HUMANIORA
PMI Asal Sikka Meninggal di Malaysia, Diduga Bekerja Nonprosedural Selama Puluhan Tahun
S.W diketahui telah bekerja di Malaysia selama sekitar 40 tahun, namun tetap berstatus tidak terdokumentasi secara resmi.
Maumere, GardaFlores – Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, berinisial S.W (60), meninggal dunia di Johor Bahru, Malaysia. Jenazah almarhum dipulangkan ke tanah air dan diterima pihak keluarga pada Sabtu (7/2/2026) di Rumah Singgah Nelle Kolibuluk, Desa Nelle Urung, Kecamatan Nelle.
Almarhum diduga merupakan PMI nonprosedural (undocumented) yang bekerja sebagai buruh sawit di Malaysia. Kasus ini kembali membuka fakta masih kuatnya praktik migrasi tenaga kerja ilegal dari daerah, terutama wilayah kepulauan seperti Kabupaten Sikka, yang selama ini menjadi kantong PMI ke luar negeri.
Dinas Naketrans Sikka Kembali Kirim 36 Pekerja Migran ke Kalimantan Tengah
Berdasarkan data dari Hospital Sultanah Aminah Johor Bahru, S.W dinyatakan meninggal dunia pada 28 Januari 2026 pukul 13.17 waktu setempat. Penyebab kematian hingga kini masih tercatat sebagai Pending Laboratory Investigations. Pihak rumah sakit juga mengonfirmasi bahwa otopsi telah dilakukan atas permintaan keluarga, dalam hal ini istri almarhum.
Yang memprihatinkan, S.W diketahui telah bekerja di Malaysia selama sekitar 40 tahun, namun tetap berstatus tidak terdokumentasi secara resmi. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius terkait pengawasan negara, pendataan PMI, serta lemahnya perlindungan pekerja migran asal daerah, khususnya mereka yang berangkat melalui jalur tidak resmi sejak puluhan tahun lalu.
Jenazah almarhum ditemukan meninggal dunia di ruang tunggu Terminal Feri Berjaya Waterfront, Johor Bahru, yang juga tercatat sebagai alamat terakhirnya. Setelah proses administrasi lintas negara, jenazah dipulangkan ke Indonesia menggunakan KM Wilis dari Kupang, tiba di Ende, dan selanjutnya dibawa ke Kabupaten Sikka menggunakan ambulans.
Polres Sikka Pulangkan 9 Pekerja Migran Indonesia ke Daerah Asalnya
Kasus pemulangan jenazah PMI nonprosedural ini menambah daftar panjang kematian PMI asal NTT di luar negeri. Tidak sedikit kasus serupa yang berujung pada persoalan minimnya perlindungan hukum, keterbatasan akses layanan kesehatan, hingga rumitnya proses pemulangan jenazah akibat ketiadaan dokumen resmi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari instansi terkait mengenai bagaimana almarhum dapat bekerja selama puluhan tahun tanpa status legal, serta langkah konkret yang disiapkan pemerintah untuk mencegah kasus serupa terus berulang.
Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah dan pemerintah pusat agar tidak hanya hadir saat pemulangan jenazah, tetapi juga serius memutus mata rantai pengiriman PMI nonprosedural, memperkuat edukasi migrasi aman, serta memastikan perlindungan negara hadir sebelum, selama, dan setelah warga bekerja di luar negeri.»(rel)
HUMANIORA
Bhayangkari Papua Salurkan 225 Karung Beras dan Logistik untuk Warga Nitunglea
Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan sejumlah kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa di Nitunglea, Palue, pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
MAUMERE, GardaFlores—Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan berbagai kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa bumi di Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026).
Bantuan dari Ny. Nova Patrige Renwarin bersama jajaran pengurus Bhayangkari Papua tersebut terdiri atas 225 karung beras berukuran lima kilogram, 25 dos minyak goreng kemasan satu liter, 600 dos air minum Aqua Gelas Nusra, 15 dos Energen, sembilan dos susu Dancow, dan 15 dos gula pasir.
Penyaluran bantuan ini berlangsung dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-75 Tahun 2026.
Logistik diberangkatkan dari Kantor Polsubsektor Palue pukul 07.00 WITA menuju Kantor Desa Nitunglea. Serah terima bantuan kepada pemerintah desa berlangsung sekitar pukul 10.00 WITA untuk selanjutnya didistribusikan kepada warga sasaran.
Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue, Brigpol I Gusti Ngurah Putra Kencana, S.H., mendampingi penyaluran bersama Penjabat Kepala Desa Nitunglea, Bay Langko, S.Sos., serta aparat dan staf desa.
Distribusi bantuan berakhir sekitar pukul 17.00 WITA.»(rel)
HUMANIORA
Pria 49 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Paga
Seorang pria berinisial Y.D.B. (49) ditemukan meninggal di ruang keluarga rumahnya di Paga, Sikka. Keluarga sempat berupaya memberikan pertolongan sebelum membawanya ke Puskesmas Wolofeo.
MAUMERE, GardaFlores—Seorang pria berinisial Y.D.B. (49), warga Dusun Warami, Desa Masebewa, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, ditemukan meninggal dunia oleh istrinya di ruang keluarga rumah mereka pada Sabtu (10/10/2026) sekitar pukul 05.30 WITA.
Menurut laporan kepolisian, istri korban, G.G. (47), menemukan suaminya saat keluar dari kamar setelah terbangun. Ia kemudian menghubungi anak mereka, A.P.S.N. (19), yang sedang menginap di rumah seorang teman, sekitar 25 meter dari kediaman keluarga.
Anak korban segera pulang. Bersama anggota keluarga, ia berusaha memberikan pertolongan sebelum membawa korban ke Puskesmas Wolofeo. Namun, tenaga medis menyatakan korban telah meninggal dunia sebelum tiba di puskesmas.
Setelah menerima laporan masyarakat, anggota Polsek Paga mendatangi lokasi untuk mendata korban dan saksi serta mengumpulkan keterangan. Polisi juga berkoordinasi dengan tenaga medis dan keluarga.
Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi maupun proses hukum lebih lanjut, sebagaimana tercatat dalam laporan kepolisian.
Hingga berita ini disusun, penyebab pasti kematian korban belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)
HUMANIORA
Petani 35 Tahun Meninggal Setelah Tenggelam di Pantai Lela
P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di Pantai Lela, Sikka. Dua nelayan berusaha mengevakuasinya setelah korban terlihat meminta pertolongan di laut.
MAUMERE, GardaFlores—P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di perairan Pantai Lela, tepat di depan Kantor Camat Lela, Desa Lela, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026) pagi.
Korban dilaporkan berada di laut sekitar pukul 08.30 WITA dan meminta pertolongan. Dua nelayan, B.Y. dan M.S., berusaha mengevakuasinya ke bibir pantai.
B.Y. mengatakan, sekitar pukul 08.00 WITA ia melihat korban menari dan melompat-lompat di tepi pantai. Sekitar 30 menit kemudian, ia melihat korban berada di laut sambil meminta pertolongan.
B.Y. berenang mendekati korban dan berusaha membawanya ke pantai. Karena kelelahan, ia meminta bantuan M.S. Keduanya kemudian membawa korban ke bibir pantai.
Warga selanjutnya menghubungi ambulans Puskesmas Nanga untuk membawa korban ke Rumah Sakit Santo Elisabeth Lela. Namun, korban meninggal dunia setelah mendapat penanganan medis.
Bhabinkamtibmas Bantu Keluarga Korban Kebakaran Posko Pengungsian Palue
Anggota Polsek Lela mendatangi lokasi setelah menerima laporan. Polisi mendata korban dan saksi serta berkoordinasi dengan tim medis rumah sakit dan keluarga korban.
Menurut keterangan saksi M.R.V., korban telah tinggal seorang diri di pondok miliknya selama hampir lima tahun. M.R.V. selama ini membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari korban.
Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi. Korban direncanakan dimakamkan pada Senin (12/10/2026) pukul 09.00 WITA.
Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti korban tenggelam belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)
-
NASIONAL1 year agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA1 year agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
