima kartu merah.
Bukan pula sekadar menyebut bahwa CBN lebih beruntung.
Pertanyaan yang lebih berguna adalah: apa yang terjadi dengan organisasi permainan setelah kartu merah? Mengapa tekanan CBN dapat menghasilkan dua gol dalam waktu relatif singkat? Apakah pemain sudah dibekali cara menghadapi situasi ketika jumlah mereka berkurang? Dan bagaimana pelatih menyiapkan mental pemain muda untuk menghadapi perubahan pertandingan yang tidak bisa diprediksi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting bagi pembinaan daripada mencari satu orang untuk disalahkan.
Sepak bola usia muda memang seharusnya tidak hanya mengajarkan cara menang.
Ia juga mengajarkan bagaimana menghadapi kesalahan, bagaimana bertahan ketika keadaan sulit, bagaimana menerima keputusan, dan bagaimana tetap berpikir ketika tekanan meningkat.
Karena itu, kekalahan Persebata tidak perlu dibaca sebagai akhir. Justru dari pertandingan seperti inilah proses pembinaan mendapatkan bahan evaluasi yang nyata.
CBN berhak menikmati kemenangan dan tiket semifinal yang mereka dapatkan. Mereka bermain efektif ketika momentum berpihak kepada mereka.
Tetapi bagi Persebata, pertandingan ini seharusnya meninggalkan pekerjaan yang lebih panjang daripada sekadar catatan kekalahan 1-3.
Turnamen boleh berakhir bagi mereka. Evaluasi tidak boleh.
Sebab dalam sepak bola usia muda, ukuran keberhasilan bukan hanya berapa banyak pertandingan yang dimenangkan. Ada pertanyaan yang lebih penting: apakah pemain menjadi lebih matang setelah mengalami kekalahan?
Jika jawabannya iya, maka kekalahan tidak sepenuhnya sia-sia.
Kartu merah Nursyal memang mengubah pertandingan sore itu. Tetapi kartu merah tidak harus menjadi penjelasan terakhir atas kekalahan Persebata.
Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan sebuah tim setelah kehilangan satu pemain, setelah tertinggal, setelah tekanan datang, dan ketika pertandingan mulai tidak berjalan sesuai rencana.
Di situlah sepak bola menguji bukan hanya kaki, tetapi juga kepala.
Dan bagi Persebata, mungkin itulah pelajaran terbesar dari Gelora Samador: bukan bagaimana menghindari keadaan sulit, melainkan bagaimana tetap bermain ketika keadaan sudah tidak berpihak.»
-
NASIONAL10 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA11 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
