PENKES
Pemkab Sikka Tanggung Kekurangan Dana Puskesmas Tuanggeo Setelah DAK Rp8 Miliar Gagal Tersalur
Karena tidak memenuhi ambang batas progres fisik, sisa dana DAK tidak dapat dicairkan oleh pemerintah pusat.
MAUMERE, GardaFlores – Pemerintah Kabupaten Sikka harus menanggung kekurangan anggaran pembangunan Puskesmas Tuanggeo setelah Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun Anggaran 2025 senilai lebih dari Rp8 miliar tidak tersalurkan penuh akibat progres fisik proyek yang tidak memenuhi syarat pencairan dari pemerintah pusat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, menjelaskan proyek pembangunan Puskesmas Tuanggeo sempat mengalami gagal lelang sebelum dilakukan lelang ulang dan dikerjakan oleh CV Jati Emas.
Menurut Petrus, pemerintah pusat mensyaratkan dua indikator utama agar sisa DAK dapat disalurkan hingga batas waktu 21 Desember 2025, yakni realisasi keuangan minimal 90 persen dan progres fisik minimal 70 persen.
Hingga batas waktu tersebut, realisasi keuangan proyek telah mencapai 90 persen. Namun capaian fisik pembangunan belum memenuhi ketentuan.
“Penyerapan dana sudah mencapai 90 persen, tetapi progres fisik belum mencapai 70 persen sehingga terjadi gagal salur,” kata Petrus di Maumere, Kamis (18/6/2026).
Berdasarkan laporan konsultan pengawas, progres fisik proyek tercatat 56,79 persen. Setelah dilakukan audit oleh Inspektorat Kabupaten Sikka, capaian fisik yang diakui sebesar 55,39 persen.
Karena tidak memenuhi ambang batas progres fisik yang dipersyaratkan, sisa dana DAK tidak dapat dicairkan oleh pemerintah pusat.
Petrus menyebut kegagalan memenuhi target fisik tersebut terjadi pada pelaksanaan pekerjaan oleh kontraktor.
“Persyaratannya jelas, penyerapan dana 90 persen dan progres fisik 70 persen. Yang tidak terpenuhi adalah progres fisik,” ujarnya.
Hingga 31 Desember 2025, pekerjaan pembangunan belum selesai sehingga kontrak dengan penyedia jasa diputus oleh pemerintah daerah.
Untuk mencari solusi atas kelanjutan proyek tersebut, Dinas Kesehatan telah menyampaikan surat kepada Kementerian Kesehatan dan mengajukan telaahan kepada Bupati Sikka. Wakil Bupati Sikka juga melakukan konsultasi langsung dengan Kementerian Kesehatan.
Namun hasil konsultasi menyatakan proyek tersebut menggunakan skema pembiayaan tahun tunggal (single year), sehingga kekurangan anggaran tidak dapat ditanggung kembali oleh pemerintah pusat.
Berdasarkan hasil audit Inspektorat, progres fisik yang diakui mencapai 55,39 persen, sementara pembayaran yang telah dilakukan menggunakan DAK baru sebesar 40 persen. Selisih sekitar 15 persen menjadi kewajiban yang harus dibayarkan pemerintah daerah kepada kontraktor.
“Selisih tersebut harus dibayar menggunakan dana daerah melalui DAU,” kata Petrus.
7.646 Anak di Sikka Tidak Sekolah, Ribuan Masuk Kategori Putus Sekolah dan Belum Pernah Bersekolah
Ia menjelaskan telaahan yang diajukan kepada pemerintah daerah terakhir disampaikan pada 7 Mei 2026. Dokumen tersebut mencakup 11 kegiatan dengan total kebutuhan anggaran sekitar Rp1,6 miliar, termasuk kebutuhan untuk pembangunan Puskesmas Tuanggeo sebesar sekitar Rp1,21 miliar.
Selain kewajiban pembayaran progres pekerjaan yang telah diaudit, pemerintah daerah juga harus menyiapkan anggaran lanjutan untuk menyelesaikan sisa pekerjaan pembangunan yang masih mencapai sekitar 44 persen.
Menurut Petrus, apabila kewajiban pembayaran progres fisik diselesaikan, maka penyelesaian sisa pembangunan baru dapat diusulkan kembali melalui APBD Tahun Anggaran 2027.
Di sisi lain, pemerintah juga akan mencairkan jaminan pelaksanaan proyek senilai sekitar Rp330 juta yang nantinya diperhitungkan dalam penyelesaian kewajiban antara pemerintah daerah dan kontraktor.
Saat ini Pemerintah Kabupaten Sikka masih menyiapkan skema penganggaran lanjutan untuk memenuhi kewajiban pembayaran hasil audit sekaligus memastikan pembangunan Puskesmas Tuanggeo dapat dilanjutkan hingga tuntas.»(rel)
PENKES
Aris Nuaria: Insiden BTA di Soeratin U-17 Jadi Ujian Pembinaan Sepak Bola Usia Muda
“Justru dalam kondisi seperti inilah kualitas pembinaan diuji.”
MAUMERE, GardaFlores – Insiden mogok bermain yang dilakukan Bintang Timur Atambua (BTA) pada laga melawan Persami Maumere di ajang Soeratin Cup U-17 terus memantik tanggapan dari kalangan pemerhati sepak bola di Nusa Tenggara Timur. Salah satunya datang dari pemerhati sepak bola Maumere, Aris Nuaria, yang menilai peristiwa tersebut perlu dijadikan bahan evaluasi dalam pembinaan pemain usia muda.
Menurut Aris, insiden yang terjadi menjelang berakhirnya pertandingan tidak hanya berkaitan dengan keputusan wasit yang dipersoalkan, tetapi juga menyangkut aspek pendidikan karakter dalam kompetisi usia dini.
“BTA selama ini dikenal sebagai salah satu akademi yang konsisten melahirkan pemain muda di NTT. Justru karena reputasi itu, peristiwa ini menjadi ujian bagi proses pembinaan yang selama ini dibangun,” katanya kepada GardaFlores, Selasa (4/8/2026).
Ia menilai pihak yang paling terdampak dari penghentian pertandingan adalah para pemain. Menurutnya, kompetisi kelompok umur tidak semata menjadi ruang untuk mengejar kemenangan, tetapi juga tempat pemain belajar menghadapi tekanan pertandingan, menerima keputusan yang tidak menguntungkan, dan menyelesaikan laga hingga peluit akhir.
“Pembinaan usia muda tidak hanya berbicara tentang kemampuan teknik dan taktik. Sportivitas, disiplin, serta kemampuan mengendalikan emosi juga menjadi bagian penting dari proses pembentukan pemain,” ujarnya.
Aris juga menyoroti peran pelatih dan ofisial dalam mendampingi pemain selama pertandingan. Ia berpendapat setiap keberatan terhadap keputusan perangkat pertandingan seharusnya disampaikan melalui mekanisme yang diatur dalam regulasi kompetisi.
“Pelatih dan ofisial memiliki tanggung jawab menjaga ketenangan pemain. Protes adalah hak setiap tim, tetapi penyampaiannya perlu dilakukan melalui prosedur yang tersedia,” katanya.
Nirwana 04 Menangi Duel Sarat Tensi, Penalti Felsiana Bungkam Persami di Gelora Samador
Menurut Aris, BTA tetap memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan sepak bola Nusa Tenggara Timur melalui pembinaan pemain usia muda yang selama ini dijalankan. Karena itu, ia berharap insiden tersebut tidak mengaburkan rekam jejak pembinaan yang telah dibangun, tetapi menjadi momentum untuk melakukan evaluasi.
Ia juga mengingatkan bahwa kompetisi Soeratin Cup U-17 masih berlangsung sehingga seluruh peserta diharapkan tetap menghormati regulasi yang berlaku demi menjaga kualitas kompetisi.
“Akademi yang besar bukan hanya diukur dari jumlah gelar atau pemain yang dihasilkan, tetapi juga dari sikap ketika menghadapi situasi yang sulit. Justru dalam kondisi seperti inilah kualitas pembinaan diuji,” ujarnya.
Insiden pada laga BTA melawan Persami Maumere kini masih menjadi perhatian publik sepak bola NTT. Hingga berita ini ditulis, penyelenggara kompetisi belum mengumumkan keputusan resmi terkait konsekuensi pertandingan tersebut sesuai regulasi yang berlaku.»(rel)
PENKES
Sekolah di Maumere Bangun Ekosistem Literasi, 300 Siswa Ikuti Reading Camp Berbasis Pembiasaan Membaca
Reading Camp di SDK Yos Sudarso memperlihatkan penguatan literasi tidak selalu bergantung pada pembangunan fasilitas baru.
MAUMERE, GardaFlores — Di tengah berbagai tantangan literasi anak Indonesia, SDK Yos Sudarso Maumere memilih membangun budaya membaca melalui pembiasaan yang berlangsung setiap hari di sekolah. Komitmen itu diperkuat melalui Reading Camp yang melibatkan sekitar 300 peserta didik sebagai bagian dari pengembangan ekosistem literasi sejak usia dasar.
Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah, Senin (3/8/2026), tidak dirancang sebagai lomba membaca ataupun kegiatan seremonial, melainkan menjadi bagian dari strategi sekolah membiasakan peserta didik berinteraksi dengan buku sesuai tahap perkembangan mereka.
Program tersebut mendapat dukungan Tim Literasi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Camat Alok Timur Kasianus Kei, perwakilan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sikka Yosef Supratman, S.Pd., Pemerintah Kelurahan Beru, Komite Sekolah, guru, orang tua, serta berbagai unsur masyarakat.
Reading Camp dikembangkan melalui konsep Wisata Literasi, dengan materi yang disusun secara bertahap mulai dari pengenalan huruf, penguasaan kosakata, merangkai kalimat, membaca lancar, hingga membaca pemahaman bagi peserta didik yang telah memiliki kemampuan literasi lebih tinggi.
20 Tim SD Bersaing di Merdeka Cup I Nita, Ajang Pembinaan Talenta Sepak Bola Usia Dini
Kepala SDK Yos Sudarso Maumere, Sr. Hubertina Nino, mengatakan peningkatan kemampuan membaca hanya dapat dicapai apabila literasi menjadi kebiasaan yang tumbuh dalam kehidupan sekolah, bukan sekadar program yang dilaksanakan pada momen tertentu.
“Di SDK Yos Sudarso, kami telah menerapkan Gong Literasi Gerakan 30 Menit Membaca sebelum pembelajaran dimulai dan setelah jam sekolah berakhir. Program ini dipadukan dengan implementasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia sehingga membaca menjadi bagian dari karakter, bukan sekadar kewajiban. Kami ingin melahirkan generasi yang gemar membaca, mampu berpikir kritis, kreatif, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan literasi menjadi fondasi bagi peserta didik untuk memahami informasi, menyelesaikan persoalan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis sejak usia sekolah dasar.
Camat Alok Timur, Kasianus Kei, menilai pembiasaan membaca perlu menjadi gerakan bersama seluruh satuan pendidikan karena literasi, numerasi, dan sains merupakan fondasi pembangunan sumber daya manusia.
“Anak-anak yang rajin membaca akan memiliki wawasan yang luas, kemampuan berpikir logis, serta mampu mengambil keputusan dengan bijaksana. Literasi bukan hanya kemampuan membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami kehidupan. Saya mengajak seluruh sekolah menjadikan gerakan literasi sebagai budaya bersama agar lahir generasi Kabupaten Sikka yang cerdas, berkarakter, inovatif, dan berdaya saing,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales. Ia menilai Reading Camp menjadi contoh praktik baik dalam membangun budaya membaca karena memadukan pembelajaran, pembiasaan, dan keterlibatan berbagai pihak.
Bunda Literasi Sikka Ajak Orang Tua Bangun Budaya Membaca, Kurangi Ketergantungan Anak pada Gawai
“Kegiatan literasi memiliki peran penting dalam membentuk generasi pembelajar sepanjang hayat. Anak-anak yang terbiasa membaca akan lebih mudah memahami pelajaran, berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik, serta berani bermimpi dan mewujudkan cita-citanya. Kami berharap kegiatan seperti ini menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Sikka,” ujarnya.
Ia mendorong sekolah-sekolah memperkuat fungsi perpustakaan sebagai pusat belajar sekaligus memperluas kolaborasi dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan dalam mengembangkan berbagai program literasi.
Reading Camp di SDK Yos Sudarso memperlihatkan bahwa penguatan literasi tidak selalu bergantung pada pembangunan fasilitas baru, tetapi dapat dimulai melalui pembiasaan membaca yang dilakukan secara konsisten, didukung metode pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan peserta didik, serta melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Model tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana gerakan literasi dapat dikembangkan dari tingkat sekolah untuk membentuk budaya belajar yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia sejak jenjang pendidikan dasar.»(rel)
PENKES
20 Tim SD Bersaing di Merdeka Cup I Nita, Ajang Pembinaan Talenta Sepak Bola Usia Dini
MAUMERE, GardaFlores – Sebanyak 20 tim sepak bola mini tingkat Sekolah Dasar (SD) dari berbagai sekolah di Kecamatan Nita mulai bersaing dalam Turnamen Merdeka Cup I yang resmi bergulir di Lapangan Golden Nita, Jumat (31/7/2026). Kompetisi yang menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu diproyeksikan menjadi ruang pembinaan pemain usia dini sekaligus menanamkan nilai sportivitas sejak bangku sekolah dasar.
Turnamen dibuka secara resmi oleh Camat Nita, Fransiskus Herpianus Nong Lalang, SH, disaksikan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), kepala sekolah, guru, pelatih, orang tua peserta, dan masyarakat yang memenuhi area lapangan.
Dalam sambutannya, Fransiskus menegaskan bahwa kompetisi usia dini harus dipandang sebagai proses pembelajaran, bukan sekadar perebutan gelar juara. Menurutnya, sepak bola menjadi media efektif untuk membentuk karakter, membangun disiplin, melatih kerja sama, dan menumbuhkan rasa saling menghargai.
“Menang atau kalah adalah hal yang biasa dalam pertandingan. Yang terpenting adalah belajar menghargai sesama, bekerja sama dalam tim, dan terus mengembangkan potensi diri,” katanya.
Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Nita, Edi, menilai turnamen tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter melalui olahraga. Selain mengasah kemampuan bermain, peserta juga belajar mengambil keputusan, memikul tanggung jawab, serta membangun mental kompetitif secara sehat.
Tujuh Desa di Sikka Perkuat Sistem Perlindungan Anak, TP PKK Dorong Peran Keluarga dan Masyarakat
Ia berharap ajang tersebut menjadi titik awal lahirnya pemain-pemain muda yang kelak mampu bersaing pada jenjang yang lebih tinggi.
“Bola tidak pernah berubah, dia ditendang ke mana-mana, tetapi dari bola orang bisa menjadi terkenal seperti Messi dan Ronaldo. Mudah-mudahan melalui turnamen ini lahir Messi dan Ronaldo baru dari Kecamatan Nita,” ujarnya.
Ketua Panitia HUT ke-81 Kemerdekaan RI Tingkat Kecamatan Nita, Theresia Erlinda, mengatakan seluruh pertandingan akan digelar dengan mengedepankan prinsip fair play, keamanan, dan ketertiban. Panitia juga mengajak peserta maupun penonton menjaga kebersihan lingkungan selama kompetisi berlangsung.
Turnamen Merdeka Cup I diikuti 20 tim sepak bola mini dari sekolah-sekolah dasar se-Kecamatan Nita. Kompetisi ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan peringatan kemerdekaan, tetapi juga menjadi mata rantai pembinaan sepak bola usia dini di Kabupaten Sikka.
Di tengah semakin besarnya kebutuhan pembinaan pemain sejak usia sekolah, kehadiran kompetisi seperti Merdeka Cup memberi ruang bagi anak-anak untuk merasakan atmosfer pertandingan, mengembangkan kemampuan, sekaligus membangun mental bertanding. Dari lapangan sederhana seperti Golden Nita, bibit-bibit pesepak bola masa depan dapat mulai tumbuh melalui kompetisi yang berkelanjutan.»(rel)
-
NASIONAL10 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA11 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM12 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka

Pingback: Pemkab Sikka Tegaskan Tidak Ada Larangan BBM Eceran - Garda Flores %
Pingback: Taekwondo Sikka Kirim 13 Atlit ke Makassar - Garda Flores %
Pingback: HUT IBI ke-75, Bupati Sikka Ingatkan Bidan Jaga Profesionalisme dan Etika Pelayanan - Garda Flores %