Connect with us

INTERNASIONAL

Kematian Ali Khamenei Picu Euforia Global: Warga Iran dan Diaspora Rayakan, Dunia Soroti Dampak Geopolitik

Aksi serupa dilaporkan berlangsung di Berlin, Madrid, Boston, hingga sejumlah kota di Australia.

Published

on

Di Finchley, London utara, ratusan warga Iran mengibarkan bendera dan membunyikan klakson mobil saat perayaan meluas ke jalan-jalan di daerah yang dikenal sebagai 'Teheran kecil'. FOTO: THE TELEGRAPH/BELINDA JIAO

Teheran – Laporan mengenai kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu gelombang reaksi dramatis di dalam negeri dan komunitas diaspora Iran di berbagai negara. Kabar yang pertama kali diberitakan media Israel itu kemudian dikonfirmasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui platform Truth Social, sebelum disiarkan media pemerintah Iran.

Informasi tersebut menyebutkan Khamenei tewas dalam serangan rudal yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu pagi waktu setempat. Hingga berita ini diturunkan, situasi di kawasan Timur Tengah masih dalam pemantauan ketat sejumlah negara dan pengamat geopolitik internasional.

Euforia di Teheran hingga London

Di Teheran, sejumlah warga dilaporkan turun ke jalan tak lama setelah kabar beredar, meskipun akses internet di Iran disebut hampir sepenuhnya terputus. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan sorak sorai dari atap rumah, klakson kendaraan dibunyikan serentak, hingga kembang api yang menyala di beberapa titik ibu kota.

Gelombang reaksi juga terjadi di luar Iran. Di kawasan Finchley dan Golders Green, London—yang dikenal memiliki komunitas diaspora Iran cukup besar—ratusan orang berkumpul, menari, dan mengibarkan bendera era monarki. Aksi serupa dilaporkan berlangsung di Berlin, Madrid, Boston, hingga sejumlah kota di Australia.

Sejumlah aktivis menyebut momen tersebut sebagai “hari perayaan”. Aktivis Iran-Amerika Masih Alinejad dalam wawancara dengan CBS menyebut suasana di Boston sebagai perayaan besar bagi mereka yang lama menentang rezim Teheran.

Di London, ribuan orang berbaris menuju Kedutaan Besar Iran, menyerukan perubahan rezim dan mendesak Reza Pahlavi—putra Shah yang diasingkan—untuk mengambil peran dalam masa transisi politik Iran.

Polarisasi dan Aksi Tandingan

Di tengah euforia tersebut, muncul pula aksi tandingan. Di Parliament Square, London, sejumlah demonstran menggelar protes anti-perang dan mengkritik kebijakan luar negeri Washington. Mereka menilai intervensi militer hanya akan memperburuk instabilitas kawasan.

Sementara itu, di dalam Iran, aparat milisi Basij dilaporkan dikerahkan untuk mencegah demonstrasi meluas. Kendati demikian, sejumlah video yang diverifikasi kantor berita internasional menunjukkan perayaan terjadi di berbagai kota, termasuk di Provinsi Fars.

Latar Belakang Gelombang Protes

Perkembangan ini tidak lepas dari ketegangan panjang di Iran. Gelombang protes nasional sebelumnya pecah sejak Desember, dipicu tekanan ekonomi dan sanksi internasional. Demonstrasi memuncak pada awal Januari dan menjadi salah satu tantangan politik terbesar bagi pemerintahan Teheran dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut data yang dihimpun oleh kelompok pemantau HAM berbasis di AS, lebih dari 7.000 orang dilaporkan tewas selama rangkaian kerusuhan dan tindakan keras aparat. Pemerintah Iran mengakui lebih dari 3.000 kematian, namun menyebut kekerasan dipicu oleh “aksi terorisme” yang didalangi kekuatan asing.

Dampak Geopolitik Masih Dinamis

Perkembangan terbaru ini berpotensi mengubah peta politik Timur Tengah secara signifikan. Para analis memperingatkan kemungkinan eskalasi lanjutan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, sekaligus membuka fase baru ketidakpastian politik di kawasan.

Di tengah euforia dan polarisasi global, satu hal yang pasti: kabar kematian Khamenei telah mengguncang Iran dan memicu reaksi berantai di berbagai belahan dunia.»(*/bert)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

INTERNASIONAL

Serangan 900 Titik Guncang Iran: Ayatollah Ali Khamenei Dilaporkan Tewas

AS–Israel Klaim Operasi Udara Paling Mematikan.

Published

on

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. FOTO: THE TELEGRAPH

Teheran – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas setelah serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat menghantam berbagai target strategis di Teheran dan sejumlah kota lain di Iran.

Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Ayatollah pada dini hari Minggu, beberapa jam setelah kabar tersebut pertama kali diberitakan media Israel dan diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui media sosialnya. Jenazah Khamenei disebut ditemukan di reruntuhan kompleks kediamannya yang hancur akibat pemboman siang hari.

900 Serangan dalam 12 Jam

Operasi militer gabungan itu diklaim melibatkan sekitar 900 serangan dalam kurun 12 jam. Target yang disasar mencakup pangkalan militer, fasilitas nuklir, hingga gedung-gedung pemerintahan. Serangan disebut menggunakan jet tempur generasi kelima F-35 dan F-22, serta drone serang satu arah yang untuk pertama kalinya dikerahkan dalam skala besar.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyebut operasi yang dinamakan “Epic Fury” sebagai operasi udara paling kompleks dan presisi dalam sejarah militer modern Amerika Serikat.

Dalam pernyataannya, Presiden Trump menyebut kematian Khamenei sebagai “kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka.” Ia juga mengklaim sejumlah unsur militer dan aparat keamanan Iran siap meletakkan senjata pasca-serangan tersebut.

Israel Serang Teheran, Iran Balas Targetkan Pangkalan AS: Timur Tengah Memanas, Negara Teluk Siaga Darurat

Bukti Visual dan Respons Global

Laporan menyebutkan foto jenazah Khamenei diperlihatkan kepada Presiden Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai bukti keberhasilan operasi.

Kabar ini segera memicu reaksi global. Di Teheran, sejumlah laporan menyebutkan warga turun ke jalan, sementara di London dan kota-kota Eropa lainnya, komunitas diaspora Iran menggelar aksi spontan, baik dalam bentuk perayaan maupun demonstrasi politik.

Pukulan Terbesar Sejak 1979

Kematian Khamenei dinilai sebagai pukulan paling signifikan terhadap struktur kekuasaan Iran sejak Revolusi 1979 yang mengantarkan para Ayatollah ke tampuk pemerintahan. Perkembangan ini berpotensi membuka fase baru ketidakpastian politik dan keamanan di Timur Tengah.

Sejumlah analis memperingatkan bahwa meski operasi militer telah mencapai target utamanya, risiko eskalasi regional masih terbuka. Stabilitas internal Iran, respons faksi-faksi politik, serta posisi militer negara itu menjadi faktor penentu arah situasi ke depan.

Hingga kini, otoritas Iran belum merinci langkah transisi kepemimpinan maupun respons strategis terhadap serangan tersebut. Dunia internasional terus memantau perkembangan yang dapat mengubah peta geopolitik kawasan secara drastis.»(*bert)

Continue Reading

INTERNASIONAL

Israel Serang Teheran, Iran Balas Targetkan Pangkalan AS: Timur Tengah Memanas, Negara Teluk Siaga Darurat

Eskalasi militer antara Israel, AS, dan Iran ini memperluas risiko konflik regional yang berpotensi mengguncang stabilitas global.

Published

on

Setelah menyerang Iran, Israel langsung menyatakan keadaan darurat di seluruh wilayah. FOTO: REUTERS/WANA

Teheran – Konflik Timur Tengah kembali memasuki fase eskalasi terbuka. Israel meluncurkan sejumlah serangan rudal ke ibu kota Iran, Teheran, pada Sabtu (28/2), memicu gelombang serangan balasan Iran yang menyasar pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di berbagai negara kawasan.

Media Iran melaporkan beberapa rudal menghantam dan menghancurkan jalan di kawasan Jomhouri, Teheran. Hingga laporan ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran terkait dampak langsung serangan tersebut di ibu kota.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengakui negaranya melakukan serangan pendahuluan.

“Israel telah melancarkan serangan pendahuluan terhadap Iran, untuk menghilangkan ancaman terhadap Israel,” kata Katz, dikutip Times of Israel.

Tak lama setelah serangan, pemerintah Israel menyatakan keadaan darurat nasional di seluruh wilayahnya. Militer Israel juga mengeluarkan peringatan adanya rentetan rudal dari Iran dalam beberapa jam ke depan dan menginstruksikan warga untuk segera berlindung.

“Dalam beberapa menit terakhir, Komando Pertahanan Dalam Negeri telah mengirimkan arahan pencegahan langsung ke telepon seluler di daerah-daerah terkait,” kata Angkatan Pertahanan Israel dalam sebuah pernyataan, dikutip dari CNN.

“Masyarakat diminta untuk bertindak secara bertanggung jawab dan mengikuti instruksi-instruksi tersebut menyelamatkan nyawa,” demikian imbauan militer Israel.

Amerika Serikat Kerahkan USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah, Ketegangan dengan Iran Kian Memanas

Serangan Gabungan Israel–AS dan Target Strategis

Laporan menyebut Israel dan AS meluncurkan serangan gabungan yang menargetkan fasilitas kepresidenan, kantor kementerian, serta fasilitas militer Iran. Bahkan, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, disebut menjadi target utama dalam operasi tersebut.

Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan selama lebih dari sepekan terakhir, sekaligus saat proses negosiasi nuklir antara Washington dan Teheran masih berlangsung.

Iran Balas, Pangkalan AS di Timur Tengah Disasar

Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan yang menargetkan sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, hingga Yordania. Ledakan juga dilaporkan terjadi di Riyadh, Arab Saudi.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa seluruh lokasi yang digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran kini dianggap sebagai target sah.

“Angkatan bersenjata Iran menganggap lokasi-lokasi tempat operasi AS dan Zionis sebagai target sah, serta lokasi-lokasi semua aksi terhadap operasi pertahanan Iran,” kata Araghchi seperti dikutip AFP.

Israel meluncurkan sejumlah serangan rudal ke Ibukota Teheran, Iran, Sabtu (28/2/2026) beberapa rudal menghancurkan jalan di daerah Jomhouri di Teheran. FOTO: AFP/ATTA KENARE

Kementerian Luar Negeri Iran juga mengutuk keras serangan tersebut.

“Agresi militer baru Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran dilakukan, sementara Iran dan Amerika Serikat berada di tengah proses diplomatik,” kata Kemlu Iran merujuk pada pembicaraan nuklir antara Washington dan Teheran.

“Sekarang rakyat Iran bangga karena telah melakukan segala yang diperlukan untuk mencegah perang. Sekarang saatnya untuk membela tanah air dan menghadapi agresi militer musuh,” demikian pernyataan Kemlu Iran.

Pakistan–Afghanistan Perang Terbuka? Serangan ke Kabul dan Kandahar Picu Eskalasi di Garis Durand

Iran menegaskan kesiapan penuh untuk mempertahankan kedaulatan negaranya.

“Sebagaimana kami siap untuk bernegosiasi, kami lebih dari siap sebelumnya untuk membela diri. Angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan menanggapi para agresor dengan otoritas,” lanjut pernyataan tersebut.

Kuwait Siaga, Rudal Dicegat di Pangkalan Ali Al-Salem

Dampak konflik juga dirasakan di negara-negara Teluk. Kementerian Dalam Negeri Kuwait menyatakan sirene darurat dibunyikan dan warga diminta berlindung di ruang bawah tanah.

Pangkalan udara Ali Al-Salem Air Base dilaporkan menjadi target rudal Iran, meskipun sistem pertahanan berhasil mencegatnya. Media internasional melaporkan puing-puing rudal berserakan di sekitar pangkalan.

Pemerintah Kuwait meminta masyarakat tetap tenang, memastikan keamanan gas dan listrik, serta menggunakan pintu darurat atau tempat perlindungan yang telah ditentukan.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz mengakui itu adalah serangan pendahuluan (preemptive strike) terhadap Iran. FOTO: AFP

Qatar dan Arab Saudi Serukan De-eskalasi

Di tengah memanasnya situasi, Tamim bin Hamad Al Thani berbicara dengan Mohammed bin Salman untuk membahas perkembangan keamanan regional.

Kedua pemimpin menekankan perlunya “penghentian segera” terhadap setiap eskalasi dan mendorong kembali ke meja perundingan.

Salman menegaskan “solidaritas dan dukungan penuh negaranya untuk Negara Qatar, kecaman kerasnya terhadap penargetan wilayah Qatar dengan rudal balistik Iran, dan komitmennya untuk memberikan semua dukungan yang mungkin kepada Negara Qatar dalam semua langkah yang diambilnya untuk menjaga kedaulatan, keamanan, dan stabilitasnya.”

Sementara itu, Emir Qatar menyampaikan “rasa terima kasih dan penghargaan yang mendalam atas sikap tegas Kerajaan Arab Saudi yang bersaudara, dan atas solidaritas persaudaraan yang tulus dan dukungan yang tak tergoyahkan untuk Negara Qatar dan rakyatnya.”

Ancaman Stabilitas Global

Eskalasi militer antara Israel, AS, dan Iran ini memperluas risiko konflik regional yang berpotensi mengguncang stabilitas global, termasuk keamanan energi dan jalur perdagangan internasional.

Komunitas internasional kini menyoroti langkah lanjutan ketiga negara tersebut, sementara PBB didesak untuk mengambil tindakan kolektif guna mencegah perang terbuka yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.»(*/bert)

Continue Reading

INTERNASIONAL

Pakistan–Afghanistan Perang Terbuka? Serangan ke Kabul dan Kandahar Picu Eskalasi di Garis Durand

Akar konflik tak lepas dari sengketa di sepanjang Garis Durand, perbatasan sepanjang 2.670 kilometer yang sejak era kolonial.

Published

on

Para pria Afghanistan berkumpul di dekat sebuah mobil yang rusak setelah serangan udara Pakistan semalam menghantam daerah pemukiman di desa Girdi Kas di distrik Bihsud, provinsi Nangarhar, pada 22 Februari 2026. FOTO: AFP

Kabul – Ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan kembali memuncak. Kedua negara kini terlibat aksi saling serang yang memicu kekhawatiran eskalasi militer lebih luas di kawasan Asia Selatan.

Pada Jumat (27/2/2026) pagi, Pakistan melancarkan pemboman ke sejumlah kota Afghanistan, termasuk Kabul dan Kandahar. Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah pasukan Afghanistan dilaporkan menyerang tentara perbatasan Pakistan.

Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, bahkan menyebut situasi saat ini sebagai perang terbuka.

“Sekarang ini adalah perang terbuka antara kami dan Anda,” ujarnya di X, Jumat (27/2/2026).

Sementara itu, Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menyatakan bahwa pertahanan Taliban di Kabul, Paktia, dan Kandahar menjadi target operasi militer. Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, menegaskan angkatan bersenjata telah memberikan tanggapan setimpal atas agresi yang disebutnya sebagai tindakan terbuka Taliban Afghanistan.

Garis Durand: Sumbu Lama yang Tak Pernah Padam

Akar konflik tak lepas dari sengketa di sepanjang Garis Durand, perbatasan sepanjang 2.670 kilometer yang sejak era kolonial menjadi sumber perselisihan kedua negara.

Garis ini ditetapkan pada 1893 oleh Inggris sebagai batas antara Afghanistan dan India Britania—wilayah yang kemudian menjadi Pakistan. Kabul tidak pernah secara resmi mengakui Durand Line sebagai perbatasan internasional karena membelah wilayah etnis Pashtun. Sebaliknya, Islamabad menganggap garis tersebut sah dan memperkuatnya dengan pagar serta pos keamanan untuk menekan pergerakan militan lintas batas.

Personel keamanan Taliban dan warga mencari korban setelah serangan udara Pakistan semalam menghantam daerah pemukiman di desa Girdi Kas di distrik Bihsud, provinsi Nangarhar, pada 22 Februari 2026. FOTO: AFP

Ketegangan meningkat drastis setelah Taliban kembali berkuasa di Kabul pada Agustus 2021. Pakistan semula berharap pemerintahan baru dapat menekan aktivitas Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), kelompok militan yang kerap melancarkan serangan di wilayah Pakistan.

Namun serangan TTP justru terus berlanjut, terutama di Khyber Pakhtunkhwa dan Balochistan. Islamabad menuding Kabul membiarkan militan berlindung di wilayah Afghanistan, tuduhan yang berulang kali dibantah Taliban.

Perang Terbuka Pakistan–Afghanistan: Operasi “Ghazab Lil Haqq” Guncang Kabul dan Kandahar, Korban Sipil Berjatuhan

Dari Baku Tembak ke Serangan Udara

Sejak 2022, bentrokan bersenjata di titik perlintasan strategis seperti Chaman-Spin Boldak dan Torkham semakin sering terjadi. Insiden baku tembak terkait pembangunan pagar dan pos pemeriksaan menimbulkan korban sipil di kedua sisi.

Pakistan bahkan melancarkan serangan udara ke provinsi Khost dan Kunar, yang disebut menargetkan basis TTP. Taliban mengecam aksi tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan Afghanistan, memicu gelombang protes di berbagai kota.

Perbatasan berulang kali ditutup, melumpuhkan arus perdagangan dan membuat ribuan warga terjebak. Jalur diplomasi melalui intelijen dan militer tak mampu menghasilkan solusi permanen.

Krisis Kemanusiaan dan Deportasi

Memasuki 2023 hingga 2024, konflik semakin melebar. Pakistan memperkuat kehadiran militer di perbatasan, sementara Kabul merespons dengan pengerahan pasukan dan kendaraan lapis baja.

Insiden artileri lintas batas dan penggunaan drone pengintai menjadi lebih umum. Ribuan warga desa di wilayah perbatasan terpaksa mengungsi akibat kekerasan.

Islamabad juga memperketat kebijakan visa dan mempercepat deportasi pengungsi Afghanistan ilegal. Kebijakan ini menuai kritik internasional dan memicu krisis kemanusiaan baru.

Hubungan diplomatik kedua negara membeku. Duta besar saling dipanggil, sementara komunikasi formal semakin terbatas.

Risiko Eskalasi Lebih Luas

Memasuki 2025 hingga awal 2026, situasi di perlintasan Chaman dan Torkham tetap tegang dengan baku tembak sporadis yang terus terjadi. Upaya mediasi oleh kekuatan regional seperti China dan Iran belum menghasilkan terobosan signifikan.

Kini, dengan pemboman ke Kabul dan Kandahar serta pernyataan “perang terbuka” dari pejabat tinggi Pakistan, risiko eskalasi konflik berskala lebih besar semakin nyata.

Tanpa mekanisme komunikasi yang stabil dan komitmen politik kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan, konflik Pakistan–Afghanistan berpotensi mengguncang stabilitas Asia Selatan dan memperburuk krisis kemanusiaan di kawasan perbatasan yang sudah rapuh.»(*/bert)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending