Connect with us

PENKES

Sikka Percepat Revitalisasi Pendidikan, Rp14 Miliar Dikucurkan untuk Perbaikan Sekolah Rusak

Selain revitalisasi, lima SD swasta di Kabupaten Sikka saat ini sedang mengajukan perubahan status menjadi sekolah negeri.

Published

on

Patrisius Pederiko: “Program revitalisasi diterapkan sebagai pengganti DAK fisik pendidikan. Sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan sarana dan prasarana mulai diperbaiki secara bertahap melalui kementerian.” FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Pemerintah Kabupaten Sikka mempercepat revitalisasi infrastruktur pendidikan untuk jenjang PAUD, SD, dan SMP sebagai bagian dari transformasi layanan pendidikan pasca penghentian skema Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik. Melalui program revitalisasi dari Kementerian Pendidikan, puluhan sekolah yang mengalami kerusakan mulai diperbaiki dengan total anggaran lebih dari Rp14 miliar.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko, mengatakan program tersebut mulai diterapkan sejak 2025 untuk menjawab kebutuhan perbaikan ruang belajar, fasilitas sekolah, dan sarana pendidikan dasar di daerah.

“Program revitalisasi diterapkan sebagai pengganti DAK fisik pendidikan. Sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan sarana dan prasarana mulai diperbaiki secara bertahap melalui kementerian,” ujar Patrisius di Maumere, Kamis (21/5/2026).

Pada tahap awal 2025, sebanyak 19 sekolah di Kabupaten Sikka menerima program revitalisasi, terdiri atas dua PAUD, tujuh SD, dan 10 SMP. Total anggaran yang dialokasikan mencapai lebih dari Rp14 miliar.

Pemerintah daerah kemudian memperluas usulan revitalisasi pada 2026. Untuk jenjang SMP, sebanyak 20 sekolah diusulkan dan seluruhnya telah lolos verifikasi kementerian. Namun baru enam sekolah yang dipanggil untuk penandatanganan Surat Perjanjian Kerja Sama (SPK), sementara 14 sekolah lainnya masih menunggu tahapan lanjutan.

Disarpus Sikka Integrasikan Literasi dan Sains di SDIT Rabbani, Dorong Pembelajaran Kreatif Sejak Dini

Pada jenjang SD, sebanyak 87 sekolah diusulkan dan 84 sekolah berhasil diverifikasi. Tiga sekolah lainnya belum memenuhi syarat administrasi akibat persoalan sertifikat tanah.

Dari total SD yang lolos verifikasi, sebanyak 44 sekolah diminta melengkapi dokumen administrasi. Namun hingga kini baru tiga sekolah yang masuk tahap penandatanganan kerja sama. Sementara pada jenjang PAUD, dua sekolah mulai diproses dari total 36 usulan revitalisasi.

“Hingga saat ini yang sedang berproses ada enam SMP, tiga SD, dan dua PAUD. Ini masih tahap pertama dan kemungkinan bertambah pada tahap berikutnya,” kata Patrisius.

Berbeda dengan pola proyek konvensional, revitalisasi sekolah diterapkan melalui mekanisme swakelola dengan sekolah sebagai penanggung jawab pelaksanaan pembangunan. Komite sekolah, tokoh masyarakat, dan warga sekitar dilibatkan langsung dalam proses pengawasan dan pengerjaan.

Pemerintah daerah menilai pendekatan tersebut memberi ruang partisipasi masyarakat sekaligus mempercepat penanganan sekolah rusak di tingkat lokal.

Penentuan sekolah penerima revitalisasi mengacu pada kondisi bangunan yang tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Namun Dinas PKO mengakui masih terdapat persoalan pembaruan data di sejumlah sekolah.

“Masih ada sekolah yang belum mampu memperbarui data Dapodik secara maksimal. Karena itu kami memperkuat pelatihan operator sekolah bersama BPMP untuk validasi data,” ujarnya.

Dalam tahap teknis, sekolah menyusun rencana pembangunan dengan pendampingan konsultan Dinas PKO sebelum mengikuti bimbingan teknis bersama tim kementerian. Pendamping revitalisasi tingkat SD berasal dari Universitas Indonesia, sedangkan fasilitator lapangan berasal dari Universitas Nusa Cendana Kupang.

Pemkab Sikka Siapkan Lomba Bertutur SD untuk Perkuat Literasi dan Warisan Budaya Lokal

Dana revitalisasi ditransfer langsung dari kementerian ke rekening sekolah. Dinas PKO berfungsi melakukan pengawasan, verifikasi, dan pendampingan agar pelaksanaan pembangunan berjalan sesuai perencanaan dan kebutuhan sekolah.

Patrisius juga meminta masyarakat ikut mengawasi penggunaan anggaran dan pelaksanaan pembangunan agar program berjalan transparan serta tepat sasaran.

“Jika masih terdapat sisa anggaran setelah pembangunan ruang kelas, maka dana itu bisa dimanfaatkan untuk mendukung fasilitas pendidikan lainnya,” katanya.

Data Dinas PKO menunjukkan Kabupaten Sikka saat ini memiliki 91 SMP yang terdiri dari 51 sekolah negeri dan 40 sekolah swasta. Sementara jumlah SD mencapai 338 sekolah, terdiri dari 207 SD negeri dan 131 SD swasta.

Selain revitalisasi, lima SD swasta di Kabupaten Sikka saat ini juga sedang mengajukan perubahan status menjadi sekolah negeri sebagai bagian dari perluasan akses pendidikan dasar.

Program revitalisasi tersebut menjadi salah satu langkah strategis Pemerintah Kabupaten Sikka dalam mempercepat pemerataan kualitas pendidikan, meningkatkan kenyamanan belajar siswa, dan memperkuat infrastruktur sekolah di wilayah pedesaan maupun perkotaan.»(rel)

PENKES

Kapolda NTT Soroti Tantangan Pengasuhan Anak di Era Digital

Keluarga yang mampu membangun komunikasi yang baik akan menjadi fondasi penting mencegah berbagai persoalan sosial.

Published

on

“Anak-anak kita tumbuh di dunia yang seolah tanpa sekat. Teknologi memberi mereka sayap untuk terbang ke mana saja, namun di saat yang sama juga membawa berbagai tantangan yang perlu dihadapi dengan bijak.” FOTO: DOKPEN POLDA NTT

KUPANG, GardaFlores — Kapolda Nusa Tenggara Timur, Irjen Pol. Rudi Darmoko, menyoroti perubahan pola pengasuhan anak di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin memengaruhi kehidupan keluarga dan tumbuh kembang generasi muda.

Pesan tersebut disampaikan saat membuka seminar The Art of Smart Parenting bertema Menjadi Orang Tua Hebat untuk Anak Hebat dan Kesehatan Mental dan Parenting di Hotel Harper Kupang, Selasa (9/6/2026).

Kasi Humas Polres Sikka, IPDA Leonardus Tunga, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 dan Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari ke-74. Seminar diikuti pejabat utama Polda NTT, para kapolres bersama Bhayangkari, serta peserta dari jajaran Polres yang mengikuti secara daring.

Dalam arahannya, Kapolda menilai tantangan yang dihadapi orang tua saat ini jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Akses teknologi dan arus informasi yang semakin terbuka memberikan peluang bagi anak untuk berkembang, namun pada saat yang sama menghadirkan berbagai risiko yang membutuhkan pendampingan keluarga.

“Anak-anak kita tumbuh di dunia yang seolah tanpa sekat. Teknologi memberi mereka sayap untuk terbang ke mana saja, namun di saat yang sama juga membawa berbagai tantangan yang perlu dihadapi dengan bijak,” kata Rudi.

Menurutnya, keluarga tetap menjadi lingkungan pertama dan utama dalam membentuk karakter anak. Karena itu, peran orang tua tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga memastikan terbangunnya komunikasi yang sehat, kedekatan emosional, dan pengawasan yang memadai.

Kapolda mengatakan berbagai persoalan sosial yang melibatkan anak dan remaja kerap berakar dari lemahnya komunikasi dalam keluarga. Pengalaman yang ditemui kepolisian di lapangan menunjukkan bahwa banyak anak membutuhkan perhatian, pendampingan, dan ruang dialog yang cukup di rumah.

Polda NTT Ungkap 76 Kasus Kejahatan, Polres Sikka Masuk Daerah dengan Penanganan Terbanyak

“Banyak persoalan yang melibatkan remaja berawal dari hubungan keluarga yang tidak terbangun dengan baik. Karena itu komunikasi dalam keluarga menjadi sangat penting,” ujarnya.

Rudi menegaskan bahwa upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat tidak hanya dilakukan melalui penegakan hukum, tetapi juga dimulai dari keluarga yang sehat dan harmonis. Menurut dia, keluarga yang mampu membangun komunikasi yang baik akan menjadi fondasi penting dalam mencegah berbagai persoalan sosial di masyarakat.

Ia mengajak seluruh anggota Polri dan Bhayangkari untuk memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan mental anggota keluarga, menyediakan waktu berkualitas bagi anak, serta membangun pola pengasuhan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Seminar tersebut menghadirkan Direktur SBMS sekaligus praktisi USEFT, Agus E.H., bersama tim Yayasan Kesehatan Mental Keluarga Indonesia. Materi yang disampaikan berfokus pada penguatan peran keluarga dalam mendukung kesehatan mental anak serta membangun pola asuh yang responsif terhadap tantangan era digital.

Melalui kegiatan tersebut, Polda NTT berupaya meningkatkan pemahaman personel Polri dan keluarga besar Bhayangkari mengenai pentingnya kesehatan mental dan pengasuhan yang sehat sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang berkarakter, tangguh, dan siap menghadapi perubahan sosial.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari pendekatan preventif yang terus didorong kepolisian melalui penguatan ketahanan keluarga sebagai fondasi terciptanya keamanan dan ketertiban masyarakat.»(rel)

Continue Reading

PENKES

Pj Kades Kringa Tekankan Peran Orang Tua dalam Membangun Fondasi Pendidikan Anak

Capaian akademik ya, tetapi kemampuan anak membangun karakter baik, tanggung jawab, serta mampu beradaptasi itu jauh lebih penting.

Published

on

Penjabat Kepala Desa Kringa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Ignasius Ivonius bersama anak-anak SD Inpres Natarita, Desa Darat Gunung, Kecamatan Talibura, Sabtu (6/6/2026). FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Penjabat Kepala Desa Kringa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Ignasius Ivonius, mengingatkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi pendidikan anak sejak usia dini sebagai fondasi pembentukan karakter, kemampuan belajar, dan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Pesan tersebut disampaikan Ignasius saat memberikan edukasi kepada siswa dan orang tua di SD Inpres Natarita, Desa Darat Gunung, Kecamatan Talibura, Sabtu (6/6/2026).

Menurut Ignasius, pendidikan anak tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Keluarga memiliki peran utama dalam membentuk kebiasaan belajar, disiplin, tanggung jawab, serta nilai-nilai karakter yang menjadi bekal anak dalam menghadapi perkembangan zaman.

Ia menjelaskan bahwa masa usia dini merupakan periode penting dalam pertumbuhan anak karena menjadi tahap awal pembentukan kemampuan berpikir, perkembangan sosial, pengenalan lingkungan, dan pembentukan kepribadian.

“Pendidikan anak usia dini merupakan tahap yang sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak. Pada masa ini anak mulai belajar mengenal lingkungan, membangun karakter, mengembangkan kemampuan berpikir, serta membentuk kebiasaan positif yang akan menjadi bekal mereka di masa depan,” kata Ignasius.

Menurut dia, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan anak membangun karakter yang baik, memiliki rasa tanggung jawab, serta mampu beradaptasi dengan perubahan sosial yang terus berkembang.

Cafe Literasi di Pesisir Sikka Mulai Buka Akses Belajar Warga Desa

Karena itu, ia mendorong para orang tua untuk lebih aktif mendampingi proses belajar anak di rumah, menyediakan lingkungan yang mendukung perkembangan mereka, serta membangun komunikasi yang baik dengan pihak sekolah.

Ignasius menilai kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menciptakan generasi yang berkualitas. Tanpa keterlibatan seluruh pihak, berbagai program peningkatan mutu pendidikan akan sulit mencapai hasil yang optimal.

“Kita ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, sehat, dan mampu bersaing pada masa depan. Untuk itu pendidikan harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya sekolah atau pemerintah,” ujarnya.

Kegiatan edukasi tersebut diikuti siswa, guru, dan para orang tua murid. Selain membahas pentingnya pendidikan usia dini, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Pemerintah Desa Kringa menyatakan akan terus mendorong berbagai program yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan masyarakat sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia di wilayah Talibura.

Langkah tersebut sejalan dengan upaya memperkuat kesadaran masyarakat bahwa pendidikan sejak usia dini merupakan salah satu faktor kunci dalam menyiapkan generasi yang produktif, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan pembangunan pada masa mendatang.»(rel)

Continue Reading

PENKES

Cafe Literasi di Pesisir Sikka Mulai Buka Akses Belajar Warga Desa

Diharapkan menjadi model pengembangan ruang belajar berbasis komunitas di desa-desa.

Published

on

Ny. Fista Sambuari Kago: “Literasi menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang kritis, kreatif, dan mampu menghadapi perubahan zaman. Karena itu ruang belajar seperti ini harus dijaga dan dimanfaatkan bersama.” FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Pemerintah Kabupaten Sikka mulai memperluas akses literasi masyarakat hingga wilayah pesisir melalui peluncuran Cafe Literasi Galampa Bahari di Pantai Sawengka, Desa Gunung Sari, Kecamatan Alok, Rabu (3/6/2026).

Fasilitas literasi berbasis desa tersebut diperkenalkan sebagai ruang belajar masyarakat yang mengintegrasikan aktivitas membaca, diskusi, edukasi anak, dan pengembangan komunitas di kawasan pesisir Kabupaten Sikka.

Peluncuran dilakukan oleh Ny. Fista Sambuari Kago, S.H., dan dihadiri jajaran pemerintah daerah, pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pegiat literasi, pelajar, kader Posyandu, serta masyarakat setempat.

Dalam sambutannya, Fista menegaskan pembangunan sumber daya manusia tidak dapat hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi juga membutuhkan penguatan budaya belajar dan akses pengetahuan di tingkat masyarakat.

Bidan Muda Asal Sikka Terima Penghargaan Usai Bantu Persalinan Darurat di Tengah Laut

“Literasi menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang kritis, kreatif, dan mampu menghadapi perubahan zaman. Karena itu ruang belajar seperti ini harus dijaga dan dimanfaatkan bersama,” katanya.

Menurut dia, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, dan melahirkan inovasi yang berdampak bagi kehidupan sosial maupun ekonomi masyarakat.

Cafe Literasi Galampa Bahari dibangun sebagai bagian dari upaya memperluas gerakan literasi berbasis komunitas hingga tingkat desa. Pemerintah daerah menilai pendekatan tersebut penting untuk memperkecil kesenjangan akses pengetahuan antara wilayah perkotaan dan kawasan pesisir.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales, mengatakan keberadaan fasilitas literasi desa sejalan dengan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang saat ini mulai diperkuat di Kabupaten Sikka.

“Ruang literasi di desa harus menjadi pusat aktivitas belajar masyarakat, bukan hanya tempat menyimpan buku. Masyarakat perlu memiliki akses pengetahuan yang dekat, murah, dan mudah dijangkau,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan literasi masyarakat menjadi salah satu indikator penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk mendukung indeks pembangunan literasi daerah.

Peluncuran Cafe Literasi Galampa Bahari juga diisi dengan aktivitas edukatif yang melibatkan anak-anak PAUD, pelajar SD dan MA, kader Posyandu, pengurus TP PKK, serta kelompok masyarakat desa.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua ASIDEWI Kabupaten Sikka Yance Moa, Penjabat Kepala Desa Gunung Sari Mustari Ipir, tokoh agama, tokoh pendidikan, tokoh masyarakat, serta pengurus BUMDes Tumbu Ndeu.

Keberadaan cafe literasi di kawasan pesisir itu diharapkan menjadi model pengembangan ruang belajar berbasis komunitas di desa-desa lain di Kabupaten Sikka, sekaligus memperluas budaya membaca dan pembelajaran sepanjang hayat di tengah masyarakat.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending