SOSBUD
Pemkab Sikka Perketat Pengawasan: Sekda Buka Sosialisasi Jaminan Sosial Ketenagakerjaan bagi Pekerja Konstruksi
Agar seluruh pekerjaan konstruksi di Kabupaten Sikka mendapat perlindungan melalui jaminan sosial ketenagakerjaan.
Maumere, GardaFlores — Pemerintah Kabupaten Sikka menegaskan komitmennya memperkuat perlindungan bagi pekerja konstruksi. Hal ini ditegaskan dalam kegiatan Sosialisasi dan Monitoring Pelaksanaan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan oleh Sekretaris Daerah Sikka, Adrianus Firminus Parera (Alfin Parera), di Aula Egon, Kantor Bupati Sikka, Kamis (5/12/2025).
Kegiatan ini diikuti para pimpinan perangkat daerah, camat, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), serta unsur teknis yang menangani proyek konstruksi. Fokus utama sosialisasi adalah memastikan seluruh pekerjaan konstruksi di Kabupaten Sikka mematuhi Surat Edaran Bupati mengenai kewajiban jaminan sosial bagi pekerja jasa konstruksi.
Lagi, Konflik HGU Nangahale: PT Krisrama Klaim Legal, Warga Menuding Ada Kepentingan yang Ditutupi
Risiko Kerja Tinggi, Pemkab Tegaskan Perlindungan Wajib
Dalam sambutannya, Sekda menekankan bahwa pekerja konstruksi termasuk kelompok dengan risiko kecelakaan kerja tertinggi, sehingga wajib mendapat perlindungan melalui jaminan sosial ketenagakerjaan.
“Pekerja konstruksi menghadapi risiko kerja yang sangat tinggi. Melalui jaminan sosial ketenagakerjaan, kita memastikan mereka terlindungi dari kecelakaan kerja maupun risiko lainnya. Pemerintah daerah berkomitmen memastikan seluruh paket pekerjaan mematuhi aturan ini,” tegas Alfin Parera.
Ia juga menegaskan bahwa kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan harus menjadi syarat mutlak dalam setiap kontrak proyek. Para PPK diminta memperketat pengawasan agar tidak ada pekerjaan konstruksi yang berjalan tanpa jaminan perlindungan tenaga kerja.
Relokasi Pasar Wuring: Pedagang Mulai Melapor, Tapi Masih Bingung
Pengawasan Diperketat, Pemkab Tak Toleransi Kontraktor Abaikan Aturan
Pemkab Sikka kini meningkatkan monitoring dan evaluasi terhadap proyek konstruksi. Langkah ini diambil setelah masih ditemukan kontraktor yang mengabaikan kewajiban pendaftaran pekerja pada BPJS Ketenagakerjaan.
Melalui kegiatan sosialisasi dan monitoring ini, pemerintah berharap seluruh pihak yang terlibat memahami aspek hukum, meningkatkan kesadaran, dan menjalankan perlindungan pekerja secara tertib, terukur, dan sesuai ketentuan yang berlaku.»(rel)
SOSBUD
Pengelolaan Sampah Sikka Baru 25 Persen, Bupati Ajukan Dukungan TPS 3R ke Menteri LH
Selain isu persampahan, pertemuan juga membahas reboisasi kawasan hutan.
MAUMERE, GardaFlores — Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago mengajukan dukungan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) kepada Menteri Lingkungan Hidup RI Hanif Faisol Nurofiq dalam pertemuan di Jakarta, Rabu (15/4/2026). Permintaan diajukan menyusul capaian layanan pengelolaan sampah di Sikka yang baru sekitar 25 persen.
Pertemuan tersebut dihadiri Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sikka, Margaretha Movaldes Da Maga Bapa. Pemerintah daerah menyampaikan keterbatasan sarana dan prasarana sebagai kendala utama dalam peningkatan cakupan layanan.
Bupati Sikka dalam keterangannya di Maumere, Kamis (16/4/2026), menyebut pembangunan TPS 3R menjadi opsi untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah secara bertahap.
“Kami berharap ada dukungan konkret dari pemerintah pusat, khususnya dalam penyediaan sarpras dan pembangunan TPS 3R,” kata Juventus.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menekankan pendekatan pengelolaan dari hulu ke hilir, dengan prioritas pada pemilahan sampah di tingkat sumber.
“Pemilahan antara sampah organik dan anorganik menjadi kunci utama dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah secara berkelanjutan,” ujarnya.
Selain isu persampahan, pertemuan juga membahas reboisasi kawasan hutan, terutama di wilayah sumber mata air, sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan air bersih.
Hingga saat ini, belum ada keputusan terkait bentuk dukungan yang akan diberikan pemerintah pusat. Pemerintah Kabupaten Sikka menyatakan akan melanjutkan pembahasan teknis dengan kementerian terkait untuk menindaklanjuti usulan tersebut.»(rel)
SOSBUD
Gangguan Distribusi Air di Bajawa Masuk Hari Ke-7, Perbaikan Jaringan Masih Berlangsung
“Ada satu titik yang sudah bisa mengalir ke rumah warga.”
BAJAWA, GardaFlores — Gangguan distribusi air bersih dari Perumda Air Minum Kabupaten Ngada memasuki hari ketujuh dan berdampak pada sejumlah wilayah di Kota Bajawa, memaksa warga bergantung pada pasokan air tangki untuk kebutuhan harian.
Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Tanalodu, Kisanata, Ngedekulu, dan kawasan sekitarnya. Sejak awal pekan, aliran air ke rumah warga dilaporkan terhenti atau tidak stabil, dan hingga Sabtu (11/4/2026) belum sepenuhnya pulih.
Berdasarkan keterangan warga, kebutuhan air bersih kini dipenuhi melalui pembelian air tangki dengan kisaran harga Rp70 ribu hingga Rp150 ribu per tangki, tergantung kapasitas dan ketersediaan pasokan.
“Sudah empat hari air tidak keluar. Kami terpaksa beli air tangki dengan harga Rp150 ribu untuk satu tangki besar,” ujar Mama Arfan, warga Kelurahan Kisanata.
Keluhan serupa disampaikan Tanta Ines, warga Kelurahan Tanalodu, yang menyebut gangguan berlangsung hampir satu minggu dan menghambat aktivitas rumah tangga.
“Sudah hampir satu minggu air tidak mengalir. Mau mandi saja susah, kami sudah pesan air tangki tapi belum datang juga,” katanya.
Di sisi distribusi alternatif, lonjakan permintaan terlihat di kawasan Warusoba sebagai salah satu titik pengambilan air. Kendaraan tangki dilaporkan antre untuk pengisian sebelum menyalurkan ke pelanggan.
Dorong Ketahanan Pangan dan Swasembada, Pemkab Ngada Serahkan Irigasi OPLAH ke P3A Soafuti di Bajawa
John, seorang pengemudi tangki menyebut intensitas distribusi meningkat dibanding kondisi normal.
“Kami dari pagi sudah jalan terus. Pesanan sangat banyak dibanding biasanya,” ujarnya.
Perumda Air Minum Kabupaten Ngada melakukan penanganan di sejumlah titik, termasuk di bak penampungan Padawoli, Kecamatan Bajawa, dengan mengerahkan mobil tangki untuk suplai sementara kepada warga terdampak.
Perbaikan jaringan pipa juga berlangsung di kawasan belakang Kampung Bogenga yang diidentifikasi sebagai salah satu titik gangguan distribusi. Petugas terlihat melakukan perbaikan serta pembersihan di area tersebut.
Seorang staf Perumda menyatakan sebagian aliran mulai kembali normal di beberapa lokasi terbatas.
“Ada satu titik yang sudah bisa mengalir ke rumah warga,” ujarnya.
Gangguan layanan air bersih di daerah perkotaan umumnya berkaitan dengan kerusakan jaringan distribusi, kebocoran pipa, atau kendala teknis pada sistem penampungan. Dalam situasi tersebut, distribusi melalui mobil tangki menjadi langkah mitigasi jangka pendek, sementara pemulihan layanan bergantung pada kecepatan perbaikan infrastruktur.
Hingga berita ini diterbitkan, proses perbaikan jaringan masih berlangsung dan distribusi air belum sepenuhnya normal di seluruh wilayah terdampak. Pihak manajemen Perumda Air Minum Kabupaten Ngada belum memberikan pernyataan resmi. Warga masih mengandalkan pasokan air tangki sambil menunggu pemulihan layanan.»(gus)
SOSBUD
Utang Ternak Sejak 2012 Belum Lunas, Warga Magepanda Laporkan Dugaan Penipuan ke Desa
Pihak keluarga berharap pemerintah desa dapat memfasilitasi penyelesaian secara kekeluargaan.
MAUMERE, GardaFlores – Warga Desa Waturia, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, melaporkan dugaan penipuan utang piutang ternak babi senilai belasan juta rupiah yang berlangsung sejak 2012 ke pemerintah desa pada Kamis (9/4/2026).
Pelapor, Blasius Blasi, mengaku mengalami kerugian akibat transaksi berulang dengan Ernestina Mona, yang merupakan warga di dusun yang sama. Laporan tersebut disampaikan bersama adiknya, Yusuf Lewor Goban, dan diterima oleh Sekretaris Desa Waturia.
Berdasarkan keterangan pelapor, kasus bermula pada 2012 saat Ernestina meminjam satu ekor babi senilai Rp5 juta untuk keperluan acara kedukaan keluarga di Pulau Palue. Pada 2023, Ernestina kembali meminjam tiga ekor anak babi dengan nilai masing-masing Rp1,5 juta atau total Rp4,5 juta.
Transaksi berlanjut pada 2024 ketika Ernestina bersama seorang anggota keluarganya kembali meminjam satu ekor babi senilai Rp5 juta untuk kebutuhan acara peringatan satu tahun kematian suaminya. Dalam transaksi terakhir, Ernestina sempat memberikan uang muka Rp1 juta, namun sehari kemudian menarik kembali Rp250 ribu, sehingga pembayaran yang diterima pelapor hanya Rp750 ribu.
Menurut Yusuf Lewor Goban, pihak keluarga telah berulang kali melakukan penagihan, namun pembayaran tidak pernah direalisasikan. “Masalah besar harus diperkecil dan masalah kecil harus dihilangkan, demi nama baik dan martabat Desa Waturia,” ujarnya.
Pihak keluarga berharap pemerintah desa dapat memfasilitasi penyelesaian secara kekeluargaan. Namun, jika tidak ada itikad baik dari pihak terlapor, pelapor menyatakan akan menempuh jalur hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Ernestina Mona. Pemerintah Desa Waturia dijadwalkan akan melakukan mediasi antara kedua pihak sebagai langkah awal penyelesaian.»(rel)
-
HUMANIORA10 months agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA9 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA7 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM9 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
HUMANIORA1 year agoPemkab Sikka Ancam Cabut Izin Pangkalan Minyak Tanah yang Langgar Aturan
-
OPINI9 months agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
