Connect with us

HUKRIM

Restorative Justice ke-11 Kejari Sikka: Jalan Damai atau Celah Menghapus Jerat Hukum?

Kasus-kasus penganiayaan ringan, Restorative Justice memang sering menjadi jalan tengah.

Published

on

Restorative Justice (RJ) di Kejari Sikka bagi tersangka Murdin alias Ateng, yang sebelumnya dijerat Pasal 351 ayat (1) KUHP tentang penganiayaan, Selasa 9 Desember 2025. (GARDAFLORES/KAREL PANDU)

Maumere, GardaFlores — Kejaksaan Negeri Sikka kembali menghentikan penuntutan perkara pidana melalui mekanisme Restorative Justice (RJ). Kali ini tersangka Murdin alias Ateng, yang sebelumnya dijerat Pasal 351 ayat (1) KUHP tentang penganiayaan, menjadi nama ke-11 yang masuk daftar penyelesaian perkara tanpa proses peradilan sepanjang tahun 2025.

Di balik penghentian penuntutan ini, muncul sejumlah pertanyaan publik tentang konsistensi, akuntabilitas, hingga transparansi penerapan RJ di Sikka.

Keputusan penghentian penuntutan ini telah disetujui Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) RI, Prof. Dr. Asep Nanang Mulyana, pada 8 Desember 2025 setelah serangkaian ekspose dan verifikasi dari Kejari Sikka. Selang sehari kemudian, 9 Desember, Kejari Sikka menyerahkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) kepada korban dan tersangka.

Tiga Terpidana Kembalikan Rp 621 Juta, Kasus RS Doreng Paling Mencolok

Restorative Justice: Damai Tulus atau Kompromi?

Dalam rilis resminya, Kejari Sikka menegaskan bahwa penghentian perkara dilakukan setelah terpenuhinya seluruh syarat Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020: adanya perdamaian tulus, permintaan penyelesaian dari korban, tersangka belum pernah dihukum, serta ancaman hukuman yang memenuhi batas mekanisme RJ.

Sejumlah aktivis hukum di Maumere menilai, praktik RJ kerap meninggalkan ruang kelabu: apakah “perdamaian tulus” benar-benar lahir dari kerelaan, atau justru tekanan sosial, relasi kuasa, atau kompromi yang tidak sepenuhnya transparan?

Kajari Sikka Armadha Tangdibali, SH.,MH. (tengah) memberikan keterangan kepada awak media terkait Restorative Justice ke-11 di Kantor Kejaksaan di Maumere. (GARDAFLORES/KAREL PANDU)

Sumber internal yang enggan disebutkan namanya menyebutkan bahwa dalam kasus-kasus penganiayaan ringan, RJ memang sering menjadi jalan tengah. Tetapi tidak jarang terjadi mediasi berjalan dengan ketidakseimbangan posisi antara pelaku dan korban, terutama dalam masyarakat kecil yang memiliki tingkat ketergantungan sosial tinggi.

Mediasi Penal Dijaga Ketat, Tapi Minim Pengawasan Publik

Kejari Sikka menyebut bahwa mediasi penal (merujuk pada sesuatu yang berkaitan dengan hukum) difasilitasi oleh Jaksa Penuntut Umum untuk menjaga harmonisasi sosial dan ketenteraman masyarakat. Namun, publik tidak pernah mengetahui bagaimana proses mediasi berjalan, apakah benar dilakukan tanpa tekanan, serta apakah korban memperoleh pendampingan hukum independen.

Kritik lainnya adalah proses RJ di Sikka nyaris tak pernah melibatkan pemantauan dari lembaga eksternal seperti lembaga perlindungan saksi dan korban.

Pasar Wuring Ditutup: Pemerintah Bersikeras, Pedagang Menolak Tunduk

RJ Ke-11 Tahun Ini: Komitmen Humanis atau untuk Mengurangi Beban Perkara?

Dengan pencapaian 11 penghentian penuntutan melalui RJ, Kejari Sikka menegaskan komitmennya terhadap penegakan hukum yang lebih humanis dan mengutamakan pemulihan sosial. Namun angka yang terus meningkat ini juga memantik diskusi: apakah RJ digunakan murni sebagai sarana penyelesaian konflik, atau menjadi pintu baru untuk mengurangi beban perkara kejaksaan?

Selain itu, belum ada evaluasi terbuka tentang sejauh mana efektivitas, dampak jangka panjang, serta tingkat kepuasan korban pasca-RJ.

Kejaksaan: “Ini Jalan Damai, Bukan Pengabaian Hukum”

Kepala Seksi Intelijen Kejari Sikka, Okky Prasetyo, SH., MH., menegaskan bahwa setiap keputusan RJ tetap melalui prosedur ketat, melibatkan penilaian Jampidum RI, serta memastikan perlindungan kepentingan korban. “Tujuan kami adalah menciptakan keadilan substantif dan menjaga hubungan sosial dalam masyarakat,” ujar Okky dalam rilisnya.

Namun, bagi sejumlah pengamat hukum, pertanyaan tetap menggantung: bagaimana memastikan bahwa RJ tidak menjadi pintu kompromi yang melemahkan efek jera bagi pelaku kekerasan, betapapun ringan?»(rel)

HUKRIM

Polres Sikka Tegaskan Eksepsi di Praperadilan, Nilai Permohonan Tersangka Cacat Formil

“Permohonan menjadi kabur dan tidak memenuhi syarat formil.”

Published

on

Tim kuasa hukum Marianus Renaldi Laka bersama Kasat Reskrim Polres Sikka mengajukan duplik dalam sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Maumere, Rabu (15/4/2026). FOTO: SUARASIKKA

MAUMERE, GardaFlores — Kepolisian Resor Sikka mengajukan duplik atas replik pemohon dalam sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Maumere, Rabu (15/4/2026), terkait perkara nomor I/Pid.Pra/2026/PN Mme yang diajukan dua tersangka, Yoseph Calanzansius Grandy Wonasoba dan Maria Arina Abdulrachman, dengan menegaskan eksepsi dan meminta permohonan pemohon dinyatakan tidak dapat diterima.

Kuasa hukum Polres Sikka, Marianus Renaldi Laka, menyampaikan termohon tetap pada dalil eksepsi yang telah diajukan dalam sidang sebelumnya pada Selasa (14/4/2026).

Dalam duplik tersebut, termohon menyatakan permohonan praperadilan pemohon mengandung cacat formil karena tidak mencantumkan Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Sikka sebagai pihak dalam perkara.

Marianus menjelaskan, subjek hukum yang seharusnya dicantumkan secara lengkap meliputi Kepala Kepolisian Republik Indonesia cq Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur cq Kepala Kepolisian Resor Sikka cq Kasat Reskrim Polres Sikka.

Selain itu, termohon menilai permohonan praperadilan tidak memenuhi syarat formil karena struktur posita dan petitum dinilai tidak jelas serta tidak disusun berdasarkan fakta dan dasar hukum yang memadai.

“Permohonan menjadi kabur dan tidak memenuhi syarat formil, sehingga patut dinyatakan tidak dapat diterima,” kata Marianus dalam persidangan.

Kuasa Hukum Ajukan Replik di Praperadilan Kasus Andy Wonasoba, Bantah Eksepsi Polisi

Termohon juga menyatakan permohonan pemohon bersifat tumpang tindih. Dalam posita dan petitum, pemohon tidak hanya mempersoalkan sah atau tidaknya prosedur penetapan tersangka, tetapi juga menilai pokok perkara dengan menyatakan perbuatan yang dituduhkan bukan tindak pidana.

Menurut termohon, penilaian terhadap pokok perkara seharusnya menjadi materi pembelaan dalam sidang perkara pidana, bukan dalam forum praperadilan.

“Tindakan pemohon melalui kuasa hukumnya pada dasarnya merupakan bentuk pledoi yang seharusnya diajukan dalam persidangan pokok perkara,” ujar Marianus.

Terkait objek praperadilan, termohon menyebut setiap upaya paksa seperti penangkapan, penahanan, dan penetapan tersangka memiliki dasar hukum dan konsekuensi berbeda, sehingga alasan keberatan harus diuraikan secara rinci sesuai ketentuan KUHAP.

Namun, menurut termohon, uraian tersebut tidak dijelaskan secara spesifik dalam permohonan pemohon.

Sebelumnya, pemohon telah mengajukan replik atas jawaban termohon dalam sidang praperadilan yang mempersoalkan keabsahan penetapan tersangka dan proses hukum yang dilakukan penyidik.

Sidang praperadilan dijadwalkan berlanjut dengan agenda berikutnya sesuai penetapan majelis hakim Pengadilan Negeri Maumere.»(rel)

Continue Reading

HUKRIM

Kuasa Hukum Ajukan Replik di Praperadilan Kasus Andy Wonasoba, Bantah Eksepsi Polisi

Kuasa hukum menilai praperadilan merupakan bagian dari hukum pidana sehingga tidak dapat disamakan dengan gugatan perdata.

Published

on

Tim kuasa hukum Andy Wonasoba (Pemohon I). Terkait pokok perkara, hubungan antara Pemohon I dan para pekerja merupakan hubungan keperdataan yang didukung dokumen seperti perjanjian kerja, catatan gaji, dan administrasi kasbon. Mereka menilai konstruksi perkara sebagai tindak pidana perdagangan orang oleh penyidik tidak tepat. FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Kuasa hukum Yoseph Calanzansius Grandy Wonasoba (Andy Wonasoba) mengajukan replik dalam sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Maumere, Rabu (15/4/2026), sebagai tanggapan atas jawaban termohon dari pihak kepolisian.

Kuasa hukum pemohon, Paulus Hendry C. Lameng, menyatakan replik tersebut diajukan untuk membantah sejumlah eksepsi yang disampaikan termohon dalam persidangan.
“Replik ini merupakan tanggapan kami atas jawaban termohon dalam sidang praperadilan,” ujarnya.

Perkara praperadilan ini diajukan oleh Yoseph Calanzansius Grandy Wonasoba (Pemohon I) dan Maria Arina Abdulrachman (Pemohon II), yang mempersoalkan proses penetapan tersangka oleh Polres Sikka.

Dalam repliknya, pemohon membantah dalil termohon yang menyebut permohonan praperadilan cacat formil karena tidak melibatkan Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Sikka. Kuasa hukum menilai praperadilan merupakan bagian dari hukum pidana sehingga tidak dapat disamakan dengan gugatan perdata.

Ia juga menyatakan penetapan pihak termohon telah sesuai, yakni Kepala Kepolisian Republik Indonesia melalui Kapolda Nusa Tenggara Timur hingga Kapolres Sikka, yang secara struktural bertanggung jawab atas tindakan penyidikan.

Sidang Praperadilan TPPO Sikka: Polisi Uraikan Kronologi, Dua Tersangka Ditahan

Selain itu, kuasa hukum menyoroti proses penyelidikan yang dinilai memiliki kejanggalan, termasuk dugaan adanya data pekerja yang tidak tercantum dalam dokumen resmi namun ditemukan dalam perangkat pribadi pihak tertentu.

Terkait pokok perkara, pemohon menyatakan hubungan antara Pemohon I dan para pekerja merupakan hubungan keperdataan yang didukung dokumen seperti perjanjian kerja, catatan gaji, dan administrasi kasbon. Mereka menilai konstruksi perkara sebagai tindak pidana perdagangan orang oleh penyidik tidak tepat.
“Padahal itu murni hubungan keperdataan yang dibuktikan dengan dokumen-dokumen kerja,” kata kuasa hukum.

Kuasa hukum juga mempersoalkan penetapan tersangka terhadap kliennya yang dinilai tidak memenuhi ketentuan minimal dua alat bukti sebagaimana diatur dalam KUHAP.
“Penahanan adalah konsekuensi dari penetapan tersangka. Jika penetapan tersangka tidak sah, maka penahanan juga tidak sah,” ujarnya.

Sidang praperadilan akan berlanjut dengan agenda berikutnya sebelum majelis hakim menjatuhkan putusan terkait sah atau tidaknya penetapan tersangka dan tindakan penyidikan oleh Polres Sikka.»(rel)

Continue Reading

HUKRIM

Sidang Praperadilan TPPO Sikka: Polisi Uraikan Kronologi, Dua Tersangka Ditahan

Dalam persidangan, pihak kepolisian meminta majelis hakim menolak permohonan praperadilan yang diajukan pemohon.

Published

on

Sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Maumere, Selasa (14/4/2026).

MAUMERE, GardaFlores — Kepolisian Resor Sikka menguraikan kronologi penanganan perkara dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dalam sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Maumere, Selasa (14/4/2026). Polisi menyatakan proses hukum telah memenuhi ketentuan dengan dukungan alat bukti yang cukup.

Kuasa hukum Polres Sikka, Marianus Renaldoi Laka, menyampaikan perkara bermula dari laporan Fransiska Imaculata pada 21 Januari 2026. Tindak lanjut dilakukan pada 23 Januari 2026 saat polisi bersama pendamping korban mendatangi sebuah tempat hiburan malam di Maumere.

Dalam kegiatan tersebut, ditemukan 11 perempuan keluar dari mess sambil membawa barang pribadi dan meminta bantuan. Temuan itu menjadi dasar pengembangan penyelidikan.

Penyidik kemudian memeriksa saksi dan korban serta melibatkan ahli pidana untuk memperkuat konstruksi perkara. Pada gelar perkara 3 Februari 2026, kasus dinaikkan ke tahap penyidikan setelah dinilai terdapat dugaan unsur pidana.

Uji Praperadilan Tersangka TPPO di Sikka Bergulir, PN Maumere Periksa Legalitas Penyidikan

Polisi turut menyita sejumlah dokumen, antara lain izin usaha, kontrak kerja, dan catatan keuangan yang diduga berkaitan dengan aktivitas para pekerja perempuan tersebut.

Dua orang ditetapkan sebagai tersangka, yakni Yoseph Calanzansius Grandy Wonasoba dan Maria Arina Abdulrachman, dan telah dilakukan penahanan. Polisi menyatakan penetapan tersangka didasarkan pada minimal empat alat bukti berupa keterangan saksi, keterangan ahli, dokumen, dan barang bukti lain.

Dalam persidangan, pihak kepolisian meminta majelis hakim menolak permohonan praperadilan yang diajukan pemohon dan menyatakan seluruh proses penyidikan sah secara hukum.

Tidak ada keterangan dari pihak pemohon yang disampaikan dalam sidang tersebut. Nilai atau detail spesifik dugaan praktik yang diselidiki juga belum diungkap di persidangan.

Sidang praperadilan masih berlangsung dan akan berlanjut pada agenda berikutnya sebelum majelis hakim memutus sah atau tidaknya penetapan tersangka dan proses penyidikan.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending