OPINI
Hari Koperasi Nasional 2026: Belajar dari Mondragon untuk Menghidupkan Kembali Koperasi di Kabupaten Sikka
Refleksi Hari Koperasi Nasional, 12 Juli 2026.

Oleh: Stefanus Bajo, S.Sos
Tanggal 12 Juli kembali hadir sebagai momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk memperingati Hari Koperasi Nasional. Peringatan ini bukan sekadar mengenang lahirnya gerakan koperasi di Indonesia, tetapi juga menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan kembali cita-cita besar para pendiri bangsa yang menempatkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional.
Di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah: masihkah koperasi menjadi harapan bagi ekonomi rakyat? Ataukah koperasi perlahan kehilangan ruhnya dan hanya menjadi simbol yang diperingati setiap tahun?
Pertanyaan ini menjadi sangat relevan ketika kita melihat realitas kehidupan masyarakat di Kabupaten Sikka.
Sebagai daerah yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup pada sektor pertanian, perikanan, peternakan, perdagangan kecil, dan usaha mikro, Kabupaten Sikka sesungguhnya memiliki potensi ekonomi yang besar. Data pembangunan daerah menunjukkan bahwa sektor-sektor ekonomi rakyat masih menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat.
Namun di balik potensi tersebut, berbagai persoalan masih dihadapi masyarakat. Petani sering berhadapan dengan tingginya biaya produksi, keterbatasan modal, dan lemahnya akses pasar. Nelayan masih menghadapi fluktuasi harga dan keterbatasan sarana produksi. Pelaku Usaha kecil pun sering mengalami kesulitan memperoleh akses pembiayaan serta memperluas jaringan pemasaran.
Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang bekerja keras setiap hari, tetapi belum sepenuhnya menikmati hasil ekonomi yang layak.
Dalam konteks seperti inilah koperasi sesungguhnya menemukan relevansinya.
Bung Hatta, yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia, pernah mengatakan bahwa koperasi merupakan usaha bersama untuk memperbaiki nasib kehidupan ekonomi berdasarkan semangat tolong-menolong. Bagi Bung Hatta, koperasi bukan sekadar badan usaha, melainkan gerakan ekonomi rakyat yang dibangun di atas asas kekeluargaan dan keadilan sosial.
Filosofi tersebut sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Flores, termasuk masyarakat Kabupaten Sikka. Sejak dahulu, masyarakat kita hidup dalam budaya gotong royong, saling membantu, dan bekerja bersama untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Dalam kehidupan sosial masyarakat Flores, nilai-nilai kebersamaan itu tampak dalam berbagai aktivitas, mulai dari mengerjakan kebun secara bersama, membangun rumah, membantu keluarga yang mengalami kesulitan, hingga berbagai tradisi sosial lainnya. Semangat inilah yang sesungguhnya menjadi roh utama koperasi.
Namun, perkembangan zaman membawa tantangan baru.
Arus globalisasi dan ekonomi pasar mendorong tumbuhnya pola hidup yang semakin individualistis. Persaingan ekonomi semakin ketat, sementara masyarakat kecil sering kali berada pada posisi yang lemah. Tidak sedikit petani menjual hasil panennya dengan harga murah, sementara keuntungan yang lebih besar justru dinikmati oleh mata rantai perdagangan yang lebih kuat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan kelembagaan ekonomi yang mampu memperkuat posisi mereka.
Di sinilah koperasi memiliki peran strategis.
Dunia memberikan banyak contoh mengenai keberhasilan koperasi dalam membangun kesejahteraan masyarakat. Salah satu yang paling terkenal adalah gerakan koperasi Mondragon di wilayah Basque, Spanyol.
Gerakan ini lahir dari pemikiran seorang imam Katolik, Pastor José María Arizmendiarrieta. Setelah melihat kemiskinan dan pengangguran pasca perang, ia meyakini bahwa pembangunan ekonomi harus berpusat pada manusia. Ia berpendapat bahwa manusia tidak boleh menjadi korban dari sistem ekonomi, tetapi justru harus menjadi tujuan utama pembangunan.
Filosofinya sederhana namun sangat mendalam:
Ekonomi harus melayani manusia, bukan manusia yang melayani ekonomi.
Berangkat dari pendidikan dan semangat solidaritas, gerakan Mondragon kemudian berkembang menjadi salah satu jaringan koperasi terbesar di dunia. Mereka berhasil membangun berbagai unit usaha di bidang industri, perdagangan, pendidikan, penelitian, dan jasa keuangan.
Keberhasilan Mondragon tidak semata-mata karena besarnya modal yang dimiliki, melainkan karena kekuatan nilai-nilai yang mereka bangun, yakni pendidikan, partisipasi, solidaritas, tanggung jawab bersama, dan rasa memiliki.
Pelajaran berharga inilah yang sesungguhnya dapat menjadi inspirasi bagi Kabupaten Sikka.
Sikka memiliki sumber daya alam yang melimpah. Pertanian hortikultura, perikanan, peternakan, perkebunan, pariwisata, dan ekonomi kreatif merupakan sektor-sektor yang menyimpan potensi besar untuk dikembangkan.
Namun, potensi tersebut membutuhkan kelembagaan ekonomi yang mampu menghimpun kekuatan masyarakat.
Bayangkan apabila para petani sayur, peternak, nelayan, pengrajin, dan pelaku UMKM dapat bergabung dalam koperasi yang sehat dan profesional. Mereka dapat membeli sarana produksi secara bersama dengan harga yang lebih murah, memperoleh akses permodalan yang lebih baik, memperkuat jaringan pemasaran, serta meningkatkan nilai tambah produk-produk lokal.
Koperasi juga dapat menjadi wadah untuk membangun industri pengolahan berbasis potensi daerah sehingga hasil pertanian dan perikanan tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.
Lebih dari itu, koperasi dapat membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam pembangunan ekonomi daerah.
Di tengah semakin terbatasnya lapangan pekerjaan formal, anak-anak muda Sikka perlu didorong untuk menjadi pelaku ekonomi yang kreatif dan inovatif. Koperasi modern berbasis digital dapat menjadi salah satu solusi untuk mengembangkan kewirausahaan sosial dan ekonomi kreatif.
Sayangnya, berbagai tantangan masih dihadapi dunia koperasi saat ini.
Sebagian koperasi belum dikelola secara profesional. Regenerasi kepemimpinan masih berjalan lambat. Pemanfaatan teknologi digital masih terbatas. Tidak sedikit koperasi yang kehilangan kepercayaan masyarakat karena lemahnya tata kelola dan minimnya transparansi.
Karena itu, revitalisasi koperasi menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak.
Pemerintah daerah perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap penguatan koperasi dan UMKM. Pendidikan perkoperasian perlu diperkuat. Pendampingan manajemen dan transformasi digital perlu terus didorong. Generasi muda juga harus diberikan ruang untuk terlibat aktif dalam gerakan koperasi.
Pada saat yang sama, masyarakat pun perlu membangun kembali kesadaran bahwa koperasi bukan sekadar tempat meminjam uang, melainkan rumah bersama untuk membangun kekuatan ekonomi rakyat.
Momentum Hari Koperasi Nasional pada 12 Juli 2026 hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.
Peringatan ini harus menjadi titik refleksi dan sekaligus titik kebangkitan.
Kita perlu kembali menghidupkan roh koperasi sebagai gerakan sosial ekonomi yang berlandaskan kebersamaan, solidaritas, dan keadilan.
Belajar dari Mondragon, kita memahami bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah-langkah kecil. Dari pendidikan, dari kepercayaan, dari kerja bersama, dan dari keyakinan bahwa kesejahteraan bersama lebih penting daripada keuntungan segelintir orang.
Masa depan ekonomi Kabupaten Sikka tidak dapat dibangun oleh individu-individu yang berjalan sendiri-sendiri. Masa depan itu harus dibangun melalui semangat kolektif, kerja sama, dan gotong royong.
Nilai-nilai tersebut sesungguhnya telah lama hidup dalam budaya masyarakat Flores.
Kini saatnya nilai-nilai itu dihidupkan kembali dalam bentuk yang lebih modern dan produktif melalui gerakan koperasi yang sehat, profesional, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama.
Apabila koperasi mampu bangkit dan menjadi kekuatan ekonomi rakyat, maka harapan akan lahirnya masyarakat Sikka yang lebih mandiri, sejahtera, dan bermartabat bukanlah sesuatu yang mustahil.
Pada akhirnya, memperingati Hari Koperasi berarti memperbarui komitmen untuk membangun ekonomi yang lebih berkeadilan.
Ekonomi yang tidak meninggalkan masyarakat kecil. Ekonomi yang bertumpu pada kekuatan rakyat. Ekonomi yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan.
Karena itu, pada peringatan Hari Koperasi Nasional tahun 2026 ini, marilah kita menghidupkan kembali semangat kebersamaan dan gotong royong sebagai fondasi pembangunan ekonomi daerah.
Sebab koperasi yang kuat akan melahirkan rakyat yang berdaya, dan rakyat yang berdaya akan membawa Kabupaten Sikka menuju masa depan yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.
Selamat Hari Koperasi Nasional, 12 Juli 2026.»
OPINI
Membangun SDM Unggul Dimulai dari Bantuan Belajar yang Tepat Sasaran

Oleh: Very Awales, S.Sos., M.Th.
Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang menentukan kualitas sumber daya manusia sekaligus masa depan suatu daerah. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Sikka menghadirkan Program Bantuan Belajar sebagai wujud keberpihakan kepada mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Program ini bukan sekadar memberikan bantuan biaya pendidikan, melainkan bagian dari strategi pemerintah dalam mempercepat penurunan kemiskinan dan membangun generasi muda yang berdaya saing.
Dalam pelaksanaan kebijakan publik, muncul pertanyaan mengapa tidak semua mahasiswa yang mendaftar akhirnya menerima bantuan. Pertanyaan tersebut merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Namun, jawabannya harus didasarkan pada data, regulasi, dan mekanisme yang berlaku, bukan pada persepsi ataupun asumsi.
Pada Tahun Anggaran 2025, sebanyak 80 mahasiswa ditetapkan sebagai calon penerima Bantuan Belajar melalui Keputusan Bupati Sikka Nomor 640/HK/2025 tentang Peserta Bantuan Belajar Tahun Anggaran 2025. Dari jumlah tersebut, bantuan akhirnya direalisasikan kepada 75 mahasiswa. Sementara itu, lima mahasiswa tidak dapat menerima bantuan karena tiga orang telah memperoleh KIP Kuliah Reguler sehingga tidak diperkenankan menerima bantuan ganda, sedangkan dua orang lainnya tidak melengkapi persyaratan administrasi hingga batas waktu yang ditentukan.
Sebagian masyarakat juga mempertanyakan mengapa jumlah mahasiswa yang diusulkan oleh perguruan tinggi, termasuk Universitas Nusa Nipa Maumere, jauh lebih banyak dibandingkan jumlah penerima yang akhirnya ditetapkan. Jawabannya sederhana. Pemerintah tidak bekerja berdasarkan keinginan siapa pun, melainkan berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan.
Saat ini pemerintah menggunakan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis resmi penentuan sasaran berbagai program bantuan sosial di Indonesia. Dalam sistem tersebut, masyarakat yang tergolong miskin berada pada Desil 1 hingga Desil 5, sedangkan Desil 6 hingga Desil 10 tidak termasuk kelompok sasaran prioritas.
Karena itu, apabila terdapat mahasiswa yang diusulkan oleh perguruan tinggi, tetapi setelah diverifikasi berada pada Desil 6 hingga Desil 10, maka yang bersangkutan tidak memenuhi persyaratan sebagai penerima Bantuan Belajar. Keputusan tersebut bukan merupakan pertimbangan subjektif Bupati ataupun tim verifikasi, melainkan konsekuensi dari regulasi nasional yang wajib dipatuhi oleh pemerintah daerah.
Ketentuan tersebut juga ditegaskan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Sikka Nomor 4 Tahun 2025 tentang Bantuan Belajar yang menetapkan bahwa sasaran program adalah masyarakat miskin. Pengaturannya kemudian diperjelas melalui Peraturan Bupati Sikka Nomor 23 Tahun 2025 yang menyelaraskan pelaksanaan program dengan penggunaan DTSEN sebagai data resmi pemerintah.
Dengan demikian, proses seleksi bukanlah bentuk diskriminasi, melainkan implementasi prinsip keadilan sosial. Keadilan tidak berarti semua orang menerima bantuan, tetapi memastikan bantuan diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.
Pemerintah Kabupaten Sikka juga terus berupaya meningkatkan kualitas pelaksanaan program. Apabila pada tahun 2025 penyusunan Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati baru selesai menjelang akhir tahun sehingga realisasi bantuan berlangsung pada bulan Desember dengan waktu yang terbatas, maka pelaksanaan tahun 2026 dipersiapkan jauh lebih baik.
AI Generatif dalam Pendidikan: Dari Alat Bantu Menuju Mitra Belajar
Sosialisasi telah dilakukan secara terbuka melalui media sosial resmi pemerintah, surat kepada seluruh kecamatan, serta pemberitahuan kepada perguruan tinggi. Dengan demikian, informasi mengenai program telah disampaikan secara luas. Apabila masih terdapat masyarakat yang belum mengetahuinya, hal tersebut menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya mengikuti informasi resmi pemerintah.
Antusiasme masyarakat terhadap program ini juga terus meningkat. Hingga saat ini, jumlah pendaftar Bantuan Belajar Tahun 2026 telah mencapai 441 mahasiswa. Pemerintah menargetkan sekitar 250 hingga 300 mahasiswa yang memenuhi kriteria Desil 1 sampai Desil 5 dapat menerima bantuan setelah seluruh tahapan seleksi selesai dilaksanakan.
Untuk menjamin akuntabilitas, proses seleksi tahun 2026 dilakukan lebih komprehensif. Tahapannya dimulai dari sosialisasi, pendaftaran, pemeriksaan administrasi, verifikasi berkas, dilanjutkan dengan verifikasi lapangan oleh tim yang turun langsung ke seluruh kecamatan guna memastikan kondisi riil calon penerima. Setelah itu, calon penerima mengikuti wawancara bersama tim seleksi dan psikolog sebelum nama-nama penerima ditetapkan melalui Keputusan Bupati.
Langkah tersebut menunjukkan keseriusan Pemerintah Kabupaten Sikka dalam menjaga integritas program. Anggaran publik harus dikelola secara bertanggung jawab agar benar-benar menjadi investasi bagi masa depan generasi muda yang membutuhkan.
Sebagai Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, saya meyakini bahwa pendidikan merupakan jalan paling efektif untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, tujuan tersebut hanya dapat tercapai apabila bantuan pendidikan disalurkan secara tepat sasaran, transparan, akuntabel, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah program tidak diukur dari banyaknya penerima bantuan, melainkan dari sejauh mana program tersebut mampu menghadirkan keadilan, menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan, serta melahirkan generasi Sikka yang cerdas, berkarakter, berdaya saing, dan siap membawa daerah ini menuju masa depan yang lebih maju dan sejahtera.»
OPINI
AI Generatif dalam Pendidikan: Dari Alat Bantu Menuju Mitra Belajar
Pendidikan tidak cukup hanya mengenalkan penggunaan AI, tetapi juga harus membangun literasi AI.

Oleh: Stefanus Bajo, S.Sos
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Kehadiran AI Generatif bukan lagi sekadar menghadirkan mesin pencari yang mampu menyediakan informasi, melainkan sebuah teknologi yang dapat menciptakan teks, gambar, video, hingga rancangan pembelajaran dalam hitungan detik. Perubahan ini menandai lahirnya babak baru pendidikan yang menuntut kesiapan guru, peserta didik, dan para pengambil kebijakan.
Bagi sebagian kalangan, AI masih dipandang sebagai ancaman yang dikhawatirkan akan mengurangi peran guru. Kekhawatiran tersebut dapat dipahami, namun sesungguhnya persoalan bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara manusia memanfaatkannya. AI tidak memiliki hati nurani, empati, maupun nilai-nilai moral. Semua itu tetap menjadi wilayah yang hanya dapat dihadirkan oleh seorang pendidik.
Di ruang kelas, AI Generatif justru membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru tidak lagi harus menghabiskan sebagian besar waktunya menyusun perangkat ajar dari awal. Modul ajar, rencana pembelajaran, instrumen penilaian, media pembelajaran, hingga soal evaluasi dapat disiapkan dengan lebih cepat. Waktu yang sebelumnya habis untuk pekerjaan administratif dapat dialihkan kepada hal yang jauh lebih penting, yakni mendampingi peserta didik, membangun karakter, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan menciptakan pembelajaran yang bermakna.
Di sisi lain, peserta didik memperoleh kesempatan belajar yang semakin personal. AI mampu menjelaskan materi dengan berbagai pendekatan sesuai kebutuhan siswa. Mereka yang masih mengalami kesulitan dapat memperoleh penjelasan yang lebih sederhana, sedangkan peserta didik yang memiliki kemampuan lebih cepat dapat diberikan tantangan yang lebih tinggi. Pembelajaran tidak lagi berjalan dengan pola “satu cara untuk semua”, melainkan semakin adaptif terhadap keberagaman kemampuan belajar.
7.646 Anak di Sikka Tidak Sekolah, Ribuan Masuk Kategori Putus Sekolah dan Belum Pernah Bersekolah
Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan baru. Kemampuan AI menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan sering kali membuat pengguna menerima informasi tanpa proses berpikir kritis. Jika digunakan secara serampangan, AI justru dapat melahirkan budaya instan, mengurangi kreativitas, bahkan membuka ruang bagi praktik plagiarisme. Oleh sebab itu, pendidikan tidak cukup hanya mengenalkan penggunaan AI, tetapi juga harus membangun literasi AI, yakni kemampuan memahami cara kerja teknologi, memverifikasi hasil yang dihasilkan, serta menggunakannya secara etis dan bertanggung jawab.
Dalam konteks Indonesia, terutama di daerah seperti Flores dan Kabupaten Sikka, AI Generatif menghadirkan peluang yang patut disambut. Keterbatasan akses terhadap buku, referensi, maupun pelatihan guru tidak lagi menjadi hambatan sebesar sebelumnya. Dengan dukungan teknologi, guru dapat menghasilkan materi pembelajaran yang lebih berkualitas tanpa harus bergantung pada sumber daya yang mahal. Jika didukung infrastruktur internet yang memadai serta peningkatan kompetensi digital para pendidik, kesenjangan mutu pendidikan antara daerah dan perkotaan dapat diperkecil secara bertahap.
Meski demikian, keberhasilan pemanfaatan AI tetap bergantung pada manusia. Guru tidak boleh kehilangan perannya sebagai pembimbing, teladan, sekaligus pembentuk karakter. Pendidikan sejatinya bukan hanya soal mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan kejujuran, tanggung jawab, empati, disiplin, kemampuan bekerja sama, dan nilai-nilai kemanusiaan. Semua itu tidak dapat diprogram ke dalam algoritma secanggih apa pun.
Karena itu, masa depan pendidikan tidak seharusnya dipahami sebagai pertarungan antara manusia dan kecerdasan buatan. Masa depan justru terletak pada kolaborasi keduanya. AI menghadirkan kecepatan, efisiensi, dan kemampuan mengolah data dalam skala besar. Manusia menghadirkan kebijaksanaan, nurani, kreativitas, dan kepekaan sosial. Ketika kedua kekuatan tersebut dipadukan secara seimbang, pendidikan akan menjadi lebih inklusif, adaptif, dan relevan dengan tantangan abad ke-21.
Pada akhirnya, AI Generatif hanyalah sebuah alat. Nilainya tidak ditentukan oleh kecanggihannya, melainkan oleh kebijaksanaan manusia dalam menggunakannya. Jika dimanfaatkan secara cerdas, beretika, dan bertanggung jawab, AI bukanlah ancaman bagi dunia pendidikan, melainkan mitra strategis untuk melahirkan generasi Indonesia yang unggul, kreatif, berkarakter, serta mampu bersaing di tengah perubahan global yang semakin cepat.»
OPINI
Di UGD, Semua Pangkat Dititipkan di Pintu Masuk
Dan kehidupan akan selalu lebih penting daripada siapa pun kita.

Oleh: Very Awales
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka
Tidak ada seorang dokter yang datang ke Unit Gawat Darurat untuk berperang. Mereka datang untuk menyelamatkan hidup orang lain.
Karena itu, ketika seorang dokter justru kehilangan hidupnya setelah menjalankan tugas kemanusiaan, duka yang kita rasakan seharusnya tidak berhenti sebagai belasungkawa. Ia semestinya berubah menjadi ruang perenungan: adakah yang sedang tidak baik-baik saja dalam cara kita memperlakukan tenaga kesehatan?
Peristiwa wafatnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau Icha Pakaenoni (27), dokter muda yang bertugas di Unit Gawat Darurat RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, menyisakan duka yang mendalam. Biarlah proses hukum berjalan sebagaimana mestinya dan fakta-fakta diungkap oleh pihak yang berwenang. Namun, di luar proses itu, ada satu pelajaran yang pantas kita renungkan bersama.
Rumah sakit bukan sekadar bangunan tempat orang berobat. Ia adalah ruang di mana kemanusiaan diuji setiap hari.
Di ruang gawat darurat, tidak ada penyakit yang bertanya siapa bupati, siapa kepala dinas, siapa anggota DPR, siapa pengusaha, atau siapa petani. Denyut nadi tidak mengenal pangkat. Sesak napas tidak memilih jabatan. Luka juga tidak membedakan status sosial.
Mungkin karena itulah rumah sakit menjadi satu-satunya tempat di mana semua pangkat seharusnya dititipkan di pintu masuk.
Begitu seseorang memasuki ruang pelayanan medis, yang hadir bukan lagi pejabat, tokoh masyarakat, ataupun orang yang memiliki kekuasaan. Yang ada hanyalah pasien, keluarga pasien, tenaga kesehatan, dan harapan agar kehidupan dapat diselamatkan.
Dokter dan tenaga kesehatan bekerja dengan satu bahasa yang sama: ilmu pengetahuan.
Mereka mengambil keputusan berdasarkan kondisi pasien, standar operasional prosedur, dan kode etik profesi. Kadang keputusan itu tidak selalu sesuai dengan harapan keluarga. Kadang harus menunggu. Kadang harus mendahulukan pasien lain yang kondisinya lebih kritis. Semua itu bukan karena pilih kasih, melainkan karena ilmu kedokteran memang mengajarkan demikian.
Karena itu, tekanan, intimidasi, atau intervensi terhadap tenaga kesehatan tidak pernah membantu mempercepat pelayanan. Sebaliknya, ia justru berpotensi mengganggu konsentrasi orang-orang yang sedang berjuang menyelamatkan nyawa.
Kita sering lupa bahwa seorang dokter di ruang gawat darurat mungkin baru saja menyelesaikan operasi berjam-jam, belum sempat minum, belum sempat beristirahat, tetapi tetap harus berdiri ketika ambulans berikutnya datang membawa pasien baru. Yang mereka hadapi bukan hanya penyakit, tetapi juga kecemasan keluarga, keterbatasan fasilitas, bahkan tidak jarang kemarahan orang-orang yang berharap keajaiban terjadi secepat mungkin.
Di tengah tekanan sebesar itu, hal terakhir yang mereka butuhkan adalah intimidasi.
Sebagai pejabat publik, saya justru percaya bahwa jabatan seharusnya mengajarkan kerendahan hati. Amanah yang diberikan masyarakat bukanlah tiket untuk memperoleh perlakuan istimewa, melainkan tanggung jawab untuk memberi teladan.
Kalau ada satu tempat yang paling tepat untuk menunjukkan keteladanan itu, rumah sakit adalah salah satunya.
Di sana, menghormati antrean adalah bentuk penghormatan kepada pasien lain. Menghormati keputusan dokter adalah bentuk penghormatan kepada ilmu pengetahuan. Menghormati tenaga kesehatan adalah bentuk penghormatan kepada kehidupan itu sendiri.
Masyarakat tentu memiliki hak memperoleh pelayanan yang cepat, baik, dan manusiawi. Hak itu harus dijamin. Namun, di saat yang sama, dokter, perawat, bidan, dan seluruh tenaga kesehatan juga memiliki hak untuk bekerja dalam suasana yang aman, tenang, dan bebas dari tekanan.
Hubungan antara masyarakat dan tenaga kesehatan tidak dibangun di atas rasa takut. Ia dibangun di atas kepercayaan.
Sebab kepercayaan adalah obat yang tidak pernah tertulis dalam resep, tetapi selalu hadir dalam setiap pelayanan kesehatan yang baik.
Peristiwa yang menimpa dr. Icha hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua, bukan hanya bagi tenaga kesehatan, melainkan juga bagi setiap orang yang suatu hari akan menjadi pasien atau keluarga pasien. Cepat atau lambat, hampir semua dari kita akan memasuki rumah sakit. Dan ketika hari itu tiba, kita tentu berharap bertemu dokter yang bekerja dengan tenang, profesional, dan sepenuh hati.
Karena itu, marilah kita menjaga rumah sakit tetap menjadi tempat di mana harapan lebih besar daripada ego, pelayanan lebih penting daripada privilese, dan kemanusiaan selalu berdiri di atas segala jabatan.
Sebab pada akhirnya, di ruang gawat darurat, waktu selalu lebih berharga daripada pangkat.
Dan kehidupan akan selalu lebih penting daripada siapa pun kita.»
-
NASIONAL9 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA11 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA10 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM11 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI12 months agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
