HUMANIORA
Nilai Pancasila Telah Hidup dan Tumbuh dalam Budaya Orang Maumere
Maumere, GardaFlores – Ketua DPRD Kabupaten Sikka, Stefanus Sumandi mengatakan, nilai-nilai Pancasila telah hidup dan tumbuh dalam budaya masyarakat Maumere, bahkan jauh sebelum kemerdekaan Indonesia.
Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan sambutan dalam seminar sehari bertema “Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila Kepada Masyarakat” di Aula Nawacita Universitas Nusa Nipa (UNIPA), Selasa (5/8/2025).
Dalam sambutannya, Stef menyoroti situasi geopolitik global yang sedang tidak stabil, termasuk konflik antara Israel dan Iran, perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja. Menurutnya, kondisi ini berdampak luas, termasuk bagi Indonesia, baik dalam aspek politik, ekonomi, hingga budaya.
Baca juga:
Rektor UNIPA: Pancasila Bukan Hanya Dikenal, Tetapi Harus Dihayati dan Diperjuangkan
“Situasi dunia saat ini menuntut setiap negara, termasuk kita di Indonesia, untuk memperkuat jati dirinya. Kita harus berdaulat secara politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang budaya, seperti yang pernah dicita-citakan oleh Bung Karno,” ujarnya.
Stef menjelaskan bahwa pengaruh global dan kemajuan teknologi bisa membawa dampak positif namun juga bisa menjauhkan manusia dari akar budayanya, menyebabkan alienasi atau keterasingan sebagaimana pernah dikemukakan oleh Karl Marx.
Untuk itu, ia mengajak masyarakat kembali merenungi jati diri bangsa melalui nilai-nilai luhur Pancasila. Ia mengungkapkan, Pancasila bukan hanya dasar negara, melainkan nilai-nilai universal yang telah tumbuh dalam kehidupan masyarakat lokal.
Baca juga:
Kuasa Hukum Desak BRI Maumere dan KPKNL Hentikan Pelelangan Agunan, Tuduh Staf Bank Bohongi Debitur
“Di Kabupaten Sikka, orang Maumere sudah lama mengenal nilai ketuhanan melalui kepercayaan kepada Nian Tana Lero Wulang, Ina Nian Tana Wawa, Ama Lero Wulan Reta. Mereka juga memandang manusia sebagai higi mitan kere werang, artinya setara dan tidak boleh didiskriminasi. Mereka hidup dalam persatuan yang dikenal dengan istilah utung omok, dan menyelesaikan persoalan lewat musyawarah atau kula babong,” papar Stef.
Ia menambahkan bahwa prinsip “Megu Moong”, yakni cinta kasih dan semangat berbagi, menjadi landasan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat Sikka. Inilah yang, menurutnya, menjadikan Pancasila bukan sekadar wacana, tetapi karakter hidup masyarakat Sikka.
Mengakhiri sambutannya, Stef mengapresiasi inisiatif seminar tersebut dan berharap gerakan relawan kebajikan Pancasila tidak berhenti di ruang seminar saja, tetapi disebarkan kepada seluruh lapisan masyarakat.
“Ini adalah momen strategis. Apa yang kita peroleh hari ini harus disampaikan kepada orang lain. Karena inilah karakter kita sebagai masyarakat Sikka, orang Maumere, dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang utuh,” tegasnya.»(rel)
HUMANIORA
Bhayangkari Papua Salurkan 225 Karung Beras dan Logistik untuk Warga Nitunglea
Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan sejumlah kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa di Nitunglea, Palue, pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
MAUMERE, GardaFlores—Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan berbagai kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa bumi di Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026).
Bantuan dari Ny. Nova Patrige Renwarin bersama jajaran pengurus Bhayangkari Papua tersebut terdiri atas 225 karung beras berukuran lima kilogram, 25 dos minyak goreng kemasan satu liter, 600 dos air minum Aqua Gelas Nusra, 15 dos Energen, sembilan dos susu Dancow, dan 15 dos gula pasir.
Penyaluran bantuan ini berlangsung dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-75 Tahun 2026.
Logistik diberangkatkan dari Kantor Polsubsektor Palue pukul 07.00 WITA menuju Kantor Desa Nitunglea. Serah terima bantuan kepada pemerintah desa berlangsung sekitar pukul 10.00 WITA untuk selanjutnya didistribusikan kepada warga sasaran.
Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue, Brigpol I Gusti Ngurah Putra Kencana, S.H., mendampingi penyaluran bersama Penjabat Kepala Desa Nitunglea, Bay Langko, S.Sos., serta aparat dan staf desa.
Distribusi bantuan berakhir sekitar pukul 17.00 WITA.»(rel)
HUMANIORA
Pria 49 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Paga
Seorang pria berinisial Y.D.B. (49) ditemukan meninggal di ruang keluarga rumahnya di Paga, Sikka. Keluarga sempat berupaya memberikan pertolongan sebelum membawanya ke Puskesmas Wolofeo.
MAUMERE, GardaFlores—Seorang pria berinisial Y.D.B. (49), warga Dusun Warami, Desa Masebewa, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, ditemukan meninggal dunia oleh istrinya di ruang keluarga rumah mereka pada Sabtu (10/10/2026) sekitar pukul 05.30 WITA.
Menurut laporan kepolisian, istri korban, G.G. (47), menemukan suaminya saat keluar dari kamar setelah terbangun. Ia kemudian menghubungi anak mereka, A.P.S.N. (19), yang sedang menginap di rumah seorang teman, sekitar 25 meter dari kediaman keluarga.
Anak korban segera pulang. Bersama anggota keluarga, ia berusaha memberikan pertolongan sebelum membawa korban ke Puskesmas Wolofeo. Namun, tenaga medis menyatakan korban telah meninggal dunia sebelum tiba di puskesmas.
Setelah menerima laporan masyarakat, anggota Polsek Paga mendatangi lokasi untuk mendata korban dan saksi serta mengumpulkan keterangan. Polisi juga berkoordinasi dengan tenaga medis dan keluarga.
Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi maupun proses hukum lebih lanjut, sebagaimana tercatat dalam laporan kepolisian.
Hingga berita ini disusun, penyebab pasti kematian korban belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)
HUMANIORA
Petani 35 Tahun Meninggal Setelah Tenggelam di Pantai Lela
P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di Pantai Lela, Sikka. Dua nelayan berusaha mengevakuasinya setelah korban terlihat meminta pertolongan di laut.
MAUMERE, GardaFlores—P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di perairan Pantai Lela, tepat di depan Kantor Camat Lela, Desa Lela, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026) pagi.
Korban dilaporkan berada di laut sekitar pukul 08.30 WITA dan meminta pertolongan. Dua nelayan, B.Y. dan M.S., berusaha mengevakuasinya ke bibir pantai.
B.Y. mengatakan, sekitar pukul 08.00 WITA ia melihat korban menari dan melompat-lompat di tepi pantai. Sekitar 30 menit kemudian, ia melihat korban berada di laut sambil meminta pertolongan.
B.Y. berenang mendekati korban dan berusaha membawanya ke pantai. Karena kelelahan, ia meminta bantuan M.S. Keduanya kemudian membawa korban ke bibir pantai.
Warga selanjutnya menghubungi ambulans Puskesmas Nanga untuk membawa korban ke Rumah Sakit Santo Elisabeth Lela. Namun, korban meninggal dunia setelah mendapat penanganan medis.
Bhabinkamtibmas Bantu Keluarga Korban Kebakaran Posko Pengungsian Palue
Anggota Polsek Lela mendatangi lokasi setelah menerima laporan. Polisi mendata korban dan saksi serta berkoordinasi dengan tim medis rumah sakit dan keluarga korban.
Menurut keterangan saksi M.R.V., korban telah tinggal seorang diri di pondok miliknya selama hampir lima tahun. M.R.V. selama ini membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari korban.
Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi. Korban direncanakan dimakamkan pada Senin (12/10/2026) pukul 09.00 WITA.
Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti korban tenggelam belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)
-
NASIONAL1 year agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA1 year agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
