SOSBUD
Tragedi Bocah 10 Tahun di Ngada: Di Balik Senyum YBR dan Surat Kecil yang Mengguncang Nurani Bangsa
Ibunya mengakui, seminggu sebelum kejadian, YBR sempat meminta dibelikan buku dan ballpoint. Namun permintaan sederhana itu tak terwujud karena keterbatasan uang.
Bajawa, GardaFlores – Tragedi meninggalnya YBR, bocah 10 tahun asal Desa Nenowea, Kabupaten Ngada, yang ditemukan tak bernyawa di kebun cengkeh, membuka tabir persoalan kemiskinan, kesepian, dan rapuhnya jaring pengaman sosial bagi anak-anak di pelosok Nusa Tenggara Timur.
Peristiwa yang terjadi pada Kamis, 29 Januari 2026 itu bukan sekadar kabar duka, tetapi juga alarm keras bagi dunia pendidikan, keluarga, dan negara tentang betapa sunyinya penderitaan seorang anak yang seharusnya masih berada di bangku bermain dan belajar.
Anak Ceria yang Pergi dalam Diam
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngada, Elisius Kletus Watungadha, ST., MT., mengatakan bahwa dirinya turun langsung ke lapangan, menemui guru, kepala sekolah, dan keluarga YBR di SDN Rutojawa serta Desa Nenowea. Dari hasil penelusuran awal, sosok YBR dikenal sebagai anak yang ceria, terbuka, dan mudah bergaul.
“Menurut keterangan guru-guru, YBR adalah anak yang ceria dan tidak pendiam. Ia biasa bercerita dan terbuka kepada guru,” ungkap Elisius.
Tak ada tanda-tanda YBR mengalami tekanan psikologis berat di sekolah. Bahkan sehari sebelum kejadian, ia sempat diajak mengikuti latihan koor, meski menolak karena tidak berminat. Namun Kamis pagi itu, YBR tak datang ke sekolah. Di saat yang sama, seorang warga kebun melihat bocah itu berada di sebuah pondok, sedang menulis sesuatu di secarik kertas—sebuah adegan yang kini terasa seperti pesan perpisahan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngada, Elisius Kletus Watungadha, ST., MT. FOTO: GARDAFLORES/AGUS SATU
Surat Kecil dan Hidup yang Terlalu Berat
Surat yang ditemukan di dekat lokasi kejadian sempat menimbulkan banyak spekulasi. Namun Elisius memastikan pihak sekolah telah mengonfirmasi bahwa tulisan di kertas itu memang tulisan tangan YBR.
“Saya tanyakan langsung kepada pihak sekolah, dan mereka membenarkan bahwa tulisan itu milik YBR,” katanya.
Fakta-fakta lain yang terungkap semakin menggugah perasaan. YBR berasal dari keluarga tidak mampu dan tinggal bersama neneknya. Setiap hari ke sekolah, ia jarang membawa bekal makanan layak.
“Karena sekolahnya belum masuk Program Makan Bergizi Gratis, ia sering hanya membawa ubi. Kadang ia juga menjual sayur dan kayu bakar untuk membantu hidup,” ungkap Elisius.
Ibunya pun mengakui, seminggu sebelum kejadian, YBR sempat meminta dibelikan buku dan ballpoint. Namun permintaan sederhana itu tak terwujud karena keterbatasan uang.
Wali kelasnya, yang mendampingi YBR sejak kelas 1 hingga kelas 3, bahkan tak kuasa menahan tangis. Ia berniat membantu melengkapi perlengkapan sekolah YBR, namun tak sempat lagi.
Tragedi yang Menyentil Tanggung Jawab Negara
Dari keluarga diketahui YBR adalah satu dari lima bersaudara. Ayahnya merantau, dua saudaranya ikut merantau, sementara dua lainnya putus sekolah dan tinggal bersama ibu. Beban hidup terlalu berat untuk seorang bocah yang bahkan belum genap 11 tahun.
Elisius menegaskan bahwa tragedi ini tak boleh dilihat sebagai persoalan sekolah semata. “Ini persoalan lintas sektor—kemiskinan, pangan, kesehatan, dan perlindungan anak. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak kita bertarung sendirian dengan hidup,” ujarnya.
Ia menyebut pemerintah daerah telah menjalankan Program Indonesia Pintar daerah dan seragam gratis bagi siswa PAUD, SD, dan SMP, namun kasus YBR menjadi pengingat bahwa kebijakan harus menjangkau sampai ke dapur dan hati anak-anak.
Di kebun cengkeh itu, seorang anak kecil meninggalkan dunia dengan selembar kertas dan luka yang tak sempat ia ceritakan. Kini, yang tersisa adalah pertanyaan bagi kita semua: sudahkah negara, sekolah, dan masyarakat benar-benar hadir di kehidupan anak-anak paling sunyi?»(gus)
SOSBUD
Sikka Percepat Pembangunan Pesisir, Kepastian Lahan Dikonsolidasikan dengan KSDA
MAUMERE, GardaFlores — Pemerintah daerah di Kabupaten Sikka mempercepat rencana pembangunan kawasan pesisir dengan mengonsolidasikan kepastian status lahan bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA). Langkah itu disebut menjadi prasyarat utama agar proyek infrastruktur dan pengembangan ekonomi pesisir dapat segera dijalankan.
Arah kebijakan tersebut disampaikan dalam kunjungan kerja di Desa Pemana, Kecamatan Alok, Sabtu (2/5/2026).
Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago mengatakan pengembangan wilayah pesisir merupakan salah satu prioritas daerah, namun pelaksanaannya masih menghadapi kendala legalitas lahan di sejumlah lokasi.
“Kita ingin membangun seluruh wilayah pesisir, tetapi masih terkendala status tanah. Karena itu, koordinasi dengan KSDA menjadi langkah penting agar program bisa segera berjalan,” kata Juventus.
Menurut dia, kejelasan status lahan diperlukan agar pembangunan fasilitas publik, sarana ekonomi masyarakat, dan infrastruktur pendukung dapat direalisasikan tanpa hambatan hukum maupun tumpang tindih kewenangan.
Desa Pemana dinilai memiliki peluang percepatan pembangunan karena sebagian kawasan telah memiliki kejelasan status lahan, sehingga memudahkan penyusunan program lanjutan.
Hardiknas dan Krisis Literasi: Menyelamatkan Masa Depan Pendidikan di Sikka
Selain penataan kawasan, pemerintah daerah juga membuka ruang kolaborasi dengan lembaga pemerintah, sektor swasta, dan kelompok masyarakat untuk mendukung pemberdayaan warga pesisir.

“Kami sangat terbuka terhadap kolaborasi. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, sehingga dukungan mitra menjadi kekuatan penting,” ujarnya.
Perhatian lain diarahkan pada kebutuhan nelayan. Sejumlah usulan bantuan yang diajukan sejak Februari 2026 disebut masih dalam tahap komunikasi dengan mitra terkait.
Dalam kunjungan tersebut, pemerintah menyerahkan bantuan simbolis berupa perlengkapan sekolah bagi anak-anak, fasilitas penerangan untuk nelayan, serta bantuan sosial bagi warga.
Kawasan pesisir di Kabupaten Sikka selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat melalui sektor perikanan, perdagangan, dan transportasi laut. Karena itu, kepastian tata kelola lahan dinilai penting untuk mempercepat investasi, layanan publik, dan penguatan ekonomi lokal.»(rel)
SOSBUD
Keluarga Korban STN Tolak Bantuan, Polres Sikka Sampaikan Permintaan Maaf
“Kami memahami bahwa setiap keluarga memiliki pertimbangan yang harus dihargai.”
MAUMERE, GardaFlores — Keluarga almarhumah Stevania Trisanti Noni (STN) bersama perwakilan 10 suku dari wilayah Romanduru, Rubit, dan Hewokloang menolak bantuan bahan pokok yang sebelumnya diberikan Kapolres Sikka saat kunjungan duka. Menyikapi penolakan tersebut, Polres Sikka menyampaikan permintaan maaf dan menghormati keputusan keluarga.
Bantuan itu sebelumnya diserahkan saat kunjungan belasungkawa ke rumah duka di Kampung Romanduru, Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Selasa (28/4/2026) sekitar pukul 19.00 WITA. Paket bantuan berisi beras 10 kilogram, kopi 2 kilogram, gula pasir 2 kilogram, teh celup dua kotak, empat kaleng susu, minyak goreng 4 liter, satu dus mi instan, dan satu papan telur ayam.
Dalam pernyataan resmi, keluarga menyatakan bantuan tersebut tidak dapat diterima karena dinilai bertentangan dengan ketentuan adat setempat pada masa berkabung. Dalam tradisi masyarakat Romanduru–Rubit–Hewokloang, terdapat larangan yang dikenal sebagai “Pire”, yakni pantangan membawa telur dan ayam saat melayat.
Kuasa Hukum Keluarga STN Desak Pengusutan Tuntas Kasus Dugaan Pembunuhan Anak di Sikka
Keluarga juga menilai pemberian bantuan dilakukan di luar tahapan adat kedukaan yang berlaku, mulai dari masa meninggal dunia, misa pemakaman, Guman Telu atau Guman Sawe, hingga misa pemberkatan makam.
Atas dasar itu, keluarga bersama perwakilan 10 suku mendatangi Mapolres Sikka pada Kamis (30/4/2026) malam untuk mengembalikan bantuan tersebut. Rombongan diterima petugas jaga di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT).
Menanggapi langkah keluarga, Kasi Humas Polres Sikka Ipda Leonard Tunga menyampaikan permohonan maaf mewakili institusi.
“Polres Sikka menyampaikan permohonan maaf jika keluarga korban tidak berkenan menerima bantuan yang kami berikan,” kata Leonard, Jumat (1/5/2026).
Ia menjelaskan bantuan tersebut dimaksudkan sebagai bentuk empati dan kepedulian kepada keluarga korban, tanpa maksud lain.
“Sebagai aparat kepolisian, kami memahami bahwa setiap keluarga memiliki pertimbangan yang harus dihargai,” ujarnya.
Polres Sikka juga menegaskan proses penanganan perkara kematian STN tetap berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Kami tetap berkomitmen untuk bekerja sesuai koridor hukum dalam mengusut perkara ini demi keadilan bagi korban, keluarga, dan semua pihak,” kata Leonard.
Kasus kematian STN sebelumnya menjadi perhatian publik di Kabupaten Sikka. Keluarga dalam kesempatan yang sama juga meminta kepolisian melanjutkan pencarian sejumlah barang dan bagian tubuh korban yang disebut belum ditemukan.»(rel)
SOSBUD
Peringatan May Day di Sikka Tekankan Kepatuhan Upah dan Perlindungan Sosial Pekerja
Selain isu pengupahan, pengawasan juga difokuskan pada kepesertaan jaminan sosial ketenagakerjaan.
MAUMERE, GardaFlores — Peringatan Hari Buruh Sedunia (May Day) 2026 di Kabupaten Sikka difokuskan pada evaluasi kepatuhan upah minimum, perlindungan sosial ketenagakerjaan, serta penguatan dialog antara pekerja, pemberi kerja, dan pemerintah daerah. Kegiatan berlangsung selama dua hari, Kamis (30/4/2026) hingga Jumat (1/5/2026).
Agenda yang diinisiasi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sikka itu melibatkan pekerja, pengusaha, pengawas ketenagakerjaan, serta unsur pemerintah daerah dalam forum ketenagakerjaan dan rangkaian kegiatan publik.
Kepala Disnakertrans Sikka, Verdinando Lepe, menyebut buruh memiliki peran strategis dalam struktur ekonomi sehingga isu ketenagakerjaan menjadi perhatian lintas negara dan sektor.
“Buruh menjadi isu global sebab negara menyadari peran buruh sangat kuat dalam membangun ekonomi suatu bangsa,” kata Verdinando, Kamis (30/4/2026).
Disnakertrans mencatat implementasi Upah Minimum Provinsi (UMP) Nusa Tenggara Timur sebesar Rp2,4 juta belum sepenuhnya diterapkan di seluruh perusahaan di wilayah Sikka. Sebagian perusahaan telah memenuhi ketentuan, sementara lainnya masih dalam proses penyesuaian bertahap.
Sikka Prioritaskan Perlindungan Buruh dan Kerja Layak pada May Day 2026
Selain isu pengupahan, pengawasan juga difokuskan pada kepesertaan jaminan sosial ketenagakerjaan seperti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, serta pemenuhan hak normatif pekerja yang mencakup lembur, cuti, dan izin sakit.
Kepala Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan Disnaker Sikka, Welibrorda Dua Bura, mengatakan May Day tahun ini diarahkan sebagai ruang komunikasi tripartit untuk memperkuat hubungan industrial.
“Kegiatan ini diharapkan memperkuat hubungan industrial yang harmonis antara pekerja, pemberi kerja, dan pemerintah,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembukaan yang ditandai pemukulan gong, dilanjutkan diskusi ketenagakerjaan, musikalisasi puisi, demo melukis, serta pameran UMKM. Pemerintah juga memberikan apresiasi kepada pekerja serta penghargaan praktik hubungan industrial kepada 10 perusahaan.
Pada hari kedua, agenda diisi jalan sehat peduli sampah, mimbar bebas, pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah, dan talk show ketenagakerjaan.
Kegiatan ditutup dengan hiburan rakyat, pembagian penghargaan, deklarasi komitmen bersama hubungan industrial, serta pernyataan penutup oleh Wakil Bupati Sikka.»(rel)
-
HUMANIORA11 months agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA10 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA8 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
NASIONAL7 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUKRIM10 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI10 months agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka

Pingback: Di Bawah Sunyi “Mati Golo”, Makam Bocah YBR Terasing dari Kampung dan Masih Berselimut Tanah - Garda Flores %
Pingback: “Kami Gagal Melindungi Anak”: Air Mata Gubernur NTT di Rumah Duka YBR - Garda Flores %