Connect with us

HUMANIORA

Diah Sukarni: Kesabaran Saya Sudah Habis!

Published

on

Catatan Redaksi: Kisah Diah Sukarni Marga Ayu ini dituturkan kepada gardaflores.com seminggu sebelum Kuasa Hukumnya, Meridian Dado memberikan pernyataan di media bahwa Direktur PT Bukit Mas, Yanes Mekeng ingkar janji dalam perikatan jual beli rumah. Karena waktu itu, Yanes Mekeng belum berhasil dikonfirmasi, kisah tersebut pun belum dipublikasikan. Berikut ini kisah yang tertunda itu.

Diah Sukarni Marga Ayu

Maumere, Gardaflores.com—Seorang warga Ende, Diah Sukarni Marga Ayu menyatakan, ia siap melaporkan Yanes Mekeng, Direktur PT Bukit Mas, sebuah perusahaan penyedia perumahan di Maumere kepada pihak kepolisian.

Kepada gardaflores.com Rabu (24/7/2024), Diah Sukarni mengatakan, dalam waktu dekat ini, ia akan melapor ke Polres Sikka. Saat ini, katanya, masih menunggu proses pembuatan surat kuasa untuk kuasa hukumnya.

Ia menuturkan, kesabarannya sudah habis. Pasalnya rumah yang akan dibelinya itu sudah dibayar lunas sebesar Rp 220 juta. Tetapi rumah yang dijanjikan Yanes Mekeng itu belum juga selesai.

Karena terlalu lama menunggu, Sukarni pernah meminta agar uang sebanyak Rp 220 itu dikembalikan. Yanes  pun bersedia, tetapi baru mengembalikan sebanyak Rp 12 juta. Sisanya sebanyak Rp 238 juta belum dibayar.

Selama ini, kata Surkarni, ia tinggal di Ende. Tetapi dia berniat untuk pindah ke Maumere. Untuk mewujudkan niatnya itu, ia menghubungi seorang kenalannya untuk mencari rumah yang cocok. Kenalannya itu kemudian membawa Sukarni bertemu Direktur Bukit Mas, Yanes Mekeng.

Awalnya, Sukarni ingin membeli satu unit rumah yang sudah selesai dibangun, tetapi Yanes mengatakan, rumah tersebut sudah dibeli pihak lain. Dia kemudian menawarkan satu unit rumah yang tengah dibangun. Sukarni pun setuju walau harus menunggu hingga rumah itu selesai dibangun.

Yanes, kata Sukarni, berjanji bahwa sebelum Natal, tepatnya tanggal 12  Desember 2023 rumah tersebut sudah selesai dibangun dan bisa ditempati Sukarni dan keluarganya.

Atas kesepakatan itu, maka pada 19 September 2023,  Sukarni langsung membayar tahap pertama senilai Rp 150 juta.  Tetapi atas dorongan ibunya, Surkarni diminta segera melunasi harga rumah tersebut. Maka pada 20 September 2023, Sukarni  membayar lagi sebanyak Rp 70 juta.

ADVERTISEMENT

Namun herannya, lanjut Sukarni, ketika pada bulan Desember 2023, ia datang untuk melihat kemajuan pembuatan rumah, ternyata Yanes belum selesaikan tugasnya. Saat itu, kata Sukarni, baru setengah bagian yang dibangun. Rasa kecewa Sukarnipun mulai muncul.

Mengetahui kehadiran Sukarni di Maumere, Yanes bergegas mencari Sukarni di Blue Ocean, tempat dimana Sukarni menginap.

Kedatangan Yanes menemui Sukarni itu bertujuan untuk membuat pernyataan bahwa rumah yang tengah dibangun tersebut akan diselesaikan pada 31 Januari 2024. Namun pada bulan Februari 2023 ketika Sukarni datang ke Maumere lagi, Yanes lagi-lagi meminta toleransi waktu hingga proses Pemilu selesai. Pasalnya, Yanes adalah seorang calon legislatif untuk DPRD Kabupaten Sikka.

Setelah selesai Pemilu, ternyata rumah yang dijanjikan itu belum juga selesai. Akhirnya, Sukarni sampai pada batas kesabarannya. Ia meminta agar Yanes segera mengembalikan uangnya. Yanes, kata Diah Sukarni baru mengembalikan Rp 12 juta dan masih menunggak Rp 238 juta. 

“Saya tunggu dan terus menunggu, bahkan janjinya tinggal janji hingga saat ini. Rumah yang dijanjikan itu tidak pernah selesai. Padahal uang sudah saya bayar lunas. Upaya pendekatan juga sudah saya lakukan. Saya mau minta kembalikan uang saya secara utuh dan tuntas,” tegas Sukarni seraya menambahkan, Yanes belakangan sangat sulit dihubungi.

Usai mendengar penuturan Sukarni itu, gardaflores.com berupaya untuk menghubungi Yanes Mekeng. Tetapi upaya untuk konfirmasi itu tidak direspon.»(rel)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HUMANIORA

BMKG Perbarui Kekuatan Gempa Talaud Jadi M6,4, Tidak Berpotensi Tsunami

Pusat gempa berada di laut pada jarak sekitar 40 kilometer arah tenggara Melonguane, Kepulauan Talaud, dengan kedalaman 31 kilometer.

Published

on

Ini lokasi gempa bumi yang mengguncang wilayah Pantai Timur Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, pada Sabtu malam, 10 Januari 2026. FOTO: BMKG

Talaud, GardaFlores – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperbarui informasi kekuatan gempa bumi yang mengguncang wilayah Pantai Timur Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, pada Sabtu malam, 10 Januari 2026. Gempa yang sebelumnya dilaporkan berkekuatan Magnitudo 7,1 dikoreksi menjadi Magnitudo 6,4.

Gempa terjadi pada pukul 21.58.25 WIB. Berdasarkan hasil analisis BMKG, pusat gempa berada di laut pada jarak sekitar 40 kilometer arah tenggara Melonguane, Kepulauan Talaud, dengan kedalaman 31 kilometer.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan gempa tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas deformasi batuan dalam Lempeng Maluku. Analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan mendatar turun (oblique normal).

Rumah Warga Wolomarang Terbakar, Dua Korban Luka Bakar Dirawat di RSUD TC Hillers

BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami berdasarkan hasil pemodelan yang dilakukan pascagempa.

Guncangan gempa dirasakan paling kuat di wilayah Kepulauan Talaud dengan intensitas IV–V MMI, di mana getaran dirasakan oleh hampir seluruh warga. Sejumlah barang di dalam rumah dilaporkan bergoyang, bahkan terpelanting.

Getaran juga dirasakan di sejumlah wilayah lain, antara lain Tobelo dan Kepulauan Sitaro dengan intensitas III–IV MMI, Morotai dengan III MMI, serta Ternate, Minahasa Utara, Manado, dan Bitung pada skala II–III MMI.

Hingga pukul 22.20 WIB, BMKG mencatat adanya satu gempa susulan dengan magnitudo 4,6.

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang serta tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Informasi resmi kebencanaan diharapkan hanya diperoleh melalui kanal komunikasi resmi BMKG.»(*/bert)

Continue Reading

HUMANIORA

Warga Pruda Tewas Tenggelam di Pantai Tanjung Pruda, Sikka

Bermula ketika korban bersama lima kerabat dan keluarganya tiba di Pantai Tanjung Pruda sekitar pukul 17.00 WITA untuk memancing.

Published

on

Warga Pruda Tewas Tenggelam di Pantai Tanjung Pruda. ILUSTRASI: IST

Maumere, GardaFlores – Seorang warga Desa Pruda, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, dilaporkan meninggal dunia akibat tenggelam di Pantai Tanjung Pruda, Dusun Paukloor, Jumat (9/1/2026) sore.

Korban berinisial Y.B.B. (24), seorang petani asal Dusun Pruda, ditemukan tidak bernyawa setelah terseret arus laut saat memancing di pesisir pantai sekitar pukul 18.00 WITA.

Peristiwa tersebut bermula ketika korban bersama lima kerabat dan keluarganya tiba di Pantai Tanjung Pruda sekitar pukul 17.00 WITA. Setibanya di lokasi, mereka berpencar untuk mencari titik memancing masing-masing. Korban diketahui berdiri di atas batu karang di tepi pantai sebelum turun untuk berpindah tempat.

Saat turun dari batu karang, korban diduga terseret arus laut yang cukup kuat. Korban sempat berteriak meminta pertolongan kepada kakaknya, namun upaya penyelamatan tidak dapat dilakukan karena para saksi tidak memiliki kemampuan berenang. Pencarian awal di sekitar lokasi tidak membuahkan hasil.

TMMD 2026 Digelar di Waiblama, Anggaran Rp 1,5 Miliar Sudah Disetujui Pemkab dan DPRD Sikka

Dua orang saksi kemudian kembali ke kampung dan melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala Dusun Paukloor. Informasi itu diteruskan ke Kepolisian Sektor Waigete melalui Kanit Intelkam sekitar pukul 20.21 WITA untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.

Sekitar pukul 21.05 WITA, korban akhirnya ditemukan di pesisir pantai tidak jauh dari lokasi awal memancing dalam kondisi meninggal dunia. Jenazah korban selanjutnya dievakuasi ke rumah orang tuanya, Elias Edu, di Dusun Pruda, Desa Pruda.

Pihak keluarga menyatakan menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan proses hukum lebih lanjut.

Akses menuju lokasi kejadian dilaporkan cukup sulit karena harus melewati dua alur sungai tanpa jembatan. Proses pencarian juga sempat terkendala cuaca hujan yang mengguyur wilayah tersebut.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Bocah 12 Tahun Ditemukan Meninggal Dunia di Natawulu, Polisi Lakukan Penyelidikan

Pihak keluarga menolak dilakukan autopsi dan menyatakan siap memberikan keterangan apabila dibutuhkan oleh kepolisian.

Published

on

Petugas dari Polsek Nita dan Polres Sikka mendatangi lokasi dan melakukan olah TKP, (kiri). Korban dievakuasi ke Puskesmas Nita untuk dilakukan tindakan lanjutan, (kanan). FOTO: IST

Maumere, GardaFlores — Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun ditemukan meninggal dunia pada Kamis (1/1/2026) sekitar pukul 10.40 Wita di Dusun Natawulu, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka.

Korban berinisial MGH, pelajar kelas V sekolah dasar, ditemukan dalam kondisi tergantung di pohon jeruk yang berada di belakang rumahnya.

Peristiwa tersebut pertama kali diketahui oleh nenek korban yang baru pulang dari gereja. Karena korban tidak menjawab saat dipanggil, saksi melakukan pencarian dan menemukan korban sudah dalam keadaan tergantung. Warga kemudian melaporkan kejadian itu kepada aparat desa dan kepolisian.

Hukuman Kerja Sosial Resmi Berlaku di 2026

Petugas dari Polsek Nita dan Polres Sikka mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta meminta keterangan saksi-saksi.

Hasil pemeriksaan medis oleh tenaga kesehatan Puskesmas Nita tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Pihak keluarga menolak dilakukan autopsi dan menyatakan siap memberikan keterangan apabila dibutuhkan oleh kepolisian.

Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman terkait peristiwa tersebut. Kejadian ini menimbulkan keprihatinan mendalam di tengah masyarakat Kabupaten Sikka.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending