SOSBUD
TMMD Ke-127 Bangun MCK di Desa Werang, Momentum Evaluasi Serius Sanitasi Dasar di Sikka
Apakah komitmen menghadirkan sanitasi layak dan berkelanjutan di Sikka akan tetap kokoh setelah program TMMD usai?
Maumere, GardaFlores – Pembangunan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) oleh Satgas TMMD Ke-127 Kodim 1603/Sikka di Desa Werang, Kecamatan Waiblama, Rabu (25/2/2026), layak diapresiasi sebagai langkah konkret memperkuat sanitasi dasar masyarakat. Namun di balik semangat gotong royong yang ditunjukkan prajurit dan warga, terselip pertanyaan mendasar tentang konsistensi kebijakan sanitasi di daerah.
Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Tahun Anggaran 2026 memang menyasar pembangunan fisik prioritas, termasuk MCK sebagai fasilitas vital bagi kesehatan publik. Di lapangan, prajurit TNI bersama masyarakat terlihat menggali septic tank, mengaduk semen, hingga menyiapkan material bangunan secara swadaya. Kolaborasi ini kembali menegaskan kemanunggalan TNI dan rakyat dalam membangun desa.
Komandan Kodim 1603/Sikka selaku Dansatgas TMMD Ke-127, Letkol Arm Denny Riesta Permana, menyebut pembangunan MCK tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan dasar masyarakat desa.
Pernyataan itu relevan. Akses sanitasi layak memang menjadi fondasi peningkatan derajat kesehatan, pencegahan penyakit berbasis lingkungan, serta penguatan pola hidup bersih dan sehat. Namun fakta bahwa MCK masih menjadi “sasaran fisik” utama TMMD juga menyingkap realitas yang lebih luas: sanitasi layak di sejumlah wilayah pedesaan Kabupaten Sikka masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Desa Werang bukan satu-satunya wilayah yang menghadapi keterbatasan akses MCK sehat dan sistem pembuangan limbah memadai. Ketika kebutuhan dasar seperti sanitasi masih harus dipercepat melalui intervensi program lintas sektoral, publik wajar mempertanyakan efektivitas dan keberlanjutan program sanitasi pemerintah daerah selama ini.
Apakah pembangunan fasilitas dasar seperti MCK harus selalu menunggu momentum TMMD? Di mana letak konsistensi perencanaan dan penganggaran sanitasi dalam skema pembangunan daerah?
Pembangunan fisik tentu penting. Namun tanpa pendampingan berkelanjutan, edukasi sanitasi, serta pengawasan penggunaan dan perawatan fasilitas, bangunan berisiko menjadi proyek sesaat yang kehilangan fungsi jangka panjang.
TMMD Ke-127 mengirim pesan kuat tentang kolaborasi dan percepatan pembangunan desa. Lebih dari itu, momentum ini semestinya menjadi alarm bagi para pemangku kebijakan agar sanitasi tidak lagi diposisikan sebagai isu musiman, melainkan prioritas permanen dalam agenda pembangunan daerah.
MCK boleh berdiri hari ini. Yang lebih penting, apakah komitmen menghadirkan sanitasi layak dan berkelanjutan di Sikka akan tetap kokoh setelah program TMMD usai?»(rel)
SOSBUD
Sambut HUT ke-81 TNI, Kodim 1603/Sikka Tanam Bakau di Pesisir Reroroja
Kodim 1603/Sikka bersama Lanal Maumere, Basarnas, Persit dan masyarakat menanam bakau di pesisir Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka.
MAUMERE, GardaFlores — Kodim 1603/Sikka menggelar penanaman pohon bakau di kawasan pesisir Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Rabu (9/9/2026), dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 TNI.
Kegiatan tersebut melibatkan personel Kodim 1603/Sikka, Lanal Maumere, Basarnas, Persit KCK Cabang XIV Dim 1603/Sikka serta masyarakat setempat.
Penanaman dipimpin Kasdim 1603/Sikka Mayor Cba Dominggus Melianus Atamani. Kegiatan itu mengusung tema HUT ke-81 TNI Tahun 2026, yakni “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur.”
Kasdim 1603/Sikka Mayor Cba Dominggus Melianus Atamani mengatakan, kegiatan penanaman bakau merupakan bagian dari pengabdian TNI melalui aksi yang berkaitan dengan lingkungan dan masyarakat.
Polwan Tetap Bertugas di Tengah Gempa Susulan dan Kekhawatiran Keluarga
“Melalui kegiatan penanaman bakau ini, kami ingin menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari pengabdian TNI. Hutan bakau memiliki peran penting dalam menjaga kawasan pesisir dari abrasi serta mempertahankan keseimbangan ekosistem,” ujar Dominggus.
Ia mengatakan, keberadaan hutan bakau perlu dijaga secara bersama, termasuk oleh masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pesisir.
Menurutnya, bibit bakau yang telah ditanam perlu dirawat agar dapat tumbuh dan berkembang sehingga fungsi ekologisnya dapat terjaga.
Penanaman bakau tersebut menjadi salah satu kegiatan Kodim 1603/Sikka dalam rangka menyambut HUT ke-81 TNI yang diperingati pada 5 Oktober 2026.»(rel)
SOSBUD
Kebakaran Lahan Dekati Bandara Frans Seda, TNI-Polri Dikerahkan
Kebakaran puluhan hektare lahan kering terjadi di sekitar Bandara Frans Seda Maumere. Api meluas hingga mendekati kawasan bandara dan ditangani petugas gabungan.
MAUMERE, GardaFlores — Kebakaran lahan kering terjadi di sekitar Bandara Frans Seda Maumere, Kabupaten Sikka, Selasa (8/9/2026). Kobaran api yang membakar puluhan hektare lahan bergerak mendekati kawasan bandara sehingga petugas mengerahkan kendaraan pemadam untuk mencegah api mencapai fasilitas vital tersebut.
Api mulai terlihat sekitar pukul 08.00 WITA dari kawasan kebun milik warga yang berjarak sekitar satu kilometer dari bandara. Kobaran kemudian meluas hingga mendekati kawasan fasilitas bandara.
Petugas Bandara Frans Seda mengerahkan kendaraan pemadam kebakaran untuk melakukan penanganan. TNI dan Polri kemudian turut dikerahkan ke lokasi, bersama kendaraan pemadam kebakaran milik Pemerintah Kabupaten Sikka.
Sekitar pukul 14.36 WITA, sebagian area yang terbakar berhasil dikendalikan. Namun, proses pemadaman masih dilanjutkan karena sejumlah titik api dan bara masih ditemukan.
Warga Palue Ganti Bambu Rusak agar Penyulingan Air Poa Nua Kaju Tetap Berfungsi
Sedikitnya 30 personel Kodim 1603/Sikka dan sekitar 35 personel Polres Sikka dikerahkan dalam penanganan kebakaran tersebut.
Dandim 1603/Sikka Letkol Arm Denny Riesta Permana mengatakan kebakaran melanda areal lahan kering yang cukup luas dan telah mendekati bangunan serta fasilitas vital Bandara Frans Seda.

“Pemadaman dilakukan untuk menyelamatkan fasilitas negara dari amukan api,” kata Denny.
Hingga proses pemadaman berlangsung, penyebab kebakaran belum diketahui. Dugaan mengenai kelalaian maupun kesengajaan juga belum dapat dipastikan.
Denny mengatakan penyelidikan mengenai sumber api dan kemungkinan adanya unsur kesengajaan merupakan kewenangan pihak kepolisian.
Bandara Frans Seda menjadi salah satu fasilitas transportasi yang digunakan dalam mendukung mobilitas dan distribusi bantuan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka dan wilayah Flores.
Karena itu, penanganan kebakaran dilakukan untuk mencegah api mencapai fasilitas bandara dan mengantisipasi dampak terhadap aktivitas di kawasan tersebut.
Hingga Selasa sore, petugas masih melakukan pemadaman dan pemantauan terhadap titik-titik bara untuk mencegah munculnya kembali kobaran api. (rel)
SOSBUD
35 KK di Napugera Hampir Sebulan Kesulitan Air, Warga Soroti Kerusakan Fasilitas Desa
Kerusakan pipa dan bak penampungan air desa membuat 35 kepala keluarga di Dusun Puutua, Desa Napugera, Kecamatan Mego, Sikka, disebut hampir sebulan kesulitan mendapatkan air minum. Warga juga menyampaikan dugaan terkait kerusakan aset dan penggunaan anggaran desa yang meminta pemeriksaan pemerintah.
MAUMERE, GardaFlores — Sebanyak 35 kepala keluarga atau sekitar 95 jiwa di Dusun Puutua, Desa Napugera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, disebut mengalami kesulitan mendapatkan air minum selama hampir satu bulan setelah fasilitas air minum desa mengalami kerusakan.
Fasilitas yang dilaporkan rusak berupa pipa sepanjang sekitar 50 meter dan bak penampungan air minum di RT 04/RW 04 Dusun Puutua. Kerusakan tersebut menyebabkan aliran air yang selama ini digunakan warga tidak lagi mengalir ke permukiman.
Ikanasius Koti menyampaikan kondisi tersebut kepada wartawan di Maumere, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Koti, warga terpaksa mencari sumber air lain yang berjarak sekitar dua kilometer dari permukiman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Sudah sekitar satu bulan warga kesulitan mendapatkan air minum. Untuk mengambil air, warga harus menempuh jarak kurang lebih dua kilometer,” kata Koti.
Warga Rokirole Digigit Anjing Tetangga, Dapat Vaksin Anti Rabies
Koti mengatakan warga telah menyampaikan laporan mengenai kerusakan fasilitas tersebut secara berjenjang, mulai dari tingkat RT, kepala dusun, sekretaris desa, BPD hingga kepala desa. Namun, menurut dia, hingga kini belum ada penyelesaian yang memulihkan kembali layanan air bagi warga.
“Kami sudah melaporkan persoalan ini, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ujar Koti.
Dalam keterangannya, Koti juga menyebut adanya dugaan bahwa kerusakan fasilitas air desa tersebut dilakukan oleh salah seorang perangkat Desa Napugera, Alfonsus Panggo.
Dugaan itu, kata dia, menjadi bagian dari persoalan yang menurut warga perlu diperiksa oleh pemerintah. Namun, Koti tidak menyertakan hasil pemeriksaan atau bukti resmi yang telah menetapkan pihak tertentu sebagai pelaku perusakan.

Selain persoalan fasilitas air, Koti menyoroti sejumlah penggunaan anggaran Desa Napugera yang menurut keterangannya berkaitan dengan Panggo.
Ia menyebut pengadaan ternak kambing pada 2022 dianggarkan sekitar Rp75 juta. Menurut Koti, nilai yang diketahui warga terealisasi sekitar Rp40 juta.
Koti juga menyebut kegiatan hortikultura tahun 2022 dengan anggaran sekitar Rp45 juta, yang menurut keterangannya terealisasi sekitar Rp25 juta.
Sementara untuk kegiatan penanganan stunting pada 2025, Koti menyebut terdapat anggaran sekitar Rp35 juta dengan realisasi yang menurut dia diketahui sekitar Rp25 juta.
Air Ijukutu Mati Tiga Pekan, Warga Paga Pertanyakan Pengelolaan Proyek Miliaran
Perbedaan angka tersebut kemudian disebut Koti sebagai dugaan adanya dana yang belum dapat dipertanggungjawabkan. Namun, angka-angka tersebut masih berdasarkan keterangan yang disampaikannya dan belum disertai hasil audit atau pemeriksaan resmi yang dapat memastikan adanya penyimpangan.
Koti mengatakan warga telah menyampaikan berbagai persoalan tersebut kepada pemerintah desa dan BPD. Mereka berharap pemerintah Kecamatan Mego dan Pemerintah Kabupaten Sikka turun melakukan pemeriksaan, baik terhadap kondisi fasilitas air maupun penggunaan anggaran desa yang dipersoalkan.
Bagi warga, pemulihan fasilitas air menjadi kebutuhan yang paling mendesak karena kerusakan tersebut membuat puluhan keluarga harus mencari sumber air lain di luar permukiman.
Di sisi lain, dugaan mengenai kerusakan aset desa dan penggunaan anggaran juga dinilai perlu diklarifikasi melalui pemeriksaan yang sesuai dengan ketentuan sehingga dapat diketahui apakah terdapat pelanggaran atau tidak.
Hingga berita ini diterbitkan, GardaFlores belum memperoleh konfirmasi dari Alfonsus Panggo maupun Pemerintah Desa Napugera mengenai dugaan perusakan fasilitas air dan dugaan penyimpangan anggaran yang disampaikan Ikanasius Koti. Ruang klarifikasi tetap terbuka bagi pihak-pihak yang disebut dalam pemberitaan ini.»(rel)
-
NASIONAL11 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA12 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka

Pingback: TMMD Ke-127 Kodim 1603/Sikka Renovasi Gereja Daranatar di Desa Hoder - Garda Flores %