HUMANIORA
Astra Salurkan 30 Paket Sembako untuk Wartawan Sikka Terdampak Pascagempa
Astra Group menyalurkan 30 paket sembako kepada wartawan AWAS di Sikka. Bantuan diberikan melalui program Nurani Astra Berbagi setelah gempa Flores.
MAUMERE, GardaFlores — Astra Group menyalurkan 30 paket sembako kepada wartawan yang tergabung dalam Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Rabu (26/8/2026), di tengah aktivitas jurnalistik yang tetap berjalan setelah gempa bumi Flores.
Bantuan tersebut disalurkan melalui Divisi Environmental and Social Responsibility (ESR) Astra Korporasi dalam program kemanusiaan Nurani Astra Berbagi (Astra SOS).
Fasilitator Desa Sejahtera Astra Group, Vonny Francis, mengatakan wartawan selama ini menjadi mitra strategis Astra dalam menyampaikan informasi mengenai berbagai program perusahaan kepada masyarakat.
Namun, menurut Vonny, fungsi pers tidak terbatas pada publikasi kegiatan. Wartawan juga berperan dalam edukasi masyarakat dan pengawasan terhadap pelaksanaan program di lapangan.
BPBD Ngada Satu Pintu Salurkan Bantuan Gempa, Warga Minta Data Penerima Dibuka
“Kehadiran wartawan sering sekali membantu kami untuk mengedukasi masyarakat. Tujuan paling utama adalah bagaimana mengedukasi masyarakat dan sekaligus menjadi bagian dari mata masyarakat untuk mengawasi kerja-kerja kami,” ujar Vonny.
Dalam situasi pascagempa, fungsi tersebut menjadi semakin penting karena kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang akurat meningkat. Wartawan tetap melakukan peliputan dari lokasi pengungsian, memantau penyaluran bantuan dan mengonfirmasi informasi terkait penanganan bencana.
Selain bantuan untuk wartawan, Astra Group juga menyalurkan bantuan kepada masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Sikka.
Bantuan disalurkan ke Desa Gera, Kecamatan Mego, dan diterima Kepala Desa Gera, Oris Raga. Bantuan juga diberikan kepada penghuni rumah jompo di Wairklau, Susteran Dymphna, serta masyarakat di Bloro, Kecamatan Nita.
168 Warga Terdampak Gempa Kangae Mendapat Pengobatan hingga Malam
Vonny turut mengantarkan bantuan ke sejumlah lokasi tersebut.
Di tengah penanganan bencana, keberadaan pers menjadi bagian dari mekanisme informasi dan kontrol publik. Peliputan mengenai kondisi pengungsi, distribusi bantuan, pendataan korban serta proses pemulihan memungkinkan masyarakat mengetahui perkembangan penanganan sekaligus mengawasi pelaksanaannya.
Bagi wartawan Sikka, aktivitas tersebut berlangsung ketika sebagian masyarakat masih berada dalam kondisi rentan pascagempa.
Bantuan Astra kepada AWAS menjadi bagian dari dukungan kemanusiaan, sementara kerja jurnalistik tetap menempatkan verifikasi informasi, kepentingan publik dan pengawasan sebagai bagian dari tugas pers.»(rel)
HUMANIORA
BPBD Ngada Satu Pintu Salurkan Bantuan Gempa, Warga Minta Data Penerima Dibuka
BPBD Ngada menerapkan sistem satu pintu dalam penyaluran bantuan gempa. Warga meminta data penerima dan distribusi logistik dibuka secara transparan.
BAJAWA, GardaFlores — Pemerintah Kabupaten Ngada menerapkan mekanisme satu pintu dalam penyaluran bantuan gempa bumi dengan memusatkan logistik dari BNPB melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngada.
Kepala Pelaksana BPBD Ngada, Emanuel Kora mengatakan mekanisme tersebut diterapkan agar distribusi bantuan dapat dikendalikan dan diarahkan kepada warga berdasarkan kebutuhan serta tingkat kerusakan rumah.
“Semua masuk ke kami dulu. Tujuannya satu, pendistribusian satu arah supaya tepat sasaran,” kata Emanuel, Selasa (26/8/2026).
Logistik yang diterima BPBD antara lain beras, makanan instan, tenda darurat, spon tidur, tikar, selimut, peralatan dapur dan obat-obatan.
Pasien Penyakit Kronis Berisiko Terabaikan dalam Penanganan Gempa Flores
Untuk menjangkau wilayah terdampak hingga pelosok, BPBD menggandeng pemilik kendaraan truk. Penentuan penerima dilakukan bersama pemerintah kecamatan dan desa dengan mempertimbangkan tingkat kerusakan rumah.
Mekanisme tersebut mendapat perhatian warga yang meminta pengelolaan bantuan dilakukan secara terbuka, terutama dalam pendataan dan penentuan penerima.
Goris, warga Bajawa Utara, mengatakan pembagian bantuan sebelumnya pernah dinilai tidak merata dan sempat memicu perselisihan antarwarga.
“Kami mohon semua logistik dikontrol dengan baik dan transparan. Pemerintah harus mendata dengan baik, membaginya dengan benar, terbuka dan merata,” ujarnya.
Pengungsi Watuliwung Masih Bertahan, PDI Perjuangan Salurkan Bantuan Kebutuhan Dasar
Goris juga meminta bantuan bencana tidak digunakan untuk kepentingan politik.
“Karena ada juga yang memanfaatkan bantuan logistik ini untuk kampanye pencalonan kepala desa,” katanya.
Sementara itu, Dominikus, warga Desa Uluwae, mengatakan bantuan beras, tikar dan spon tidur membantu keluarganya selama berada dalam kondisi terdampak gempa.
“Akhirnya bisa tidur nyenyak. Selama ini kami hanya beralaskan daun,” katanya.
Menurut Dominikus, bantuan pangan berupa sayur dan buah juga membantu warga memenuhi kebutuhan selama aktivitas pertanian terganggu akibat gempa.
Dampak bencana juga dirasakan dari sisi ekonomi. Warga yang kehilangan produktivitas tetap menghadapi kewajiban membayar cicilan koperasi maupun bank.
“Kami mohon kepada Bapak Presiden agar membantu meringankan beban kami, karena dengan musibah ini kami menjadi tidak produktif untuk mencari uang membayar cicilan koperasi dan bank,” pintanya.
Hingga Selasa (26/8/2026), penyaluran bantuan darurat BNPB untuk wilayah Flores terdampak gempa masih berlangsung. Bantuan meliputi kebutuhan pangan, tenda, selimut, peralatan dapur dan obat-obatan.
Pemkab Ngada menyatakan data penerima bantuan akan diumumkan secara terbuka di tingkat desa dan kecamatan setelah proses verifikasi selesai.
Dengan demikian, mekanisme satu pintu bukan hanya soal memusatkan logistik, tetapi juga memastikan setiap bantuan tercatat, penerima terverifikasi dan distribusinya dapat dipantau masyarakat.»(tim/rel)
HUMANIORA
168 Warga Terdampak Gempa Kangae Mendapat Pengobatan hingga Malam
Tim kesehatan PDI Perjuangan melayani 168 warga terdampak gempa di tiga titik di Kecamatan Kangae, Sikka, hingga Selasa malam.
MAUMERE, GardaFlores — Sebanyak 168 warga terdampak gempa di Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, mendapat pemeriksaan dan pengobatan gratis hingga Selasa (25/8/2026) malam.
Pelayanan diberikan Tim Kesehatan DPP PDI Perjuangan bersama DPD dan DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka di tiga titik, yakni Kampung Belan dan Kampung Wodon, Desa Blatatatin, serta Kampung Watuliwung, Desa Watuliwung.
Di Kampung Belan, sebanyak 53 warga mendapat pelayanan. Sebanyak 70 warga lainnya diperiksa di Kampung Wodon, sedangkan 45 warga dilayani di Kampung Watuliwung.
Pasien Penyakit Kronis Berisiko Terabaikan dalam Penanganan Gempa Flores
Pelayanan berlangsung sejak pukul 16.30 WITA hingga sekitar pukul 22.00 WITA. Tim mendatangi permukiman warga terdampak untuk memberikan pemeriksaan dan pengobatan secara langsung.

Tim kesehatan tersebut dipimpin dr. Ananta Manggala Geovani Andreas Simanjuntak, bersama dr. Joannah Elizabeth N, Ns. Abna Prayoga Pranomo, S.Kep., Ferdian Kurniawan, Amd.Kep., Bdn. Apolonia Larasati Laratmase, S.Keb., dan Navisah Krisdyana Ababil, Amd.Keb.
Pelayanan didampingi Pengurus DPD PDI Perjuangan NTT, Emanuel Kolfidus dan Lusia Adinda Lebu Raya, serta Pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka, Oni Ambrosius, Yoce Mali Seda dan Tesa Nurak.
Tim menggunakan ambulans milik Bendahara DPD PDI Perjuangan NTT, Stevano Adranicus, untuk mendukung mobilitas pelayanan ke sejumlah titik.

Selain layanan kesehatan, warga di Dusun Wodon dan Kampung Belan, Dusun Bei, juga menerima bantuan bahan pangan berupa beras dan telur ayam.
Jumlah warga yang dilayani menunjukkan kebutuhan terhadap akses pemeriksaan dan pengobatan di wilayah terdampak masih berlangsung setelah gempa. Pelayanan langsung di permukiman menjadi salah satu cara menjangkau warga yang menghadapi keterbatasan akses selama masa pemulihan.
Kegiatan tersebut sekaligus menggabungkan dua kebutuhan dasar warga terdampak, yakni pelayanan kesehatan dan bantuan pangan.»(rel)
HUMANIORA
Pasien Penyakit Kronis Berisiko Terabaikan dalam Penanganan Gempa Flores
Pasien hipertensi, diabetes, gagal ginjal kronis dan gagal jantung berisiko mengalami gangguan pengobatan selama masa pengungsian akibat gempa Flores.
MAUMERE, GardaFlores — Pasien penyakit kronis berisiko kehilangan akses terhadap obat, pemeriksaan, dan terapi rutin selama penanganan gempa Flores. Kelompok ini perlu masuk dalam pendataan dan pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian.
Hal tersebut disampaikan dr. Roy Boris, dokter umum yang bertugas di KSM Penyakit Dalam RSUD dr. T.C. Hillers Maumere, Rabu (26/8/2026).
Menurut Roy, pasien hipertensi, diabetes melitus, gagal ginjal kronis, dan gagal jantung tetap membutuhkan pengobatan dan pemantauan meskipun berada dalam situasi bencana.
“Pasien penyakit kronis mungkin tidak terlihat terluka, tetapi mereka tetap membutuhkan obat, pemeriksaan dan terapi secara teratur,” demikian pokok perhatian yang disampaikan Roy dalam tulisannya.
Dalam kondisi pengungsian, obat dapat tertinggal atau hilang ketika warga meninggalkan rumah. Akses menuju fasilitas kesehatan dan jadwal pemeriksaan juga dapat terganggu.
Pada pasien hipertensi dan diabetes, terputusnya pengobatan dapat mengganggu pengendalian penyakit. Sementara pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis membutuhkan kesinambungan jadwal terapi.
Pasien gagal jantung juga membutuhkan obat dan pemantauan agar kondisi mereka tetap terkendali.
Risiko tersebut semakin penting diperhatikan karena gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 turut berdampak pada fasilitas pelayanan kesehatan. Dalam naskah Roy disebutkan 21 rumah sakit dan 190 puskesmas terdampak dengan tingkat kerusakan berbeda.
Pengungsi Watuliwung Masih Bertahan, PDI Perjuangan Salurkan Bantuan Kebutuhan Dasar
Roy mendorong agar pasien penyakit kronis didata sejak awal, termasuk jenis penyakit, obat yang digunakan, kebutuhan insulin, jadwal dialisis, serta kondisi khusus yang membutuhkan pemantauan.
Pendataan tersebut diperlukan agar kebutuhan pengobatan dapat dipetakan dan pelayanan kesehatan tetap berjalan selama masa tanggap darurat.
Bagi pasien penyakit kronis, persoalan bencana tidak berhenti pada evakuasi atau kebutuhan logistik. Ketika pengobatan dan terapi terputus, kondisi kesehatan yang sebelumnya terkendali dapat berkembang menjadi masalah baru.
Karena itu, kesinambungan pengobatan pasien penyakit kronis perlu menjadi bagian dari penanganan kesehatan selama masa tanggap darurat gempa Flores.»(rel)
-
NASIONAL10 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA12 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
