Connect with us

SOSBUD

Polres Ende Turun ke Pantai Kota Raja, Aksi Nyata “Polri untuk Masyarakat” Pulihkan Wajah Wisata Pesisir

Bersihkan sampah yang selama ini merusak keindahan dan kenyamanan salah satu ikon wisata Kota Ende.

Published

on

Polres Ende respons nyata keluhan masyarakat yang menyoroti kondisi Pantai Kota Raja yang kian kotor dan mengganggu aktivitas pengunjung dengan turun langsung membersihkan sampah pantai, Jumat (6/2/2026). FOTO: GARDAFLORES/ELTON

Ende, GardaFlores — Komitmen Polres Ende untuk hadir di tengah masyarakat kembali dibuktikan lewat aksi bersih-bersih di sepanjang pesisir Pantai Kota Raja, Kelurahan Kota Raja, Kecamatan Ende Utara, Jumat (6/2/2026) pagi. Sejak pukul 08.30 Wita, ratusan personel Polres Ende menyisir garis pantai, mengangkut tumpukan sampah yang selama ini merusak keindahan dan kenyamanan salah satu ikon wisata Kota Ende itu.

Kegiatan ini dipimpin langsung Kapolres Ende AKBP Yudhi Franata, S.I.K., M.H., M.Tr.Opsla, didampingi Wakapolres Kompol Ahmad, S.H., bersama para pejabat utama dan seluruh jajaran. Aksi tersebut bukan sekadar kerja bakti rutin, melainkan respons nyata atas keluhan masyarakat yang menyoroti kondisi Pantai Kota Raja yang kian kotor dan mengganggu aktivitas pengunjung.

Razia Besar-besaran di Ende, Puluhan Motor Knalpot Racing Terjaring Operasi Turangga 2026

Di sela kegiatan, AKBP Yudhi Franata menegaskan bahwa kebersihan ruang publik, terutama kawasan wisata, adalah tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari teladan. Menurutnya, aparat keamanan tidak boleh hanya hadir dalam urusan penegakan hukum, tetapi juga dalam upaya menjaga kualitas hidup dan lingkungan masyarakat. Pantai Kota Raja, yang selama ini menjadi ruang terbuka bagi warga untuk berolahraga, bermain, hingga bersantai bersama keluarga, harus tetap dijaga agar fungsinya tidak hilang oleh persoalan sampah karena kelalaian bersama.

Kapolres Ende: Polres Ende telah berkomitmen untuk melanjutkan gerakan serupa di berbagai objek wisata dan ruang publik lain di Kabupaten Ende. FOTO: GARDAFLORES/ELTON

Ia juga menekankan bahwa dengan kondisi pantai yang bersih dan tertata, masyarakat akan merasa lebih aman dan nyaman saat beraktivitas maupun berwisata. Bagi Kabupaten Ende, Pantai Kota Raja bukan hanya destinasi rekreasi, tetapi juga bagian dari wajah kota yang mencerminkan kepedulian warganya terhadap lingkungan.

Lebih jauh, Kapolres memastikan bahwa kegiatan ini bukanlah aksi sesaat. Polres Ende telah berkomitmen untuk melanjutkan gerakan serupa di berbagai objek wisata dan ruang publik lain di Kabupaten Ende yang membutuhkan perhatian. Konsep “Polri untuk Masyarakat” yang mereka usung, kata dia, harus diwujudkan melalui tindakan konkret yang langsung dirasakan manfaatnya oleh publik.

Dengan kolaborasi antara aparat dan warga, Pantai Kota Raja diharapkan kembali menjadi ruang bersama yang bersih, aman, dan membanggakan, sekaligus menjadi simbol bahwa kepedulian terhadap lingkungan adalah fondasi penting bagi masa depan pariwisata Ende.»(elt)

SOSBUD

Pengelolaan Sampah Sikka Baru 25 Persen, Bupati Ajukan Dukungan TPS 3R ke Menteri LH

Selain isu persampahan, pertemuan juga membahas reboisasi kawasan hutan.

Published

on

Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago menemui Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq untuk mengajukan dukungan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) dan membahas reboisasi kawasan hutan, terutama di wilayah sumber mata air, Rabu (15/4/2026). FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago mengajukan dukungan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) kepada Menteri Lingkungan Hidup RI Hanif Faisol Nurofiq dalam pertemuan di Jakarta, Rabu (15/4/2026). Permintaan diajukan menyusul capaian layanan pengelolaan sampah di Sikka yang baru sekitar 25 persen.

Pertemuan tersebut dihadiri Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sikka, Margaretha Movaldes Da Maga Bapa. Pemerintah daerah menyampaikan keterbatasan sarana dan prasarana sebagai kendala utama dalam peningkatan cakupan layanan.

Bupati Sikka dalam keterangannya di Maumere, Kamis (16/4/2026), menyebut pembangunan TPS 3R menjadi opsi untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah secara bertahap.

“Kami berharap ada dukungan konkret dari pemerintah pusat, khususnya dalam penyediaan sarpras dan pembangunan TPS 3R,” kata Juventus.

TPA Wairii dan Pengkhianatan terhadap Laut Maumere: Refleksi Hari Peduli Sampah Nasional di Kabupaten Sikka

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menekankan pendekatan pengelolaan dari hulu ke hilir, dengan prioritas pada pemilahan sampah di tingkat sumber.

“Pemilahan antara sampah organik dan anorganik menjadi kunci utama dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah secara berkelanjutan,” ujarnya.

Selain isu persampahan, pertemuan juga membahas reboisasi kawasan hutan, terutama di wilayah sumber mata air, sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan air bersih.

Hingga saat ini, belum ada keputusan terkait bentuk dukungan yang akan diberikan pemerintah pusat. Pemerintah Kabupaten Sikka menyatakan akan melanjutkan pembahasan teknis dengan kementerian terkait untuk menindaklanjuti usulan tersebut.»(rel)

Continue Reading

SOSBUD

Gangguan Distribusi Air di Bajawa Masuk Hari Ke-7, Perbaikan Jaringan Masih Berlangsung

“Ada satu titik yang sudah bisa mengalir ke rumah warga.”

Published

on

Gangguan distribusi air bersih dari Perumda Air Minum Kabupaten Ngada memasuki hari ketujuh dan berdampak pada sejumlah wilayah di Kota Bajawa, upaya perbaikan masih dilakukan. FOTO: GARDAFLORES/AGUSTO

BAJAWA, GardaFlores — Gangguan distribusi air bersih dari Perumda Air Minum Kabupaten Ngada memasuki hari ketujuh dan berdampak pada sejumlah wilayah di Kota Bajawa, memaksa warga bergantung pada pasokan air tangki untuk kebutuhan harian.

Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Tanalodu, Kisanata, Ngedekulu, dan kawasan sekitarnya. Sejak awal pekan, aliran air ke rumah warga dilaporkan terhenti atau tidak stabil, dan hingga Sabtu (11/4/2026) belum sepenuhnya pulih.

Berdasarkan keterangan warga, kebutuhan air bersih kini dipenuhi melalui pembelian air tangki dengan kisaran harga Rp70 ribu hingga Rp150 ribu per tangki, tergantung kapasitas dan ketersediaan pasokan.

“Sudah empat hari air tidak keluar. Kami terpaksa beli air tangki dengan harga Rp150 ribu untuk satu tangki besar,” ujar Mama Arfan, warga Kelurahan Kisanata.

Keluhan serupa disampaikan Tanta Ines, warga Kelurahan Tanalodu, yang menyebut gangguan berlangsung hampir satu minggu dan menghambat aktivitas rumah tangga.
“Sudah hampir satu minggu air tidak mengalir. Mau mandi saja susah, kami sudah pesan air tangki tapi belum datang juga,” katanya.

Di sisi distribusi alternatif, lonjakan permintaan terlihat di kawasan Warusoba sebagai salah satu titik pengambilan air. Kendaraan tangki dilaporkan antre untuk pengisian sebelum menyalurkan ke pelanggan.

Dorong Ketahanan Pangan dan Swasembada, Pemkab Ngada Serahkan Irigasi OPLAH ke P3A Soafuti di Bajawa

John, seorang pengemudi tangki menyebut intensitas distribusi meningkat dibanding kondisi normal.
“Kami dari pagi sudah jalan terus. Pesanan sangat banyak dibanding biasanya,” ujarnya.

Perumda Air Minum Kabupaten Ngada melakukan penanganan di sejumlah titik, termasuk di bak penampungan Padawoli, Kecamatan Bajawa, dengan mengerahkan mobil tangki untuk suplai sementara kepada warga terdampak.

Perbaikan jaringan pipa juga berlangsung di kawasan belakang Kampung Bogenga yang diidentifikasi sebagai salah satu titik gangguan distribusi. Petugas terlihat melakukan perbaikan serta pembersihan di area tersebut.

Seorang staf Perumda menyatakan sebagian aliran mulai kembali normal di beberapa lokasi terbatas.
“Ada satu titik yang sudah bisa mengalir ke rumah warga,” ujarnya.

Gangguan layanan air bersih di daerah perkotaan umumnya berkaitan dengan kerusakan jaringan distribusi, kebocoran pipa, atau kendala teknis pada sistem penampungan. Dalam situasi tersebut, distribusi melalui mobil tangki menjadi langkah mitigasi jangka pendek, sementara pemulihan layanan bergantung pada kecepatan perbaikan infrastruktur.

Hingga berita ini diterbitkan, proses perbaikan jaringan masih berlangsung dan distribusi air belum sepenuhnya normal di seluruh wilayah terdampak. Pihak manajemen Perumda Air Minum Kabupaten Ngada belum memberikan pernyataan resmi. Warga masih mengandalkan pasokan air tangki sambil menunggu pemulihan layanan.»(gus)

Continue Reading

SOSBUD

Utang Ternak Sejak 2012 Belum Lunas, Warga Magepanda Laporkan Dugaan Penipuan ke Desa

Pihak keluarga berharap pemerintah desa dapat memfasilitasi penyelesaian secara kekeluargaan.

Published

on

Blasius Blasi warga Desa Waturia bersama saudaranya Yusuf Lewor Goban, melaporkan Ernestina Mona ke kantor desa terkait dugaan penipuan perihal utang-piutang. Laporan diterima oleh Sekretaris Desa Waturia, Kamis (9/4/2026). FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores – Warga Desa Waturia, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, melaporkan dugaan penipuan utang piutang ternak babi senilai belasan juta rupiah yang berlangsung sejak 2012 ke pemerintah desa pada Kamis (9/4/2026).

Pelapor, Blasius Blasi, mengaku mengalami kerugian akibat transaksi berulang dengan Ernestina Mona, yang merupakan warga di dusun yang sama. Laporan tersebut disampaikan bersama adiknya, Yusuf Lewor Goban, dan diterima oleh Sekretaris Desa Waturia.

Berdasarkan keterangan pelapor, kasus bermula pada 2012 saat Ernestina meminjam satu ekor babi senilai Rp5 juta untuk keperluan acara kedukaan keluarga di Pulau Palue. Pada 2023, Ernestina kembali meminjam tiga ekor anak babi dengan nilai masing-masing Rp1,5 juta atau total Rp4,5 juta.

Kasus Kematian Siswi SMP di Sikka: Autopsi dan Pemeriksaan Psikiater Disorot di Tengah Penyidikan Tiga Tersangka

Transaksi berlanjut pada 2024 ketika Ernestina bersama seorang anggota keluarganya kembali meminjam satu ekor babi senilai Rp5 juta untuk kebutuhan acara peringatan satu tahun kematian suaminya. Dalam transaksi terakhir, Ernestina sempat memberikan uang muka Rp1 juta, namun sehari kemudian menarik kembali Rp250 ribu, sehingga pembayaran yang diterima pelapor hanya Rp750 ribu.

Menurut Yusuf Lewor Goban, pihak keluarga telah berulang kali melakukan penagihan, namun pembayaran tidak pernah direalisasikan. “Masalah besar harus diperkecil dan masalah kecil harus dihilangkan, demi nama baik dan martabat Desa Waturia,” ujarnya.

Pihak keluarga berharap pemerintah desa dapat memfasilitasi penyelesaian secara kekeluargaan. Namun, jika tidak ada itikad baik dari pihak terlapor, pelapor menyatakan akan menempuh jalur hukum sesuai ketentuan yang berlaku.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Ernestina Mona. Pemerintah Desa Waturia dijadwalkan akan melakukan mediasi antara kedua pihak sebagai langkah awal penyelesaian.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending