Connect with us

SOSBUD

Paskah dan Luka Sosial Kita: Siapa yang mau Bangkit?

Published

on

Paskah dan Luka Sosial Kita: Siapa yang mau Bangkit? FOTO: KAREL PANDU

Oleh Stefanus Bajo, S.Sos

Paskah selalu hadir dengan gema harapan. Lonceng berdentang, lilin dinyalakan, dan umat bersukacita menyambut kabar agung: Kristus telah bangkit. Dalam suasana penuh iman itu, kita diajak untuk sejenak merenung: sejauh mana kebangkitan itu sungguh menyentuh dan mengubah kehidupan kita sehari-hari?

Di Kabupaten Sikka, Paskah tidak hanya layak dirayakan, tetapi juga direnungkan sebagai cermin kehidupan bersama—sebuah kesempatan untuk melihat kembali realitas yang kita hidupi dengan jujur dan penuh kesadaran.

Realitas itu hadir dekat dengan kita

Di wilayah Nusa Tenggara Timur, tantangan kemiskinan masih menjadi bagian dari kehidupan banyak keluarga. Ini bukan sekadar data, melainkan kisah nyata tentang perjuangan sehari-hari: nelayan yang menggantungkan hidup pada laut yang tak selalu bersahabat, petani yang berharap pada musim yang kian sulit diprediksi, serta para pekerja yang terus berusaha memenuhi kebutuhan hidup dengan segala keterbatasan.

Dalam dunia pendidikan, kita juga melihat bahwa upaya untuk meningkatkan kualitas masih terus berjalan. Ada sekolah-sekolah yang berjuang dengan keterbatasan fasilitas, tenaga pengajar yang berdedikasi di tengah kekurangan, serta anak-anak yang berusaha menyeimbangkan antara belajar dan membantu keluarga. Semua ini menunjukkan bahwa pendidikan masih memerlukan perhatian bersama agar benar-benar menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Di sisi lain, banyak generasi muda dari Kabupaten Sikka memilih merantau, baik ke kota besar maupun ke luar negeri. Langkah ini sering diambil dengan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Sebagian berhasil, namun ada pula yang menghadapi tantangan dan risiko. Fenomena ini mengajak kita untuk terus berpikir bagaimana menciptakan ruang hidup yang lebih menjanjikan di daerah sendiri.

Di tengah semua itu, kita juga merasakan adanya perubahan dalam kehidupan sosial. Nilai kebersamaan dan gotong royong tetap hidup, namun di beberapa situasi mulai menghadapi tantangan dari gaya hidup yang semakin individual. Ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus merawat semangat persaudaraan yang telah lama menjadi kekuatan masyarakat kita.

Menariknya, kehidupan iman tetap bertumbuh. Gereja-gereja dipenuhi umat, doa-doa terus dipanjatkan, dan perayaan liturgi berlangsung dengan penuh khidmat. Semua ini adalah kekuatan yang patut disyukuri. Namun, Paskah juga mengajak kita untuk melangkah lebih jauh: menjadikan iman sebagai sumber tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Di sinilah makna Paskah menjadi sangat dalam.

Kebangkitan bukan hanya peristiwa iman, tetapi juga undangan untuk terus bertumbuh. Ia mengajak kita keluar dari berbagai “keterbatasan” dalam diri—entah itu sikap acuh, rasa takut untuk berbuat benar, atau kebiasaan untuk menunda kebaikan.

Dalam kehidupan kita di Kabupaten Sikka, “bangkit” dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana: bekerja dengan jujur, peduli terhadap sesama, saling menguatkan dalam kesulitan, serta berani melakukan hal-hal baik meskipun kecil.

Lebih dari itu, semangat kebangkitan juga dapat kita wujudkan dalam kehidupan bersama—melalui keterlibatan aktif dalam membangun masyarakat, mendukung kepemimpinan yang baik, serta mendorong kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan bersama.

Tentu, semua ini bukan hal yang mudah. Namun Paskah mengingatkan kita bahwa setiap perubahan, sekecil apa pun, memiliki arti.

Kabupaten Sikka memiliki banyak orang beriman dan penuh harapan. Dengan semangat itu, kita dapat terus melangkah bersama, menghadirkan nilai-nilai iman dalam tindakan nyata—dalam kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.

Paskah bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dihidupi.

Akhirnya, pertanyaan itu menjadi ajakan yang lembut bagi kita semua: apakah kita bersedia membuka diri untuk bertumbuh dan mengambil bagian dalam kebaikan, sekecil apa pun itu?

Kristus telah bangkit.

Dan dalam terang kebangkitan itu, kita semua diajak untuk melangkah—perlahan namun pasti—menuju kehidupan yang lebih baik, bersama dan untuk sesama.»

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SOSBUD

Bhabinkamtibmas Bantu Keluarga Korban Kebakaran Posko Pengungsian Palue

Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue menyalurkan bantuan kepada keluarga Philipus Pitu yang menjadi korban kebakaran di Posko Pengungsian Wuwuwa. Bantuan mencakup perlengkapan ibu dan bayi.

Published

on

Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue mengantar dan menyerahkan bantuan kepada keluarga Philipus Pitu di Posko Pengungsian Wuwuwa, Desa Nitunglea, Kamis (8/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores—Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue membantu keluarga Philipus Pitu yang menjadi korban kebakaran di Posko Pengungsian Wuwuwa, Dusun Awamale, Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Kamis (8/10/2026).

Bantuan diserahkan langsung di lokasi pengungsian. Selain kebutuhan sehari-hari, petugas juga membawa sejumlah perlengkapan bayi karena istri Philipus Pitu sedang hamil dan diperkirakan segera melahirkan.

Perlengkapan yang diberikan antara lain kasur atau spon, tempat tidur bayi, pakaian bayi, dot, ember bak mandi, perlak, loyor, kaos kaki dan sarung tangan bayi. Bantuan juga mencakup bedak, sampo, sabun dan minyak telon untuk kebutuhan perawatan bayi.

Bhabinkamtibmas juga melihat langsung kondisi warga di lokasi dan mencatat kebutuhan yang masih diperlukan. Warga diingatkan tetap waspada terhadap gempa susulan dan kemungkinan kebakaran serta segera melaporkan situasi yang berpotensi mengganggu keamanan.

Perempuan di Rumah Pengungsi Rokotenda Diduga Diserang Orang Tak Dikenal

“Kondisi seperti ini membutuhkan kepedulian dan kebersamaan. Warga diharapkan tetap saling membantu dan segera melaporkan apabila ada situasi yang dapat mengganggu keamanan,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Akses menuju Posko Pengungsian Wuwuwa masih menghadapi kendala karena sejumlah ruas jalan mengalami kerusakan akibat gempa.

Kebakaran yang menimpa keluarga Philipus Pitu terjadi di tenda atau posko pengungsian yang mereka tempati. Informasi awal menyebut api diduga berasal dari lampu di dalam posko yang tidak dimatikan sejak pagi. Namun, penyebab kebakaran masih perlu diperiksa lebih lanjut.

Penyaluran bantuan dimulai sekitar pukul 12.00 WITA dan berakhir pukul 16.00 WITA.»(rel)

Continue Reading

SOSBUD

Batas Tanah 2.526 Meter Persegi di Palue Disepakati, Tak Ada Keberatan

Kantor Pertanahan Kabupaten Sikka mengukur bidang tanah seluas sekitar 2.526 meter persegi di Desa Maluriwu, Palue. Para tetangga batas mengakui dan menyepakati batas bidang tanah tanpa keberatan.

Published

on

Petugas Kantor Pertanahan Kabupaten Sikka melakukan pengukuran dan penetapan batas bidang tanah di Dusun Uwa, Desa Maluriwu, Kecamatan Palue.

MAUMERE, GardaFlores — Batas bidang tanah seluas sekitar 2.526 meter persegi di Dusun Uwa, Desa Maluriwu, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, disepakati para pihak dalam pengukuran yang dilakukan Kantor Pertanahan Kabupaten Sikka, Senin (5/10/2026).

Bidang tanah yang berada di lingkungan SMAK St. Benediktus itu menjadi objek pengukuran dalam proses pendaftaran hak atas tanah. Muhammad Syafiuddin dari Kementerian Agama Kabupaten Sikka tercatat sebagai pemohon.

Pengukuran berlangsung pukul 10.00 hingga 14.00 WITA. Sebelum pengukuran, pemohon menunjukkan batas bidang tanah yang dikuasainya, sementara para tetangga batas hadir untuk memberikan pengakuan atas batas tersebut.

Setelah pemeriksaan lapangan, petugas memasang tanda batas pada titik-titik sudut bidang tanah dan melakukan pengukuran koordinat serta luas menggunakan peralatan ukur.

HUT Ke-81 TNI di Maumere, Amanat Panglima Tekankan Implementasi Nilai PRIMA

Hasilnya, sisi utara berbatasan dengan jalan dan Kantor Camat Palue. Sisi selatan berbatasan dengan Petrus Pasa. Sisi timur berbatasan dengan Kantor Camat Palue dan Nicolaus Niku, sedangkan sisi barat berbatasan dengan Wendelina Ndad dan SDN Uwa I.

Tidak ada keberatan dari para tetangga batas terhadap hasil penetapan tersebut. Batas yang ditunjukkan pemohon disetujui dan diakui para pihak yang hadir.

Kesepakatan itu kemudian dituangkan dalam Berita Acara Penetapan Batas Tanah dan ditandatangani para pihak sebagai bagian dari proses pendaftaran hak atas tanah.

Empat Penyelam Hilang di Perairan Pangabatang, Seluruhnya Ditemukan Selamat

Kepala SMAK St. Benediktus Antonius Cawa, S.Pd., Gr., Kasi Pemerintahan Desa Maluriwu Agustinus Ngasu, staf Kecamatan Palue Benyamin Cawa dan Maria Desi Ratna Sina, serta pihak yang berbatasan dengan bidang tanah turut hadir dalam proses tersebut.

Setelah pengukuran dan penetapan batas selesai, Kantor Pertanahan Kabupaten Sikka melanjutkan tahapan administrasi pendaftaran hak atas tanah sesuai ketentuan yang berlaku.»(rel)

Continue Reading

SOSBUD

Posko Pengungsian di Wuwuwawa Palue Terbakar, Sejumlah Barang Keluarga Rusak

Posko pengungsian di Kampung Wuwuwawa, Palue, Sikka, terbakar Sabtu sore. Api merusak sejumlah barang milik keluarga Philipus Pitu, sementara penyebab kebakaran masih perlu dipastikan.

Published

on

Posko pengungsian milik warga di Kampung Wuwuwawa, Desa Nitunglea, Palue, Sikka, terbakar pada Sabtu (3/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores — Sebuah posko pengungsian di Kampung Wuwuwawa, Dusun Awamale, Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, terbakar pada Sabtu (3/10/2026) sekitar pukul 15.30 WITA. Tidak ada korban jiwa maupun laporan korban luka dalam peristiwa tersebut.

Posko itu milik Philipus Pitu (40), warga Dusun Awamale. Saat kebakaran terjadi, Philipus sedang mengantar anggota keluarganya mengurus pengaktifan Program Keluarga Harapan (PKH) di wilayah Uwa, Kecamatan Palue.

Ia mengetahui kebakaran setelah mendapat kabar dari keluarganya yang berada di Kampung Wuwuwawa. Philipus kemudian kembali ke lokasi untuk melihat kondisi posko.

Warga sekitar langsung bergotong royong memadamkan api. Aliran listrik diputus sebelum warga menyiram bagian tenda yang terbakar dengan air hingga api berhasil dipadamkan.

BGN Aktifkan 480 SPPG di 16 Provinsi Mulai 2 Oktober

Informasi awal menyebut kebakaran diduga berkaitan dengan lampu di dalam posko yang tidak dimatikan sejak pagi. Lampu tersebut diduga membuat suhu di dalam tenda meningkat. Namun, penyebab pasti kebakaran masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.

Kebakaran menghanguskan atau merusak sejumlah barang milik keluarga Philipus, antara lain kasur, pakaian keluarga, pakaian bayi, peralatan dapur, dan perlengkapan rumah tangga lainnya.

Setelah kehilangan posko dan sejumlah barang, keluarga Philipus membutuhkan tenda atau tempat tinggal sementara, kasur, serta pakaian bayi. Kebutuhan tersebut menjadi perhatian karena istri Philipus diperkirakan melahirkan seorang anak mereka pada Oktober 2026.»(rel)

Continue Reading

Trending