Connect with us

POLITIK

APBD Sikka 2026 Defisit Rp49,37 Miliar, Belanja Pegawai Masih Dominan

Defisit anggaran akan ditutup dengan SILPA. Belanja Pegawai mencapai Rp683,58 miliar, pos pengeluaran paling dominan.

Published

on

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, dalam Rapat Paripurna DPRD Sikka di Maumere, Senin (29/12/2025). (GARDAFLORES/KAREL PANDU)

Maumere, GardaFlores  – Pemerintah Kabupaten Sikka menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp1,24 triliun. Namun, struktur anggaran tersebut kembali menunjukkan defisit sebesar Rp49,37 miliar. Untuk menutup defisit ini, pemerintah akan mengambilnya dari sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) tahun 2025.

Defisit ini terungkap dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD Kabupaten Sikka 2026 yang disampaikan Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, dalam Rapat Paripurna DPRD Sikka di Maumere, Senin (29/12/2025).

Belanja Operasi Lebih dari 80 Persen Anggaran

Dari total belanja daerah sebesar Rp1,289 triliun, Belanja Operasi menyerap porsi terbesar yakni Rp1,029 triliun atau lebih dari 79 persen. Dari angka tersebut, Belanja Pegawai mencapai Rp683,58 miliar, menjadikannya pos pengeluaran paling dominan.

Besarnya belanja pegawai ini kembali memunculkan pertanyaan tentang ruang fiskal daerah untuk mendorong program pembangunan yang langsung menyentuh masyarakat.

Belanja Barang dan Jasa dianggarkan sebesar Rp296,42 miliar, sementara Belanja Bantuan Sosial hanya Rp4,69 miliar. Angka ini dinilai relatif kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan masyarakat miskin dan rentan di Kabupaten Sikka.

Plt Kadis Kesehatan Sikka Beberkan Sulitnya Rekrut Dokter dan Minimnya Fasilitas Kesehatan

Belanja Modal Masih Terbatas

Sementara itu, Belanja Modal yang menjadi indikator utama pembangunan infrastruktur dan aset publik hanya dialokasikan sebesar Rp244,94 miliar atau sekitar 19 persen dari total belanja daerah.

Anggaran pembangunan jalan, jaringan, dan irigasi tercatat sebesar Rp9,27 miliar, angka yang dinilai belum sebanding dengan kondisi infrastruktur dasar di sejumlah wilayah pedesaan dan kawasan terpencil di Sikka.

Belanja modal gedung dan bangunan dialokasikan Rp21,66 miliar, sedangkan belanja modal peralatan dan mesin sebesar Rp8,84 miliar.

Defisit Ditutup SiLPA, Ketergantungan Berlanjut

Pemerintah daerah menutup defisit APBD 2026 sebesar Rp49,37 miliar melalui penerimaan pembiayaan yang bersumber dari perkiraan SiLPA Tahun Anggaran 2025 sebesar Rp78,77 miliar.

Namun, penggunaan SiLPA sebagai penutup defisit kembali menimbulkan kritik terkait efektivitas perencanaan dan penyerapan anggaran, karena SiLPA pada dasarnya mencerminkan dana yang tidak terserap optimal pada tahun sebelumnya.

Itu pun, pemerintah daerah harus mengalokasikan Rp29,4 miliar untuk membayar cicilan pokok utang kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Ruang fiskal semakin sempit untuk program pelayanan publik.

PAD Rendah, Masih Bergantung Transfer Pusat

Dari sisi pendapatan, total pendapatan daerah direncanakan sebesar Rp1,240 triliun. Namun, Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya mencapai Rp124,13 miliar atau sekitar 10 persen dari total pendapatan.

Sebaliknya, pendapatan transfer dari pemerintah pusat dan provinsi masih mendominasi dengan nilai mencapai Rp1,099 triliun, menegaskan tingginya ketergantungan fiskal Kabupaten Sikka terhadap pemerintah pusat.

Janji Kesejahteraan, Tantangan Implementasi

Dalam pidatonya, Bupati Sikka menyatakan keyakinannya bahwa APBD 2026 akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan mendorong kesejahteraan warga Nian Sikka. Pemerintah daerah juga berkomitmen untuk mensosialisasikan dan melaksanakan APBD tersebut setelah ditetapkan menjadi peraturan daerah.

Namun, struktur anggaran yang masih didominasi belanja rutin, minimnya belanja modal, serta ketergantungan pada SiLPA dan dana transfer pusat menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemerintah daerah agar APBD benar-benar menjadi instrumen pembangunan, bukan sekadar anggaran administratif.»(rel)

POLITIK

Fraksi Golkar DPRD Ngada Siapkan Uji Perubahan APBD 2026, Sejumlah Pos Anggaran Akan Dimintai Penjelasan

“Pengawasan DPRD bertujuan memastikan setiap rupiah anggaran digunakan sesuai peruntukannya dan memberikan manfaat bagi masyarakat.”

Published

on

Ketua Fraksi Golkar DPRD Ngada, Atanasius H. Watungadha, mengatakan pembahasan dilakukan sebagai bagian dari fungsi pengawasan DPRD terhadap pengelolaan keuangan daerah sekaligus persiapan pembahasan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Tahun Anggaran 2027. FOTO: IST

BAJAWA, GardaFlores – Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Ngada tengah menelaah Peraturan Bupati Ngada Nomor 19 Tahun 2026 tentang Perubahan Penjabaran APBD Tahun Anggaran 2026 menjelang Rapat Kerja (Raker) Komisi bersama organisasi perangkat daerah (OPD) pada 5–6 Agustus 2026. Hasil kajian awal disebut menemukan sejumlah pos anggaran yang akan dimintakan penjelasan dalam forum resmi tersebut.

Ketua Fraksi Golkar DPRD Ngada, Atanasius H. Watungadha, mengatakan pembahasan dilakukan sebagai bagian dari fungsi pengawasan DPRD terhadap pengelolaan keuangan daerah sekaligus persiapan pembahasan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Tahun Anggaran 2027.

Menurut Atanasius, setiap perubahan dalam dokumen anggaran perlu dipahami secara menyeluruh sebelum dibahas bersama pemerintah daerah.

“Dokumen negara tidak cukup hanya dibaca. Isinya harus dipahami agar pembahasan dalam rapat benar-benar berbasis data dan ketentuan yang berlaku,” katanya kepada GardaFlores, Selasa (4/8/2026).

DPRD Ngada Susun Agenda Kerja Bulanan, Fokus Bahas Ranperda, Anggaran, dan Pengawasan

Ia menjelaskan, Fraksi Golkar melakukan telaah terhadap perubahan penjabaran APBD secara rinci untuk memastikan setiap pergeseran maupun penyesuaian anggaran memiliki dasar yang jelas dan sesuai dengan prioritas pembangunan daerah.

Senada dengan itu, Sekretaris Fraksi Golkar, Alexander Y. Songkares, mengatakan pihaknya menemukan sejumlah bagian dalam dokumen anggaran yang memerlukan klarifikasi dari perangkat daerah.

Menurut dia, perubahan anggaran harus tetap menjaga keseimbangan antara kebijakan efisiensi dan kebutuhan pelayanan publik.

“Kami akan meminta penjelasan terhadap beberapa perubahan yang kami temukan. Prinsipnya, efisiensi anggaran tidak boleh mengurangi kualitas pelayanan yang langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Flores Tidak Kekurangan Budaya, Kita Kekurangan Cara Menceritakannya

Fraksi Golkar memastikan seluruh hasil telaah akan dibawa dalam Raker Komisi untuk dikonfirmasi kepada masing-masing OPD. Pembahasan tersebut, kata Atanasius, bukan dimaksudkan untuk mencari kesalahan, melainkan memastikan penggunaan APBD dapat dipertanggungjawabkan secara administratif maupun kepada publik.

“Pengawasan DPRD bertujuan memastikan setiap rupiah anggaran digunakan sesuai peruntukannya dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Raker Komisi DPRD Ngada dijadwalkan berlangsung pada 5–6 Agustus 2026 dengan agenda pembahasan bersama mitra kerja pemerintah daerah. Forum tersebut menjadi bagian dari rangkaian penyusunan KUA-PPAS APBD 2027 sekaligus evaluasi terhadap pelaksanaan anggaran yang sedang berjalan.

Hingga berita ini ditulis, Pemerintah Kabupaten Ngada belum memberikan tanggapan atas pernyataan Fraksi Golkar mengenai adanya sejumlah pos anggaran yang akan dimintakan klarifikasi dalam rapat kerja tersebut.»(tim/rel)

Continue Reading

POLITIK

DPRD Ngada Susun Agenda Kerja Bulanan, Fokus Bahas Ranperda, Anggaran, dan Pengawasan

Published

on

Agenda tersebut meliputi rapat Badan Musyawarah (Bamus) untuk menyusun jadwal kegiatan dewan, rapat komisi bersama organisasi perangkat daerah (OPD), rapat Badan Anggaran (Banggar), rapat paripurna, pembahasan sejumlah Ranperda, kegiatan penyerapan aspirasi masyarakat, serta kunjungan kerja sesuai kebutuhan pembahasan. FOTO: GARDAFLORES/ROBY GARA

BAJAWA, GardaFlores – DPRD Kabupaten Ngada menetapkan agenda kerja selama satu bulan ke depan dengan memprioritaskan pembahasan rancangan peraturan daerah (Ranperda), pembahasan anggaran, serta pelaksanaan fungsi pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Agenda tersebut meliputi rapat Badan Musyawarah (Bamus) untuk menyusun jadwal kegiatan dewan, rapat komisi bersama organisasi perangkat daerah (OPD), rapat Badan Anggaran (Banggar), rapat paripurna, pembahasan sejumlah Ranperda, kegiatan penyerapan aspirasi masyarakat, serta kunjungan kerja sesuai kebutuhan pembahasan.

Rangkaian agenda itu menjadi bagian dari pelaksanaan tiga fungsi utama DPRD, yakni legislasi, penganggaran, dan pengawasan terhadap pelaksanaan program pemerintah daerah.

Dalam bidang legislasi, DPRD akan melanjutkan pembahasan sejumlah rancangan peraturan daerah yang masuk dalam Program Pembentukan Peraturan Daerah (Propemperda). Sementara pada fungsi penganggaran, Banggar dijadwalkan membahas berbagai dokumen yang berkaitan dengan kebijakan fiskal daerah sesuai tahapan penyusunan APBD.

PAD Diturunkan, Belanja Pegawai Tetap Dominan: Ruang Fiskal Sikka untuk Pembangunan Masih Terbatas

Melalui rapat kerja bersama OPD, masing-masing komisi juga akan mengevaluasi pelaksanaan program pemerintah daerah sesuai bidang tugasnya. Hasil pembahasan akan menjadi bagian dari fungsi pengawasan DPRD terhadap pelaksanaan kebijakan dan penggunaan anggaran daerah.

Selain agenda persidangan, anggota DPRD juga dijadwalkan melaksanakan kegiatan penyerapan aspirasi masyarakat untuk menghimpun berbagai masukan yang dapat menjadi bahan dalam pembahasan kebijakan maupun pengawasan penyelenggaraan pemerintahan.

Penyusunan agenda kerja bulanan tersebut menjadi dasar pelaksanaan seluruh aktivitas DPRD Kabupaten Ngada dalam menjalankan tugas konstitusionalnya selama masa persidangan mendatang.»(rob)

Continue Reading

POLITIK

PAD Diturunkan, Belanja Pegawai Tetap Dominan: Ruang Fiskal Sikka untuk Pembangunan Masih Terbatas

Anggaran penyelenggaraan Pilkades direncanakan diusulkan dalam APBD 2027.

Published

on

Pemerintah menyatakan target PAD disusun berdasarkan potensi penerimaan yang dinilai realistis agar tidak menimbulkan selisih yang besar antara target dan realisasi pada akhir tahun anggaran. GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Pemerintah Kabupaten Sikka mengakui kapasitas fiskal daerah masih menghadapi tekanan. Dalam Rancangan Kebijakan Umum APBD dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Tahun Anggaran 2027, pemerintah menetapkan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, dengan alasan menyesuaikan kondisi riil penerimaan daerah dan tingginya ketergantungan terhadap dana transfer dari pemerintah pusat.

Penjelasan tersebut disampaikan dalam jawaban pemerintah atas pemandangan umum fraksi-fraksi DPRD Kabupaten Sikka terhadap Rancangan KUA-PPAS APBD 2027.

Kebijakan itu menjadi perhatian DPRD karena disampaikan bersamaan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sikka sebesar 5,06 persen pada 2027. Sejumlah fraksi sebelumnya mempertanyakan dasar penurunan target PAD di tengah optimisme pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Dalam jawabannya, pemerintah menyatakan target PAD disusun berdasarkan potensi penerimaan yang dinilai realistis agar tidak menimbulkan selisih yang besar antara target dan realisasi pada akhir tahun anggaran.

Selain sisi pendapatan, pemerintah juga mengakui struktur belanja daerah masih didominasi belanja pegawai. Komponen tersebut mencakup gaji, tunjangan aparatur sipil negara, tenaga pendidik, tenaga kesehatan, termasuk dokter spesialis, sehingga menyerap porsi yang signifikan dalam APBD.

Dominasi belanja wajib tersebut berdampak pada terbatasnya ruang fiskal yang tersedia untuk pembiayaan pembangunan.

Dalam rancangan APBD 2027, alokasi belanja modal tercatat sekitar Rp40,86 miliar, yang akan digunakan untuk pembangunan dan peningkatan infrastruktur, antara lain jalan, irigasi, sanitasi, fasilitas pendidikan, serta layanan kesehatan.

Ketua DPRD Sikka Bantah DPRD Hambat Pilkades, Sebut Perbedaan Sikap Terjadi di Internal Pemkab

Pemerintah menyebut besarnya belanja pegawai dan belanja wajib lainnya menjadi salah satu faktor yang membatasi kemampuan daerah meningkatkan investasi publik melalui APBD.

Di sisi lain, pemerintah tetap mempertahankan sejumlah program prioritas, meliputi penguatan sektor pertanian, perikanan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), peningkatan investasi, serta pengembangan ekonomi lokal sebagai upaya mendorong pertumbuhan daerah.

Untuk meningkatkan penerimaan daerah, pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah, antara lain digitalisasi pembayaran pajak daerah, pembentukan 13 tim penagihan, pemutakhiran basis data wajib pajak, serta optimalisasi pemanfaatan aset milik pemerintah daerah.

Di bidang pemerintahan desa, pemerintah menyampaikan revisi Peraturan Daerah tentang Pemilihan Kepala Desa masih dalam proses penyusunan. Anggaran penyelenggaraan Pilkades direncanakan diusulkan dalam APBD 2027 setelah proses penyesuaian regulasi selesai.

Jawaban pemerintah tersebut memperlihatkan bahwa tantangan fiskal Kabupaten Sikka belum mengalami perubahan yang mendasar. Di satu sisi, pemerintah berupaya menjaga target pendapatan tetap sesuai kapasitas riil daerah. Di sisi lain, tingginya ketergantungan terhadap dana transfer dan dominasi belanja pegawai masih membatasi ruang pemerintah daerah untuk memperbesar alokasi pembangunan melalui APBD.

Pembahasan Rancangan KUA-PPAS APBD 2027 di DPRD selanjutnya akan menjadi ruang untuk menguji sejauh mana strategi peningkatan PAD dan efisiensi belanja mampu memperkuat kapasitas fiskal daerah dalam beberapa tahun mendatang.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending