Connect with us

HUMANIORA

Pasien Penyakit Kronis Berisiko Terabaikan dalam Penanganan Gempa Flores

Pasien hipertensi, diabetes, gagal ginjal kronis dan gagal jantung berisiko mengalami gangguan pengobatan selama masa pengungsian akibat gempa Flores.

Published

on

Menurut Roy, pasien hipertensi, diabetes melitus, gagal ginjal kronis, dan gagal jantung tetap membutuhkan pengobatan dan pemantauan meskipun berada dalam situasi bencana.

MAUMERE, GardaFlores — Pasien penyakit kronis berisiko kehilangan akses terhadap obat, pemeriksaan, dan terapi rutin selama penanganan gempa Flores. Kelompok ini perlu masuk dalam pendataan dan pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian.

Hal tersebut disampaikan dr. Roy Boris, dokter umum yang bertugas di KSM Penyakit Dalam RSUD dr. T.C. Hillers Maumere, Rabu (26/8/2026).

Menurut Roy, pasien hipertensi, diabetes melitus, gagal ginjal kronis, dan gagal jantung tetap membutuhkan pengobatan dan pemantauan meskipun berada dalam situasi bencana.

“Pasien penyakit kronis mungkin tidak terlihat terluka, tetapi mereka tetap membutuhkan obat, pemeriksaan dan terapi secara teratur,” demikian pokok perhatian yang disampaikan Roy dalam tulisannya.

Di Tengah Pengungsian, Naufal Menunggu Kepastian Pengobatan

Dalam kondisi pengungsian, obat dapat tertinggal atau hilang ketika warga meninggalkan rumah. Akses menuju fasilitas kesehatan dan jadwal pemeriksaan juga dapat terganggu.

Pada pasien hipertensi dan diabetes, terputusnya pengobatan dapat mengganggu pengendalian penyakit. Sementara pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis membutuhkan kesinambungan jadwal terapi.

Pasien gagal jantung juga membutuhkan obat dan pemantauan agar kondisi mereka tetap terkendali.

Risiko tersebut semakin penting diperhatikan karena gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 turut berdampak pada fasilitas pelayanan kesehatan. Dalam naskah Roy disebutkan 21 rumah sakit dan 190 puskesmas terdampak dengan tingkat kerusakan berbeda.

Pengungsi Watuliwung Masih Bertahan, PDI Perjuangan Salurkan Bantuan Kebutuhan Dasar

Roy mendorong agar pasien penyakit kronis didata sejak awal, termasuk jenis penyakit, obat yang digunakan, kebutuhan insulin, jadwal dialisis, serta kondisi khusus yang membutuhkan pemantauan.

Pendataan tersebut diperlukan agar kebutuhan pengobatan dapat dipetakan dan pelayanan kesehatan tetap berjalan selama masa tanggap darurat.

Bagi pasien penyakit kronis, persoalan bencana tidak berhenti pada evakuasi atau kebutuhan logistik. Ketika pengobatan dan terapi terputus, kondisi kesehatan yang sebelumnya terkendali dapat berkembang menjadi masalah baru.

Karena itu, kesinambungan pengobatan pasien penyakit kronis perlu menjadi bagian dari penanganan kesehatan selama masa tanggap darurat gempa Flores.»(rel)

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: 168 Warga Terdampak Gempa Kangae Mendapat Pengobatan hingga Malam - Garda Flores %

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HUMANIORA

168 Warga Terdampak Gempa Kangae Mendapat Pengobatan hingga Malam

Tim kesehatan PDI Perjuangan melayani 168 warga terdampak gempa di tiga titik di Kecamatan Kangae, Sikka, hingga Selasa malam.

Published

on

Di Kampung Belan, sebanyak 53 warga mendapat pelayanan. Sebanyak 70 warga lainnya diperiksa di Kampung Wodon, sedangkan 45 warga dilayani di Kampung Watuliwung.

MAUMERE, GardaFlores — Sebanyak 168 warga terdampak gempa di Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, mendapat pemeriksaan dan pengobatan gratis hingga Selasa (25/8/2026) malam.

Pelayanan diberikan Tim Kesehatan DPP PDI Perjuangan bersama DPD dan DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka di tiga titik, yakni Kampung Belan dan Kampung Wodon, Desa Blatatatin, serta Kampung Watuliwung, Desa Watuliwung.

Di Kampung Belan, sebanyak 53 warga mendapat pelayanan. Sebanyak 70 warga lainnya diperiksa di Kampung Wodon, sedangkan 45 warga dilayani di Kampung Watuliwung.

Pasien Penyakit Kronis Berisiko Terabaikan dalam Penanganan Gempa Flores

Pelayanan berlangsung sejak pukul 16.30 WITA hingga sekitar pukul 22.00 WITA. Tim mendatangi permukiman warga terdampak untuk memberikan pemeriksaan dan pengobatan secara langsung.

Tim kesehatan tersebut dipimpin dr. Ananta Manggala Geovani Andreas Simanjuntak, bersama dr. Joannah Elizabeth N, Ns. Abna Prayoga Pranomo, S.Kep., Ferdian Kurniawan, Amd.Kep., Bdn. Apolonia Larasati Laratmase, S.Keb., dan Navisah Krisdyana Ababil, Amd.Keb.

Pelayanan didampingi Pengurus DPD PDI Perjuangan NTT, Emanuel Kolfidus dan Lusia Adinda Lebu Raya, serta Pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka, Oni Ambrosius, Yoce Mali Seda dan Tesa Nurak.

Tim menggunakan ambulans milik Bendahara DPD PDI Perjuangan NTT, Stevano Adranicus, untuk mendukung mobilitas pelayanan ke sejumlah titik.

Selain layanan kesehatan, warga di Dusun Wodon dan Kampung Belan, Dusun Bei, juga menerima bantuan bahan pangan berupa beras dan telur ayam.

Jumlah warga yang dilayani menunjukkan kebutuhan terhadap akses pemeriksaan dan pengobatan di wilayah terdampak masih berlangsung setelah gempa. Pelayanan langsung di permukiman menjadi salah satu cara menjangkau warga yang menghadapi keterbatasan akses selama masa pemulihan.

Kegiatan tersebut sekaligus menggabungkan dua kebutuhan dasar warga terdampak, yakni pelayanan kesehatan dan bantuan pangan.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Pengungsi Watuliwung Masih Bertahan, PDI Perjuangan Salurkan Bantuan Kebutuhan Dasar

Pengungsi Watuliwung, Sikka, masih bertahan setelah gempa Flores. PDI Perjuangan menyalurkan beras, telur ayam, popok bayi dan pembalut untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.

Published

on

Bantuan diserahkan Lusia Adinda Lebu Raya dan Emanuel Kolfidus, didampingi Pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka, Tesa Nurak.

MAUMERE, GardaFlores — Sejumlah warga terdampak gempa bumi tektonik di Kampung Watuliwung, Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, masih bertahan di lokasi pengungsian. Di tengah kondisi tersebut, PDI Perjuangan menyalurkan bantuan kebutuhan dasar kepada warga, Senin (24/8/2026) malam.

Bantuan diserahkan Lusia Adinda Lebu Raya dan Emanuel Kolfidus, didampingi Pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka, Tesa Nurak.

Logistik yang disalurkan terdiri atas beras, telur ayam, popok bayi dan pembalut. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan pangan sekaligus perlengkapan yang diperlukan kelompok rentan, khususnya bayi dan perempuan di lokasi pengungsian.

Penyaluran dilakukan ketika sebagian warga masih belum kembali ke rumah setelah gempa mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Selama warga masih berada di pengungsian, kebutuhan dasar harus tetap dipenuhi secara berkelanjutan.

Selain kebutuhan logistik, PDI Perjuangan juga menyoroti penanganan kesehatan korban gempa. Emanuel Kolfidus mengatakan korban yang mengalami luka berat membutuhkan pelayanan medis secara cepat dan maksimal.

Gempa Flores: Korban Tewas Tembus 100, 180.327 Warga Masih Mengungsi

“Salah satu prioritas utama saat ini adalah aspek kesehatan. Saudara-saudara kita yang mengalami luka berat harus mendapatkan pengobatan terbaik dan ditangani secara cepat,” kata Emanuel.

Ia meminta otoritas yang menangani bencana memastikan ketersediaan peralatan medis serta mengerahkan dokter dan tenaga kesehatan dalam jumlah yang memadai.

“Peralatan medis terbaik harus dikerahkan, begitu juga dokter dan tenaga kesehatan yang cukup agar saudara-saudara kita yang mengalami luka berat segera mendapatkan penanganan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan warga terdampak tidak berhenti pada bantuan pangan. Korban yang mengalami luka juga membutuhkan pelayanan kesehatan yang mampu menjangkau mereka secara cepat, terutama ketika sebagian warga masih berada dalam kondisi pengungsian.

Bantuan popok bayi dan pembalut juga memperlihatkan pentingnya pendataan kebutuhan berdasarkan kelompok penerima. Paket bantuan untuk pengungsi tidak selalu dapat diseragamkan karena bayi, perempuan, lansia, penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya memiliki kebutuhan yang berbeda.

Di Tengah Pengungsian, Naufal Menunggu Kepastian Pengobatan

Karena itu, distribusi bantuan perlu berjalan beriringan dengan pemutakhiran data pengungsi dan pemetaan kebutuhan di setiap lokasi. Langkah tersebut penting agar bantuan tidak hanya tersedia, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan warga yang menerimanya.

Bagi warga Watuliwung, bantuan yang disalurkan pada Senin malam itu menjadi bagian dari dukungan selama mereka masih bertahan di pengungsian. Namun, kebutuhan mereka tidak berhenti pada satu kali distribusi.

Selama warga belum dapat kembali secara aman ke rumah masing-masing, pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan dan perlindungan kelompok rentan tetap menjadi bagian dari penanganan yang harus dijaga.

Respons terhadap bencana pada akhirnya bukan hanya soal seberapa cepat bantuan tiba, tetapi juga bagaimana kebutuhan warga dipantau dan dipenuhi selama proses pemulihan berlangsung.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Di Tengah Pengungsian, Naufal Menunggu Kepastian Pengobatan

Naufal Aldani, anak tiga tahun asal Nangahale, Sikka, mengalami kesulitan buang air besar sejak lahir. Di tengah pengungsian akibat gempa, keluarganya berharap mendapat pemeriksaan dan kepastian pengobatan.

Published

on

Persoalan Naufal berlangsung jauh sebelum gempa bumi mengguncang Flores. Namun, kondisi pengungsian membuat kebutuhan kesehatan keluarga menjadi semakin kompleks.

MAUMERE, GardaFlores — Naufal Aldani baru berusia tiga tahun. Sejak lahir, anak asal Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, itu mengalami kesulitan buang air besar dan hingga kini belum memperoleh kepastian mengenai kondisi medis yang dialaminya.

Persoalan kesehatan Naufal kembali mendapat perhatian ketika Ketua TP PKK Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena atau Asti Laka Lena, bersama Ketua TP PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, mengunjungi Posko Pengungsian Desa Nangahale, Minggu (23/8/2026).

Saat itu, Naufal berada dalam pelukan ibunya, Aida Abdullah. Kepada Asti dan Fista, keluarga menyampaikan kondisi kesehatan Naufal sekaligus harapan agar anak tersebut mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan.

Menurut keterangan keluarga, Naufal mengalami kesulitan berat untuk buang air besar. Untuk membantu proses tersebut, keluarga menyebut harus menggunakan alat bantu melalui lubang anus.

Keluarga juga menyebut Naufal pernah mengalami kondisi yang berkaitan dengan Hirschsprung dan dugaan atresia ani. Namun, informasi tersebut belum dapat dipastikan sebagai diagnosis medis tanpa pemeriksaan dokter.

Selama tiga tahun, kondisi tersebut menjadi bagian dari kehidupan Naufal dan keluarganya. Kini, persoalan kesehatan itu harus dijalani bersamaan dengan situasi pengungsian setelah gempa bumi mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.

Gempa Flores: Korban Tewas Tembus 100, 180.327 Warga Masih Mengungsi

Keluarga Menunggu Pemeriksaan

Aida berharap anaknya dapat memperoleh pemeriksaan medis untuk mengetahui kondisi sebenarnya dan menentukan penanganan yang dibutuhkan.

Harapan keluarga juga mencakup kemungkinan tindakan operasi apabila hasil pemeriksaan dokter menyatakan tindakan tersebut diperlukan.

Kepastian medis menjadi tahap pertama yang penting. Tanpa pemeriksaan dan diagnosis yang jelas, belum dapat ditentukan jenis gangguan yang dialami Naufal maupun bentuk penanganan yang paling tepat.

Bagi keluarga, persoalan tersebut semakin berat karena kondisi ekonomi mereka terbatas. Situasi pengungsian juga menambah keterbatasan keluarga dalam mengakses layanan yang dibutuhkan Naufal.

Perhatian dari Posko Pengungsian

Kondisi Naufal diketahui ketika Asti dan Fista mengunjungi warga terdampak gempa di Nangahale.

Setelah mendengar kondisi anak tersebut, Asti meminta Kepala Desa Nangahale untuk mengetahui lebih lanjut keadaan Naufal dan keluarganya.

Fista juga menyampaikan komitmen untuk berkoordinasi dengan warga serta pihak terkait guna mencari solusi bagi penanganan Naufal. Ia meminta nomor telepon keluarga agar komunikasi mengenai kondisi anak tersebut dapat dilakukan lebih lanjut.

Perhatian tersebut menjadi langkah awal untuk membuka kembali akses penanganan bagi Naufal.

Namun, tindak lanjut medis tetap menjadi bagian penting dari proses berikutnya. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan kondisi Naufal, menentukan fasilitas kesehatan yang sesuai, serta menyusun langkah penanganan berdasarkan kebutuhan medisnya.

Bunda Asti dan Bunda Fista Dampingi Anak-Anak Pengungsi di Posko Wailiti

Bencana Menambah Beban Keluarga

Persoalan Naufal berlangsung jauh sebelum gempa bumi mengguncang Flores. Namun, kondisi pengungsian membuat kebutuhan kesehatan keluarga menjadi semakin kompleks.

Di lokasi pengungsian, keluarga tidak hanya berhadapan dengan kebutuhan pangan, air bersih dan tempat tinggal sementara, tetapi juga harus menjaga anggota keluarga yang memiliki kebutuhan kesehatan khusus.

Situasi seperti itu menunjukkan bahwa penanganan korban bencana tidak selalu berhenti pada mereka yang mengalami luka akibat gempa.

Sebagian warga terdampak telah membawa persoalan kesehatan sejak sebelum bencana dan tetap membutuhkan pelayanan medis selama masa tanggap darurat.

Karena itu, kasus Naufal membutuhkan penanganan berdasarkan kondisi medisnya, bukan semata-mata sebagai bagian dari data pengungsi terdampak gempa.

Menunggu Kepastian, Bukan Sekadar Perhatian

Kunjungan pejabat ke posko dapat membuka perhatian terhadap persoalan yang sebelumnya belum terlihat. Namun bagi keluarga Naufal, tahap berikutnya jauh lebih penting: memastikan perhatian tersebut berlanjut menjadi pemeriksaan dan penanganan medis.

Keluarga berharap Naufal dapat diperiksa secara menyeluruh, memperoleh diagnosis yang pasti, dan mendapatkan pengobatan sesuai kebutuhan.

Pengungsi Sikka Mulai Pulang, Rumah dan Data Warga Wajib Diverifikasi

Jika dokter menyatakan tindakan operasi diperlukan, keluarga juga berharap tersedia akses untuk mendapatkan tindakan tersebut.

Sejauh informasi yang tersedia, belum ada keterangan medis yang memastikan diagnosis Naufal maupun keputusan mengenai tindakan operasi. Karena itu, penanganan selanjutnya harus didasarkan pada hasil pemeriksaan tenaga medis.

Di tengah situasi bencana, kebutuhan Naufal mengingatkan bahwa pemulihan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan rumah yang rusak dan kebutuhan logistik. Ada warga yang membawa persoalan kesehatan sejak sebelum bencana dan membutuhkan negara serta layanan kesehatan untuk memastikan mereka tetap mendapatkan penanganan.

Bagi Naufal dan keluarganya, harapan itu kini sederhana: ada pemeriksaan, ada kepastian diagnosis, dan ada jalan menuju pengobatan.

Tiga tahun telah berlalu sejak persoalan kesehatan itu menyertai kehidupannya. Kini keluarga menunggu agar perhatian yang muncul di tengah pengungsian berlanjut menjadi tindakan medis yang nyata.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending