OPINI
Ketika Kadis Turun ke Jalan: Antara Kepedulian dan Krisis Perencanaan

Oleh Karel Pandu
Langkah Kepala Dinas PUPR Kabupaten Ngada, Yohanes Yoseph Wou Dopo, SE., MT., yang turun langsung memperbaiki jalan-jalan rusak di Kota Bajawa layak diapresiasi. Di tengah keluhan masyarakat tentang jalan berlubang dan rawan kecelakaan, kehadiran pejabat teknis di lapangan menghadirkan pesan kuat: pemerintah tidak tinggal diam.
Namun di balik aksi yang terlihat heroik itu, publik juga patut bertanya lebih jauh. Mengapa perbaikan jalan dalam kota harus dilakukan tanpa dianggarkan? Bukankah pemeliharaan jalan merupakan kegiatan rutin yang semestinya sudah terencana dalam APBD?
Kadis PUPR menyebut pekerjaan tersebut dilakukan tanpa alokasi anggaran khusus, murni karena semangat pelayanan dan kolaborasi dengan penyedia jasa yang membantu secara sukarela. Secara moral, semangat ini tentu patut dihargai. Tetapi secara tata kelola, pernyataan ini justru membuka ruang diskusi yang lebih serius.
Infrastruktur jalan bukan kebutuhan insidental. Ia adalah kebutuhan dasar yang menopang aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik. Jika sejumlah ruas dalam Kota Bajawa—seperti jalur Padawoli menuju Bolonga, Jalan Yos Sudarso, hingga sekitar Taman Kartini—diketahui telah lama rusak, maka persoalannya bukan hanya pada respons cepat hari ini, tetapi pada perencanaan kemarin.
Apakah pemeliharaan rutin luput dari penganggaran? Ataukah penganggaran ada, tetapi implementasinya belum optimal? Atau justru kerusakan terjadi lebih cepat karena kualitas pekerjaan sebelumnya rendah?
Kolaborasi dengan pihak swasta memang dapat menjadi solusi jangka pendek. Namun pemerintah tetap harus memastikan transparansi dan akuntabilitas. Bantuan tenaga dan peralatan yang disebut “sukarela” perlu dijelaskan mekanismenya agar tidak menimbulkan persepsi keliru di kemudian hari. Dalam tata kelola pemerintahan yang baik, setiap pekerjaan fisik seharusnya memiliki dasar perencanaan, administrasi, dan pertanggungjawaban yang jelas.
Di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa langkah cepat ini menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Warga yang selama ini resah karena jalan berlubang dan rawan kecelakaan kini merasakan perubahan langsung. Respons cepat seperti ini memang yang diharapkan publik: pemerintah hadir, bukan hanya dalam rapat, tetapi juga di lapangan.
Namun semangat tidak boleh menggantikan sistem. Pemerintahan yang kuat bukan hanya diukur dari seberapa cepat bergerak ketika masalah muncul, tetapi dari seberapa baik mencegah masalah itu terjadi berulang.
Aksi turun ke jalan bisa menjadi simbol kepedulian. Tetapi yang lebih penting adalah memastikan bahwa perbaikan jalan tidak lagi bersifat reaktif. Diperlukan perencanaan yang matang, pengawasan kualitas pekerjaan, serta alokasi anggaran yang jelas dan berkelanjutan.
Karena pada akhirnya, membangun kota bukan hanya soal menambal lubang hari ini, melainkan memastikan jalan esok tetap mulus tanpa harus menunggu keluhan dan kecelakaan terlebih dahulu. Terima kasih.»
OPINI
Hari Anak Nasional: Yang Sesungguhnya Sedang Diuji Adalah Orang Dewasa

Oleh: Stefanus Bajo, S.Sos
Setiap tanggal 23 Juli, kita merayakan Hari Anak Nasional. Anak-anak diajak mengikuti lomba, pentas seni, atau menerima hadiah. Media sosial dipenuhi ucapan selamat. Spanduk dan baliho mengingatkan bahwa anak adalah masa depan bangsa.
Semua itu tentu baik. Namun setiap kali Hari Anak Nasional tiba, saya justru merasa ada satu pertanyaan yang sering terlupakan. Apakah hari ini sebenarnya milik anak-anak? Atau jangan-jangan, hari ini justru menjadi hari ujian bagi orang dewasa?
Sebab anak-anak tidak pernah meminta dilahirkan. Kitalah yang menghadirkan mereka ke dunia. Mereka tidak memilih lahir di keluarga yang kaya atau miskin. Mereka tidak memilih sekolahnya. Mereka tidak memilih lingkungan tempat mereka bertumbuh. Semua keputusan itu dibuat oleh orang-orang dewasa.
Karena itu, ketika berbicara tentang masa depan anak, sesungguhnya yang sedang kita bicarakan adalah kualitas orang dewasa yang mengelilingi mereka hari ini.
Anak-anak tidak pernah gagal menjadi anak.
Merekalah yang berlari ketika melihat lapangan kosong, tertawa tanpa alasan yang rumit, dan masih percaya bahwa dunia adalah tempat yang baik. Yang sering kali gagal justru kita, orang-orang dewasa, ketika lupa menyediakan dunia yang aman untuk mereka.
Kasih sayang memang menjadi awal dari segalanya. Namun kasih sayang saja tidak cukup.
Kasih sayang yang tidak berubah menjadi perlindungan sering kali hanya berhenti sebagai perasaan.
Seorang anak mungkin mendapatkan pelukan sebelum berangkat sekolah. Tetapi apakah ia juga memperoleh perlindungan dari perundungan? Seorang anak mungkin diberi telepon pintar agar tidak merasa kesepian di rumah. Tetapi apakah ia juga didampingi ketika menjelajahi dunia digital yang penuh risiko? Seorang anak mungkin menerima uang jajan setiap pagi. Tetapi apakah ia juga menerima waktu untuk didengar ketika pulang ke rumah?
Di situlah kasih sayang menemukan makna yang sesungguhnya.
Ia bukan hanya soal memberi. Ia juga soal hadir.
Hari Anak Nasional mengingatkan kita bahwa ancaman terhadap anak hari ini tidak selalu datang dalam bentuk yang mudah dikenali. Kekerasan terhadap anak masih terjadi. Perundungan hadir bukan hanya di halaman sekolah, tetapi juga di layar telepon genggam. Pernikahan usia dini masih merampas masa kanak-kanak. Sebagian anak terpaksa meninggalkan bangku sekolah, sementara yang lain tumbuh tanpa pendampingan karena orang-orang dewasa terlalu sibuk mengejar kehidupan.
Ironisnya, kita sering lebih cepat membeli telepon pintar untuk anak daripada menyediakan waktu tiga puluh menit untuk mendengar cerita mereka.
Padahal, tidak ada aplikasi yang mampu menggantikan kehadiran seorang ayah.
Tidak ada media sosial yang dapat menggantikan pelukan seorang ibu.
Tidak ada kecerdasan buatan yang dapat menggantikan keteladanan orang tua.
Karena itulah keluarga tetap menjadi sekolah pertama yang tidak pernah bisa digantikan oleh institusi mana pun.
Namun keluarga tidak dapat berjalan sendiri.
Sekolah memiliki tanggung jawab membangun ruang belajar yang aman. Pemerintah berkewajiban memastikan setiap anak memperoleh hak atas pendidikan, kesehatan, dan perlindungan. Tokoh agama, tokoh adat, media, organisasi masyarakat, hingga tetangga di sekitar rumah memiliki peran yang sama pentingnya. Membesarkan anak sesungguhnya adalah pekerjaan seluruh peradaban.
Di Kabupaten Sikka, komitmen untuk melindungi anak harus terus diperkuat, bukan hanya melalui regulasi, tetapi juga melalui budaya. Sebab lingkungan yang ramah anak tidak dibangun oleh papan nama atau piagam penghargaan. Ia lahir dari kebiasaan orang-orang dewasa yang memilih mendengar sebelum memarahi, membimbing sebelum menghukum, dan melindungi sebelum menyalahkan.
Kita sering mengatakan bahwa anak adalah investasi masa depan. Kalimat itu benar. Tetapi investasi tidak pernah bertumbuh hanya dengan harapan. Ia membutuhkan waktu, perhatian, disiplin, dan komitmen yang dijaga setiap hari.
Karena itu, Hari Anak Nasional bukanlah sekadar hari untuk mengucapkan, “Selamat Hari Anak.”
Hari ini seharusnya menjadi hari ketika setiap orang dewasa bertanya kepada dirinya sendiri.
Sudahkah saya menjadi ayah yang hadir? Sudahkah saya menjadi ibu yang mendengar? Sudahkah saya menjadi guru yang menguatkan?
Sudahkah saya menjadi pemimpin yang membuat kebijakan berpihak kepada anak?
Sudahkah saya menjadi tetangga yang peduli ketika melihat seorang anak membutuhkan pertolongan?
Sebab pada akhirnya, anak-anak tidak membutuhkan pidato yang lebih panjang setiap tanggal 23 Juli.
Mereka membutuhkan rumah yang aman. Sekolah yang ramah. Lingkungan yang melindungi.
Dan orang-orang dewasa yang tidak hanya mengatakan bahwa mereka mencintai anak-anak, tetapi membuktikannya dalam tindakan setiap hari.
Karena sesungguhnya, Hari Anak Nasional bukanlah hari ketika kita menguji anak-anak.
Hari Anak Nasional adalah hari ketika orang dewasa bercermin.»
OPINI
Truk Sudah Datang, Kini Saatnya Koperasi Benar-Benar Bergerak

Oleh: Karel Pandu
Empat truk Hino sudah tiba di Kabupaten Sikka. Warnanya masih mengilap, bannya masih baru, bahkan mesinnya setiap hari dihidupkan agar tetap prima. Sayangnya, roda-roda itu belum mengangkut apa pun selain harapan.
Bukan karena sopirnya belum ada. Bukan pula karena solar sulit didapat.
Truk-truk itu masih menunggu gerai Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) siap beroperasi.
Kalau di Flores kita sering bercanda, “mobil baru biasanya lebih dulu diparkir di depan rumah supaya tetangga tahu.” Bedanya, kali ini yang diparkir bukan milik pribadi, melainkan aset negara yang memang belum boleh digunakan. Humor itu mungkin mengundang senyum, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa setiap aset publik baru akan bernilai ketika mulai bekerja untuk masyarakat.
Sebenarnya tidak ada yang keliru dengan keputusan menahan penyerahan kendaraan. Justru langkah itu patut diapresiasi karena menunjukkan kehati-hatian agar aset negara tidak digunakan sebelum mekanisme operasionalnya siap.
Pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa truk sudah datang, melainkan kapan seluruh ekosistem koperasi benar-benar siap berjalan.
Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih lahir bukan sekadar untuk membangun gedung atau menyediakan kendaraan. Pemerintah melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 menempatkan koperasi ini sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi desa, memperpendek rantai distribusi, mengembangkan usaha masyarakat, hingga mendukung ketahanan pangan dan pemerataan ekonomi.
Artinya, truk hanyalah salah satu alat. Tujuan akhirnya bukan kendaraan itu sendiri, melainkan pelayanan ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat desa.
Di Kabupaten Sikka, pekerjaan itu memang belum selesai. Dari 149 desa dan kelurahan, baru empat gerai yang telah rampung, sementara puluhan lainnya masih dalam proses pembangunan. Salah satu kendala yang diakui pemerintah adalah ketersediaan lahan yang harus melalui proses survei dan verifikasi sebelum pembangunan dimulai.
Fakta itu menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan pada pengadaan kendaraan, melainkan pada sinkronisasi seluruh tahapan pelaksanaan program.
Pengalaman di berbagai daerah mengajarkan bahwa banyak program pembangunan gagal bukan karena kekurangan anggaran atau aset, melainkan karena setiap bagian bergerak dengan kecepatannya sendiri. Gedung selesai, pengurus belum siap. Pengurus terbentuk, model bisnis belum jelas. Kendaraan datang, tetapi kegiatan usaha belum berjalan.
Padahal koperasi bukanlah garasi.
Ia hidup dari transaksi, kepercayaan anggota, tata kelola yang baik, serta kemampuan membaca potensi ekonomi desa.
Kalau nanti truk itu hanya sesekali keluar untuk acara seremonial lalu kembali diparkir, masyarakat tentu akan bertanya: apakah yang sedang dibangun adalah koperasi atau sekadar tempat menyimpan kendaraan?
Pertanyaan itu sah diajukan karena keberhasilan sebuah koperasi tidak pernah diukur dari jumlah asetnya.
Yang diukur adalah berapa petani terbantu menjual hasil panennya dengan harga lebih baik.
Berapa nelayan memperoleh akses distribusi yang lebih murah.
Berapa pelaku UMKM mendapatkan pasar baru.
Berapa keluarga yang akhirnya merasakan manfaat nyata dari keberadaan koperasi.
Di Flores, orang tidak terlalu peduli apakah truk itu Hino, Fuso, atau merek lainnya. Yang mereka ingin lihat sederhana saja: truk itu bergerak. Membawa hasil bumi dari desa ke pasar, mengantar kebutuhan pokok ke kampung, dan membuat roda ekonomi berputar lebih cepat.
Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hidup dari seremoni penyerahan aset.
Mereka hidup dari manfaat yang dihasilkan aset itu.
Empat truk sudah tiba.
Kini tantangannya bukan lagi memastikan mesinnya tetap hidup setiap pagi.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan koperasinya ikut hidup.
Sebab mesin yang terus dipanaskan tetapi tidak pernah berjalan hanya akan menghabiskan bahan bakar. Sebaliknya, koperasi yang sehat akan menggerakkan jauh lebih banyak daripada empat truk—ia menggerakkan ekonomi desa, membuka kesempatan usaha, dan menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan publik.»
OPINI
Inggris vs Argentina: Ketika Sejarah, Nasionalisme, dan Sepak Bola Bertemu Lagi
Sepak bola seharusnya terus menjadi jembatan yang mempertemukan bangsa-bangsa, bukan memperpanjang luka masa lalu.

Oleh: Gabriel Ola
(Penikmat Sepak Bola)
Pertandingan Inggris melawan Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 bukan sekadar duel dua kekuatan sepak bola dunia. Di balik taktik, strategi, dan kualitas individu para pemain, selalu ada sejarah panjang yang ikut bermain. Sejarah itu bernama Kepulauan Malvinas—atau Falklands menurut Inggris.
Puluhan tahun telah berlalu sejak perang pecah pada 2 April 1982 ketika pemerintahan militer Argentina di bawah Jenderal Leopoldo Galtieri mengirim pasukan untuk menduduki Kepulauan Malvinas. Inggris, yang saat itu dipimpin Perdana Menteri Margaret Thatcher, membalas dengan operasi militer besar-besaran.
Perang berlangsung selama 74 hari dan berakhir dengan kemenangan Inggris pada 14 Juni 1982. Kekalahan itu mengguncang Argentina, mempercepat runtuhnya rezim junta militer, sementara Margaret Thatcher justru memperoleh dukungan politik yang mengantarnya kembali memenangkan pemilu tahun berikutnya.
Namun sejarah tidak berhenti di medan perang.
Empat tahun kemudian, pada Piala Dunia 1986 di Meksiko, Argentina menemukan ruang untuk membalas luka nasionalnya, bukan dengan senjata, melainkan melalui sepak bola. Diego Armando Maradona mencetak dua gol paling terkenal dalam sejarah. Yang pertama lahir melalui “Gol Tangan Tuhan”, sementara yang kedua tercipta setelah melewati lima pemain Inggris sebelum menaklukkan Peter Shilton.
Argentina menang 2-1.
Bagi banyak rakyat Argentina, kemenangan itu bukan sekadar tiket menuju semifinal. Ia menjadi simbol pemulihan harga diri bangsa yang empat tahun sebelumnya kalah dalam Perang Malvinas.
Perseteruan itu terus berlanjut di lapangan hijau.
Pada Piala Dunia 1998 di Prancis, kedua negara kembali bertemu di babak 16 besar. Laga berakhir imbang 2-2 sebelum Argentina menang melalui adu penalti 4-3.
Inggris membalas pada Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang. Gol penalti David Beckham membawa The Three Lions menang 1-0 sekaligus mengakhiri penantian panjang atas rival yang selama bertahun-tahun menjadi bayang-bayang psikologis mereka.
Karena itulah setiap pertemuan Inggris dan Argentina hampir selalu menghadirkan narasi yang lebih besar daripada sekadar sepak bola.
Semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta kembali menghadirkan babak baru rivalitas tersebut. Inggris sempat berada di atas angin setelah Anthony Gordon membawa tim asuhan Thomas Tuchel unggul pada babak kedua. Namun Argentina menunjukkan karakter juara. Enzo Fernández menyamakan kedudukan pada menit ke-85 melalui umpan Lionel Messi, sebelum Lautaro Martínez memastikan kemenangan 2-1 pada masa injury time. Hasil itu mengantar Argentina kembali ke final untuk menghadapi Spanyol.
Lionel Messi sekali lagi menjadi pusat cerita. Pada usia yang tidak lagi muda untuk ukuran pesepak bola profesional, ia belum berhenti menjadi pembeda. Dua assist yang lahir dari kakinya menjadi bukti bahwa kelas seorang legenda tidak selalu diukur dari jumlah gol, tetapi juga dari kemampuan menentukan arah pertandingan pada saat-saat paling menentukan.
Sebaliknya, bagi Inggris, kekalahan ini kembali memperpanjang penantian menuju gelar dunia sejak 1966. Mereka sempat begitu dekat dengan final, tetapi gagal mempertahankan keunggulan ketika memilih bermain lebih bertahan pada menit-menit akhir. Pelatih Thomas Tuchel bahkan mengakui keputusan taktisnya menjadi bagian dari penyebab kegagalan tersebut.
Apakah kemenangan Argentina kali ini merupakan kelanjutan sentimen Malvinas?
Jawabannya mungkin tidak sesederhana itu.
Generasi pemain hari ini lahir jauh setelah perang berakhir. Mereka tidak memikul pengalaman langsung dari konflik 1982. Namun sejarah tetap hidup melalui memori kolektif, pendidikan, media, dan identitas nasional. Setiap kali Inggris dan Argentina bertemu, publik di kedua negara hampir selalu mengingat kembali bab-bab lama yang pernah menghubungkan keduanya.
Di sinilah sepak bola memperlihatkan wajahnya yang unik.
Ia memang dimainkan oleh dua tim yang masing-masing berisi sebelas pemain. Namun dalam pertandingan tertentu, sepak bola juga menjadi ruang tempat sejarah, identitas, emosi, dan kebanggaan nasional ikut hadir bersama bola yang terus bergulir.
Meski demikian, rivalitas sebesar apa pun tidak boleh mengalahkan nilai utama olahraga.
Sepak bola pada akhirnya bukan tentang membenci lawan, melainkan tentang menghormati lawan. Ia mengajarkan bahwa kemenangan diraih melalui kemampuan, kerja sama, disiplin, dan sportivitas, bukan melalui permusuhan.
Malvinas akan tetap menjadi bagian dari sejarah.
Tetapi sepak bola seharusnya terus menjadi jembatan yang mempertemukan bangsa-bangsa, bukan memperpanjang luka masa lalu.
Kini Argentina melangkah ke partai final menghadapi Spanyol dengan peluang mencatat sejarah sebagai juara dunia berturut-turut, sesuatu yang terakhir kali dilakukan Brasil lebih dari enam dekade lalu. Apa pun hasil akhirnya nanti, semifinal melawan Inggris sekali lagi membuktikan bahwa ketika kedua negara bertemu di lapangan hijau, dunia selalu menyaksikan lebih dari sekadar sebuah pertandingan sepak bola.»
-
NASIONAL9 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA12 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA10 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM12 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
