Connect with us

PENKES

Disarpus Sikka Integrasikan Literasi dan Sains di SDIT Rabbani, Dorong Pembelajaran Kreatif Sejak Dini

Program kunjungan literasi dan sains akan terus diperluas ke sekolah-sekolah lain.

Published

on

“Literasi tidak hanya soal kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, berpikir, berkomunikasi, dan menciptakan gagasan. Karena itu, kami terus mendorong budaya membaca dan pembelajaran sains sejak usia sekolah dasar agar anak-anak Sikka tumbuh menjadi generasi unggul dan berdaya saing.” FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Sikka mengintegrasikan program literasi dan sains di SDIT Rabbani Maumere, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kamis (21/5/2026), sebagai bagian dari penguatan budaya baca, numerasi, dan pendidikan karakter peserta didik usia dasar.

Program tersebut dipimpin Sekretaris Disarpus Sikka, Yuvensius Rafael, bersama tim layanan literasi daerah. Kegiatan menghadirkan pembelajaran interaktif melalui pertunjukan edukatif siswa, layanan Mobil Perpustakaan Keliling, hingga sesi mendongeng untuk memperkuat minat baca anak.

Para siswa menampilkan beragam kemampuan akademik dan komunikasi, mulai dari pembacaan ayat suci Al-Qur’an, pidato berbahasa Inggris, percakapan bahasa Arab, hingga simulasi pembelajaran matematika menggunakan alat bantu edukatif yang dipandu guru sekolah.

Disarpus Sikka juga memperkenalkan layanan perpustakaan keliling dengan menyediakan akses langsung terhadap koleksi buku anak, literasi pengetahuan, dan bahan bacaan edukatif lainnya.

Sekretaris Disarpus Sikka, Yuvensius Rafael, mengatakan penguatan literasi tidak lagi hanya berfokus pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga pada kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, berkomunikasi, dan membangun kreativitas anak sejak usia dini.

Wabup Sikka Soroti Rendahnya Literasi dan Arsip Daerah, Dorong Gerakan Membaca hingga Transformasi Digital

“Literasi tidak hanya soal kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, berpikir, berkomunikasi, dan menciptakan gagasan. Karena itu, kami terus mendorong budaya membaca dan pembelajaran sains sejak usia sekolah dasar agar anak-anak Sikka tumbuh menjadi generasi unggul dan berdaya saing,” ujarnya.

Menurut Yuvensius, kolaborasi antara sekolah dan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang aktif, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Ia menilai SDIT Rabbani Maumere telah menerapkan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan penguatan bahasa, literasi, dan sains dalam aktivitas belajar siswa sehari-hari.

Sementara itu, pihak SDIT Rabbani menyebut program literasi dan sains yang diperkenalkan Disarpus Sikka memberi pengalaman belajar baru bagi siswa sekaligus memperkuat motivasi membaca di lingkungan sekolah.

Kegiatan ditutup dengan sesi membaca bersama, peninjauan koleksi buku pada Mobil Perpustakaan Keliling, serta interaksi antara siswa, guru, dan tim layanan literasi Disarpus Sikka.

Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Disarpus menyatakan program kunjungan literasi dan sains akan terus diperluas ke sekolah-sekolah lain sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan budaya baca di daerah.»(rel)

PENKES

Sikka Percepat Revitalisasi Pendidikan, Rp14 Miliar Dikucurkan untuk Perbaikan Sekolah Rusak

Selain revitalisasi, lima SD swasta di Kabupaten Sikka saat ini sedang mengajukan perubahan status menjadi sekolah negeri.

Published

on

Patrisius Pederiko: “Program revitalisasi diterapkan sebagai pengganti DAK fisik pendidikan. Sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan sarana dan prasarana mulai diperbaiki secara bertahap melalui kementerian.” FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Pemerintah Kabupaten Sikka mempercepat revitalisasi infrastruktur pendidikan untuk jenjang PAUD, SD, dan SMP sebagai bagian dari transformasi layanan pendidikan pasca penghentian skema Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik. Melalui program revitalisasi dari Kementerian Pendidikan, puluhan sekolah yang mengalami kerusakan mulai diperbaiki dengan total anggaran lebih dari Rp14 miliar.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko, mengatakan program tersebut mulai diterapkan sejak 2025 untuk menjawab kebutuhan perbaikan ruang belajar, fasilitas sekolah, dan sarana pendidikan dasar di daerah.

“Program revitalisasi diterapkan sebagai pengganti DAK fisik pendidikan. Sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan sarana dan prasarana mulai diperbaiki secara bertahap melalui kementerian,” ujar Patrisius di Maumere, Kamis (21/5/2026).

Pada tahap awal 2025, sebanyak 19 sekolah di Kabupaten Sikka menerima program revitalisasi, terdiri atas dua PAUD, tujuh SD, dan 10 SMP. Total anggaran yang dialokasikan mencapai lebih dari Rp14 miliar.

Pemerintah daerah kemudian memperluas usulan revitalisasi pada 2026. Untuk jenjang SMP, sebanyak 20 sekolah diusulkan dan seluruhnya telah lolos verifikasi kementerian. Namun baru enam sekolah yang dipanggil untuk penandatanganan Surat Perjanjian Kerja Sama (SPK), sementara 14 sekolah lainnya masih menunggu tahapan lanjutan.

Disarpus Sikka Integrasikan Literasi dan Sains di SDIT Rabbani, Dorong Pembelajaran Kreatif Sejak Dini

Pada jenjang SD, sebanyak 87 sekolah diusulkan dan 84 sekolah berhasil diverifikasi. Tiga sekolah lainnya belum memenuhi syarat administrasi akibat persoalan sertifikat tanah.

Dari total SD yang lolos verifikasi, sebanyak 44 sekolah diminta melengkapi dokumen administrasi. Namun hingga kini baru tiga sekolah yang masuk tahap penandatanganan kerja sama. Sementara pada jenjang PAUD, dua sekolah mulai diproses dari total 36 usulan revitalisasi.

“Hingga saat ini yang sedang berproses ada enam SMP, tiga SD, dan dua PAUD. Ini masih tahap pertama dan kemungkinan bertambah pada tahap berikutnya,” kata Patrisius.

Berbeda dengan pola proyek konvensional, revitalisasi sekolah diterapkan melalui mekanisme swakelola dengan sekolah sebagai penanggung jawab pelaksanaan pembangunan. Komite sekolah, tokoh masyarakat, dan warga sekitar dilibatkan langsung dalam proses pengawasan dan pengerjaan.

Pemerintah daerah menilai pendekatan tersebut memberi ruang partisipasi masyarakat sekaligus mempercepat penanganan sekolah rusak di tingkat lokal.

Penentuan sekolah penerima revitalisasi mengacu pada kondisi bangunan yang tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Namun Dinas PKO mengakui masih terdapat persoalan pembaruan data di sejumlah sekolah.

“Masih ada sekolah yang belum mampu memperbarui data Dapodik secara maksimal. Karena itu kami memperkuat pelatihan operator sekolah bersama BPMP untuk validasi data,” ujarnya.

Dalam tahap teknis, sekolah menyusun rencana pembangunan dengan pendampingan konsultan Dinas PKO sebelum mengikuti bimbingan teknis bersama tim kementerian. Pendamping revitalisasi tingkat SD berasal dari Universitas Indonesia, sedangkan fasilitator lapangan berasal dari Universitas Nusa Cendana Kupang.

Pemkab Sikka Siapkan Lomba Bertutur SD untuk Perkuat Literasi dan Warisan Budaya Lokal

Dana revitalisasi ditransfer langsung dari kementerian ke rekening sekolah. Dinas PKO berfungsi melakukan pengawasan, verifikasi, dan pendampingan agar pelaksanaan pembangunan berjalan sesuai perencanaan dan kebutuhan sekolah.

Patrisius juga meminta masyarakat ikut mengawasi penggunaan anggaran dan pelaksanaan pembangunan agar program berjalan transparan serta tepat sasaran.

“Jika masih terdapat sisa anggaran setelah pembangunan ruang kelas, maka dana itu bisa dimanfaatkan untuk mendukung fasilitas pendidikan lainnya,” katanya.

Data Dinas PKO menunjukkan Kabupaten Sikka saat ini memiliki 91 SMP yang terdiri dari 51 sekolah negeri dan 40 sekolah swasta. Sementara jumlah SD mencapai 338 sekolah, terdiri dari 207 SD negeri dan 131 SD swasta.

Selain revitalisasi, lima SD swasta di Kabupaten Sikka saat ini juga sedang mengajukan perubahan status menjadi sekolah negeri sebagai bagian dari perluasan akses pendidikan dasar.

Program revitalisasi tersebut menjadi salah satu langkah strategis Pemerintah Kabupaten Sikka dalam mempercepat pemerataan kualitas pendidikan, meningkatkan kenyamanan belajar siswa, dan memperkuat infrastruktur sekolah di wilayah pedesaan maupun perkotaan.»(rel)

Continue Reading

PENKES

Pemkab Sikka Siapkan Lomba Bertutur SD untuk Perkuat Literasi dan Warisan Budaya Lokal

Seluruh sekolah dasar di Kabupaten Sikka diminta aktif mengirimkan peserta terbaiknya.

Published

on

Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka saat ini mulai menyosialisasikan kegiatan ke sekolah-sekolah, menyusun mekanisme pendaftaran peserta, serta menyiapkan jadwal pelaksanaan dan sistem penilaian lomba. FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan mulai mematangkan pelaksanaan Lomba Bertutur tingkat Sekolah Dasar (SD) se-Kabupaten Sikka sebagai strategi memperkuat budaya literasi, kemampuan komunikasi anak, dan pelestarian cerita rakyat daerah.

Persiapan kegiatan tersebut dibahas dalam rapat pemantapan panitia di Maumere, Rabu (20/5/2026), yang dipimpin Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales.

Pemerintah daerah menempatkan lomba bertutur tidak sekadar sebagai agenda kompetisi pelajar, tetapi sebagai bagian dari penguatan karakter generasi muda di tengah meningkatnya pengaruh teknologi digital terhadap minat baca anak.

“Lomba bertutur bukan sekadar perlombaan. Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk melatih keberanian, kreativitas, dan kemampuan memahami serta menyampaikan kembali cerita yang memiliki nilai pendidikan dan budaya,” kata Very Awales.

Sikka Raih Insentif Rp1 Miliar usai Catat Penurunan Pengangguran Terbaik di NTT

Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan membaca sekaligus membentuk kemampuan komunikasi publik anak sejak usia dini. Karena itu, seluruh sekolah dasar di Kabupaten Sikka diminta aktif mengirimkan peserta terbaik mereka.

“Anak-anak perlu diberi ruang untuk tampil, percaya diri, dan mencintai buku sejak dini. Dari kegiatan seperti ini akan lahir generasi yang cerdas, komunikatif, dan berkarakter,” ujarnya.

Selain melatih kemampuan berbicara di depan umum, lomba tersebut juga diarahkan untuk memperkenalkan kembali cerita rakyat dan nilai-nilai budaya lokal kepada generasi muda. Langkah itu dinilai penting agar tradisi lisan dan kearifan daerah tidak tergerus perkembangan zaman serta arus budaya digital.

Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka saat ini mulai menyosialisasikan kegiatan ke sekolah-sekolah, menyusun mekanisme pendaftaran peserta, serta menyiapkan jadwal pelaksanaan dan sistem penilaian lomba.

Wabup Sikka Soroti Rendahnya Literasi dan Arsip Daerah, Dorong Gerakan Membaca hingga Transformasi Digital

Program tersebut menjadi bagian dari penguatan gerakan literasi daerah yang sebelumnya juga diperkuat melalui berbagai program perpustakaan, wisata literasi, serta pengembangan layanan literasi berbasis masyarakat.

Very Awales berharap lomba bertutur mampu membangun budaya membaca yang tidak hanya tumbuh di lingkungan sekolah, tetapi juga berkembang dalam keluarga dan ruang sosial masyarakat.

“Literasi harus menjadi gerakan bersama demi menciptakan generasi Sikka yang lebih maju, berbudaya, dan mampu bersaing di masa depan,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Sikka menargetkan lomba bertutur tingkat SD tersebut menjadi agenda tahunan yang mampu melahirkan generasi muda dengan kemampuan literasi, komunikasi, dan pemahaman budaya lokal yang kuat.»(rel)

Continue Reading

PENKES

Wabup Sikka Soroti Rendahnya Literasi dan Arsip Daerah, Dorong Gerakan Membaca hingga Transformasi Digital

Published

on

Wabup Sikka: “Bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang kaya sumber daya alam, tetapi bangsa yang masyarakatnya gemar membaca, berpikir kritis, dan mencintai ilmu pengetahuan.” FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Wakil Bupati Sikka, Simon Subandi Supriadi, menyoroti masih rendahnya tingkat literasi masyarakat dan pengelolaan arsip pemerintahan di Kabupaten Sikka saat memimpin peringatan Hari Ulang Tahun Perpustakaan ke-54 dan Kearsipan ke-55 tingkat Kabupaten Sikka di halaman Kantor Bupati Sikka, Senin (18/5/2026).

Dalam upacara bertema “Literasi Menguat, Arsip Terawat, Sikka Maju dan Berbudaya” itu, Simon menegaskan bahwa literasi dan arsip bukan lagi sekadar urusan administratif, melainkan fondasi pembangunan sumber daya manusia dan tata kelola pemerintahan modern.

“Momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi panggilan moral dan gerakan bersama untuk membangun masyarakat yang cerdas, berbudaya, tertib administrasi, dan siap menghadapi perubahan zaman,” kata Simon.

Pernyataan itu disampaikan di tengah masih rendahnya capaian Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kabupaten Sikka. Data pemerintah daerah menunjukkan IPLM Sikka pada 2024 berada di angka 0,14 dan meningkat menjadi 1,48 pada 2025. Namun capaian tersebut masih masuk kategori sangat rendah.

Sementara Tingkat Kegemaran Membaca masyarakat Sikka tercatat berada pada angka 54 atau masih dalam kategori kurang.

Maumere dan Krisis Budaya Menulis: Ketika Banyak Orang Pandai Berbicara, Sedikit yang Mau Menulis

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena dinilai berkaitan langsung dengan kualitas pendidikan, daya saing masyarakat, hingga kemampuan adaptasi terhadap perubahan teknologi dan informasi.

Simon mengatakan perpustakaan saat ini tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai ruang penyimpanan buku, tetapi harus berkembang menjadi pusat pembelajaran, kreativitas, inovasi, dan ruang tumbuhnya budaya berpikir kritis.

“Bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang kaya sumber daya alam, tetapi bangsa yang masyarakatnya gemar membaca, berpikir kritis, dan mencintai ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Untuk memperluas budaya membaca, Pemerintah Kabupaten Sikka mulai memperkuat sejumlah program literasi berbasis masyarakat dan sekolah melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan.

Salah satunya melalui Gerakan Gong Literasi yang membiasakan siswa SD dan SMP membaca selama 30 menit sebelum pelajaran dimulai dan 30 menit setelah pembelajaran berakhir.

Pemerintah daerah juga memperkenalkan Program Wisata Literasi dan Sains melalui konsep Paket Wisata Literasi yang membawa pelajar belajar langsung ke pusat pemerintahan, koperasi, UMKM, dunia usaha, dan lembaga pendidikan.

TK Islam AT-TAQWA Beru Perkenalkan Literasi dan Sains Anak di Perpustakaan Frans Seda

Program “Sehari Menjadi Bupati”, “Sehari Menjadi Ketua DPRD”, serta Executive Class Literasi dan Sains turut diperkuat sebagai ruang pendidikan kepemimpinan dan demokrasi bagi pelajar.

Di sektor pelayanan publik, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka mulai menerapkan Gerakan Antar dan Jemput Buku dengan slogan “Buku Dijemput, Ilmu Diantar ke Rumah”.

Layanan tersebut menyasar kelompok masyarakat yang sulit mengakses perpustakaan, seperti lansia, penyandang disabilitas, pasien rumah sakit, penghuni rumah tahanan, hingga warga di wilayah terbatas akses bacaan.

Selain itu, layanan perpustakaan keliling melalui mobil dan motor perpustakaan terus diperluas dengan pendekatan pelayanan langsung ke wilayah terpencil.

Transformasi digital juga mulai diperkuat melalui pengembangan Website Perpustakaan Umum Daerah Frans Seda dan Website Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka sebagai bagian dari modernisasi layanan informasi publik.

Simon turut mengapresiasi keterlibatan mahasiswa Program Studi Sistem Informasi IFTK Ledalero Maumere dan mahasiswa Teknik Informatika UNIPA Maumere yang mendukung pengembangan layanan digital pemerintah daerah.

Di bidang kearsipan, pemerintah daerah menilai tantangan pengelolaan arsip masih cukup besar. Sejumlah persoalan yang disorot antara lain belum optimalnya tata naskah dinas, keterbatasan tenaga arsiparis, belum tersedianya central file dan record center, hingga rendahnya kesadaran pengelolaan arsip di sejumlah perangkat daerah.

Tur Literasi Siswa SDK Maris Stela Perluas Akses Belajar, Wakil Bupati Tekankan Literasi Kritis

Karena itu, seluruh pimpinan organisasi perangkat daerah diminta memperkuat implementasi aplikasi Sistem Informasi Kearsipan Dinamis Terintegrasi (SRIKANDI) sebagai bagian dari transformasi digital pemerintahan.

Menurut Simon, arsip tidak hanya berfungsi sebagai dokumen administrasi, tetapi juga menjadi bukti hukum, memori kolektif, dan rekam sejarah pembangunan daerah.

“Melalui momentum ini, mari kita jadikan perpustakaan sebagai rumah pengetahuan dan arsip sebagai penjaga sejarah peradaban daerah,” ujarnya.

Peringatan HUT Perpustakaan dan Kearsipan tahun ini sekaligus menjadi penanda arah baru kebijakan literasi di Kabupaten Sikka, dari pendekatan seremonial menuju penguatan budaya baca, layanan inklusif, dan digitalisasi tata kelola pengetahuan daerah.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending