Connect with us

HUMANIORA

Di Bawah Sunyi “Mati Golo”, Makam Bocah YBR Terasing dari Kampung dan Masih Berselimut Tanah

“Menurut adat orang Bajawa, yang mati golo penguburannya harus terpisah.”

Published

on

Makam YBR yang masih terbalut tanah dan dipisahkan dari kuburan umum bukanlah bentuk pengabaian, melainkan sebuah kepatuhan pada hukum adat Bajawa yang menyebut kematian tidak wajar sebagai “Mati Golo”. FOTO: GARDAFLORES/AGUS SATU

Ngada, GardaFlores — Di tengah duka yang belum juga reda, makam bocah 10 tahun berinisial YBR di Desa Batajawa, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, masih terbaring sunyi jauh dari pemukiman warga. Tanpa semen, tanpa batu nisan, hanya gundukan tanah merah dan palang kayu salib tertancap yang menjadi penanda terakhir kepergiannya. Tragedi kemanusiaan yang mengguncang Nusa Tenggara Timur ini tidak hanya meninggalkan luka mendalam, tetapi juga mengungkap bagaimana adat dan rasa duka berjalan berdampingan dalam kesunyian yang menyayat.

Sudah satu pekan berlalu sejak peristiwa itu terjadi. Namun bagi keluarga dan masyarakat Batajawa, waktu seolah berhenti di titik kehilangan. Makam YBR yang masih terbalut tanah dan dipisahkan dari kuburan umum bukanlah bentuk pengabaian, melainkan sebuah kepatuhan pada hukum adat Bajawa yang menyebut kematian tidak wajar sebagai “Mati Golo”.

Tragedi Bocah 10 Tahun di Ngada: Di Balik Senyum YBR dan Surat Kecil yang Mengguncang Nurani Bangsa

Ketika Duka Bertemu Hukum Adat

Dalam tradisi masyarakat Bajawa, “Mati Golo” berarti kematian yang terjadi di luar kewajaran—sebuah peristiwa yang diyakini membawa “pengaruh negatif” bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Karena itu, jenazah yang mengalami mati golo harus dimakamkan secara terpisah dan tidak boleh langsung diberi bangunan permanen seperti semen atau batu.

GardaFlores di lokasi pemakaman pada Kamis, 5 Februari 2026, menyaksikan suasana yang sunyi dan hening. Garis polisi masih terpasang di sekitar area makam yang terletak tidak jauh dari tempat kejadian perkara. Meski demikian, banyak pihak telah datang untuk berziarah, mulai dari warga sekitar hingga perwakilan pemerintah daerah dan pusat, termasuk Kementerian Sosial serta Kementerian Hukum dan HAM.

Kepala Desa Batajawa, Philipus Djio, menegaskan bahwa kondisi makam tersebut sepenuhnya mengikuti ketentuan adat. “Menurut adat orang Bajawa, yang mati golo penguburannya harus terpisah dan tidak boleh disemen. Setelah dua atau tiga tahun barulah boleh diperbaiki,” ujarnya.

Mimpi yang Mati di Bangku Sekolah: Catatan tentang Seorang Bocah, Pendidikan, dan Negara yang Terlambat Hadir

Menunggu Ritual Golo, Menunggu Pemulihan

Di balik sunyi makam itu, keluarga YBR kini juga menunggu pelaksanaan ritual adat Golo—ritual pembersihan dan “buang sial” yang diyakini dapat memulihkan keseimbangan hidup keluarga yang ditinggalkan. Ritual ini akan dipimpin oleh moza atau tokoh adat dan direncanakan berlangsung selama tiga hari tiga malam, dengan perkiraan waktu pelaksanaan pada Minggu, 8 Februari 2026.

Namun, di tengah duka dan tekanan psikologis, keluarga masih bergulat dengan persoalan biaya. “Minimal harus menyiapkan seekor kerbau. Semua sudah dibicarakan, hanya sumber dananya yang belum jelas,” kata Philipus.

Sementara itu, rumah duka di Desa Batajawa masih ramai dikunjungi. Tenda-tenda duka berdiri di depan rumah, menjadi saksi bisu pertemuan antara tangis keluarga, doa warga, dan kehadiran aparat serta pejabat yang datang silih berganti. Ibu dan nenek almarhum YBR belum bisa ditemui karena masih berada di Kota Bajawa bersama Polres Ngada untuk menjalani pemeriksaan lanjutan dalam rangka penyelidikan.

Di tanah yang masih basah oleh hujan dan air mata, makam kecil itu menunggu waktunya. Menunggu ritual adat, menunggu keadilan, dan menunggu agar arwah seorang bocah bisa kembali dipeluk oleh kampungnya sendiri.»(gus)

HUMANIORA

Pria 57 Tahun Ditemukan Meninggal di Kabor, Polisi Tunggu Hasil Medis

Berdasarkan keterangan warga, korban memiliki riwayat penyakit asma, lambung, dan gangguan paru-paru.

Published

on

Petugas polisi sedang melakukan identifikasi di rumah pria (GB) yang meninggal itu, Jumat (17/4/2026). FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Seorang pria berinisial GB (57) ditemukan meninggal dunia di dalam rumahnya di RT 005/RW 005, Kelurahan Kabor, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Jumat (17/4/2026) sekitar pukul 07.30 Wita. Korban diketahui berprofesi sebagai petani dan tinggal seorang diri.

Kasi Humas Polres Sikka, Aipda Leonardus Tunga, mengatakan korban ditemukan dalam kondisi pembusukan lanjut, terbaring di tempat tidur di ruang tengah rumahnya. Jenazah kemudian dievakuasi ke RSUD TC Hillers Maumere untuk pemeriksaan medis.

Penemuan bermula sekitar pukul 07.00 Wita ketika warga mencium bau menyengat dari arah rumah korban. Saksi Polikarpus Samsu Bari meminta anggota keluarganya memeriksa, namun tidak dapat mendekat karena bau yang semakin kuat.

Pada waktu hampir bersamaan, saksi Marta Martini yang melintas usai berjalan pagi turut mencium bau serupa. Ia kemudian membuka pintu rumah korban dan menemukan korban sudah meninggal dunia, lalu melaporkannya kepada ketua RT setempat.

Ketua RT 005, Maria Kontasia Dua Keron, menyatakan laporan awal dari warga kemudian langsung diteruskan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Sikka.

“Bau menyengat sekali, lalu ada banyak lalat,” kata Maria di lokasi kejadian.

Kasus Kematian Siswi di Sikka: Motif Belum Diumumkan, Kuasa Hukum Pertanyakan Barang Bukti dan Arah Penyidikan

Polisi yang menerima laporan kemudian mendatangi lokasi, melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), serta mengumpulkan keterangan saksi sebelum mengevakuasi jenazah.

Berdasarkan keterangan warga, korban memiliki riwayat penyakit asma, lambung, dan gangguan paru-paru. Korban juga sempat mengeluhkan sakit perut dan kesulitan buang air besar.

Ketua RT menyebut korban terakhir terlihat sekitar empat hari sebelum ditemukan. Sementara itu, warga lain, Samsul Olga, mengaku masih melihat korban pada Kamis (16/4/2026) di sekitar rumahnya.

“Kemarin saya masih lihat dia. Rencananya mau minta dokter untuk periksa, tapi tidak jadi karena dia sudah keluar rumah,” ujar Samsul.

Saat ditemukan, korban mengenakan jaket bergaris warna oranye, hitam, dan biru serta celana olahraga hitam. Kondisi tubuh menunjukkan tanda pembusukan lanjut.

Hingga saat ini, penyebab kematian belum dapat dipastikan. Kepolisian menyatakan masih menunggu hasil pemeriksaan medis untuk menentukan penyebab pasti kematian.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Baru Tiba dari Kupang, Guru di Watuliwung Ditemukan Meninggal di Rumahnya

Korban sebelumnya sempat berkomunikasi dengan keluarga untuk dijemput di Bandara Frans Seda Maumere.

Published

on

Korban kemudian dibawa ke RS TC Hillers Maumere untuk mendapatkan penanganan medis, namun dinyatakan telah meninggal dunia setelah dilakukan pemeriksaan. FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Seorang guru berinisial Y.A. (34), warga Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, ditemukan meninggal dunia di dalam rumahnya pada Minggu (12/4) sore, beberapa jam setelah tiba di Maumere dari Kupang.

Peristiwa terjadi sekitar pukul 16.48 WITA di Dusun Watuliwung, RT/RW 007/004. Informasi tersebut disampaikan Kasi Humas Polres Sikka, AIPDA Leonardus Tunga.

Berdasarkan keterangan kepolisian, korban sebelumnya sempat berkomunikasi dengan keluarga untuk dijemput di Bandara Frans Seda Maumere setibanya dari Kupang. Namun saat keluarga tiba di bandara, korban tidak ditemukan.

Korban kemudian menghubungi salah satu saksi dan menyampaikan bahwa dirinya telah berada di rumah di Desa Watuliwung.

Dua saksi berinisial A.D. (43) dan A.H.S. (42) selanjutnya mendatangi rumah korban. Setibanya di lokasi, keduanya memanggil korban dari luar rumah, namun tidak mendapat respons.

Saat memasuki rumah dan membuka pintu kamar, saksi menemukan korban dalam kondisi tergantung menggunakan tali nilon berwarna biru yang terikat pada rangka atap rumah.

Ibu dan Anak Hilang di Sikka Sejak 1 April, Pencarian Berlanjut

Menurut keterangan kepolisian, saksi berupaya menurunkan korban dengan memotong tali dan meminta bantuan warga. Korban kemudian dibawa ke RS TC Hillers Maumere untuk mendapatkan penanganan medis, namun dinyatakan telah meninggal dunia setelah dilakukan pemeriksaan.

Polisi yang menerima laporan langsung mendatangi lokasi kejadian, melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), serta mengumpulkan keterangan saksi.

Korban diketahui merupakan guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di SMP Nuba Arat, Kecamatan Kangae, dan tinggal seorang diri di rumahnya.

Penanganan kasus kematian yang diduga tidak wajar dilakukan melalui olah TKP, pemeriksaan medis, dan pengumpulan keterangan saksi. Autopsi menjadi salah satu prosedur yang dapat dilakukan untuk memastikan penyebab kematian, sesuai dengan ketentuan hukum dan persetujuan keluarga.

Keluarga korban menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi. Jenazah disemayamkan di rumah duka di Desa Watuliwung. Kepolisian masih melakukan pendalaman berdasarkan hasil olah TKP dan keterangan saksi.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Ibu dan Anak Hilang di Sikka Sejak 1 April, Pencarian Berlanjut

Miliki informasi terkait keberadaan korban, segera lapor melalui Call Center 110 atau nomor Humas Polres Sikka di 0822-3765-7607.

Published

on

ORANG HILANG: Ninung (25) dan anaknya Iman (sekitar 10 tahun), warga Gusung Karang, Pulau Kojagete, Kecamatan Alok Timur.

MAUMERE, GardaFlores — Seorang ibu muda dan anaknya dilaporkan hilang di Kabupaten Sikka sejak Rabu, 1 April 2026, setelah berpamitan pulang dari Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, namun hingga lebih dari sepekan tidak tiba di rumah mereka di Pulau Kojagete.

Korban diketahui bernama Ninung (25) dan anaknya Iman (sekitar 10 tahun), warga Gusung Karang, Pulau Kojagete, Kecamatan Alok Timur.

Berdasarkan kronologi yang dihimpun, pada Rabu (1/4/2026) sekitar pukul 10.00 WITA, keduanya berpamitan kepada keluarga di Kelurahan Kota Uneng untuk kembali ke rumah. Sejak saat itu, tidak ada komunikasi lanjutan dan keberadaan keduanya tidak diketahui.

Keluarga yang tidak mendapat kabar kemudian melakukan pencarian mandiri dengan menyisir sejumlah titik yang diduga menjadi jalur perjalanan korban, termasuk Pulau Pemana, Desa Nangahale, Dusun Waipare, dan wilayah Kota Uneng. Pencarian tersebut tidak menemukan jejak keberadaan korban.

“Kami sudah cari ke berbagai lokasi dan menghubungi keluarga, tetapi belum ada informasi,” ujar pihak keluarga.

Setelah pencarian tidak membuahkan hasil, keluarga melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Alok pada 9 April 2026. Laporan tercatat dengan nomor: 1/GANGGUAN/B/IV/2026/SPKT/POLSEK ALOK/Polres Sikka/Polda NTT.

Hingga saat ini, belum ada kepastian terkait rute terakhir korban, termasuk apakah keduanya sempat menyeberang menuju Pulau Kojagete.

Kepolisian mengimbau masyarakat yang memiliki informasi terkait keberadaan korban untuk segera melapor melalui Call Center 110 atau nomor Humas Polres Sikka di 0822-3765-7607.

Penanganan kasus orang hilang umumnya mengedepankan penelusuran titik terakhir keberadaan korban, pengumpulan keterangan saksi, serta koordinasi lintas wilayah. Partisipasi masyarakat dalam memberikan informasi awal menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat proses pencarian.

Hingga berita ini dipublikasikan, proses pencarian masih berlangsung. Kepolisian tengah menindaklanjuti laporan dengan pengumpulan data, penelusuran lokasi terakhir, dan koordinasi dengan pihak terkait.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending