PENKES
HKN di Kangae: Petrus Herlemus Serukan Penambahan Insentif Nakes dan Penguatan Transformasi Kesehatan
Maumere, GardaFlores – Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 di Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, menjadi momentum penting bagi PLT Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, untuk menegaskan kembali urgensi penguatan sektor kesehatan daerah. Dalam sambutannya, ia secara tegas menyerukan agar pemerintah memberikan penambahan insentif bagi dokter umum, dokter spesialis, dan tenaga kesehatan lainnya, bukan sebagai bentuk tuntutan pribadi, tetapi karena beban kerja yang semakin meningkat.
“Pertumbuhan penduduk, naiknya angka kesakitan, serta banyak faktor kesehatan lain menyebabkan beban tenaga kesehatan kian berat. Mereka membutuhkan dukungan yang layak,” tegas Petrus, Jumat (14/11) 2025) saat merayakan HKN di kecamatan Kangae.
Ketua DPRD Sikka Soroti Krisis Tenaga Kesehatan dan Desak Pemerintah Perkuat Sistem Kesehatan Daerah
Bangun Budaya Hidup Sehat dan Hilangkan Kesenjangan Layanan
Petrus menekankan bahwa perubahan mendasar dalam dunia kesehatan harus dimulai dari pembentukan budaya hidup sehat masyarakat melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Ia mengajak warga untuk rutin berolahraga, makan bergizi seimbang, tidak merokok, menjaga kebersihan, dan melakukan pemeriksaan kesehatan berkala.
“Kesehatan adalah tanggung jawab pribadi yang berdampak sosial,” ujarnya. Jika setiap warga menjaga kesehatannya, beban sistem kesehatan nasional akan berkurang dan produktivitas masyarakat meningkat.
Ia menegaskan bahwa pelayanan kesehatan harus dapat diakses oleh semua warga tanpa diskriminasi—baik miskin maupun mampu, warga kota maupun desa, pusat maupun daerah terpencil.
Refleksi Pengorbanan Tenaga Medis
Peringatan HKN tahun ini juga menjadi ruang penghormatan terhadap tenaga kesehatan yang gugur saat pandemi COVID-19. Petrus mengajak seluruh hadirin memberikan penghormatan sejenak bagi mereka yang telah mengorbankan jiwa raga saat masa genting 2020–2022.
“Mereka menghadang maut tanpa senjata. Sayangnya, bukan apresiasi yang sering mereka dapat, melainkan kritik dan bullying. Melalui mimbar ini, izinkan saya memberi penghormatan tertinggi untuk mereka,” ujarnya dengan nada emosional.

Capaian Kesehatan Sikka Tahun 2025: Angka Stunting Turun
Petrus memaparkan sejumlah capaian positif Kabupaten Sikka sepanjang tahun 2025, antara lain:
- Capaian CKG Sikka posisi terbaik yakni 102.969 (100,64%) dibandingkan Kabupaten Flotim: 80.728 (75,55%).
- Penurunan Stunting pada tahun 2024: 12,1% dan pada tahun 2025: 10,4%.
- Penguatan regulasi penyakit menular: Sikka telah memiliki Perbup No. 12 Tahun 2024 tentang percepatan penanggulangan HIV, TBC, dan Malaria juga SK Bupati No. 273/HK/2024 tentang tim percepatan penanganan penyakit menular.
- Peresmian dua Puskesmas baru: Puskesmas Wualadu dan Puskesmas Kojagete. Keduanya sudah memiliki kode registrasi Kemenkes.
- Kemajuan program sanitasi dan keamanan pangan; Sikka disebut bergerak lebih cepat daripada daerah lain dalam program MBG, sanitasi, serta pelatihan penjamah makanan.
Tantangan: PTM Meningkat, Penyakit Menular Masih Tinggi, Kekurangan Dokter Berlanjut
Meski banyak kemajuan, Petrus mengingatkan bahwa ancaman penyakit tidak menular (PTM) seperti jantung, diabetes, dan stroke terus meningkat akibat gaya hidup tidak sehat. Penyakit menular seperti TBC, rabies, DBD, dan HIV juga masih tinggi di Kabupaten Sikka.
Ia kembali menyinggung persoalan klasik; kekurangan dokter umum dan spesialis yang masih menjadi beban utama layanan kesehatan daerah.
Pada akhir sambutan, Petrus mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan momentum HKN sebagai titik balik untuk bersinergi melakukan perbaikan, setidaknya empat langkah prioritas yakni: (1) Memperkuat Layanan Primer dimana Puskesmas dan posyandu harus beralih dari pola “mengobati” menjadi “mencegah”. (2) Kolaborasi Lintas Sektor: Dinas Kesehatan tidak dapat bekerja sendirian; perlu sinergi dengan pendidikan, PUPR, sosial, hingga elemen masyarakat. (3) Inovasi dan Digitalisasi Layanan:Teknologi harus mempercepat akses dan kualitas pelayanan. (4) Perjuangan BLUD: Labkesmas Tier 2 dan seluruh Puskesmas harus menuju BLUD untuk meningkatkan kemandirian layanan.»(rel)
PENKES
Empat Pilar di Sekolah: Legislator Soroti Literasi Informasi, Sekolah Sampaikan Keterbatasan Fasilitas
Empat Pilar oleh MPR RI diarahkan untuk memperkuat kohesi sosial di tengah transformasi digital dan dinamika informasi.
MAUMERE, GardaFlores – Anggota DPR/MPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Melchias Markus Mekeng, mensosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan kepada siswa SMP Negeri 1 Maumere, Kabupaten Sikka, Rabu (8/4/2026), dengan penekanan pada penguatan literasi informasi dan karakter pelajar di tengah meningkatnya arus konten digital.
Kegiatan yang dihadiri ratusan siswa itu juga diikuti Wakil Bupati Sikka, Simon Subandi Supriadi, serta sejumlah anggota DPRD setempat. Sosialisasi Empat Pilar—meliputi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—merupakan agenda berkelanjutan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dalam penguatan wawasan kebangsaan.
Dalam paparannya, Melchias Markus Mekeng menyoroti perubahan lanskap tantangan persatuan yang tidak lagi terbatas pada perbedaan sosial-budaya, tetapi juga dipengaruhi penyebaran informasi yang tidak terverifikasi di ruang digital.
“Perbedaan itu kekuatan, tetapi juga bisa menjadi celah perpecahan jika tidak disikapi dengan bijak. Jangan sampai adik-adik mudah terprovokasi,” ujarnya.
Ia menegaskan, nilai Empat Pilar perlu diinternalisasi dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam menyikapi informasi di media sosial.
SMPN Alok Sikka Kekurangan 11 Kelas dan Air Bersih, Tampung 768 Siswa Sejak 2019
Di sisi lain, pihak sekolah menyampaikan keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran yang masih dihadapi. Kondisi tersebut menjadi catatan dalam forum, mengingat penguatan pendidikan karakter dinilai membutuhkan dukungan lingkungan belajar yang memadai.
Menanggapi hal itu, Simon Subandi Supriadi menyatakan pemerintah daerah mendorong agar nilai kebangsaan tidak berhenti pada tataran materi sosialisasi, tetapi diterapkan dalam praktik keseharian siswa.
“Belajar yang baik, tetapi juga pahami nilai yang disampaikan. Ini penting untuk masa depan kalian dan bangsa,” katanya.
Sejumlah anggota legislatif daerah, termasuk Gorgonius Nago Bapa dan Maria Angelorum Mayestati, turut mencatat aspirasi sekolah terkait kebutuhan fasilitas sebagai bahan pembahasan dalam proses penganggaran daerah.
Secara nasional, program sosialisasi Empat Pilar oleh MPR RI diarahkan untuk memperkuat kohesi sosial di tengah transformasi digital dan dinamika informasi. Namun, efektivitasnya di daerah kerap berkaitan dengan dukungan infrastruktur pendidikan dan kesinambungan program pembinaan di tingkat sekolah.
Kegiatan di SMPN 1 Maumere berlangsung dalam satu sesi penyampaian materi dan dialog. Hingga kegiatan berakhir, belum disampaikan komitmen anggaran atau jadwal tindak lanjut terkait kebutuhan fasilitas sekolah, dan aspirasi yang dihimpun akan dibahas lebih lanjut dalam forum legislatif dan pemerintah daerah.»(rel)
PENKES
SMPN Alok Sikka Kekurangan 11 Kelas dan Air Bersih, Tampung 768 Siswa Sejak 2019
Pihak sekolah berharap percepatan intervensi pemerintah untuk menyesuaikan kapasitas sarana dengan jumlah peserta didik.
MAUMERE, GardaFlores — SMP Negeri Alok di Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, mengalami kekurangan ruang kelas dan belum memiliki akses air bersih mandiri, meski jumlah siswa terus meningkat sejak sekolah itu berdiri pada 2019.
Sekolah negeri tersebut saat ini menampung 768 siswa dalam 25 rombongan belajar, namun hanya didukung 14 ruang kelas permanen. Artinya, terdapat kekurangan sedikitnya 11 ruang kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar mengajar secara normal.
Kepala SMPN Alok, John Kasmir Bata Seda, mengatakan keterbatasan itu memaksa sebagian siswa belajar di ruang darurat.
“Kami punya 25 kelas, tapi ruang permanen hanya 14. Selebihnya masih darurat,” ujarnya, Senin (7/4/2026).
Menurut dia, sekolah sempat mendapatkan informasi rencana penambahan tujuh ruang kelas pada 2026. Namun hingga awal April, realisasi pembangunan belum terlihat, sementara jumlah siswa baru terus bertambah setiap tahun.
Pemkab Sikka Tarik Mobil Dinas dan Terapkan WFH Jumat untuk Efisiensi Anggaran
Sebagai sekolah tujuan dari sedikitnya 22 sekolah dasar di wilayah Kecamatan Alok, SMPN Alok menghadapi tekanan kapasitas yang tidak sebanding dengan ketersediaan infrastruktur.
Selain keterbatasan ruang belajar, sekolah juga belum memiliki sumber air bersih permanen seperti sumur bor. Kebutuhan air untuk kegiatan harian dipenuhi dengan membeli air tangki berkapasitas 5.000 liter setiap dua hingga tiga hari.
“Kami harus beli air bersih setiap 2–3 hari sekali pakai tangki,” kata John.
Keterbatasan tersebut berdampak pada operasional sekolah, terutama untuk kebutuhan sanitasi dan pemeliharaan lingkungan. Program penghijauan tidak berjalan optimal karena bergantung pada ketersediaan air saat musim hujan.
Fasilitas pengamanan sekolah juga belum memadai. Area sekolah saat ini hanya dibatasi pagar kawat sederhana hasil swadaya, sehingga hewan ternak kerap masuk ke lingkungan sekolah dan mengganggu aktivitas belajar.
Secara kebijakan, pemenuhan ruang kelas dan fasilitas sanitasi merupakan bagian dari standar sarana dan prasarana dalam Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, yang mensyaratkan lingkungan belajar layak dan sehat bagi peserta didik. Ketersediaan air bersih juga menjadi komponen dasar dalam mendukung layanan pendidikan.
Selisih Data RTLH NTT Tembus 300 Ribu Unit, Program 3 Juta Rumah Berisiko Tidak Tepat Sasaran
Kondisi di SMPN Alok menunjukkan adanya kesenjangan antara peningkatan akses pendidikan—ditandai dengan bertambahnya jumlah siswa—dan kesiapan infrastruktur pendukung di tingkat satuan pendidikan.
Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kabupaten Sikka belum memberikan keterangan resmi terkait penanganan kekurangan ruang kelas maupun penyediaan sumber air bersih di sekolah tersebut, termasuk kepastian realisasi rencana pembangunan ruang kelas baru.
Pihak sekolah berharap adanya percepatan intervensi pemerintah untuk menyesuaikan kapasitas sarana dengan jumlah peserta didik, guna menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar.
Kondisi ini menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kualitas layanan pendidikan serta pemenuhan hak dasar siswa terhadap lingkungan belajar yang layak.»(rel)
PENKES
Puluhan Tahun Terisolasi, Anak Sekolah di Sikka Kehilangan Hak Pendidikan karena Jembatan Tak Dibangun
“Jika terus dibiarkan, jelas ada kesalahan dalam penentuan prioritas pembangunan.”
MAUMERE, GardaFlores – Warga Desa Ojang dan Desa Waipaar, di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, masih hidup dalam keterisolasian akibat jembatan penghubung antardesa yang belum dibangun hingga 2026. Setiap musim hujan, sungai yang meluap memutus akses, membuat anak-anak tidak dapat bersekolah di SDN Kolit, Desa Ojang, dan warga kesulitan mengakses layanan dasar.
Kepala Desa Ojang, Petrus Pade, S.Sos, menyatakan usulan pembangunan jembatan telah disampaikan berkali-kali melalui Musrenbang desa, kabupaten, hingga ke Dinas Pekerjaan Umum dan DPRD. Namun, hingga kini belum ada realisasi. “Kami sudah ikuti semua mekanisme. Setiap tahun kami usulkan. Tapi selalu mentok di alasan klasik: anggaran terbatas,” ujarnya.
Petrus menekankan bahwa keterlambatan ini bukan sekadar masalah administratif, melainkan ancaman nyata terhadap hak dasar anak-anak untuk mendapatkan pendidikan dan keselamatan warga. “Ini akses hidup. Jika terus dibiarkan, jelas ada kesalahan dalam penentuan prioritas pembangunan,” kata Petrus.
Saat Negara Absen: Ibu Gendong Balita dan Anak Sekolah di Sikka Pertaruhkan Nyawa di Jembatan Bambu
Warga menilai forum Musrenbang yang seharusnya menjadi ruang partisipasi publik hanya berhenti pada formalitas, sehingga aspirasi masyarakat tidak pernah direspon. Dampaknya, kepercayaan warga terhadap pemerintah menurun, sementara risiko kecelakaan akibat banjir tetap tinggi setiap musim hujan.
Anggota DPRD Kabupaten Sikka dari Dapil III, Agustinus Adeodatus, mengakui bahwa proses penentuan prioritas pembangunan tidak lepas dari pengaruh kepentingan politik. “Usulan masyarakat memang masuk sistem, tapi realisasinya tergantung prioritas, dan prioritas itu sering kali dipengaruhi kepentingan,” ungkapnya.
Situasi ini membuat warga Ojang dan Waipaar menjadi korban prioritas pembangunan yang tidak mencerminkan kebutuhan mendesak masyarakat. Anak-anak kehilangan hari belajar, kegiatan ekonomi tersendat, dan risiko keselamatan meningkat.
Bagi warga, jembatan adalah kebutuhan sederhana untuk menghubungkan dua desa. Namun bagi pemerintah, jembatan itu belum cukup diprioritaskan. Hingga ada keberanian menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas, warga hanya bisa menunggu di tepi sungai, setiap musim hujan, antara harapan dan kenyataan.»(rel)
-
HUMANIORA10 months agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA9 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA7 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM8 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI9 months agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
-
HUMANIORA1 year agoPemkab Sikka Ancam Cabut Izin Pangkalan Minyak Tanah yang Langgar Aturan
