EKONOMI
Surati DPRD Sikka, Pemilik Sub Penyalur BBM Protes Pembangunan SPBU
Maumere, GardaFlores – Yohanes Susilo Widiyanto (45), pemilik usaha sub penyalur BBM di Desa Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, melayangkan surat keberatan kepada DPRD Sikka. Ia keberatan atas pembangunan sebuah SPBU baru di dekat usahanya.
Kepada media, Sabtu (21/9/2024), Yohanes Susilo Widiyanto atau Widi mengatakan, ia sudah mengirim surat keberatan kepada DPRD Sikka dan beberapa instansi terkait. Pasalnya, papar Widi, Pembangunan SPBU baru yang dilakukan oleh sebuah koperasi itu, lokasinya terlalu dekat dengan tempat usahanya.
Widi menjelaskan, usaha penyaluran BBM miliknya, yang beroperasi di bawah nama UD Cino Laka Jaya, telah mengantongi izin resmi setelah melalui proses panjang selama dua tahun. Namun, ia merasa dirugikan dengan adanya pembangunan SPBU baru yang diduga tidak melalui proses perizinan yang sama ketatnya.
“Pembangunan SPBU ini melanggar aturan jarak antara SPBU dan sub penyalur BBM yang seharusnya diperhatikan. Letaknya sangat dekat, dan ini berpotensi mengganggu operasional usaha saya,” ujar Widi.
Menurutnya, pembangunan SPBU tersebut melanggar Undang-Undang Migas serta peraturan BPH Migas dan Pemda setempat. Widi menyatakan, jarak antara SPBU baru dan penyalur BBM miliknya di RT.027/RW.026 tidak memenuhi syarat peraturan yang berlaku.
Selain masalah jarak, Widi juga menyebut bahwa SPBU tersebut tidak mengantongi izin gangguan dari warga sekitar, termasuk dari dirinya yang bersebelahan langsung dengan lokasi pembangunan. Ia juga menyoroti bahwa hingga saat ini belum ada izin usaha yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Sikka terkait pembangunan SPBU tersebut.
Widi menjelaskan bahwa usahanya sebagai sub-penyalur BBM membeli BBM jenis Pertalite dan Solar bersubsidi dari SPBU PT Rovin Jaya Maumere dengan rekomendasi resmi dari bagian ekonomi Kabupaten Sikka. Ia menambahkan bahwa harga yang ia jual saat ini adalah Rp 10.000 untuk Pertalite dan Rp 6.800 untuk Solar.
“Jika SPBU baru ini mendapatkan izin dan menjual BBM dengan harga yang sama, maka usaha saya pasti akan terancam bangkrut,” ungkap Widi dengan nada khawatir.
Widi mendesak agar DPRD Sikka, BPH Migas, Pemerintah Kabupaten Sikka, dan Pertamina meninjau ulang kebijakan terkait pembangunan SPBU di Desa Nita. Ia meminta agar aturan yang berlaku ditegakkan, termasuk soal jarak antara SPBU dan penyalur BBM serta proses perizinan.
“Walaupun kebijakan Pertashop dan SPBU diatur oleh Pertamina, pelaksanaannya tetap berada di bawah kewenangan BPH Migas dan peraturan daerah. Saya berharap keputusan ini dapat ditinjau ulang agar sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku,” tegas Widi.»
(rel)
EKONOMI
Bioenergi Jerami Karya Anak Bangsa Siap Diproduksi di Timor Leste
Timor Leste menjadi negara pertama yang menindaklanjuti secara konkret.
Jakarta, GardaFlores — Bahan bakar nabati berbasis jerami karya anak bangsa dengan merek Bobibos segera memasuki tahap produksi dan distribusi di Timor Leste. Produk energi terbarukan yang berada di bawah naungan PT Inti Sinergi Formula itu mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Timor Leste, termasuk penyediaan lahan seluas 25.000 hektare untuk pengembangan bahan baku dan fasilitas produksi.
Dewan Pembina Bobibos, Mulyadi, mengatakan kerja sama tersebut terjalin setelah Bobibos menghadapi keterbatasan regulasi di Indonesia. Hingga saat ini, jerami belum masuk sebagai sumber bioenergi resmi dalam agenda transisi energi nasional.
“Pengembangan energi, khususnya minyak dan bioenergi, harus memiliki kepastian hukum. Karena jerami belum diatur, kami memilih tidak melakukan produksi massal dan distribusi luas di Indonesia,” ujar Mulyadi di Bumi Sultan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (26/12/2025).
Di tengah belum adanya payung hukum nasional, Bobibos justru menerima undangan kerja sama dari sejumlah negara. Timor Leste menjadi negara pertama yang menindaklanjuti secara konkret. Manajemen Bobibos diterima secara resmi oleh Pemerintah Timor Leste, kalangan pengusaha, serta Kamar Dagang setempat.
Dalam kunjungan resmi manajemen Bobibos yang diterima pemerintah dan Kamar Dagang setempat, sejumlah kesepakatan strategis telah diteken.

Inovasi bahan bakar nabati berbasis jerami, Bobibos, siap berekspansi dengan melakukan produksi massal di Timor Leste pada awal tahun 2026. FOTO: IST
Fasilitas “mewah” yang dijanjikan Timor Leste antara lain:
- Lahan:Penyediaan lahan seluas 000 hektare untuk bahan baku.
- Infrastruktur:Pabrik dan pergudangan seluas 3 hektare.
- Regulasi:Penyusunan aturan khusus dan dukungan investasi.
“Produksi perdana direncanakan akan diresmikan langsung oleh Perdana Menteri Timor Leste dan dihadiri Presiden Timor Leste. Ini menjadi bukti keseriusan mereka,” kata Mulyadi.
Bobibos, Bahan Bakar Baru dari Jerami: Lebih Murah, Ramah Lingkungan Buatan Anak Bangsa
Mulyadi menegaskan kerja sama luar negeri tersebut bukan bentuk pengabaian terhadap Indonesia. Menurutnya, Bobibos merupakan solusi energi global dengan keunggulan harga yang lebih murah, efisiensi tinggi, dan ramah lingkungan. Selain itu, teknologi ini dinilai berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani serta mengurangi beban subsidi energi.
Menanggapi kritik warganet yang menilai Bobibos hanya berorientasi mencari investor, Mulyadi menilai anggapan tersebut keliru. Ia menekankan bahwa industri energi membutuhkan investasi besar serta keterlibatan negara agar distribusi energi berjalan adil dan berkelanjutan.
Sementara itu, di dalam negeri, Bobibos masih menjalankan proyek percontohan berbasis komunitas dan relawan. Produksi dilakukan secara terbatas untuk konsumsi internal sebagai pembuktian fungsi teknologi, tanpa distribusi komersial.
Terkait permintaan agar teknologi dan mesin dibuka ke publik, Mulyadi menyebut hal tersebut berkaitan dengan perlindungan kekayaan intelektual dan rahasia dagang yang telah dipatenkan. Meski demikian, Bobibos berencana mengundang media untuk menyaksikan langsung proses produksi di lokasi proyek percontohan tanpa dokumentasi visual.
Ia juga membantah anggapan yang menyamakan teknologi Bobibos dengan konsep “blue energy”. Menurutnya, seluruh proses produksi dapat diuji secara ilmiah dan tidak mempertaruhkan reputasi pribadi maupun simbol negara.
“Pada dasarnya kami ingin membantu masyarakat, membantu negara, dan menjaga lingkungan. Transisi energi adalah keniscayaan, dan Indonesia memiliki potensi besar melalui energi nabati,” ujarnya.
Bobibos menegaskan tetap menghormati kebijakan Pemerintah Indonesia yang saat ini menetapkan sawit, aren, dan tebu sebagai sumber bioenergi nasional, sambil menunggu adanya regulasi yang memungkinkan pemanfaatan jerami sebagai bahan baku energi terbarukan.»(*/bert)
EKONOMI
Jelang Natal dan Tahun Baru, Pasar Tingkat Bajawa Tetap Ramai Meski Diguyur Hujan
Pedagang pakaian, pernak pernik natal hingga pedagang sayur dan buah mengalami peningkatan penjualan.
Ngada, GardaFlores — Aktivitas di Pasar Tingkat Bajawa, Kelurahan Kisanata, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, terpantau ramai menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, Senin (22/12/2025). Meski hujan deras terus mengguyur wilayah Bajawa sejak pagi, antusiasme pedagang dan pembeli tak surut.
Pantauan di lokasi menunjukkan, masyarakat tetap memadati area pasar untuk membeli berbagai kebutuhan jelang hari besar keagamaan. Kondisi cuaca yang kurang bersahabat tidak menghalangi warga untuk berbelanja, bahkan beberapa titik pasar terlihat dipadati pengunjung.

Pedagang sayur, buah, dan ikan juga ikut merasakan peningkatan penjualan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat di Pasar Tingkat Bajawa meski hujan mengguyur sepanjang hari. (GARDAFLORES/AGUS SATU)
Dagangan Laris, Pedagang Bersyukur
Beragam jenis dagangan memenuhi los dan lapak Pasar Tingkat Bajawa. Mulai dari pakaian, sepatu, bahan kebutuhan pokok, hingga pernak-pernik Natal dan Tahun Baru seperti pohon natal, lampu hias, dan topi Sinterklas tampak diminati pembeli. Pedagang sayur, buah, dan ikan juga ikut merasakan peningkatan penjualan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Salah seorang pedagang pakaian dan sepatu, Hendra, asal Padang, mengaku bersyukur dengan ramainya pembeli. Ia telah sekitar 15 tahun mengais rezeki di Pasar Tingkat Bajawa.
“Alhamdulillah, masih cukup sibuk melayani pembeli. Menjelang Natal dan Tahun Baru, jualan lumayan laris dan pasar terlihat ramai,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Rodri, pemilik Toko Idola yang menjual pernak-pernik Natal dan Tahun Baru. Menurutnya, penjualan akhir tahun ini terbilang menjanjikan dibanding hari-hari biasa.
“Sejauh ini menjelang Natal, jualan lumayan laku,” katanya.
Natal dan Tahun Baru: Momentum Merawat Toleransi dan Kebersamaan
Harapan Pembenahan Pasar dan Penertiban Lalu Lintas
Di balik ramainya aktivitas jual beli, Rodri berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah terkait kondisi fasilitas Pasar Tingkat Bajawa. Ia menilai beberapa sarana pendukung, seperti saluran air di depan pasar dan seng-seng bangunan yang sudah rusak, perlu segera dibenahi agar pasar terlihat lebih tertata dan nyaman.
Selain itu, ia juga menyoroti kondisi lalu lintas di depan pasar yang kerap mengalami kemacetan akibat jalan yang sempit.
“Jalan di depan pasar sempit, jadi perlu penertiban dari dinas terkait supaya tidak menimbulkan kemacetan,” ujarnya.
Pantauan GardaFlores, kemacetan memang sempat terjadi di depan toko dan kawasan Pasar Tingkat Bajawa. Meski diguyur hujan deras, masyarakat tetap berdesakan di los-los pasar untuk berbelanja kebutuhan Natal dan Tahun Baru.
Tingginya antusiasme warga ini menjadi gambaran bergeliatnya aktivitas ekonomi masyarakat Bajawa menjelang perayaan Natal dan pergantian tahun.»(gus)
EKONOMI
Disperindag Sikka Jelaskan Skema Koperasi Merah Putih dan Jaminan Dana Desa
Kadisperindag Sikka: Desa harus terus berjuang dan bekerja keras agar dapat memperoleh manfaat dari pembagian hasil tersebut.
Maumere, GardaFlores–Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sikka Verdinando Lepe menjelaskan mekanisme kerja Koperasi Merah Putih dalam konferensi pers yang digelar di Maumere, Rabu (17/12/2025).
Ia mengungkapkan bahwa Koperasi Merah Putih mendapat jaminan sebesar 30 persen dari dana desa. Namun, apabila koperasi memperoleh keuntungan, maka koperasi berkewajiban mengembalikan dana desa sebesar 20 persen setiap tahun.
“Semua kepala desa berstatus ex officio. Karena itu, mereka harus bekerja keras bersama masyarakatnya. Dengan begitu, desa akan memperoleh 20 persen setiap tahun. Jangan hanya melihat 30 persen yang diberikan kepada koperasi,” tegas Verdi.
Menurutnya, desa harus terus berjuang dan bekerja keras agar dapat memperoleh manfaat dari pembagian hasil tersebut. Hingga saat ini, pihak Disperindag belum melakukan rekapitulasi lengkap terkait jumlah anggota maupun modal koperasi.
Pembangunan Gedung Koperasi Merah Putih di Kota Uneng Dimulai, Ditargetkan Beroperasi Januari 2026
Terkait aktivitas kerja pembangunan Kantor Koperasi Merah Putih di Sikka, menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru, Verdi menyampaikan bahwa para pekerja tetap menjalankan tugasnya. Umat Kristiani menjalani ibadah hari raya, sementara umat non-Kristen tetap melanjutkan pekerjaan pembangunan fisik.
Terkait rencana operasional Koperasi Merah Putih, Verdi menjelaskan bahwa sesuai akta pendirian, kegiatan awal Koperasi Merah Putih tidak langsung beroperasi. Hal ini dilakukan untuk memeriksa kesehatan awal koperasi, termasuk tata kelola, kelembagaan, serta aktivitas bisnis yang akan dijalankan terlebih dahulu.
“Tidak serta-merta dilarang, tapi juga tidak langsung beroperasi. Kita harus pastikan tata kelolanya sehat,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa Kabupaten Sikka memiliki sekitar 70 koperasi simpan pinjam (KSP) serta koperasi primer seperti Koperasi Pintu Air, Obor Mas, dan Tuke Jung. Selain itu, terdapat pula koperasi primer nasional yang membuka cabang di Kabupaten Sikka.
Di Sikka, satu orang dapat menjadi anggota dua hingga tiga koperasi. Bahkan, Bupati Sikka kata Verdi, telah menegaskan bahwa setiap peminjaman harus bersifat produktif.
“Kalau di desa masih ada lahan tidur, maka akan kita nilai. Kita dorong sektor riil seperti pertanian. Komoditas seperti pepaya california, semangka, buncis, wortel, kacang, dan lainnya akan kita dorong untuk ditanam. Hasilnya dibeli Koperasi Merah Putih dan dibayar tunai,” ujarnya.
Verdi juga menjelaskan perbedaan antara BUMDes dan koperasi. BUMDes dibentuk oleh pemerintah desa dan dibiayai melalui APBDes, sedangkan koperasi merupakan milik anggota yang dibentuk melalui musyawarah.
“Bagi kami, keduanya sama-sama baik karena membangun solidaritas dan kesejahteraan masyarakat desa,” katanya.
Pelatihan Pengurus Koperasi Merah Putih di Sikka, Solusi Tingkatkan Kompetensi dan Integritas?
Untuk Koperasi Merah Putih yang memperoleh pinjaman dari Himbara, kewajiban angsuran dibayar dari hasil usaha. Jika kewajiban Rp20 juta per bulan namun kemampuan hanya Rp15 juta, maka kekurangan Rp5 juta akan ditutupi dari jaminan 30 persen dana desa. Sementara di tingkat kelurahan, jaminan diambil dari dana bagi hasil.
Ia menambahkan, seluruh transaksi koperasi akan terpantau langsung oleh pusat komando nasional yang memonitor aktivitas koperasi desa dan kelurahan di seluruh Indonesia.»(rel)
-
HUMANIORA7 months agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA6 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUKRIM5 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
HUMANIORA4 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
GARDAPLUS6 months agoKetika Pengabdian Tak Dihargai (Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka)
-
HUMANIORA9 months agoPemkab Sikka Ancam Cabut Izin Pangkalan Minyak Tanah yang Langgar Aturan
