OPINI
TPA Wairii dan Pengkhianatan terhadap Laut Maumere: Refleksi Hari Peduli Sampah Nasional di Kabupaten Sikka

Oleh Lambert Wahang
Dari puncak Bukit Wairii di Desa Kolisia, Kecamatan Magepanda, Teluk Maumere terlihat seperti janji masa depan. Laut biru, pulau-pulau kecil di kejauhan, dan langit Flores yang terbuka adalah fondasi logis bagi pariwisata dan ekonomi pesisir Sikka.
Namun di bukit yang sama, setiap hari sekitar 48 ton sampah diproduksi oleh warga Kabupaten Sikka. Itu berarti hampir 1.440 ton sampah per bulan dan lebih dari 17 ribu ton per tahun. Seluruh beban itu berakhir di satu tempat: TPA Wairii.
Dan di sana, sampah tidak diolah, tetapi diletakan dengan kasar, alias dibuang.
Komposisi sampah Sikka sebenarnya memberi petunjuk solusi yang sangat jelas. Setidaknya kalau kita merujuk pada data yang diberikan oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Sikka Ambrosius Peter:
- 40% sisa makanan (organik)
- 20% plastik
- 13% ranting/kayu
- 11% kertas
Artinya, lebih dari separuh sampah Sikka adalah sampah organik yang seharusnya bisa dikomposkan. Jika sistem pemilahan dan pengolahan berjalan, minimal 40% beban TPA bisa berkurang hanya dengan pengolahan kompos sederhana.
Sumber sampah pun sangat jelas:
- 51% berasal dari rumah tangga
- 12% kawasan
- 12% pasar
- 11% perniagaan
- 7% fasilitas publik
Ini berarti akar persoalan ada di level domestik. Tetapi hingga hari ini, tidak ada sistem pemilahan wajib di tingkat rumah tangga. Tidak ada infrastruktur komposting massal. Tidak ada insentif ekonomi untuk daur ulang.
Kita tahu masalahnya. Tetapi kita tidak membangun sistemnya.
Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka bekerja dengan:
- 6 unit truk sampah
- 2 unit amrol
- 5 kendaraan roda tiga
- 32 TPS kontainer
- 48 TPS permanen
- 102 SDM (30 penyapu jalan, 57 pengangkut & sopir, 12 retributory, 3 pengawas)
Sekarang bandingkan dengan 48 ton sampah per hari.
Dengan hanya 6 truk utama, setiap kendaraan harus menanggung rata-rata 8 ton lebih per hari, belum termasuk keterbatasan jarak, waktu, bahan bakar, dan kondisi jalan. Pengawasan hanya ditangani oleh tiga orang. Ini bukan sekadar persoalan teknis; ini ketimpangan struktural antara volume produksi sampah dan kapasitas sistem.
Kita membebani armada kecil dengan gunung sampah yang terus bertambah.
Masalah menjadi lebih serius karena lokasi TPA berada di puncak bukit. Secara ekologis, ini desain yang keliru.
Di bawahnya ada kebun, permukiman, sumber air, dan laut. Artinya, air lindi — cairan hitam hasil pembusukan sampah yang mengandung logam berat, bakteri, dan mikroplastik — secara alami mengalir turun. Tidak ada sistem pengolahan lindi yang memadai. Tidak ada sanitary landfill. Yang ada hanya timbunan terbuka dan pembakaran.
Setiap hujan turun, racun itu bergerak. Dan muaranya: Laut Maumere.
Ini bukan lagi isu kebersihan kota. Ini isu keamanan pangan, kesehatan publik, dan keberlanjutan perikanan.
Kita sedang melakukan ketidakadilan ekologis. Ya, saya pikir itu kata yang tepat. Sekitar dua puluh keluarga pemulung hidup di kawasan TPA. Mereka dan ternaknya bergantung pada sampah. Anak-anak tumbuh di tengah asap dan limbah.
Kota Maumere terlihat bersih karena sampahnya dipindahkan. Tetapi kebersihan itu dibayar oleh warga miskin dan alam yaitu oleh laut.
Inilah ketidakadilan ekologis: mereka yang paling sedikit menghasilkan sampah seringkali paling besar menanggung dampaknya.
Sekarang, waktunya aksi, bukan basa-basi. Karena 40% sampah adalah sisa makanan, maka solusi pertama bukan memperluas TPA, melainkan:
- Wajib pilah dari rumah tangga (karena 51% sampah berasal dari sana).
- Bangun pusat kompos skala kecamatan untuk mengurangi hampir setengah volume harian.
- Perkuat sistem daur ulang plastik (20%) dengan skema bank sampah dan insentif ekonomi.
- Optimalkan SDM yang ada dengan zonasi kerja berbasis data produksi sampah.
- Bangun sistem pengolahan lindi dan sanitary landfill minimum standar.
Jika 40% organik dikelola, dan separuh plastik berhasil dikurangi melalui daur ulang, maka TPA Wairii tidak lagi menerima 48 ton per hari — melainkan mungkin hanya 20–25 ton. Itu perbedaan antara krisis dan pengendalian.
Masalah Sikka bukan semata perilaku warga. Data menunjukkan sistemnya memang belum dirancang untuk mengelola 48 ton sampah per hari secara aman.
Hari Peduli Sampah Nasional seharusnya bukan seremoni. Ia harus menjadi momen kejujuran.
Selama 48 ton sampah per hari tetap dibuang di bukit tanpa pengolahan, selama 40% sampah organik tidak dimanfaatkan, selama laut menjadi muara lindi, maka kita tidak sedang mengelola sampah.
Kita sedang menunda bencana.
TPA Wairii bukan sekadar persoalan teknis. Ia adalah ukuran keseriusan pemerintah daerah dalam melindungi laut, petani, nelayan, dan generasi berikutnya.
Jika kita benar-benar mencintai Laut Maumere, maka reformasi sistem persampahan bukan pilihan.
Ini adalah keharusan moral.»
OPINI
Pancasila sebagai Sistem Pertahanan Bangsa di Era Perang Modern
Ketika Ancaman Tidak Selalu Datang dengan Senjata

Oleh: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol
Dunia sedang berubah dengan sangat cepat.
Perang hari ini tidak lagi selalu hadir dalam bentuk invasi militer atau dentuman senjata. Ancaman modern masuk jauh lebih halus: melalui informasi, ekonomi, teknologi, budaya, narkoba, media sosial, hingga cara manusia memandang kehidupan dan bangsanya sendiri.
Di tengah perubahan global tersebut, Indonesia menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Karena itu pertahanan negara tidak cukup hanya dipahami sebagai: kekuatan tentara, jumlah alutsista, atau kemampuan tempur semata.
Pertahanan bangsa hari ini juga ditentukan oleh: kualitas manusia, kekuatan ideologi, ketahanan budaya, persatuan sosial, ekonomi rakyat, dan kemampuan bangsa menjaga arah masa depannya sendiri. Dalam konteks inilah Pancasila harus ditempatkan bukan sekadar sebagai dasar negara atau simbol seremonial,tetapi sebagai sistem pertahanan bangsa yang hidup dan operasional.
PERANG MODERN SUDAH MASUK KE DALAM PIKIRAN MANUSIA
Dahulu sebuah negara dijajah melalui pendudukan fisik. Hari ini sebuah bangsa dapat dilemahkan tanpa satu peluru pun ditembakkan. Caranya melalui: perang informasi, manipulasi persepsi, ketergantungan ekonomi, infiltrasi budaya, narkoba, polarisasi sosial, dan penguasaan data serta teknologi.
Media sosial hari ini bukan hanya ruang komunikasi, tetapi juga arena perebutan pengaruh dan pembentukan opini massal. Artificial Intelligence mulai mengubah: cara manusia berpikir, bekerja, belajar, bahkan mengambil keputusan.
Di sisi lain, generasi muda menghadapi banjir informasi tanpa batas,tetapi sering kehilangan: arah, identitas, dan kemampuan membedakan mana nilai dan mana manipulasi.
Inilah bentuk perang modern yang sesungguhnya: perebutan kesadaran manusia. Karena bangsa yang kehilangan arah pikirannya,perlahan akan kehilangan masa depannya sendiri.
PANCASILA BUKAN HANYA HAFALAN
Selama bertahun-tahun Pancasila sering dipahami hanya sebagai: hafalan, slogan, atau materi upacara.
Padahal sesungguhnya Pancasila adalah sistem nilai yang dirancang untuk menjaga Indonesia tetap utuh sebagai bangsa yang sangat beragam.
Indonesia bukan negara kecil dengan satu budaya dan satu suku. Indonesia terdiri dari: ribuan pulau, ratusan suku, berbagai agama, bahasa, dan tradisi yang berbeda.
Tanpa fondasi bersama,Indonesia sangat mudah terpecah. Karena itu Pancasila sebenarnya adalah sistem pertahanan nasional yang paling mendasar.
SILA PERTAMA: FONDASI MORAL DAN SPIRITUAL
Ketuhanan Yang Maha Esa bukan hanya urusan ritual agama. Ia adalah fondasi moral bangsa.
Bangsa yang kehilangan moral akan mudah: korup, rakus, kehilangan rasa malu, dan kehilangan tanggung jawab sosial.
Dalam perang modern,kerusakan moral jauh lebih berbahaya dibanding serangan fisik. Karena bangsa bisa hancur dari dalam.
SILA KEDUA: KEMANUSIAAN SEBAGAI DAYA TAHAN SOSIAL
Kemanusiaan yang adil dan beradab mengajarkan bahwa manusia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai alat ekonomi atau objek politik. Ketika manusia kehilangan rasa kemanusiaan,maka: konflik sosial, kebencian, intoleransi, dan kekerasanakan mudah muncul.
Dan dalam banyak kasus di dunia,konflik horizontal sering dimanfaatkan oleh kekuatan luar untuk melemahkan sebuah negara. Karena itu menjaga kemanusiaan juga bagian dari menjaga pertahanan bangsa.
SILA KETIGA: PERSATUAN INDONESIA ADALAH KEKUATAN STRATEGIS
Persatuan Indonesia bukan sekadar slogan. Ia adalah daya tangkal utama bangsa. Negara sebesar Indonesia sangat mudah diguncang bila masyarakatnya saling curiga dan terpecah.
Hari ini polarisasi dapat dibangun melalui: media sosial, isu identitas, propaganda, dan manipulasi informasi. Kalau masyarakat terus diadu,maka bangsa akan sibuk bertengkar di dalam,sementara kekuatan luar masuk menguasai: ekonomi, sumber daya, data, dan pasar. Karena itu persatuan sesungguhnya adalah sistem pertahanan nasional.
SILA KEEMPAT: DEMOKRASI YANG BERAKAR PADA HIKMAT
Demokrasi modern sering berubah menjadi: pertarungan emosi, perang buzzer, dan perebutan kekuasaan tanpa kebijaksanaan.
Padahal sila keempat mengajarkan bahwa demokrasi harus dibangun melalui: musyawarah, hikmat, akal sehat, dan kepentingan bersama. Bangsa yang demokrasi politiknya sehat akan lebih sulit dipecah melalui manipulasi informasi dan konflik elite.
SILA KELIMA: KEADILAN SOSIAL ADALAH PERTAHANAN NEGARA
Ketimpangan ekonomi adalah ancaman pertahanan nasional. Ketika sebagian masyarakat merasa: tertinggal, tidak mendapat keadilan, atau kehilangan harapan,maka ruang instabilitas akan terbuka.
Radikalisme,kriminalitas,hingga konflik sosial sering tumbuh dari ketidakadilan yang terus dibiarkan. Karena itu keadilan sosial bukan hanya urusan ekonomi. Tetapi juga bagian dari ketahanan bangsa.
NARKOBA DAN KRISIS GENERASI MUDA
Salah satu ancaman terbesar Indonesia hari ini adalah narkoba. Dalam perspektif pertahanan,narkoba bukan sekadar kejahatan hukum.
Narkoba adalah instrumen pelemahan bangsa. Karena narkoba merusak: disiplin, kesehatan, mental, produktivitas, dan daya juang generasi muda.
Bangsa yang generasi mudanya lumpuh oleh narkoba,sesungguhnya sedang kehilangan masa depan pertahanannya. Hal yang sama terjadi pada: budaya instan, kecanduan digital,hilangnya semangat belajar, dan melemahnya karakter.
Karena perang modern tidak selalu membunuh manusia secara fisik. Kadang ia cukup melemahkan semangat hidup dan kesadaran bangsanya.
INDONESIA HIDUP DI TENGAH PEREBUTAN PENGARUH DUNIA
Indonesia berada di posisi strategis dunia: jalur perdagangan internasional, kawasan Indo-Pasifik, dan wilayah kaya sumber daya alam. Karena itu Indonesia selalu menjadi ruang perebutan pengaruh global.
Hari ini rivalitas dunia tidak hanya terjadi lewat militer,tetapi juga melalui: investasi, teknologi, energi, pangan, media,dan pengaruh budaya. Indonesia harus mampu menjaga keseimbangan,tanpa kehilangan kemandirian dan jati dirinya sendiri.
Dan di sinilah Pancasila menjadi penting:sebagai kompas agar Indonesia tidak mudah terseret menjadi alat kepentingan pihak lain.
Flores: Kedalaman yang Membentuk Peradaban—Dari Kelimutu hingga Pancasila
PERTAHANAN NEGARA ADA DI RUANG KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Pertahanan nasional tidak hanya berada: di markas militer, pangkalan udara, atau kapal perang. Pertahanan bangsa juga berada: di keluarga, sekolah, kampus, tempat ibadah, pasar, media, dan ruang digital.
Ketika: pendidikan gagal membentuk karakter, elite kehilangan integritas, masyarakat kehilangan rasa kebersamaan, dan generasi muda kehilangan identitas,maka pertahanan bangsa sebenarnya sedang ditembus perlahan dari dalam. Karena itu bela negara bukan hanya tugas tentara. Bela negara adalah kesadaran seluruh bangsa menjaga masa depannya bersama.
REVITALISASI PANCASILA HARUS MEMBUMI
Pancasila tidak boleh berhenti menjadi: slogan, spanduk, pidato, atau seremoni tahunan.
Pancasila harus hidup dalam: pendidikan, kebijakan ekonomi, budaya sosial, ruang digital, dan perilaku elite bangsa. Pendidikan Pancasila harus diarahkan pada: pembentukan karakter, disiplin, tanggung jawab, integritas, dan kesadaran kebangsaan.
Karena bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang pintar. Tetapi bangsa yang memiliki: karakter, arah, dan kemampuan menjaga persatuannya.
PERANG TERBESAR ADALAH PEREBUTAN ARAH BANGSA
Masa depan dunia kemungkinan tidak lagi ditentukan hanya oleh siapa yang memiliki senjata paling kuat. Tetapi oleh siapa yang mampu menjaga: manusia, budaya, moral, persatuan, dan fondasi kehidupannya sendiri.
Karena bangsa yang kehilangan karakter,perlahan akan kehilangan: kemandirian, keberanian, dan masa depannya. Dan dalam konteks Indonesia, akar pertahanan bangsa itu sesungguhnya telah lama dimiliki:Pancasila.
QUOTE PERADABAN
“Perang modern tidak selalu menghancurkan gedung. Kadang ia cukup menghancurkan arah pikir dan karakter sebuah bangsa.”
“Pertahanan negara tidak hanya dijaga oleh senjata, tetapi juga oleh moral, persatuan, dan kualitas manusia.”
“Bangsa yang kehilangan identitas dan karakter akan mudah diarahkan oleh kekuatan luar tanpa merasa sedang dijajah.”
“Pancasila bukan sekadar dasar negara. Ia adalah sistem daya tahan bangsa Indonesia.”
“Ketika manusia modern sibuk membangun kecerdasan buatan, Indonesia justru harus menjaga kecerdasan kebangsaannya.”
Indonesia tidak boleh hanya kuat secara militer. Indonesia juga harus kuat: secara moral, sosial, budaya, ekonomi, dan ideologi. Karena pertahanan bangsa pada akhirnya bukan hanya pertahanan wilayah,tetapi pertahanan terhadap masa depan Indonesia sendiri.
Dan selama Pancasila tetap hidup dalam karakter bangsanya,Indonesia akan tetap memiliki fondasi untuk berdiri tegak di tengah perubahan dunia.»
OPINI
BULOG Maumere dan Harapan Baru bagi Petani Sikka: Mengawal Pangan, Menjaga Masa Depan dari Sawah Magepanda

Oleh: Karel Pandu
Di tengah tantangan ketahanan pangan nasional, keberadaan Perum BULOG tidak hanya berfungsi sebagai lembaga penyerap hasil pertanian, tetapi juga menjadi benteng perlindungan bagi petani kecil dari permainan tengkulak dan sistem ijon yang selama ini menjerat kehidupan mereka. Apa yang dilakukan Perum BULOG Cabang Maumere di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, patut diapresiasi sebagai langkah nyata menghadirkan negara di tengah masyarakat petani.
Mengusung tema “59 Tahun BULOG, Mengawal Pangan Menjaga Masa Depan”, BULOG Maumere mencoba menjawab persoalan klasik yang selama ini dihadapi petani, yakni rendahnya harga gabah, keterbatasan akses pasar, dan ketergantungan terhadap para tengkulak.
Pilihan BULOG Maumere untuk memfokuskan program pengawalan pangan di Kecamatan Magepanda bukan tanpa alasan. Sebelum menentukan lokasi tersebut, pihak BULOG terlebih dahulu melakukan survei pada 21 kecamatan di Kabupaten Sikka. Langkah ini menunjukkan bahwa kebijakan yang diambil bukan sekadar formalitas, melainkan berdasarkan kondisi riil di lapangan.
Kecamatan Magepanda memang dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi di Kabupaten Sikka. Dari delapan desa yang ada, tujuh desa merupakan wilayah penghasil beras. Potensi ini tentu harus dijaga agar tetap produktif dan mampu menopang ketahanan pangan daerah.
Kepala Perum BULOG Maumere, Marten Luther Sesa, tampaknya memahami bahwa persoalan petani bukan hanya soal produksi, tetapi juga soal rantai distribusi dan permainan harga. Karena itu, pendekatan yang dilakukan BULOG tidak sekadar membeli gabah, melainkan membangun sistem pengawalan pangan dari sawah hingga penggilingan.
Langkah jemput gabah langsung dari petani merupakan kebijakan yang sangat strategis. Petani tidak lagi dibebani biaya angkut, biaya pengeringan, maupun biaya penggilingan. Negara hadir mengambil alih beban yang selama ini justru menggerus keuntungan petani.
Bulog Sikka: Stok Beras Aman Hingga Maret 2026, Pengawasan Harga Diperketat
Selama ini banyak petani memilih menjual beras karena dianggap lebih menguntungkan dibanding gabah. Padahal jika dihitung secara rinci, keuntungan tersebut sering kali habis oleh biaya transportasi, penjemuran, dan penggilingan. Dalam konteks inilah edukasi kepada petani menjadi sangat penting.
BULOG Maumere juga menunjukkan keberpihakan terhadap petani melalui penetapan harga gabah Rp 6.500 per kilogram. Harga tersebut jauh lebih baik dibanding praktik para tengkulak yang membeli gabah petani hanya sekitar Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per kilogram melalui sistem ijon.
Sistem ijon sejatinya menjadi persoalan sosial-ekonomi yang sudah lama mengakar di kalangan petani. Ketika petani membutuhkan modal sebelum masa tanam, tengkulak hadir memberikan uang muka. Namun konsekuensinya, saat panen petani kehilangan posisi tawar dan terpaksa menjual hasil panen dengan harga murah.
Di sinilah negara melalui BULOG seharusnya hadir lebih kuat. Kehadiran BULOG bukan hanya sebagai pembeli hasil panen, tetapi juga sebagai instrumen perlindungan sosial dan ekonomi bagi petani kecil.
Apa yang dilakukan BULOG Maumere mulai menunjukkan dampak positif. Harga beras di tingkat petani yang sebelumnya berkisar Rp 8.000 hingga Rp 11.000 per kilogram kini meningkat hingga di atas Rp 13.000 per kilogram. Artinya, intervensi negara mampu menciptakan harga yang lebih adil bagi petani.
Namun demikian, tantangan yang dihadapi masih cukup besar. Perubahan pola pikir petani tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Sebagian petani masih terbiasa dengan pola lama dan belum sepenuhnya percaya terhadap mekanisme penjualan melalui BULOG.
Polri Putus Rantai Tengkulak Jagung, KUR Himbara dan Serapan Bulog Jadi Standar Harga Petani
Selain itu, keterbatasan personel di lapangan juga menjadi kendala tersendiri. Karena itu, kolaborasi antara BULOG, Babinsa, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), pemerintah daerah, dan masyarakat harus terus diperkuat.
Peran PPL dalam mendampingi petani juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Mulai dari pendampingan penggunaan bibit unggul seperti Ciherang dan Inpari hingga pelaksanaan ubinan untuk menghitung hasil produksi, semuanya menjadi bagian penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian.
Di tengah ancaman krisis pangan global, langkah-langkah seperti yang dilakukan BULOG Maumere sesungguhnya merupakan investasi masa depan. Ketahanan pangan tidak cukup hanya dibangun dengan ketersediaan stok beras di gudang, tetapi juga dengan memastikan petani hidup sejahtera.
Sebab pada akhirnya, masa depan pangan Indonesia sangat bergantung pada nasib petani di desa-desa. Jika petani terus dirugikan oleh rantai distribusi yang tidak adil, maka ketahanan pangan hanya akan menjadi slogan.
Karena itu, pengawalan pangan yang dilakukan BULOG Maumere di Magepanda layak menjadi contoh bagaimana negara seharusnya hadir: mendengar petani, melindungi petani, dan memastikan hasil kerja petani dihargai secara layak.
Dari sawah-sawah Magepanda, harapan tentang masa depan pangan yang lebih adil sedang dibangun sedikit demi sedikit. Salam.»
OPINI
Maumere dan Krisis Budaya Menulis: Ketika Banyak Orang Pandai Berbicara, Sedikit yang Mau Menulis

Oleh: Fransisco Soarez Pari
Maumere sesungguhnya tidak pernah kekurangan orang pintar. Di banyak sudut kota, orang bisa berbicara tentang politik dengan sangat tajam, membaca situasi sosial dengan cukup baik, bahkan mampu menjelaskan berbagai persoalan daerah secara panjang lebar. Warung kopi, teras rumah, lingkungan gereja, hingga media sosial sering menjadi ruang diskusi yang hidup. Hampir semua orang punya pendapat, punya analisis, dan punya cara membaca keadaan.
Namun di tengah budaya berbicara yang begitu kuat, ada satu hal yang masih terasa lemah: budaya menulis.
Tidak banyak orang yang sungguh-sungguh menuangkan gagasan mereka ke dalam tulisan. Akibatnya, muncul jarak antara kelompok yang gemar membaca, kelompok yang suka berbicara, dan kelompok kecil yang mau menulis. Padahal dalam perkembangan intelektual sebuah masyarakat, membaca, berbicara, dan menulis seharusnya tumbuh secara seimbang.
Fenomena ini sebenarnya menarik. Masyarakat Maumere bukan masyarakat yang miskin ide. Sebaliknya, ruang sosial di Flores sangat kaya dengan percakapan, cerita, analisis, humor politik, dan refleksi sosial. Banyak orang memiliki kemampuan membaca situasi dengan sangat baik. Mereka mampu memahami dinamika politik lokal, relasi kekuasaan, konflik sosial, hingga perubahan budaya masyarakat. Tetapi kemampuan itu sering berhenti di ruang percakapan dan tidak berubah menjadi dokumentasi pemikiran yang tertulis.
Akibatnya, banyak gagasan bagus akhirnya hilang bersama waktu. Diskusi yang sebenarnya bernilai hanya hidup sesaat di meja kopi atau percakapan informal. Padahal tulisan memiliki kekuatan berbeda: ia menyimpan ingatan, membangun tradisi berpikir, dan memungkinkan generasi berikutnya membaca kembali cara sebuah masyarakat memahami dirinya sendiri.
Dalam konteks ini, Maumere sebenarnya menghadapi semacam krisis budaya menulis. Krisis ini bukan berarti masyarakat tidak cerdas atau tidak mampu berpikir kritis, tetapi lebih karena tradisi menulis belum tumbuh sekuat tradisi berbicara. Orang lebih nyaman berbicara daripada menyusun ide secara tertulis. Padahal menulis bukan hanya soal kemampuan bahasa, tetapi juga soal keberanian merawat gagasan agar tidak hilang begitu saja.
Fenomena ini bisa dibandingkan dengan cara orang mempelajari bahasa asing, misalnya bahasa Inggris. Dalam pembelajaran bahasa, ada unsur penting seperti reading, writing, dan speaking. Seseorang tidak dapat dikatakan benar-benar menguasai bahasa jika hanya pandai berbicara tetapi lemah dalam menulis, atau rajin membaca tetapi tidak mampu mengungkapkan pikirannya sendiri secara tertulis.
Kebersihan Lingkungan: Halaman Rumahku, Halaman Rumahmu, Wajah Kota Maumere
Prinsip yang sama sebenarnya berlaku dalam kehidupan intelektual masyarakat. Membaca membentuk pengetahuan. Berbicara melatih keberanian dan kemampuan menyampaikan ide. Tetapi menulis memberi ketahanan pada gagasan. Tulisan membuat pemikiran seseorang bisa bertahan melampaui ruang dan waktu.
Karena itu, budaya menulis seharusnya tidak dipandang sebagai aktivitas eksklusif kaum akademik atau wartawan saja. Menulis adalah bagian dari pembangunan kesadaran masyarakat. Ketika lebih banyak orang mulai menulis—tentang politik lokal, sejarah kampung, budaya, pengalaman sosial, atau kritik pembangunan—maka sebuah daerah mulai membangun memori intelektualnya sendiri.
Di Flores, khususnya Maumere, potensi itu sebenarnya sangat besar. Masyarakat memiliki tradisi bertutur yang kuat, kemampuan membaca situasi sosial yang tajam, dan pengalaman sejarah yang kaya. Tinggal bagaimana energi percakapan itu perlahan diubah menjadi tradisi dokumentasi tertulis.
Media sosial sebenarnya membuka peluang baru. Hari ini orang tidak lagi harus menjadi penulis koran untuk membagikan gagasan. Siapa pun bisa menulis opini, catatan sejarah, refleksi sosial, atau kritik kebijakan secara mandiri. Yang dibutuhkan adalah keberanian memulai dan kesadaran bahwa tulisan sekecil apa pun tetap memiliki nilai bagi perkembangan ruang berpikir masyarakat.
Menulis juga penting untuk menciptakan keseimbangan dalam ruang publik. Ketika masyarakat terlalu bergantung pada budaya lisan, maka banyak diskusi menjadi cepat hilang, mudah dipelintir, atau sulit diverifikasi kembali. Sebaliknya, tulisan menciptakan ruang refleksi yang lebih tenang dan lebih bertanggung jawab. Orang dipaksa berpikir lebih runtut sebelum menyampaikan pendapatnya.
Karena itu, budaya membaca, berbicara, dan menulis tidak seharusnya dipisahkan. Ketiganya merupakan satu kesatuan dalam membangun masyarakat yang sehat secara intelektual. Membaca memberi isi, berbicara memberi dinamika, dan menulis memberi ketahanan.
Pada akhirnya, sebuah masyarakat tidak hanya dikenang dari apa yang pernah dibicarakannya, tetapi juga dari apa yang berhasil dituliskannya. Sebab percakapan dapat hilang bersama waktu, tetapi tulisan akan tetap tinggal sebagai jejak pemikiran sebuah zaman. Seperti ungkapan Latin yang sangat terkenal: Scripta manent, verba volant — yang tertulis akan tetap tertulia, yang terucap akan hilang terbawa angin.»
-
HUMANIORA12 months agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
NASIONAL8 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA10 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA9 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM10 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI11 months agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka

Pingback: Pengelolaan Sampah Sikka Baru 25 Persen, Bupati Ajukan Dukungan TPS 3R ke Menteri LH - Garda Flores %