SOSBUD
Pariwisata Maumere: Stagnasi Panjang dan Kehilangan Arah Strategis
HPI Maumere Gelar Diskusi Pentaheliks Menjelang Muscab 2025.
Maumere, GardaFlores — Menjelang Musyawarah Cabang (Muscab) ke-IV tahun 2025, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Cabang Maumere mengambil langkah tak biasa. Alih-alih berkutat pada urusan pemilihan kepengurusan baru, organisasi ini justru menggelar diskusi terbatas untuk mengurai persoalan besar yang menghantui pariwisata Maumere: stagnasi panjang dan kehilangan arah strategis.
Hal ini disampaikan ketua pelaksana Muscab HPI Sikka, Silvester Sila Kedang, Sabtu (29/11/2025) di Maumere.
Diskusi yang melibatkan unsur pentaheliks—pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media—dirancang sebagai ruang berpikir ulang atas kondisi pariwisata Kabupaten Sikka yang belakangan kehilangan energi dan dinamika.
Tergerus Setelah Pandemi, Tertinggal oleh Labuan Bajo
Sila Kedang menilai perubahan lanskap pariwisata pasca-pandemi COVID-19 menjadi pukulan paling telak. “Situasinya berubah total. Maumere tidak cukup gesit menyesuaikan diri,” ujarnya.
Dalam periode yang sama, kebijakan nasional memperkuat posisi Labuan Bajo sebagai super priority destination. Anggaran jumbo digelontorkan pemerintah pusat hingga menciptakan ketimpangan yang kian lebar. Sementara itu, hilangnya rute penerbangan langsung Denpasar–Maumere—yang kini dipotong ke Kupang—dipandang sebagai keputusan yang mengisolasi Maumere dari arus wisatawan.
“Entah keputusan ekonomi, entah manuver politik, yang jelas efeknya fatal. Bandara Frans Seda kini lengang, berkebalikan dengan Ende yang justru melonjak trafiknya,” kata salah satu peserta diskusi.
Literasi Di Ruang Digital, Pemkab Sikka Gandeng Konten Kreator
Ramai Program, Sepi Produk
Kritik lain juga mengemuka terkait arah kebijakan pariwisata daerah. Pemerintah dinilai sibuk dengan pelatihan, bimtek, dan pembangunan fasilitas yang tak berkelanjutan, sehingga banyak aset akhirnya mangkrak.
“Pelatihan itu baik, patut dipuji. Tetapi tanpa produk yang siap jual, itu hanya kerja administratif yang tidak menghasilkan income bagi daerah,” ujar seorang pemerhati pariwisata.
Sila Kedang menambahkan, Dinas Pariwisata seharusnya berperan aktif menciptakan nilai tambah ekonomi, bukan hanya menyerap program.
Banyak peserta diskusi menilai Maumere memiliki “segudang bahan baku” pariwisata, tetapi gagal mengolahnya menjadi produk yang bisa dijual. “Kita seperti talking Tokyo, looking London—banyak rencana, sedikit hasil,” kritik seorang pelaku usaha perjalanan.

Puluhan wisatawan berkunjung ke Watublapi, Kecamatan Hewokloang. (IST)
Era AI, Pariwisata Butuh Kreativitas dan Deep Thinking
Diskusi juga menyoroti tantangan zaman baru ketika kecerdasan buatan (AI) mengubah cara kerja hampir semua sektor, termasuk pariwisata. Peserta sepakat bahwa orientasi pariwisata Maumere harus beralih dari sekadar “ada kegiatan” menjadi “ada hasil dan kualitas”.
“Zaman AI menuntut kreativitas, kemampuan berpikir mendalam, dan keberanian mengeksekusi ide,” ujar moderator diskusi.
Menurut Sila Kedang, semua obyek wisata di Maumere sebenarnya memiliki potensi, tetapi perlu “sentuhan kekaryaan militan” agar bisa menjadi produk pariwisata yang unik dan memiliki daya tarik.
Mendorong Terobosan: Strategi Kebudayaan ala Van Peursen
Di tengah stagnasi, HPI Maumere mengusulkan penggunaan kerangka strategi kebudayaan Van Peursen sebagai arah berpikir baru. Konsep ini melihat kebudayaan sebagai strategi adaptif masyarakat dalam menghadapi perubahan agar tetap mampu bertahan dan berkembang.
“Kita mencari cara baru, bukan mengulang resep lama yang sudah tidak relevan. Pariwisata Maumere harus bergerak, kalau tidak ia akan makin tergilas,” tegas Sila Kedang.
Diskusi ini diharapkan tidak berhenti pada identifikasi masalah, tetapi menghasilkan strategi konkret yang dapat diadopsi oleh pemerintah dan para pemangku kepentingan.»(rel)
SOSBUD
Pemkab Sikka Gandeng SOS Children’s Villages Bangun Model Pengentasan Kemiskinan Ekstrem, Dua Desa Jadi Percontohan
SOS Children’s Villages Flores mengembangkan pendekatan konvergensi dengan mengintegrasikan berbagai program dan sumber daya.
MAUMERE, GardaFlores — Pemerintah Kabupaten Sikka bersama SOS Children’s Villages Flores membangun model kolaborasi pengentasan kemiskinan ekstrem berbasis konvergensi di Desa Habi, Kecamatan Kangae, dan Desa Gong Bekor, Kecamatan Alok Timur. Kedua desa tersebut diproyeksikan menjadi percontohan penanganan kemiskinan yang melibatkan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, akademisi, media massa, dan masyarakat secara terpadu.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Workshop Kolaboratif Menggapai Model Aksi Konvergensi Pengentasan Kemiskinan dan Kemiskinan Ekstrem yang dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan di Aula Bapperida Kabupaten Sikka, Rabu (15/7/2026).
Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, mengatakan kemiskinan tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan rendahnya pendapatan, tetapi juga berkaitan dengan keterbatasan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, perlindungan sosial, dan lingkungan pengasuhan yang layak bagi anak.
“Dalam tekanan ekonomi, anak-anak adalah kelompok yang paling rentan kehilangan hak-hak dasarnya. Karena itu, strategi kita harus bergeser dari sekadar memberikan bantuan sesaat menuju penguatan kapasitas keluarga agar mampu mandiri secara berkelanjutan,” katanya.
Menurut Bupati, keberhasilan pengentasan kemiskinan harus dibangun melalui empat pilar utama, yakni penguatan pengasuhan keluarga, pemenuhan layanan dasar, penguatan ekonomi keluarga, serta partisipasi anak dalam proses pembangunan.
Pada aspek penguatan ekonomi keluarga, pemerintah mendorong pelatihan keterampilan, pendampingan usaha, pembentukan kelompok ekonomi produktif, peningkatan akses permodalan, pengembangan produk lokal, hingga perluasan akses pasar. Sementara pada layanan dasar, pemerintah menekankan pentingnya akses pendidikan, kesehatan, gizi, air bersih, sanitasi, perlindungan sosial, identitas kependudukan, dan perlindungan anak.
Juventus menegaskan upaya menurunkan angka kemiskinan ekstrem tidak mungkin diselesaikan oleh satu organisasi perangkat daerah atau satu lembaga saja. Karena itu, ia meminta seluruh pemangku kepentingan meninggalkan ego sektoral dan membangun kolaborasi.

“Pemerintah, akademisi, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, media massa, hingga masyarakat harus berjalan bersama. Kolaborasi adalah kunci agar program ini benar-benar berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap model yang dikembangkan di Desa Habi dan Desa Gong Bekor dapat menjadi rujukan bagi pelaksanaan program serupa di desa-desa lain di Kabupaten Sikka.
Dalam kesempatan itu dijelaskan, SOS Children’s Villages Flores mengembangkan pendekatan konvergensi dengan mengintegrasikan berbagai program dan sumber daya lintas sektor agar intervensi terhadap keluarga miskin berlangsung lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, akademisi, dan media diharapkan dapat menyatukan langkah dalam mendampingi keluarga sasaran agar mampu keluar dari kemiskinan secara mandiri.
Rapat koordinasi yang berlangsung selama 15–16 Juli 2026 itu juga diarahkan untuk mengidentifikasi penyebab kemiskinan ekstrem di Kabupaten Sikka, menyusun strategi dan program prioritas, serta merumuskan rekomendasi kebijakan yang dapat mempercepat penurunan angka kemiskinan ekstrem.
Kegiatan tersebut dihadiri pimpinan perangkat daerah, organisasi masyarakat sipil, pelaku dunia usaha, akademisi, perwakilan Aliansi Wartawan Sikka, Camat Alok Timur, Camat Kangae, Penjabat Kepala Desa Habi, serta Penjabat Kepala Desa Gong Bekor.»(rel)
SOSBUD
Pria di Talibura Ditemukan Tewas di Kebun, Polisi Selidiki Dugaan Serangan Babi Hutan
Saat itu, korban mendengar suara gonggongan anjing peliharaannya dari arah kebun.
MAUMERE, GardaFlores — Seorang petani berinisial M.B. (50), warga Desa Likong Gete, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, ditemukan meninggal dunia di kebun mente Dusun Wailamung, Desa Wailamung, Rabu (15/7/2026) sekitar pukul 11.00 WITA.
Korban ditemukan setelah diduga mengalami serangan binatang liar saat berada di kebun. Dugaan sementara mengarah pada serangan babi hutan setelah tenaga medis menemukan luka gigitan binatang pada tubuh korban.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, sebelum ditemukan meninggal, korban sekitar pukul 07.00 WITA masih berada di rumah bersama adiknya sambil minum kopi.
Saat itu, korban mendengar suara gonggongan anjing peliharaannya dari arah kebun. Korban kemudian mengambil perlengkapan berburu berupa parang, tombak, dan senapan angin, lalu menuju lokasi yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah.
Beberapa jam kemudian korban belum kembali. Adiknya kemudian mencari korban ke arah kebun.
Dalam perjalanan menuju pondok kebun, saksi bertemu dengan anjing peliharaan korban dan mengikuti arah pergerakannya. Tidak lama berselang, saksi menemukan korban dalam kondisi sudah tidak bernyawa.
Saksi kemudian kembali ke rumah dan menyampaikan kejadian tersebut kepada keluarga.
Mendapat laporan tersebut, personel Polsek Waigete bersama Tim Identifikasi (INAFIS) Polres Sikka mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan keterangan dari saksi.
Polisi juga berkoordinasi dengan tenaga medis Puskesmas Watubaing untuk melakukan pemeriksaan luar terhadap jenazah.
Dari hasil pemeriksaan luar, dokter Puskesmas Watubaing menemukan sejumlah luka gigitan binatang pada tubuh korban yang diduga berasal dari babi hutan.
Namun, penyebab pasti kematian korban belum dapat dipastikan karena pemeriksaan hanya dilakukan secara luar. Pihak keluarga menolak proses autopsi dan telah membuat surat pernyataan resmi terkait penolakan tersebut.
Saat polisi dan Tim INAFIS tiba di lokasi, jenazah korban telah lebih dahulu dievakuasi oleh keluarga ke rumah duka.
Keluarga korban menyatakan menerima kejadian tersebut sebagai musibah. Jenazah korban kemudian disemayamkan di rumah duka Dusun Wailamung untuk dimakamkan sesuai prosesi adat dan keagamaan keluarga.
Hingga saat ini, kepolisian masih melakukan pendokumentasian hasil pemeriksaan dan penyelidikan untuk memastikan rangkaian peristiwa yang menyebabkan korban meninggal dunia.»(rel)
SOSBUD
Bupati Sikka: NYD III Jadi Momentum Menyiapkan Orang Muda Katolik sebagai Generasi Penentu Bangsa dan Gereja
“Semoga semua pengalaman baik selama berada di Kabupaten Sikka menjadi kenangan indah.”
MAUMERE, GardaFlores — Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago mengajak Orang Muda Katolik (OMK) memanfaatkan Nusra Youth Day (NYD) III sebagai ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan iman. Menurutnya, kaum muda bukan sekadar generasi penerus, tetapi generasi yang akan menentukan arah masa depan Gereja dan bangsa Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan pada pembukaan NYD III di Gelora Samador, Maumere, Kamis (2/7/2026). Pertemuan yang diikuti ratusan delegasi OMK dari sembilan keuskupan di Region Nusa Tenggara itu dinilai menjadi momentum penting mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan sosial, perkembangan teknologi, dan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.
“Masa depan Gereja dan bangsa tidak sedang dipersiapkan pada masa yang akan datang, tetapi sedang dibentuk hari ini melalui tangan, pikiran, hati, dan karakter generasi muda,” kata Juventus.
Atas nama Pemerintah Kabupaten Sikka, Juventus menyampaikan rasa syukur karena Sikka dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan NYD III. Ia menilai kehadiran para uskup, imam, dan orang muda Katolik dari berbagai daerah membawa dampak positif bagi kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat.
Ia juga mengajak peserta menghadirkan nilai-nilai Injil melalui tindakan nyata, seperti melayani sesama, membela kebenaran, peduli kepada kelompok yang lemah, dan menjadi pembawa damai di tengah kehidupan masyarakat.
“Iman yang sejati selalu melahirkan karya nyata bagi kemanusiaan,” ujarnya.
Menurut Juventus, panggilan orang muda tidak berhenti dalam kegiatan Gereja, tetapi perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan pendidikan, dunia usaha, ruang digital, birokrasi, maupun politik.
NYD III Resmi Dibuka di Maumere, Satukan 837 Delegasi OMK dari Nusa Tenggara dan Bali
Dalam sambutannya, ia juga mengulas peluang bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, kondisi tersebut hanya akan menjadi keuntungan apabila generasi muda memiliki pendidikan yang baik, keterampilan yang memadai, mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta dibekali karakter dan moralitas yang kuat.
“Kita harus menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana; tidak hanya kritis, tetapi tetap rendah hati; serta tidak hanya mengejar keberhasilan pribadi, tetapi mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi yang semakin pesat menuntut kaum muda memperkuat iman, karakter, nilai, dan moral agar mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.
Juventus berharap NYD III menjadi ruang untuk memperkuat iman, membangun karakter, mempererat persaudaraan lintas keuskupan, memperluas jejaring pelayanan, serta menumbuhkan semangat kolaborasi di kalangan orang muda Katolik.
Ia juga mengajak para peserta menjadi pelopor toleransi, perdamaian, kepedulian sosial, dan pembangunan di tengah masyarakat.
“Semoga semua pengalaman baik selama berada di Kabupaten Sikka menjadi kenangan indah yang dibawa pulang ke daerah masing-masing,” ujarnya.
NYD III berlangsung hingga Minggu (5/7/2026) dengan rangkaian kegiatan pembinaan iman, seminar, dialog, ziarah kreatif, dan pertunjukan seni budaya yang melibatkan orang muda Katolik dari seluruh wilayah Nusa Tenggara dan Bali.»(rel)
-
NASIONAL9 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA12 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA10 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM12 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
