PENKES
Anak-Anak MI Al-Muhajirin Banjiri Perpustakaan Sikka, Resensi Buku Jadi Senjata Lawan Krisis Literasi
Perpustakaan Kabupaten Sikka terus membuka diri bagi sekolah-sekolah yang ingin memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang belajar alternatif.
Maumere, GardaFlores – Ruang Perpustakaan Umum Daerah Frans Seda Kabupaten Sikka mendadak hidup pada Kamis (5/2/2026). Puluhan siswa MI Al-Muhajirin Perumnas datang bukan sekadar berkunjung, tetapi membawa misi penting: membaca, memahami, dan menuliskan resensi buku sebagai bagian dari pembelajaran literasi yang kini makin dibutuhkan di tengah derasnya arus gawai dan media sosial.
Didampingi guru pembimbing Ibu Fia dan Ibu Erna, anak-anak itu tampak tenggelam dalam halaman-halaman buku. Mereka memilih bacaan, mencatat, berdiskusi, lalu mencoba menuangkan kembali pemahaman mereka ke dalam bentuk resensi. Suasana ini menjadikan perpustakaan bukan hanya gudang buku, tetapi ruang tumbuhnya rasa ingin tahu dan daya pikir kritis sejak usia dini.
Perkuat Literasi dan SDM Sikka, Disarpus Gandeng Unimof Maumere Bangun Ekosistem Pendidikan Modern
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales, menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari upaya membangun fondasi literasi jangka panjang. “Melalui kunjungan ini, siswa diperkenalkan dengan fungsi dan peran perpustakaan sebagai pusat literasi dan sumber informasi yang mendukung proses belajar mengajar,” kata Very Awales. Ia menegaskan, membiasakan anak datang ke perpustakaan jauh lebih penting daripada sekadar memberi tugas membaca di kelas, karena di sinilah mereka belajar mencintai buku secara alami.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales berbincang dengan seorang guru pendamping MI Al-Muhajirin di sela kunjungan siswa siswi sekolah ini ke Perpustakaan Daerah Sikka. FOTO: IST
Menurut Very Awales, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka terus membuka diri bagi sekolah-sekolah yang ingin memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang belajar alternatif. Layanan yang informatif, edukatif, dan ramah pelajar menjadi kunci agar perpustakaan tidak lagi dipandang sebagai tempat sunyi, melainkan pusat aktivitas intelektual.
Perpustakaan Maumere Kini Jadi Destinasi Edukasi Lewat Program Wisata Literasi
Apresiasi datang dari pihak sekolah. Ibu Fia dan Ibu Erna menyampaikan terima kasih kepada Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka bersama jajaran, mulai dari sekretariat hingga para kepala bidang dan pejabat fungsional, yang telah memprogramkan kunjungan literasi tersebut. “Terima kasih pak dan ibu atas program kunjungan literasi dan sains ini. Kami akan agendakan kembali kunjungan ke Perpustakaan Umum Daerah Frans Seda Kabupaten Sikka dalam kesempatan mendatang,” ujar Ibu Fia, diamini oleh Ibu Erna.
Di tengah kekhawatiran menurunnya minat baca generasi muda, apa yang dilakukan siswa-siswi MI Al-Muhajirin Perumnas di Maumere menjadi secercah harapan. Dari ruang perpustakaan inilah, benih kecintaan terhadap ilmu pengetahuan sedang ditanam—pelan, tetapi pasti.»(rel)
PENKES
Wisata Literasi dan Sains di Perpusda Frans Seda, Disarpus Sikka Libatkan Pegiat Literasi untuk Edukasi Anak
“Literasi tidak hanya membaca, tetapi juga mendorong anak berpikir kritis, kreatif, dan inovatif.”
MAUMERE, GardaFlores — Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DISARPUS) Kabupaten Sikka memperkenalkan program Wisata Literasi dan Sains kepada pelajar melalui sesi edukasi di Aula Perpustakaan Umum Daerah Frans Seda, Jalan El Tari, Maumere, Kamis (23/4/2026).
Program ini menghadirkan pegiat literasi, Yanto de Flores, yang menyampaikan cerita dan dongeng interaktif kepada siswa SDIT Rabbani Maumere sebagai bagian dari upaya meningkatkan minat baca dan pengenalan sains secara kontekstual.
Melalui pendekatan komunikatif, siswa tidak hanya mendengarkan cerita, tetapi juga berinteraksi langsung dalam proses pembelajaran yang dirancang untuk memperkuat pemahaman dan ketertarikan terhadap literasi.
Selain sesi dongeng, peserta diperkenalkan pada konsep taman baca masyarakat serta layanan yang tersedia di Perpustakaan Umum Daerah Frans Seda, termasuk akses koleksi dan fungsi perpustakaan sebagai sumber belajar di luar sekolah.
Gerakan Baca 30 Menit Mulai Dijalankan di Sikka, Sekolah Integrasikan Literasi dan Sains
Kepala DISARPUS Sikka, Very Awales, menyatakan program ini merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah dalam memperkuat budaya literasi di kalangan pelajar.
“Kami berkomitmen menghadirkan lebih banyak pegiat literasi dan sains untuk membangun budaya membaca dan belajar. Literasi tidak hanya membaca, tetapi juga mendorong anak berpikir kritis, kreatif, dan inovatif,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan literasi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk sekolah, komunitas, dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan.
Kegiatan ini juga melibatkan Sekretaris DISARPUS Sikka Yuvensius Rafael, jajaran kepala bidang, tim Wisata Literasi dan Sains, serta tenaga pendidik dari SDIT Rabbani Maumere.
Selama kegiatan berlangsung, siswa aktif mengikuti rangkaian aktivitas, mulai dari sesi dongeng hingga interaksi dalam kegiatan literasi yang dirancang untuk meningkatkan partisipasi belajar.
DISARPUS Sikka akan memperluas program Wisata Literasi dan Sains ke sekolah-sekolah lain sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya membaca dan pemahaman sains sejak usia dini.»(rel)
PENKES
Gerakan Baca 30 Menit Mulai Dijalankan di Sikka, Sekolah Integrasikan Literasi dan Sains
DISARPUS juga menambahkan aktivitas edukatif seperti lomba mewarnai.
MAUMERE, GardaFlores — Gerakan Baca 30 Menit mulai dijalankan di Kabupaten Sikka setelah Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DISARPUS) menyosialisasikan program tersebut kepada pelajar di Aula Lantai II Perpustakaan Umum Daerah Frans Seda, Kamis (23/4/2026).
Program ini merupakan tindak lanjut Surat Edaran Bupati Sikka Nomor: ArsipPustaka.000.14.4/75/2026 tentang Gerakan 30 Menit Membaca, Wisata Literasi dan Sains, serta penguatan ekosistem literasi daerah.
Kepala DISARPUS Sikka, Very Awales, menjelaskan gerakan ini diarahkan untuk membentuk kebiasaan membaca harian sekaligus mengintegrasikan literasi dengan pembelajaran sains di sekolah.
“Gerakan ini mendorong siswa membaca minimal 30 menit setiap hari. Melalui wisata literasi dan sains, pembelajaran menjadi lebih kontekstual,” ujarnya.

Kepala SDIT Rabbani Maumere, Yanto, menyebut pendekatan ini memberi pengalaman belajar yang lebih aplikatif. FOTO: IST
Sosialisasi melibatkan siswa dan guru SDIT Rabbani Maumere. Peserta mengikuti pemaparan program, kemudian menelusuri layanan perpustakaan melalui tur edukatif untuk mengenal koleksi, sistem pengelolaan arsip, dan fungsi layanan publik.
Peringati Hari Bumi, Disarpus Sikka Tanam Pohon di Pantai Nuba Nanga Bola Wolon
Untuk memperkuat keterlibatan siswa, DISARPUS menambahkan aktivitas edukatif, termasuk lomba mewarnai.
Kepala SDIT Rabbani Maumere, Yanto, menyebut pendekatan ini memberi pengalaman belajar yang lebih aplikatif.
“Kegiatan ini membantu siswa tidak hanya membaca, tetapi juga memahami fungsi perpustakaan dan kearsipan secara langsung,” katanya.
DISARPUS menegaskan program ini akan diterapkan secara berkelanjutan dengan melibatkan sekolah dan pemangku kepentingan lain guna memperkuat budaya literasi di daerah.
Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sikka akan memantau dan mengevaluasi penerapan program di sekolah-sekolah untuk memastikan kebiasaan membaca berjalan konsisten dan terukur.»(rel)
PENKES
Polres Sikka Salurkan Bantuan Pendidikan ke Empat Sekolah di Maumere
Polres Sikka juga menyalurkan bantuan keuangan kepada siswa kurang mampu dan anak putus sekolah.
MAUMERE, GardaFlores — Kepolisian Resor (Polres) Sikka menyalurkan bantuan sosial di bidang pendidikan kepada empat sekolah di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (20/4/2026). Bantuan diserahkan oleh Wakapolres Sikka Kompol Marselus Yugo Amboro, S.I.K., mewakili Kapolda NTT.
Penyaluran bantuan berlangsung di empat lokasi, yakni PAUD Aisyiyah Waturia di Kecamatan Magepanda, SMP Katolik Binawirawan Maumere di Kecamatan Alok, SMK Santo Gabriel Maumere di Kecamatan Alok Timur, dan SDK Waiara di Kecamatan Kewapante.
Bantuan yang diberikan mencakup perlengkapan belajar dan sarana penunjang pendidikan. Di PAUD Aisyiyah Waturia, bantuan meliputi lemari plastik, lemari rak, meja belajar, kursi plastik, tas sekolah, alat permainan edukatif berupa puzzle kayu, serta meja kayu. Sementara di SDK Waiara, bantuan berupa 40 pasang seragam sekolah dan alat tulis kantor (ATK).

FOTO: IST
Selain itu, Polres Sikka juga menyalurkan bantuan keuangan kepada siswa kurang mampu dan anak putus sekolah di SMP Katolik Binawirawan Maumere dan SMK Santo Gabriel Maumere.
Wakapolres Sikka Kompol Marselus Yugo Amboro mengatakan, bantuan tersebut merupakan bagian dari kepedulian Polri terhadap masyarakat, khususnya dalam mendukung sektor pendidikan.
“Bantuan ini diharapkan dapat menunjang kegiatan belajar mengajar, meningkatkan semangat siswa dan tenaga pendidik, serta membantu anak-anak yang kurang mampu agar tetap melanjutkan pendidikan,” ujarnya.
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala PAUD Aisyiyah Waturia Marwiyah Nazarudin, Sekretaris Desa Waturia Rahmat Asikin, kepala sekolah dari masing-masing sekolah penerima bantuan, serta orang tua dan siswa.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung hingga pukul 19.00 WITA dalam kondisi aman dan tertib. Hingga saat ini, bantuan telah diterima oleh masing-masing sekolah dan mulai dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.»(rel)
-
HUMANIORA10 months agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA9 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA7 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM9 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
HUMANIORA1 year agoPemkab Sikka Ancam Cabut Izin Pangkalan Minyak Tanah yang Langgar Aturan
-
OPINI9 months agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka

Pingback: Disarpus Sikka Bawa Perpustakaan ke Lapas Maumere, Buka Akses Literasi bagi Warga Binaan - Garda Flores %