Connect with us

OPINI

Pahlawan : Mewariskan Keberanian dan Teladan Kehidupan

Published

on

ILUSTRASI: Hari Pahlawan 10 November 2025. (KEMENRISTEK)

Oleh Stefanus Bajo, S.Sos

Tinggal di Jl. Diponegoro, Wairumbia, Maumere

 

Pahlawan Pewaris Keberanian Bangsa

Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia sejenak mengenang jasa para pahlawan. Hari Pahlawan bukan sekadar tanggal merah dalam kalender nasional, melainkan sebuah momentum reflektif — ketika jiwa kebangsaan diuji: apakah kita masih mewarisi keberanian yang sama seperti mereka yang rela menukar nyawa demi kemerdekaan?

Pahlawan bukan hanya nama yang diukir di tugu atau diabadikan dalam buku sejarah. Mereka adalah simbol keberanian yang hidup dalam denyut nadi bangsa ini. Dari medan perang hingga medan gagasan, dari perjuangan bersenjata hingga perjuangan moral, mereka menunjukkan bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan keteguhan untuk tetap melangkah meski diliputi ketakutan.

Bung Tomo di Surabaya, misalnya, tidak hanya membakar semangat rakyat dengan teriakan “Merdeka atau Mati!”, tetapi juga menunjukkan kekuatan moral: bahwa bangsa ini tidak boleh tunduk terhadap penjajahan dalam bentuk apa pun. Begitu pula dengan Cut Nyak Dhien, Kartini, dan Pattimura — mereka semua menorehkan kisah keberanian yang melampaui batas waktu dan jenis kelamin.

Warisan mereka bukan sekadar kemerdekaan politik, tetapi juga kemerdekaan berpikir dan bertindak. Mereka mengajarkan bahwa pahlawan sejati tidak menunggu panggilan kehormatan; mereka hadir karena nurani tidak bisa diam melihat ketidakadilan.

Namun, pertanyaan besar muncul: apakah semangat kepahlawanan itu masih hidup dalam diri kita hari ini?

Antara Lupa dan Luka di Zaman yang Serba Cepat

Kita hidup di zaman yang serba cepat, serba praktis, dan sering kali serba acuh. Media sosial menggantikan ruang-ruang perenungan; popularitas menyingkirkan nilai ketulusan. Di tengah hiruk pikuk digital, pahlawan sering kali hanya menjadi tagar musiman. Foto-foto upacara dan karangan bunga bertebaran di media sosial setiap 10 November, namun sehari kemudian, semangat itu menguap bersama notifikasi yang tak berhenti berdenting.

Nilai keberanian dan pengorbanan kini sering dikaburkan oleh budaya instan dan kepentingan pribadi. Keberanian bukan lagi tentang membela kebenaran, tetapi tentang siapa yang paling berani berbicara keras di ruang maya. Pengorbanan bukan lagi soal memberi, melainkan tentang siapa yang mendapat tepuk tangan paling banyak.

Banyak orang muda mengenal nama pahlawan, tetapi tidak memahami makna di balik perjuangan mereka. Sekolah-sekolah memang mengajarkan sejarah, tetapi sering kali tanpa penghayatan. Peringatan Hari Pahlawan dijalankan dengan upacara formal, tanpa makna spiritual dan reflektif yang mendalam.

Bahkan, di tengah masyarakat modern, muncul paradoks: kita hidup dalam kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata, tetapi justru kehilangan rasa hormat terhadap nilai-nilai luhur bangsa. Korupsi, ketidakadilan sosial, dan apatisme menjadi wajah baru penjajahan — bukan dari bangsa asing, melainkan dari dalam diri kita sendiri.

Apakah ini berarti semangat kepahlawanan telah mati? Tidak. Ia hanya tertidur, menunggu dibangunkan oleh kesadaran kolektif.

Menjadi Pahlawan di Zaman Tanpa Perang

Semangat kepahlawanan tidak seharusnya terkubur bersama para pejuang. Justru kini, di era damai dan digital, panggilan menjadi pahlawan menemukan bentuk baru. Pahlawan masa kini bukan lagi mereka yang mengangkat senjata, tetapi mereka yang mengangkat nurani; bukan yang bertempur di medan perang, melainkan yang berjuang di medan kemanusiaan, pendidikan, lingkungan, dan kejujuran.

Guru yang tetap mengajar di pelosok tanpa listrik, tenaga medis yang mengabdi di daerah terpencil, relawan yang membantu korban bencana, hingga jurnalis yang menulis dengan integritas — mereka adalah wajah pahlawan masa kini. Mereka membuktikan bahwa kepahlawanan bukanlah milik masa lalu, melainkan tanggung jawab hari ini.

Menjadi pahlawan modern berarti berani melawan arus ketidakpedulian. Ia berarti memilih jujur ketika banyak yang menipu, bekerja sungguh-sungguh ketika banyak yang menyepelekan, dan peduli ketika banyak yang berpaling. Dalam konteks inilah, kepahlawanan bertransformasi menjadi gerakan moral dan spiritual — kesediaan untuk menjadi cahaya di tengah gelapnya zaman.

Pahlawan tidak lagi identik dengan pertempuran fisik, melainkan pertempuran batin: melawan ego, nafsu, dan ketidakadilan. Ia adalah mereka yang menjaga api kebenaran tetap menyala meski dunia merayakan kebohongan. Ia adalah mereka yang menolak menyerah pada keputusasaan, dan tetap percaya bahwa perubahan dimulai dari hal-hal kecil.

Sebagai bangsa yang besar, kita tidak boleh berhenti hanya pada mengenang. Kita harus melanjutkan. Warisan keberanian itu harus menjadi inspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih adil, manusiawi, dan bermartabat.

Dalam diri setiap orang Indonesia, sesungguhnya tersimpan potensi kepahlawanan — mungkin tidak dalam bentuk heroik di medan perang, tetapi dalam tindakan sederhana yang dilakukan dengan hati besar.

Menjadi pahlawan hari ini berarti:

Menjaga integritas di tengah godaan  pragmatisme.

Menanam pohon di tengah krisis lingkungan.

Menulis kebenaran di tengah hoaks yang merajalela.

Mengulurkan tangan ketika orang lain menutup mata.

Pahlawan tidak selalu besar, tetapi selalu bermakna. Mereka mungkin tidak dikenal, tetapi kehadirannya mengubah hidup banyak orang.

Pahlawan mengajarkan bahwa keberanian adalah warisan yang tidak boleh hilang. Dalam setiap zaman, selalu ada tantangan yang menuntut kita untuk berani — bukan hanya berani melawan musuh di luar, tetapi juga musuh dalam diri: ketakutan, ketidakjujuran, dan ketidakpedulian.

Teladan kehidupan para pahlawan seharusnya menjadi cermin bagi generasi kini: bahwa hidup yang bermakna bukan tentang seberapa tinggi jabatan, tetapi seberapa besar pengabdian.

Maka, marilah kita terus menyalakan api kepahlawanan — di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di ruang publik, dan di ruang digital. Karena bangsa ini hanya akan tetap besar jika warganya berani hidup dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh para pahlawan: kejujuran, pengorbanan, dan kasih terhadap sesama.

Keberanian mereka telah memberi kita kemerdekaan. Kini giliran kita mewariskan teladan kehidupan bagi generasi berikutnya.

Itulah arti sejati menjadi pahlawan di zaman ini — bukan untuk dikenang, tetapi untuk menghidupkan kembali semangat yang tak pernah padam. Terima kasih.»

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

OPINI

Menanam Mimpi dari Halaman Buku: Wisata Literasi Jadi Magnet Baru di Sikka

Published

on

Very Awales, Kadis Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Sr. Fransiska, SCIM, Suster Kepala Sekolah SDK Maristela Nangarasong. FOTO: DOK PRI DISARPUS KABSIKKA

Oleh: Very Awales (Kadis Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka)

Di tengah upaya membangun budaya baca dan rasa ingin tahu generasi muda, sebuah langkah sederhana namun berdampak besar kembali digaungkan di Kabupaten Sikka: wisata literasi dan sains.

Rencana kehadiran siswa-siswi kelas BI SDK Maristela Nangarasong ke Perpustakaan Umum Daerah (PERPUSDA) Frans Seda Kabupaten Sikka menjadi bukti bahwa gerakan ini mulai hidup dan mendapat tempat di hati sekolah-sekolah. Bukan sekadar kunjungan biasa, tetapi sebuah perjalanan belajar yang membuka cakrawala anak-anak tentang dunia pengetahuan, imajinasi, dan masa depan.

Suster Kepala Sekolah SDK Maristela Nangarasong, Sr. Fransiska, SCIM, mengaku tertarik setelah mengikuti berbagai informasi dari media online dan akun resmi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka. Ketertarikan itu kemudian membawanya datang langsung untuk berkonsultasi dan merancang kegiatan wisata literasi dan sains bagi para siswanya.

Wisata Literasi, Gerakan Baca 30 Menit Diterapkan di Sekolah Desa Tanaduen, Sikka

Baginya, program ini bukan hanya mengajak anak-anak membaca atau mendengar cerita. Lebih dari itu, mereka diajak mengenal dunia nyata secara lebih luas: mengunjungi toko buku, melihat langsung aktivitas pemerintahan di Kantor Bupati, memahami peran DPRD, hingga merasakan suasana belajar di perpustakaan daerah.

“Anak-anak tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari pengalaman langsung. Ini sangat penting untuk membentuk cara berpikir mereka,” ungkapnya.

Program wisata literasi dan sains ini memang dirancang sebagai pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna. Ada kegiatan membaca, bercerita, lomba edukatif, hingga interaksi langsung dengan berbagai lingkungan baru. Semua dirangkai untuk menumbuhkan minat baca sekaligus rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan.

Sebagai Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, semangat ini menjadi panggilan tersendiri. Literasi dan sains bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kehidupan masyarakat.

Wisata Literasi dan Sains di Perpusda Frans Seda, Disarpus Sikka Libatkan Pegiat Literasi untuk Edukasi Anak

Melalui berbagai program seperti Kunjungan Literasi, GRAB (Gerakan Antar Buku), hingga layanan Mobil Perpustakaan Keliling (MPK), upaya menghadirkan buku dan pengetahuan ke tengah masyarakat terus diperkuat. Program-program ini menjadi jembatan bagi pelajar dan masyarakat umum untuk mengakses bacaan yang relevan, baik untuk pendidikan maupun kebutuhan profesi sehari-hari.

Gerakan literasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau sekolah, tetapi menjadi gerakan bersama. Dari guru, orang tua, hingga masyarakat luas, semua punya peran penting dalam menumbuhkan kebiasaan membaca dan belajar sepanjang hayat.

Wisata literasi yang kini mulai diminati menjadi harapan baru. Dari langkah kecil seperti kunjungan ke perpustakaan, bisa tumbuh mimpi besar dalam diri anak-anak Sikka.

Karena dari satu buku yang dibaca, bisa lahir seribu ide. Dan dari satu perjalanan literasi, bisa terbuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah.»

Continue Reading

OPINI

Imam yang Terluka, Umat yang Teruji: Refleksi atas Retaknya Penghormatan terhadap Martabat Imamat

Published

on

Imam yang Terluka, Umat yang Teruji: Refleksi atas Retaknya Penghormatan terhadap Martabat Imamat. ILUSTRASI: GARDAFLORES/DON NAVARO BARAN

Oleh Stefanus Bajo, S.Sos

Peristiwa dugaan penganiayaan terhadap Pastor Pembantu Paroki St. Petrus Kloangpopot, Keuskupan Maumere, berinisial F.P.A, di Dusun Kahagoleng, Desa Wolonterang, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, pada Rabu (22/4/2026) sekitar pukul 17.00 WITA, bukan sekadar kabar kriminal biasa. Ia adalah luka yang menembus lebih dalam dari sekadar tubuh manusia—ia menyentuh ruang sakral dalam relasi antara umat dan gembalanya.

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa peristiwa ini melibatkan seorang warga berinisial Y.A yang diduga melakukan tindakan kekerasan terhadap imam tersebut. Apa pun latar belakangnya, kejadian ini tetap menyisakan keprihatinan mendalam, karena terjadi di tengah komunitas yang seharusnya menjadi ruang hidup iman dan persaudaraan.

Ketika seorang imam disakiti di tengah komunitasnya sendiri, yang sedang diuji bukan hanya ketahanan fisiknya, tetapi juga kualitas iman dan kedewasaan umat yang mengelilinginya.

Kejadian di wilayah Doreng ini menjadi cermin yang memantulkan realitas yang mungkin selama ini luput dari perhatian: adanya retakan dalam relasi antara umat dan pelayan Gereja. Di tempat yang semestinya menjadi ruang perjumpaan kasih, justru terjadi tindakan yang mencederai martabat kemanusiaan dan panggilan ilahi.

Dalam tradisi Gereja, imam bukan sekadar figur sosial atau pemimpin komunitas biasa. Ia adalah tanda kehadiran Kristus di tengah umat—seorang pelayan yang dipanggil untuk menguduskan, mengajar, dan menggembalakan. Dalam dirinya melekat martabat imamat yang bersumber dari panggilan ilahi. Karena itu, setiap tindakan terhadap imam tidak pernah berhenti pada dimensi personal; ia selalu memiliki gema spiritual dan eklesial.

Namun, realitas manusia tidak selalu berjalan seideal harapan iman. Di tengah tekanan hidup, konflik pribadi, dan mungkin juga kesalahpahaman yang tak terselesaikan, manusia bisa kehilangan kendali. Rasa hormat terkikis, kesabaran menipis, dan pada titik tertentu, kekerasan menjadi jalan pintas yang keliru. Peristiwa di Doreng menjadi bukti bahwa ketika emosi mengalahkan nurani, yang lahir bukan penyelesaian, melainkan luka baru.

Semangat Kartini dalam Aksi Nyata: Perempuan Berdaya, Keluarga Sehat, Bangsa Kuat

Peristiwa ini mengajak kita bertanya secara jujur: masihkah kita memandang imam sebagai pribadi yang patut dihormati? Ataukah kita mulai melihat mereka hanya sebagai “orang biasa” yang dapat diperlakukan tanpa batas? Jika yang kedua mulai menguat, maka sesungguhnya kita sedang menghadapi krisis nilai yang lebih dalam dari sekadar satu kejadian.

Menghormati imam bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan mereka. Imam tetap manusia, yang juga bisa salah dan perlu dikoreksi. Namun koreksi tidak pernah harus dilakukan dengan kekerasan. Ada batas moral yang tidak boleh dilampaui. Ketika kekerasan menjadi pilihan, yang runtuh bukan hanya relasi personal, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan yang kita junjung bersama.

Di sisi lain, peristiwa ini juga menjadi panggilan refleksi bagi Gereja sendiri. Apakah relasi antara imam dan umat telah dibangun di atas komunikasi yang sehat dan keterbukaan? Apakah tersedia ruang dialog yang cukup ketika terjadi perbedaan atau ketegangan? Ataukah ada jarak yang perlahan melebar hingga melahirkan kesalahpahaman?

Imam dipanggil untuk menjadi gembala yang hadir—mendengar, memahami, dan merangkul umatnya. Namun umat pun dipanggil untuk berjalan bersama dalam semangat persaudaraan. Relasi ini bukan relasi kekuasaan, melainkan relasi kasih. Dan kasih tidak pernah berjalan seiring dengan kekerasan.

Kekerasan selalu meninggalkan jejak. Ia tidak hanya melukai tubuh, tetapi juga merusak kepercayaan. Dalam konteks Gereja, luka itu dapat meluas—mengganggu keharmonisan komunitas dan melemahkan kesaksian iman di tengah masyarakat. Apa yang terjadi di Doreng bukan hanya peristiwa lokal, tetapi juga peringatan bagi kita semua.

Kasus Kematian Siswi SMP di Sikka Makin Terkuak: Anak, Ayah, dan Kakek Jadi Tersangka

Namun, di balik setiap luka selalu ada peluang untuk pemulihan. Peristiwa ini dapat menjadi titik balik—kesempatan untuk membangun kembali kesadaran akan pentingnya saling menghormati. Ia mengajak kita kembali pada nilai dasar iman: kasih, pengampunan, dan penghargaan terhadap martabat manusia.

Pemulihan membutuhkan keberanian: berani mengakui kesalahan, berani memperbaiki relasi, dan berani membangun kembali kepercayaan yang retak. Gereja, umat, dan semua pihak dipanggil untuk terlibat dalam proses ini.

Pada akhirnya, peristiwa di Kecamatan Doreng ini bukan hanya tentang seorang imam yang terluka. Ini adalah tentang kita semua—tentang bagaimana kita menjaga martabat satu sama lain, merawat relasi dalam komunitas iman, dan menghidupi iman itu dalam tindakan nyata.

Sebab iman yang sejati tidak hanya diukur dari doa yang kita panjatkan, tetapi dari cara kita memperlakukan sesama. Dan dalam terang itu, setiap luka menjadi panggilan untuk bertobat dan bertumbuh.

Imam yang terluka mengajak kita untuk bercermin.

Umat yang teruji dipanggil untuk berbenah.

Dan Gereja—di Doreng maupun di mana pun—diundang untuk kembali membangun peradaban kasih yang menghormati martabat setiap manusia.»

Continue Reading

OPINI

Semangat Kartini dalam Aksi Nyata: Perempuan Berdaya, Keluarga Sehat, Bangsa Kuat

Published

on

Semangat Kartini dalam Aksi Nyata: Perempuan Berdaya, Keluarga Sehat, Bangsa Kuat. ILUSTRASI: GARDAFLORES/DON NAVARO BARAN

Oleh Stefanus Bajo, S.Sos

Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini tidak pernah benar-benar pudar. Ia terus hidup dan menemukan bentuk baru dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk dalam isu kesehatan keluarga di era modern. Jika dahulu Kartini memperjuangkan pendidikan dan kesetaraan perempuan, hari ini semangat itu hadir dalam kerja-kerja nyata yang menyentuh kebutuhan paling mendasar: kesehatan.

Di Kupang, semangat tersebut tercermin dalam kolaborasi antara TP PKK, TP Posyandu, panitia World Cancer Day, dan BKKBN Provinsi NTT. Kegiatan ini melampaui seremoni; ia menjadi ruang edukasi publik sekaligus penguatan peran perempuan sebagai aktor utama dalam pembangunan kesehatan keluarga.

Tantangan yang dihadapi Nusa Tenggara Timur masih nyata. Data Badan Pusat Statistik dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan prevalensi stunting di NTT masih berada di atas rata-rata nasional dalam beberapa tahun terakhir. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat angka stunting NTT berada di kisaran di atas 30 persen pada periode sebelumnya—menjadikannya salah satu provinsi dengan beban stunting tinggi di Indonesia.

Angka tersebut bukan sekadar statistik. Ia merepresentasikan kualitas generasi yang sedang dipertaruhkan. Stunting tidak hanya berdampak pada tinggi badan, tetapi juga perkembangan kognitif, produktivitas, dan daya saing di masa depan. Karena itu, intervensi tidak bisa berhenti pada program pemerintah semata—ia harus masuk ke ruang keluarga, terutama melalui peran ibu.

Di sinilah posisi perempuan menjadi sangat strategis. Perempuan adalah pengelola utama kesehatan keluarga: dari asupan gizi, pola asuh, hingga keputusan mencari layanan kesehatan. Ketika perempuan memiliki akses pengetahuan dan layanan yang memadai, maka dampaknya bersifat langsung dan lintas generasi.

Flores: Kedalaman yang Membentuk Peradaban—Dari Kelimutu hingga Pancasila

Namun, tantangan tidak berhenti pada stunting. Akses terhadap layanan kesehatan reproduksi di NTT masih menghadapi kesenjangan, terutama di wilayah terpencil. Data nasional menunjukkan bahwa cakupan layanan kesehatan ibu dan reproduksi belum merata, termasuk dalam hal pemeriksaan kehamilan yang sesuai standar dan akses terhadap tenaga kesehatan terlatih. Kondisi geografis, keterbatasan fasilitas, serta faktor sosial-budaya menjadi penghambat yang masih perlu diatasi secara sistematis.

Isu lain yang tidak kalah penting adalah kanker. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kanker menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dengan kasus yang terus meningkat setiap tahun. Di tingkat nasional, prevalensi kanker menunjukkan tren kenaikan, sementara deteksi dini masih menjadi tantangan utama, terutama di daerah dengan akses layanan kesehatan terbatas.

Melalui momentum World Cancer Day, edukasi tentang deteksi dini, pemeriksaan rutin, dan pola hidup sehat menjadi semakin relevan. Kesadaran ini penting karena banyak kasus kanker terdeteksi pada stadium lanjut, yang memperkecil peluang kesembuhan.

Apa yang berlangsung di Kupang menunjukkan bahwa semangat Kartini hari ini telah bertransformasi menjadi gerakan kolektif yang berbasis data, kebutuhan riil, dan intervensi langsung. Perempuan tidak lagi ditempatkan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek utama yang menentukan arah perubahan.

Pesannya jelas: pemberdayaan perempuan bukan sekadar wacana normatif. Ia adalah strategi pembangunan. Ketika perempuan berdaya, keluarga menjadi lebih sehat. Ketika keluarga sehat, fondasi bangsa menjadi lebih kuat.

Semangat Kartini hari ini tidak hadir dalam simbol, tetapi dalam tindakan. Ia hidup dalam ruang-ruang edukasi, tumbuh dalam kesadaran kolektif, dan bergerak melalui solidaritas sosial yang nyata.

Inilah Kartini masa kini: berbasis pengetahuan, bergerak dengan data, dan bekerja untuk masa depan.»

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending