Connect with us

SOSBUD

Masalah Akurasi Data Bansos, Dinsos Ngada Gelar Rakor Operator SIKS-NG

Published

on

Dinas Sosial Kabupaten Ngada menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Operator Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial-Next Generation (SIKS-NG), di Aula Sang Timur, Bajawa, Ngada, (20–21 November 2025). FOTO: FRANS DENA

Ngada, GaradaFlores — Dinas Sosial Kabupaten Ngada menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Operator Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial-Next Generation (SIKS-NG) selama dua hari, 20–21 November 2025, di Aula Susteran Sang Timur. Di balik agenda formal itu, tersimpan kegelisahan pemerintah daerah terhadap masih lemahnya kualitas data kesejahteraan sosial di tingkat desa/kelurahan—sebuah persoalan klasik yang berdampak langsung pada ketepatan penyaluran bantuan sosial.

Ketua panitia yang juga Sekretaris Dinas Sosial Ngada, Syalomi Hau, mengakui bahwa peningkatan kapasitas operator bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi kebutuhan mendesak. Banyak operator di desa belum terlatih secara memadai, sehingga potensi salah input dan pembaruan data yang lambat kerap memicu masalah baru, mulai dari bantuan tidak tepat sasaran hingga konflik sosial antarwarga.

“Data yang tidak akurat akan berpengaruh pada pelayanan. Kesejahteraan sosial dapat tercapai bila pemerintah bekerja dengan data yang valid,” tegasnya. Beban operator, lanjut Syalomi, tidak ringan karena mereka mengelola data banyak kelompok rentan: orang miskin, penyandang disabilitas, lansia terlantar, korban kekerasan, hingga warga marjinal lainnya.

Kompetensi Pengurus Koperasi, Celah Struktural Menuju Kemajuan Ekonomi Rakyat

Pernyataan Syalomi ini menegaskan persoalan nyata bahwa keberadaan aplikasi SIKS-NG belum otomatis menyelesaikan akar masalah. Tanpa SDM yang memadai dan pengawasan berlapis, sistem digital hanya akan menjadi formalitas administrasi.

Sistem Sudah Ada, Akurasinya Masih Dipertanyakan

Penjabat Sekda Ngada, Yohanes C. Watu Ngebu, dalam sambutannya mewakili Bupati Ngada, menggarisbawahi pentingnya integrasi data melalui SIKS-NG dan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Namun, ia pun mengakui bahwa proses pendataan di lapangan masih jauh dari ideal.

“Rakor ini penting untuk memastikan pendataan dan pemutakhiran informasi berjalan tertib, akurat, dan terpadu,” ujarnya. Pernyataan tersebut secara implisit menunjukkan bahwa ketidaktertiban dan ketidakakuratan masih menjadi persoalan serius.

Di banyak desa, proses verifikasi faktual masih bergantung pada relawan dengan beban kerja tinggi dan fasilitas terbatas. Tak jarang keputusan tentang siapa yang layak menerima bantuan lebih bergantung pada informasi subjektif ketimbang data berbasis indikator kesejahteraan.

Tantangan Struktural: SDM Minim, Pengawasan Lemah

Melalui rakor tersebut, pemerintah ingin agar operator lebih cermat memanfaatkan fitur SIKS-NG, memperkuat validitas data, dan memahami perubahan regulasi terkait integrasi DTSEN. Namun tantangan struktural tetap besar.

Beberapa persoalan yang ikut disorot dalam forum ini antara lain: Minimnya pelatihan lanjutan bagi operator desa/kelurahan; Keterbatasan jaringan internet yang menghambat input data real-time; Kurangnya supervisi dan audit internal, sehingga kesalahan data baru terdeteksi saat terjadi protes warga; Fenomena “data statis”, yaitu data tidak diperbarui meski kondisi sosial ekonomi warga berubah drastis.

STIKES Sta. Elisabeth Wisudakan 73 Ahli Madya Kesehatan

Jika tantangan ini tidak diselesaikan, maka akurasi DTSEN yang menjadi basis penetapan penerima bantuan nasional tetap akan pincang. Pada titik ini, pemerintah daerah menghadapi risiko: bantuan disalurkan tidak tepat sasaran sementara warga yang benar-benar miskin justru terabaikan.

Harapan Besar, PR Lebih Besar

Penjabat Sekda Joni Watu menegaskan sejumlah harapan melalui rakor ini adalah meningkatnya kesiapan SDM, makin kuatnya tata kelola data yang transparan, dan meningkatnya akurasi pendataan warga rentan. Ia juga menilai rakor dapat menjadi momentum memperbaiki strategi perlindungan sosial jangka panjang.

Namun harapan besar itu menuntut komitmen dan konsistensi. Tanpa evaluasi rutin, peningkatan literasi digital operator, serta mekanisme pengawasan berjenjang, Rakor SIKS-NG berpotensi sekadar menjadi agenda tahunan tanpa dampak signifikan.

Menutup sambutannya, Joni Watu mengajak semua pihak bekerja jujur dan bertanggung jawab. “Setiap warga rentan berhak mendapat bantuan tepat sesuai data riil di lapangan,” ujarnya.

Ajakan itu terdengar jelas, tetapi pekerjaan besar menata kembali data kesejahteraan sosial Kabupaten Ngada tak dapat selesai hanya melalui dua hari pertemuan. Yang lebih menentukan adalah bagaimana pemerintah memastikan seluruh temuan, kritik, dan tantangan yang terungkap dalam rakor ini benar-benar ditindaklanjuti.»(dena/rel)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SOSBUD

TRUK F Tegaskan Maria Hendrika Hungan Tak Lagi Berstatus Staf Sejak Juni 2025

Klarifikasi tersebut disampaikan di tengah proses hukum yang sedang dijalani MHH di Polres Sikka.

Published

on

Ketua Perkumpulan TRUK F, Sr. Fransiska Imakulata, SSpS, mengatakan hubungan kerja MHH dengan lembaga telah berakhir pada 30 Juni 2025 setelah yang bersangkutan mengundurkan diri. Pengakhiran hubungan kerja itu ditetapkan melalui Surat Keputusan Nomor 01/Div.P/TRUK F/VI/2025. FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores – Perkumpulan Tim Relawan Kemanusiaan untuk Flores (TRUK F) menegaskan Maria Hendrika Hungan (MHH) sudah tidak lagi menjadi bagian dari lembaga tersebut sejak 30 Juni 2025. Penegasan itu disampaikan menyusul masih adanya penyebutan nama MHH sebagai aktivis TRUK F dalam sejumlah pemberitaan terkait perkara hukum yang kini sedang diproses aparat kepolisian.

Ketua Perkumpulan TRUK F, Sr. Fransiska Imakulata, SSpS, mengatakan hubungan kerja MHH dengan lembaga telah berakhir pada 30 Juni 2025 setelah yang bersangkutan mengundurkan diri. Pengakhiran hubungan kerja itu ditetapkan melalui Surat Keputusan Nomor 01/Div.P/TRUK F/VI/2025.

“Sejak tanggal 30 Juni 2025, Maria Hendrika Hungan bukan lagi staf, pengurus, maupun perwakilan TRUK F. Dengan demikian, TRUK F tidak lagi memiliki hubungan kerja, hubungan kelembagaan, maupun hubungan hukum dengan yang bersangkutan,” kata Sr. Fransiska dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, klarifikasi tersebut diperlukan agar informasi yang beredar di masyarakat tidak menimbulkan kesan seolah-olah MHH masih mewakili atau memiliki keterkaitan dengan TRUK F.

Mantan Aktivis Truk F Ditahan Polisi, Diduga Gelapkan Sepeda Motor yang Kemudian Digadaikan

Karena itu, lanjutnya, setiap tindakan, pernyataan, maupun persoalan hukum yang melibatkan MHH setelah berakhirnya hubungan kerja sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi dan berada di luar kewenangan organisasi.

TRUK F juga meminta masyarakat dan berbagai pihak menggunakan informasi yang akurat mengenai status keanggotaan MHH agar tidak terjadi kekeliruan dalam mengaitkan persoalan pribadi dengan lembaga.

“Kami berharap masyarakat memperoleh informasi yang benar sehingga tidak terjadi kekeliruan dalam mengaitkan persoalan pribadi yang bersangkutan dengan TRUK F,” ujar Sr. Fransiska.

Klarifikasi tersebut disampaikan di tengah proses hukum yang sedang dijalani MHH di Polres Sikka. Sebelumnya, kepolisian menetapkan MHH sebagai tersangka dalam perkara dugaan penggelapan sepeda motor. Proses penyidikan masih berlangsung dan status hukum yang bersangkutan tetap mengacu pada asas praduga tak bersalah hingga terdapat putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.»(rel)

Continue Reading

SOSBUD

Tujuh Desa di Sikka Perkuat Sistem Perlindungan Anak, TP PKK Dorong Peran Keluarga dan Masyarakat

Ada juga diskusi penguatan mekanisme pelaporan yang aman, cepat, dan mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak.

Published

on

Ketua TP PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, mengatakan perlindungan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Menurutnya, keluarga, masyarakat, sekolah, lembaga adat, dan organisasi sosial memiliki peran yang sama penting dalam memastikan setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang aman. FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores – Upaya memperkuat sistem perlindungan anak berbasis masyarakat terus diperluas di Kabupaten Sikka. Tujuh desa binaan Yayasan Flores Children Development (FREN) mengikuti kegiatan Penguatan Kapasitas Perlindungan Anak yang digelar Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Sikka bersama Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas P2KBP3A di Aula Kantor Desa Namangkewa, Sabtu (1/8/2026).

Kegiatan tersebut diikuti perwakilan Desa Namangkewa, Kopong, Seusina, Baomekot, Hewokloang, Kajowair, dan Hoder. Program ini difokuskan pada penguatan kapasitas kader Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM), perangkat desa, tokoh masyarakat, serta berbagai unsur yang berperan dalam pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak.

Ketua TP PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, mengatakan perlindungan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Menurutnya, keluarga, masyarakat, sekolah, lembaga adat, dan organisasi sosial memiliki peran yang sama penting dalam memastikan setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang aman.

“Anak adalah aset masa depan bangsa. Karena itu, mereka harus tumbuh dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Sinergi semua pihak menjadi kunci agar setiap anak memperoleh haknya secara utuh,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap berbagai bentuk kekerasan maupun pelanggaran hak anak serta tidak ragu memanfaatkan mekanisme pelaporan yang tersedia apabila menemukan dugaan pelanggaran di lingkungan sekitar.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas P2KBP3A Kabupaten Sikka, Germanus Goleng, mengatakan penguatan kapasitas kader PATBM menjadi bagian dari strategi memperluas perlindungan anak hingga tingkat desa.

Ny. Fista Sambuari Kago Lantik Ketua TP PKK, TP Posyandu, dan Bunda PAUD se-Kabupaten Sikka

Menurutnya, pendekatan berbasis masyarakat memungkinkan deteksi dini terhadap persoalan yang dihadapi anak sekaligus mempercepat penanganan ketika terjadi kasus.

“Kami terus memperkuat kapasitas kader PATBM agar mampu menjadi penggerak di desa dalam upaya pencegahan maupun penanganan kasus kekerasan terhadap anak,” katanya.

Selain pemaparan materi, peserta mengikuti diskusi mengenai tantangan perlindungan anak di tingkat desa, termasuk penguatan mekanisme pelaporan yang aman, cepat, dan mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala UPTD PPA, jajaran TP PKK Kabupaten Sikka, Project Manager Yayasan FREN, perangkat desa, kader PATBM, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, kelompok remaja, dan perwakilan masyarakat dari tujuh desa.

Melalui penguatan kapasitas ini, Pemerintah Kabupaten Sikka bersama mitra berharap jejaring perlindungan anak di tingkat desa semakin efektif sehingga upaya pencegahan kekerasan dan pemenuhan hak anak dapat dilakukan secara lebih terintegrasi sebagai bagian dari pembangunan Kabupaten Layak Anak.»(rel)

Continue Reading

SOSBUD

Di Balik Kematian ASN di Palue, Polisi Temukan Riwayat Perawatan Psikiatri dan Pesan Pribadi di Ponsel

Aparat belum menyampaikan kesimpulan mengenai penyebab pasti kematian.

Published

on

Korban, perempuan berusia 57 tahun yang bertugas sebagai bidan di Puskesmas Tuanggeo, ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Dusun Lei, Desa Tuanggeo, Jumat (31/7/2026). FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores – Penyelidikan atas meninggalnya seorang aparatur sipil negara (ASN) yang bertugas sebagai tenaga kesehatan di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, mengungkap sejumlah temuan baru. Selain memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban, polisi juga memperoleh informasi mengenai riwayat perawatan kejiwaan serta pesan pribadi yang tersimpan di telepon genggam korban.

Korban, perempuan berusia 57 tahun yang bertugas sebagai bidan di Puskesmas Tuanggeo, ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Dusun Lei, Desa Tuanggeo, Jumat (31/7/2026).

Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara, aparat kepolisian tidak menemukan indikasi kekerasan. Pihak keluarga juga menolak dilakukan autopsi dan menerima peristiwa tersebut sebagai musibah.

Dalam proses penyelidikan, polisi memeriksa sejumlah saksi, termasuk anggota keluarga dan rekan kerja korban.

Dari keterangan para saksi, penyidik memperoleh informasi bahwa korban pernah menjalani pemeriksaan oleh dokter spesialis kejiwaan sejak 2024. Selain itu, pemeriksaan terhadap telepon genggam korban menemukan sejumlah pesan pribadi yang berkaitan dengan kondisi yang sedang dihadapinya.

Dugaan Penggelapan Motor di Sikka Berpotensi Meluas, Tujuh Warga Datangi Polres Mengaku Korban

Polisi juga menerima keterangan saksi mengenai dugaan tekanan psikologis yang dialami korban, termasuk persoalan utang-piutang. Namun, penyidik menegaskan informasi tersebut masih berupa keterangan saksi dan belum dapat disimpulkan sebagai penyebab kematian.

Seluruh temuan itu masih menjadi bagian dari rangkaian penyelidikan yang dilakukan untuk memperoleh gambaran utuh mengenai peristiwa tersebut.

Di sisi lain, sejumlah rekan kerja menyatakan korban tetap menjalankan tugasnya sebagai tenaga kesehatan hingga menjelang meninggal dunia. Korban masih aktif memberikan pelayanan kepada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Tuanggeo.

Warga sekitar juga mengenal korban sebagai pribadi yang cenderung tertutup dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah di luar jam kerja.

Hingga berita ini diterbitkan, kepolisian masih mengumpulkan keterangan tambahan untuk melengkapi penyelidikan. Aparat belum menyampaikan kesimpulan mengenai penyebab pasti kematian karena seluruh fakta masih dalam proses pendalaman.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending