Connect with us

PENKES

Sikka Mengejar Waktu: Layanan Rapuh, Stigma Mengeras, dan Ambisi “Bebas AIDS 2030”

Sikka masih berada di fase yang oleh banyak aktivis digambarkan sebagai “perang melawan dua musuh sekaligus: virus dan stigma.”

Published

on

Wakil Bupati Sikka, Simon Subandi Supriadi (tengah), Kadis Kominfo Sikka, Very Awales (kiri), Ketua Pelaksana Harian KPAD Sikka, Yohanes Siga, dalam konferensi pers HIV dan AIDS terkini di Kabupaten Sikka. (IST)

Maumere,GardaFlores — Di tengah cuaca panas Maumere menjelang akhir November, Wakil Bupati Simon Subandi Supriadi yang juga Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sikka berdiri di hadapan wartawan dan memaparkan angka demi angka. Sesekali ia menatap lembar penjelasan yang disodorkan staf—detail statistik yang sudah bertahun-tahun menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah: HIV-AIDS yang terus menggerus ruang sosial masyarakat Sikka, diam-diam, tetapi pasti.

Konferensi pers itu bukan seremonial tahunan. Ada desakan waktu. Target nasional Ending AIDS 2030 tinggal lima tahun lagi, sementara Sikka masih berada di fase yang oleh banyak aktivis digambarkan sebagai “perang melawan dua musuh sekaligus: virus dan stigma.” Hal ini disampaikan Wakil Bupati Simon, Kamis (27/11/2025) di Maumere.

Angka yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan

Laporan resmi mencatat 1.225 kasus HIV-AIDS sejak 2003. Dari jumlah itu 260 orang telah meninggal. Jumlah kasus baru sepanjang Januari–Juli 2025 mencapai 35 orang—angka yang menunjukkan penularan terus terjadi di bawah permukaan kehidupan sosial warga.

Hingga Desember 2024, Sebanyak 1.190 Warga Kabupaten Sikka Tertular HIV dan AIDS

Angka penularan tertinggi berasal dari hubungan heteroseksual (1.012 kasus), sebuah indikasi bahwa risiko sudah merambah ranah rumah tangga dan pasangan tetap—masalah yang lebih kompleks dari sekadar perilaku seksual berisiko.

Sementara itu, 96 pasien drop out dari pengobatan ARV, sebuah gejala klasik daerah yang belum berhasil memastikan dukungan psikososial dan penjangkauan lapangan berjalan konsisten.

“Banyak yang takut ketahuan keluarga. Ada juga yang memilih berhenti karena jarak, malu, atau karena merasa sudah sehat,” ungkap seorang tenaga kesehatan yang enggan disebutkan namanya. “Padahal berhenti obat itu sama dengan membuka pintu bagi virus” lanjutnya.

Tantangan yang Lebih Besar dari Virus: Stigma yang Mengakar

Wabup Simon yang didamping Pelaksana Harian KPA, Yohanes Siga, mengakui hambatan terbesar penanggulangan HIV di Sikka bukan hanya anggaran atau distribusi obat dari pusat, tetapi stigma sosial. Di banyak desa, bisik-bisik tentang orang yang dites HIV masih terdengar lebih keras daripada suara edukasi kesehatan masyarakat.

Stigma ini bukan hanya membuat warga enggan tes, tetapi juga mendorong pasien untuk menyembunyikan status, bahkan dari keluarga. Ini yang menyebabkan banyak ODHIV mengonsumsi ARV diam-diam, atau berhenti total ketika ketahuan.

HKN di Kangae: Petrus Herlemus Serukan Penambahan Insentif Nakes dan Penguatan Transformasi Kesehatan

“Kalau stigma tidak diberantas, angka tidak akan berubah,” kata seorang anggota WPA yang sudah lebih dari tujuh tahun mendampingi ODHIV. “Sikka butuh perubahan cara berpikir, bukan hanya perubahan teknis layanan,” lanjutnya.

Kebijakan Ada, tetapi Banyak yang Tertinggal

Pemkab Sikka sebenarnya memiliki perangkat regulasi yang cukup lengkap: Perbup, Perda, hingga Instruksi Bupati yang mewajibkan pembentukan Warga Peduli AIDS (WPA). Namun kenyataannya dari 87 WPA yang pernah terbentuk, sebagian besar kini tidak aktif.

Minimnya pendanaan desa untuk ATM (AIDS, TB, Malaria) membuat banyak rencana tinggal dokumen. Instruksi Bupati 2015 tentang pengaktifan WPA juga mandek, tidak diperbarui, tidak diawasi, dan tidak dievaluasi.

“Kebijakan kita lengkap, tapi itu seperti lemari arsip—tersimpan baik, tidak dijalankan,” kata seorang aktivis kesehatan.

Meski demikian, pemerintah tetap mengalokasikan dana operasional KPA Rp 500 juta per tahun (2020–2023) dan Rp 400 juta (2024–2025). Wabup menyebut ini sebagai bukti komitmen, meski di tengah tekanan fiskal.

S-T-O-P: Strategi Lama yang Harus Dipacu

KPA Sikka masih mengandalkan strategi nasional S-T-O-P: Suluh, Temukan, Obati, Pertahankan. Namun di banyak wilayah, pelaksanaan di lapangan justru menemui hambatan: Penyuluhan yang tak merata, lebih banyak dilakukan jelang HAS, Tes HIV kepada ibu hamil belum konsisten di setiap puskesmas, Program One Day Treatment terhambat keterbatasan tenaga Kesehatan hingga Penjangkauan pasien putus obat belum mampu menembus wilayah terpencil.

Meski begitu, beberapa capaian cukup menonjol. Sejumlah 304 pasien telah menjalani tes viral load, dan banyak di antaranya mencapai status undetected—indikator bahwa ARV bekerja efektif jika dikonsumsi rutin.

Ambisi 2030: Realistik atau Sekadar Slogan?

Visi pembangunan daerah 2025–2029 mengusung jargon besar, “Terwujudnya Masyarakat Sikka yang Produktif, Kreatif, Unggul, dan Mandiri Menuju Maumere Baru.”

Dalam konteks HIV-AIDS, visi ini diterjemahkan menjadi ambisi Three Zeroes tahun 2030: tanpa kasus baru pada bayi, tanpa stigma, tanpa kematian akibat AIDS. Namun sejumlah pihak mempertanyakan kesiapan struktur layanan.

Hingga saat ini, Sikka baru memiliki klinik VCT di beberapa puskesmas, 1 klinik CST di RSUD Maumere, sedikit tenaga kesehatan terlatih serta mobile VCT yang masih bergantung pada momentum tertentu.

Pemkab sedang merencanakan untuk membentuk tiga puskesmas CST baru. Ini penting dan tidaklah berlebihan. Begitu pula rencana mendorong desa mengalokasikan dana ATM sesuai SE Bupati 7 Oktober 2025. “Kalau desa tidak ikut, program hanya hidup di kota,” ujar Pelaksana Harian KPA Yohanes Siga.

Di Balik Angka Ada Manusia-manusia yang Bertahan

Di sela data, ada cerita para ODHIV yang berusaha mempertahankan hidup. Salah satu dari mereka adalah pria 34 tahun di Kecamatan Kewapante yang sejak 2021 rutin mengonsumsi ARV.

“Kalau saya berhenti, itu sama dengan bunuh diri,” katanya pelan. Ia sempat ingin menyerah ketika keluarga menolak mendampinginya. “Tapi sekarang saya tidak mengharapkan semua orang mengerti. Yang penting saya hidup.”

Tangkap 14 PSK, Satpol PP Sikka : Diduga Ada Kerja Sama dengan Pihak Hotel

Cerita-cerita seperti ini jarang muncul di ruang publik karena stigma. Padahal mereka menjadi cermin bahwa penanggulangan HIV bukan hanya soal kebijakan, tetapi soal keberanian bertahan.

Rangkaian Peringatan Hari AIDS Sedunia: Antara Simbol dan Aksi Nyata

Menjelang 1 Desember 2025, KPA Sikka melaksanakan edukasi, Mobile VCT, talkshow radio, hingga misa syukur dan napak tilas ke makam para pemerhati HIV.

Di beberapa tempat seperti Paga, Lapas Maumere, Wailiti, hingga salon dan komunitas pekerja proyek, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara pemerintah dan masyarakat.

Namun banyak aktivis berharap peringatan HAS bukan hanya rangkaian seremonial, tetapi momentum memperbaiki struktur layanan, mengaktifkan WPA, dan menindaklanjuti pasien drop out.

Sikka Mengejar Waktu

Di akhir konferensi pers, Wabup menyampaikan optimismenya, “Kita punya visi, kita punya tenaga, dan kita punya komitmen. Yang kita butuhkan sekarang adalah konsistensi.”

Tetapi di luar ruang konferensi, masalah tak sesederhana itu. Dengan angka kasus yang terus bertambah, layanan yang belum merata, serta stigma yang masih menjadi tembok tebal, Sikka seperti sedang mengejar waktu menuju tenggat nasional 2030.

Adalah waktu yang menjawab, apakah Sikka benar-benar siap mengubah data menjadi tindakan, atau target 2030 hanya akan menjadi slogan yang diperingati setiap 1 Desember?»(rel)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PENKES

Ketua BEM FIKES UNIPA: Keberhasilan Bukan Banyaknya Kegiatan

Ketua BEM FIKES UNIPA periode 2026/2027, Fibrian Charolin Nona Charli, menegaskan keberhasilan organisasi bukan diukur dari banyaknya kegiatan, melainkan dari manfaat yang dirasakan mahasiswa.

Published

on

Pelantikan pengurus BEM FIKES Universitas Nusa Nipa periode 2026/2027 di Aula Nusa Nipa, Maumere, Jumat (23/10/2026). FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Nusa Nipa (UNIPA), Fibrian Charolin Nona Charli, menegaskan keberhasilan organisasi mahasiswa harus diukur dari manfaat kegiatan bagi mahasiswa, bukan dari banyaknya program yang dijalankan.

“Keberhasilan BEM tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari seberapa banyak mahasiswa yang merasa didengar dan merasakan manfaatnya,” ujarnya setelah pelantikan pengurus BEM FIKES UNIPA periode 2026/2027 di Aula Nusa Nipa, Jumat (23/10/2026).

Fibrian bersama Wakil Ketua David Dapa Wulon, Sekretaris Maria Sintia Bela, dan seluruh pengurus dilantik oleh Dekan FIKES UNIPA, Maria Yulita Meo, S.Kep., Ns., M.Kep.

Dekan FEB UNIPA: Organisasi Mahasiswa Bukan Sekadar Jabatan

Fibrian mengajak pengurus menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, kritik sebagai bahan evaluasi, dan tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang. Ia menegaskan BEM harus menjadi ruang pengabdian dan pelaksanaan program nyata, bukan sekadar tempat mencari jabatan atau menyampaikan janji.

Kepengurusan periode 2026/2027 mengusung tiga pilar, yakni holistik, kolaboratif, dan responsif. Ketiganya menjadi landasan organisasi dalam mengembangkan pelayanan dan kegiatan kemahasiswaan.

Dalam sambutannya, Maria Yulita Meo meminta pengurus baru menjadikan tema pelantikan, “Mengabdi dengan Empati, Menginspirasi dengan Aksi”, sebagai dasar dalam menyusun program kerja dan mengambil keputusan.

Bupati Sikka: Gong Waning Harus Terus Dimainkan, Bukan Sekadar Simbol Budaya

Ia menekankan pentingnya integritas, semangat melayani, serta komunikasi yang baik antara pengurus BEM, pimpinan fakultas, program studi, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.

Maria juga meminta pengurus baru melanjutkan capaian kepengurusan sebelumnya, memperbaiki kekurangan, dan menghadirkan inovasi sesuai kebutuhan mahasiswa. Ia menyampaikan apresiasi kepada pengurus demisioner atas kontribusi mereka selama menjalankan organisasi.

Pelantikan tersebut dihadiri para wakil dekan, pimpinan program studi S1 Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners beserta sekretaris, dosen, tenaga kependidikan, pengurus BEM UNIPA, pengurus BEM demisioner, serta mahasiswa FIKES.»(rel)

Continue Reading

PENKES

Dekan FEB UNIPA: Organisasi Mahasiswa Bukan Sekadar Jabatan

Dekan FEB Universitas Nusa Nipa, Immanuel Wellem, menegaskan organisasi mahasiswa harus menjadi ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan. Pesan itu disampaikan saat pelantikan pengurus BEM FEB dan tiga HMPS periode 2026–2027.

Published

on

Pelantikan pengurus BEM FEB dan HMPS Akuntansi, Manajemen, serta Kewirausahaan Universitas Nusa Nipa periode 2026–2027 di Auditorium Nusa Nipa, Jumat (23/10/2026). FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nusa Nipa, Dr. Immanuel Wellem, S.E., M.M., meminta pengurus organisasi mahasiswa mengutamakan integritas, kerja sama, dan program yang bermanfaat bagi mahasiswa serta masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Immanuel saat melantik pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB dan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Akuntansi, Manajemen, serta Kewirausahaan periode 2026–2027 di Auditorium Nusa Nipa, Jumat (23/10/2026).

“Organisasi kemahasiswaan merupakan bagian penting dalam proses pendidikan tinggi. Mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan akademik yang baik, tetapi juga harus mampu mengembangkan karakter, kepemimpinan, komunikasi, kreativitas, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja sama,” ujarnya.

Immanuel menegaskan, jabatan dalam organisasi mahasiswa merupakan amanah yang harus dijalankan melalui kerja nyata. Ia meminta pengurus membangun kerja sama, berani menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, dan menyelesaikan persoalan secara kolektif.

Bupati Sikka: Gong Waning Harus Terus Dimainkan, Bukan Sekadar Simbol Budaya

“Jadikan organisasi sebagai tempat untuk bertumbuh, bukan sekadar tempat memperoleh jabatan atau menjalankan kegiatan rutin,” tegasnya.

Ia juga meminta pengurus baru melanjutkan hal-hal positif dari kepengurusan sebelumnya dan meningkatkan kualitas organisasi. Program kerja, menurut dia, perlu disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ketua BEM FEB demisioner, Maria Natalia, menyebut masa kepengurusannya memberikan pengalaman tentang tanggung jawab, kebersamaan, dan pengabdian. Ia menilai kepemimpinan tidak cukup hanya dengan mengambil keputusan dan menjalankan program, tetapi juga membutuhkan kesediaan mendengarkan, keberanian menghadapi tantangan, dan kerendahan hati untuk mengakui kekurangan.

Ketua BEM FEB terpilih, Yoelistia Wihelmina, menyatakan komitmennya membangun organisasi yang progresif, berintegritas, dan inklusif. Ia menekankan bahwa pelaksanaan visi BEM membutuhkan keterlibatan pengurus HMPS dan mahasiswa, serta dukungan pimpinan fakultas.

Dana Bantuan Presiden Rp20 Miliar di Sikka Baru Terserap 11,96 Persen

“Visi ini tidak akan berarti apa-apa apabila hanya diperjuangkan oleh Ketua BEM dan pengurus BEM saja. Visi ini membutuhkan keterlibatan seluruh pengurus HMPS dan mahasiswa, serta dukungan pimpinan fakultas dan civitas akademika,” ungkap Yoelistia.

Dalam kepengurusan periode 2026–2027, Yoelistia Wihelmina dilantik sebagai Ketua BEM FEB, Valentina Susanti Sute sebagai Wakil Ketua, serta Odilia Kontansia Weri dan Veronika Yuliana Tobi sebagai sekretaris. BEM FEB juga didukung sembilan divisi layanan kemahasiswaan.

Sementara itu, HMPS Akuntansi dipimpin Magdalena Chantania Nanga, HMPS Manajemen dipimpin Anamarian Ellyria D’Nisa, dan HMPS Kewirausahaan dipimpin Alexandra Arista Meo.»(rel)

Continue Reading

PENKES

Kapolres Sikka Ingatkan Siswa SMA John Paul II tentang Judi Online

Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno mengingatkan siswa SMA John Paul II tentang bahaya judi online, perundungan, dan narkoba saat apel bendera di sekolah tersebut, Senin (19/10/2026).

Published

on

Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno menyampaikan pesan kesadaran hukum kepada siswa SMA John Paul II, Senin (19/10/2026). FOTO; GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno mengingatkan siswa SMA John Paul II di Kelurahan Kabor, Kecamatan Alok, agar menjauhi judi online, perundungan, dan penyalahgunaan narkoba. Ia juga meminta pelajar menggunakan internet dan media sosial secara bertanggung jawab.

Pesan tersebut disampaikan Bambang saat memimpin apel bendera di SMA John Paul II, Senin (19/10/2026) 07.15 Wita.

Strong Point Polres Sikka Sasar Persimpangan dan Kawasan Sekolah

Dalam arahannya, Bambang meminta siswa memahami aturan hukum dan mempertimbangkan dampak setiap tindakan sebelum mengambil keputusan. Ia secara khusus mengingatkan bahaya judi online yang menawarkan keuntungan cepat, tetapi dapat merugikan pemain dan keluarganya.

Kapolres juga menekankan kedisiplinan, ketekunan belajar, serta sikap hormat kepada guru dan orang tua. Ia mengajak siswa menghindari perilaku yang dapat mengganggu lingkungan sekolah maupun merugikan masa depan mereka.

“Jadilah generasi muda yang berkarakter, berprestasi, disiplin, dan taat hukum. Manfaatkan waktu untuk belajar dan mengembangkan potensi diri demi meraih masa depan yang lebih baik,” demikian pesan Bambang kepada para siswa.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kasat Binmas Polres Sikka AKP Donatus Paru, Kanit Bhabinkamtibmas Aiptu Polikarpus Arifin, Kanit Binpolmas Aiptu Maria Avelina, dan Kaurmintu Aipda Ridwan.»(rel)

Continue Reading

Trending