SOSBUD
Cletus Beru dan Napas Budaya Krowe yang Bangkit dari Sunyi
Ketika banyak sanggar seni memilih mengikuti selera pasar, Sanggar Doka Tawatana justru mengambil jalan berbeda: setia pada akar budaya.
Maumere, Gardaflores — Ketika banyak orang mengejar kehidupan yang lebih mapan di kota besar, Cletus Beru (53) justru mengambil jalan yang berlawanan. Dua belas tahun lalu, ia mengakhiri perantauan panjangnya di Batam demi satu hal: menyelamatkan seni dan budaya leluhurnya yang kian hilang ditelan zaman.
Keputusan itu membawanya kembali ke Kampung Doka, Desa Uma Uta, Kabupaten Sikka; tempat sang ayah membangun sebuah sanggar seni sederhana yang kemudian nyaris padam. Di tangan Cletus, Sanggar Doka Tawatana kini menjadi ruang budaya yang tak hanya hidup kembali, tetapi juga menjadi pusat edukasi bagi generasi muda.
Kepulangan yang Menjadi Titik Balik
Ketika sang ayah, Karolus Djawa, wafat, sanggar seni warisan keluarga itu kehilangan arah, tak terurus selama 6 tahun. Saudara-saudaranya tinggal di kampung, tetapi belum sepenuhnya terlibat dalam pengelolaannya. Sementara Cletus yang merantau di Batam merasa panggilan itu tak bisa diabaikan.
“Menurut saya, Batam tak lagi bagus untuk berbisnis. Lebih baik saya pulang kampung menyiapkan kehidupan keluarga dan mengurus sanggar,” ujarnya.
Ia pulang bukan dengan strategi matang, tetapi dengan kegelisahan: tak ingin budaya suku Krowe hilang tanpa jejak.
Kegelisahan itu justru berubah menjadi energi besar. Cletus mulai membangun ulang sanggar, menata kembali aktivitas budaya, dan menghidupkan seni-seni ritual yang hampir tak lagi dipraktikkan.
Membangun Desa Wisata dari Akar Budaya
Upayanya tak berhenti pada pelestarian seni. Ia melihat potensi alam dan tradisi sebagai fondasi bagi desa wisata berbasis masyarakat. Pelan tapi pasti, program yang ia jalankan mulai menarik perhatian.
Pada 2018, Desa Uma Uta mencatat sejarah: masuk lima besar pengelolaan Desa Wisata Berbasis Komunitas (Community Based Tourism) tingkat nasional.
Kendati tak selalu ramai wisatawan, manfaat desa wisata sangat terasa. Pendapatan warga meningkat, keterampilan masyarakat berkembang, dan yang lebih penting: identitas budaya kembali hidup.
Kini, para tamu mudah menjumpai remaja putri yang mahir menenun, atau ibu-ibu yang luwes memintal kapas lokal menjadi benang dan mewarnainya dengan pewarna alam—seperti kunyit, mengkudu, kayu-kayuan, dan umbi-umbian yang tumbuh di sekitar kampung.
Warisan Ibu yang Menjadi Pengetahuan Generasi
Bakat dan pengetahuan Cletus ternyata bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia mewarisinya dari ibunya, Karolina Kleruk. Sejak kecil, ia sering membantu sang mama membuat pewarna alam untuk benang.
Ia tahu betul bagaimana kapas diolah, berapa kali benang harus dicelup, hingga cara menilai kualitas warna yang baik. Meski menurut adat laki-laki tidak menenun, ia memahami proses dari hulu ke hilir.
Pengetahuan itu ia tularkan kepada anggota sanggar. Namun menyadari keterbatasan dirinya, ia mendatangkan para penenun sepuh dari kampung lain. Tujuannya satu: generasi muda harus belajar dari sumber terbaik dan budaya harus dirawat sebagai pengetahuan hidup, bukan sekadar pertunjukan wisata.
Pariwisata Maumere: Stagnasi Panjang dan Kehilangan Arah Strategis
Keteguhan di Tengah Komersialisasi Pariwisata
Ketika banyak sanggar seni memilih mengikuti selera pasar, Sanggar Doka Tawatana justru mengambil jalan berbeda: setia pada akar budaya.
Pilihan itu bukan tanpa risiko. Menolak pasar berarti bergerak lebih pelan. Tetapi bagi Cletus, menjaga nilai adat jauh lebih penting daripada mengejar komersialitas.
Sanggar pun berkembang menjadi ruang belajar. Remaja belajar menenun, anak-anak mengenal ritus adat Krowe, dan wisatawan diajak memahami budaya bukan sebagai tontonan, tetapi sebagai cara hidup.
Sanggar yang Nyaris Padam, Kini Menggema
Selama bertahun-tahun (2010–2023), Cletus bolak-balik Batam–Watublai demi sanggar warisan. Waktu, tenaga, dan uang pribadi terkuras. Namun ia tak berhenti.
“Saya selalu bersama masyarakat melestarikan sanggar ini,” katanya pelan.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya terdapat perjalanan panjang penuh pengorbanan. Kini sanggar kecil itu dikenal hingga mancanegara, menjadi rujukan para peneliti dan wisatawan budaya.
Wabup Sikka Dorong HPI Jadi Mitra Strategis Pengembangan Pariwisata Daerah
Kehadiran di HPI: Kritik Halus untuk Pariwisata Sikka
Ketika hadir di pelantikan pengurus Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Sikka pada Sabtu, 29 November 2025 di Maumere, Cletus tidak sekadar mengisi daftar undangan. Ia datang untuk memberi penghormatan kepada mereka yang ia sebut garda depan pariwisata: para pemandu wisata.
Ia menyebut nama-nama seperti Kondradus Rindu, Dominggus Koro, Hery Ajo, dan Anjelina Seda—orang-orang yang bekerja sunyi memperkenalkan Sikka kepada dunia.
“Mereka yang paling berjasa menjaga pariwisata Sikka,” tegasnya.
Pernyataannya seperti kritik halus: pariwisata Sikka tak boleh berhenti pada pelantikan dan jabatan. Ia harus bertumpu pada pelaku budaya dan pekerja lapangan yang menjaga napas tradisi tetap hidup.
Budaya yang Perlu Ruang untuk Bernafas
Capaian Sanggar Doka Tawatana bukan penutup cerita, tetapi awal dari pertanyaan besar:
Apakah pariwisata Sikka sudah memberi ruang cukup bagi pelestari budaya lokal?
Dalam industri yang sering mengejar angka kunjungan, suara Cletus menjadi pengingat. Budaya adalah napas masyarakat. Ia bisa tumbuh, melemah, atau mati—tergantung siapa yang memilih menjaganya.
Dari sebuah desa kecil di timur Sikka, sanggar ini mengajarkan bahwa pelestarian budaya bukan slogan, melainkan kerja panjang yang sering sunyi, tidak populer, dan penuh pengorbanan. Tetapi dari situlah nilai budaya justru menemukan makna terdalamnya.»(rel)
SOSBUD
Uskup Maumere: Gempa Boleh Retakkan Bangunan, Jangan Persaudaraan
Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu meminta umat tetap tenang dan waspada setelah gempa mengguncang Flores. Perayaan Ekaristi di bangunan yang belum dinyatakan aman diminta dipindahkan ke tempat alternatif, sementara bantuan dan pendataan kerusakan dikoordinasikan melalui Caritas Keuskupan Maumere.
MAUMERE, GardaFlores — Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu meminta umat Keuskupan Maumere tetap tenang dan waspada menghadapi situasi pascagempa yang mengguncang Pulau Flores, Sabtu (15/8/2026). Keselamatan jiwa, menurutnya, harus menjadi prioritas, termasuk dengan menghindari gereja, kapela, pastoran, biara, maupun bangunan lain yang mengalami kerusakan dan belum dinyatakan aman.
Seruan itu disampaikan menyusul laporan keretakan dan kerusakan pada sejumlah bangunan milik Gereja di wilayah Keuskupan Maumere. Uskup meminta para imam, biarawan dan biarawati, serta seluruh umat mengikuti arahan pemerintah, petugas kebencanaan, dan pihak berwenang, terutama dalam menentukan apakah sebuah bangunan masih layak digunakan.
Karena kondisi sejumlah gereja dan kapela belum sepenuhnya dapat dipastikan aman, pelaksanaan perayaan Ekaristi mulai Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dan beberapa hari berikutnya diminta dipindahkan ke tempat alternatif. Halaman gereja atau kapela, aula, maupun lokasi lain yang layak dapat digunakan dengan tetap memperhatikan keselamatan dan kenyamanan umat. Pelayanan sakramen dan sakramentalia juga diharapkan tetap berjalan sejauh memungkinkan, tetapi harus menyesuaikan dengan kondisi darurat.
Gempa NTT Makin Mematikan: 38 Orang Tewas, Satu Korban Masih Tertimbun
Bagi Uskup Edwaldus, perubahan tempat ibadah dan kerusakan bangunan bukan alasan untuk menghentikan pelayanan maupun memutus kebersamaan umat. Ia justru mengingatkan agar gempa yang meretakkan rumah, gereja, pastoran, biara dan bangunan lainnya tidak sampai meretakkan persaudaraan.
“Gempa mungkin telah meretakkan tembok rumah, gereja, pastoran, biara, dan bangunan lainnya. Namun, jangan sampai bencana ini meretakkan persaudaraan kita,” demikian inti seruannya.
Umat diajak saling menguatkan dan memberikan perhatian kepada kelompok yang paling membutuhkan pertolongan. Anak-anak, lanjut usia, orang sakit, serta mereka yang mengalami ketakutan dan trauma diminta menjadi perhatian bersama, sementara seluruh umat diajak menjaga ketenangan dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi karena dapat memperbesar kepanikan di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.
Untuk penanganan dampak gempa, Keuskupan Maumere mendorong seluruh unsur Gereja bergerak secara terkoordinasi melalui Caritas Keuskupan Maumere dengan melibatkan pemerintah, lembaga kemanusiaan, paroki, komunitas dan pihak terkait lainnya. Bantuan diharapkan diberikan secara tepat sasaran dengan mendahulukan warga yang paling membutuhkan.
Gempa Flores Telan 33 Nyawa, 1.264 Warga Mengungsi, Pemerintah Dituntut Bergerak Cepat
Para pastor bersama Dewan Pastoral Paroki, biarawan dan biarawati serta penanggung jawab komunitas juga diminta melakukan pendataan awal mengenai kerusakan dan kebutuhan umat. Pendataan tersebut mencakup kondisi gereja, kapela, pastoran, biara, rumah umat serta kebutuhan mendesak seperti tempat tinggal sementara, makanan, air, obat-obatan dan kebutuhan dasar lainnya untuk kemudian disampaikan melalui jalur koordinasi yang telah ditentukan.
Di tengah suasana Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Uskup Edwaldus mengajak setiap keluarga dan Komunitas Basis Gerejani tetap bersatu dalam doa serta memohon perlindungan bagi seluruh masyarakat.
Pesan tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai bangunan yang rusak akibat gempa, tetapi juga tentang bagaimana umat menghadapi keadaan darurat tanpa kehilangan solidaritas. Gereja dapat memindahkan perayaan ke tempat yang lebih aman, tetapi pelayanan kepada manusia tidak boleh berhenti.
Sebab ketika bangunan retak dan ketakutan menyebar, yang dibutuhkan bukan hanya upaya memperbaiki kerusakan fisik, melainkan juga persaudaraan yang tetap utuh dan kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan nyata.»(rel)
SOSBUD
TRUK F Tegaskan Maria Hendrika Hungan Tak Lagi Berstatus Staf Sejak Juni 2025
Klarifikasi tersebut disampaikan di tengah proses hukum yang sedang dijalani MHH di Polres Sikka.
MAUMERE, GardaFlores – Perkumpulan Tim Relawan Kemanusiaan untuk Flores (TRUK F) menegaskan Maria Hendrika Hungan (MHH) sudah tidak lagi menjadi bagian dari lembaga tersebut sejak 30 Juni 2025. Penegasan itu disampaikan menyusul masih adanya penyebutan nama MHH sebagai aktivis TRUK F dalam sejumlah pemberitaan terkait perkara hukum yang kini sedang diproses aparat kepolisian.
Ketua Perkumpulan TRUK F, Sr. Fransiska Imakulata, SSpS, mengatakan hubungan kerja MHH dengan lembaga telah berakhir pada 30 Juni 2025 setelah yang bersangkutan mengundurkan diri. Pengakhiran hubungan kerja itu ditetapkan melalui Surat Keputusan Nomor 01/Div.P/TRUK F/VI/2025.
“Sejak tanggal 30 Juni 2025, Maria Hendrika Hungan bukan lagi staf, pengurus, maupun perwakilan TRUK F. Dengan demikian, TRUK F tidak lagi memiliki hubungan kerja, hubungan kelembagaan, maupun hubungan hukum dengan yang bersangkutan,” kata Sr. Fransiska dalam keterangan tertulis.
Menurutnya, klarifikasi tersebut diperlukan agar informasi yang beredar di masyarakat tidak menimbulkan kesan seolah-olah MHH masih mewakili atau memiliki keterkaitan dengan TRUK F.
Mantan Aktivis Truk F Ditahan Polisi, Diduga Gelapkan Sepeda Motor yang Kemudian Digadaikan
Karena itu, lanjutnya, setiap tindakan, pernyataan, maupun persoalan hukum yang melibatkan MHH setelah berakhirnya hubungan kerja sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi dan berada di luar kewenangan organisasi.
TRUK F juga meminta masyarakat dan berbagai pihak menggunakan informasi yang akurat mengenai status keanggotaan MHH agar tidak terjadi kekeliruan dalam mengaitkan persoalan pribadi dengan lembaga.
“Kami berharap masyarakat memperoleh informasi yang benar sehingga tidak terjadi kekeliruan dalam mengaitkan persoalan pribadi yang bersangkutan dengan TRUK F,” ujar Sr. Fransiska.
Klarifikasi tersebut disampaikan di tengah proses hukum yang sedang dijalani MHH di Polres Sikka. Sebelumnya, kepolisian menetapkan MHH sebagai tersangka dalam perkara dugaan penggelapan sepeda motor. Proses penyidikan masih berlangsung dan status hukum yang bersangkutan tetap mengacu pada asas praduga tak bersalah hingga terdapat putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.»(rel)
SOSBUD
Tujuh Desa di Sikka Perkuat Sistem Perlindungan Anak, TP PKK Dorong Peran Keluarga dan Masyarakat
Ada juga diskusi penguatan mekanisme pelaporan yang aman, cepat, dan mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak.
MAUMERE, GardaFlores – Upaya memperkuat sistem perlindungan anak berbasis masyarakat terus diperluas di Kabupaten Sikka. Tujuh desa binaan Yayasan Flores Children Development (FREN) mengikuti kegiatan Penguatan Kapasitas Perlindungan Anak yang digelar Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Sikka bersama Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas P2KBP3A di Aula Kantor Desa Namangkewa, Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti perwakilan Desa Namangkewa, Kopong, Seusina, Baomekot, Hewokloang, Kajowair, dan Hoder. Program ini difokuskan pada penguatan kapasitas kader Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM), perangkat desa, tokoh masyarakat, serta berbagai unsur yang berperan dalam pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak.
Ketua TP PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, mengatakan perlindungan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Menurutnya, keluarga, masyarakat, sekolah, lembaga adat, dan organisasi sosial memiliki peran yang sama penting dalam memastikan setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang aman.
“Anak adalah aset masa depan bangsa. Karena itu, mereka harus tumbuh dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Sinergi semua pihak menjadi kunci agar setiap anak memperoleh haknya secara utuh,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap berbagai bentuk kekerasan maupun pelanggaran hak anak serta tidak ragu memanfaatkan mekanisme pelaporan yang tersedia apabila menemukan dugaan pelanggaran di lingkungan sekitar.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas P2KBP3A Kabupaten Sikka, Germanus Goleng, mengatakan penguatan kapasitas kader PATBM menjadi bagian dari strategi memperluas perlindungan anak hingga tingkat desa.
Ny. Fista Sambuari Kago Lantik Ketua TP PKK, TP Posyandu, dan Bunda PAUD se-Kabupaten Sikka
Menurutnya, pendekatan berbasis masyarakat memungkinkan deteksi dini terhadap persoalan yang dihadapi anak sekaligus mempercepat penanganan ketika terjadi kasus.
“Kami terus memperkuat kapasitas kader PATBM agar mampu menjadi penggerak di desa dalam upaya pencegahan maupun penanganan kasus kekerasan terhadap anak,” katanya.
Selain pemaparan materi, peserta mengikuti diskusi mengenai tantangan perlindungan anak di tingkat desa, termasuk penguatan mekanisme pelaporan yang aman, cepat, dan mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala UPTD PPA, jajaran TP PKK Kabupaten Sikka, Project Manager Yayasan FREN, perangkat desa, kader PATBM, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, kelompok remaja, dan perwakilan masyarakat dari tujuh desa.
Melalui penguatan kapasitas ini, Pemerintah Kabupaten Sikka bersama mitra berharap jejaring perlindungan anak di tingkat desa semakin efektif sehingga upaya pencegahan kekerasan dan pemenuhan hak anak dapat dilakukan secara lebih terintegrasi sebagai bagian dari pembangunan Kabupaten Layak Anak.»(rel)
-
NASIONAL10 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA12 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
