Connect with us

EKONOMI

Rangga, Petani Magepanda Menemukan “Emas Merah” di Sawahnya

Published

on

Lambertus Mili alias Rangga, petani Bawang Merah di Tana Merah, Desa Leguwoda, Kecamatan Magepanda. GARDAFLORES/Lambert Wahang

Maumere, GardaFlores – Siang itu, Sabtu (23/8/2025), terik matahari menyorot lembut lahan bawang merah di Tana Merah, Desa Leguwoda, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Di antara hamparan tanaman hijau segar, seorang pria berkaos sederhana menyambut dengan senyum hangat. Dia, Lambertus Mili, biasa dipanggil Rangga (48).  

Dia seorang petani. Raut wajahnya mencerminkan kisah hidup yang  keras. Jatuh-bangun, kerja keras, sekaligus ketekunan seorang anak desa yang berani melawan keterbatasan.

“Dari lahan kecil ini, saya bisa panen lebih dari satu ton bawang merah. Waktu itu harga per kilo Rp 15 ribu. Lumayan, saya bisa bayar uang kuliah anak,” ujarnya sambil menepuk tanah yang ia sebut sebagai “ladang hidupnya”.

Tana Ai Menanti 25 Tahun, Perguruan Tinggi Kini di Ambang Kenyataan

Dari Tukang Kayu ke Sawah

Rangga tidak lahir langsung sebagai petani bawang merah. Perjalanan hidupnya berliku. Ia pernah menjadi tukang sensor kayu, tukang bangunan, hingga teknisi mesin produksi. Namun, tanah warisan keluarga sepertinya terus memanggil. Tahun 2010, ia mulai serius menggarap sawah, mengikuti jejak mayoritas petani Magepanda: menanam padi.

“Di sini, hampir semua orang tanam padi. Seperti profesi turun-temurun. Saya belajar dari penyuluh pertanian, tapi lebih banyak mencoba sendiri. Apa yang mereka bilang, saya ujicoba, saya amati, dan hasilnya lumayan,” katanya.

Namun, Rangga tidak puas. Hatinya gelisah. “Saya berpikir, apa tanah di Magepanda ini hanya bisa tanam padi dan sayur saja? Kalau begitu, kita akan jalan di tempat terus,” kenangnya. Pertanyaan itu menjadi titik awal langkah besar: mencoba bawang merah di tahun 2022.

Gagal, Bangkit dan Belajar dari Ulat

Rangga mencoba berbagai varietas: Lokananta yang hancur karena kelebihan air, Sanren yang cepat layu, hingga Maserati yang sempat membuatnya kehilangan segalanya.

Tahun 2024 menjadi momen terberat. Dua petak bawangnya habis dalam 12 hari setelah tanam, dilibas ulat grayak. “Istri saya menangis, tidak mau lagi tanam bawang. Saya juga sempat putus asa,” ujarnya dengan mata berkaca.

Tapi di titik itu pula ia menemukan cara belajar baru: mengamati musuh. Kenali musuhmu, kata para bijak. Ia rela berjaga di malam hari, memperhatikan kupu-kupu yang bertelur, ulat yang menyelinap, dan daun bawang yang terkoyak. “Saya biarkan satu bedeng jadi makanan mereka. Dari situ saya tahu jam makan mereka, cara mereka bertelur, dan bagaimana melawannya,” jelas Rangga.

Bagi Rangga, tanah adalah guru, dan hama pun bisa menjadi pengajar yang keras. Ibarat para guru tempo dulu. Berdiri anggun dengan rotan di tangan.

Menemukan Varietas “Merdeka”

Dari pengalaman pahit itu, Rangga beralih ke varietas baru: Merdeka. Benihnya disemai, perawatannya tidak rumit, dan yang terpenting—tahan sejak masa pembibitan.

“Sekarang bisa lihat sendiri, segar-segar. Mereka tahan, tidak mudah roboh,” ujarnya bangga. Untuk seperempat hektar lahan, ia mengeluarkan modal sekitar Rp7,5 juta: Rp1,5 juta untuk benih, sisanya untuk pupuk, olah lahan, fungisida, dan perawatan.

Jika semua berjalan lancar, panen September nanti diperkirakan bisa mencapai 1,5 ton. Dengan harga pasar stabil, ia bisa meraup keuntungan belasan juta. “Tuhan Yesus memberkati, leluhur merestui,” ucapnya penuh harap.

Lebih dari Sekadar Panen

Namun bagi Rangga, hasil panen bukan hanya soal rupiah. Ia merasa menemukan kebebasan bertani, jalan keluar dari keterbatasan, dan warisan baru bagi keluarganya. Kini ia memimpin Kelompok Tani Nusa Loo, mengajak sesama petani di Magepanda agar berani bereksperimen dan tidak hanya terpaku pada tradisi.

“Tahun depan saya ingin manfaatkan setengah sampai satu hektar lahan khusus untuk bawang merah. Supaya orang tahu, tanah kita tidak kalah subur dari daerah lain,” tegasnya.

Di akhir perbincangan, Rangga menatap hamparan hijau itu dengan tatapan penuh syukur. Di balik keriput wajahnya, tersimpan kisah perjuangan seorang petani sederhana yang menjadikan tanah sebagai laboratorium kehidupan. Dari kegagalan, ia belajar. Dari luka, ia tumbuh. Dan dari bawang merah, ia menemukan sebuah harapan baru. Ia telah menemukan “Emas Merah” di petak sawahnya.»(bert)

EKONOMI

Bioenergi Jerami Karya Anak Bangsa Siap Diproduksi di Timor Leste

Timor Leste menjadi negara pertama yang menindaklanjuti secara konkret.

Published

on

Bobibos Bahan Bakar Nabati dari Limbah Jerami Karya Indonesia Segera Diproduksi di Timor Leste. FOTO: PT Inti Sinergi Formula

Jakarta, GardaFlores — Bahan bakar nabati berbasis jerami karya anak bangsa dengan merek Bobibos segera memasuki tahap produksi dan distribusi di Timor Leste. Produk energi terbarukan yang berada di bawah naungan PT Inti Sinergi Formula itu mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Timor Leste, termasuk penyediaan lahan seluas 25.000 hektare untuk pengembangan bahan baku dan fasilitas produksi.

Dewan Pembina Bobibos, Mulyadi, mengatakan kerja sama tersebut terjalin setelah Bobibos menghadapi keterbatasan regulasi di Indonesia. Hingga saat ini, jerami belum masuk sebagai sumber bioenergi resmi dalam agenda transisi energi nasional.

“Pengembangan energi, khususnya minyak dan bioenergi, harus memiliki kepastian hukum. Karena jerami belum diatur, kami memilih tidak melakukan produksi massal dan distribusi luas di Indonesia,” ujar Mulyadi di Bumi Sultan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (26/12/2025).

Di tengah belum adanya payung hukum nasional, Bobibos justru menerima undangan kerja sama dari sejumlah negara. Timor Leste menjadi negara pertama yang menindaklanjuti secara konkret. Manajemen Bobibos diterima secara resmi oleh Pemerintah Timor Leste, kalangan pengusaha, serta Kamar Dagang setempat.

Dalam kunjungan resmi manajemen Bobibos yang diterima pemerintah dan Kamar Dagang setempat, sejumlah kesepakatan strategis telah diteken.

Inovasi bahan bakar nabati berbasis jerami, Bobibos, siap berekspansi dengan melakukan produksi massal di Timor Leste pada awal tahun 2026. FOTO: IST

Fasilitas “mewah” yang dijanjikan Timor Leste antara lain:

  • Lahan:Penyediaan lahan seluas 000 hektare untuk bahan baku.
  • Infrastruktur:Pabrik dan pergudangan seluas 3 hektare.
  • Regulasi:Penyusunan aturan khusus dan dukungan investasi.

“Produksi perdana direncanakan akan diresmikan langsung oleh Perdana Menteri Timor Leste dan dihadiri Presiden Timor Leste. Ini menjadi bukti keseriusan mereka,” kata Mulyadi.

Bobibos, Bahan Bakar Baru dari Jerami: Lebih Murah, Ramah Lingkungan Buatan Anak Bangsa

Mulyadi menegaskan kerja sama luar negeri tersebut bukan bentuk pengabaian terhadap Indonesia. Menurutnya, Bobibos merupakan solusi energi global dengan keunggulan harga yang lebih murah, efisiensi tinggi, dan ramah lingkungan. Selain itu, teknologi ini dinilai berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani serta mengurangi beban subsidi energi.

Menanggapi kritik warganet yang menilai Bobibos hanya berorientasi mencari investor, Mulyadi menilai anggapan tersebut keliru. Ia menekankan bahwa industri energi membutuhkan investasi besar serta keterlibatan negara agar distribusi energi berjalan adil dan berkelanjutan.

Sementara itu, di dalam negeri, Bobibos masih menjalankan proyek percontohan berbasis komunitas dan relawan. Produksi dilakukan secara terbatas untuk konsumsi internal sebagai pembuktian fungsi teknologi, tanpa distribusi komersial.

Terkait permintaan agar teknologi dan mesin dibuka ke publik, Mulyadi menyebut hal tersebut berkaitan dengan perlindungan kekayaan intelektual dan rahasia dagang yang telah dipatenkan. Meski demikian, Bobibos berencana mengundang media untuk menyaksikan langsung proses produksi di lokasi proyek percontohan tanpa dokumentasi visual.

Ia juga membantah anggapan yang menyamakan teknologi Bobibos dengan konsep “blue energy”. Menurutnya, seluruh proses produksi dapat diuji secara ilmiah dan tidak mempertaruhkan reputasi pribadi maupun simbol negara.

“Pada dasarnya kami ingin membantu masyarakat, membantu negara, dan menjaga lingkungan. Transisi energi adalah keniscayaan, dan Indonesia memiliki potensi besar melalui energi nabati,” ujarnya.

Bobibos menegaskan tetap menghormati kebijakan Pemerintah Indonesia yang saat ini menetapkan sawit, aren, dan tebu sebagai sumber bioenergi nasional, sambil menunggu adanya regulasi yang memungkinkan pemanfaatan jerami sebagai bahan baku energi terbarukan.»(*/bert)

Continue Reading

EKONOMI

Jelang Natal dan Tahun Baru, Pasar Tingkat Bajawa Tetap Ramai Meski Diguyur Hujan

Pedagang pakaian, pernak pernik natal hingga pedagang sayur dan buah mengalami peningkatan penjualan.

Published

on

Pasar Tingkat Bajawa raimai dikunjungi pembeli menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru, Senin (22/12/2026). (GARDAFLROES/AGUS SATU)

Ngada, GardaFlores — Aktivitas di Pasar Tingkat Bajawa, Kelurahan Kisanata, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, terpantau ramai menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, Senin (22/12/2025). Meski hujan deras terus mengguyur wilayah Bajawa sejak pagi, antusiasme pedagang dan pembeli tak surut.

Pantauan di lokasi menunjukkan, masyarakat tetap memadati area pasar untuk membeli berbagai kebutuhan jelang hari besar keagamaan. Kondisi cuaca yang kurang bersahabat tidak menghalangi warga untuk berbelanja, bahkan beberapa titik pasar terlihat dipadati pengunjung.

Pedagang sayur, buah, dan ikan juga ikut merasakan peningkatan penjualan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat di Pasar Tingkat Bajawa meski hujan mengguyur sepanjang hari. (GARDAFLORES/AGUS SATU)

 Dagangan Laris, Pedagang Bersyukur

Beragam jenis dagangan memenuhi los dan lapak Pasar Tingkat Bajawa. Mulai dari pakaian, sepatu, bahan kebutuhan pokok, hingga pernak-pernik Natal dan Tahun Baru seperti pohon natal, lampu hias, dan topi Sinterklas tampak diminati pembeli. Pedagang sayur, buah, dan ikan juga ikut merasakan peningkatan penjualan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat.

Salah seorang pedagang pakaian dan sepatu, Hendra, asal Padang, mengaku bersyukur dengan ramainya pembeli. Ia telah sekitar 15 tahun mengais rezeki di Pasar Tingkat Bajawa.

“Alhamdulillah, masih cukup sibuk melayani pembeli. Menjelang Natal dan Tahun Baru, jualan lumayan laris dan pasar terlihat ramai,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Rodri, pemilik Toko Idola yang menjual pernak-pernik Natal dan Tahun Baru. Menurutnya, penjualan akhir tahun ini terbilang menjanjikan dibanding hari-hari biasa.

“Sejauh ini menjelang Natal, jualan lumayan laku,” katanya.

Natal dan Tahun Baru: Momentum Merawat Toleransi dan Kebersamaan

Harapan Pembenahan Pasar dan Penertiban Lalu Lintas

Di balik ramainya aktivitas jual beli, Rodri berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah terkait kondisi fasilitas Pasar Tingkat Bajawa. Ia menilai beberapa sarana pendukung, seperti saluran air di depan pasar dan seng-seng bangunan yang sudah rusak, perlu segera dibenahi agar pasar terlihat lebih tertata dan nyaman.

Selain itu, ia juga menyoroti kondisi lalu lintas di depan pasar yang kerap mengalami kemacetan akibat jalan yang sempit.

“Jalan di depan pasar sempit, jadi perlu penertiban dari dinas terkait supaya tidak menimbulkan kemacetan,” ujarnya.

Pantauan GardaFlores, kemacetan memang sempat terjadi di depan toko dan kawasan Pasar Tingkat Bajawa. Meski diguyur hujan deras, masyarakat tetap berdesakan di los-los pasar untuk berbelanja kebutuhan Natal dan Tahun Baru.

Tingginya antusiasme warga ini menjadi gambaran bergeliatnya aktivitas ekonomi masyarakat Bajawa menjelang perayaan Natal dan pergantian tahun.»(gus)

Continue Reading

EKONOMI

Disperindag Sikka Jelaskan Skema Koperasi Merah Putih dan Jaminan Dana Desa

Kadisperindag Sikka: Desa harus terus berjuang dan bekerja keras agar dapat memperoleh manfaat dari pembagian hasil tersebut.

Published

on

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sikka Verdinando Lepe, S.Sos. (IST)

Maumere, GardaFlores–Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sikka Verdinando Lepe menjelaskan mekanisme kerja Koperasi Merah Putih dalam konferensi pers yang digelar di Maumere, Rabu (17/12/2025).

Ia mengungkapkan bahwa Koperasi Merah Putih mendapat jaminan sebesar 30 persen dari dana desa. Namun, apabila koperasi memperoleh keuntungan, maka koperasi berkewajiban mengembalikan dana desa sebesar 20 persen setiap tahun.

“Semua kepala desa berstatus ex officio. Karena itu, mereka harus bekerja keras bersama masyarakatnya. Dengan begitu, desa akan memperoleh 20 persen setiap tahun. Jangan hanya melihat 30 persen yang diberikan kepada koperasi,” tegas Verdi.

Menurutnya, desa harus terus berjuang dan bekerja keras agar dapat memperoleh manfaat dari pembagian hasil tersebut. Hingga saat ini, pihak Disperindag belum melakukan rekapitulasi lengkap terkait jumlah anggota maupun modal koperasi.

Pembangunan Gedung Koperasi Merah Putih di Kota Uneng Dimulai, Ditargetkan Beroperasi Januari 2026

Terkait aktivitas kerja pembangunan Kantor Koperasi Merah Putih di Sikka, menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru, Verdi menyampaikan bahwa para pekerja tetap menjalankan tugasnya. Umat Kristiani menjalani ibadah hari raya, sementara umat non-Kristen tetap melanjutkan pekerjaan pembangunan fisik.

Terkait rencana operasional Koperasi Merah Putih, Verdi menjelaskan bahwa sesuai akta pendirian, kegiatan awal Koperasi Merah Putih tidak langsung beroperasi. Hal ini dilakukan untuk memeriksa kesehatan awal koperasi, termasuk tata kelola, kelembagaan, serta aktivitas bisnis yang akan dijalankan terlebih dahulu.

“Tidak serta-merta dilarang, tapi juga tidak langsung beroperasi. Kita harus pastikan tata kelolanya sehat,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan bahwa Kabupaten Sikka memiliki sekitar 70 koperasi simpan pinjam (KSP) serta koperasi primer seperti Koperasi Pintu Air, Obor Mas, dan Tuke Jung. Selain itu, terdapat pula koperasi primer nasional yang membuka cabang di Kabupaten Sikka.

Koperasi Merah Putih: Harapan Besar, Tantangan Lebih Besar

Di Sikka, satu orang dapat menjadi anggota dua hingga tiga koperasi. Bahkan, Bupati Sikka kata Verdi, telah menegaskan bahwa setiap peminjaman harus bersifat produktif.

“Kalau di desa masih ada lahan tidur, maka akan kita nilai. Kita dorong sektor riil seperti pertanian. Komoditas seperti pepaya california, semangka, buncis, wortel, kacang, dan lainnya akan kita dorong untuk ditanam. Hasilnya dibeli Koperasi Merah Putih dan dibayar tunai,” ujarnya.

Verdi juga menjelaskan perbedaan antara BUMDes dan koperasi. BUMDes dibentuk oleh pemerintah desa dan dibiayai melalui APBDes, sedangkan koperasi merupakan milik anggota yang dibentuk melalui musyawarah.

“Bagi kami, keduanya sama-sama baik karena membangun solidaritas dan kesejahteraan masyarakat desa,” katanya.

Pelatihan Pengurus Koperasi Merah Putih di Sikka, Solusi Tingkatkan Kompetensi dan Integritas?

Untuk Koperasi Merah Putih yang memperoleh pinjaman dari Himbara, kewajiban angsuran dibayar dari hasil usaha. Jika kewajiban Rp20 juta per bulan namun kemampuan hanya Rp15 juta, maka kekurangan Rp5 juta akan ditutupi dari jaminan 30 persen dana desa. Sementara di tingkat kelurahan, jaminan diambil dari dana bagi hasil.

Ia menambahkan, seluruh transaksi koperasi akan terpantau langsung oleh pusat komando nasional yang memonitor aktivitas koperasi desa dan kelurahan di seluruh Indonesia.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending