Connect with us

EKONOMI

68 Desa Nelayan Sikka Siap Naik Kelas, Menteri KKP Siapkan Hub Perikanan Terpadu

Menteri KKP menyebut kebutuhan anggaran berkisar antara Rp 13 miliar hingga Rp 22 miliar per lokasi.

Published

on

Deretan perahu nelayan di Pantai Wuring, Maumere. FOTO: GARDAFLORES/LAMBERT WAHANG

Maumere, GardaFlores – Transformasi pesisir Kabupaten Sikka memasuki babak baru. Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sikka, Paulus Bangkur, mengungkapkan potensi besar yang tersebar di 68 desa nelayan sepanjang garis pantai daerah ini. Ia berharap desa-desa tersebut tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi bertransformasi menjadi Kampung Nelayan Modern dengan fasilitas pengolahan yang memadai.

“Harapan kami kepada Pak Menteri dan Pak Dirjen, ada unit pengolahan di daerah-daerah ini. Sikka ini memiliki 68 desa nelayan,” ujar Paulus Bangkur di sela kunjungan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono, di Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kamis (26/2/2026), saat peninjauan Calon Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Menurut Paulus, pemerintah daerah selama ini telah menggelontorkan berbagai dukungan, mulai dari bantuan kapal, alat tangkap, hingga cold storage. Namun ia mengakui, dampaknya belum maksimal karena belum terintegrasi dalam satu sistem kawasan terpadu berbasis industri perikanan.

Menanggapi aspirasi tersebut, Menteri KKP memastikan pihaknya tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap 68 desa pesisir itu untuk dirancang dalam skema pusat kegiatan perikanan terpadu.

Nelayan Wuring Sikka Desak Bantuan Kapal Fiber dan Perpanjangan Kolam Labuh Saat Kunjungan Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono

“Dari 68 desa itu, akan kita evaluasi mana yang menjadi pusat (hub) dan mana yang menjadi penyangga. Fasilitas yang didukung sangat banyak, mulai dari dermaga, pabrik es, cold storage, hingga toko perbekalan dan bantuan kapal,” jelas Menteri KKP.

Skema ini bukan hanya membangun fisik, tetapi juga menjawab mata rantai distribusi hasil tangkapan. Menteri menegaskan pemerintah menyiapkan pola pembeli siaga (off-taker) agar nelayan tidak lagi kebingungan menjual hasil lautnya.

“Transportasi tidak perlu dikhawatirkan karena produknya nanti ada off-taker-nya. Seluruh hasil produksi nelayan pasti ada pembelinya,” tegasnya.

Selain fasilitas pengolahan dan distribusi, kawasan kampung nelayan yang dirancang pemerintah pusat juga akan dilengkapi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), sebagai solusi atas persoalan klasik keterbatasan BBM yang selama ini membatasi jarak jelajah nelayan kecil.

TPA Wairii dan Pengkhianatan terhadap Laut Maumere: Refleksi Hari Peduli Sampah Nasional di Kabupaten Sikka

“Kawasan yang akan kita bangun itu satu kompleks, termasuk SPBN,” tambahnya.

Untuk mewujudkan satu Kampung Nelayan Terpadu, Menteri KKP menyebut kebutuhan anggaran berkisar antara Rp 13 miliar hingga Rp 22 miliar per lokasi. Ia meminta pemerintah daerah menyiapkan lahan sebagai prasyarat utama pembangunan fasilitas tersebut. Bupati Sikka yang turut mendampingi kunjungan menyatakan kesiapan penuh menyediakan lahan untuk pembangunan seluruh fasilitas Kampung Nelayan Merah Putih.

Namun di balik dorongan produktivitas dan modernisasi, Menteri mengingatkan pentingnya prinsip keberlanjutan. Ia menekankan bahwa peningkatan hasil tangkap tidak boleh mengorbankan ekosistem laut.

“Penting memperhatikan keberlanjutan. Jika terjadi eksploitasi berlebihan, ekosistem laut rusak dan masa depan generasi kita akan terancam. Kehadiran kami di sini adalah untuk menjawab tantangan tersebut melalui sarana yang lebih baik,” pungkasnya.

Dengan 68 desa nelayan yang tersebar di pesisir Sikka, arah kebijakan ini berpotensi mengubah wajah ekonomi laut di Nusa Tenggara Timur—dari pola tradisional menuju sistem kawasan modern, terintegrasi, produktif, sekaligus berkelanjutan.»(rel)

EKONOMI

PAD Ngada Ditargetkan Rp64,78 Miliar pada 2027, DPRD Soroti Tingginya Ketergantungan pada Dana Transfer

DPRD Ngada menyoroti rendahnya kontribusi PAD dalam KUA-PPAS 2027 yang masih didominasi dana transfer pemerintah pusat. Pemerintah mengakui target RPJMD belum sepenuhnya tercapai.

Published

on

Dokumen KUA-PPAS 2027 mencatat pendapatan transfer diproyeksikan mencapai Rp836,96 miliar, atau sekitar 91 persen dari total pendapatan daerah. Sementara kontribusi PAD berada pada kisaran tujuh persen. FOTO: IST

BAJAWA, GardaFlores — Pemerintah Kabupaten Ngada menargetkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp64,78 miliar dalam Rancangan Kebijakan Umum APBD dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Tahun Anggaran 2027. Angka tersebut berada di tengah proyeksi total pendapatan daerah sebesar Rp912,03 miliar, yang sebagian besar masih bersumber dari transfer pemerintah pusat.

Dokumen KUA-PPAS 2027 mencatat pendapatan transfer diproyeksikan mencapai Rp836,96 miliar, atau sekitar 91 persen dari total pendapatan daerah. Sementara kontribusi PAD berada pada kisaran tujuh persen.

Komposisi tersebut menjadi perhatian DPRD Kabupaten Ngada dalam pembahasan awal KUA-PPAS karena dinilai menunjukkan kapasitas fiskal daerah masih sangat bergantung pada kebijakan transfer pemerintah pusat.

Dalam dokumen yang sama, Pemerintah Kabupaten Ngada juga mengakui target pendapatan maupun belanja daerah tahun 2027 belum sepenuhnya mampu memenuhi sasaran yang ditetapkan dalam RPJMD 2025–2029.

Pemerintah menyebut ketidakpastian transfer dari pemerintah pusat, pertumbuhan PAD yang belum optimal, serta dinamika ekonomi daerah sebagai faktor yang memengaruhi penyusunan proyeksi tersebut. Dokumen itu juga membuka kemungkinan penyesuaian target melalui perubahan APBD maupun evaluasi dokumen perencanaan.

Fraksi Golkar DPRD Ngada Siapkan Uji Perubahan APBD 2026, Sejumlah Pos Anggaran Akan Dimintai Penjelasan

Data KUA-PPAS mencatat ekonomi Kabupaten Ngada pada 2025 tumbuh 4,28 persen. Namun pada saat yang sama, tingkat kemiskinan masih berada di angka 11,22 persen, sedangkan kemiskinan ekstrem tercatat 8,47 persen.

Dalam pembahasan di DPRD, Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Ngada, Rudi Wogo, mengingatkan agar target PAD tidak berhenti sebagai angka dalam dokumen perencanaan.

“Kalau cuma jadi target di kertas, buat apa?” kata Rudi dalam pembahasan KUA-PPAS di Bajawa, Kamis (6/8/2026).

Sorotan serupa disampaikan Ketua Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Ngada, Atanasius H. Watungadha. Menurut dia, pemerintah masih memiliki sejumlah potensi penerimaan daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Fraksi Golkar mencontohkan usulan pembangunan jembatan timbang yang hingga kini belum terealisasi. Fasilitas tersebut dinilai berpotensi menjadi salah satu sumber pendapatan daerah melalui pelayanan terhadap kendaraan angkutan barang.

PAD Diturunkan, Belanja Pegawai Tetap Dominan: Ruang Fiskal Sikka untuk Pembangunan Masih Terbatas

Selain itu, fraksi juga mempertanyakan belum dimasukkannya potensi penerimaan dari layanan Laboratorium Dinas Peternakan ke dalam proyeksi PAD, meskipun layanan tersebut telah tersedia.

Pembahasan DPRD juga menyoroti sejumlah program dalam rancangan PPAS yang masih tercantum tanpa alokasi anggaran, di antaranya penanganan kerawanan pangan, pengembangan kawasan permukiman, pembangunan perumahan, pengelolaan persampahan regional, serta pengembangan jasa konstruksi.

Di sisi lain, pemerintah menetapkan sektor kesehatan, infrastruktur dasar, pertanian, peternakan, dan pelayanan publik sebagai prioritas pembangunan tahun 2027.

Pembahasan KUA-PPAS akan berlanjut dalam rapat-rapat komisi dan Badan Anggaran DPRD sebelum disepakati menjadi dasar penyusunan Rancangan APBD Kabupaten Ngada Tahun Anggaran 2027. DPRD dijadwalkan mencermati kesesuaian antara target pendapatan, prioritas pembangunan, dan kemampuan fiskal daerah dalam pembahasan berikutnya.»(tim/rel)

Continue Reading

EKONOMI

Sikka Perkuat Kompetensi Tenaga Konstruksi, 31 Peserta Ikuti Sertifikasi Nasional

Peserta yang dinyatakan kompeten akan memperoleh sertifikat yang diakui secara nasional sebagai bukti pemenuhan standar profesi di bidang jasa konstruksi.

Published

on

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Sikka, Margaretha Movaldes Da Maga Bapa, mengatakan Kabupaten Sikka menjadi salah satu dari dua daerah di Pulau Flores yang dipilih sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan bersama Kabupaten Flores Timur. FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Di tengah tuntutan agar pembangunan infrastruktur memenuhi standar mutu dan keselamatan, Pemerintah Kabupaten Sikka mulai memperkuat kompetensi tenaga konstruksi lokal melalui sertifikasi berbasis standar nasional. Sebanyak 31 peserta mengikuti pembekalan dan uji kompetensi Pelaksana Lapangan Pekerjaan Gedung Level 6 yang digelar Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sikka bersama Balai Jasa Konstruksi Wilayah (BJKW) IV Surabaya, 5–6 Agustus 2026.

Program tersebut menggunakan metode on-site pada proyek APBD sehingga peserta dinilai berdasarkan kompetensi teknis yang diterapkan di lapangan. Peserta berasal dari tenaga konstruksi berpengalaman, lulusan baru perguruan tinggi, hingga pelaku usaha jasa konstruksi.

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Sikka, Margaretha Movaldes Da Maga Bapa, mengatakan Kabupaten Sikka menjadi salah satu dari dua daerah di Pulau Flores yang dipilih sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan bersama Kabupaten Flores Timur.

Menurut dia, kebutuhan terhadap tenaga konstruksi yang memiliki sertifikat kompetensi terus meningkat seiring penerapan standar profesional dalam sektor jasa konstruksi.

“Kami bersyukur Kabupaten Sikka dipercaya menjadi lokasi kegiatan ini. Harapannya, semakin banyak tenaga konstruksi daerah yang memiliki kompetensi sesuai standar nasional,” katanya.

Sikka Pertahankan Predikat AA Indeks Reformasi Hukum, Nilai 93,80

Selama dua hari, peserta mengikuti pembekalan delapan unit kompetensi, mulai dari penerapan keselamatan, kesehatan kerja, dan lingkungan (K3L), pekerjaan persiapan, fondasi, struktur, arsitektur, hingga penyusunan laporan pelaksanaan pekerjaan.

Ketua Program Studi Teknik Sipil Universitas Nusa Nipa, Ir. Dedi Imanuel Pau, yang menjadi narasumber kegiatan, mengatakan sertifikasi bukan sekadar memenuhi persyaratan administrasi, tetapi menjadi mekanisme untuk mengukur kemampuan tenaga konstruksi dalam menjalankan pekerjaan sesuai standar profesi.

“Sertifikasi kompetensi menjadi bagian dari upaya memastikan pekerjaan konstruksi dilaksanakan oleh tenaga yang memiliki kemampuan sesuai bidangnya,” ujarnya.

Ketua Pelaksana Uji Sertifikasi BJKW IV Surabaya, Jeffy Alfanny, mengatakan lembaganya membina sektor jasa konstruksi di enam provinsi yang mencakup 119 kabupaten dan kota. Menurut dia, kolaborasi dengan pemerintah daerah diperlukan untuk memperluas jumlah tenaga konstruksi yang tersertifikasi.

Peserta yang dinyatakan kompeten akan memperoleh sertifikat yang diakui secara nasional sebagai bukti pemenuhan standar profesi di bidang jasa konstruksi.

Kegiatan tersebut dibiayai melalui skema cost sharing antara Pemerintah Kabupaten Sikka dan BJKW IV Surabaya.

Bagi Kabupaten Sikka, peningkatan jumlah tenaga konstruksi bersertifikat menjadi salah satu prasyarat untuk memperkuat kualitas pembangunan infrastruktur. Di tengah kebutuhan pembangunan yang terus meningkat, kompetensi sumber daya manusia menjadi faktor yang menentukan apakah proyek dapat memenuhi standar mutu, keselamatan kerja, dan keberlanjutan.»(rel)

Continue Reading

EKONOMI

Ketahanan Pangan Dimulai dari Desa, Program Let’s Grow Perkuat Kapasitas Petani Milenial di Sikka

Panen bersama di Kecamatan Paga menjadi salah satu hasil dari proses pendampingan.

Published

on

Program Let's Grow berfokus pada penguatan kapasitas petani muda melalui pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) atau Praktik Pertanian yang Baik dan pengembangan keterampilan hidup (life skills). Materi yang diberikan mencakup teknik budidaya, manajemen usaha tani, hingga pengelolaan hortikultura yang berorientasi pada peningkatan produktivitas. FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores – Upaya memperkuat regenerasi petani di Kabupaten Sikka terus dilakukan melalui peningkatan kapasitas generasi muda di sektor pertanian. Pemerintah Kabupaten Sikka bersama Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS) menggelar panen bersama Program Let’s Grow di Desa Lowolabo dan Desa Aebubu, Kecamatan Paga, Selasa (4/8/2026), sebagai bagian dari pembinaan petani milenial.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Pemerintah Kecamatan Paga, serta petani milenial peserta program pendampingan YBTS.

Program Let’s Grow berfokus pada penguatan kapasitas petani muda melalui pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) atau Praktik Pertanian yang Baik dan pengembangan keterampilan hidup (life skills). Materi yang diberikan mencakup teknik budidaya, manajemen usaha tani, hingga pengelolaan hortikultura yang berorientasi pada peningkatan produktivitas.

PAD Diturunkan, Belanja Pegawai Tetap Dominan: Ruang Fiskal Sikka untuk Pembangunan Masih Terbatas

Dalam sambutannya, Fista Sambuari Kago mengatakan regenerasi petani menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan di daerah.

“Petani memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Karena itu, saya mengajak para petani milenial untuk terus belajar, terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memperkuat kerja sama agar hasil pertanian semakin baik,” ujarnya.

Menurut Fista, tantangan sektor pertanian tidak hanya berkaitan dengan peningkatan hasil produksi, tetapi juga bagaimana menarik minat generasi muda untuk tetap berusaha di bidang pertanian.

Ia mengapresiasi pendampingan yang dilakukan Yayasan Bina Tani Sejahtera dalam membangun kapasitas petani muda di Kabupaten Sikka.

“Kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendamping, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam memperkuat sektor pertanian, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, pemanfaatan teknologi, dan peningkatan produktivitas,” katanya.

Fista menambahkan, TP PKK Kabupaten Sikka mendukung berbagai program pemberdayaan keluarga yang berkaitan dengan ketahanan pangan karena keluarga dinilai menjadi fondasi dalam membangun kemandirian pangan masyarakat.

Sekolah di Maumere Bangun Ekosistem Literasi, 300 Siswa Ikuti Reading Camp Berbasis Pembiasaan Membaca

Sementara itu, melalui Program Let’s Grow, para petani milenial didorong tidak hanya meningkatkan kemampuan budidaya, tetapi juga mengembangkan usaha tani yang lebih efisien dan berkelanjutan sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian keluarga.

Panen bersama di Kecamatan Paga menjadi salah satu hasil dari proses pendampingan yang telah berlangsung selama program berjalan. Selain menjadi ajang evaluasi hasil budidaya, kegiatan tersebut juga mempertemukan pemerintah daerah, lembaga pendamping, dan petani untuk memperkuat kerja sama dalam pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Sikka.

Di tengah tantangan regenerasi petani yang dihadapi banyak daerah, penguatan kapasitas petani muda dinilai menjadi salah satu langkah untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan sekaligus membuka peluang usaha di sektor pertanian bagi generasi muda.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending