Connect with us

OPINI

Hari Koperasi Nasional 2026: Belajar dari Mondragon untuk Menghidupkan Kembali Koperasi di Kabupaten Sikka

Refleksi Hari Koperasi Nasional, 12 Juli 2026.

Published

on

Hari Koperasi Nasional 2026: Belajar dari Mondragon untuk Menghidupkan Kembali Koperasi di Kabupaten Sikka. ILUSTRASI: GARDAFLORES/DON NAVARO BARAN

Oleh: Stefanus Bajo, S.Sos

Tanggal 12 Juli kembali hadir sebagai momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk memperingati Hari Koperasi Nasional. Peringatan ini bukan sekadar mengenang lahirnya gerakan koperasi di Indonesia, tetapi juga menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan kembali cita-cita besar para pendiri bangsa yang menempatkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional.

Di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah: masihkah koperasi menjadi harapan bagi ekonomi rakyat? Ataukah koperasi perlahan kehilangan ruhnya dan hanya menjadi simbol yang diperingati setiap tahun?

Pertanyaan ini menjadi sangat relevan ketika kita melihat realitas kehidupan masyarakat di Kabupaten Sikka.

Sebagai daerah yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup pada sektor pertanian, perikanan, peternakan, perdagangan kecil, dan usaha mikro, Kabupaten Sikka sesungguhnya memiliki potensi ekonomi yang besar. Data pembangunan daerah menunjukkan bahwa sektor-sektor ekonomi rakyat masih menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat.

Namun di balik potensi tersebut, berbagai persoalan masih dihadapi masyarakat. Petani sering berhadapan dengan tingginya biaya produksi, keterbatasan modal, dan lemahnya akses pasar. Nelayan masih menghadapi fluktuasi harga dan keterbatasan sarana produksi. Pelaku Usaha kecil pun sering mengalami kesulitan memperoleh akses pembiayaan serta memperluas jaringan pemasaran.

Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang bekerja keras setiap hari, tetapi belum sepenuhnya menikmati hasil ekonomi yang layak.

Dalam konteks seperti inilah koperasi sesungguhnya menemukan relevansinya.

Bung Hatta, yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia, pernah mengatakan bahwa koperasi merupakan usaha bersama untuk memperbaiki nasib kehidupan ekonomi berdasarkan semangat tolong-menolong. Bagi Bung Hatta, koperasi bukan sekadar badan usaha, melainkan gerakan ekonomi rakyat yang dibangun di atas asas kekeluargaan dan keadilan sosial.

Filosofi tersebut sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Flores, termasuk masyarakat Kabupaten Sikka. Sejak dahulu, masyarakat kita hidup dalam budaya gotong royong, saling membantu, dan bekerja bersama untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam kehidupan sosial masyarakat Flores, nilai-nilai kebersamaan itu tampak dalam berbagai aktivitas, mulai dari mengerjakan kebun secara bersama, membangun rumah, membantu keluarga yang mengalami kesulitan, hingga berbagai tradisi sosial lainnya. Semangat inilah yang sesungguhnya menjadi roh utama koperasi.

Namun, perkembangan zaman membawa tantangan baru.

Arus globalisasi dan ekonomi pasar mendorong tumbuhnya pola hidup yang semakin individualistis. Persaingan ekonomi semakin ketat, sementara masyarakat kecil sering kali berada pada posisi yang lemah. Tidak sedikit petani menjual hasil panennya dengan harga murah, sementara keuntungan yang lebih besar justru dinikmati oleh mata rantai perdagangan yang lebih kuat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan kelembagaan ekonomi yang mampu memperkuat posisi mereka.

Di sinilah koperasi memiliki peran strategis.

Dunia memberikan banyak contoh mengenai keberhasilan koperasi dalam membangun kesejahteraan masyarakat. Salah satu yang paling terkenal adalah gerakan koperasi Mondragon di wilayah Basque, Spanyol.

Gerakan ini lahir dari pemikiran seorang imam Katolik, Pastor José María Arizmendiarrieta. Setelah melihat kemiskinan dan pengangguran pasca perang, ia meyakini bahwa pembangunan ekonomi harus berpusat pada manusia. Ia berpendapat bahwa manusia tidak boleh menjadi korban dari sistem ekonomi, tetapi justru harus menjadi tujuan utama pembangunan.

Filosofinya sederhana namun sangat mendalam:

Ekonomi harus melayani manusia, bukan manusia yang melayani ekonomi.

Berangkat dari pendidikan dan semangat solidaritas, gerakan Mondragon kemudian berkembang menjadi salah satu jaringan koperasi terbesar di dunia. Mereka berhasil membangun berbagai unit usaha di bidang industri, perdagangan, pendidikan, penelitian, dan jasa keuangan.

Keberhasilan Mondragon tidak semata-mata karena besarnya modal yang dimiliki, melainkan karena kekuatan nilai-nilai yang mereka bangun, yakni pendidikan, partisipasi, solidaritas, tanggung jawab bersama, dan rasa memiliki.

Pelajaran berharga inilah yang sesungguhnya dapat menjadi inspirasi bagi Kabupaten Sikka.

Sikka memiliki sumber daya alam yang melimpah. Pertanian hortikultura, perikanan, peternakan, perkebunan, pariwisata, dan ekonomi kreatif merupakan sektor-sektor yang menyimpan potensi besar untuk dikembangkan.

Namun, potensi tersebut membutuhkan kelembagaan ekonomi yang mampu menghimpun kekuatan masyarakat.

Bayangkan apabila para petani sayur, peternak, nelayan, pengrajin, dan pelaku UMKM dapat bergabung dalam koperasi yang sehat dan profesional. Mereka dapat membeli sarana produksi secara bersama dengan harga yang lebih murah, memperoleh akses permodalan yang lebih baik, memperkuat jaringan pemasaran, serta meningkatkan nilai tambah produk-produk lokal.

Koperasi juga dapat menjadi wadah untuk membangun industri pengolahan berbasis potensi daerah sehingga hasil pertanian dan perikanan tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.

Lebih dari itu, koperasi dapat membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam pembangunan ekonomi daerah.

Di tengah semakin terbatasnya lapangan pekerjaan formal, anak-anak muda Sikka perlu didorong untuk menjadi pelaku ekonomi yang kreatif dan inovatif. Koperasi modern berbasis digital dapat menjadi salah satu solusi untuk mengembangkan kewirausahaan sosial dan ekonomi kreatif.

Sayangnya, berbagai tantangan masih dihadapi dunia koperasi saat ini.

Sebagian koperasi belum dikelola secara profesional. Regenerasi kepemimpinan masih berjalan lambat. Pemanfaatan teknologi digital masih terbatas. Tidak sedikit koperasi yang kehilangan kepercayaan masyarakat karena lemahnya tata kelola dan minimnya transparansi.

Karena itu, revitalisasi koperasi menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak.

Pemerintah daerah perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap penguatan koperasi dan UMKM. Pendidikan perkoperasian perlu diperkuat. Pendampingan manajemen dan transformasi digital perlu terus didorong. Generasi muda juga harus diberikan ruang untuk terlibat aktif dalam gerakan koperasi.

Pada saat yang sama, masyarakat pun perlu membangun kembali kesadaran bahwa koperasi bukan sekadar tempat meminjam uang, melainkan rumah bersama untuk membangun kekuatan ekonomi rakyat.

Momentum Hari Koperasi Nasional pada 12 Juli 2026 hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.

Peringatan ini harus menjadi titik refleksi dan sekaligus titik kebangkitan.

Kita perlu kembali menghidupkan roh koperasi sebagai gerakan sosial ekonomi yang berlandaskan kebersamaan, solidaritas, dan keadilan.

Belajar dari Mondragon, kita memahami bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah-langkah kecil. Dari pendidikan, dari kepercayaan, dari kerja bersama, dan dari keyakinan bahwa kesejahteraan bersama lebih penting daripada keuntungan segelintir orang.

Masa depan ekonomi Kabupaten Sikka tidak dapat dibangun oleh individu-individu yang berjalan sendiri-sendiri. Masa depan itu harus dibangun melalui semangat kolektif, kerja sama, dan gotong royong.

Nilai-nilai tersebut sesungguhnya telah lama hidup dalam budaya masyarakat Flores.

Kini saatnya nilai-nilai itu dihidupkan kembali dalam bentuk yang lebih modern dan produktif melalui gerakan koperasi yang sehat, profesional, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama.

Apabila koperasi mampu bangkit dan menjadi kekuatan ekonomi rakyat, maka harapan akan lahirnya masyarakat Sikka yang lebih mandiri, sejahtera, dan bermartabat bukanlah sesuatu yang mustahil.

Pada akhirnya, memperingati Hari Koperasi berarti memperbarui komitmen untuk membangun ekonomi yang lebih berkeadilan.

Ekonomi yang tidak meninggalkan masyarakat kecil. Ekonomi yang bertumpu pada kekuatan rakyat. Ekonomi yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan.

Karena itu, pada peringatan Hari Koperasi Nasional tahun 2026 ini, marilah kita menghidupkan kembali semangat kebersamaan dan gotong royong sebagai fondasi pembangunan ekonomi daerah.

Sebab koperasi yang kuat akan melahirkan rakyat yang berdaya, dan rakyat yang berdaya akan membawa Kabupaten Sikka menuju masa depan yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.

Selamat Hari Koperasi Nasional, 12 Juli 2026.»

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

OPINI

Gempa Flores dan Politik Pencitraan: Tiba Masa, Tiba Akal

Gempa Flores kembali menempatkan perhatian negara dan tokoh politik di tengah sorotan publik. Namun, bagi Fransisco Soarez Pati, persoalan yang lebih mendasar adalah apakah perhatian tersebut berlanjut menjadi kebijakan, mitigasi, dan pembangunan yang konsisten.

Published

on

Gempa Flores dan Politik Pencitraan: Tiba Masa, Tiba Akal. ILUSTRASI: GARDAFLORES/DON NAVARO BARAN

Oleh: Fransisco Soarez Pati

Ungkapan tiba masa tiba akal menggambarkan kecenderungan perhatian politik yang baru menguat ketika sebuah persoalan telah menjadi peristiwa besar dan memperoleh sorotan publik. Selama masalah belum menjadi berita, berbagai persoalan dapat berlangsung tanpa perhatian yang memadai. Namun ketika bencana terjadi, korban berjatuhan, kerusakan terlihat, dan media nasional mulai menyorot, perhatian pun meningkat: pejabat datang, bantuan diumumkan, pernyataan disampaikan, dan berbagai pihak menunjukkan kepedulian. Dalam konteks gempa Flores, pola semacam ini patut dilihat secara kritis tanpa mengurangi penghormatan terhadap masyarakat yang sedang menghadapi tragedi.

Gempa adalah tragedi kemanusiaan dan kehadiran negara di tengah masyarakat yang terdampak merupakan kewajiban. Pejabat pemerintah memang harus turun ke lapangan untuk melihat kondisi, mengoordinasikan penanganan, memastikan bantuan berjalan, dan mengambil keputusan yang diperlukan. Karena itu, persoalannya bukan apakah seorang pejabat boleh datang ke lokasi bencana. Persoalan yang lebih penting adalah apakah perhatian tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab negara yang berkelanjutan atau hanya menjadi respons sesaat karena sebuah tragedi telah menarik perhatian publik. Tanggung jawab jabatan dan pencitraan politik adalah dua hal yang berbeda, meskipun dalam ruang publik keduanya sering kali sulit dipisahkan.

Pencitraan tidak dapat diukur hanya dari kehadiran seorang pejabat di lokasi bencana. Tidak setiap kunjungan adalah pencitraan, sebagaimana tidak setiap bantuan yang datang dari tokoh politik harus dicurigai memiliki kepentingan politik. Yang dapat dinilai adalah apa yang dilakukan, seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat, dan apakah tindakan tersebut berlanjut setelah perhatian media berkurang. Masalah muncul ketika penderitaan masyarakat lebih banyak menjadi latar komunikasi politik daripada dasar bagi kebijakan yang nyata; ketika dokumentasi mengenai pejabat lebih menonjol daripada kebutuhan korban; atau ketika perhatian berhenti setelah momentum pemberitaan berlalu.

PA GMNI NTT Salurkan Bantuan Gempa ke 23 Titik Pengungsian

Dalam beberapa hari setelah gempa, perhatian tokoh-tokoh politik nasional terhadap Flores memperlihatkan bagaimana sebuah bencana dapat dengan cepat menjadi perhatian politik. Ganjar Pranowo, misalnya, datang ke Labuan Bajo pada 16 Agustus 2026 bersama Tri Rismaharini dan sejumlah pengurus PDI Perjuangan, kemudian menemui warga terdampak di Desa Golo Sepang, Kecamatan Boleng, Manggarai Barat, dan membawa bantuan bagi pengungsi. Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, juga datang ke Nusa Tenggara Timur pada 21 Agustus dengan membawa bantuan yang dilaporkan mencapai Rp4,5 miliar untuk korban gempa Flores.

Kehadiran keduanya tidak layak dipersoalkan semata-mata karena mereka adalah tokoh politik. Bantuan kepada korban bencana tetap harus dihargai, dari mana pun datangnya. Namun kehadiran tersebut dapat menjadi contoh untuk melihat persoalan yang lebih besar: mengapa sebuah wilayah baru memperoleh perhatian politik nasional dengan begitu cepat setelah bencana terjadi? Pertanyaannya bukan mengapa Ganjar datang atau mengapa Dedi datang, melainkan mengapa perhatian terhadap Flores sering kali menjadi jauh lebih kuat ketika masyarakat telah berada dalam keadaan darurat dibandingkan ketika mereka menjalani kehidupan sehari-hari dengan berbagai persoalan pembangunan dan ketimpangan ekonomi yang sudah berlangsung lama.

Flores telah lama menghadapi tantangan geografis, keterbatasan konektivitas, persoalan infrastruktur, akses pelayanan dasar, kondisi ekonomi, dan berbagai kebutuhan pembangunan yang seharusnya menjadi bagian dari agenda negara dalam keadaan normal. Karena itu, perhatian terhadap Flores tidak seharusnya bersifat reaktif. Pemerintah seharusnya tidak menunggu bencana untuk mengetahui titik-titik kelemahan pembangunan. Infrastruktur yang aman, bangunan publik yang memenuhi standar, sistem komunikasi dan peringatan dini, kesiapan tenaga kesehatan, jalur evakuasi, pendidikan kebencanaan, serta kemampuan pemerintah daerah menangani keadaan darurat semestinya dipersiapkan sebelum masyarakat menjadi korban.

Gempa memang tidak dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat dikurangi. Di sinilah kualitas kebijakan publik diuji. Pemerintah tidak dapat mengendalikan kapan gempa terjadi, tetapi pemerintah dapat mempersiapkan masyarakat dan wilayah agar lebih tangguh ketika bencana datang. Jika kesiapsiagaan baru diperbincangkan setelah kerusakan terjadi, maka kita kembali pada persoalan tiba masa tiba akal: akal kebijakan baru bekerja setelah keadaan memaksa.

Golkar Ngada Kirim 7 Mobil Logistik untuk Korban Gempa

Karena itu, ukuran keberhasilan pemerintah tidak seharusnya berhenti pada kecepatan pejabat datang ke lokasi. Kehadiran di lapangan penting, tetapi jauh lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah kunjungan tersebut. Bantuan harus sampai kepada masyarakat yang membutuhkan, kerusakan harus didata secara benar, fasilitas publik harus dipulihkan, rumah masyarakat harus dibangun kembali dengan standar yang lebih aman, dan proses rehabilitasi harus diawasi secara transparan. Semua itu tidak dapat diselesaikan dalam satu kunjungan atau selama bencana masih menjadi berita.

Di sinilah media juga memiliki peran penting. Pemberitaan bencana seharusnya menempatkan korban dan kebutuhan masyarakat sebagai pusat perhatian, bukan menjadikan pejabat sebagai tokoh utama. Masyarakat perlu mengetahui siapa yang datang, tetapi mereka jauh lebih membutuhkan informasi mengenai bantuan yang tersedia, kondisi pengungsian, jumlah kerusakan, kebutuhan mendesak, proses rehabilitasi, dan langkah pemerintah setelah keadaan darurat berakhir. Jika pemberitaan terlalu berpusat pada kehadiran pejabat, maka substansi persoalan kemanusiaan dapat bergeser menjadi pertunjukan politik.

Hal yang sama berlaku bagi para pejabat dan tokoh politik. Mereka tentu berhak hadir, memberikan bantuan, dan menyampaikan kepedulian. Tetapi mereka juga memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menjadikan penderitaan masyarakat sebagai instrumen pembentukan citra. Kehadiran yang paling berarti bukanlah yang paling banyak diberitakan, melainkan yang menghasilkan kebijakan dan manfaat yang tetap dirasakan masyarakat setelah rombongan pergi dan kamera berhenti merekam.

Sebab bagi korban bencana, persoalan sesungguhnya baru dimulai setelah keadaan darurat berakhir. Rumah yang rusak harus dibangun kembali, anak-anak harus kembali ke sekolah, fasilitas kesehatan harus berfungsi, aktivitas ekonomi harus pulih, dan keluarga yang kehilangan tempat tinggal harus memperoleh kepastian mengenai masa depan. Proses tersebut membutuhkan anggaran, perencanaan, koordinasi, pengawasan, dan komitmen politik yang jauh lebih panjang daripada satu momentum kunjungan. Karena itu, perhatian terhadap Flores harus diukur dari kesinambungan kerja, bukan dari banyaknya tokoh yang datang ketika bencana sedang menjadi berita.

Bantuan Gempa Terus Berdatangan, BPBD Sikka Mulai Kewalahan Menampung Logistik

Pada akhirnya, tiba masa tiba akal seharusnya menjadi kritik terhadap pola kerja yang reaktif, bukan sekadar sindiran kepada individu tertentu. Akal kebijakan seharusnya hadir sebelum bencana; mitigasi harus dilakukan sebelum kerusakan; kesiapsiagaan harus dibangun sebelum kepanikan; dan perhatian terhadap masyarakat harus berlangsung sebelum mereka menjadi korban. Jika negara baru bergerak setelah tragedi terjadi, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya respons terhadap bencana, tetapi juga cara negara merencanakan pembangunan dan melindungi masyarakat dalam keadaan normal.

Flores bukan baru hari ini menghadapi persoalan. Sejarah panjang pulau ini menunjukkan bahwa kepentingan kekuasaan telah hadir jauh sebelum Indonesia berdiri. Sejak kedatangan dan pengaruh Portugis di Flores, terutama melalui pusat-pusat kekuasaan dan misi Katolik di kawasan Flores Timur, pulau ini telah menjadi bagian dari persaingan kepentingan politik, ekonomi, agama, dan kekuasaan yang berlangsung selama berabad-abad. Setelah Portugis, kekuasaan kolonial Belanda dan kemudian pemerintahan Indonesia melanjutkan babak sejarah yang berbeda. Namun masyarakat Flores tetap menjadi pihak yang harus menjalani berbagai perubahan kekuasaan tersebut.

Karena itu, ironis apabila Flores hari ini kembali menjadi pusat perhatian justru setelah bencana terjadi. Perhatian tersebut seharusnya datang karena kesadaran untuk membangun, bukan karena tragedi telah lebih dahulu memaksa negara untuk melihatnya. Jangan sampai bencana datang mendahului pembangunan, sementara pemerintah baru datang setelah penderitaan masyarakat menjadi berita.

Flores tidak membutuhkan perhatian yang baru muncul ketika bencana telah terjadi. Flores membutuhkan kebijakan yang hadir sebelum bencana, pembangunan yang berpihak kepada masyarakat, dan negara yang tetap bekerja ketika sorotan publik telah berpindah.

Sebab tiba masa tiba akal tidak seharusnya berarti akal baru bekerja setelah tragedi datang.

Kebijakan dan tanggung jawab negara semestinya hadir lebih awal melalui perencanaan yang matang, pembangunan yang berkelanjutan, pencegahan yang sungguh-sungguh, dan perlindungan yang nyata bagi masyarakat.»

Continue Reading

OPINI

Perse Ende ke Final, Sepak Bola NTT Jangan Berhenti pada Euforia

Kristianus dan Gabriel sudah menjawab di lapangan. Kini saatnya sistem pembinaan menjawab: ke mana talenta-talenta muda itu akan dibawa setelah sorotan turnamen berakhir?

Published

on

Perse Ende ke Final, Sepak Bola NTT Jangan Berhenti pada Euforia. FOTO/REPRO: IST

Oleh: Karel Pandu

Perse Ende lolos ke final Piala Suratin 2026 setelah melewati pertandingan dramatis melawan Citra Bakti Ngada. Kemenangan 6-5 melalui adu penalti di Stadion Gelora Samador da Cunha, Maumere, membuat para pemain berpelukan, pendukung bersorak, dan nama Kristianus Gavril Fua Mana serta Gabriel Spagnaly Riwu menjadi buah bibir setelah keduanya memainkan peran penting dalam drama di titik putih. Tentu saja, kemenangan tersebut layak dirayakan. Namun, justru setelah sebuah prestasi besar, kita perlu sedikit menahan diri dari euforia dan mulai melihat persoalan yang lebih besar di balik pertandingan itu.

Sebab ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada siapa yang akan mengangkat trofi pada 14 Agustus nanti: setelah Piala Suratin selesai, ke mana anak-anak muda ini akan dibawa? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya dapat menentukan apakah sepak bola NTT benar-benar sedang membangun masa depan atau hanya menikmati satu episode kebahagiaan sebelum kembali menunggu turnamen berikutnya.

Jangan Terlalu Cepat Menyebut Ini Kebangkitan

Kita sering melakukan kesalahan yang sama. Satu tim menang, kita menyebutnya kebangkitan; seorang pemain tampil menonjol, kita buru-buru menyebutnya calon bintang; sebuah turnamen menghasilkan prestasi, kita mengatakan pembinaan mulai berjalan. Padahal kebangkitan sepak bola tidak pernah ditentukan oleh satu pertandingan, bahkan tidak semata-mata oleh satu gelar. Kebangkitan seharusnya terlihat dari sesuatu yang jauh lebih penting: apa yang terjadi setelah pertandingan selesai?

Apakah pemain muda tetap mendapatkan kesempatan berlatih dan bertanding? Apakah kualitas pelatih terus ditingkatkan? Apakah klub mempunyai rencana pengembangan pemain? Apakah ada jalur yang memungkinkan pemain usia muda naik ke level berikutnya? Dan apakah ada sistem yang mampu menemukan pemain-pemain lain yang belum mendapatkan kesempatan seperti Kristianus dan Gabriel?

Kalau semua pertanyaan itu belum memiliki jawaban yang jelas, terlalu dini menyebut satu final sebagai tanda kebangkitan sepak bola NTT. Kita bisa saja sedang merayakan hasil, sementara proses pembinaannya masih berjalan di tempat.

Kristianus dan Gabriel Adalah Ujian bagi Kita

Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Perse Ende menuju final. Di tengah pertandingan yang berlangsung ketat, dua anak muda muncul pada momen yang menentukan. Kristianus Gavril Fua Mana, pelajar SMAK Syuradikara, menjadi penjaga gawang yang menggagalkan eksekusi penalti pada fase sudden death, sementara Gabriel Spagnaly Riwu, pelajar SMK Negeri 3 Ekoae, kemudian maju sebagai eksekutor dan menuntaskan peluang yang membawa Perse Ende ke final.

Mereka bermain sepak bola, menjalankan tugas, tampil pada saat yang dibutuhkan, kemudian nama mereka masuk berita. Tetapi justru di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Jangan sampai Kristianus dan Gabriel hanya menjadi headline selama beberapa hari, ramai dibicarakan ketika Piala Suratin berlangsung, lalu perlahan hilang ketika lampu stadion padam dan turnamen berakhir. Sebab persoalannya bukan hanya apakah Kristianus dan Gabriel kelak menjadi pemain besar, melainkan apakah kita memiliki sistem yang mampu mengawal pemain seperti mereka sejak usia muda hingga menemukan level permainan yang lebih tinggi.

Di belakang mereka mungkin ada puluhan, bahkan ratusan anak lain yang memiliki kemampuan serupa. Mereka mungkin berada di sekolah, di kampung, di lapangan desa atau di klub-klub kecil yang jauh dari sorotan. Mereka mungkin belum ditemukan bukan karena tidak memiliki kemampuan, tetapi karena belum memperoleh kesempatan. Maka pertanyaan kita seharusnya bukan hanya, “Siapa pemain terbaik hari ini?”, melainkan juga, siapa yang akan mencari pemain terbaik berikutnya?

Talenta Ada, yang Kita Butuhkan adalah Jalan

Selama ini, pembicaraan mengenai sepak bola NTT sering berakhir pada satu kalimat: daerah ini memiliki banyak talenta. Mungkin benar. Tetapi talenta saja tidak cukup. Seorang anak bisa memiliki bakat luar biasa, namun tanpa latihan yang benar, kompetisi yang cukup, pelatih yang baik dan lingkungan yang mendukung, bakat tersebut dapat berhenti sebagai kemampuan yang tidak pernah berkembang.

Di sinilah pembinaan menjadi penting. Pemain muda tidak hanya membutuhkan kesempatan bermain dalam satu turnamen, tetapi membutuhkan kesinambungan. Mereka membutuhkan pertandingan yang membuat kemampuan terus teruji, pelatih yang mampu memperbaiki kekurangan, klub yang melihat pemain muda bukan sekadar amunisi untuk memenangkan turnamen hari ini, melainkan investasi untuk beberapa tahun ke depan, serta jalur yang jelas apabila kemampuan mereka sudah melampaui level kompetisi yang sedang diikuti.

Piala Suratin semestinya menjadi bagian dari perjalanan tersebut, bukan seluruh perjalanan. Kalau seorang pemain muda baru mendapatkan panggung ketika Piala Suratin digelar, kemudian kembali kehilangan panggung setelah turnamen selesai, kita perlu bertanya apakah kompetisi itu benar-benar menjadi bagian dari sistem pembinaan atau hanya menjadi agenda tahunan.

Pemerintah Tidak Harus Bermain, tetapi Bisa Menciptakan Ekosistem

Di titik ini, pemerintah daerah juga tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari pembicaraan. Bukan berarti semua persoalan sepak bola harus dibebankan kepada pemerintah. Klub mempunyai tanggung jawab, organisasi sepak bola mempunyai peran, pelatih mempunyai tanggung jawab, sementara sekolah dan keluarga juga memiliki ruang masing-masing. Namun pemerintah mempunyai kemampuan untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan olahraga tumbuh, mulai dari lapangan yang layak, fasilitas latihan, kompetisi antarsekolah, dukungan terhadap pembinaan usia dini, peningkatan kapasitas pelatih hingga kebijakan yang tidak hanya melihat olahraga ketika sebuah tim berhasil membawa pulang medali.

Pemerintah tidak harus menjadi pengelola klub, tetapi pemerintah dapat memastikan anak-anak memiliki tempat untuk berlatih, bertanding dan berkembang. Itu dua hal yang berbeda.

Organisasi Sepak Bola Perlu Menjawab dengan Program

Hal yang sama berlaku bagi organisasi sepak bola dan klub. Publik tentu berhak bertanya tentang arah pembinaan, bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan, tetapi untuk mengetahui apakah prestasi yang muncul hari ini mempunyai kelanjutan. Apakah ada pemetaan pemain muda? Apakah kompetisi usia dini dan remaja berjalan secara berkelanjutan? Apakah ada peningkatan kualitas pelatih? Apakah pemain yang tampil di Piala Suratin mempunyai jalur menuju kompetisi yang lebih tinggi?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar siapa yang menjadi juara dalam satu turnamen. Sebab jika kita benar-benar ingin membangun sepak bola, investasi harus datang sebelum prestasi, bukan sesudahnya. Kita tidak bisa baru ramai berbicara tentang pembinaan setelah seorang pemain muncul sebagai pahlawan. Pembinaan justru harus berlangsung ketika tidak ada kamera, tidak ada sorotan, tidak ada penonton dan tidak ada trofi yang diperebutkan. Di sanalah kualitas sebuah sistem sebenarnya diuji.

Jangan Tanamkan kepada Anak Muda bahwa Juara Daerah adalah Puncak

Sepak bola NTT juga membutuhkan perubahan cara pandang. Menang melawan daerah lain memang membanggakan dan menjadi juara turnamen tentu patut dirayakan, tetapi jangan sampai anak-anak muda kita menganggap bahwa menjadi juara di level daerah merupakan puncak perjalanan mereka. Justru seharusnya itu menjadi awal.

Kalau seorang pemain memiliki kualitas, mengapa kita tidak mendorongnya bermimpi bermain di level nasional? Mengapa tidak membangun keberanian untuk mengejar kompetisi profesional? Mengapa tidak membuka kemungkinan bermain di luar daerah, bahkan di luar negeri, jika kemampuan dan kesempatan memungkinkan? Mimpi seorang anak muda tidak boleh lebih kecil hanya karena ia lahir di daerah.

Perse Ende bisa menjadi contoh bahwa pemain dari Ende mampu tampil di panggung yang lebih besar. Namun mimpi yang besar membutuhkan sistem yang juga cukup kuat untuk menopangnya.

Final 14 Agustus Bukan Akhir Cerita

Untuk saat ini, tentu saja Perse Ende harus menyelesaikan pekerjaannya. Final tetaplah final. Siapa pun lawannya nanti—Persami Maumere atau BMP Flores Timur—Perse Ende harus bertanding dengan keyakinan bahwa mereka memang layak berada di sana. Mereka tidak perlu merasa sebagai tim yang sekadar beruntung lolos, sebab mereka sudah melewati pertandingan, tekanan dan situasi sulit untuk mencapai titik tersebut.

Jika akhirnya trofi berhasil dibawa pulang, seluruh masyarakat Ende tentu berhak merayakannya. Namun setelah pesta selesai, jangan biarkan trofi itu hanya menjadi benda yang dipajang di lemari. Jadikan prestasi tersebut sebagai alasan untuk memperbanyak kompetisi usia muda, memperbaiki fasilitas, meningkatkan kualitas pelatih, memperkuat klub dan, yang paling penting, membangun keyakinan di kalangan anak-anak muda NTT bahwa sepak bola bukan hanya permainan yang bisa membuat mereka terkenal, tetapi juga jalan yang dapat membawa mereka menuju masa depan.

Jangan Hanya Bertanya Siapa yang Menang

Kita sebagai masyarakat juga perlu bercermin. Apakah kita benar-benar mendukung sepak bola, atau kita hanya mendukung ketika tim menang? Mendukung ketika stadion penuh dan kamera menyala adalah hal yang mudah. Yang jauh lebih sulit adalah membangun sistem ketika tidak ada yang sedang memperhatikan.

Karena itu, keberhasilan Perse Ende mencapai final seharusnya tidak hanya melahirkan pertanyaan tentang siapa yang akan menjadi juara. Ia seharusnya membuka percakapan yang lebih besar: apa yang akan kita lakukan terhadap anak-anak muda yang sudah menunjukkan bahwa mereka mampu?

Kristianus dan Gabriel sudah menjawab pertanyaan itu di lapangan. Mereka menunjukkan keberanian, ketenangan dan kemampuan pada saat yang menentukan. Sekarang giliran sistem di belakang mereka yang menjawab.

Sepak Bola NTT Tidak Kekurangan Anak Berbakat

Mungkin inilah hal yang paling perlu kita renungkan. Persoalan sepak bola NTT belum tentu semata-mata karena kita kekurangan bakat. Bisa jadi kita terlalu sering gagal mengurus bakat yang sudah kita punya.

Itu jauh lebih menyakitkan.

Sebab setiap kali seorang anak berbakat berhenti bermain karena tidak ada kompetisi, tidak ada fasilitas, tidak ada pendampingan atau tidak melihat jalan untuk melanjutkan kariernya, yang hilang bukan hanya seorang pemain. Yang hilang adalah sebuah kemungkinan.

Perse Ende kini berada di depan pintu final. Mereka boleh mengejar trofi, bahkan wajib memperjuangkannya. Tetapi di balik final itu ada pekerjaan yang jauh lebih panjang: bagaimana membuat Kristianus, Gabriel dan pemain-pemain muda lainnya tidak menjadi cerita yang hanya kita ingat dari satu turnamen, serta bagaimana memastikan bahwa setelah Piala Suratin selesai, perjalanan mereka justru dimulai.

Sebab satu kemenangan memang bisa membuat kita bangga dan satu trofi bisa membuat satu daerah berpesta. Namun hanya sistem pembinaan yang sehat yang bisa membuat prestasi itu bertahan dan melahirkan generasi berikutnya.

Dan mungkin, itulah kemenangan yang sesungguhnya sedang kita tunggu dari sepak bola NTT.»

Continue Reading

OPINI

Dari Rakalaba ke Panggung Dunia: Ketika Anak Muda Flores Tidak Mau Hanya Menjadi Penonton Pariwisata

Pariwisata Flores tidak cukup hanya mendatangkan wisatawan. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan masyarakat lokal, terutama anak muda, ikut menjadi pelaku dan pemilik nilai ekonomi dari industri yang tumbuh di tanah mereka sendiri.

Published

on

Dari Rakalaba ke Panggung Dunia: Ketika Anak Muda Flores Tidak Mau Hanya Menjadi Penonton Pariwisata. FOTO: DOK PRI PTNFT

Oleh: Tim GardaFlores

Flores tidak pernah kekurangan keindahan. Yang masih menjadi pekerjaan besar adalah bagaimana keindahan itu diubah menjadi kekuatan ekonomi yang dikelola, dinikmati, dan dikembangkan oleh masyarakat yang hidup di atas tanahnya sendiri.

Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika pariwisata Nusa Tenggara Timur terus berkembang. Labuan Bajo dan Komodo telah menjadi nama yang dikenal dunia. Kelimutu terus menarik perhatian wisatawan. Kampung-kampung adat, lanskap pegunungan, laut, budaya, dan kehidupan masyarakat Flores menyimpan potensi yang seolah tidak pernah habis untuk diceritakan.

Tetapi ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar berapa banyak wisatawan datang ke Flores: berapa besar nilai ekonomi dari kedatangan mereka yang benar-benar tinggal dan berputar di Flores?

Sebab sebuah daerah bisa menjadi destinasi wisata yang terkenal tanpa masyarakat lokal otomatis menjadi pemain utama dalam industrinya.

Wisatawan datang. Hotel tumbuh. Restoran berkembang. Agen perjalanan menawarkan paket. Transportasi bergerak. Uang berputar.

Tetapi siapa yang menguasai rantai nilai tersebut?

Pertanyaan itulah yang membuat kisah Crispim Alexander Ratu, atau Kris Ratu, dari Rakalaba, Kecamatan Golewa Barat, Kabupaten Ngada, menjadi menarik untuk dibicarakan lebih jauh.

Kris bukan lahir dari pusat industri pariwisata. Ia tidak memulai usaha dari Labuan Bajo, bukan pula dari kota besar dengan ekosistem bisnis yang sudah mapan. Ia datang dari sebuah kampung di Ngada.

Dari tempat itulah ia membangun PT Nusa Flores Travel dan mencoba membawa potensi pariwisata Flores masuk ke ruang yang lebih luas.

Yang menarik bukan semata-mata bahwa Kris memiliki usaha perjalanan wisata. Yang lebih penting adalah pilihan yang berada di balik usaha tersebut: memilih menjadi pelaku di tanah sendiri ketika banyak anak muda daerah justru melihat keluar sebagai satu-satunya jalan menuju masa depan.

Pilihan itu patut diapresiasi, tetapi tidak perlu dipuja secara berlebihan. Sebab membangun bisnis pariwisata dari daerah bukan pekerjaan sederhana.

Ada persoalan akses, infrastruktur, sumber daya manusia, jaringan pasar, promosi, standar pelayanan, modal, teknologi, hingga kemampuan membangun kepercayaan wisatawan dari berbagai negara. Apalagi industri pariwisata adalah industri kepercayaan.

Wisatawan tidak hanya membeli tiket atau paket perjalanan. Mereka menyerahkan waktu, uang, kenyamanan, bahkan keselamatan kepada operator yang mereka pilih.

Karena itu, seorang pelaku usaha lokal tidak cukup hanya mengenal destinasi. Ia harus mampu membangun pelayanan yang profesional, memahami kebutuhan pasar, menjaga keselamatan wisatawan, mengelola bisnis secara sehat, dan pada saat yang sama tidak kehilangan identitas lokal yang menjadi kekuatan utama Flores.

Di sinilah tantangan Kris dan pelaku usaha lokal lainnya sesungguhnya berada.

Flores tidak membutuhkan lebih banyak orang yang sekadar mengatakan bahwa daerah ini indah. Flores membutuhkan lebih banyak orang yang mampu mengubah keindahan itu menjadi produk, pengalaman, lapangan pekerjaan, dan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Sebab selama ini kita terlalu sering melihat pariwisata dari sisi jumlah kunjungan. Berapa wisatawan datang? Berapa hotel tersedia? Berapa event digelar? Berapa destinasi dipromosikan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang penting. Tetapi ada pertanyaan yang tidak kalah penting dan sering luput: berapa banyak anak muda Flores yang menjadi pemilik usaha di dalam rantai industri tersebut?

Berapa banyak masyarakat lokal yang menjadi pengelola perjalanan?

Berapa banyak produk lokal masuk ke rantai pasok hotel dan restoran?

Berapa banyak uang wisatawan yang benar-benar berputar di desa-desa?

Dan berapa banyak anak muda yang melihat pariwisata bukan sekadar sebagai pekerjaan sementara, melainkan sebagai industri yang bisa mereka bangun dan kuasai?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu belum mendapat jawaban yang memuaskan, maka kita belum selesai berbicara tentang pembangunan pariwisata. Kita baru selesai berbicara tentang promosi destinasi.

Kris Ratu menunjukkan bahwa ada kemungkinan lain.

Potensi daerah tidak harus selalu menunggu investor dari luar untuk menjadi kekuatan ekonomi. Anak muda lokal pun dapat mengambil posisi, membangun usaha, mencari pasar, dan membawa cerita daerahnya sendiri kepada dunia.

Flores: Kedalaman yang Membentuk Peradaban—Dari Kelimutu hingga Pancasila

Tentu saja, satu perusahaan tidak akan mengubah wajah pariwisata Flores.

Kris juga tidak perlu ditempatkan sebagai jawaban atas seluruh persoalan pariwisata di daerah ini. Justru di situlah kita harus melihat kisahnya secara lebih jernih.

Kris adalah contoh kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar: lahirnya keberanian anak muda daerah untuk berhenti menjadi penonton.

Rakalaba mungkin bukan nama yang setiap hari disebut dalam peta pariwisata nasional. Tetapi dari tempat kecil itu, seseorang bisa memiliki mimpi yang melampaui batas geografis kampungnya.

Ini penting. Sebab selama bertahun-tahun, pembangunan sering kali membuat anak muda daerah percaya bahwa masa depan berada di luar.

Pergilah ke Surabaya. Pergilah ke Jakarta. Pergilah ke Bali. Carilah pekerjaan. Kumpulkan pengalaman. Dan suatu hari, mungkin kembali.

Kris memilih jalan yang berbeda. Ia melihat tanah kelahirannya bukan hanya sebagai tempat untuk pulang, tetapi sebagai tempat yang bisa menjadi sumber kehidupan.

Tentu jalan tersebut jauh lebih berat. Membangun usaha dari daerah berarti membangun hampir semuanya dari awal. Jaringan harus dicari. Pasar harus diyakinkan. Kualitas harus dibuktikan. Kepercayaan harus dibangun perlahan.

Tetapi justru karena itulah keberadaan pelaku lokal menjadi penting. Sebab pariwisata yang sehat seharusnya tidak hanya membuat wisatawan mengenal Flores. Pariwisata juga harus membuat masyarakat Flores memiliki alasan ekonomi untuk mempertahankan alam, budaya, dan ruang hidup mereka.

Di sinilah hubungan antara pariwisata dan kesejahteraan menjadi penting. Ketika masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang nyata dari pariwisata, mereka memiliki kepentingan yang lebih kuat untuk menjaga destinasi.

Budaya tidak hanya dipertahankan sebagai pertunjukan untuk wisatawan, tetapi sebagai identitas yang memiliki nilai.

Lingkungan tidak hanya dilihat sebagai latar belakang foto, tetapi sebagai modal ekonomi yang harus dijaga.

Desa tidak hanya menjadi lokasi kunjungan, tetapi menjadi bagian dari rantai nilai. Dan anak muda tidak hanya menjadi pemandu atau pekerja, tetapi juga memiliki kesempatan menjadi pemilik usaha.

Itulah arah yang semestinya diperjuangkan. Flores tidak kekurangan destinasi. Flores juga tidak kekurangan cerita. Yang masih harus diperkuat adalah kemampuan mengelola cerita tersebut menjadi kekuatan ekonomi lokal.

Flores Tidak Kekurangan Budaya, Kita Kekurangan Cara Menceritakannya

Karena memiliki destinasi tidak sama dengan memiliki industri. Memiliki keindahan tidak otomatis berarti memiliki kesejahteraan.

Dan menjadi terkenal sebagai tujuan wisata tidak otomatis membuat masyarakat lokal menjadi pemenang dalam industri pariwisata.

Di sinilah pemerintah, pelaku usaha, komunitas, lembaga pendidikan, dan masyarakat harus melihat persoalan secara lebih serius.

Anak muda yang memilih membangun usaha di daerah membutuhkan ekosistem. Mereka membutuhkan akses pembiayaan, pelatihan, digitalisasi, jaringan pemasaran, peningkatan kemampuan bahasa asing, sertifikasi, pendampingan bisnis, serta akses yang lebih luas ke pasar internasional.

Kalau kita ingin lebih banyak Kris Ratu lahir dari kampung-kampung di Flores, maka yang dibutuhkan bukan sekadar slogan tentang kewirausahaan anak muda.

Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang membuat keberanian itu memiliki peluang untuk bertahan. Sebab keberanian memulai adalah satu hal. Kemampuan mempertahankan dan membesarkan usaha adalah hal yang lain.

PT Nusa Flores Travel pada akhirnya akan diuji bukan hanya oleh seberapa banyak wisatawan yang berhasil dibawa ke Flores, tetapi oleh seberapa profesional perusahaan itu berkembang, seberapa luas jaringan yang dibangun, seberapa kuat kepercayaan pelanggan dipertahankan, dan seberapa besar manfaat ekonominya dapat dirasakan oleh masyarakat lokal.

Itulah ujian sebenarnya. Dan ujian itu berlaku bagi semua pelaku usaha pariwisata lokal. Kita tidak membutuhkan pariwisata yang hanya ramai di media sosial. Kita membutuhkan pariwisata yang menciptakan pekerjaan.

Kita membutuhkan wisatawan yang tinggal lebih lama, membelanjakan uangnya lebih banyak di komunitas lokal, dan membawa pulang pengalaman yang membuat mereka ingin kembali.

Kita membutuhkan produk lokal yang masuk ke rantai pasok industri. Kita membutuhkan anak muda yang bukan hanya bekerja di sektor pariwisata, tetapi berani memiliki dan memimpin usaha pariwisata.

Dan kita membutuhkan model pembangunan pariwisata yang membuat masyarakat lokal menjadi bagian utama, bukan sekadar pelengkap.

Karena pada akhirnya, persoalan pariwisata Flores bukan hanya bagaimana membawa dunia datang ke sini. Persoalan yang jauh lebih besar adalah bagaimana ketika dunia datang, masyarakat Flores tidak hanya berdiri di pinggir jalan menyaksikan.

Mereka harus menjadi tuan rumah. Mereka harus menjadi pelaku. Mereka harus menjadi pemilik nilai ekonomi yang lahir dari tanahnya sendiri.

Dari Rakalaba, Kris Ratu mungkin baru menulis satu paragraf kecil dalam cerita panjang pariwisata Flores.

Tetapi paragraf itu penting. Ia menunjukkan bahwa mimpi besar tidak selalu harus dimulai dari kota besar. Ia bisa dimulai dari kampung. Ia bisa dimulai dari keterbatasan. Dan ia bisa dimulai dari seorang anak muda yang memilih untuk tidak pergi, melainkan mencoba membangun sesuatu di tanah kelahirannya.

Flores memang membutuhkan dunia untuk datang. Tetapi Flores juga harus memastikan bahwa ketika dunia datang, semakin banyak anak-anak Flores yang berdiri di depan—bukan sebagai penonton, melainkan sebagai orang yang ikut menentukan bagaimana cerita tentang tanah mereka ditulis.

Sebab pariwisata terbaik bukanlah pariwisata yang hanya membuat sebuah daerah terkenal.

Pariwisata terbaik adalah pariwisata yang membuat masyarakat di daerah itu ikut tumbuh.

Dan mungkin, dari Rakalaba, kita sedang melihat awal dari pertanyaan yang lebih besar:

Bisakah anak muda Flores berhenti hanya menjadi objek dari industri pariwisata dan mulai menjadi kekuatan utama yang menggerakkannya?

Jawabannya tidak akan ditentukan oleh satu orang. Tetapi keberanian orang-orang seperti Kris Ratu menunjukkan bahwa pintunya sudah terbuka.»

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending