EKONOMI
TMMD ke-127 di Sikka Ditutup, Jalan 4,4 Km Diklaim Rampung 100 Persen
Bagaimana dampaknya bagi desa?
MAUMERE, GardaFlores — Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 Tahun Anggaran 2026 di Kabupaten Sikka resmi ditutup pada Rabu (11/3/2026). Upacara penutupan digelar di Desa Werang, Kecamatan Waiblama, dan dipimpin langsung Panglima Kodam IX/Udayana, Mayjen TNI Piek Budyakto, selaku Pengendali Kegiatan Operasi (PKO) TMMD.
Dalam amanatnya, Pangdam menyebut program TMMD sebagai salah satu instrumen percepatan pembangunan desa yang juga memperkuat hubungan antara TNI dan masyarakat.
“Program TMMD mampu memberikan akselerasi pembangunan dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, sekaligus memperkuat kemanunggalan TNI dan rakyat,” kata Pangdam dalam amanatnya.
Program yang mengusung tema “TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa” itu dilaksanakan secara serentak di empat wilayah jajaran Kodam IX/Udayana, yakni Kabupaten Sikka di Nusa Tenggara Timur, Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat, serta Kabupaten Jembrana di Bali.
Brigjen TNI Hari Rahardjanto Tinjau Renovasi PAUD TMMD di Sikka, 60 Paket Gizi Anak Disalurkan
Selain pembangunan infrastruktur, kegiatan juga mencakup program nonfisik berupa penyuluhan kepada masyarakat terkait ketahanan pangan, pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), wawasan kebangsaan dan bela negara, pelayanan administrasi kependudukan, hingga sosialisasi keamanan dan ketertiban masyarakat serta pencegahan stunting.
Pangdam juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah dan masyarakat yang terlibat dalam program tersebut.
“Partisipasi masyarakat yang tinggi menjadi indikator keberhasilan kemanunggalan TNI dan rakyat yang selama ini terjalin dengan baik,” ujarnya.
Di akhir amanatnya, Pangdam menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat apabila selama pelaksanaan kegiatan terdapat tindakan maupun ucapan prajurit yang kurang berkenan.
Jalan 4,4 Kilometer Jadi Proyek Utama
Komandan Kodim 1603/Sikka Letkol Arm Denny Riesta Permana melaporkan bahwa sasaran fisik utama TMMD di wilayah tersebut adalah pembukaan jalan baru sepanjang 4.400 meter dengan lebar empat meter di Desa Werang.
Proyek tersebut dilaporkan telah selesai dengan capaian 100 persen.
“TMMD bertujuan membantu pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan fisik maupun non fisik,” kata Dandim.
Selain pembangunan jalan, kegiatan lain yang dilakukan antara lain pembangunan fasilitas MCK dan bak penampung air di Desa Werang, rehabilitasi Kapela St. Yohanes Paulus Hila, serta rehabilitasi dua unit rumah tidak layak huni (RTLH) di Desa Gong Bekor, Kecamatan Alok Timur.
Program lingkungan juga menjadi bagian dari kegiatan ini melalui penanaman 1.500 pohon, terdiri dari 500 pohon mahoni, 500 pohon trembesi, dan 500 pohon jambu mete.
TMMD Ke-127 Kodim 1603/Sikka Renovasi Gereja Daranatar di Desa Hoder
Di sektor ketahanan pangan, Satgas TMMD melakukan penanaman padi seluas dua hektare di Desa Reroroja.
Sementara itu, kegiatan sosial lainnya mencakup pembagian sembako dan nutrisi bagi masyarakat untuk pencegahan stunting serta kegiatan pembersihan pantai di Desa Nangahale, Watumilok, dan Lewolabo.
Program TMMD di wilayah Kodim 1603/Sikka diawali dengan Pra TMMD pada 29 Januari hingga 8 Februari 2026, lalu dilanjutkan dengan pelaksanaan utama pada 10 Februari hingga 11 Maret 2026.
Pelaksanaan kegiatan melibatkan sekitar 150 personel gabungan TNI, Polri, dan pemerintah daerah, serta partisipasi masyarakat sekitar 100 orang setiap hari.
Klaim Tuntas 100 Persen dan Tantangan Nyata di Lapangan
Meski berbagai program dilaporkan selesai 100 persen, pertanyaan berikutnya adalah sejauh mana pembangunan tersebut mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat desa.
Pembukaan jalan baru, misalnya, diharapkan dapat membuka akses transportasi dan memperlancar distribusi hasil pertanian warga. Namun manfaat tersebut sangat bergantung pada keberlanjutan pemeliharaan infrastruktur dan pengembangan aktivitas ekonomi di sekitarnya.
Dari Sawah Werang, Persaudaraan Tumbuh: Prajurit dan Warga Makan Sehidang di Lokasi TMMD Ke-127
Tanpa perawatan rutin dan dukungan kebijakan lanjutan dari pemerintah daerah, sejumlah proyek pembangunan desa kerap menghadapi risiko kerusakan dalam beberapa tahun setelah selesai dibangun.
Karena itu, Pangdam IX/Udayana mengingatkan masyarakat untuk menjaga hasil pembangunan tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Rawat bersama hasil program TMMD agar memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” ujarnya.
Program Kolaborasi yang Perlu Dievaluasi
Selama ini, TMMD menjadi salah satu model pembangunan berbasis kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat desa, khususnya di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar.
Namun di sejumlah daerah, efektivitas program ini sering kali tidak hanya diukur dari selesainya proyek fisik, tetapi juga dari dampak ekonomi dan sosial yang muncul setelah program berakhir.
Di Sikka, jalan baru yang dibuka melalui TMMD ke-127 kini menjadi salah satu indikator awal apakah program tersebut benar-benar mampu mendorong mobilitas ekonomi masyarakat desa—atau sekadar menjadi proyek pembangunan jangka pendek.
Evaluasi terhadap dampak jangka panjang inilah yang akan menentukan seberapa jauh program TMMD benar-benar berhasil “membangun negeri dari desa.”»(rel)
EKONOMI
RDP KUR DPRD Sikka Berakhir Tanpa Rekomendasi, 11 Anggota Hadir
DPRD Sikka menggelar RDP bersama perbankan dan koperasi untuk membahas kendala akses KUR bagi UMKM. Pertemuan berakhir tanpa rekomendasi resmi, sementara hanya 11 dari 35 anggota DPRD hadir.
MAUMERE, GardaFlores — Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Kabupaten Sikka bersama sejumlah pimpinan perbankan dan koperasi untuk membahas kendala akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) berakhir tanpa rekomendasi resmi. Rapat di Gedung Kula Babong, Kamis (15/10/2026), hanya dihadiri 11 dari total 35 anggota DPRD Sikka.
RDP tersebut digelar untuk merespons keluhan masyarakat yang kesulitan memperoleh akses permodalan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dalam pertemuan itu, sejumlah lembaga keuangan memaparkan persyaratan penyaluran, persoalan riwayat kredit, hingga keterbatasan kuota pembiayaan.
Ketua DPRD Sikka, Stefanus Sumandi, mengatakan masyarakat mempertanyakan alasan pengajuan KUR mereka tidak dapat diproses. DPRD kemudian menghadirkan pihak perbankan dan koperasi agar mereka dapat menjelaskan persyaratan serta kriteria calon penerima secara langsung.
“Mereka bertanya kepada kami, syaratnya apa? Lalu mengapa kami tidak bisa dilayani? Tentunya, pihak bank dan koperasi paling berkompeten untuk memberikan penjelasan mengenai hal itu,” kata Stefanus.
KNMP Lowolabo Dibangun dengan Anggaran Rp4,72 Miliar, Masa Kerja 120 Hari
General Manager Kopdit Obor Mas, Leonardus Frediyanto Moat Lering, mengatakan penyaluran KUR oleh lembaganya di Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mencapai lebih dari Rp715 miliar. Pada 2026, Kopdit Obor Mas kembali mendapat kepercayaan menyalurkan KUR dengan plafon Rp200 miliar.
Menurut Leonardus, calon penerima harus memiliki usaha produktif yang telah berjalan minimal lima bulan, rekam jejak pinjaman yang baik, dan memenuhi persyaratan terkait kredit produktif di lembaga keuangan lain.
Ia menyebut penggunaan pinjaman untuk kebutuhan konsumtif serta masalah riwayat kredit sebagai kendala pengajuan. Leonardus juga menyoroti kasus penggunaan identitas seseorang oleh pihak lain untuk mengajukan pinjaman daring atau kredit melalui perusahaan pembiayaan yang kemudian macet.
“Banyak masyarakat kita yang pinjam, tetapi bukan untuk pengembangan usaha, melainkan untuk konsumtif. Banyak masyarakat kita yang punya KTP, tetapi dipinjamkan oleh orang lain untuk pinjaman online atau leasing dan macet sehingga akses KUR tidak bisa diproses,” ujarnya.
Pimpinan BRI Cabang Maumere, Rizky Darmawan, menyampaikan bahwa BRI menargetkan penyaluran KUR sebesar Rp200 miliar sepanjang 2026. Hingga RDP berlangsung, realisasi penyaluran disebut telah melampaui Rp100 miliar dengan sekitar 13 ribu nasabah.
Rizky menjelaskan, penilaian calon debitur menggunakan prinsip 5C, yakni Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition. Ia juga menyebut tunggakan kredit di lembaga keuangan lain, termasuk koperasi, sebagai salah satu kendala pengajuan. Menurut dia, calon debitur yang memiliki pinjaman Kupedes tidak dapat mengajukan KUR melalui BRI.
Rizky turut menyinggung adanya kasus kredit fiktif yang disebut melibatkan oknum internal bank. Ia mengatakan BRI akan memperkuat pengawasan untuk mencegah penyelewengan dalam penyaluran pembiayaan.
Dari BNI Cabang Maumere, Program Relationship Manager Nofansius Dari mengatakan kuota KUR nasional BNI pada 2026 mencapai Rp12,93 triliun. Hingga 30 September 2026, penyaluran telah mencapai Rp12,54 triliun.
Menurut Nofansius, kuota KUR mikro dan kecil yang tersedia telah habis. Ia berharap alokasi baru dapat diberikan pada awal 2027 agar penyaluran kembali berjalan.
“Saat ini kuota KUR mikro dan kecil kami sudah selesai. Semoga di awal tahun 2027 kita diberikan kuota lebih banyak untuk penyaluran,” kata Nofansius.
Proyek KNMP Wuring Rp3,2 Miliar Terlambat, Tahap Ini Fokus Fondasi
Sementara itu, Pimpinan Bank NTT Cabang Maumere, Emanuel Sina Rato Meka, mengatakan Bank NTT kembali menyalurkan KUR pada Juli 2026 setelah tidak menjalankan program tersebut setelah periode 2016–2019.
Untuk 2026, Bank NTT memperoleh alokasi KUR Rp350 miliar yang dibagikan kepada 22 cabang di NTT. Cabang Maumere mendapat alokasi sekitar Rp15,217 miliar. Emanuel mengatakan persyaratan dan kendala penyaluran secara umum tidak jauh berbeda dengan yang dihadapi lembaga keuangan lain.
Meski berbagai persoalan akses pembiayaan telah dibahas, RDP tersebut berakhir tanpa menghasilkan rekomendasi resmi. Belum ada keputusan yang disampaikan dalam rapat mengenai tindak lanjut konkret untuk menanggapi keluhan masyarakat yang menjadi dasar pertemuan.
Dengan hanya 11 anggota hadir, rapat tersebut menyisakan persoalan yang perlu ditindaklanjuti DPRD, terutama terkait cara masyarakat memperoleh penjelasan atas penolakan pengajuan KUR dan jalur penyelesaian bagi calon debitur yang menghadapi kendala pembiayaan.»(rel)
EKONOMI
KNMP Lowolabo Dibangun dengan Anggaran Rp4,72 Miliar, Masa Kerja 120 Hari
Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago meletakkan batu pertama pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Desa Lowolabo, Kecamatan Paga. Proyek senilai Rp4,72 miliar itu memiliki masa pengerjaan 120 hari.
MAUMERE, GardaFlores — Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Lowolabo, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, dimulai melalui peletakan batu pertama oleh Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, Rabu (14/10/2026). Proyek senilai Rp4,72 miliar itu dikerjakan PT Arum Daya Sentausa dengan masa pengerjaan 120 hari.
Pembangunan tersebut merupakan bagian dari program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mendukung kegiatan perikanan melalui penyediaan infrastruktur di kawasan pesisir.
Juventus mengatakan Lowolabo merupakan satu dari delapan desa di Kabupaten Sikka yang ditetapkan sebagai lokasi pembangunan KNMP. Penetapan lokasi, menurut dia, didasarkan pada hasil penilaian yang mempertimbangkan ketersediaan data dan potensi sektor perikanan.
Ketersediaan lahan menjadi salah satu kendala pembangunan KNMP di Kabupaten Sikka. Juventus menyebut lokasi di Lowolabo tersedia dan berdekatan dengan Koperasi Merah Putih, yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan program.
Bupati meminta pelaksana melibatkan masyarakat setempat, termasuk dalam penyediaan material, serta menjaga kualitas pekerjaan.
“Semua pihak harus terlibat untuk mendukung pelaksanaannya sehingga pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih ini lancar dan berjalan baik,” kata Juventus.
Nilai kontrak pembangunan KNMP Lowolabo tercatat sebesar Rp4.723.090.147,59 dengan masa pengerjaan 120 hari. Fasilitas yang dibangun diharapkan mendukung aktivitas perikanan dan penanganan hasil tangkapan, meski rincian jenis fasilitas dalam proyek Lowolabo belum dijelaskan dalam keterangan yang tersedia.
Peletakan batu pertama turut dihadiri Camat Paga, Penjabat Kepala Desa Lowolabo, perwakilan perangkat daerah, wakil sah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pembangunan KNMP Kabupaten Sikka, konsultan pengawas, dan tokoh masyarakat.»(rel)
EKONOMI
Sejumlah Titik KNMP di Sikka Terkendala Kawasan TWA
Sejumlah titik pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Sikka perlu ditinjau ulang karena berada dalam kawasan Taman Wisata Alam. Sementara itu, proyek KNMP di Nangahure mulai dibangun dengan anggaran Rp3,21 miliar.
MAUMERE, GardaFlores — Sejumlah titik pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menghadapi persoalan lokasi karena berada dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA). Pemerintah Kabupaten Sikka sedang mengupayakan peninjauan ulang setelah menerima surat dari Kementerian Kehutanan.
Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, menyampaikan persoalan itu saat peletakan batu pertama pembangunan KNMP di Nangahure, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Selasa (13/10/2026).
“Kita punya delapan titik ini, tetapi ada beberapa titik yang jadi masalah karena masih masuk dalam kawasan TWA. Ada surat dari Kementerian Kehutanan untuk kemudian ditinjau ulang titiknya. Ini yang sedang kita upayakan,” kata Juventus.
Proyek KNMP Wuring Rp3,2 Miliar Terlambat, Tahap Ini Fokus Fondasi
Ia belum merinci jumlah titik yang terdampak, lokasi masing-masing titik, maupun keputusan yang akan diambil setelah peninjauan. Belum ada penjelasan apakah lokasi tersebut akan tetap dipertahankan atau dialihkan.
Sementara persoalan lokasi itu masih ditangani, pembangunan KNMP di Nangahure telah dimulai. Proyek tersebut dikerjakan PT Arum Daya Sentausa dengan nilai anggaran Rp3.214.500.000 dan ditargetkan rampung pada akhir Desember 2026.
Menurut Juventus, pembangunan KNMP diarahkan untuk mendukung usaha nelayan melalui penyediaan fasilitas perikanan, antara lain tambatan perahu, pabrik es, penerangan, serta sarana penanganan dan pemasaran ikan. Pemerintah juga menyiapkan dukungan off-taker, yakni pihak yang menyerap hasil produksi nelayan.
Juventus mengatakan proses menuju pembangunan di Nangahure sempat menghadapi sejumlah kendala dan dinamika di tengah masyarakat. Ia menyebut komunikasi dengan masyarakat setempat turut dibantu oleh sejumlah pihak, termasuk Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut.
Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh rincian resmi mengenai titik-titik KNMP yang harus ditinjau ulang akibat persoalan kawasan TWA maupun jadwal penyelesaian peninjauan tersebut. Kepastian itu diperlukan untuk mengetahui kelanjutan pembangunan pada titik-titik yang terdampak.»(rel)
-
NASIONAL1 year agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA1 year agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
