Connect with us

SOSBUD

Mantan Bupati Sikka Desak DPRD–Pemda Biayai Shelter Korban TPPO Eltras: TRuk F Diminta Dapat Beras dan Dana Darurat

“Selama ini mereka yang berada di shelter TRuk F tidak mendapatkan bantuan dari siapa pun.”

Published

on

Mantan Bupati Sikka, Drs. Alexander Longginus turut hadir dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Sikka pada Senin (9/2/2026), yang membahas kasus TPPO terhadap 13 Lady Companion (LC). FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

Maumere, GardaFlores – Mantan Bupati Sikka, Drs. Alexander Longginus, secara terbuka mendesak DPRD Kabupaten Sikka dan Pemerintah Kabupaten Sikka untuk segera memberikan bantuan logistik dan anggaran kepada Tim Relawan untuk Flores (TRuk F). Ia meminta dukungan berupa beras sebanyak 3 hingga 4 ton serta bantuan dana darurat guna menjamin keberlangsungan shelter yang saat ini menampung 13 perempuan korban dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dari Eltras Pub dan Karaoke.

Desakan itu disampaikan Alex dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Sikka pada Senin (9/2/2026), yang membahas kasus TPPO terhadap 13 Lady Companion (LC). Forum tersebut dihadiri oleh pegiat HAM, BEM Unipa, BEM Ledalero, serta perwakilan TRuk F. Di hadapan para legislator dan perwakilan pemerintah daerah, Alex menegaskan bahwa negara tidak boleh membiarkan korban kekerasan seksual dan perdagangan orang bergantung pada solidaritas sukarela semata.

Pengakuan LC di DPRD Sikka: Dugaan Kekerasan Oknum Polisi dan Eksploitasi di Eltras Pub

“Saya minta DPRD dan Pemerintah Kabupaten Sikka membantu uang dan beras 3 atau 4 ton untuk kebutuhan TRuk F. Selama ini mereka yang berada di shelter TRuk F tidak mendapatkan bantuan dari siapa pun,” tegas Alex. Pernyataan ini menyoroti situasi darurat di shelter TRuk F yang kini memikul beban penuh pemenuhan kebutuhan hidup 13 korban, mulai dari pangan, kesehatan, hingga pendampingan hukum dan psikologis.

Alex menjelaskan, para perempuan yang kini berada di shelter TRuk F bukan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga mengalami kekerasan seksual, tekanan, dan dugaan eksploitasi selama bekerja di tempat hiburan malam tersebut. Karena itu, bantuan kepada TRuk F bukan sekadar bantuan sosial, melainkan kewajiban kemanusiaan dan bagian dari tanggung jawab negara dalam melindungi korban TPPO.

Kuasa Hukum Eltras Bantah Tuduhan RDP DPRD Sikka: “Tidak Ada Polisi Membekingi, Semua Harus Dibuktikan”

Ia juga mengingatkan bahwa saat masih menjabat sebagai Bupati Sikka, pimpinan TRuk F, Suster Eustochia, pernah meminta dukungan dana dan saat itu pemerintah daerah memberikannya sebagai bentuk tanggung jawab negara terhadap kerja-kerja kemanusiaan. Menurut Alex, pola dukungan tersebut seharusnya tetap berlanjut, terlebih dalam situasi krisis yang melibatkan korban perdagangan orang dan kekerasan seksual.

Hingga berita ini diturunkan, DPRD Kabupaten Sikka dan Pemerintah Kabupaten Sikka belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan bantuan beras dan dana untuk TRuk F. Sementara itu, 13 korban TPPO masih bergantung sepenuhnya pada daya tahan logistik dan solidaritas yang dikelola oleh TRuk F di tengah proses pendampingan dan penegakan hukum yang sedang berjalan.»(rel)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SOSBUD

Bhabinkamtibmas Bantu Keluarga Korban Kebakaran Posko Pengungsian Palue

Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue menyalurkan bantuan kepada keluarga Philipus Pitu yang menjadi korban kebakaran di Posko Pengungsian Wuwuwa. Bantuan mencakup perlengkapan ibu dan bayi.

Published

on

Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue mengantar dan menyerahkan bantuan kepada keluarga Philipus Pitu di Posko Pengungsian Wuwuwa, Desa Nitunglea, Kamis (8/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores—Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue membantu keluarga Philipus Pitu yang menjadi korban kebakaran di Posko Pengungsian Wuwuwa, Dusun Awamale, Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Kamis (8/10/2026).

Bantuan diserahkan langsung di lokasi pengungsian. Selain kebutuhan sehari-hari, petugas juga membawa sejumlah perlengkapan bayi karena istri Philipus Pitu sedang hamil dan diperkirakan segera melahirkan.

Perlengkapan yang diberikan antara lain kasur atau spon, tempat tidur bayi, pakaian bayi, dot, ember bak mandi, perlak, loyor, kaos kaki dan sarung tangan bayi. Bantuan juga mencakup bedak, sampo, sabun dan minyak telon untuk kebutuhan perawatan bayi.

Bhabinkamtibmas juga melihat langsung kondisi warga di lokasi dan mencatat kebutuhan yang masih diperlukan. Warga diingatkan tetap waspada terhadap gempa susulan dan kemungkinan kebakaran serta segera melaporkan situasi yang berpotensi mengganggu keamanan.

Perempuan di Rumah Pengungsi Rokotenda Diduga Diserang Orang Tak Dikenal

“Kondisi seperti ini membutuhkan kepedulian dan kebersamaan. Warga diharapkan tetap saling membantu dan segera melaporkan apabila ada situasi yang dapat mengganggu keamanan,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Akses menuju Posko Pengungsian Wuwuwa masih menghadapi kendala karena sejumlah ruas jalan mengalami kerusakan akibat gempa.

Kebakaran yang menimpa keluarga Philipus Pitu terjadi di tenda atau posko pengungsian yang mereka tempati. Informasi awal menyebut api diduga berasal dari lampu di dalam posko yang tidak dimatikan sejak pagi. Namun, penyebab kebakaran masih perlu diperiksa lebih lanjut.

Penyaluran bantuan dimulai sekitar pukul 12.00 WITA dan berakhir pukul 16.00 WITA.»(rel)

Continue Reading

SOSBUD

Batas Tanah 2.526 Meter Persegi di Palue Disepakati, Tak Ada Keberatan

Kantor Pertanahan Kabupaten Sikka mengukur bidang tanah seluas sekitar 2.526 meter persegi di Desa Maluriwu, Palue. Para tetangga batas mengakui dan menyepakati batas bidang tanah tanpa keberatan.

Published

on

Petugas Kantor Pertanahan Kabupaten Sikka melakukan pengukuran dan penetapan batas bidang tanah di Dusun Uwa, Desa Maluriwu, Kecamatan Palue.

MAUMERE, GardaFlores — Batas bidang tanah seluas sekitar 2.526 meter persegi di Dusun Uwa, Desa Maluriwu, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, disepakati para pihak dalam pengukuran yang dilakukan Kantor Pertanahan Kabupaten Sikka, Senin (5/10/2026).

Bidang tanah yang berada di lingkungan SMAK St. Benediktus itu menjadi objek pengukuran dalam proses pendaftaran hak atas tanah. Muhammad Syafiuddin dari Kementerian Agama Kabupaten Sikka tercatat sebagai pemohon.

Pengukuran berlangsung pukul 10.00 hingga 14.00 WITA. Sebelum pengukuran, pemohon menunjukkan batas bidang tanah yang dikuasainya, sementara para tetangga batas hadir untuk memberikan pengakuan atas batas tersebut.

Setelah pemeriksaan lapangan, petugas memasang tanda batas pada titik-titik sudut bidang tanah dan melakukan pengukuran koordinat serta luas menggunakan peralatan ukur.

HUT Ke-81 TNI di Maumere, Amanat Panglima Tekankan Implementasi Nilai PRIMA

Hasilnya, sisi utara berbatasan dengan jalan dan Kantor Camat Palue. Sisi selatan berbatasan dengan Petrus Pasa. Sisi timur berbatasan dengan Kantor Camat Palue dan Nicolaus Niku, sedangkan sisi barat berbatasan dengan Wendelina Ndad dan SDN Uwa I.

Tidak ada keberatan dari para tetangga batas terhadap hasil penetapan tersebut. Batas yang ditunjukkan pemohon disetujui dan diakui para pihak yang hadir.

Kesepakatan itu kemudian dituangkan dalam Berita Acara Penetapan Batas Tanah dan ditandatangani para pihak sebagai bagian dari proses pendaftaran hak atas tanah.

Empat Penyelam Hilang di Perairan Pangabatang, Seluruhnya Ditemukan Selamat

Kepala SMAK St. Benediktus Antonius Cawa, S.Pd., Gr., Kasi Pemerintahan Desa Maluriwu Agustinus Ngasu, staf Kecamatan Palue Benyamin Cawa dan Maria Desi Ratna Sina, serta pihak yang berbatasan dengan bidang tanah turut hadir dalam proses tersebut.

Setelah pengukuran dan penetapan batas selesai, Kantor Pertanahan Kabupaten Sikka melanjutkan tahapan administrasi pendaftaran hak atas tanah sesuai ketentuan yang berlaku.»(rel)

Continue Reading

SOSBUD

Posko Pengungsian di Wuwuwawa Palue Terbakar, Sejumlah Barang Keluarga Rusak

Posko pengungsian di Kampung Wuwuwawa, Palue, Sikka, terbakar Sabtu sore. Api merusak sejumlah barang milik keluarga Philipus Pitu, sementara penyebab kebakaran masih perlu dipastikan.

Published

on

Posko pengungsian milik warga di Kampung Wuwuwawa, Desa Nitunglea, Palue, Sikka, terbakar pada Sabtu (3/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores — Sebuah posko pengungsian di Kampung Wuwuwawa, Dusun Awamale, Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, terbakar pada Sabtu (3/10/2026) sekitar pukul 15.30 WITA. Tidak ada korban jiwa maupun laporan korban luka dalam peristiwa tersebut.

Posko itu milik Philipus Pitu (40), warga Dusun Awamale. Saat kebakaran terjadi, Philipus sedang mengantar anggota keluarganya mengurus pengaktifan Program Keluarga Harapan (PKH) di wilayah Uwa, Kecamatan Palue.

Ia mengetahui kebakaran setelah mendapat kabar dari keluarganya yang berada di Kampung Wuwuwawa. Philipus kemudian kembali ke lokasi untuk melihat kondisi posko.

Warga sekitar langsung bergotong royong memadamkan api. Aliran listrik diputus sebelum warga menyiram bagian tenda yang terbakar dengan air hingga api berhasil dipadamkan.

BGN Aktifkan 480 SPPG di 16 Provinsi Mulai 2 Oktober

Informasi awal menyebut kebakaran diduga berkaitan dengan lampu di dalam posko yang tidak dimatikan sejak pagi. Lampu tersebut diduga membuat suhu di dalam tenda meningkat. Namun, penyebab pasti kebakaran masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.

Kebakaran menghanguskan atau merusak sejumlah barang milik keluarga Philipus, antara lain kasur, pakaian keluarga, pakaian bayi, peralatan dapur, dan perlengkapan rumah tangga lainnya.

Setelah kehilangan posko dan sejumlah barang, keluarga Philipus membutuhkan tenda atau tempat tinggal sementara, kasur, serta pakaian bayi. Kebutuhan tersebut menjadi perhatian karena istri Philipus diperkirakan melahirkan seorang anak mereka pada Oktober 2026.»(rel)

Continue Reading

Trending